[Playlist-Fic] #2: Immortal Dream

immortal dream

a playlist-fic by Jung Sangneul

// Immortal Dream //

Starring [Apink] Eunji and [Red Velvet] Yeri || Genre Family, Sad, AU || Length Ficlet || Rating PG-15

Track #2: 5 Seconds of Summer – Amnesia

Kelalaianku membawa bunga berduri di setiap mimpi buruk. Sakit dan menakutkan.

 

***

                Ibuku kini semakin menua. Di usianya yang sudah senja, ia sering lupa meletakkan barang di mana, atau sudah melakukan apa dan berapa kali dalam sehari. Pernah beliau lupa meletakkan sisirnya di mana dan mencarinya ke seluruh penjuru rumah. Padahal, ia menjepitnya di ketiaknya. Juga pernah suatu kali ia bilang belum belanja, dan minta ditemani ke pasar tiga kali dalam sehari.

Kepikunan Ibu adalah hal yang wajar, karena usianya semakin bertambah hari demi hari. Seperti rambut berubannya yang juga semakin banyak, selayaknya keriput juga bertambah di pinggir-pinggir mata serta permukaan tangannya.

Aku bukan keberatan harus mengurus Ibu ketika hariku disibukkan dengan suami dan pekerjaanku. Aku rela membantunya untuk mengingat lagi banyak hal yang sudah dikerjakannya dalam sehari. Tapi, yang membuatku masih berat dalam melakukannya ialah luka itu sendiri.

Luka yang mungkin telah dilupakan Ibu sejak lama, karena mentalnya yang sempat terpukul. Selalu membuatku meringis karena luka itu tak pernah luput mendatangiku di setiap malam.

Luka tentang Yeri.

***

“Eunji-ya, ibu lupa. Ibu belum menyiapkan makan siang untuk kita. Apakah ibu sudah belanja?” tanya Ibu suatu hari, ketika aku baru saja selesai membereskan rumahnya yang luas.

Aku tersenyum sambil menyeka keringat di dahi. “Ini sudah sore, Bu, pukul tiga.” Aku menunjuk jam.

Beliau mengarahkan tatapannya pada jam dinding, kemudian melotot. “Loh, berarti kamu terlambat makan siangnya? Ayo cepat antar ibu ke pasar. Kita belanja lekas-lekas, lalu ibu masakkan makanan kesukaanmu.”

Kupaksa diriku beranjak demi menuntun Ibu duduk di sebelahku. Kuusap lembut tangannya yang terasa begitu kasar.

“Ibu, dengarkan Eunji. Makan siang sudah kita lewati. Tadi, Ibu memasak ayam goreng untuk kita. Kita juga sudah ke pasar, kita membeli ayam potong di sana, beserta dengan bumbunya. Kalau mau ke pasar lagi, kita tunggu besok, karena ayamnya masih tersisa di dapur. Bisa dipakai untuk makan malam.”

Ibu mendengarkanku dengan seksama, kemudian mengangguk mengerti.

“Kalau begitu, ibu tidur dulu. Pulanglah. Ibu sudah ingat, Eunji,” jawabnya, tersenyum simpul.

Aku mengangguk sekali, kemudian menitip pesan sebelum pergi.

“Rumahnya jangan dibereskan lagi, sudah kubersihkan semuanya.”

 

Perjalanan kutempuh untuk kembali ke rumah. Sebagai anak dari wanita yang menderita pikun, aku tidak bisa lagi bekerja. Kuhentikan profesiku di kantor dan memilih menjaga ibu dari pagi hingga sore. Meski kadang jenuh mendera, tapi aku tidak punya pilihan lain.

“Sudah makan, Oppa?” tanyaku ketika tiba di rumah dan melihat suamiku terkapar di sofa ruang tamu.

Dia mengangguk, kemudian menyuruhku untuk duduk di sebelahnya. Aku menurut setelah melepas sepatu dan meletakkan tas di tempatnya.

“Bagaimana kondisi Ibu?” tanyanya lembut.

Tersenyum, kujawab, “Baik-baik saja, kok. Seperti biasa.”

Ia manggut-manggut, kemudian membiarkan aku menyiapkan air hangat untuknya sebelum kami menghabiskan waktu di depan televisi lalu beristirahat.

***

Aku ingat, Yeri begitu kurus di masa kecilnya dulu. Ia terpaut lima tahun lebih muda dibandingkan denganku. Tapi, wajah Yeri cantik, rambutnya lurus dan lebat. Aku suka menarik-nariknya untuk memaksanya bangun, kemudian dia berteriak-teriak kesal. Ia juga suka mengembungkan pipinya jadi serupa balon.

Dia adikku.

Aku sayang padanya.

Tapi, suatu hari, dia datang padaku, dengan handuk di sekeliling tubuhnya. Matanya mengerjap satu-dua padaku. Kemudian, ia menyeringai.

“Halo, Eunji Unnie.

Tanpa aku sempat berkedip, ia mendorongku ke bak kamar mandi hingga terjatuh dan mendorong kepalaku ke dalam air.

Terus, terus, sampai aku kehabisan napas.

“To-tolong! Yeri, hah …, jangan …, tolong!”

 

Tapi, tidak ada yang menolongku. Tidak ada. Lalu, kurasakan ia tertawa sambil menguar kata.

“Kaubohong! Kau tidak pernah menyayangiku!”

Dan, aku mengapung.

 

Mengapung di bak itu.

.

.

.

.

.

.

.

                “Eunji, bangun, Eunji,” bisik seseorang.

Deg!

                Mataku terbuka. Napasku sesak. Udara tidak terasa menuruni paru-paru.

Oppa? Ini kau yang asli, ‘kan?” gumamku lemah semenit kemudian. Meraba wajah lelaki yang duduk di hadapanku.

Ia menganggukkan kepalanya, mengusap peluh yang baru kusadari memenuhi dahiku. Segera kupeluk tubuhnya untuk menghilangkan semua sesak di dadaku. Hatiku terasa sakit, sementara napasku tak lancar.

Mimpi yang sama menghantuiku lagi.

Tentang Yeri.

“Sayang, ingatlah kalau itu bukan salahmu. Ketika ibumu depresi, kau terlambat datang ke rumah, kaubiarkan adikmu sendirian …, itu sama sekali bukan salahmu.”

Kuingat-ingat bisikan suamiku pagi itu.

***

Langkahku gamang ketika menapaki rumah Ibu lagi pagi itu. Ada rasa tidak nyaman ketika menabrakkan antara Ibu dan mimpiku setiap hari. Lelah menangkis fakta, meski suamiku telah berkali-kali menyemangati untuk melupakan mimpi itu.

Saat aku datang, beliau sedang menjahit sesuatu, entah untuk siapa.

“Selamat pagi, Bu,” sapaku.

Ketika menolehkan kepala, senyumnya terbit. “Ibu sudah menunggumu. Kausudah mandi?”

Aku melongok ke tempat kamar mandi berada ketika Ibu bertanya begitu. Bulu kudukku meremang, jadi kualihkan pandangan. Kemudian mengangguk kecil pada Ibu.

“Tidurmu nyenyak semalam?” tanya Ibu.

Sambil mengerutkan kening heran, aku menjawab sekadarnya, “Iya.”

Sesuatu yang menusuk dadaku terasa ketika aku mengatakannya. Setidaknya, ini karena aku harus berusaha seolah tidak terjadi apa-apa, padahal lukaku terbuka menganga setiap paginya. Luka itu masih belum kering, basah seperti tersirami cuka setiap hari.

Aku sudah hampir menangis ketika mulutku lancang berkata, “Ibu, harusnya Ibu sudah mati sekarang.”

 

Rahang ibuku seketika mengeras. Raut mukanya berubah beringas. Terlihat sekali ia dongkol dengan kalimat yang kulontarkan. Dan, dengan segenap kekuatan, diusirnya aku dari sana.

Sampai aku terjerembab, dan tangislah yang membasahi pipiku.

Bukan karena aku jatuh dan lututku terluka diempaskan Ibu.

                Tapi, karena Ibu tidak pernah ingat, ia telah membunuh Yeri dan membuat mimpi buruk terus mendatangiku setiap hari, setiap malam.

 

I wish that I could wake up with amnesia. ‘Cause I’m really not fine at all.

 

fin.

 

11 thoughts on “[Playlist-Fic] #2: Immortal Dream”

  1. crack! kau membuatku jadi pingin bikin crack friendship girlband juga niswa hehe
    but topiknya sensitif banget ini, maksudku adalah ini ttg ikatan keluarga yg ‘putus’ sejak yeri mati dan itu… aku bacanya yg ‘hmph’ gitu. suatu perasaan yg ga bisa diungkapkan. kirain ini pertamanya eunji yg ga sengaja nenggelemin yeri or something ternyata ttp mamanya ya?
    anyway, kamu berani mengangkat topik seperti ini saja sdh bagus sekali hehe. keep writing!

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ayo bikin ayo bikiin😀 /maunya/
      Semua cast yang kupakai di playlist fic ini (couple apapun) crack semua kok, kak li. Jadi jangan terkejut kalau membaca lagi ehe. Karena apa ya…, aku bosen dengan sesuatu yang biasa dipakai, maybe?
      Iya ini keinspirasi short horror film, jd ngeri banget yeri matinya:( but makasih apresiasinya ya kak🙂

      Suka

  2. Jadi itu sebenernya yang nenggelemin yeri itu ibunya? Duh aku masih kurang paham sa,a bagian itu. Waktu kejadiannya itu yeri tenggelem karena dicekik ibunya dan eunji liat gitu?
    Ah, ini tapi jatuhnya malah kayak angst ya? 😮
    Btw penasaran sama suaminya eunji 😌

    Disukai oleh 1 orang

    1. Iya jadi eunji pas itu belum pulang dr sekolah jadi ninggal adiknya sendiri di rumah sm ibunya yg lagi depresi. Akhirnya ibunya bunuh yeri dg nenggelemin dia ke bak. Heuu iya masuk ke angst ya? Aku bingung jg kasih genre-nya hehe.

      Suaminya eunji? Hehe bayangin sendiri aja deeh takut ngga pas kalo aku kasih😀 makasih komentarnya y~

      Suka

  3. Sedih. Walaupun aku baca ini sambil dengerin curhatan orang disamping tapi aku masih ngerti maksudnya, dan aku baca berkali-kali jadi makin greget! Aku suka ficnyaaa!!

    Sedih juga bayangin ibu yang ga inget pernah bunuh anaknya. Tapi itu kan murni ga sengaja jadi entahlah. Aku mau nyalahin ibunya juga ga enak(?)

    Keep writing kak! Kutunggu karya lainnya yeheyy

    Suka

  4. awalnya aku pikir Eunji yang udah mati jadi nyangkanya yang sekarang itu rohnya/? eh gak taunya yang mati itu Yeri dan yang bunuhnya itu Ibunya sendiri. Suka, suka! ayo bikin fict tentang Eunji lagi wkwkw<3

    Disukai oleh 1 orang

  5. GILAAAKKKK KEREEEENNNNN T.T
    KAK NIS INI KETCEH BADAI DAN AKU MENJERIT DI KALIMAT TERAKHIR KIYAAAKKKK~ PLIS DEH T.T
    udah lah masalah diksi mah kai nis jagonya wkwkwkwk xD
    eunjinya complicated banget T.T ga kebayang deh kalo jadi dia
    harus ngurus ibu yang amnesia dan udah bunuh ibunya plus ngerasa bersalah sama kematian adeknya T.T
    aku pikir eunji yang beneran bikin salah sama yeri, ternyata T.T ketceh badai~

    keep nulis kak ^^

    Suka

    1. Kepsloknya imel jebol yha? Wkwkwkwk plis deh mell, ini mah biasa banget aku agak gak feel pas nulis trus maunya kubuang aja tapi kok sayang ((yha gini terlalu sayang sama tulisannya)) xD

      Btw kai nis? Kai nis? Oke jadi aku berkapel dengan kai sekarang :”)

      Kamu juga keep writing yaaah ^^

      Disukai oleh 1 orang

      1. iya kak jebol :”V habisnya keren sih~ aku mah ga bisa than capslock kalobac yang keren begini wkwkwk~
        dibuang tapi sayang😄 kok keknya aku sering baca ya😄 wkwkwk~ tapi emang seriusan keren T.T
        ya allah :”v typoku selalu parah rupanya~
        kai udah punya keristal kak~ sama luhan aja /?/
        yap ^^

        Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s