[VIGNETTE] GOD AND HIS BULLSHIT

tumblr_ms0lsgWBqY1rcoad1o1_500

PSEUDONYMOUS presents

GOD AND HIS BULLSHIT

starring 2AM’s SEULONG genre LIFE duration VIGNETTE rating PG-17

an. No hard feelings. Ini murni hanya fiksi semata, tanpa ada maksud untuk menyudutkan pihak mana pun. Enjoy!

Agama hanya persoalan tentang siapa yang memiliki sosok imajiner yang lebih baik.

LIM SEULONG telah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di malam tahun baru. Entah dorongan macam apa yang telah mengilhaminya untuk bunuh diri di tengah-tengah pesta kegembiraan menyambut tahun baru. Ada sedikit bagian licik dari diri Seulong yang tampaknya ingin merusak pesta tahun baru tersebut, yang membuat pria itu seakan-akan ingin mengingatkan kembali pada semua orang di muka bumi ini bahwa tahun baru bukan saja persoalan tentang “memulai sesuatu yang baru”, namun juga bisa berarti “mengakhiri sesuatu”. Maka pria melankolis itu dengan sabar menikmati detik-detik menjelang kematiannya dengan duduk di beranda apartemennya, ditemani beberapa kaleng bir dan dua kotak rokok, sembari mengamati keriaan kembang api dan terompet di luar sana.

Tadinya Seulong pikir ia bisa tidur saja selama beberapa jam sampai pesta kembang api itu berakhir. Namun, suara ledakan-ledakan, jeritan-jeritan tajam anak-anak kecil yang saling memamerkan batang kembang api mereka, dan suara gelak tawa orang-orang dewasa yang sedang bernostalgia mengingat kekonyolan-kekonyolan mereka di tahun ini, membuat Seulong tidak bisa tidur. Seluruh kebisingan itu justru membuatnya mual dan terus terjaga hingga pukul tiga pagi.

Begitu pesta mulai mereda dan orang-orang mulai kembali pada tempat tidur masing-masing di dalam rumah mereka yang hangat dan nyaman, Seulong akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya pada pukul setengah empat pagi. Ia menunggu tiga puluh menit lamanya hanya untuk memastikan bahwa keadaan sudah benar-benar kondusif dan ia merasa cukup aman untuk menginjakkan kaki ke dunia luar.

Seulong kemudian menyambar mantel coklatnya pada gantungan di belakang pintu apartemen dan berjingkat keluar untuk menyaksikan sisa-sisa kekacauan yang dihadirkan oleh orang-orang yang berpesta tadi. Seulong menendang sisa-sisa kembang api yang belum sempat dibakar di pinggir jalan dan melihat sampah-sampah—kaleng-kaleng bir dan minuman bersoda, bungkus rokok, botol-botol plastik air mineral, kotak-kotak makanan—yang tergeletak tanpa ada yang benar-benar peduli. Seulong hendak mengutuk orang-orang yang melakukan hal ini, tetapi ia lalu teringat bahwa seluruh morat-marit yang ada di sekitarnya ini tidak akan lagi menjadi urusannya dalam beberapa jam ke depan. Dan ia senang karena tidak harus menjadi bagian dari manusia-manusia tidak tahu diri ini.

Dengan perasaan waswas, Seulong dengan cepat menyeberangi jalanan-jalanan yang kotor ini menuju sebuah toko kelontong 24 jam di sudut jalan. Toko kelontong tersebut tampaknya merupakan satu-satunya pemandangan di kota ini yang sama sekali tidak merayakan pesta tahun baru. Kemurungan yang dihadirkan oleh udara lembab di dalam toko saat Seulong mendorong pintu kacanya, serta wajah lelah dan penuh jerawat oleh seorang pemuda di belakang meja kasir memperkuat kesan tersebut. Di dalam toko tersebut, Seulong melihat ada seorang pria dengan pakaian compang-camping dan rambut abu-abu yang awut-awutan berdiri dengan ragu-ragu di rak rokok.

Pria paruh baya tersebut mengenakan sarung tangan biru gelap yang beberapa bagiannya terlihat kumal dan penuh lubang. Di telapak tangannya terdapat beberapa uang receh dan selembaran yang tidak seberapa jumlahnya. Seulong mendengar pria tua itu menggumam, seperti sedang menghitung jumlah uang yang ia punya, kemudian melihat-lihat kembali pada deretan bungkus rokok yang ada di rak. Seulong melewati pria tua itu menuju rak obat-obatan dan mencium bau amis dari badan pria tua itu, seolah-olah pria itu telah melewati begitu banyak hari tanpa sempat mandi.

Meski keasyikan mengamati pria tua itu, Seulong tak lupa tentang tujuan utamanya kemari. Pria itu dengan cekatan dan tanpa pikir panjang, memborong secara acak beberapa papan obat-obatan sakit kepala, obat cacing, obat maag, obat gatal, dan beberapa butir obat anti-mual ke dalam lengannya. Pada saat ia berbalik, pria tua tadi telah berdiri di meja kasir dengan sebungkus rokok di tangan kanan dan beberapa uang yang ia punya di tangan kiri. Seulong mendengar perdebatan yang cukup sengit antara pemuda penjaga kasir dan pria tua itu.

“Uang Anda tidak cukup untuk membeli rokok ini,” kata pemuda penjaga kasir itu dengan nada tinggi. Kelopak matanya terlihat berat saat ia berucap, sepertinya sudah terlalu lelah karena menjaga toko hampir seharian.

Pria tua itu tampak menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dengan lagak bingung dan membalas tidak kalah keras, “Tidak bisakah kau memberiku diskon? Ini malam tahun baru. Berilah aku sedikit diskon!”

Pemuda penjaga kasir itu memutar bola matanya. “Kau pikir ini pasar? Tidak ada tawar-menawar di sini. Jika kau tidak punya uang, jangan berbelanja di sini, Pak Tua!”

“Kalau begitu, biar aku yang bayar!” tukas Seulong, kemudian bergerak maju membela si Pak Tua.

Pemuda penjaga kasir itu mengangkat bahu dan tampak masa bodoh. Ia menghitung seluruh belanjaan Seulong dan menggabungkannya dengan rokok pria tua itu. Seulong membayar jumlah yang ia beli, kemudian menyerahkan bungkus rokok tersebut pada pria tua itu. Pak Tua itu menerima kotak rokok itu dengan tersipu-sipu malu dan membisikkan ucapan terimakasih.

Begitu keduanya keluar dari toko kelontong tersebut, si Pak Tua segera menyalakan salah satu batang rokoknya dan menghirupnya kuat-kuat. Ia sempat menawarkan Seulong sebatang, tetapi pria itu menolak dengan halus. Lalu, Pak Tua itu tertunduk dan tersipu-sipu malu lagi.

“Untuk apa kau membeli obat sebanyak itu?” tanya Pak Tua ketika sepasang matanya yang merah dan kuyu bertemu dengan sebungkus plastik berisi bemacam-macam obat-obatan yang Seulong beli. “Apakah ada keluargamu yang sedang sakit?”

Seulong meremas plastik belanjaannya ke dalam saku mantelnya dan menggeleng samar. Ia tersenyum pahit dan berkata, “Bukan. Lagipula, aku tidak punya keluarga.”

“Oh.” Pak Tua menghembuskan kepulan asap putih ke atas udara dan tertawa pelan—barisan giginya yang berwarna kuning tampil penuh percaya diri. “Kalau begitu, kita senasib,” katanya.

Seulong mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar dan memerhatikan Pak Tua itu dengan saksama. Jika tebakannya tidak terlalu meleset, Pak Tua ini mungkin berusia sekitar tujuh puluh tahun. Bukan hanya kerutan-kerutan pada wajah dan kulit tangannya yang membuatnya terlihat tua, tetapi penampilannya yang tidak enak dipandang serta bau badannya yang luar biasa memuakkan, seolah-olah telah menegaskan bahwa pria tua ini sama sekali tidak pernah merawat diri. Seulong kemudian bertanya-tanya, mustahil rasanya jika pria tua ini belum menikah sama sekali, dan jika ia sudah menikah juga, ke mana istri dan anak-anaknya yang seharusnya merawat kepala keluarga mereka ini?

“Apakah Anda tidak punya istri? Atau anak, mungkin?” Seulong sempat terkejut mendengar dirinya yang telah begitu lancang bertanya, tetapi ketika melihat Pak Tua itu hanya menatapnya dengan kebingungan, Seulong bisa bernapas lega.

“Istri dan anak-anakku telah pergi. Mereka meninggalkanku,” jelas Pak Tua itu dengan mata menerawang. “Mereka tidak lagi membutuhkanku, peduli padaku, atau pun menyayangiku. Mereka semua telah pergi.”

“Apakah kau tidak mencoba sesuatu untuk mencegah mereka pergi?” tanya Seulong. Ia mulai merasakan kegelisahan membuncah di dalam perutnya, kombinasi antara rasa gugup dan keingintahuan yang tidak beralasan.

“Tidak,” tegas Pak Tua tersebut. “Aku tidak ingin memaksakan kehendak seseorang. Jika ia ingin pergi, ia bisa pergi. Dan ketika mereka semua sudah pergi, aku masih bisa mengandalkan Tuhan.”

Pak Tua itu tersenyum lebar dan menunjukkan deretan giginya yang kotor dan kuning dengan bangga. Dan ketika mendengar Tuhan disebut, Seulong menatap si Pak Tua dengan hati-hati sembari bertanya-tanya apakah Pak Tua ini serius dengan ucapannya.

Berbicara soal Tuhan, Seulong hanya menganggap Tuhan sebagai sebuah mitos. Meski dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang cukup relijius, Seulong tidak pernah dengan mudah menerima doktrin-doktrin yang ia terima dari kedua orangtuanya mengenai konsep mereka tentang Tuhan. Dulu, sewaktu ia masih kecil, Seulong sering membayangkan Tuhan seperti sosok seorang perempuan dengan jubah dan kerudung putih menutupi kepala-Nya. Gambaran polos ini didapatkan Seulong setelah banyak mendengar tentang gagasan-gagasan yang dianut oleh keluarganya yang melukiskan Tuhan seperti “sosok yang mencintaimu apa adanya” dan “sosok yang akan membuka lebar kedua tangannya ketika kau dalam keadaan sulit”. Berdasar pada gagasan-gagasan ini, Seulong kemudian membentuk sosok Tuhan sama halnya seperti sosok seorang ibu pada umumnya yang penuh kehangatan dan kasih sayang yang ia rasa memiliki gambaran yang cukup mirip dengan Tuhan.

Namun, seiring Seulong beranjak dewasa, ia menyesalkan atas tindakan orangtuanya yang tidak memperingatkannya tentang satu sisi gelap Tuhan yang tidak ia ketahui—bahwa Tuhan ternyata bisa bertindak sangat kejam. Seulong yang tadinya begitu optimis dengan keberadaan dan keagungan Tuhan, perlahan-lahan mulai kehilangan minat setelah masalah demi masalah datang secara beruntun menghantam dirinya. Sosok seorang perempuan berjubah dan berkerudung putih itu pun ikut-ikutan menjadi buram dalam ingatan dan benaknya. Lalu, secara bertahap, Seulong akhirnya menganggap gagasan mengenai Tuhan itu benar-benar konyol.

“Apakah kau benar-benar percaya dengan Tuhan?” tanya Seulong pada Pak Tua setelah sekian lama menitnya, termenung seorang diri.

Pak Tua telah menghabiskan batang pertamanya dengan cepat, menginjak puntungnya di bawah sepatu kulitnya yang terkelupas, lalu membakar lagi batang kedua. “Aku percaya dengan Tuhan, meski aku tidak menganut agama apa pun,” kata Pak Tua itu.

Seulong mengerutkan alisnya. “Tuhan adalah produksi agama. Jika kau percaya Tuhan, seharusnya kau mengikuti satu agama tertentu.”

Pak Tua menghembuskan satu kepulan asap nikotin lagi ke atas udara, kemudian menjawab dengan tenang, “Ya, jika dipikir-pikir lagi, seharusnya memang begitu. Tetapi, aku tidak pernah suka dengan sosok Tuhan yang selalu digadang-gadangkan oleh agama-agama tersebut. Mereka membuat sosok Tuhan secara sembarangan, merusak citra Tuhan, seakan-akan Tuhan itu buruk. Apalagi ditambah dengan kekacauan yang terjadi di daerah Timur sana, yang sering berperang mengatasnamakan Tuhan. Apakah mereka tidak sadar bahwa mereka terlihat konyol saat itu?” Pak Tua tergelak dan melanjutkan, “Mereka bertengkar hanya untuk membuktikan SOSOK IMAJINER siapa yang lebih baik!”

Seulong ingin ikut tertawa bersama Pak Tua itu, tetapi ia tidak bisa melakukannya selama masih ada satu pertanyaan yang mengganjal di pikirannya. “Jika Tuhan hanya produksi imajiner yang gagal dari manusia, mengapa kau lantas masih memercayai-Nya?”

Pak Tua mengapit rokoknya di antara bibir dan menggosok-gosokkan kedua tangannya yang kedinginan. “Seperti yang kubilang tadi, karena aku masih membutuhkan Tuhan. Jika semua orang telah meninggalkanku, setidaknya aku masih bisa mengandalkan Tuhan. Lagipula, aku punya Tuhan dalam versi yang lebih baik di dalam sini,” ia mengetuk-ngetukkan telunjuknya di atas dahi. “Bedanya adalah, jika sekelompok orang memiliki sosok Tuhan yang sama maka hal itu disebut agama, tetapi jika seseorang memiliki sosok Tuhan dalam versinya sendiri maka ia disebut orang tidak waras.”

Pak Tua itu tertawa dan Seulong akhirnya bisa ikut tergelak bersamanya.

“Apakah Tuhan dalam versimu itu cukup membantumu akhir-akhir ini?” lanjut Seulong setelah tawanya reda.

“Dalam beberapa konteks, ya,” aku si Pak Tua. “Aku mungkin terdengar kejam untuk mengatakan hal ini, tetapi ketika sesuatu dalam hidupku tidak berjalan seperti yang aku inginkan, setidaknya aku tahu siapa yang harus disalahkan sehingga aku merasa tidak perlu terlalu kecewa.” Si Pak Tua mengerlingkan matanya pada Seulong dan berkata lagi, “Begitulah cara Tuhanku bekerja.”

Seulong tersenyum mendengar pengakuan jujur dan tulus dari si Pak Tua. Dan tidak terasa, ia telah menghabiskan tiga puluh menitnya bersama Pak Tua hingga waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi saat itu. Pada saat Pak Tua hendak menarik batang rokok yang ketiga dari bungkusnya, Seulong pamit untuk pulang. Keduanya berpisah jalan dan saling melambai satu sama lain dari kejauhan seolah mereka sudah lama saling mengenal.

Ketika Seulong sampai di apartemennya, ia merasakan gejolak hangat di dalam dadanya. Pria itu bergegas menuju dapur dan mengeluarkan beberapa kaleng bir dari dalam kulkas. Ia mengeluarkan bungkusan plastik berisi obat-obatan yang ia beli tadi dan melemparnya ke dalam tong sampah. Seulong kemudian beranjak menuju beranda apartemennya, duduk di kursi kayu sambil menenggak bir dingin yang baru ia buka, sambil mencaci maki ke atas langit. Pesta tahun barunya yang terlambat baru saja dimulai. []

5 thoughts on “[VIGNETTE] GOD AND HIS BULLSHIT”

  1. “Tuhan adalah produksi agama. Jika kau percaya Tuhan, seharusnya kau mengikuti satu agama tertentu.”
    Agama dibuat oleh manusia.
    Tuhan tidak pernah kejam. Manusia yg berpikiran sempit yg mengatakan Tuhan kejam.
    Orang tidak perlu agama untuk meyakini Tuhan. Tuhan ada di setiap hati orang yang beriman.
    Shit, emosi baca ff ini.

    Suka

  2. great FF.. aq cuma bisa bengong bacanya
    Tuhan tdk pernah mengajarkan hal keji. itu murni kejahatan manusia.. ada orang jahat, tapi bukan Tuhan yg membuat mereka jahat. mereka jahat karena mereka tidak memiliki Tuhan di hatinya.

    Suka

  3. Wohoowww… Baru buat FF yang kusempilin pesan yang kurang lebih menyindir orang yang memerangi manusia lain dengan mengatasnamakan agama. Sekarang nemu FF ini, kata2nya keren. Ini FF Bagus buat refrensi❤

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s