[Vignette] Karma

Karma

KARMA

 

Kim Jongin, Jung Soojung

Comedy, AU!, Friendship, PG-15, Romance(?), <1500 words

Story by none10

 

***

Karma itu selalu ada, Jongin.

Sayangnya, kamu dapat dua karma.

Yang sabar ya :”

***

Kim Jongin, yang katanya pemegang title ‘playboy kelas kakap’ sejak SMA, ternyata hari ini kena karma. Duh.

Baru saja putus dari mantan paling baru-nya seminggu yang lalu. Jung Soojung, mahasiswi paling digilai satu kampus. Jika biasanya, mantan-mantan terdahulu Jongin, ia yang memutuskan, kali ini berkebalikan. Justru Soojung-lah yang mengakhiri hubungan. Tentu saja hal ini langsung menjadi buah bibir dan topik paling panas seantero kampus.

Kok bisa-bisanya, yang katanya pemegang title ‘playboy kelas kakap’ dicampakkan lebih dulu. Garis bawahi, dan beri tanda tebal pada  kata dicampakkan, karena Sehun dan Chanyeol sangat suka kata itu.

Si wanita sih santai-santai saja setelah putus, nah tapi si pria ini nih yang galaunya luar biasa. Ya ampun.

Jika dihitung sudah seminggu ini wajah Jongin tak kunjung menandakan wajah wajah ceria seperti biasa. Yang ada malah wajah kusut seperti pakaian tak pernah di setrika. Senyum tidak, tertawa hanya haha hehe, bicara pun pelit sekali.

CS-annya Jongin sudah menggunakan 1001 cara untuk membuat Jongin yang dulu kembali lagi. Tidak apa apa deh Sehun jungkir balik 100 kali, Chanyeol berjoget ria sampai rematik, Baekhyun koprol sampai pingsan, atau jika perlu akan Suho belikan game FIFA paling baru beserta perangkat kerasnya yang kalau di total harganya bisa beli kacang rebus sampai 100 ton lebih.

Asalkan Jongin kembali seperti dulu lagi, teman temannya mau membuat malu diri sendiri.

Tapi sepertinya harapan itu tak kunjung datang, wajah Jongin masih sama seperti seminggu yang lalu. Kusut sekali malah.

Wajah Jongin makin kusut saat dosen tersayang nya yang paling disayang setelah orang tuanya (pencitraan, jangan percaya) memberikan tugas seabrek. Individu pula.

Dan Perpustakaan adalah tujuan paling penting bagi Jongin sekarang. Mau tak mau dengan kondisi yang masih belum move on dari si mantan pacar yang sukses mengobrak abrik isi hatinya, ia harus  tetap mengerjakan tugas dosen ‘tersayangnya” itu demi nilai sempurna di akhir semester.

Perjalanan dari kelas siangnya menuju perpustakaan terasa amat sangat jauh, apalagi dengan langkahnya yang terkesan diseret seret. Tidak ada semangat hidup, mati pun tidak apa apa sebenarnya. Masalahnya, tugas dosennya ini harus kelar dulu, baru ia bisa merencanakan percobaan mengakhiri hidup.

Keadaan perpustakaan nampak sepi seperti biasa. Ini sedikit melegakan untuk Jongin, karena yeah orang galau kan butuh tempat sepi untuk merenung. Eh sekalian mengerjakan tugas juga deng.

Setelah melewati meja si penjaga perpustakaan yang sepertinya tidak peduli dengan keadaannya, Jongin segera beralih menuju lemari bagian sastra.

Meneliti satu per satu buku yang tersusun disana, mencari bahan materi yang sesuai dengan tugasnya. Tidak gampang sih apalagi bagian sastra ada lima rak besar, ya masa Jongin harus mencari satu per satu buku. Sampai kiamat pun juga belum tentu  selesai, apalagi orang galau kan lemot dan sering error. Lebih suka melamun.

Dengan asal matanya melirik beberapa buku sastra yang tebalnya astaghfirullah membuat kepala langsung pening.

Jongin bergidik, gila saja jika ia harus membaca dan membawa buku setebal itu kemana mana.

Namun tak lama, matanya memincing kepada sebuah buku yang tebalnya masih diambang wajar di sudut rak ketiga. Dengan langkah cepat Jongin meraih buku itu. Baru saja hendak akan pergi, telinganya mendengar suara grasak grusuk tidak jauh dari sana. Di balik rak di depan Jongin, seseorang tengah berusaha mengambil sebuah buku yang jauh dari jangkauan nya.

Membuatnya harus ekstra berusaha dengan meloncat loncat untuk meraih buku tersebut.

Napas Jongin tercekat. Orang itu si mantan kekasih yang sukses membuatnya gundah gulana tiada tara seminggu penuh ini.

Refleks Jongin mendekati gadis itu dan membantunya mengambil buku yang sedang ia incar. Barulah Jongin sadar akan perbuatannya tatkala mata gadis itu bertabrakan dengan matanya.

Sialan.

Ini tentu tidak baik untuk kondisi jantungnya. Yang awalnya berdetak normal namun berubah berdetak kencang sepersekian detik kemudian. Nyawanya juga cuma satu!

“Terima kasih” tak nampak nada grogi dari suara Soojung. Malah terdengar santai sekaligus menyayat hati Jongin karena ia begitu merindukan suara gadis itu.

Jongin hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, bingung mau bereaksi bagaimana.

“Tumben ke perpustakaan, sedang tobat ya?” mau sebagaimana Soojung menyindirnya, Jongin rela. Asalkan bisa berlama lama dengan gadis itu.

“Tugas dari dosen ‘tersayang’ ” kekeh Jongin pelan.

Soojung mengangguk mengerti siapa dosen ‘tersayang nya’ Jongin.

“Dan aku belum menemukan buku yang cocok untuk tugas itu” kata Jongin ngode.

Ngakak.

Soojung bukan orang bodoh, ia tau ini salah satu tipu muslihat Jongin, modus lebih tepatnya. Bukannya menolak, Soojung malah memancing suasana.

“Perlu bantuan?”

Yes!

 

“Eng, apa tidak apa apa?” Prettt.

Soojung menggeleng sambil sok tersenyum santai. Tapi dalam hati sudah tertawa kencang, karena ya ampun basi sekali sih modus nya Jongin ini.

Dan berakhirlah dengan Jongin Soojung berlama lama di dalam perpustakaan bagian sastra. Diselingi dengan tawa Soojung yang terus mendengar ocean tak berguna Jongin tentang dosen ‘tersayang nya’ itu.

Disela sela mengerjakan tugasnya, Jongin pamit pergi ke belakang sebentar sekalian membeli minuman untuk mereka berdua.

Handphone Jongin berbunyi nyaring, membuat Soojung terkejut sekaligus bingung karena si pemilik sedang pergi sebentar.

Oh Sehun.

Soojung dibuat panik saat tau siapa yang menelpon. Jika diangkat akan terjadi kesalahan pahaman, tapi jika tidak diangkat juga bagaimana.

Setelah bergelut dengan pikirannya akhirnya Soojung mengangkat telepon itu, sekedar hanya akan memberi tahu kan bahwa si pemilik sedang pergi sebentar. Siapa tau Sehun membawa kabar penting.

“KIM JONGIN DIMANA SAJA KAU?? ” suara itu begitu menggelegar sampai sampai telinga Soojung dibuat sakit.

“Halo?” soojung berkata.

Membuat yang diujung sana bingung.

“Halo Sehun?” kata Soojung sekali lagi.

“Y-ya halo, ini siapa?” tanya Sehun.

“Aku Soojung” jawabnya santai.

“HAH? SIAPA??”

.

.

.

Jongin kembali dengan dua kaleng soda di tangannya. Raut wajahnya sudah berubah drastis,  seperti dulu lagi. Mungkin dia menemukan setitik harapan baru, mungkin.

“Tadi Sehun menelpon,” kata Soojung. Alis Jongin terangkat.

“Karena kau tidak ada, yasudah aku mengangkatnya” tambah Soojung.

Jongin diam sejenak berusaha mencerna apa yang sedang terjadi sebelum akhirnya ia bertanya kembali, “Kalian membicarakan apa saja?”

Soojung tertawa kecil, “Membicarakanmu yang galau terus seminggu ini,”  Jongin terhenyak, matanya melotot ke depan.

“Tidak! Tidak! Aku tidak galau..” Jongin mencoba mengelak.

Soojung malah menaikkan kedua aslinya, “Lalu siapa yang setiap berangkat kuliah seminggu ini minta ditemani Sehun? Siapa yang kemarin dimarahi habis habisan oleh dosen Park gara gara salah fokus? Mahasiswa mana yang ditanya ‘Siapakah Bapak Sastra Dunia?’ jawabannya adalah ‘Jung Soojung’ hah?”

Itu Jongin.

 

Oke, Jongin mencoba menelan ludahnya kuat kuat.

“Masih mau mengelak huh?” tanya Soojung.

Jongin diam saja. Sudah tak ada kata kata yang bisa ia ucapkan.

Jongin hanya menatap Soojung dalam diam. Mata itu benar benar ia rindukan. Jongin juga ingin mencium bibir manis itu, menyesapnya perlahan lahan. Atau membelai pipi dan rambut  panjang Soojung yang benar benar membuatnya candu.

Jongin ingin memeluk tubuh itu mengatakan bahwa jangan pernah pergi lagi.

Tapi apa daya? Siapa ia sekarang?

Ya ampun apa sih Jongin ini!

Hening terjadi diantara keduanya kurang lebih 15 menit. Sampai akhirnya Jongin berkata, “Kau sudah tau kan bagaimana aku seminggu ini tanpamu??”

Sumpah mati, Soojung mau muntah sekarang! Tolong siapapun siapkan kantung kresek sekarang juga!

Soojung hanya mengangguk menanggapinya, masih sok tenang. Aslinya sih enggak(?)

 

“Balikan yuk!” ajak Jongin santai.

Soojung masih diam sambil bergeming. Menatap lurus ke arah Jongin.

Namun tiba tiba Soojung beranjak berdiri, kedua jemari tangannya menggenggam pinggiran meja. Kemudian mencodongkan tubuhnya dekat telinga Jongin.

Si pria gugup setengah mati, kaget reaksi Soojung di luar dugaan nya.

“Balikan yuk-matamu!” bisik Soojung.

Kemudian melenggang pergi meninggalkan perpustakaan.

.

.

.

FINE.

Sama aku aja sini, ngin.

2 thoughts on “[Vignette] Karma”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s