It’s Okay, We’re Gonna Be Okay (Part 2)

It's Okay, We're Gonna Be Okay

Title: It’s Okay, We’re Gonna Be Okay

Scriptwriter: naypcy

Main Cast: Park Chanyeol. Oh Sehun. Shena Cho. Park Cheonsa

Genre: Romance, Family, Friendship

Duration: Chaptered

Rating: PG-13

Previous part: 1

Takdir terkadang memang kejam dan tak masuk akal. Tapi percayalah, apa yang sudah Takdir tuliskan akan berakhir dengan indah pada waktunya.

“Oppa, apa Cheonsa eonni benar-benar baik-baik saja?” tanya Shena pada Chanyeol ketika mereka berada di dalam mobil.

“Sehun tidak mungkin berbohong tentang Cheonsa,” jawab Chanyeol sambil tersenyum dan tetap fokus menyetir.

“Harusnya aku tidak memaksa Cheonsa eonni untuk ikut. Aku bahkan lupa mengingatkannya membawa obat,” sesal Shena lagi.

“Sshh.. itu bukan salahmu, Na-ya. Jangan terlalu dipikirkan, hm? Lagipula Cheonsa baik-baik saja sekarang,” ujar Chanyeol sambil meraih tangan Shena dengan satu tangannya sedangkan tangan yang lain masih memegang stir mobilnya. Shena menatap Chanyeol sebentar lalu menggenggam tangan Chanyeol erat. Keduanya pun terdiam larut dalam suasana sunyi di dalam mobil mereka. Hingga kantuk pun merayapi Shena dan ia pun tertidur.

Chanyeol memarkirkan mobilnya di sebuah halaman rumah yang cukup luas. Ya, ini adalah rumah milik Shena yang dulu ia tinggali bersama kakeknya. Rumah ini sangat amat besar jika hanya ditinggali oleh Shena, namun ia selalu menolak untuk pindah. Alasannya karena ia ingin selalu mengingat kakeknya dan ia selalu ingin menunggu kedua orangtuanya untuk pulang ke rumah ini.

“Na-ya, kita sudah sampai,” ujar Chanyeol pelan sambil mengusap lengan Shena. Namun Shena tak bergeming, terlalu lelap dalam tidurnya. Chanyeol pun keluar dari mobilnya lalu memutuskan untuk menggendong Shena masuk ke dalam rumah. Chanyeol mengambil kunci rumah Shena yang ada di dalam tasnya lalu masuk ke dalam. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali Chanyeol mengunjungi rumah ini. Ia lebih sering menemui Shena saat ia sedang ada di rumah Cheonsa atau ketika mereka akan pergi berdua. Rumah itu benar-benar tertata rapih tanpa ada debu yang menempel walaupun Shena hanya seorang diri mengurus rumah sebesar ini.

Chanyeol meletakkan tubuh Shena diatas tempat tidur bermotif rilakkuma lalu menyelimutinya. Gadis itu terlihat begitu damai dalam tidurnya. Namun Chanyeol menyadari betapa kesepian dan rapuhnya gadis ini. Selama beberapa tahun ini baru sekarang terbesit pikiran, apa yang Shena lakukan jika ia sedang sendirian di rumah? Apakah ia memikirkan kakek dan orangtuanya?

Tiba-tiba pandangannya tertuju pada meja yang ada di sudut kamar Shena. Ia pun melangkahkan kakinya menuju meja itu dan mengamati apa saja yang ada di sana. Beberapa bingkai foto berdiri disamping laptopnya. Frame pertama adalah foto Shena dan kedua orangtuanya. Chanyeol tidak tau pasti berapa usia Shena saat itu tapi ia sangat yakin gadis kecil di foto ini masih sangat bahagia saat itu. Frame kedua adalah foto ia dan kakeknya ketika Shena sudah SMP. Saat itulah Shena mulai menarik perhatian Chanyeol. Dan di frame terakhir adalah foto Shena bersama dengan Chanyeol dan Cheonsa. Foto ini diambil saat Cheonsa belum jatuh sakit dan Shena benar-benar merindukan saat-saat seperti itu.

Tangan Chanyeol menelisik setiap inci dari meja tersebut. Ternyata banyak hal yang belum ia ketahui bahkan belum ia perhatikan selama ini. Pandanganya menangkap sebuah buku di bawah tumpukan buku lainnya. Buku yang sudah sering Chanyeol lihat tapi ia tidak pernah tau apa isinya. Dan sekarang ia sedang memecahkan rasa penasarannya dengan membuka buku tersebut. Ah, ini diary rupanya, pikir Chanyeol.

Lembaran demi lembaran ia baca dengan seksama. Semua tentang Shena, Chanyeol, dan Cheonsa. Betapa gadis ini bersyukur telah dipertemukan oleh kedua orang bak malaikat itu. Tentang bagaimana menyenangkannya hari-hari yang ia jalani bersama Chanyeol dan Cheonsa. Dan tentang bagaimana hatinya sudah tertawan oleh namja bernama Park Chanyeol.

Tuhan, akhir-akhir ini aku rasa ada yang salah dengan diriku. Kenapa jantung ini bergerak tak terkendali saat dia di dekatku? Kenapa setiap sentuhan tangannya membuat pipiku merah merona? Kenapa setiap ia berbicara padaku, bibir ini melengkungkan senyuman? Kenapa setiap ia menatapku, aku tak bisa beralih dari matanya? Tatapannya seolah menangkapku, mengikatku, memaksaku untuk tak melihat yang lain.

Apa ini yang orang-orang bilang ‘cinta’? Tidak ada yang pernah mengajariku tentang itu sebelumnya. Aku hanya melihat orang-orang terdekatku terluka karena apa yang dinamakan ‘cinta’. Seperti kedua orangtuaku, bahkan Cheonsa eonni dan Oh Sehun. Kalau memang ‘cinta’ itu menyakitkan, aku tidak mau menyebut perasaanku pada Chanyeol oppa ini sebagai ‘cinta’. Karena aku tidak mau terluka. Aku ingin selamanya seperti ini dengan Chanyeol oppa. Aku ingin selalu tertawan oleh tatapannya asalkan tatapan itu hanya ditujukan padaku.

Tuhan, aku sudah bahagia sekarang. Dengan Chanyeol oppa dan juga Cheonsa eonni. Aku mohon jangan ambil ini, Tuhan. Aku benar-benar menyayangi mereka, lebih dari apapun.

Chanyeol tersenyum lalu menutup buku tersebut. Menatap gadisnya yang terlelap dan berjalan mendekatinya. Mengusap kepala gadis itu lalu mencium keningnya. Rasa sayangnya pada gadis itu sudah penuh. Ia ingin segera membahagiakan gadis ini, melindungi kepolosannya terhadap rasa ‘cinta’, dan menjaganya sepanjang waktu.

“Tuhan, aku juga sudah bahagia sekarang karena dia. Tolong jaga gadis ini dari rasa sakit, apapun itu. Sebentar lagi. Sebentar lagi aku akan benar-benar menjadikannya milikku dan memberitahu apa itu ‘cinta’ yang sebenarnya,” Chanyeol mengecup kening gadis itu sekali lagi lalu membaringkan dirinya di samping gadisnya dan memeluk gadis itu sepanjang malam.

Sementara itu di Seoul International Hospital.

Sehun memasuki ruang perawatan Park Cheonsa perlahan. Suara alat pendeteksi detak jantungpun memenuhi ruangan sunyi itu. Sehun menghela napasnya pelan sambil menatap gadis cantik yang terbaring lemah di tempat tidurnya. Sehun duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Cheonsa dan dengan hati-hati menyentuh jemari Cheonsa, membawanya kedalam genggamannya.

“Aku memang brengsek, Cheonsa-ya,” gumam Sehun sambil mengelus tangan yang digenggamnya. “Aku bersyukur dengan keadaanmu yang seperti ini sehingga aku bisa bertemu lagi denganmu, merawatmu, dan membuatmu menggantungkan hidup padaku. Aku brengsek. Egois. Tidak tau diri,” Sehun terus menatap wajah damai itu tanpa bisa melepasnya sedetikpun.

“Cheonsa-ya..” Sehun menghela napasnya berat. “Ada banyak sekali yang ingin ku ceritakan padamu. Tentu saja tidak sekarang. Aku tidak ingin buang-buang tenaga untuk bercerita saat kau tidak sadar,” Sehun terkekeh pelan menanggapi ucapannya sendiri. “Banyak yang tidak kau ketahui, Cheonsa-ya. Kau hanya perlu mendengarkanku sebentar saja,”

Sehun mengecup punggung tangan Cheonsa berkali-kali. Mencoba menyalurkan kerinduannya yang begitu besar. “Park Cheonsa, perasaan ini masih sama. Aku memang hanya seorang bocah yang suka main-main, tapi aku tidak pernah main-main jika itu tentang kau,” Sehun bangkit dari duduknya. Ia mencium kening Cheonsa, lalu kedua mata Cheonsa yang terpejam, hidung mancungnya, kedua pipi Cheonsa yang terlihat pucat, lalu mengecup bibir gadis itu sebentar. Hanya sepersekian detik. Lalu Sehun kembali duduk di sisi tempat tidur Cheonsa dan membaringkan kepalanya di atas tempat tidur Cheonsa.

“Selamat tidur, Park Cheonsa. Tidak perlu terburu-buru untuk bangun. Aku tau kau butuh banyak istirahat. Aku akan menjagamu,” ujar Sehun sebelum ia menutup matanya dan terlelap.

Keesokan harinya di rumah Shena.

Shena mengerjapkan matanya merasakan sinar matahari yang terasa menusuk matanya. Shena meregangkan badannya namun ia merasa ada yang berbeda. Shena menengadahkan kepalanya dan menemukan wajah rupawan yang masih terpejam dengan tenang. Shena luar biasa terkejut dan ingin berteriak namun ia menahannya. Ia juga tidak mau melewatkan momen-momen dimana ia bisa menatap wajah polos Park Chanyeol, mencium aroma tubuhnya, merasakan kehangatan akibat pelukannya.

“Good morning,” sapa Chanyeol dengan suara serak dan mata yang masih terpejam. Tentu saja membuat Shena tersentak dari kegiatan memandangi wajah Park Chanyeol.

“O..oppa, kenapa oppa tidur di sini?” tanya Shena gugup. Tangannya tidak bisa diam memainkan ujung baju yang ia kenakan.

“Hmm.. aku hanya ingin menemanimu,” jawab Chanyeol sambil merapikan rambut Shena. Membuat gadis itu salah tingkah dan wajahnya memerah.

“A..aku akan menyiapkan sarapan. Setelah itu kita ke rumah sakit,” ujar Shena mengalihkan pembicaraan sambil berusaha bangun dari tempat tidurnya. Sementara Chanyeol hanya tertawa pelan melihatnya. Chanyeol mengikuti Shena berjalan keluar kamar menuju ke dapur.

“Oppa mau makan apa, hm?” tanya Shena sambil membuka kulkas dan mencari bahan makanan yang ia butuhkan. Sementara Chanyeol sudah duduk manis di meja makan

“Hmm, nasi goring kimchi, ramyeon, bibimbap.. dan kimbap juga boleh..” jawab Chanyeol panjang lebar sambil mengerlingkan matanya pada Shena membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.

“Yak! Aku hanya akan masak omelette,” ujar Shena dengan wajah kesal sambil menyiapkan alat dan bahan-bahan untuk membuat omelette. Chanyeol tersenyum geli sambil berjalan menghampiri Shena.

“Shena Cho,” panggil Chanyeol.

“Hmm?” sahut Shena tanpa menoleh pada Chanyeol.

“Na-ya,” panggil Chanyeol lagi kali ini lebih dekat dan kali ini berhasil membuat Shena menatapnya.

“Apa—”

“I love you,” ujar Chanyeol cepat namun tegas. Tatapannya memenjara Shena lagi. Membuat gadis itu bingung bukan main. Gadis itu mengerutkan keningnya sementara bibirnya serasa terkunci rapat.

“Aku rasa aku perlu mengatakannya,” tambah Chanyeol sambil tersenyum, menanggapi kebisuan Shena. Sejak keduanya menyadari perasaan mereka, tidak ada satupun dari mereka yang menggunakan kata-kata itu untuk memperjelas perasaannya. Dan hari ini Chanyeol melakukannya. Memberi gadis itu kepastian.

Gadis itu berdiri di hadapan namja jangkung itu sambil menatap lekat bola matanya seakan ia menaruh seluruh dunianya pada bola mata itu. Perlahan Shena mendekat dan memeluk namja itu erat. “I love you,” gumam Shena sambil memejamkan matanya.

Tidak ada yang bisa membayangkan betapa berharganya Park Chanyeol bagi Shena. Saat kau bahkan tak punya satupun keluarga, saat kau tidak punya orang yang benar-benar bisa dipercaya, saat kau tak punya tujuan hidup karena kau tidak tau untuk apa kau hidup, tiba-tiba muncul seseorang yang memberimu harapan dan kekuatan yang begitu besar, mencintaimu begitu dalam, dan mengajarimu banyak hal. Sudah pasti ia akan menjadi satu-satunya alasan bagimu untuk tetap hidup dengan baik dan memberikan segalanya asalkan kau bisa selalu bersamanya. Selamanya.

Dua hari kemudian. Cheonsa mengerjapkan matanya merasakan sinar lampu yang terasa menusuk matanya. Kepalanya terasa berat dan sakit karena terlalu lama tertidur. Matanya menyipit berusaha melihat jam dinding yang ada di seberang tempat tidurnya. Pukul 4 pagi. Cheonsa menghela napasnya pelan dan berusaha menggerakan tangannya tapi ia merasa ada yang aneh dengan tangan kirinya. Cheonsa memiringkan kepalanya dan benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya.

“Oh Sehun,” gumam Cheonsa nyaris tanpa suara sehingga orang yang sedang tidur dengan kepala tertelungkup sambil menggenggam tangan kirinya di sisi ranjang itu tidak terbangun. Cheonsa mengalihkan pandangannya ke sekeliling kamar rawat inapnya yang cukup besar itu. Mencari tanda-tanda keberadaan orang tuanya. Tidak ada. Cheonsa menghela napasnya. Pasti mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya, pikir Cheonsa.

Tatapannya tertuju pada bungkus-bungkus makanan yang berserakan di atas meja dan sofa di kamar itu dan sebuah tas yang cukup besar milik Sehun. Apa ia menginap disini? tanya Cheonsa dalam hati. Cheonsa mencoba melepas genggaman tangan Sehun perlahan, tapi itu justru membuat Sehun terkesiap dan terbangun.

Sehun menatap wajah cantik tapi pucat itu dengan seksama seperti sedang menelitinya. Tangannya ingin sekali mengusap kedua pipi gadis itu, namun ia mengubur keinginannya itu dalam-dalam. Menghindari kemungkinan gadis ini akan menampar wajahnya dan menimbulkan keributan. Kemudian Sehun berdiri dan mengambil stetoskopnya yang tergeletak di meja.

“Berapa lama aku tidur?” tanya Cheonsa dengan parau saat Sehun kembali ke sisinya dan bersiap-siap memeriksanya.

“Hmm..tiga hari,” jawab Sehun singkat sambil memasang stetoskop di telinganya dan mulai melakukan pemeriksaan.

“Apa kau menungguiku? Selama tiga hari?” tanya Cheonsa lagi sambil memberanikan diri menatap mata itu. Mata yang terlihat lelah namun tetap fokus saat memeriksa Cheonsa.

“Ne,” jawab Sehun.

“Wae? Kenapa kau lakukan ini padaku? Apa yang kau lakukan padaku? Apa kau memasukan racun ke dalam infusku? Atau—“

“Park Cheonsa,” Sehun berkata dengan penuh penekanan, membuat gadis itu berhenti. “Kau terlalu banyak menonton drama,” ujar Sehun pelan namun dapat membuat Cheonsa menggigit bibir bawahnya, sadar kalau ia cukup keterlaluan dengan kata-katanya. Keheningan pun terjadi diantara mereka.

“Tidak bisakah kita memulai dari awal? Seolah kita tak pernah saling mengenal sebelumnya,” kata Sehun sambil menatap mata Cheonsa, mata yang selalu menghindari tatapannya.

“Itu tidak semudah itu, Oh Sehun. Mungkin mudah bagimu yang selalu bermain-main dengan hidupmu,” ujar Cheosa tajam.

“Itu tidak pernah mudah, Cheonsa-ya. Aku bahkan tak pernah bisa menatap yeoja lain. Aku yang selama ini sudah dihukum karena pernah mempermainkanmu,” Sehun berhenti sejenak dan menghela napasnya berat. “Awalnya aku memang mempermaikanmu dengan menjadikan kau taruhan karena julukan Ice Princess-mu itu. Geundae, aku menemukan sesuatu yang lain dari dalam dirimu. Kau dengan mudahnya mengambil hatiku. Sampai sekarang,” jelas Sehun berusaha menceritakan semuanya. Cheonsa menatap mata Sehun dalam berusaha mencari-cari apakah ada kebohongan di sana. Dan ia tidak menemukannya.

“Kau boleh tidak memaafkanku. Itu pilihanmu. Tapi kau harus mengetahui kebenarannya agar kau dapat memutuskan pilihanmu dengan tepat,” kata Sehun lagi lalu merapikan alat-alatnya. Cheonsa terdiam. Kepalanya terlalu pusing untuk mencerna semua ini. “Aku akan memanggil suster yang akan membantumu membersihkan diri. Setelah itu datanglah ke ruang terapi. Aku akan menghubungi Chanyeol dan Shena,” ujar Sehun yang terdengar datar, lalu pergi meninggalkan Cheonsa yang terpaku di atas tempat tidurnya.

Chanyeol sedang memainkan psp di atas tempat tidurnya sampai seorang wanita paruh baya itu masuk ke kamarnya dan duduk di sisi tempat tidur milik Chanyeol. Chanyeol tidak mengalihkan tatapannya dari pspnya.

“Eomma hari ini tidak mengajar?” tanya Chanyeol pada ibunya yang merupakan seorang dosen.

“Ani, hari ini kelasku libur,” jawab sang eomma sambil tersenyum. “Bagaimana keadaan Cheonsa? Apa dia sudah pulang dari rumah sakit?” tanya wanita itu sambil menatap Chanyeol.

“Ne. Hari ini ia sudah diperbolehkan pulang. Orangtuanya yang menjemputnya,” jawab Chanyeol masih dengan tatapan yang fokus ke pspnya sambil sesekali mengerang ketika memainkan gamenya tersebut.

“Menurutmu Cheonsa bagaimana?” tanya sang eomma dengan hati-hati dan itu membuat Chanyeol menghentikan kegiatannya bermain psp.

“Hmm.. Cheonsa baik, dewasa, kuat namun rapuh, pintar, dan sangat menjaga perasaan orang terdekatnya,” jawab Chanyeol dengan tatapan menerawang. “Kenapa eomma bertanya begitu?”

“Aniya.. Geundae, bagaimana dengan kekurangannya? Maksudku, tentang penyakitnya,” sang eomma bertanya dengan pelan membuat Chanyeol mengerutkan keningnya sedikit.

“Aku tidak melihat itu sebagai kekurangannya. Ia hanya kurang beruntung dan Tuhan sedang megujinya. Ia akan sembuh,” jawab Chanyeol membuat eommanya tersenyum penuh makna.

“Kau tau? Kalian berdua terlihat sangat serasi. Kau sangat mengerti dia. Dan eomma rasa semua akan bertambah baik jika ada sosok sepertimu yang menjaganya selamanya,” ujar sang eomma yang membuat rahang Chanyeol mengeras. Ia sudah tau kemana pembicaraan ini akan berujung.

“Tidak, eomma,” bantah Chanyeol. Hanya itu yang mampu terlontar dari bibirnya.

“Kenapa tidak? Usiamu sudah cukup mapan untuk memegang tanggung jawab,” balas sang eomma.

“Aku tidak memiliki perasaan apapun selain rasa sayang terhadap sahabat. Aku akan selalu melindunginya dan menjaganya, tapi tidak dengan menikahinya,” ujar Chanyeol dengan cepat dan nafasnya mulai berat. Sang eomma menatap mata anak laki-lakinya itu dengan lekat.

“Cinta akan tumbuh dengan sendirinya, Park Chanyeol. Dari sikapmu selama ini, kurasa tidak sulit menumbuhkan rasa itu,”

“Aku sudah jatuh cinta pada yeoja lain, eomma. Kumohon mengertilah,” suara Chanyeol melunak.

“Tidak ada yeoja yang menghabiskan waktu denganmu lebih banyak dari Cheonsa,” ujar sang eomma terdengar menuntut.

“Ada. Ada yeoja yang lebih banyak menghabiskan waktu denganku. Lebih dari Park Cheonsa. Lebih dari eomma,” balas Chanyeol dengan pelan namun penuh penekanan. Membuat dada sang eomma terasa sesak akan ucapan anaknya. Chanyeol memang tidak terlalu akrab dengan ibunya karena ibunya ini memang gila bekerja. Ia sangat senang dengan pekerjaannya bahkan hingga lupa memperhatikan anak laki-lakinya tersebut.

“Kita akan mengunjungi rumah Cheonsa lusa. Aku tidak menerima penolakan,” ujar sang eomma dengan tegas tak terbantahkan. Lalu ia berdiri dan meninggalkan kamar Chanyeol dengan Chanyeol yang sedang mematung di sana. Chanyeol meremas rambutnya dan mengerang frustasi. Haruskah hidupnya diatur lagi oleh kedua orang tuanya? Bahkan di usianya yang sudah 24tahun itu. Tidak. Bukan itu yang paling mengganggu pikirannya. Tapi fakta bahwa gadis yang tengah menggantungkan hidup padanya akan terluka lagi. Atau lebih tepatnya gadis itu akan kehilangan pegangan hidupnya.

Shena-ya, takdir sedang mempermainkan kita.

Dua hari kemudian. Chanyeol duduk dengan gusar di ruang tamu rumahnya. Kemeja hitam pas badannya terbalut sempurna dengan lengan kemejanya yang digulung sebatas sikunya. Tangannya terus menekan layar sentuh handphonenya mencoba menghubungi Shena yang dari kemarin tidak bisa dihubungi karena ia sedang liburan dengan teman kuliahnya. Chanyeol juga sudah menghubungi Cheonsa namun Cheonsa tidak membalas pesannya. Chanyeol menatap kedua orangtuanya yang baru saja turun dari lantai dua rumahnya.

“Ah, anakku ini memang tampan,” ujar sang eomma sambil merangkul lengan suaminya sambil terkekeh pelan. Chanyeol berusaha tersenyum menanggapinya, tapi gagal.

“Kkaja kita berangkat!” ajak sang appa sambil berjalan menuju ke pintu depan rumah mereka.

“Appa, eomma,” panggil Chanyeol yang menghentikan langkah mereka dan berbalik menatap anaknya yang terlihat tidak nyaman itu. “Aku bisa mengenalkan pada kalian yeoja yang kupilih. Kalian tidak akan kecewa,” ujar Chanyeol setelah mengumpulkan keberaniannya.

“Tidak ada yeoja yang paling pas denganmu selain Cheonsa. Sudahlah, Park Chanyeol,” bantah sang eomma dengan mantap.

“Nak, dengarkan kata orangtuamu. Kami tidak akan pernah salah,” ujar sang appa dengan bijak. Chanyeol hanya menghela napasnya dan perlahan berdiri mengikuti appa dan eommanya.

Di rumah yang cukup besar itu, eomma dan appa Cheonsa sudah menunggu kedatangan keluarga Chanyeol dengan antusias—berbeda dengan kedua anak mereka yang justru terlihat gusar. Kedua orangtua mereka bertukar sapa dengan berlebihan—menurut Chanyeol dan Cheonsa. Kedua orangtua mereka memang sudah akrab sejak lama, namun mereka jarang bertemu karena kesibukan mereka masing-masing.

“Kau punya rencana?” tanya Cheonsa dengan sedikit berbisik saat Chanyeol berdiri di sampingnya.

“Entahlah. Aku sudah berkali-kali melakukan penolakan. Kau bisa tebak bagaimana hasilnya,”

“Shena tau?”

“Aku pasti sudah gila jika aku memberitaunya,” Chanyeol menghela napasnya berat. Keduanya terdiam cukup lama, larut dalam pikiran masing-masing. Sampai kedua orangtua Cheonsa menyuruh mereka masuk ke ruang makan yang sudah dipenuhi oleh makanan yang terlihat enak, namun sayangnya tidak memicu nafsu makan Chanyeol dan Cheonsa sekarang.

“Silahkan duduk,” ujar eomma Cheonsa dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.

“Ah, sepertinya kedatangan kami sedikit merepotkan, ya?” ujar appa Chanyeol untuk basa-basi sambil duduk di salah satu kursi diikuti oleh istrinya dan Chanyeol. Chanyeol duduk berhadapan dengan Cheonsa.

“Aniya. Tidak merepotkan sama sekali,” jawab appa Cheonsa sambil terkekeh pelan. “Silahkan dicicipi,” appa Cheonsa mulai memulai acara makan malam itu dengan mengambil hidangan yang tersedia. Perbincangan mengenai bisnis dan hal-hal lainnya pun turut mewarnai acara makan malam tersebut. Cheonsa dan Chanyeol hanya terdiam sambil memakan makanannya dengan enggan. Sampai saat kedua orangtua mereka menyinggung topik yang paling dihindari Cheonsa dan Chanyeol.

“Cheonsa bagaimana keadaanmu?” tanya eomma Chanyeol dengan ramah.

“Ne? Ah, sudah lebih baik, ahjumma. Terimakasih,” jawab Cheonsa sambil tersenyum.

“Aku tidak tau bagaimana jadinya jika Chanyeol tidak tanggap saat Cheonsa pingsan saat itu,” ujar ibu Cheonsa sambil mengelus lengan putrinya yang terdiam.

“Sebenarnya sudah berapa lama kalian saling kenal?” tanya ayah Cheonsa sambil menatap Chanyeol dan Cheonsa bergantian.

“Hmm.. sejak SMP, ne?” jawab Chanyeol sambil mengalihkan tatapannya pada Cheonsa meminta persetujuan. Sementara Cheonsa hanya mengangguk dan tersenyum menanggapinya.

“Ah, pantas saja kalian terlihat sangat mengerti satu sama lain,” ujar ibu Chanyeol yang diikuti oleh anggukan setuju dari kedua orangtua Cheonsa.

“Aku tidak pernah melihat ada laki-laki yang lebih mengerti Cheonsa dari pada Chanyeol,” tambah eomma Cheonsa sambil mengusap pundak putrinya dengan sayang. Namun Cheonsa dan Chanyeol hanya bisa menanggapinya dengan senyum canggung.

“Jadi kapan?” tanya ayah Chanyeol to the point. “Kalian sudah cukup dewasa dan mapan untuk memegang tanggung jawab. Jadi kurasa tidak ada alasan untuk menunda pernikahan kalian,” pernikahan. Kata itu seolah menusuk dada Chanyeol membuatnya kesulitan bernapas.

“Aku pikir kita tidak perlu terburu-buru,” jawab Chanyeol dengan cepat seolah kata-kata itu mengalir begitu saja dari ujung lidahnya.

“Apa bedanya sekarang dan nanti? Kau pasti ingin cepat membahagiakan Cheonsa kan? Aku tau itu,” ujar eomma Chanyeol telak. Memang iya. Chanyeol memang benar-benar ingin membahagiakan Cheonsa seolah itu memang tanggung jawabnya. Namun tidak dengan cara seperti ini.

“K-kami mungkin butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya,” kata Cheonsa pelan dan membuat kedua orangtua Cheonsa mengangguk.

“Ya, kurasa Cheonsa benar. Mungkin kita bisa mulai dengan sebuah acara pertunangan,” usul ayah Cheonsa.

“Ide bagus—,” ucapan eomma Cheonsa terhenti dan tatapannya beralih ke arah dapur. “Oh—Shena-ya!” sapa eomma Cheonsa dengan semangat. Namun suara itu bagaikan petir menyambar di telinga Chanyeol dan Cheonsa. Gadis yang sedang berjalan menuju dapur itu pun mengalihkan tatapannya menuju ruang makan.

“Ah, annyeonghaseyo,” sapa Shena dengan manis dan sopan saat melihat ruang makan itu terisi penuh. Tapi tatapannya belum menangkap sosok Chanyeol yang duduk memunggunginya. “Aku baru saja pulang dari Jeju dan membawa beberapa oleh-oleh dan juga ayam ginseng untuk Cheonsa eonnie,” ujar Shena dengan nada menyenangkan sambil menunjukan beberapa tas belanja yang ia bawa.

Shena tidak mendengar apa-apa. Syukurlah. pikir Chanyeol.

“Ah, pantas saja kau sulit dihubungi sejak kemarin,” kata eomma Cheonsa yang sudah menganggap Shena anaknya sendiri karena sejak dulu Shena sering menginap di rumah Cheonsa dan mengurus Cheonsa. Namun ia belum cukup peka untuk menyadari adanya hubungan antara Shena dan Chanyeol. “Ayo sini! Ada keluarga Chanyeol juga di sini. Kami sedang membicarakan tentang pernikahan—“

“Eomma,” sela Cheonsa, namun sayangnya kata-kata itu sudah terdengar dengan jelas di telinga Shena. Shena menggigit bibirnya sebagai balasan atas rasa sakit yang amat sangat di dadanya. “Per-pernikahan? Ah, ne.. C-chukkahamnida,” Shena memaksakan senyumnya namun sepertinya ia gagal. Oksigen di sekitarnya seakan lenyap menyebabkan ia kesulitan bernapas.

“Na-ya,” panggil Chanyeol pelan, tapi itu terasa seperti pukulan di gendang telinganya.

“Aku..mianhae, aku tidak bisa ikut bergabung. Aku akan pulang untuk beristirahat,” ujar Shena dengan suara yang bergetar lalu meletakkan tas belanja berisi oleh-oleh ke atas meja yang ada di dapur. “A..annyeonghaseyo,” ucap Shena sambil membungkukan badannya dalam-dalam lalu bergegas pergi. Saking cepatnya hingga kakinya menubruk meja kaca yang cukup tajam menyebabkan lututnya tergores dan berdarah. Namun rasa sakit itu tidak terasa sama sekali. Ia hanya ingin pergi dari sini secepatnya.

“Na-ya!” seru Chanyeol sambil berlari mengejar Shena meninggalkan kedua orangtuanya yang memanggil-manggil namanya.

Shena terus berlari walaupun dadanya terasa sesak dan kakinya terasa sangat perih. Airmata sudah mengalir membentuk sungai kecil di pipinya. Kakinya terus berlari seolah tak tau kapan akan berhenti. Sampai sebuah tangan menangkap lengan kecilnya. Memaksanya untuk berbalik dan menatap mata itu lagi.

Chanyeol menatap mata sayu itu. Persis seperti yang ia lihat beberapa tahun lalu, saat Shena kehilangan kakeknya. Tangannya memegang lengan itu erat, seolah Shena akan benar-benar hancur saat Chanyeol melepaskannya. Matanya mengejar bola mata Shena yang enggan menatap dirinya. Rasa sakit itu semakin nyata menusuk dadanya saat Shena berusaha melepaskan tangan Chanyeol dari lengannya dan melangkah mundur, membuat jarak antara mereka.

“Kau terluka,” ujar Chanyeol pelan saat matanya menangkap lutut gadisnya yang berlumuran darah. Chanyeol menghilangkan jarak antara mereka lagi dan berjongkok di hadapan Shena lalu mengusapkan ibu jarinya di sekitar luka Shena. Chanyeol mengambil saputangan di kantong celananya dan membalutkannya ke luka Shena. Sentuhan Chanyeol yang begitu lembut justru makin menyayat hati Shena. Menyadari bahwa dirinya begitu ketergantungan pada namja ini.

“Hajima, oppa..” lirih Shena membuat Chanyeol menghela napasnya dan berdiri.

“Jangan pikirkan itu. Itu tidak akan terjadi,” kata Chanyeol sambil terus menatap Shena.

“Oppa, kau harus menepati janjimu. Membahagiakan Cheonsa eonni,” ujar Shena sambil membalas tatapan Chanyeol sebentar kemudian mengalihkan tatapannya ke arah lain. Shena berdiri menghadap ke jalanan dan melambaikan tangannya pada taxi yang terlihat mendekat.

“Tidak dengan cara ini, Na-ya. Ku mohon percayalah padaku. Pernikahan ini tidak akan terjadi,” kata Chanyeol sambil menatap Shena frustasi.

“Apa ada cara lain?” tanya Shena dengan datar tanpa menatap Chanyeol. “Tidak ada pria yang lebih tepat selain kau. Aku benar-benar tidak ingin merusak ini. Berbahagialah, oppa,” Shena masuk ke dalam taxi dengan cepat. Namun, Chanyeol menahan pintu taxi tersebut agar tidak tertutup.

“Kau tidak berusaha mempertahankan hubungan kita? Kau menghancurkan dirimu sendiri, Na-ya,”

“Lalu apa oppa sudah melakukan sesuatu untuk mempertahankannya? Mencegahku agar tidak hancur?” Chanyeol terdiam. Kata-kata Shena membuatnya kalah telak. Menyadarkan Chanyeol bahwa ia sudah terlalu terbawa emosi bahkan bisa sampai menyalahkan Shenanya.

Shena menarik pintu taxi itu sampai tertutup. Sementara Chanyeol hanya terdiam sambil menatap taxi yang perlahan pergi menjauh dari dirinya. Seolah hatinya seakan turut pergi meninggalkan dirinya. Chanyeol meremas rambutnya dan mengerang keras menyalurkan rasa frustasinya.

TBC^^

3 thoughts on “It’s Okay, We’re Gonna Be Okay (Part 2)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s