[Vignette] One Night in Dublin

One Night in Dublin

featuring EXO Kai and Miss A Bae Suzy as Suez | Alternate-Universe, Fluff, Slice of Life, Urban-life | PG 15 | disclaimer beside the story-line I own nothing!

.

Thanks to Miss of Beat R for the amazing cover❤

https://theangelfalls.wordpress.com ya

written by xianara

.

Koinsidensi yang cukup menarik. Seorang musisi jalanan, sebatang nikotin, dan seorang pelancong. Menghirup aroma sisa gerimis di kota Dublin. Apa yang sekiranya mampu dirisaukan, kuharap tak ada.

.

Enjoy Reading!

.

Sudah seminggu lebih terhitung dia tidak bercengkerama denganku. Kai, pemuda manis dan berkulit eksotis itu seperti mengabaikanku. Menganggap eksistensiku di antara ada dan tiada. Dirinya pun seperti menjauhkanku yang dekat dengannya, dengan sengaja.

Uap putih yang berasal dari cerutu yang membungbung dengan bebasnya di dalam sebuah bar juga tidak berhasil menggodanya lagi. Justru, dia malah sibuk berkontemplasi dengan gitar Cord-nya yang semakin hari semakin tua namun performa tetap terjaga.

Tangannya yang panjang-panjang dan lentik terus memetik dawai gitar hingga menghasilkan buaian melodi yang cukup indah. Oh, setelah menyelesaikan bagian chorus dari lagu John Legend tepuk tangan para pengunjung bar langsung mengisi akustik. Diikuti pula dengan beberapa siulan yang cukup nyaring, terlebih dengan tatapan memuja para wanita kepadanya.

Oh, temanku yang satu itu memang top sebagai pusat perhatian khalayak. Ketampanannya yang begitu membahana serta kepiawaiannya dalam mengatur berbagai malai nada memang tidak usah diragukan lagi. Akan tetapi di balik semua itu aku masih mengaggapnya sebagai poin minus. Toh, sikap abai yang berlaku selama sepekan belakangan ini padaku, berhasil membuatku untuk yang pertama kalinya, merasa tak dinginkan olehnya.

Biasanya, dia akan menjamahku jika dia sedang suntuk dalam menghadapi masalah. Menemaninya di kala sedang kongkow bareng rekanannya. Atau hanya sekedar membakar sepi menjadi abu. Serta mengonsumsiku sebagai pencuci mulut kala dirinya telah selesai bersantap ria. Pemantik berlogo elang yang biasanya selalu dimainkan olehnya juga sama nasibnya denganku. Diabaikan. Persegi logam tersebut diberikan oleh sahabatnya saat sedang berkunjung ke Rotterdam. Dia juga teman baikku dan Kai. Kalau tidak ada dia, mungkin Kai akan mengantongi dua buah batu besar jika ia ingin menyalakanku. Mungkinkah di zaman yang sudah 4G seperti ini? Uh, itu tidak keren!

Setelah selesai berbasa-basi dengan pemilik bar malam di salah sudut kota Dublin, Kai pun segera memasukkan Senorita–gitar Cord kesayangannya–ke dalam selternya. Topi fedora berwarna cokelat gelap yang dikenakan olehnya diangkat; memberi salut kepada para teman-teman yang masih stay di dalam bar, sebelum menghilang di balik pintu yang membatasi pengapnya suasana bar dengan jalanan berbentuk gang sempit di luar.

.

.

.

Sisa-sisa gerimis yang mengguyur ibukota Irlandia masih membekas. Kubangan air hujan yang menyebar di sekitar gang-gang sempit itu pun berkali-kali dihindari oleh Kai. Mencegah supaya tidak terciprat hingga tidak mengotori selter milik Senorita.

Batuk-batuk tidak berdahak kembali bersoneta dari bibir Kai. Aku pun sebenarnya cukup bersimpatik terhadap batuk yang kerap bertamu kepada temanku di kala hawa dingin menerjang. Apalagi, sudah seminggu ini batuk-batuk temanku sering terdengar meski frekuensinya masih terlalu jarang.

Di dalam jaket leather milik Kai, aku bersemayam. Sepeninggal itu pula, aku dapat mencium bau alkohol dan wewangian bangsaku yang kian menyerbak. Asap yang menari dengan eloknya nampak berasal dari cangklong yang dihisap oleh seorang pak tua, yang tengah ongkang-ongkang kaki di atas sebuah kerat minuman yang tak terpakai.

Seketika, iri itu muncul tatkala aku melihat saudara buyutku bisa memenuhi paru-paru si pak tua dan keluar dengan gaya akrobatik dari mulutnya. Sudah seminggu lebih aku tidak merasakan sensasi menjelajahi tiap inci saluran pernapasan milik temanku yang terpaksa tercemari olehku. Nikotin yang menumpang di dalam diriku pun sebenarnya sudah mencak-mencak karena tidak bisa terbumbung ke udara seperti milyaran saudara kembarnya, yang juga dihisap oleh para perokok.

Arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya pun dilirik penuh selidik. Lantas, temanku tersenyum. Aku pun dapat mendengar dirinya yang tahu-tahu berceloteh dalam volume suara yang cukup kecil.

“Ternyata pulang lebih awal itu cukup menyenangkan.”

Yah, itu bagimu tapi tidak bagiku Kai. Semenjak seminggu ini kau pulang lebih awal dari bar tempatmu biasa mengamen, kau justru tidak menyentuhku tanpa pemberitahuan apapun. Ayolah, Kai! Mengapa kau jadi seperti ini kepadaku?

Apakah kau sudah melupakan bagaimana awal pertemuan kita?

Saat itu kau masih berseragam SMU tingkat dua. Karena ejekan tolol seniormu, kau menerima tantangan mereka untuk menghisap satu batang rokok. Satu-dua tidak masalah hingga akhirnya kau menjadi ketagihan. Canduku rupanya kuat juga. Saat itu kau baru mampu menghabiskan sebungkus Marlboro Red isi 12 batang dalam empat hari. Kemudian, beralih menuju Marlboro masih Red isi 16 batang yang habis dalam dua hari. Hingga, kau beralih menuju Camel Black yang mampu raib dalam waktu sehari bahkan kurang.

Zat adiktifku memang candu bagimu. Pendistorsi segala masalahmu. Terkadang, aku juga sering dipertemukan dengan beberapa tenggak minuman berkarbonat ataupun wine dan vodka yang menjejali lemari khusus di salah satu sudut apartemu.

Namun mengapa kini kau berubah Kai?

Malam di kota Dublin terasa begitu dingin. Sepersekian detik kemudian, temanku mulai mengatupkan rahangnya. Menahan gigil yang mulai menusuk-nusuk tulang. Nah, bukankah lebih baik jika kau menghangatkan badan dengan mengeksploitasi nikotin dan tar dariku? Seketika, girang aku.

Aku pun mendesak Kai supaya segera membebaskanku dan segera memantikkan api dengan ujung tembakau kepunyaanku. Akan tetapi persuasiku pun kembali harus menelan penolakkan meski dia sendiri tidak menyuarakannya.

Setelah beberapa meter dari pintu bar tempatnya bekerja, kami mesti melewati jalanan yang dipenuhi oleh para wanita penghibur. Kekehan dan kerlingan nakal ditujukan kepada pemuda yang baru genap berusia seperempat abad sebulan yang lalu itu. Meski aku disesaki di dalam kantong jaket leather pabrikan Armani miliknya, aku masih dapat melihat wanita-wanita semampai itu yang mulai memberanikan diri menghampiri Kai. Namun dengan respect yang masih di ambang batas, temanku menolak dengan halus. Bergegas meninggalkan para penghibur tanpa jejak sembari menebar senyum tipis.

Lampu neon warna-warni berpendar di atas sebuah lawang bar yang cukup tua. Helaan napas temanku itu pun kini terdengar. Begitu juga dengan uap akibat suhu tubuhnya yang menurun drastis. Sehangat-hangatnya kota Dublin di siang hari, kau tetap tidak bisa mencegah udara dingin yang esktrim saat gelap tiba, yang siap menghantui siapa saja. Terlebih di musim gugur seperti sekarang.

Aku masih setia memikirkan bagaimana kiat untuk membuat Kai kembali peduli padaku. Namun setelah memikirkannya kembali, aku pesimis apakah cara itu akan berhasil. Toh, aku tetap tidak bisa memaksakan temanku itu untuk terus selalu bersamaku. Sewindu berkelana denganya, justru membuatku jatuh kepada pesona tersembunyi seorang Kai. Aku jadi peduli kepadanya, hingga sampai pada tahap aku tidak ingin merusak kesehatan paru-parunya. Akan tetapi, pada akhirnya aku belum mampu mencegahnya untuk berhenti. Kemudian, tatkala dirinya yang tiba-tiba mengabaikanku selama sepekan ini tak pelak membuatku merasa hampa.

“Hei, Bung! Punya rokok, tidak?”

Seperti hantu, suara yang tidak kuketahui berasal dari siapa itu tiba-tiba menginterupsi langkah statis temanku. Sontak membuat Kai berbalik hingga membuatku sedikit terguncang ke saku terdalam tanpa sempat protes.

Seorang gadis yang menyandang ransel lusuh dengan mantel gelap yang menyelimuti tubuhnya, menatap Kai penuh selidik. Matanya pun bergerak melihat penampilan temanku dari atas sampai bawah. Kemudian, ia pun kembali bersuara.

“Ada atau tidak?” tanyanya dengan intonasi yang menurun namun bernada mendesak.

Tiba-tiba, telapak tangan milik Kai yang super dingin itu merogoh saku tempatku bersembunyi. Aku bingung, apa yang akan dia lakukan padaku? Apakah dia akan…

 “Wow, terimakasih. Hm, maaf apa kau juga membawa pemantik? Kurasa punyaku tertinggal saat aku di bus tadi.”

…memberikanku kepada gadis itu. Dan, ternyata tepat sekali. Sang gadis yang belum kami ketahui namanya itu pun mengulurkan tangannya dan menyambarku.

Temanku mengangguk sejenak, kemudian menggasak pemantik api alias karibku dari kantong celananya dan memberikannya kepada si gadis. Oh, bagus sekali, Kai. Mudah sekali bagimu ya, memindahtangankan diriku pada gadis yang tidak kaukenal ini. Padahal, kau ini terkenal pelit, tidak mau berbagi sebatang pun diriku kepada teman-temanmu yang lain. Sekiranya, meski pun begitu aku malah mencium jejak-jejak diskriminasi.

Gadis itu lantas mengeluarkanku dari kotak persegi berwarna sepekat langit kota Dublin, sebelum mengetukkan ujung selterku pada tangannya. Fungsinya tentu saja untuk memaksimalkan nikmat yang akan diantarkan oleh setiap hisapanku untuknya.

Dia pun menyelipkanku di sela-sela bibirnya yang tipis dan berwarna agak hitam. Efek terlalu banyak merokok, tentunya. Kai pun menyodorkan seujung api guna memantik tembakau yang sudah mengering selama sepekan. Sepersekian detik kemudian, api-api kecil merayap. Sensasi berkobar itu kembali kurasakan meski bukan diciptakan oleh kawanku.

Si gadis tanpa nama lantas menghirup dalam-dalam nikotin beserta zat adiktif yang kukandung lalu menghembuskannya melalui mulutnya. Temanku pun melihatnya dengan tatapan yang biasa-biasa saja. Bahkan di matanya pun tidak nampak envious yang biasanya dia tujukan kala asthma-nya tengah kambuh hingga ia mesti absen untuk menyentuhku.

“Terimakasih, omong-omong apa kau seorang musisi?” tanya gadis itu kepada Kai sambil menunjuk Senorita dengan dagunya.

“Sama-sama. Well, aku hanya pengamen bar. Lagipula, mana ada musisi yang berkeliaran di gang-gang sempit pada waktu yang larut seperti ini?”

Sang gadis meringis kemudian mengangguk dan menyodorkan sebelah tangannya, “Suez, siapa namamu?”

Oh, jadi namanya Suez. Apa dia seorang keturunan dari yang menemukan Terusan Suez di dekat Laut Merah sana?

“Kai, “ ucapnya sembari menjabat telapak tangan Si Gadis Terusan Suez. “maaf, kalau boleh tahu mengapa seorang gadis sepertimu berkeliaran di tengah kota Dublin seorang diri?”

Ditanya seperti itu, Suez pun membebaskanku dari sela-sela bibirnya. Menyentil sedikit bagian ujungku, mengusir abu yang mulai berkoloni. Sambil tersenyum, ia pun berkata, “aku pelancong yang kehabisan uang. Sedang mencari tempat yang bisa ditumpangi. Ya, tidak berbeda jauh dengan istilah gelandangan.”

Koinsidensi yang cukup menarik. Seorang musisi jalanan, sebatang nikotin, dan seorang pelancong. Menghirup aroma sisa gerimis di kota Dublin. Apa yang sekiranya mampu dirisaukan, kuharap tak ada.

“Apa kau mempunyai tempat untuk beristirahat malam ini?”

“Eh, tidak ada.”

Tiba-tiba, temanku mengulurkan sebuah kartu nama dan sedikit mengejutkan gadis tersebut. Sontak, aku memicing. Hei, bukankah itu kartu nama milik Kai? Oh ya, meski dia hanya seorang pemusik di kalangan bar-bar kecil, kartu nama tentu dia punya. Tetapi, dia

“Apa ini?”

“Ini kartu nama. Kau bisa pergi ke alamat yang tertera, kemudian tunjukkan kartu ini dan katakan kepada mereka bahwa kaubutuh tempat untuk menumpang sementara. Mereka pasti akan menerimamu.”

“Lalu bagaimana kalau mereka tidak percaya?”

Kai menaikkan seujung bibirnya, kemudian melanjutkan, “mereka pasti percaya. Toh, aku tidak memberikan kartu nama kepada sembarang orang.”

tidak pernah memberikan kartu namanya kepada orang secara acak. Ya, meskipun statusnya hanya setingkat di atas buruh, Kai segan untuk membagikan informasi personalnya melalui selembar kartu tersebut kepada orang banyak. Tetapi kepada gadis ini, ia justru begitu mudahnya memberikannya sebagai jaminan. Oh, Kai, benar deh. Apa sih yang sedang terjadi kepadamu?

“Hm, terimakasih.” Kemudian, Suez pun mengembalikan bungkusan berukuran yang tidak lebih dari 6 inci tersebut kepada Kai. Namun, sejurus kemudian, temanku itu malah menahannya. Amboi, apa lagi yang akan kau perbuat, Kai?

“Untukmu saja. Lagipula kau lebih membutuhkan ini daripada diriku, omong-omong.”

Suez pun tergagap, “t-tapi –  “

“Santai saja, Sue. Aku sudah berhenti merokok.”

Duar!

Daya kejut menara sutet berkekuatan milyaran volt seketika menghantamku. Apa baru saja Kai bilang dia sudah berhenti merokok? Sejak kapan? Apa sejak seminggu belakangan ini, yeah, pasti begitu.

“Benarkah? Oh, tapi mengapa kau masih mengantungi benda ini?”

Surai hitam yang dipangkas bondol itu pun diusak oleh Kai sejenak, “itu aku juga tidak tahu. Mengantongi sebungkus rokok sudah menjadi kebiasanku, mungkin. Tetapi saat aku sudah memutuskan untuk berhenti merokok, meninggalkannya sendirian di atas meja aku tidak bisa. Aneh.”

“Setuju, kau memang agak, aneh.”

Kai, aku sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jadi, selama sepekan terakhir ini kau berpolah abai padaku alasannya adalah kau yang memutuskan untuk berhenti merokok. Tetapi mengapa kau masih dengan setia mengajakku ke mana pun kau berada, bolehkah kutahu apa alasannya? Juga, motivasi mengapa kau bisa memutuskan untuk berhenti menghirup racun batangan sepertiku?

Oh, mungkin tanyaku terlalu banyak. Juga terlalu enggan untuk kaujawab selanjutnya. Tetapi, setelah mengetahui kau yang dalam keadaan sadar mengatakan bahwa kau tidak bisa berpisah dariku, membuatku sedikit galau. Kau sungguh pemuda yang baik hati, Kai.

“Mungkin kau bosan mendengarnya karena aku sudah mengucapkan ini sebanyak tiga kali dalam kurun waktu yang begitu singkat. Tetapi, terimakasih banyak Kai atas kebaikanmu. Semoga Tuhan memberkati.”

Senyuman temanku pun kini justru sejuta kali terlihat lebih manis. Untuk yang terakhir kali, aku ikut tersenyum kepadanya. Ikut menyalurkan betapa senang, bahagia, sekaligus sedihnya hatiku karena mau bagaimanapun juga aku akan berpisah dari kawanku itu. Kai, aku akan merindukanmu!

“Simpan terimakasihmu untuk orang yang lebih pantas menerimanya, Sue.” Ucap belahan jiwaku sambil menaikkan tali Senorita yang melorot di atas bahunya. “Baik, sampai berjumpa lain waktu.”

Bye!

.

.

Anjuran Dokter Glen untuk berhenti mengonsumsi rokok akhirnya ditekuni oleh Kai. Setelah mendapati hasil rontgen dari salah satu unit radiologi di rumahsakit pusat kota, dua pekan yang lalu pemuda itu terkejut bukan main. Sepasang paru-parunya mengalami infeksi. Bronkitis-nya semakin parah.

“Bagaimana, Kai? Masih mau merokok lagi?”

Hening sejenak. Pemuda itu lantas menjengit sebelum menggeleng mantap. “Aku akan berhenti, toh, aku masih bisa sembuh meskipun persentasenya kutahu, sangat tipis, bukan?”

TAMAT.

2 thoughts on “[Vignette] One Night in Dublin”

  1. Kyaaaa~ terusan Suez????
    Dibuat ngakak gara-gara panggilan itu thor😀
    Kai sakit jadi dia harus berhenti merokok.
    Nggak tahu harus merasa senang atau sedih :’)
    Senangnya karena dia mau berhenti merokok, sedihnya karena dia sakit ㅠㅠㅠㅠㅠㅠ

    Suka

  2. Awalnya aku kurang mengerti sama ceritnya ,tapi akhirnya aku mengerti juga.
    Meskipun tak ada kisah percintaan yg romantis tapi ff ini cukup menarik karena berisi nasehat untuk tidak merokok dan bagi perokok dianjurkan untuk berhenti karena merusak kesehatan

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s