[Vignette] What It Takes To Fix A Relationship

2yoon

a movie by tsukiyamarisa

starring [WINNER] Kang Seungyoon and [BTS] Min Yoongi duration Vignette genre Friendship, slight!Romance rating 15

related to #1: Void and #2: Boy’s Perspective

.

“Bukan maaf yang dia perlukan, Bodoh.”

.

.

.

“Lantas, aku harus bagaimana?”

Satu kernyitan di kening, dan kalau bukan karena Seungyoon memang butuh saran, mungkin ia sudah melempar Min Yoongi dengan headphone di atas meja. Memandangi teman kuliahnya itu, ia pun memutuskan untuk mengambil napas panjang lebih dulu. Duduk perlahan di atas kursi yang ada, mengetukkan jemarinya untuk menarik atensi Yoongi lagi.

“Aku hanya ingin dengar pendapatmu.”

“Pendapatku.”

Yeah, pendapatmu,” ulang Seungyoon, lantas buru-buru mengimbuhkan, “Maksudku, kau bisa betah tidak bertemu Minha selama seminggu penuh—“

“Seminggu belum ada apa-apanya,” potong Yoongi, alis terangkat selagi ia mengingat-ingat cerita Seungyoon tadi. Lelaki itu baru saja menceritakan bagaimana ia putus dengan gadisnya, membeberkan semua alasan di baliknya sampai-sampai Yoongi sedikit bosan. Oh, dan jangan salahkan pula jika Yoongi sedikit tak bisa memahami posisi Seungyoon saat ini. Karena jujur saja, kawannya itu—

“Bagaimana kau bisa tahan?”

—sedikit konyol dan bodoh.

Memutar bola mata, Yoongi memilih untuk menekan tombol save lebih dulu sebelum menutup aplikasi pembuat lagu yang sedang dihadapinya. Memutar kursi untuk menatap Seungyoon datar, selagi bibirnya berucap, “Aku malah tidak akan tahan kalau kami bertemu tiap hari. Minha juga tidak suka itu.”

Tanggapan Seungyoon adalah ekspresi bingung, dan Yoongi mengerti mengapa temannya itu memberi reaksi demikian. Kalau menyimpulkan dari kisah Seungyoon tadi—yang hanya setengah hati Yoongi dengarkan tetapi diam-diam akan ia masukkan ke dalam lagu buatannya— kekasih Seungyoon tidak suka dengan sikap posesif lelaki itu. Si gadis, Choi Lula, kesal dengan sifat Seungyoon yang terlalu mengekang. Ditambah lagi, saat mereka tidak sengaja bertemu di halte bus, Seungyoon menuduh kalau Lula sudah punya pacar baru. Yap, pacar baru yang rupa-rupanya adalah adik sepupu gadis itu sendiri.

Namun, tetap saja Yoongi tidak paham mengapa….

“Asal tahu saja, aku bukan penasihat cinta yang baik.”

…mengapa dari semua orang yang ada, Seungyoon harus menganggu kesibukannya dan minta saran padanya.

“Karena aku ingin tahu,” jawab Seungyoon langsung, helaan napas terdengar sebelum ia mengakui dengan berat hati, “Bagaimana cara kalian bertahan, aku ingin tahu soal itu. Jarang bertemu, tetapi tidak ada masalah sama sekali. Apa memang itu yang dibutuhkan agar suatu hubungan bisa bertahan lama?”

Dengusan geli kini terdengar, membuat Seungyoon lekas mengerutkan dahi dan memasang tampang tersinggung. Tetapi, seolah tak peduli dengan penderitaan kawannya, Yoongi malah bergerak menepuk bahu Seungyoon dan berujar, “Kau terdengar seperti anak SMA yang pertama kali jatuh cinta, kau tahu?”

“Aku—“

“Kau salah, Seungyoon. Kau sudah mengakui itu atau belum?”

Tidak ada jawaban. Selama beberapa sekon, Seungyoon hanya membiarkan keheningan berlalu. Sebagian dari dirinya memang tahu kalau ia salah, kalau ia juga punya andil dalam retaknya hubungan itu. Namun, bohong kalau egonya saat ini tidak berusaha mengambil alih kendali. Bagian dari dirinya yang ingin membenarkan rasa cemburu itu; yang ingin berkata bahwa hubungan seperti milik Yoongi bukanlah sesuatu yang normal. Ia ingin menyalahkan Lula, tetapi setelah hampir satu bulan tidak bertemu, ia juga….

“Semua salahku?”

 “Apa maksudmu?”

“Semua yang membuatnya berakhir minta putus… semua itu gara-gara aku?”

“Kau tidak mau mengakui salahmu,” ucap Yoongi lamat-lamat, “tetapi kau berharap dia juga ambil bagian dalam perkara ini?”

“Bukan begitu!” Seungyoon cepat-cepat membantah. “Maksudku adalah, kalau semua ini memang salahku aku akan… aku….”

“Kau?”

“Aku ingin menemuinya, tahu.” Seungyoon mengaku, memenuhi paru-parunya dengan oksigen sebanyak mungkin. “Tapi aku tidak bisa. Makanya, kalau memang ini salahku, aku mau minta maaf. Aku akan minta maaf dan—“

“Bukan maaf yang dia perlukan, Bodoh.”

Yoongi menginterupsi perkataan Seungyoon pada saat itu, mengangkat sebelah tangannya tanda ia akan menjelaskan. Si lawan bicara—walau tampak enggan—akhirnya memilih untuk bungkam. Mengedikkan kepala tanda ia akan mendengarkan, selagi Yoongi melarikan jemarinya asal-asalan di atas keyboard dan mulai berucap, “Aku tidak tahu dengan rinci apa masalah kalian, aku tidak tahu apa yang dipikirkan gadismu. Yang aku tahu, mungkin kau hanya butuh memahaminya.”

“Memahaminya? Tapi aku selalu mendengarkan tiap kali ia bercerita tentang masalah keluarganya dan—”

“Dan?” Yoongi menyedekapkan kedua lengan, memberi pandangan tajam ke arah temannya. “Dan itu cukup? Kau bertanya, apa yang membuat kalian putus. Kaupikir, ini semata-mata masalah dia masih suka padamu atau tidak?”

“Aku….”

“Bukan itu yang dia butuhkan,” lanjut Yoongi, mengabaikan usaha Seungyoon untuk membela diri. “Kau menyukainya, dia menyukaimu, dan menurutmu itu cukup? Sebuah hubungan tidak berjalan dengan cara seperti itu, Seungyoon.”

Seungyoon masih diam. Agaknya sedang berusaha memikirkan perkataan Yoongi barusan, mengingat-ingat semua sikapnya pada Lula sejak awal berkenalan dulu. Oh, ia memang berkata kalau ia mendengarkan. Ia selalu ada di saat Lula butuh tempat bercerita, dan ia tidak pernah menghakimi gadis itu setelahnya. Ia paham—atau ia pikir—ia sudah cukup memahami Lula.

“Kau selalu ingin bersama dengannya, dan dia tidak ingin terlalu dibatasi. Oke, kalian memang berbeda. Tapi, bukan berarti kau tidak bisa mencoba, ‘kan?”

“Mencoba?”

“Mengerti sudut pandangnya. Mencari tahu alasannya berbuat demikian,” lanjut Yoongi, ekspresinya melunak saat ia melirik layar komputer. Ada fotonya dan Minha di sana, membuatnya mengulum senyum sekilas sebelum kembali berkata-kata. “Bagiku juga seperti itu, tahu. Mungkin aku bisa mengatakan ini dengan mudah karena aku sudah mengenalnya sejak masih kecil. Namun, yang pasti, Minha punya alasan kenapa ia tidak suka terlalu sering menerima pesan dariku. Sama sepertiku yang punya alasan untuk tidak terlalu sering bertemu dengannya. Dan Choi Lula….”

“Dia juga punya alasan?”

Yoongi mengangguk. “Sama seperti dirimu, yang juga pasti punya alasan di balik sikap—eh—posesifmu itu.”

“Kau membuatnya terdengar seolah-olah sikapku amat buruk.”

“Memang.”

“Hei!” Seungyoon langsung menaikkan suara, namun Yoongi malah terkekeh karenanya. Sejenak mengusir suasana serius yang ada, sampai tawa Yoongi reda dan Seungyoon kembali buka suara untuk bertanya, “Kau mencintai Minha?”

Dan Yoongi nyaris terbatuk mendengarnya. Mata disipitkan ke arah Seungyoon dengan tatap memang-kenapa-dan-apa-maumu-sebenarnya, sementara yang melempar kuriositas hanya mengangkat bahu dan menunggu jawaban itu terlontar.

Jawaban yang berupa gelengan singkat.

“Tidak?”

“Tidak,” tegas Yoongi, iris berkelebat kembali ke layar komputer. “Aku tidak tahu, Seungyoon, definisi cinta itu seperti apa. Seingatku, aku juga tidak pernah mengatakan kata-kata semacam ‘aku mencintaimu’ kepadanya. Ugh, memikirkannya saja membuatku merinding.”

“Lalu….”

“Kau penasaran.” Yoongi berujar, seakan ia bisa membaca pikiran Seungyoon untuk entah-kali-keberapa hari ini. “Karena kami tidak terlihat seperti pasangan normal, karena terkadang kami lebih cocok dibilang sahabat atau kakak-adik. Tapi, seperti kataku tadi, kami punya alasan. Dan jawabanku adalah, aku menyayanginya. Tanpa perlu berkata ‘aku cinta kamu’ atau semacamnya, karena apa yang ada sudah cukup bagiku.”

Setelah itu, tak ada bantahan, tanggapan, atau pertanyaan yang terdengar lagi. Mengizinkan Yoongi untuk kembali menghadapi komputernya, membuka aplikasi yang tadi sudah ia tutup. Merasa bahwa konversasi ini sudah berakhir, Yoongi pun memutuskan untuk melanjutkan keasyikannya yang tertunda. Jemari bergerak lihai di atas keyboard dan mouse, sampai satu tepukan di pundaknya membuat ia menoleh.

Thanks.

“Hm.”

Eum—dan Yoongi….”

“Apa lagi?”

“Menurutmu, apa Lula akan memaafkanku? Apa kami bisa kembali seperti dulu?”

Sesaat, tak ada jawaban. Yoongi telah mengalihkan atensinya pada komputer lagi, kendati ia tahu bahwa Seungyoon menunggu jawabannya. Yah, maaf-maaf saja, ia ini bukan peramal. Ia sendiri juga tidak tahu apakah semua perkataannya tadi membantu, atau ia malah hanya memperumit keadaan. Namun, satu yang Yoongi tahu—sekaligus satu-satunya saran yang bisa ia berikan—saat ini adalah…

.

.

.

“Kalau tidak dicoba, kau tidak akan tahu, bukan?”

.

.

fin.

Halo semua!

Akhirnya fic-series jalan menuju balikan(?) Seungyoon-Lula ini bisa lanjut, walau sebenarnya masih cukup jauh dan ini baru permulaan -.- Maafkan yang di awal tahun ini belum sempat banyak nge-post, karena ujian juga barusan selesai, lagi pemanasan nulis, dan ada beberapa project lain yang juga lagi digarap.

Okay, reviews are expected! See ya!❤

3 thoughts on “[Vignette] What It Takes To Fix A Relationship”

  1. Ayooo balikan ayoooo!!! Aneh kalo ga balikan padahal masih saling suka hohoho….

    Ntar masing-masing ubah diri, mbak lula jangan marah-marah terus, mas seungyoon jangan ngekang banget. Frekuensi ketemunya jangan sering-sering ala mas yoon sama mbak minha biar ga bosen plus banyak kangen. Catet ya mas mbak ((tetiba digaplok duit sama mbak lula)) ini masih panjang kisahnya kak? Atuhlah penasaran ;-; ditunggu lanjutannya yeayy^^

    Suka

  2. aweaweawewww si yoongi mah orangnya gitu:’
    bikin hatiku bergetar(?) eh /abekan/
    semoga kak Seungyoon sama kak Lula cepetan balikan lah.-.
    ngerajut kasih lagi biar si Seungyoon kagak wora-wiri curhat sama Yoongi:v

    Keren kak tulisannya ~ JOHA JOHA :
    Kak aku disini masih setia nunggu FF kakak’-‘)/
    terlebih yang YOONGI-MINHA .-. paling kunanti-nanti ,
    Fighting nulisnya kak ~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s