Love Hater (Chapter 3)

cover love hater copy

Love Hater (Chapter 3)

 

phiwonby’s present

 

Terinspirasi dari kisah nyata

 

Starring

Main Cast KARA’s Hara

Other Cast BTS’s Taehyung, BEAST’s Hyunseung, BEAST’s Gikwang, KARA’s Youngji, Miss A’s Suzy, BESTie’s Dahye, BESTie’s Hyeyeon, f(x)’s Soojung, Lovelyz’s Yein, and others.

Genre Romance, Friendship, Family, Drama

Rating PG-15

Duration Serial (3.000+ words/Chapter)

 BAWAH RESMI copy

Aku benci terhadap dua fakta berikut:

Satu, lelaki sangat mudah jatuh cinta

Dua, aku tidak pernah jatuh cinta

 

Acara ‘Malam minggu di Pantai Kyangnam’ sangat berjalan lancar. Sangking lancarnya sampai-sampai membuat Hyunseung berhasil menembak Hara. Yang ada di fikiran Hara saat itu adalah, Ini saatnya untuk menerima cinta dari orang yang mencintaiku. Merasa akan menjadi satu-satunya gadis yang paling dicari-cari Hyunseung setiap saat, Hara sampai tak bisa tidur malam dengan nyenyak.

 

Semuanya tampak berjalan baik-baik saja semenjak acara itu selesai dengan pesta kembang api yang sangat indah—diiringi genggaman tangan Hyunseung pada tangan Hara, Oppa, apa kamu tahu kenapa jari manusia diciptakan memiliki sela-sela diantara jari satu dengan yang lain?”

 

“Agar bisa makan cokelat buatan Hara dengan baik?”

 

“Tentu saja bukan! Jemari manusia memiliki sela-sela antara jari satu dengan yang lain diciptakan untuk menautkan jemari manusia lain yang senantiasa mengisi sela-sela tersebut agar tidak kosong lagi.”

 

Bak titisan Gikwang, Hyunseung sempat beberapa kali absen dari klub untuk mengunjungi adik kandungnya yang hendak mengikuti Ujian Universitas dan membuat Hara serta-merta kesepian sepanjang kepergian Hyunseung. Beruntung Hara punya teman-teman klub yang masih setia padanya, menemaninya meski harus sembunyi-sembunyi karena kecanggungannya dengan Taehyung masih berkubang di antara mereka berdua, kalau ingin bermain dengan Yein—salah satu teman sekaligus adik sumpahnya yang setia.

 

Sayangnya waktu ‘menghilangnya Hyunseung’ sangat tidak tepat. Hara sangat khawatir akan keadaan Taehyung dan fakta bahwa Taehyung menyukai Hara sedangkan hatinya berkata bahwa Hara sedang merindukan Hyunseung. Yang Hara butuhkan sekarang hanyalah pelukan hangat dari orang yang mencintainya dan kini ia cintai.

 

Stres makan. Lebih dari 10 batang cokelat sudah masuk kedalam perut Hara yang kadang disertai rasa asin yang berasal dari air matanya yang mengalir bersama suara sesenggukannya. Dan Youngji merupakan satu-satunya anggota klub yang berada di sisi Hara apapun yang terjadi—meski merelakan bahunya yang selalu basah akan air mata Hara saat menangis di pelukannya.

 

Youngji membanting ponselnya diatas sofa dengan sangat keras, lantas berdecak sebal dan menggerutu, “Lelaki brengsek itu tak mengangkat teleponku, haruskah aku pergi kerumahnya sekarang?” Hara menggeleng, meminta Youngji untuk tetap bersamanya di dalam kamarnya.

 

“Aku yakin itu akan memperburuk keadaan…” isak Hara, menanggapi Youngji yang berusaha menghubungi nomer telepon Hyunseung untuk memberitahukan masalah yang baru-baru ini terjadi.

 

“Kalau begitu, aku akan membantumu mengembalikan hubunganmu dengan Taehyung!” seru Youngji, seraya memberikan ucapan-ucapan semangat untuk Hara. “Ah, apa kamu sudah tahu? Aku menyerah pada Jungkook. Aku dengar Yein adalah kekasihnya, dan sudah lama berhubungan jadi bukankah lebih baik aku menyerah?”

 

Hara menatap Youngji, lalu menangis semakin keras—curhatan Youngji barusan membuatnya semakin sedih. “Bagaimana ini… aku ingin pergi saja…” isakan Hara membuat Youngji memeluk sahabatnya itu dan mengelus-elus punggungnya.

 

“Aku tahu kamu kuat, Hara…”

 

Musim panas tinggal seminggu lagi, agaknya Hara merasa lebih lega. Berfikir bahwa dalam seminggu ini dia hanya harus menjalaninya dengan membuat cokelat, menyebarkannya, atau berkencan dengan Hyunseung. Namun, bagaimana jika seminggu terakhir tak berjalan seperti yang diharapkan?

 

Seperti pagi itu, hari kelima sebelum musim panas berakhir. Awalnya cukup membahagiakan ketika Hara dapat berkomunikasi dengan Taehyung seperti biasanya lagi, seolah tak ada yang terjadi—atau Taehyung yang memaksa mengubur perasaannya atau sudah membuangnya jauh-jauh.

 

Tetapi yang terjadi adalah penuhnya papan penggemar rahasia dengan nama Hara. “Seseorang sedang menghina Hara” begitu berita yang tersebar. Soojung selaku pengurus papan penggemar rahasia—yang telah menggantikan posisi Yein—diserbu oleh Suzy, Gikwang, Taehyung, dan Youngji.

 

“Aku tidak bisa memberitahu pelakunya! Aku hanya bertugas menempelkan pesan dari anggota lain kepada anggota lainnya, peraturan tetaplah peraturan!” tegas Soojung berkali-kali, tapi keempat orang tersebut masihs aja memaksa Soojung untuk memberitahukan siapa pengirim pesan-pesan yang berupa penghinaan tersebut.

 

Sedangkan Hara? Apalagi yang dapat ia lakukan selain memandangi pesan-pesan tersebut dan membacanya berkali-kali dalam hati. Matanya memanas, tapi sama sekali tak mengeluarkan air mata. “Tidak apa-apa, ini hanyalah pesan” tuturnya tanpa mengalihkan pandangan pada papan penggemar rahasia dan sontak membuat keempat orang tersebut diam.

 

“Hara…” Suzy memeluk Hara dari belakang, dan tiba-tiba menangis. Gikwang dan Youngji saling bertukar pandang, lalu menghampiri Hara yang benar-benar tak menangis. “Apa yang harus kita lakukan…”

 

“Soojung-ah! Kamu tidak kasihan pada Hara Nuna, eoh?!” bentak Taehyung pada Soojung.

 

“Kamu fikir aku tidak punya hati, begitu? Kamu fikir aku dengan tanpa perasaan menempelkan semua pesan itu tanpa berfikir dua kali? Aku juga tak mengerti dengan orang itu!” balas Soojung dengan bentakan juga.

 

“Lalu bagaimana ini? Kamu bahkan tak menambahkan peraturan ‘dilarang mengirim pesan mengandung unsur yang mengacu terjadi peperangan’, kan? Sekarang salah siapa coba?” runtut Taehyung yang semakin tak terima karena Soojung membentaknya balik.

 

Hara menyentuh bahu Taehyung, “Aku tidak apa-apa, Tae” tuturnya.

 

“Tidak apa-apa? Penghinaan-penghinaan ini muncul untuk Hara Nuna dan Nuna bilang Nuna tidak apa-apa?” ulangnya, “Aku—“

 

“Hentikan!” teriak Hara. Papan penggemar rahasia yang terpajang di tengah-tengah taman Hanjang tersebut membuat para anggota yang sedang mengunjungi taman tersebut menoleh kearah Hara. “Aku benar-benar tak apa, sungguh!”

 

“Hara…” panggil Suzy, hendak menghambur memeluk Hara lagi namun tangan Gikwang menahannya.

 

Hara mengedarkan pandangannya dan menyadari bahwa ia sedang diperhatikan banyak orang, “Dia hanya berpendapat tentangku, kan? Aku fikir dia ada benarnya bahwa aku memang tak seharusnya ada di klub ini!” bentaknya, mendadak suaranya menjadi bergetar. “Aku tahu ini salahku, kalau aku tidak ada di klub, Taehyung akan hidup dengan tenang tanpa memukul dinding dan melukai tangannya sendiri, kan? Itu kan yang orang ini inginkan?”

 

“Hara, cukup” bisik Gikwang sembari merangkul adik sumpahnya itu. “Ayo kita pulang” ajaknya masih dengan suara lirih. Gikwang menyunggingkan senyumannya lantaran Hara yang membalas rangkulannya dengan merangkul pinggang Gikwang karena tubuhnya yang lebih pendek.

 

“Aku akan pergi sebentar lagi, Soojung. Tolong sampaikan itu pada pengirim pesan ini” pesan Hara sebelum melangkah kembali ke rumah bersama Gikwang. “Oh, dan, sepertinya klub ini harus mengganti nama papan itu, ‘Papan Penggemar Rahasia’ bukanlah nama yang cocok.”

.

 

.

 

.

 

Hara tertawa geli mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Gikwang mengenai rasa khawatirnya soal Hara yang semalam suntuk tidak tertidur dan terus memakan cokelat. “Apa Oppa pernah dengar, kalau cokelat dapat meredakan stres. Mungkin cokelat menjadi salah satu alasan aku sama sekali tidak menangis kemarin, haha…”

 

“Baiklah, aku mengerti, Hara. Tapi kenapa kamu terus-terusan tertawa seperti itu? Aku khawatir kamu menjadi gila gara-gara ini semua…” agaknya Gikwang khawatir Hara bisa mengalami depresi akut.

 

Hara tersenyum lebar bersama lingkar mata hitamnya yang semakin lebar, “Tak usah khawatir, aku sudah gila, kok.” Hara memandangi puluhan bungkus cokelat yang berceceran di kamarnya. “Ah… kurang empat hari lagi dan aku akan keluar dari semua ini, Oppa

 

“Kamu ingin musim panas cepat berakhir karena kamu tak lagi ada di klub?” Hara mengangguk-angguk mengiyakan, “Dan kita tak bisa berkomunikasi lagi, Hara-ya. Aku selalu mengambil liburan musim panas untuk hal-hal seperti ini karena aku selalu sibuk di dunia karirku. Aku tak ingin berpisah dengan adik sumpahku…”

 

Oppa, aku juga tak ingin, eoh…”

 

Gikwang merentangkan tangannya, meminta pelukan. Lantas Hara menghambur memeluk kakak sumpahnya yang benar-benar tak lagi menyapanya setelah musim panas berakhir. “Hara, kakak sumpahmu ini mungkin hanya ‘kakak sumpah’, tapi aku benar-benar menganggapmu sebagai adik kandungku dan aku ingin meminta maaf karena sebenarnya aku tak pantas menjadi kakakmu yang selalu pergi meninggalkanmu. Tapi, ada hal terakhir yang kuminta padamu… aku ingin kamu berjanji satu hal padaku,”

 

“Apa itu, Oppa?”

 

“Bertahanlah apapun yang terjadi.”

 

“Bertahan bagaimana?”

 

“Berpindah tempat, beradaptasi, dan bertahanlah di sana. Kamu telah memilih Hyunseung sekarang, itu artinya kamu harus beradaptasi dengan lingkungannya, dan bertahan untuknya. Janji?”

.

 

.

 

.

 

“Hara-ya, aku ingin cokelat…” rengekan yang tak pantas didengar dari mulut Hyunseung itu lantas membuat Hara mendudukkan diri setelah menghabiskan sekitar sepuluh menit untuk  berguling-guling di atas kasur dan berbincang bersama Hyunseung di kamar Hara.

 

“Aku ambilkan di dapur dulu, ya, Oppa” pamit Hara yang senantiasa meladeni Hyunseung dengan senang hati. Langkahnya tampak lebih lamban dari biasanya, mungkin sedikit pusing karena lengan Hyunseung telah menjadi bantalnya selama sepuluh menit terakhir.

 

Dapur tampak tak seramai dulu, yang selalu penuh dengan kulit-kulit buah cokelat yang berceceran, atau peralatan-peralatan masaknya yang lain yang berantakan. Hara membuka mesin pendingin makanannya, dan tersenyum ketika melihat masih banyak cokelat batang di sana yang bisa ia berikan kepada pada anggota klub.

 

Tangannya meraih salah satu cokelat dari sana, dan—

 

Hug. Pinggang Hara penuh dengan tangan Hyunseung, dan bahu kirinya menjadi tumpuan dagu Hyunseung. “Mana cokelatnya?” tanya Hyunseung, membisikkan suara dalamnya tepat di telinga Hara.

 

“Aku rasa Hyunseung Oppa harus melepaskan pelukan ini dan kita makan di ruang depan saja” usul Hara sembari menutup pintu mesin pendingin makanannya, lantas menarik tangan Hyunseung untuk melepaskan pelukannya—namun Hyunseung  jelas lebih kuat dari Hara.

 

Hyunseung terkekeh merasakan kedua tangannya yang terus ditarik Hara, “Disini saja,” ucapnya seraya mencium pipi kiri Hara. “Suapi aku~” suara merengek itu keluar lagi.

 

“Ah, jangan merengek, Oppa!” protes Hara sembari menelengkan kepalanya ke kanan—menolak kepala Hyunseung yang sangat menganggu di bahunya tersebut. “Dan kenapa Hyunseung Oppa sangat manja saat bersamaku, hm?” tambahnya. Lengkap sudah ungkapan Hara yang selama ini ia pendam. Tentu dua hal tersebut cukup menganggunya, meski tahu Hyunseung tak akan ada tanpa dua sikap tersebut.

 

“Ayolah, suapi aku~”

 

Hara menirukan kata-kata Hyunseung dengan aksen imut, “Ayolah, suapi aku~” sembari membukakan bungkus cokelat yang ada ditangannya dan memotong bagian atasnya, “Sini, buka mulutmu!” serunya.

 

“Ah~”

 

Hara menyuapkan sepotong cokelat tersebut pada Hyunseung. “Oppa, apa aku boleh bertanya?”

 

“Itu sudah termasuk pertanyaan, loh” timpal Hyunseung sembari mengunyah.

 

“Ah, benar juga” sahut Hara. “Kenapa Hyunseung Oppa menyukaiku?”

 

“Aku tidak menyukaimu lagi, Hara-ya.”

 

“Apa?” refleks, Hara menarik tangan Hyunseung dengan keras dan melepas pelukannya, berbalik badan dan menatap Hyunseung yang sedari tadi memeluknya dari belakang. Hyunseung terkekeh melihat ekspresi terkejut Hara, “Oh, sial. Aku tahu itu, Oppa!”

 

“Memangnya apa?”

 

“Kamu tidak menyukaiku, tapi mencintaiku, kan? Itu kata-kataku, tahu! Tepat empat hari yang lalu aku mengatakannya padamu saat kamu menanyakan apakah aku menyukaimu dan—“

 

“Salah. Aku tidak menyukaimu maupun mencintaimu.”

 

Hara tercengang lagi, “Jangan bercanda, cepat katakan padaku, Oppa!”

 

“Aku menyayangimu, Hara,” jawab Hyunseung disertai tawa gelinya, “Dan aku rasa kamu tidak akan bisa tidur malam ini kalau aku mengatakan alasanku menyayangimu!” godanya.

 

“Ah, begitu, ya?” tanya Hara, “Kalau begitu, tak akan ada cokelat untukmu malam ini!” balasnya.

 

Hyunseung menghela nafas, rencananya untuk menggoda Hara gagal—lagi-lagi. “Karena kamu berbeda dari yang lain. Kamu sangat… mirip seperti malaikat yang turun—“

 

“Bisakah gunakan kata-kata yang masuk akal?” potong Hara. “Oppa, aku tahu aku ini cukup cantik untuk disandingkan denganmu, tapi ‘malaikat’ bukanlah kata yang tepat—“ jemari Hyunseung tertempel di bibir Hara, menyuruhnya untuk diam.

 

“Kamu sangat baik hati dan juga lugu, dan yang paling penting adalah,” kalimatnya menggantung begitu saja, membiarkan tatapannya bertemu dengan tatapan Hara lebih dalam, “Kamu bisa membuat cokelat yang sangat manis, semanis—“

 

“Cukup, aku mengerti betul alasan utamanya” potong Hara lagi. “Memangnya Oppa mau makan cokelat seumur hidup kalau terus bersamaku? Aku tahu hubungan kita akan berakhir suatu hari nanti.”

 

“Kenapa berfikir begitu?” tanya Hyunseung yang merasa Hara ingin konversasi ini serius. Belum sempat Hara menjawab, Hyunseung menumpuk beberapa pertanyaan lain, “Aku dengar kamu dihina Dahye di papan penggemar rahasia, ya? Gara-gara Taehyung, kan?”

 

Oppa, itu…”

 

“Jangan bermain bersama lelaki itu lagi.”

.

 

.

 

.

 

Agaknya pelukan hangat antara Youngji dan Hara adalah hal terakhir yang ia lakukan sebelum masuk ke dalam mobil Gikwang di klub ini. Tiga hari sebelum musim panas berakhir menjadi hari yang tepat bagi Hara untuk meninggalkan klub ini. Merasa dihargai saat Yein, Suzy, dan Taehyung berusaha mencegahnya untuk pergi sebelum musim panas berakhir.

 

“Kalau kalian membaca papan penggemar rahasia nanti siang, kalian tak akan mencegahku pergi, sampai jumpa!” itulah yang Hara ucapkan pada orang-orang terdekatnya yang tak ingin dia pergi.

 

Gikwang menyalakan klakson mobil sekali, membuat Hara terjingkat kaget dan melepas pelukannya bersama Youngji. Youngji melangkah mundur dua langkah sesaat setelah Hara masuk ke dalam mobil. “Kita bertemu lagi di kampus, Hara!” teriak Youngji ketika Gikwang mulai menjalankan mobilnya. Hara mengangguk-angguk dan saling melambaikan tangan dengan Youngji.

 

Helaan nafas muncul dari mulut Hara lantaran merasa ada yang kurang. “Mau mencari dia dulu?” tawar Gikwang yang tahu betul tentang ‘sesuatu yang kurang’ tersebut. Hara menatap Gikwang sekilas, lalu menggeleng.

 

Mobil mereka sudah menghilang ditelan belokan yang menuju ke pintu keluar daerah Hanjang. “Hara!” sebuah teriakan keras terdengar sampai ke telinga Hara dan Gikwang. Hara menengok ke belakang dan mendapati Hyunseung yang sedang berlari mengejar mobil Gikwang. “Oppa, berhentilah sebentar” tutur Hara sembari menepuk-nepuk bahu Gikwang.

 

Tepat di pintu keluar daerah Hanjang yang masih merupakan daerah perbukitan, Gikwang menghentikan mobilnya dan Hara keluar dari mobil tersebut. Dua detik kemudian Hyunseung tiba di hadapan Hara, lantas menarik Hara ke dalam pelukannya. “Jangan pergi…” kalimat itu muncul setelah Hyunseung sibuk mengatur nafasnya.

 

“Maafkan aku, Oppa. Aku benar-benar harus pergi, pergi dari Hanjang, bukan pergi dari hatimu, bukan?” timpal Hara sembari mendorong tubuh Hyunseung untuk melepas pelukannya—merasa tubuhnya terkontaminasi dengan keringat Hyunseung.

 

Meski sebuah nyanyian singkat dari Hyunseung sempat membuat Hara tersentuh, ia masih kembali masuk ke dalam mobil dan menghilang dari sana—bersama kalimat terakhirnya untuk Hyunseung, “Aku akan sangat merindukanmu, terima kasih untuk musim panas tahun ini, Hyunseung Oppa…”, Hara diantar pulang ke rumah aslinya oleh Gikwang.

 

Hara tak menyangka liburan musim panasnya akan semenyenangkan ini.

 

Sejujurnya Hara sudah menebak bahwa musim panas tahun ini tak akan jauh dari konflik cinta yang sudah lama tak ia rasakan. Cukup untuk mengatakan terima kasih karena semuanya tak terlupakan dan merupakan momen yang sangat menyenangkan bagi Hara. Menyenangkan, tentu saja.

.

 

.

 

.

 

Kepada: Semua anggota klub

Dari: Tukang pembuat cokelat

Aku pergi bukan karena aku menghindari para pembenci dari klub ini (bukan juga karena penghinaan di papan penggemar rahasia) tapi karena kepentingan pribadi dan aku benar-benar merasa sudah saatnya pergi dari klub ini. Ah, lagipula musim panas sudah hampir pergi, tinggal menghitung jari saja, bukan?

Dan karena itulah, aku minta maaf kepada kalian semua karena kehadiranku telah membuat kalian tidak nyaman, aku bisa merasakannya, kok. Tapi tanpa kalian yang telah membenciku, aku juga tak akan bisa bertahan sampai sekarang. Berteman adalah tujuanku kemari, dan aku masih berterima kasih karena ada yang mau berteman baik denganku.

Untuk Youngji, sahabat terbaikku yang selalu ada untukku. Untuk Yein, adik sumpahku yang sangat baik hati dan cantik jelita, semoga langgeng dengan Jungkook yang mesum itu. Untuk Suzy, teman pertamaku yang sangat baik hati, aku tak bisa melupakanmu, Bae Suzy. Untuk Dahye, aku sama sekali tidak marah padamu dan sangat berterima kasih karena kamu telah meminta maaf padaku, semoga kamu bisa menemukan cintamu yang sejati. Untuk Hyunseung Oppa yang telah mewarnai musim panasku dengan sentuhan cintanya yang tulus, terima kasih untuk semua waktu ini, dan boneka Beruang Teddy itu selalu mengingatkanku padamu. Untuk Gikwang Oppa, kakak sumpah kesayanganku yang menjadi orang paling kurindukan setelah musim panas berakhir.

Dan yang terakhir, untuk adik sumpahku yang paling kusayangi, Taehyung. Aku minta maaf karena aku telah membuatmu terluka sangat dalam, aku sangat merasa bersalah. Juga, aku berterima kasih karena kamu telah memberiku kesempatan untuk bermain bersama, aku harap suatu hari kamu mau memakan cokelat buatanku!

Mungkin kalian berfikir aku akan melupakan musim panas ini karena musim panas ini telah melukai hatiku, sama sekali tidak. Aku akan mencoba untuk tidak melupakannya. Selamat tinggal!

.

 

.

 

.

 

“Taehyung! Selamat ulang tahun, ya!”

 

Sedetik setelah kalimat itu keluar dari bibir Hara, salju pertama hari ini turun di pagi buta. Dinginnya semakin menusuk ketika salju-salju tersebut menyentuh kepala Hara yang tak menggunakan topi atau semacamnya.

 

Taehyung melepas topinya dan mengenakan topinya pada kepala Hara, lalu berjongkok di hadapan Hara sembari mengulum senyum. “Mana kado dari Nuna?” alih-alih mengatakan sesuatu yang manis atau semacamnya, Taehyung malah menodongkan kedua tangannya pada Hara.

 

“Mau cokelat?” tutur Hara sembari mengeluarkan sebatang cokelat yang dibungkus kertas minyak keperakan dari saku jaket tebal warna putih yang dikenakan Hara.

 

Bibir Taehyung menekuk ke bawah, “Aku kan tidak suka cokelat, Nuna!” tolaknya.

 

“Cobalah sekali saja! Masa’ seumur hidup kamu tetap tak mau mencoba cokelat buatanku ini? Yang kali ini adalah yang termanis sepanjang masa yang kubuat dengan taburan cinta dan kasih sayang, kok!” kata Hara, masih saja tak menyerah membujuk Taehyung.

 

Hara tersenyum puas lantaran Taehyung menerima cokelat tersebut dan membuka  bungkusnya. “Kalau tidak enak, aku kembalikan, ya!” tukasnya sebelum ia menggigit batang cokelat tersebut. Hara mengangguk mantap, dan terus menatap Taehyung yang mulai membuka mulutnya, dan deretan giginya menggigit ujung batang cokelat dengan perlahan.

 

“Bagaimana?” tanya Hara saat Taehyung menelan gigitan cokelat yang sekecil semut tersebut.

 

Taehyung menggeleng, lalu mengembalikannya pada Hara, “Tidak enak. Aku tidak suka cokelat! Pokoknya jangan kasih aku cokelat lagi!” protesnya.

 

“Baiklah, maafkan aku, Taehyung-ie!”

 

“Lalu mana kadoku?”

 

“Cokelat itu adalah kado untukmu…”

 

“Tidak mau! Aku mau kado yang lain!”

 

“Ah, kamu ini masih saja kekanakan!” sentak Hara dengan sebal. “Kamu mau apa, sih? Sebutkan, nanti aku akan bawakan untukmu!” timpalnya seolah kantongnya sedang tebal-tebalnya padahal ini sudah akhir bulan.

 

Taehyung tertawa puas, “Apa saja?” tanyanya untuk meyakinkan.

 

“Apa sih yang tidak kuberikan untukmu, hm? Bahkan cokelat yang tak kamu sukai saja aku bawakan. Mau apa?”

 

“Mau Nuna selalu ada buatku…”

 

Hara mengerjapkan matanya, menelengkan kepalanya dan menatap Taehyung. “Itu mudah, Tae. Tapi sepertinya kamu harus mencari kekasih, deh. Soalnya—“

 

“Aku sudah punya kekasih, Nuna…”

 

“Benarkah? Sejak kapan?”

 

Masih sama, Hara sangat tidak pandai dalam hal mencari informasi. Tentu saja sama. Hara adalah Hara, tak peduli musim telah berganti. Kiranya hanya Suzy, Youngji, Taehyung, dan Yein saja yang masih berkomunikasi dengan Hara setelah klub musim panas itu berakhir. Dan inilah bagian yang paling Hara sukai,

 

“Kalau ingin aku ada untukmu, kamu harus berjanji padaku untuk selalu mengirimiku kabarmu dengan kekasihmu, karena aku tak pernah mengerti cinta macam apa yang sedang menghampirimu, Taehyung-ie!”

-end-

A/N: HUFT akhirnya selesai TT_TT dan itu berarti saatnya saya hibernasi panjang menjelang UAN ~ sudah selesai galau-galaunya :v sekali kali maaf mungkin peran tokoh kurang pas tapi ya begitulah, ini cuman fiksi kawan-kawan ._. /tabok/

So goodbye~

One thought on “Love Hater (Chapter 3)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s