17 Going to 22? (Chapter 1)

17 Going to 22

17 Going to 22? Chapter-1 (1-4)

Ff ini terinspirasi dari film yang pernah kutonton. Kalau nggak salah  judulnya 13 going to 31. Tapi kalau salah judulnya tolong dimaafkan. Dan ide ceritanya sama tapi kalau alurnya beda jauh. Semoga kalian pada terhibur.

Scriptwriter: Traffickyu | Cast: Chan Yeol (EXO), Jun Yeo Jun (Oc) | Genre: Romance, Married Life, Slight! | Rating : PG 15

“Semua tak lagi sama saat aku terjaga. Chan Yeol? Suamiku? Yang benar saja! Kemana 17 tahunku?”

++

     Ada yang aneh pagi ini. Sungguh aku tak sedang mencoba membual atau sejenisnya. Saat kedua mataku terbuka hal pertama yang kudapati adalah langit langit atap yang berwarna putih bersih, monoton dan tunggu! Apa ini rumah sakit? Aku mencoba bangun, namun rasa pening langsung menghantam kepalaku seketika. Aku melenguh pelan dan tanpa sengaja ujung mataku menatap tembok kamar yang berhiaskan bentuk bentuk awan hitam dan juga garis garis abstrak yang tak kuketahui apa maksudnya. Dan aku langsung yakin jika ini bukan rumah sakit tapi ini sungguh bukan kamarku. Aku memaksa diriku bangun dan sesuatu yang aneh kembali membuat pertanyaan besar dalam kepalaku. Aku merasa ada yang berubah dalam diriku. Jadi aku berjalan ke arah cermin besar yang tergantung di dinding yang ada di samping lemari.

“Aaaaa!” Aku refleks langsung menutup mulutku saat jeritan itu keluar tanpa perintah dari otakku. Siapa gadis yang tengah mengenakan piyama bergambar karakter one piece dengan ukuran yang kebesaran di cermin itu? Aku otomatis langsung menatap diriku dan well, gadis itu ternyata aku! Aku! Tapi sejak kapan aku jadi setinggi ini? Sejak kapan rambutku memanjang dan berganti warna menjadi kecokelatan seperti ini? Apa yang terjadi?

“cklek” Aku memutar tubuhku dan berbalik ke belakang saat mendengar suara pintu terbuka. Dan hal yang pertama melintas di otakku adalah bertanya apa yang terjadi pada diriku pada orang yang ada di balik pintu itu!

“Hei, aku lapaaar! Buatkan aku sarapan” Ada yang aneh lagi. Yang baru saja muncul dari pintu berwarna krem itu, aku seperti mengenalnya. Wajahnya familiar sekali. Pria yang tingginya jauh di atasku itu berjalan mendekat. Ia mengenakan piyama bergambar karakter naruto yang sepertinya sejenis dengan yang kupakai sekarang. Rambutnya acak-acakan. Matanya nampak sayu dan ia masih terlihat masih sangat mengantuk. Untuk beberapa saat aku masih diam di tempatku dan astaga! Dia…dia..

“Chan Yeol?”

“Iya, kenapa?” Dia berjalan melewatiku begitu saja dan menjatuhkan dirinya di ranjang yang tadi kutiduri. Astaga! apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa aku tak mengingat apa pun? Apa kepalaku baru saja terbentur tembok?

“Kenapa kau di sini?”

“Ini kan rumahku juga. Kenapa kau bertanya seperti itu sih?” Suaranya serak khas orang bangun tidur, tapi bukan hal itu yang membuatku terkejut. Jika ini rumahnya lantas apa yang kulakukan di sini?

“Kau kenapa? Seperti orang bingung saja” Aku diam, masih mencerna semua yang tengah kualami.

“Kenapa aku di rumahmu?” Pria itu tiba tiba langsung bangun dan mengganti posisinya menjadi duduk

“Kau kenapa sih? Kau kan istriku!” Rasanya seperti tersambar petir saat Chan Yeol mengucapkan hal tersebut dengan entengnya. Hah? Apa dia bilang tadi? Istri? Apa dunia sudah berjungkir balik? Rasanya baru kemarin aku bertemu dengannya di sekolah dengan status sebagai teman. Kami masih saling mengejek layaknya anak kecil dan aku masih ingat jika kemarin aku mengatainya sebagai anak singa tidak jelas. Tapi apa yang terjadi sekarang? Dia bilang aku istrinya! What the hell!

“Sejak kapan?” Chan Yeol menatapku bingung, kelihatannya rasa ngantuknya sudah hilang. Jadi ia beranjak dari tempat tidur dan mendekat ke arahku. Kali ini lebih dekat.

“Bagaimana kau bisa lupa? Kita sudah menikah seminggu yang lalu” Ucapnya lembut dan wajahnya jadi berubah kecewa

“Menikah? Tapi kita kan teman” Aku tak habis pikir.

“Iya, tapi itu kan dulu”

“Tapi kemarin kita masih berteman Chan Yeol” Aku bingung sekali dan ucapanku mendebat pernyataannya jadi terdengar agak aneh, sebenarnya apa yang terjadi? Bahkan kemarin aku tak mengucapkan permohonan apa pun. Kenapa sekarang aku jadi seperti keledai bodoh yang tak tau apa apa? Apa aku kena kutuk?

“Yeo” Chan Yeol menyentuh pipiku, ada semburat kekhawatiran di wajahnya yang entah sejak kapan semakin, tampan?

“Berapa usia kita sekarang?” Aku bertanya dengan tak sabaran dan kulihat ekspresi Chan Yeol berubah. Ia juga terlihat bingung mendapati pertanyaanku.

“22 tahun. Kenapa kau menanyakannya?” Apa lagi ini? Aku masih ingat jika umurku kemarin 17 tahun dan Chan Yeol bilang jika umurku hari ini 22 tahun! Apa yang salah sebenarnya.

“Eum, apa kau sakit? Kurasa kau overdosis es krim” Chan Yeol menyentuh dahiku dan pernyataannya barusan sedikit membuatku emosi. Apa katanya? overdosis es krim? Apa menurut kalian itu hal yang mungkin terjadi?

“Tapi badanmu tidak panas” Lanjutnya lagi.

“Aku akan membuatkanmu sarapan!” Aku menurunkan tangannya dari dahiku dan buru buru pergi dari hadapannya. Dan tempat yang satu satunya terpikir di otakku adalah dapur. Ya dapur!

.

       Aku masih bingung, sebingung-bingungnya dan itu membuat nafsu makanku hilang begitu saja. Jadi sekarang yang kulakukan hanyalah memandangi Chan Yeol yang tengah menyantap sarapan paginya dengan antusias di depanku. Perlu tau saja aku hanya membuatkannya telur gulung dan juga roti isi sosis karena hanya itu yang melintas di otakku.

“Kau tidak makan?” Ia meneguk susunya dan mengambil jeda beberapa saat

“Aku tidak lapar”

“Makanlah. Aku tau kau tak makan sejak kemarin malam” Ia berdiri dari tempatnya dan ganti mengambil posisi duduk tepat di sampingku.

“Apa perlu kusuapi?” Aku seperti mendapat shock terapi pagi ini. Kenapa pria di depanku sampingku ini?  Dia membuatku takut.

“Tidak, makanlah Yeol. Aku benar benar tak lapar” Elakku padanya dan Chan Yeol menatapku tak percaya. Ia nampak berfikir sejenak.

“Kemarilah!” Ia memberi isyarat agar aku mendekat dengan jari telunjuknya.

“Kenapa?” Aku menuruti perintahnya begitu saja dan astaga ya Tuhan! ada sesuatu yang aneh terjadi lagi pada diriku. Bukan, bukan lebih tepatnya mungkin jantungku. Kenapa memandangnya dalam jarak sedekat ini membuat jantungku berdetak tak karuan? Rasanya gugup sekali. Dan kenapa pula matanya terus menatapku seperti itu?

“Kurasa kau memang sakit….”  Gumamnya lirih, dan tanpa aba-aba dia memasukkan sepotong roti ke mulutku dengan paksa.

“Dan kau butuh makan Yeo” Chan Yeol tertawa senang sampai matanya itu menyipit dan aku hanya bisa menggeram tertahan. Pria ini membuatku semakin pusing saja.

“Setidaknya kau harus mengganjal perutmu pagi ini”

“Yeol apa setiap hari kita seperti ini?” Suasana tiba tiba jadi hening karena tawa Chan Yeol tak lagi terdengar. Lagi lagi kebisuan menemani kami di meja makan ini.

“Sepertinya begitu” Chan Yeol tersenyum dan mengacak rambutku pelan. Sekarang ia tengah membawa piring dan gelas kotor di atas meja ke wastafel dan kukira ia berniat mencucinya juga.

“Biar aku yang mencucinya” Aku mengambil sabun cucian yang dipegang Chan Yeol dan pria itu mengangguk patuh.

“Tapi aku ingin membantumu pagi ini” “Aku bisa melakukannya sendiri kok” Akhirnya setelah hampir 15 menit menungguiku cuci piring pria itu mau mengalah juga. Chan Yeol akhirnya beranjak menuju kamar kami yang ada di lantai dua untuk mandi. Hei! Apa aku baru saja bilang jika itu kamar kami?

.

Aku kembali ke kamar dan mendapati suara air mengalir. Sepertinya pria itu belum juga selesai. Tiba tiba ada suara ponsel bergetar dan kurasa itu ponsel Chan Yeol. Jadi aku mengambilnya dan ya! Dia memasang wajah kami berdua sebagai wallpaper, tapi kapan aku berfoto seperti ini dengannya? Sudahlah! mau mengingat seribu kali pun aku tak akan ingat. Menyedihkan sekali. Dan sekarang apa yang harus kulakukan? Nomor tak dikenal rupanya.

“Chan Yeol ada telepon”

“Angkat saja Yeo!” Pria itu menyahuti dengan suara bass berat khas miliknya.

“Yeoboseo?”

“Apa Chan Yeol ada Yeo?” ini suara pria, suaranya sangat familiar dan pria di seberang telepon ini baru saja menyebut namaku.

“Dia sedang mandi”

“Oh baiklah, katakan saja aku menunggunya di kona beans jam 10 nanti”

“Maaf kalau boleh kutahu ini siapa?”

“Kau bertanya siapa aku?”

“I..ya” jawabku ragu ragu dan entah kenapa pegangan tanganku pada ponsel Chan Yeol menguat. Aku merasa semakin aneh pada diriku.

“Aku Kyuhyun. Ah pasti Chan Yeol tak menyimpan nomorku”

“Kyuhyun?”

“Iya aku Kyuhyun. Kau kenapa Yeo? Apa kau sakit?”

“Tidak. Eum, baiklah nanti akan kusampaikan pada Chan Yeol”

“Oh oke. Sampai jumpa” Dan *flip* sambungan teleponnya terputus begitu saja.

“Siapa?” Chan Yeol sudah keluar dari kamar mandi. Tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang masih meneteskan bulir-bulir air. Dia sudah mengganti piyamanya dengan kaos putih bergaris garis dan celana cokelat muda sebatas lutut yang lebih santai dan kuakui ini lebih baik.

“Kyuhyun”

“Oh dia”

“Dia bilang akan menunggumu di kona beans jam 10 nanti” Chan Yeol mengangguk dan mendekatiku

“Kau baik-baik saja kan? Wajahmu pucat sekali” Lagi, Chan Yeol menaruh telapak tangannya di pipiku dan ada rasa dingin yang menjalar di sana.

“Aku baik baik saja” Gumamku cepat sembari menurunkan tangannya. Oh shit! Kenapa aku jadi canggung seperti ini? Kemana diriku yang sebenarnya?

“Oh baiklah. Sepertinya kau harus segera mandi dan berganti baju” Ada senyuman yang muncul di bibir Chan Yeol.

“Kenapa?”

“Karena kau terlalu manis saat memakai piyamaku. Jadi cepat bergantilah sebelum aku overdosis” Ada perasaan aneh saat ucapan konyol itu terucap dan aku jadi semakin canggung.

“Jadi ini piyamamu?”

“Ehm. Kenapa memang? Kau kan sudah sering memakainya” Ucap Chan Yeol dengan raut wajah bocah berumur 5 tahun.

“O..ke aku akan mandi” Aku berniat kabur ke kamar mandi dengan berlari secepat mungkin dari hadapan Chan Yeol namun niat itu gagal total karena dengan bodohnya aku malah menabrak kaki Chan Yeol yang ada di depanku dan aku terjatuh. Astaga, kenapa kebiasaanku terjatuh muncul di saat yang tidak tepat seperti ini. Dan lagi sekarang posisiku tak mengenakkan sekali, tadi saat aku hampir terjatuh Chan Yeol berusaha menolongku tapi sekarang jadinya ia ikut terjatuh ke ranjang bersamaku dengan posisinya yang berada atasku. “Yeo?” Chan Yeol menaikkan sebelah alisnya dan deru nafasnya yang hangat menyapu wajahku. Aroma shamponya bahkan tercium jelas di indera penciumanku.

“Apa?” Chan Yeol tidak menjawab dan malah mmendekatkan wajahnya ke arahku. Dan sepersekian detik berikutnya aku merasa ada sesuatu yang basah dan dingin mendarat di bibirku.

“Yeol__”

TBC

3 thoughts on “17 Going to 22? (Chapter 1)”

  1. anjiiiiiiiirrrrr kok seru siihh! uniikkk >_< jangankan Yeo Jun, aku sendiri aja bingung dan nggak ngerti sama apa yg terjadi sebenerx di sini. Ok, Yeo Jun ingetx dia cuma cewek umur 17 yg memiliki hubunhan pertemanan semacam Tom & Jerry dengan seorang Park Chanyeol. But see! setelah bangun dari tidurnya Yeo Jun terkejut karena tau2 muka dia berubah jd rada tua. ya nggak? 22 Tahun…. plis…. dan Park Chanyeol…. bisa2 x dia godain Yeo Jun bikin overdosis cuma gara2 pakek piyama onepiece kebesaran. wkkwkwkqkwk sumpah lucu banget! Dan awww…. adegan jatuh bareng di ranjang😄 pasti shock banget itu Yeo Jun si Chanyeol pakek acara kasih kisseu segala! aku makin oenasaran sama kelanjutanx. Sebenerx Yeo Jun itu lagi mimpi atau amnesia atau apasih. Next yaa ^^ ff nya unik! hehe

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s