Grey Eyes (Part 8)

Grey Eyes

———————————————————————————-

Title: ♥Grey Eyes♥

Scriptwriter:♥Rhym♥

Main cast:

♥ Oh Ji Hyeon (OC) ♥ Kris (EXO) ♥ Kim Jong In (EXO) ♥ Do Kyung Soo (EXO) ♥ Lee Donghae (SuJu) ♥ Oh Sehun (EXO) ♥ Park Ji Min (BTS) ♥ Park So Jin (Girls Day)

Another Cast:

♥ Shindong (SuJu) ♥ Song Ji Eun (Secret) ♥ Kim Seol Hyun (AOA) ♥ Song Seung Hyun (F.T.Island) ♥ Key (SHINee) ♥ Yuri (SNSD)

Genre: Romance. Angst. Fantasy. Crack. Sad. Tragedy

Rating: ♥PG –13

Duration: ♥Series Story. Chap 8/ ?

Previous part: 1 // 7

//////

Ada yang tak biasa dari mata abu-abu pria itu. Tapi entah kapan Oh Ji Hyun bisa tahu ‘apa itu?’. Selama ini yang ia tahu, mata itu yang membuat waktunya beku. Benar! Ada yang tak biasa mata abu-abu Kim Jong In! Sedikit demi sedikit Ji Hyun tahu arti warna pada mata itu. Kris, pria asing yang baru muncul menoreh namanya pada hidup Ji Hyun, tahu semua rahasia kelabu itu. Rahasia kelabu seorang Kim Jong In. tapi mengapa Kris tahu. Untaian kusut rahasia itupun membuat hidup Ji Hyun terjebak pada dimensi paling kelabu, paling tak teraba dan mungkin antara ada dan tidak ada. Satuan sensasi gelap dan terang dalam ketegangan, aksi, dan gelintir rasa cinta.

////

———————————————————————————-

^Summary^

“ Aku menyesal lebih dari yang kau bayangkan.”

Kris … Dia ngomong dengan siapa? Apa dia juga punya malaikat maut pendamping sepertiku?

Setengah sadar, kukerjap-kerjapkan mataku. Seluruh panas tubuhku entah lenyap kemana. Aku bangun dengan seluruh tubuh yang terasa sehat dan menyegarkan.

“ Kau bangun. Maaf, membangunkanmu,” ucap Kris terlihat menghapus air matanya.

“ Seperti apa rupa malaikat maut pandampingmu?”

Kris terlonjak mendengar pertanyaanku. Apa yang salah?

“ Malaikat maut pendamping?”

“ Ya! Kau berbicara dengannya kan sekarang?’

Kris menatap udara kosong di depannya dengan pandangan yang entah apa.

“ Kamu engga melihat dia, Ji Hyeon?”

disclaimer : all of the characters in here are belongs to God and his/her family. If there is a similarity of the plot, weird storyline, typo(s) and etc, i’m sorry~ i’m still an amateur. It’s pure beyond my imagination. Don’t be SiDer, Ok~

—♥♥♥—

<Ji Hyeon POV>

Kris mendatangiku dan langsung menggaet pergelangan tanganku untuk keluar dari kelas bersamanya.

“ Babo!” umpatku berbisik pada Kris.

“ Bagaimana bisa kamu membual begitu?” jengkelku.

Ji Min pasti akan semakin tertantang untuk menciptakan neraka untukku.

“ Hya! Kamu mau sampai kapan menjalani hidup seperti ini hah? Kamu harus melawannya Ji Hyeon.”

Melawan? Dia kira aku selama ini pasrah?

“ Kamu diancam?” tebaknya.

Tepat! Dan ketepatan itu membuat kepalaku terasa lemas.

“ Ne! Dan aku merasa engga ada jalan lain untuk menggugurkan ancaman itu kecuali menuruti apapun mau orang itu,” ketusku.

“ Aku juga punya ancaman bagus untuk dia dan dua teman lainnya. Aku sudah memperlihatkan di akun LIME mereka bertiga, foto ini,”

Kris memperlihatkan layar HP nya. Aku ternganga terkejut melihat foto yang ia maksud. JINJA?

“ Mereka tidak akan lagi berani macam-macam. Percaya padaku. Kamu bebas sekarang.”

Bebas? Aku tidak perlu mengerjakan tugas rumah mereka bertiga lagi , pergi kencan bodoh atau melakukan hal konyol apapun?

<Author POV>

PUK! JI Hyeon memeluk tubuh Kris erat.

“ Gomapta, Kris-ya,” ucap Ji Hyeon dengan suara bergetar menahan haru.

Kris terdiam menikmati hambusan angin yang tak biasa. Hembusan yang mengembalikan memorinya ke beberapa tahun lampau.

((Flash Back))

“ Aku lulus Kyung Soo-ah!” pekik Rim Ah berlari lalu memelukku.

“ Babo-ya! Mereka tidak bisa melihatku! Hanya kamu yang bisa melihatku. Nanti kamu dikira orang gila. Lepaskan!” ucap Kyung Soo dengan wajah merona. Baru kali ini ia rasakan tubuhnya yang selalu dingin menghangat seluruhnya. Biasanya telapak kirinya saja yang akan menghangat tanda ia harus menjemput seseorang (menjalankan tugas sebagai malaikat maut).

Tak ayal beberapa mata teman SMA-nya memandangnya sinis dan aneh. Rim Ah tetap memeluk Kyung Soo. Tak lama terdengar isakannya.

“ Terima kasih sudah menemaniku selama ini. Aku beruntung memilikimu. Karena hanya aku yang bisa melihatmu, hanya aku yang bisa merasakanmu bahkan hanya aku yang dapat mendengar suaramu. Aku beruntung. Kamu pasti hadiah Tuhan untuk hariku yang sepi ini kan Do Kyung Soo?’

Keramaian di sekitar mereka berdua lenyap dari pendengaran Kyung Soo. Yang ia kini dengar hanyalah isakan Rim Ah. Isakan orang yang tulus bersyukur atas kehadirannya. Bahkan semasa ia hidup dahulu, tak ada satupun sosok yang mengatakan padanya bahwa hadirnya adalah suatu keberuntungan.

“ Jika kamu ingin jadi manusia, kamu harus memperkuat keyakinan hatimu. Seiring berjalannya waktu, kamu pasti akan punya simpati terhadap manusia yang kamu dampingi itu. Dan simpati itu parahnya bisa merubah menjadi … Cinta. Sebuah rasa yang membuat hampir semua malaikat maut tidak ada yang berhasil ber-reinkarnasi menjadi manusia. Jika suatu hari rasa simpati itu muncul dan menyebabkan kamu tak ingin manusia yang kamu dampingi itu mati, ingatlah satu hal. Kamu sudah menyelamatkan nyawanya dengan menjadi pendampingnya. Dia harusnya mati kalau kamu tidak menyetujui opsi kedua yang kuberi padamu. Dengan begitu … Kamu akan bisa memutus rasa simpati itu. Ingat, jangan sampai kata cinta itu muncul disini.” malaikat maut tua itu menunjuk dada Kyung Soo.

Waktu kakek tua itu menunjuk dadanya, Kyung Soo yakin betul tak ada kata cinta yang berani memasuki dadanya. Tak akan. Tapi kini … Batin Kyung Soo berkemelut ria.

“ Terima kasih telah ada untukku, Kyung Soo-ya. Andai kamu juga manusia,” gumam Rim Ah memandang bola mata abu-abu milik Kyung Soo. Kyung Soo tahu, semakin lama ia memandang retina babychoco itu, ia akan semakin tenggelam dengan kata cinta itu. Masa bodoh! Pikir Kyung Soo seketika menautkan bibirnya ke bibir Rim Ah. Ia tahu benar itu adalah ciuman pertama dan terakhir mereka.

((Flash Back end))

TES! Air mata Kris turun.

“ Hya~ Kenapa kamu juga ikut menangis?” tanya Ji Hyeon kini menghapus air mata Kris.

Jong In tersentak membaca pikiran Kris.

Dia …

Reinkarnasi Do Kyung Soo? Hentak batin Jong In.

Tak lama. Bohlam lampu di sepanjang lorong tempat Ji Hyeon dan Kris berada, pecah serempak. Spontan Kris memeluk dan melindungi tubuh Ji Hyeon dari pecahan bohlam yang berjatuhan. Teriakan histeris murid-murid cewek disepanjang lorong menambah suram kejadian itu. Setelah merasa semua bunyi pecahan itu hilang, Kris mengaktifkan bola mata abu-abunya.

TEP! keempat bola mata abu-abu itu saling bertemu. Jong In memandang tajam mata Kris.

“ Akan kubuat kamu menyesal Do Kyung Soo!” ucap Jong In.

Kris tertegun. Bagaimana bisa dia …

“ Jong In -ah!” panggil Ji Hyun.

Kali ini Ji Hyeon kembali bisa melihat sosok Jong In. Ia tampak geram melihat sosok itu. Rasa-rasanya ia siap menonjok wajah tegax pria itu karena … membuatnya rindu setengah mati.

“ Apa ini perbuatanmu? Kenapa kamu begini hah? Bisakah kamu berpikir dulu sebelum memakai kekuatanmu itu? Kamu juga kan yang kemarin membuat masalah dengan Ji Min saat di kedai? Kamu keterlaluan Jong In,” bodoh! Ji hyeon mengutuk dirinya sndiri. Bukan kalimat ini yang harusnya ia lontarkan.

Jong In mengemeretukan giginya.

“ Keterlaluan? Aku menyelamatkannya dan dia bilang aku keterlaluan? Beginikah balasannya untukku? Benar kata pak tua itu. Tak ada gunanya …. Menaruh cinta kepada manusia yang ditolong nyawanya oleh malaikat maut. Tak ada!” batin Jong In lalu melenyapkan diri.

—♥♥♥—

Kris menyapukan pelan obat merah ke siku Ji Hyeon yang terkena pecahan bohlam. Sementara itu, bola mata Ji Hyun masih belum terisi jiwa seluruhnya. Ia merasa jiwanya jatuh jauh entah ke dimensi mana melihat tatapan benci di mata Jong In. Dia benar-benar salah memilih kata-kata. Bagaimana kalua Jong In tak akan mau muncul lagi? Ji Hyeon benar-benar tak sanggup jika harus menanggung rindu seperti yang sebelum-sebelumnya. Tak akan pernah sanggu[p

“ Kenapa aku begitu keterlaluan mengata-ngatai Jong In begitu,”

Kris tersenyum dengan perasaan getir. Kris agaknya tahu perasaan Ji Hyeon kini terhadap malaikat mautnya. Lebih dari sekedar yang ia bayangkan.

“ Kris! Aku punya uang jutaan di dalam kartu itu. Ambilah! Tapi … Hapus dulu poto yang kamu punya itu,” tiba-tiba JiMin muncul melempar kartu ATM-nya.

“ Ambil balik aja,” ucap Kris mengembalikan kartu milik Ji Min.

“ Kamu hanya perlu melakukan satu hal. Jangan pernah ganggu Ji Hyeon-ku lagi.”

Ji Hyeon tersentak. Ji hyeon-ku? Ia ingin berkilah tapi dia ingat toh ini untuk kebaikannya.

“ Kalian beneran sudah resmi?” tanya Ji Min dengan raut tak percaya.

“ Ya! Kenapa memangnya?” tanya Kris balik.

“ Hanya itu kan syaratnya? Kalau begitu … Baiklah!” sanggup Ji Min.

Tak lama setelah Ji Min pergi, Ji Hyeon langsung memburu Kris dengan pertanyaan mengenai status bohongan yang tetap dipertahankan Kris.

“ Hya~ Mulai sekarang aku akan menjadi pacar bohonganmu. Kalau tidak mereka akan kembali mem-bully-mu. Percayalah, ini hanya status. Tak lebih,” jawab Kris.

“ Tapi nanti … Yuri pasti marah denganku,” gumam Ji Hyeon sambil memonyongkan bibir.

“ Kenapa memangnya? Bibirmu lucu!” ucap Kris menertawai ekspresi Ji hyeon.

<Ji Hyun POV>

Sudah 3 bulan aku menjalani status palsu menjadi pacar Kris. Namun makin lama status itu seperti berubah menjadi kenyataan. Malam ini , 10 Desember, ia bahkan mengajakku ke taman bermain. Ia bilang ini hanya refreshing. Tapi setelah kutanya apa dia mengajak yang lain, dia bilang tidak ada. Apa bukan ajakan kencan namanya?

Meski begitu, aku belum memiliki perasaan apapun terhadap Kris. Bahkan terhadap Dong Hae Oppa. Entahlah! Setiap malam yang mampir ke mimpiku malah … Kim Jong In. Dia tak ada lagi muncul setelah kejadian bohlam pecah waktu itu. Benar bukan firasatku! Dan benar saja, akupun terus tersiksa merindunya. Andai dia tahu.

“ Hya! Kamu pergi juga? Terus siapa yang bantu aku malam ini,” oceh Sehun mendengar ucapan pamitku.

“ Memangnya Seol Hyun Unnie kemana?” tanyaku sambil memilah-milah sepatu di rak.

“ Dia bilang dia ada janji dengan temannya.”

“ Dong Hae Oppa?”

“ Dia sibuk dengan skripsinya katanya.”

“ Kalau begitu tutup saja. Aku tak bisa membatalkan janjiku ini juga,” balasku lalu pergi begitu saja meninggalkan kakakku yang masih ngedumel tak jelas dengan logat cadelnya.

—♥♥♥—

“ Kemana dia?” marahku menunggunya sejam lebih di taman yang ia janjikan.

Aku melempar tiket Lotte world yang ia berikan. Dan menginjak-nginjaknya dengan kesal.

“ Kamu kesal pacarmu tidak datang?” tanya sebuah suara di balik punggungku.

Suara ini …

((Flash Back))

Aku melompat-lompat girang memasuki kamar. Jong In yang duduk di atas meja belajarku, menatapku keheranan.

“ Kamu kerasukan hantu kelinci gila?” tebaknya asal lalu muncul tepat di depanku.

“ Hya! Jaga mulutmu!”

“ Kamu, yang jaga mulutmu!” ucap Jong In memukul pelan puncak kepalaku. Aku meringis menyadari salahku. Dia masih lebih tua setahun dibandingkan aku.

“ Kenapa begitu senang?” tanyanya kini berpindah ke tepi ranjangku.

“ Donghae Oppa membelikanku tas baru!” ucapku memburunya dan memeluknya di tempat tidur. Dingin~ Karena diluar begitu panas, secara tak sadar aku menikmati dinginnya badan Jong In.

“ Cinta itu anugerah ya?” gumam Jong In pelan.

“ Tentu saja! Kamu juga ingin memiliki seseorang untuk dicintai?” tanyaku antusias.

Jong In tampak berpikir.

“ Percuma saja, babo! Cuma kamu yang bisa melihatku, mendengarku bahkan merasakan sentuhanku,” balasnya.

Ah! Benar juga.

“ Jadi hanya aku dong yang bisa kamu cintai”

Jong In terdiam. Apa yang barusan kukatakan? Ah Babo!

Jong In kini memelukku dan berbisik, “ Hanya kamu, Ji Hyun!”

((Flash Back end))

TES! Tangisanku semakin deras. Kini sosok Jong In hanya berbayang di mataku karena ditutupi bulir-bulir.

“ Kenapa kamu mau memendekan umurku?” tanyaku dengan isak yang mencekat hebat.

“ Karena aku malaikat maut,” jawabnya singkat dengan ekspresi bekunya.

“ Kenapa aku?”

Seketika angin yang berhembus berhenti. Jong In… Menangis.

“ Ijinkan aku mengatakan ini sekali saja,” ucapnya mendekatiku.

“ Sarangheyo,”

Air mataku berhenti mengalir. Dia …

“ Aku gagal. Aku gagal membuat niat reinkarnasi itu bertahan di dadaku. Karena kini … Dadaku penuh namamu, Oh Ji Hyeon.”

Aku masih terdiam.

“ Aku akan menyerah dengan opsi reinkarnasi itu. Aku tak akan tenang hidup di dunia ini jika harus membunuhmu. Aku …” Jong In terisak. Baru kali ini aku melihatnya menangis dengan sesegukan seperti itu.

Aku spontan memeluknya.

“ Aku akan kembali ke dunia sana. Tempatku bukan di sini,” ucapnya.

“ Aku ikut Jong In -ah!” tangisku pecah.

“ Aku merindukanmu lebih dari yang kamu tahu selama 3 bulan ini. Aku tidak ingin kamu meninggalkanku lagi.”

TO Be Continue

Eya~ TBC cingu~ Nantikan part terakhir Grey Eyes! Yap! We’re gonna reach the final J

_Rhym_

3 thoughts on “Grey Eyes (Part 8)”

  1. Ah jimin emang cuman pengen ngerjain ji hyun doank

    Kris kenapa emangnya gak dateng?

    Main k taman hiburan bukan kencan juga keleus, ji hyun baper ni ahahahaha

    Ahh jong in gak jadi manusia deh

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s