Amato (Part 5)

amato

AMATO

Title: Amato chapter 5

scriptwriter: Yosichan

Main Cast:

  • Oh Sena
  • Park Chanyeol
  • Oh Sehun
  • Shin Chanmi

Support Cast: find by your self

Genre: Romance, family life, comedy

Duration: chapter

Rate: pg 15

Previous part: 1 // 4

              Seperti mimpi. Ini benar-benar seperti mimpi yang indah. Jika benar ini mimpi maka siapapun itu tolong jangan bangunkan aku dari mimpi ini. –Oh Sena-

              Apa seperti ini rasanya? Aku hanya perlu mencintai anakku. Jika aku bisa mencintai istriku pula itu takdir lain yang Tuhan tulis untukku. –Park Chanyeol-

Chanyeol pov.

              Kulihat tangan Sena bergetar. Ia menunduk menatap ujung sepatunya yang sebenarnya sedang tidak begitu penting untuk ditatap. Sedangkan dihadapanku karyawan dan atasanku sedang memandang penuh tanda tanya. Benar saja mereka heran. Bagaimana bisa tiba-tiba aku menikahi gadis yang aku perkenalkan sebagai asissten pribadiku.

“ kau mau makan siang denganku?” sena masih menunduk enggan mengangkat wajahnya.

“ eoh? “ akhirnya ia sadar setelah aku menggenggam tangannya yang masih bergetar dan basah.

“ tunggulah diluar sebentar. Setelah rapat ini kita makan siang bersama.” Ia hanya mengangguk kemudian membungkukkan badannya pada audiens yang tak lain ialah para karyawan kantor ini. tak sedikit dari mereka yang menyeru meminta Sena untuk memperkenalkan dirinya secara pribadi dan meminta penjelasan dariku.

              Aku keluar dari ruang rapat dengan sedikit malas. Karna teman-temanku terus saja menggodaku bahkan presdirku pun tidak luput menggoda dan menyuruhku memperkenalkan istriku padanya. Dasar presdir Park gila. Benar. Marganya sama denganku. Presdir Park Jungsoo yang sudah lama melajang hingga diumurnya yang sebenarnya sudah sangat cukup untuk menikah. Aku rasa dia iri denganku yang menikah mendahuluinya. Entahlah.

              Ku edarkan pandanganku mengelilingi lobi mencari sosok gadis. Ralat. Dia bukan gadis lagi. Aku yang membuatnya menjadi bukan gadis lagi. Kuhampiri sofa merah tua yang ia duduki. Ia sibuk membaca majalah wanita. Kulihat sekilas bagian halaman yang sedang ia baca tercetak kalimat kiat menjadi istri idaman suami . ya tuhan, aku pikir dia sedang sibuk membaca majalah tentang kehamilan. Sadar akan kedatanganku ia segera menutup halaman majalah itu dengan gugup.

“ sudah selesai?” tanyanya.

“ eoh. Kau lapar?” tanyaku dia kangsung mengangguk semangat, aku sudah menduga. Nafsu makannya mendadak meledak semenjak ia hamil.

“ kau mau makan apa?” tanyaku kembali.

“ terserah kau saja. Yang penting makanan yang diperbolehkan untuk ibu hamil.” Ia menyunggingkan senyum khasnya. Aku rasa mulai tertarik ketika dia berekspresi seperti itu.

              Sena menatap makan dihadapannya dengan tidak berselera. Padahal aku yakin dia sangat lapar karna makan siang yang terbilang cukup terlambat ini.

“ kau tidak makan?” tanyaku

“ eoh.” Ia mengaduk sup ikan dihadapannya. Wajahnya tiba-tiba memucat.

“ kau sakit?” kusentuh keningnya. Kurasa ia berkeringat dingin. Ada apa dengannya?

“ Sena-yya..” ia menatapku datar dengan wajah yang memucat seperti menahan sesuatu.

“ apa jika aku tidak memakan sup ini kau akan marah?” astaga Oh Sena. Apa dia ingin memaksa memakan makanan yang tidak ia sukai karna takut denganku?

“ baiklah kita makan ditempat lain.” Ku gandeng tangannya keluar dari restoran ini. tangannya dingin.

“ lalu kau akan makan apa?” ia sibuk memasang seatbelt masih dengan wajah pucat. Kubantu ia memasang seatbeltnya.

“ kita pulang saja. Aku ingin tidur.” Jawabnya lesu. Ini salah. Pasti ada yangs alah dengannya. Ini pertama kalinya ia tidak nafsu makan setelah ia hamil.

“ tapi kau belum makan siang.” Aku masih enggan menyalakan mesin mobil.

“ aku mohon. Aku ingin tidur saja.” Ia berani menatapku dengan wajahnya yang pucat dan tatapan memohonnya.

              Bukannya tidur, semenjak memasuki kamar Sena justru lebih sering pergi ke kamar mandi karena muntah-muntah yang isinya hanya muntah air saja. Tubuhnya makin lemas. Ia juga tak kunjung kembali setelah terakhir kali ke kamar mandi. Khawatir dengan keadaanya ku masuki kamar mandi dan mendapati tubuh mungilnya yang bersandar ditepian bathup yang tak jauh dari wastafel. Wajahnya benar-benar pucat pasi. Bibirnya bergetar. Ia masih belum menyadari keberadaanku hingga aku menyingkirkan anak rambutnya yang berantakan.

“ kau lelah? “ ia menatapku seraya tersenyum dan menggeleng.

“ Sena-yya, bisakah kau bersikap sewajarnya? “ keningnya berkerut mengartikan kalimat yang baru saja kuucapkan.

“ jika kau sakit katakan sakit, jika kau tidak suka katakan tidak suka…“

“ aku baik-baik saja.” Ia langsung memotong kalimatku yang belum kuselesaikan. Jujur saja kau muak melihatnya yang selalu ingin terlihat baik-baik saja didepanku. Apa karena majalah yang tadi siang ia baca? Dia benar-benar bodoh.

              Akhirnya ia terlelap 3 jam yang lalu tepat pukul 4 dini hari. Mungkin karena terlalu lelah. Bahkan ia tidak makan dari siang hari. Ku belai rambutnya seraya mengeratkan pelukannya. Diam-diam kutelusupkan jemariku memasuki baju yang ia kenakan. Bukan ingin berlaku mesum. Akhir-akhir ini aku memang senang mengelus perutnya yang sebenarnya masih datar. Terkadang aku berharap agar perutnya memiliki gundukan seperti yang dialamai oleh wanita hamil lainnya. Ah ya, umur kehamilannya bahkan baru beberapa minggu saja. Tok!tok!tok! pintu kamarku diketuk oleh seseorang yang aku rasa eomma karna aku dan Sena belum juga turun untuk sarapan.

“ Chanyeol-ahh kau belum bangun?” eomma memasuki kamarku. Kulihat ia masih mengenakan celemek memasaknya.

“ aku cuti untuk hari ini eomma. Aku akan mengantar Sena pada dokter.” Perlahan aku bangkit dari tidurku agar Sena  tidak terbangun.

“ apa dia masih mual-mual?” aku mengangguk.

“ dia baru saja tidur jam 4 tadi.”

“ ada apa sebenarnya? Apa dia alergi sesuatu atau memakan sesuatu yang ia benci?” pertanyaan eomma seketika mengingatkanku pada kejadian kemarin siang. Benar. Sup ikan itu. Apa Sena alergi sup ikan? Tapi bahkan Sena belum sempat memakannya.

“ kemarin kami memesan sup ikan di restoran. Aku pikir ikan laut baik untuk wanita hamil. Tapi Sena langsung pucat ketika pesanan itu datang. Apa Sena alergi dengan sup ikan?”

“ terkadang wanita hamil mendadak membenci sesuatu, Chanyeol-ahh. Segera mandi lalu sarapan. Tunggu saja sampai istrimu bangun lalu antarkan dia ke dokter. Bujuklah dia untuk makan. Kau mengerti?” eomma bangkit dari pinggiran tempat tidurku dan menuju pintu diiringi anggukan kepalaku.

              Segera ku gendong sena setelah ia siap dan telah berganti baju. Meski ia menolak aku mengacuhkannya karna menilik keadaannya yang masih lemas dan pucat. Ku pasangkan seatbelt dan melaju menuju rumah sakit terdekat. Dengan alasan tak memakai sepatu kugendong kembali Sena ke punggungku meski ia kembali menolak dengan alasan malu. Sialnya dokter kandungan sedang antri. Apa ibu hamil di kota Seoul sebanyak ini hingga hingga mereka mengantri  di rumah sakit ini. Sena langsung memintaku menurunkannya setibanya kami di ruang tunggu dan ku dudukkan ia di bangku. Aku rasa ia risih dengan tatapan orang-orang disekitar. Bukan hanya perihal aku menggendongnya. Mungkin karena aku membawa gadis yang masih terlihat begitu muda ke antrian dokter kandungan. Ya, aku rasa Sena masih belum cukup umur untuk hamil. Bukan hanya umur, wajahnya pun masih belum dipercaya untuk menjadi seorang ibu.

“ wae?” aku merasa ia menatapku sedari tadi.

“ kau pusing?” tanyaku kembali. Bukannya menjawab, dengan tatapan datarnya ia mengangkat tangannya menuju keningku dan membersihkan peluh yang mengalir dikeningku tanpa rasa jijik.

“ kau lelah?” tanyanya. Aku menggeleng. Sebenarnya aku mulai gugup dengan perlakuannya. Apa ia sedang berusaha menjadi istri yang baik seperti perintah majalah yang pernah ia baca?

              Beruntungnya kali ini dokter kandungannya lebih ramah dari sebelumnya aku kemari dengan Sena. Aku tak dimarahi tentang keadaan istriku. Aku rasa sudah terbiasa menyebut Sena sebagai istriku. Dokter mengatakan Sena hanya alergi pada bau amis karena bawaan sang janin. Kini kami tengah sibuk pada pikiran masing-masing didalam mobil yang tengah melaju ditengah kota Seoul.

“ Chanyeol-ahh…”

“ eoh?”

“ aku rasa aku mulai lapar.” Ku tatap dia sekilas kemudian kembali menatap jalanan. Ini bagus, dia makan hanya tadi dengan sedikit desakan dariku dan eomma.

“ kau ingin makan apa? Katakan yang kau inginkan.” Jawabku.

“ aku hanya bakpau daging. Benar, aku rasa beberapa potong bakpau daging akan mengenyangkanku.” Jawabnya dengan nada seperti akan meneteskan air liur saja.

“ baiklah.” Kulajukan mobilku secepat kilat mencari toko penjual bakpau yang ada. Meski sedikit aneh menginginkan bakpau disiang hari seperti ini.

              Sudah beberapa toko yang aku datangi dan semua mengatakan bakpau hanya dijual setelah matahari tenggelam. Hingga menjelang sore aku belum juga menemukan bakpau yang diinginkan Sena. Ia hanya menatapku lesu dari dalam mobil setiap melihatku keluar dari toko dengan tangan kosong. Apa semua toko di Seoul sedang sengaja mempermainkanku? Aku rasa mudah mendapatkan beberapa potong bakpau untuk istriku. Akhirnya aku membujuknya untuk mengganti makanan yang ia inginkan. Namun ia tak menjawab dan malah memandang keluar kaca mobil menatap jalanan ibukota.

“ baiklah, aku ingin makan kue ikan saja.” Ia menatapku. Kulihat ia tak terlalu bersemangat mengatakannya. Mungkin ia terlalu lapar.

“ kue ikan langgananmu dengan Sehun?” ia mengangguk lemah dan kembali menatap kearah jalanan.

              Kutepikan mobilku tepat didepan sebuah mobil box yang tengah ramai dikerumuni orang. Kali ini aku kembali menghadapi kendala. Penjual ikan itu sedang beruntung karena banyak sekali pembelinya daripada yang pertama kali aku kemari bersama Sena. Kutatap Sena yang sedang bermain game di ponselnya. Kembali kutinggalkan ia didalam mobil karena ia tak membawa sepatu sejak dari rumah. Rasanya aku ingin sekali menerobos antrian panjang ini dan berteriak istriku yang sedang hamil kelaparan menginginkan kue ini. bukankah penjual kue ikan tidak hanya satu? Ah mengapa aku sebodoh ini. tapi apa Sena mau membeli kue ikan dilain tempat?. Kalaupun mau itu berarti aku akan meninggalkan antrianku yang sudah hampir sampai didepan pedagang kue ikan ini. ah sial, hari ini benar-benar sial. Haripun mulai semakin gelap dan akhirnya tiba giliranku memesan. Kutatap potongan kue ikan ini dengan senyum sumringah. Akhirnya perjuanganku selesai. Kubuka pintu mobil dan tak sabar menyuruh Sena menghabiskan kue ini.

“ Sena-yya, kau habis…” kulihat Sena tertidur dengan lelapnya sambil mendengarkan musik melalui earphone. Kulepaskan earphone dan meletakkannya pada dashboard. Kuturunkan jok kursinya agar lebih nyaman untuk tidurnya. Kulepaskan jaketku  untuk menyelimutinya. Ku tatap sekilas wajahnya. Membelai anak rambutnya dan tak lupa melakukan hobiku mengelus perut datarnya. Ia menggeliat. Aku rasa aku membuatnya tak nyaman. Dan benar saja ia mulai terbangun dan menggumamkan kalimat lapar-nya. Aku tersenyum.

“ ini kue ikanmu nona, habiskan hingga tak tersisa.” Ku sodorkan bungkusan plastik padanya. Ia mengambil dan membukanya. Seperti tidak makan seminggu dalam 5 menit saja ia sudah menghabiskan 3 potong kue ikan hingga tersedak. Astaga!! Kau bodoh Chanyeol! Benar-benar bodoh. Aku lupa tidak membeli air mineral untuknya. Segera ku buka pintu mobil dengan tergesa dan mencari mini market terdekat. Benar-benar sial karena mini marketnya masih jauh dari tempatku memarkir mobil. Setelah dapat aku langsung berlari kembali menuju mobil dan menyerahkannya pada Sena yang tengah menutup botol minuman entah dari mana.

“ kau…” ia menatapku heran.

“ dari mana kau dapatkan air itu?” tanyaku yang agak sedikit kesal karena usahaku berlari sia-sia.

“ aku belum sempat mengatakan bahwa di belakang jok kursi ini tersimpan air mineral Quenni dan kau malah langsung berlari. Kau lelah?” demi Tuhan wajahnya benar-benar terlihat polos menanyakan hal bodoh itu padaku yang sudah berpeluh karena berlari. Kunyalakan mesin mobil tanpa menjawab pertanyaan konyolnya.

“ wuaaah… indah sekali… Chanyeol-ahh bolehkah kita berhenti dan pergi kesana?” kulirik sekilas. Benar, kami barru saja melewati namsan tower.

“ ku mohon..” aku jengah mendengarnya karna masih kesal dengan kejadian tadi.

“ nanti saja kalau aku sudah tidak sibuk.”

“ apa sekarang kau sibuk? Bukankah kau libur bekerja?” aku baru sadar ternyata Sena sangat kritis.

“ aku ingin cepat sampai rumah dan istirahat. Kau paham?”

“ apa kau marah denganku? “ sekilas kulihat wajahnya yang sedang memohon padaku.

“ tidak untuk sekarang,Oh Sena.” Jawabku sambil menancap gas makin melaju kencang. Ku dengar ia hanya mendesah pasrah.

              Kumasukkan beberapa potong bajuku pada koper. Besok aku ditugaskan ke beijing untuk memeriksa keuangan kantor cabang disana. Mendadak memang, namun apa boleh jika presdir sudah menugaskan. Apalagi aku hanya wakil direktur yang diangkat olehnya karena pertemanan ayahnya dengan Appa. Benar, presdirku masih terbilang muda setengah tua. Mungkin selisih 10 tahun denganku dan marga kami sama-sama Park. Banyak yang menyangka kami bersaudara karena terlihat sangat akrab. Ya, mungkin dia hanya mengakrabkan diri denganku karena Noona. Aku rasa dia menyukai Noona. Mungkin.

“ kau. Akan pergi?” aku baru sadar Sena sudah berada di sebelahku yang sedang menata baju didepan lemari.

“ eoh. Hanya 3 hari.”

“ kemana?” ia semakin mendekatiku.

“ beijing.”

“ aku, aku boleh ikut?” sontak aku menoleh ke arahnya. Apa sekarang dia sedang mengidam ingin selalu berada dekat suaminya?

“ tidak. Kau pasti belum punya pasport.” Alasanku pasti masuk akal. Kudengar dia mendesah pelan.

“ tapi bukankah sekarang membuat pasport itu mudah dan cepat?” Oh ayolah Sena, aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi pada perutmu. Aku masih melipat baju. Kulihat tangannya ikut mebantuku merapikan sesuatu dalam koperku.

“ ah jangan sentuh itu.” Sial! Dia melihat dalamanku.

“ kumohon..” aku benci melihat adegan ini. Dia punya jurus terjitu ketika menginginkan sesuatu yang dilarang.

“ sekali tidak tetap tidak.” Kututup koper itu dan meletakkannya didekat pintu.

“ kau tega sekali.” Aku yakin dia sudah menggenangkan air mata dipelupuk matanya menilik dari suaranya. Ku acuhkan dia dan berjalan menuju meja tempatku biasa mengerjakan tugas kantorku.

“ kau benar-benar tega Park Chanyeol!!” dia menghempaskan tubuhnya ketempat tidur dengan posisi tengkuran. Ah benar-benar!!

“ apa yang kau lakukan?” kubalikkan badannya. Benar-benar wanita yang belum siap hamil. Bagaimana jika dia menyakiti bayiku?

“ kau jahat Chanyeol..” benar saja dai menangis. Kubangunkan dia perlahan dan menyingkirkan rambutnya yang berantakan.

“ aku hanya 3 hari. Kenapa kau terlihat manja sekali Oh Sena?”

“ lalu bagaimana denganku? Aku sulit tidur tanpamu dan terlebih lagi kau sudah melarangku pergi kuliah. Apa itu adil?” aku melupakan yang ini. Sena sudah aku larang pergi kuliah hingga ia melahirkan nanti. Aku hanya tidak ingin dia terlalu lelah dengan jadwal kuliahnya.

“ kau bisa pulang kerumahmu dan tidur dengan eomma atau Sehun.”

“ kau mengusirku? Aku sekarang aku orangb uangan?” ia berteriak dan bangkit dari tempat tidur. Benar-benar wanita hamil lebih parah dari pada saat datang bulan.

“ bukan seperti itu. Kau tidak mungkin tidur bertiga dengan appa dan eomma kan? Sedangkan Yoora dan Quenni sedang pergi berlibur.” Kemarin Noona memintaku mengurus tiket untuk liburannya bersama quenni ke Thailand.

“ benar. Jika Eonni dan Quenni pergi belribur, mengapa aku tidak pernah kau ajak pergi berlibur? Apa aku hanya kau kurung disini untuk menjaga anakmu?” wanita bodoh. Bukankah itu juga anaknya.

“ bukan seperti itu. Ini bukan liburan seperti yang kau pikirkan. Aku pergi untuk bekerja.”

“ kalau begitu aku akan pergi bekerja.” Ia membalikkan badan namun langkahnya terhenti setelah kutahan pergelangan tangannya.

“ pekerjaan apa yang akan membawamu pergi keluar negeri nona?” wajahnya semakin kesal dan mengumpat tak jelas apalagi setelah aku berusaha menahan tawaku. Menggemaskan sekali menggodanya seperti itu. Tunggu. Apa aku mulai menyukainya?

              Benar-benar wanita keras kepala. Dia bahkan menghindar duduk disebelahku dan menempati kursi tempat Noona biasa makan malam. Aku rasa dia sedang merajuk atau apalah yang jelas terlihat semakin menggemaskan. Tak cukup sampai disitu, sesudah makan ia yang biasanya membantuku mengetik sesuatu atau sekedar membuatkanku teh hangat malah meninggalkan ku dan pergi menonton televisi bersama eomma dan appa. Hingga malampun ia tak kunjung merubah mimik wajahnya yang cemberut padaku. Tidur dengan memunggungiku yang biasanya selalu mengkode agar aku tidur memeluknya.

“ kau masih marah?” ku peluk dia dari belakang dan mengelus perutnya,

“ tidak.”

“ mengertilah. Aku hanya 3 hari.”

 “ lalu bagaimana denganku?” aku yakin dia sedang menahan tangisnya. Apa wanita hamil berlebihan seperti ini? sebelumnya Sena bahkan tidak pernah meminta sesuatu hingga seperti ini karna takut denganku.

“ aku akan sering menelponmu. Aku janji.” Kubalikkan badannya ingin melihat raut wajahnya yang tertutup rambut.

“ kau ingin aku bawakan oleh-oleh apa?” kurapikan anak rambutnya dan menghapus air matanya yang mulai berlinang.

“ aku tidak menginginkan apapun. Cepatlah kembali..” dia segera memelukku erat dan menangis. Apa seperti ini rasanya memiliki istri? Ada yang menunggu dirumah dan menangisi ketika pergi.

“ baiklah.” Kukecup keningnya dan memeluknya erat. Entalah aku masih bimbang dengan perasaanku. Disisi lain aku mulai menyukainya, melihatnya tertawa dan memelukku aku mulai berdebar. Namun disisi lain aku masih belum bisa melupakan gayeon. Ya, gadis yang terluka olehku. Harusnya aku tak menjanjikan apapun padanya. Namun, lebih dari itu semua aku selalu teringat akan nyawa dalam perut Sena. Karenanya aku mulai berhenti menjadi keji, meski masih menyakiti gadis lain yang kini entah masih di jeju atau dimana.

              Kukecup puncak rambutnya dan kembali menyelimutinya. Ini awal yang baik karena aku akan berangkat ketika dia sedang terlelap tidur. Ku seret koper yang berada didekat pintu dan menutup pintu setelah beberapa detik masih melihat wajah sena yang tertidur pulas. Terlalu naif jika aku berkata tak berat hati meninggalkannya.

“ oh kau sudahh siap? Tidak sarapan dulu?” kulihat eomma sibuk memindahkan makanan dari pantry ke meja makan.

“ pesawatku akan berangkat 30 menit lagi. Lagi pula aku takut Sena terbangun ketika aku belum berangkat.” Kuteguk segelas susu dan  menyuapkan potongan roti bakar mulutku dengan tergesa lalu kukecup eomma.

“ aku berangkat. Jangan lupa selalu ingatkan Sena makan dan minum susunya secara rutin.” Eomma mengelus puncak rambutku seraya mengangguk tersenyum. Kulihat appa juga tersenyum menatapku. Ini pertama kalinya mereka tersenyum seperti ini setelah sekian lama aku selalu membuat mereka kecewa dengan perilakuku. Kubalikkan badanku dan menuju perbatasan dapur dan ruang tamu hingga akhirnya aku tersontak kaget melihat sosok perempuan dengan piyama putihnya dan rambut acak adul serta wajah sembabnya menatapku.

“ omona!! Aisshhh kau seperti hantu saja.” Grepp! Dia kembali memelukku. Ah ini dia yang aku hindari dan memilih untuk berangkat tanpa berpamitan. Aku takut dia berlebihan seperti ini. apalagi didepan eomma dan appa. Ku gandeng tangannya menuju pintu depan. Dibelakangku eomma mendorong kursi roda appa mengikuti mengantar hinggap pintu.

“ aku pergi.” Kukecup puncak kepala Sena didepan orang tuaku yang kemudian tersenyum melihat perlakuanku. Masih sama. Sena tak kunjung mengangkat wajahnya dan menangis.

“ yak! Sampai kau akan seperti ini? kau hanya menganggu anak kita.” Ku angkat wajahnya yang malah menepis tanganku.

“ sudahlah cepat pergi dan cepat kembali.” Ia kembali merajuk.

“ ahh, kau takut merindukanku? Aku akan segera kembali Nyonya Park.” Kini kuberanikan diri mencium pipinya kemudian berpamitan pada orang tuaku dan menyeret koperku menuju mobil. Kulambaikan tangan pada mereka, bukannya membalas lambaikan tanganku justru ia tertegun seperti kaget dengan sesuatu.

Sena pov.

“Nyonya Park?” aku masih memikirkan apa yang Chanyeol katakan tadi.

“ benar. Ada apa? Bukankah kau sudah menjadi Nyonya Park?” eommanim tersenyum padaku lalu mendorong kursi roda memasuki rumah. Sedang aku masih memikirkan panggilan Nyonya Park.

              Ahh benar-benar membosankan. Jika setiap hari ada quenni yang menemani hariku, kalli ini aku tak tahu harus melakukan apa. Bahkan han ahjumma melarangku membantunya didapur. Apa ia takut aku merusak masakannya? Ah benar. Aku punya Sehun. Bocah nakal yang satu itu pasti berguna disaat seperti ini. setelah berganti baju dan mengambil slingbag-ku, ku berlari kecil mengetuk pintu kamar eomma-appa dan berpamitan. Memang mereka mengijinkanku pergi namun supir yang biasa mengantar appa yang akan mengantar dan menjemputku.

“ appa, pulang nanti biar Sehun yang mengantarku. Aku tidak tahu akan berapa lama menemui keluargaku.” Sungguh Appa tidak kalah protective daripada putranya.

“ baiklah. Pastikan Sehun mengantarmu hingga masuk rumah.” Ya Tuhan, bayi ini benar-benar semacam anak emas saja.

              Ku bungkukkan badanku berterima kasih pada supir yang setia mengantar keluarga Park selama bertahun-tahun itu. Aku tak yakin berapa lama. Han ahjumma bilang mulai Chanyeol kecil ahjussi ini sudah menjadi supir keluarga ini. Bahkan anaknya menjadi sahabat sekaligus teman kerja Chanyeol. Kubalikkan badanku dan menatap rumahku. eomma, aku pulang.seruku dalam hati. Aku benar-benar merindukan omelan dan bau tubuhnya. Sedikit berlari menuju arah rumahku kemudian terhenti ketika mendengar suara keributan dari dalam rumah. Ku kerutkan keningku sambil berjalan perlahan.

“ yak!! Apa kau lupa kau akan masuk perguruan tinggi? Apa jadinya jika kau gagal karena tak pernah belajar? Ahh. Kau bahkan sekarang mulai berani berkencan. Benar kan?” buk buk buk!! Kudengar suara keras itu lagi kemudian suara Sehun mengaduh. Ku buka pintu halaman rumahku perlahan kemudian kedua orang itu menatapku. Detik kemudian Sehun berlari kearahku dan bersembunyi dibelakang pundakku.

“ Noona, kau benar-benar malaikatku. Tolonglah adik tampanmu ini. eomma memukuliku tanpa henti.” Ah selalu seperti ini.

“ siapa malaikatmu? Kau malas belajar? Kau pikir kau siapa? Kau tidak ingat usahaku agar kau kuliah eoh?” kutendang kakinya hingga suara jeritannya memekakkan telinga. Dasar pria lembek.

“ ya Tuhan. Lalu kepada siapa aku berlindung. Omo, kakiku, pundakku, wajahku. “ sesaat kemudian eomma menghampiri adikku itu kemudian menambahi memukulinya. Aku tersenyum. Aku benar-benar rindu suasana seperti ini.

              Kami duduk didepan rumah, kulihat Sehun memijat kaki yang kutendang tadi. Ternyata kekuatanku tak berkurang hanya karena aku hamil.

“ ada apa sebenarnya?” ku tatap eomma.

“ adikmu ini benar-benar tidak tahu diri. Ia menambah jam kerjanya. Setelah pulang kerja yang larut malam dia langsung tidur begitu saja tanpa membuka buku sekolahnya. Lalu bagaimana dengan ujiannya nanti? Belum lagi dia sering didatangi gadis bawel itu. Siapa gadis itu? Katakan!!” eomma kembali memukul kepala Sehun dengan kencang.

“ eomma!!! Chanmi bahkan yang sering mengajakku belajar.” Sehun berteriak tepat disebelah telingaku. Plak!! Aku menambahi pukulan pada kepalanya.

“ ahhh yaak!! Aku harus mencari perlindungan pada komisi perlindungan anak.”

“ eomma, aku kenal baik dengan Shin Chanmi.”

“ benarkah? Seperti apa dia? Apa mereka berkencan?” tanya eomma.

“ entahlah, setauku mereka memang dekat. Tapi harusnya eomma bersyukur karena putramu ini akhirnya menemui gadis yang mau menerima kelakuan buruknya. Bahkan Chanmi yang sering memarahi Sehun tentang belajarnya.”

“ benarkah? Ah syukurlah. Kau!! Berhenti dari kerja part time mu. Bukankah Tuan park memberimu uang saku setiap bulan? Apa itu belum cukup? Jika kau gagal ujian perguruan tinggi nanti mati lah kau ditanganku.” Eomma berteriak tak jauh ditelingaku karna aku berada ditengah mereka.

“ kalian berteriak seperti itu hanya akan mengagetkan bayiku saja.” Kulihat mereka langsung menutup mulutnya dengan tangan.

Sehun-ah, cepat berangkat kau ingin push-up karena terlambat? Chanmi pasti menunggumu.” Ku goda dia yang langsung memerah ketika kusebut nama gadisnya.

              Ku tatap layar ponselku. Dia benar-benar tidak menghubungiku. Jam sudah menunjukkan pukul 16.45. Apa dia lupa akan janjinya? Atau ponselnya tertinggal? Begitu banyak pertanyaan diotakku. Menyebalkan. Kualihkan pandanganku pada layar televisi. Sekitar satu jam yang lalu sehun telah mengantarku pulang karena ia akan pergi bekerja. Bocah nakal itu masih saja pergi bekerja. Dasar otak udang.

“ Sena-yya, kau sudah makan siang dan meminum susumu?” eomma duduk disebelahku. Aku hanya mengangguk.

“ wae? Kau menunggu kabar suamimu?” ia bertanya kembali.

“ eoh?”

“ mungkin dia benar-benar sibuk.”

“ eomma, aku tidak sedang menunggu kabarnya. Aku hanya tidak tahu akan melakukan apa dirumah tanpa Quenni.” Jawabku tentu saja bohong.

“ benarkah? Tapi matamu mengatakan kau sedang berbohong.” Jawab mertuaku ini membelai rambutku.

“ eommanim…” ia akhirnya tertawa. Chanyeol! Kau benar-benar menyebalkan.

              Jam sudah menunjukkan pukul 23.10 namun mataku masih belum merasa mengantuk sama sekali. Sudah berulang kali eommanim menyuruhku tidur namun kuabaikan. Aku tak yakin bisa tertidur didalam kamar sebesar itu dan sendirian. Bukannya takut. Aku hanya tak biasa tidur sendiri di kamar Chanyeol. Ku lirik layar ponselku. Masih sama. Tanpa ada kabar dari suami sialan itu. Benar-benar menyabalkan. Apa pekerjaannya 24jam nonstop?

Normal pov.

“ hallo.” Chanyeol akhirnya mengangkat telfon dari ibunya setelah berulang kali ibunya menelponnya.

“ yak!! Kau gila? Apa kau lupa kau punya istri yang harus kau kabari.” Ibu Chanyeol sedikit memelankan suaranya takut kalu-kalau Sena mendengar ucapannya.

“ ahh eomma aku benar-benar lupa. Lagi pula aku baru saja sampai dihotel kau boleh tanya pada jongin. Kami bahkan tak sempat makan malam.”

“ apapun alasanmu, kabari istrimu segera. Dia masih didepan televisi dan tidak kunjung tidur.”

“ apa? Dai belum tidur?” Chanyeol melirik jam dikamar hotelnya.

“ apa dia makan dan minum susunya?” kembali ia bertanay pada ibunya.

“ tanyakan sendiri padanya. Aku lelah menyuruhnya untuk segera tidur.” Ibu Chanyeol lalu menutup sambungan telponnya. Diseberang telpon Chanyeol berusaha menghubungi istrinya.

“ hallo.” Chanyeol menyapa dahulu karena dirasa sang punya ponsel belom mengeluarkan suaranya.

“ Sena-yya… kau disana?” Sena masih diam karena perasaan campur aduknya. Ia ingin marah namun takut.

“ Sena-yya, maaf aku baru bisa meghubungimu. Pekerjaanku benar-benar banyak. Bahkan aku tak sempat makan malam. Apa kau sudah makan malam dan meminum susumu?”

“ eoh.” Hanya itu jawaban Sena. Ia menahan air matanya.

“ kau belum tidur? Ini sudah larut malam. Pergilah kekamarmu dan tidur. Paham?” sena bangkit dari sofa dan menuruti perintah suaminya tanpa menjawab.

“ Sena-yya, kau marah padaku?”

“ anni. Air mata Sena menetes.” Berlebihan memang namun ini yang ia rasakan. Merindukan suami yang tak kunjung memberi kabar padanya namun ia tak bisa marah karena takut.

“ maaf. Maafkan aku.

“ tak apa.”

“ kau. Menangis?”

“ tidak.”

“ jangan bohong Sena.”

“ cepatlah pulang.” Akhirnya Chanyeol bisa mendengar isak tangis istrinya.

“ tentu saja, sayang.” Deg! Bukan hanya Sena, Chanyeol-pun ikut terkejut karena tiba-tiba memanggil istrinya sayang. Ini pertama kalinya bagi Sena. Akhirnya ia menghapus air matanya.

“ Chanyeol-ahh..” panggil Sena.

“ eoh? Kau menginginkan sesuatu?”

“ temani aku hingga aku tertidur.” Jawab Sena

“ baiklah Nyonya Park.” Sena tersenyum kemudian membenarkan letak bantal  dan selimutnya sebelum kemudian tertidur.

Chanyeol pov.

              Akhirnya malam nanti aku sudah berada dirumah dan yang paling penting tidur dengan istriku. Astaga Chanyeol, kau mulai menyukai hal itu. Tidak, aku rasa aku mulai terbiasa dengannya. Dengan seorang istri yang menemaniku setiap hari. Ku tatap layar ponsel dengan walpaper diriku yang sedang berpose dengan Quenni dan Sena. Kemudian kuhubungi Sena karena ini yang ia nanti.

“ hallo..”

“ Chanyeol-ahh cepat pulang kumohon..” kudengar suara Sena tergesa-gesa dan nafasnya memburu atau mungkin menangis?

“ kenapa? Ada apa? Ada apa Oh Sena?”

“ appa… appa….” Sena menangis terisak perasaanku mulai tak enak hingga tak memdulikan barang yang masih tertinggal. Kuangkat koperku menuju bandara.

TBC…

Gimana dipart ini? drama banget yah? Maklum nih authornya baperan jadi ngerasa kalo hamil kaya gitu. Btw jangan lupa RCL nya yah? Komenan kalian itu semangatku loh ^^

4 thoughts on “Amato (Part 5)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s