[Vignette] Long Time No See

Long Time No See

Title : Long Time No See

Scriptwriter: fyeahwednesday

Main Cast : Lee Hi

Support Cast : AKMU Suhyun, iKON Jinhwan, Yang Hongseok

Genre : Romance

Duration: Vignette

Rating: 15+

Summary: Cerita tentang 20 menit tersingkat dalam akhir pekan seorang gadis bernama Lee Hi, dimana takdir mempertemukannya kembali dengan kenangan lama dan egonya sekarang.

“Oke, kutunggu dibawah 5 menit lagi, okay?”

Aku hanya bisa menjawab perkataan Suhyun dengan anggukan. Kedua mataku belum terbuka sepenuhnya, tapi aku yakin sekali bahwa Suhyun saat ini pasti sudah siap dengan mini dress, lip tint dan segala tatanan rambutnya. Tentu saja karena ia telah menunggu hari ini sejak lama. Tepatnya sejak sebulan yang lalu.

Dengan gerakan sangat lambat aku menyibak selimut dan berjinjit ke depan cermin. Aku begadang semalaman menyelesaikan lukisan untuk tugas besok lusa. Jika dihitung sepertinya aku belum tidur selama 48 jam terakhir. Buruk. Dan lebih buruknya lagi aku tak bisa mengganti jam tidurku hari ini, karena aku sudah berjanji untuk menemani Suhyun untuk menonton festival olahraga. Oh, sialan.

Kulihat jam menunjukkan pukul delapan lebih seperempat. Kalau sampai kami datang terlambat ke acara itu, Suhyun pasti akan badmood sepanjang minggu ini. Oh, hell. Sepertinya tak ada pilihan lain selain segera mencuci muka, gosok gigi, dan gunakan apapun yang terlihat saat pertama kali membuka lemari baju.

Aku merasa seperti tertidur dalam keadaan mata terbuka dan telinga terbuka. Aku melihat dan mendengar semuanya dengan jelas. Kerumunan penonton dan seluruh keriuhan antara suara tawa remaja, bisik-bisik para orang tua, maupun tangisan anak kecil. Tapi yang ada di pikiranku hanya satu, bagaimana caranya agar tetap terjaga dari kantuk mematikan ini.

Suhyun baru saja pergi membeli minuman untuk kami berdua. Dia memaksaku untuk tinggal, karena tempat yang kami duduki saat ini sungguh strategis. Strategis baginya. Bagiku ini sama saja seperti duduk di kursi wasit badminton. Tinggi, silau, dan tanpa atap. Lengkap sudah. Tapi yang beginilah malah yang disukai Suhyun. Kutebak itu karena dari tempat ini aman baginya untuk stalking gebetannya.

Jadi, seseorang yang telah menyebabkan aku tak bisa tidur karena membuat Suhyun harus pergi ke stadion pagi ini adalah Kim Jinhwan. Dia adalah senior kami. Lumayan populer. Oke jika Suhyun mendengarnya aku mungkin akan dicekik. Jinhwan benar-benar populer, dia mewakili fakultas kami untuk festival olahraga. Bukan untuk bertanding sepak bola, tentu saja karena ini festival olah raga anak smp. Tapi secara fisik dia juga bukan tipikal olahragawan, sungguh. Jadi dia ada di festival olahraga untuk bernyanyi di opening ceremonialnya.

Dan kami, aku dan Suhyun, dua gadis mahasiswi baru yang tak pernah sekalipun menjejakkan kaki di stadion ataupun memegang rumput lapangan, terdampar di salah satu kursi penonton. Hanya untuk melihat seorang Kim Jinhwan menyanyi. Bayangkan, seorang Kim Jinhwan yang aku yakin dari seluruh penonton di stadion ini, mungkin hanya kami berdua yang mengenalnya. Oke dia memang populer di kampus kami, tapi tidak diantara para penonton sepak bola.

Aku tak pernah tahu apa yang ada di pikiran Suhyun hingga ia bersikeras untuk datang hanya sekedar melihat Jinhwan menyanyi. Suhyun mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat sempurna hari ini, bahkan beberapa gerombolan pria memperhatikan kami saat di pintu masuk tadi (tentu saja, mereka hanya melihat Suhyun, aku bak seorang gelandangan dengan hoodie belel disamping Suhyun dengan mini dress pinknya). Maksudku untuk apa dia begitu detail mempersiapkan segala penampilannya jika pada akhirnya ia tak berani menemui Jinhwan nantinya?

Aku tak habis pikir. Bagaimana bisa ia begitu..eh, sangat mengagumi seseorang?

Ah, entahlah memikirkan itu membuatku pusing.

Aku membasuh mukaku sekali lagi. Sekali lagi dan sekali lagi. Tapi raut capek di wajahku sama sekali tak berkurang. Oh, come on, Lee Hayi. Bertahanlah sebentar lagi.

Jadi, kami memutuskan untuk tinggal. Tepatnya Suhyun ingin tinggal hingga Jinhwan bernyanyi lagi untuk yang kedua kalinya di pergantian babak. Itu berarti sekitar tiga puluh menit lagi. Jadi kuputuskan sebelum jatuh tertidur diantara sorak penonton aku ke kamar kecil untuk memaksa kedua mata sipitku ini tetap terjaga.

Jarak antara kamar mandi dan kursi penonton cukup jauh. Jadi mungkin membutuhkan waktu sekitar lima menitan untuk sampai kesana. Jika aku lebih santai lagi, mungkin sepuluh menit. Itu berarti aku hanya perlu menunggu sekitar dua puluh menit. Memikirkannya sedikit membuatku senang.

Sungguh, sebenarnya aku tak keberatan menemani Suhyun melakukan ‘misi’ terhadap gebetannya. Aku selalu menyanggupi permintaannya, seaneh apapun itu. Bahkan aku menemaninya ikut klub pecinta kaktus dan toy figure (?) hanya karena Jinhwan juga termasuk anggotanya. Aku bahkan ikut audisi paduan suara fakultas kami agar Suhyun bisa dapat nomor hape Jinhwan.

Tapi tidak hari ini. Tidak saat yang benar-benar kubutuhkan hanya bantal, guling, dan kasurku.

“kau itu hanya perlu membuka mata pada laki-laki di sekitarmu, Hayi..” begitulah selalu yang diucapkan Suhyun saat aku mulai tak paham mengapa ia bisa begitu parahnya mengagumi Jinhwan.

Membuka mata? Sungguh kata-kata Suhyun membuatku ingin tertawa setiap mengingatnya.

“Diin..diin..”

Aku refleks menoleh kearah sumber suara. Rupanya sebuah mobil mini cooper berwarna biru laut hendak masuk ke parkiran stadion tetapi seorang petugas menghentikannya. Sepertinya parkiran sudah ditutup sejak pertandingan dimulai tadi. Si pengendara mobil yang rupanya pria itu membuka jendelanya dan berusaha agar diperbolehkan masuk. Seorang pria berkaca mata bulat dengan poni hampir menyentuh mata sipitnya itu mengeluarkan hampir sebagian tubuhnya dari jendela mobilnya. Dari pintu sebelahnya seorang gadis dengan rambut dikuncir ekor kuda turun dan memperlihatkan sesuatu pada si petugas dan entah kenapa membuat petugas itu akhirnya memperbolehkan mereka masuk.

Dia. Si pria berkacamata bulat, si gadis kuncir ekor kuda dan mini cooper baby blue mereka. Aku tak tahu apakah ini efek mencuci muka di kamar mandi atau bukan-meski sepertinya bukan, tapi kedua mataku benar-benar terbuka lebar saat ini.

Dan kata-kata Suhyun untuk membuka mata itu terngiang kembali. Seperti mengejekku.

Oh, damn. Itu Dia. Benar-benar dia.

“kau tidak apa-apa kan kalau kutinggal sebentar? Aku hanya akan turun ke tribun bawah untuk mengambil beberapa foto..” ucap Suhyun. Tanpa mendengar ucapanku dia langsung melesat secepat kilat dengan kameranya.

Aku menelan ludahku. Sejujurnya jantungku berdetak kencang. Bukan karena kafein yang ada di kopi pemberian Suhyun yang kuminum sebelum sarapan barusan ini. Apa yang kulihat barusan dan sampai saat ini masih kulihat itu, masih lebih hebat efeknya.

Tak kurang dari tiga deret kursi penonton di depanku, dia duduk disana.

Dia.

Masih sama. Pria berkaca mata bulat yang hanya cocok jika ia yang memakainya. Messy hair diterpa angin dengan poni hampir menutupi mata. Kemeja kotak-kotak dengan kaos hitam dengan tulisan nama band rock luar negeri di dalamnya. Skinny jeans longgar di kakinya yang ramping dan jenjang. Sneaker hitam-sangat belel, tapi justru tak ada kesan kumuh sama sekali.

Masih sama. Suaranya. Suaranya yang dulu pernah bernyanyi untuk sahabat perempuan yang ia sukai. Tapi sayang sekali perempuan itu hanya menganggapnya sebagai teman, dan dia telah berpacaran dengan seorang laki-laki yang tak lain teman dekat pria berkaca mata bulat itu sendiri.

Masih sama. Jari-jemarinya yang panjang, yang dulu tak pernah absen memainkan piano untuk setiap acara sekolah. Atau sekedar bermain-main dengan kamera untuk membidik wajah teman-temannya. Hey, bahkan jari-jemari itu juga yang menerima berbagai kado coklat dari para murid baru saat masa orientasi.

Masih sama. Lengkung di bibirnya. Deretan gigi putihnya yang rata. Rahangnya yang tegas.

Masih sama. Kebiasaannya memegang tengkuknya untuk mengusap rambutnya. Setiapkali ia kikuk. Ataupun merasa senang. Lihat, ia kini mengusapnya beberapa kali sambil berbincang dengan perempuan di sebelahnya. Maka ia benar-benar kikuk tapi senang.

Sungguh, semuanya masih sama.

Tapi kali ini perempuan yang berbeda. Bukan si sahabat perempuan yang menolaknya. Sepintas, mereka, kedua perempuan itu mirip. Punya aura wajah khas blasteran orang barat. Rambut kecoklatan licin dikuncir ekor kuda. Sepasang mata lebar yang selalu tertawa setiap si pria berkacamata bulat membisikkan sesuatu. Kaus floral lengan panjang yang cukup ketat. Jeans biru merek ternama yang ukurannya sedikit terlalu ketat untuknya. Tas ransel biru donker yang tak matching sama sekali. Terakhir, sepasang heels merah.

Dan aku masih ingat, tadi itu mini cooper berwarna biru laut-sangat muda-yang ia kendarai. Satu-satunya. Yang selalu diparkir di minimarket seberang pagar sekolah. Yang selalu berdebu jika hari sudah mencapai akhir minggu, dan nanti akan kembali mengkilat di hari Senin.

Sudah tiga tahun omong-omong.

Tiba-tiba saja aku menyesali pilihanku atas hoodie abu-abu kebesaran yang kupakai hari ini. Juga dengan jeans biru muda yang kupadu sepatu oldies hitam kesayanganku. Aku bahkan tak sempat mandi pagi ini. Aku tak pakai pensil alis untuk menyempurnakan alis mataku yang tipis. Aku tak pakai pelembab. Aku seharusnya minta lip tint Suhyun. Aku sungguh ingin mengubur diriku sendiri, lebih besar dari pada keinginanku untuk segera pulang. Aku bahkan lupa kalau aku mengantuk dan sangat ingin tidur.

Kantukku jadi terasa tidak penting. Aku merasa sangat memalukan. Aku masih sama memalukannya seperti tiga tahun silam.

Hanya karena makhluk ciptaan tuhan yang duduk tiga baris di depanku. Manusia yang bahkan tak tahu aku berada di belakang mereka. Aku yang hanya berani memperhatikan. Dan melempar pandangan setiap satu diantara mereka menoleh ke belakang. Tiba-tiba saja takut ketahuan. Entah takut ketahuan memperhatikan mereka atau takut mereka mengenaliku.

Tapi tentu saja karena takut ketahuan memperhatikan mereka. Siapa juga aku hingga mereka bisa mengenaliku.

Karena aku bukan apa-apa. Aku mengetahui mereka. Tapi mereka tak mengetahui aku. Tentu saja.

“Lee Hayi? Apa yang kau lamunkan? Ayo kita pulang..”

Tiba-tiba Suhyun sudah berada di sebelahku. Rupanya dua puluh menitku telah berakhir. Aku senang, seharusnya. Karena sekarang yang kubutuhkan hanya segera pulang untuk tidur. Tapi aku mematung. Ekor mataku masih waspada melihat sepasang manusia yang telah mencuri perhatianku sejak tadi.

“sekarang?” tanyaku balik. Suhyun membalasku dengan tatapan bingung.

“tentu saja, kita tak mungkin menghabiskan hari minggu kita yang berharga untuk menonton pertandingan sepak bola anak smp kan?” ucap Suhyun.

Benar. Festival olahraga adalah acara yang payah untuk menghabiskan waktu akhir pekan bagi mahasiswa yang sedang sibuk kuliah dan buta olahraga. Dan aku berani bersumpah barusan ialah dua puluh menit paling singkat dengan perasaan campur aduk paling parah-lebih parah dari menaiki roller coster lima kali berturut-turut.

Ya, itu adalah dua puluh menit saat kau bertemu lagi dengan seseorang yang dulu pernah kau kagumi, di waktu yang tidak tepat, dan dia bersama dengan seseorang yang kaupikir tak lebih baik darimu, dan seketika kau mengenang lagi seberapa banyak yang telah kau ketahui tentangnya.

Dan begitulah dua puluh menit itu berakhir. Lebih pengecut daripada Suhyun, aku hanya bisa bilang.

“Yang Hongseok, pria berkacamata bulat, Long time no see..” tentu saja dari dalam hati.

FIN — 21/08/2015 23:36:28

One thought on “[Vignette] Long Time No See”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s