[Hip Hop Monster Series] The Silent Curse

picture-003

a vignette-series by tsukiyamarisa

Hip Hop Monster Series: The Silent Curse

©2015-2016 project

starring BTS membersbased on Hip Hop Monster webtoon characters genre Fantasy, Animal!AU, Friendship, Comedy duration Vignette (2000+ wc) rating G

other tale(s): A Chaotic Night

.

“Itu pasti karena dia terlalu berisik!”

.

.

.

Tale #2: Kim Namjoon the Duck and The Silent Curse

hhm2

.

.

Ada yang janggal siang itu.

Suasananya terlalu sepi.

Tentu saja hal ini tidak terlalu mengusik Yoongi si Kura-Kura, mengingat ia jadi bisa menikmati harinya dengan tenang sembari duduk-duduk di bawah pohon dan menikmati limun. Namun, bagi penduduk Nymus lainnya, hal ini terasa aneh. Terlebih bagi Taehyung, Jungkook, dan Jimin. Ketiga manusia-setengah-binatang itu tampaknya kehilangan objek yang biasa mereka jadikan sasaran keusilan. Berbuat jail menjadi tidak seru lagi, lantaran tak ada suara cerewet dan omelan ala bebek yang terdengar kemudian.

Bukan hal biasa memang, mendapati Namjoon si Bebek tidak berkeliaran di seluruh penjuru Nymus demi menceramahi kelakuan teman-temannya.

“Biarkan saja.” Itu kata Hoseok kala Taehyung dan Jimin menanyakan keberadaan Namjoon tadi, ekspresinya terlihat lega. “Kalau ada Namjoon, aku tidak bisa menikmati buah-buahan segar ini dengan tenang.”

“Tapi, tidakkah kau merasa aneh?” tanya Jimin seraya mendongakkan kepala. Hoseok si Jerapah sedang memanjangkan lehernya demi memetik buah-buahan, sementara Taehyung malah asyik bergelantungan di pepohonan. Terkadang, inilah yang membuat Jimin sebal berbicara dengan mereka. Ia jadi terlihat makin pendek saja.

“Aneh apanya?”

“Ia tidak terlihat di mana-mana sejak pagi tadi. Dan sekarang sudah tengah hari.”

.

.

PLETAK!!

.

.

OUCH! UNTUK APA KAU MELEMPARIKU DENGAN APEL?!”

Seraya memamerkan cengiran tak bersalah, Hoseok pun lekas mengembalikan lehernya ke ukuran semula diiringi bunyi ‘plop‘ keras. Tangannya terulur untuk menepuk kepala Jimin, menenangkan si kucing yang kini menggeram marah. “Maaf, tak sengaja terlepas dari gigitan.”

Jimin mendesis sebal, memijat-mijat kepalanya yang masih terasa pening.

“Tapi, Jimin benar.” Suara Jungkook si Kelinci tiba-tiba terdengar. “Aku baru saja dari rumah Seokjin. Katanya tadi pagi Namjoon pergi ke danau, tapi sampai sekarang dia tidak kembali.”

“Bebek bisa berenang, ‘kan?”

“Memang kenapa?” Mereka semua serempak bertanya, memandangi Taehyung yang sedang nyengir lebar.

“Kalau bisa berenang, berarti dia tidak mungkin tenggelam di danau,” simpul Taehyung sederhana, sukses membuat ketiga makhluk lainnya memasang wajah datar.

“Atau mungkin….” Hoseok kini angkat suara, tapi lekas bungkam kala ia menangkap sosok Seokjin yang tengah berlari ke arah mereka. Si Serigala itu memacu kakinya secepat mungkin, wajahnya terlihat pias dan penuh kepanikan.

“TEMAN-TEMAN, INI GAWAT!!”

.

-o-

.

Ng, coba jelaskan lagi.”

“Dia bahkan belum menjelaskan apa-apa karena suaranya hilang, Taehyung,” timpal Yoongi, menahan dirinya untuk tak memutar bola mata. Mereka semua kini sedang berkumpul di rumah mungil milik Namjoon, mengamati sang pemilik rumah dengan rasa ketertarikan serta kuriositas berlebih.

Yah, kapan lagi mereka bisa melihat teman mereka yang super cerewet itu menjadi diam begini? Hanya bisa duduk sambil mengatup-ngatupkan paruh bebeknya, namun tak ada suara yang keluar dari sana. Namjoon itu dikenal sebagai penghuni Nymus yang paling cerewet. Mungkinkah ada yang tidak menyukainya dan memutuskan untuk melancarkan kutukan-entah-apa kepadanya?

“Jadi….”

Mereka masih mengamati Namjoon—yang kini sedang mencari-cari secarik kertas—dengan sabar. Tak berapa lama, si bebek bisu itu lantas mengangkat kertas yang telah dipenuhi dengan tulisan, menjelaskan segala sesuatunya kepada enam makhluk lain yang keheranan.

.

Aku hanya pergi bermain dan mandi di danau, kok.”

.

“Dan tiba-tiba saja suaramu hilang?” Seokjin langsung bertanya, ada rasa tidak percaya tersirat di sana. “Kurasa itu tidak mungkin.”

Kelima temannya serentak mengangguk setuju. Danau yang berada di tepian Nymus itu terkenal akan keindahannya, sehingga banyak penduduk desa yang senantiasa mengunjungi tempat itu dari waktu ke waktu. Dan menurut catatan, tidak pernah ada satu pun dari mereka yang kehilangan suara setelahnya. Namjoon ini adalah kasus pertama.

.

Kalian tidak percaya padaku?”

.

“Tentu saja tidak,” timpal Jungkook tanpa basa-basi atau rasa kasihan barang sedikit pun. “Tempo hari, aku juga bermain di dekat danau itu dan suaraku tidak hilang, tuh.”

“Kau pasti melakukan sesuatu, ‘kan, Namjoon?” selidik Hoseok sambil bersedekap dan memasang tampang serius. “Kami ingin membantumu—“

“Bukannya tadi kaubilang kau lebih suka suasana sepi tanpa Namjoon?” potong Taehyung tanpa rasa bersalah, membuatnya lekas dihadiahi pelototan dari si Jerapah. “Apa? Aku benar, bu—“

“Waktu itu aku tidak tahu kalau suaranya hilang, Monyet!” sambar Hoseok seraya mendaratkan jitakan ke atas kepala Taehyung dan berbalik menginterogasi Namjoon. “Intinya, kau harus memberitahu kami! Semuanya!”

Disudutkan seperti itu, Namjoon hanya bisa pasrah. Ia bukannya tak membutuhkan bantuan; ia hanya belum siap menceritakan segalanya di hadapan keenam temannya ini. Alih-alih dihadiahi simpati, Namjoon tahu kalau reaksi pertama mereka nanti pastilah berbentuk ejekan. Makanya—

“Kim Namjoon. Ceritakan atau kami pergi sekarang.”

.

Aku sempat bernyanyi saat sedang mandi tadi.”

 .

Namjoon menuliskan sebaris kalimat itu, menunjukkannya kepada enam makhluk di hadapannya, kemudian menghela napas panjang.

“Oke. Lalu?”

.

“Mungkin aku juga sempat mengoceh sendiri.”

.

Lalu si peri penjaga danau muncul.“

 .

“Jangan bilang kau dikutuk?!” Jimin memekik, memasang tampang terkejut. Si Kucing itu membulatkan maniknya, menatap Namjoon yang hanya bisa mengangguk dengan wajah masam. Membenarkan kesimpulan Jimin barusan, memicu teman-temannya yang lain untuk memasang ekspresi melongo yang serupa.

“Si peri air mengutukmu?”

“Itu pasti karena dia terlalu berisik!”

“Bukan! Itu pasti karena suaranya jelek!”

Kalimat terakhir itu sukses membuat enam kepala yang ada serentak tertoleh, tatap menusuk ditujukan pada Jungkook si Kelinci. Namun, yang besangkutan malah memberi cengiran kecil. Menggaruk-garuk tengkuk, sembari berkata, “Tadi aku sudah bilang, ‘kan? Kemarin aku juga bermain di sana dan bernyanyi-nyanyi kecil, tapi aku baik-baik saja.”

“Yah, mungkin nyanyian Namjoon tidak bisa dibilang ‘kecil’…?” Taehyung menyimpulkan, sama sekali lupa bahwa tadi ia sempat tidak setuju dengan perkataan Jungkook. Mereka berdua lantas bertukar tos, selagi Seokjin bergerak untuk menepuk-nepuk pundak Namjoon dengan maksud menenangkan.

“Mungkin peri penjaga danau sedang memiliki suasana hati yang buruk,” ucap Seokjin pelan, berusaha membuat temannya merasa lebih baik. “Dia tidak akan setega itu, kok. Pasti akan ada jalan keluarnya.”

Namjoon mengangguk, dan Seokjin tahu bahwa mereka memang perlu mencari jalan keluar atas masalah ini. Pandangannya kini bertemu dengan sorot kebingungan teman-temannya; semua memikirkan hal yang sama. Tak peduli ejekan macam apa yang sudah terlontar, mereka tentu tidak akan membiarkan Namjoon kehilangan suara selamanya. Mereka harus menemukan suatu cara, suatu penangkal atas kutukan sang peri air, dan….

“Yah, bagaimana kalau kita mengunjungi peri air sialan ini dan bertanya langsung padanya saja?”

.

-o-

.

“Kenapa aku?”

“Kau yang punya ide, ‘kan?”

Menyusuri jalan setapak, Seokjin menarik lengan Yoongi dan memaksa temannya itu berjalan lebih cepat. Si Serigala itu tampak tak sabar, berkebalikan dengan Yoongi yang masih mengeluh dan mulai menyesali idenya untuk mengunjungi sang peri air. Tadi, ia mengusulkan itu hanya karena ia ingin semuanya cepat selesai. Daripada menduga-duga dan sibuk berdebat, langsung mengunjungi inti masalahnya akan lebih baik, bukan? Itu yang Yoongi pikirkan. Namun, sekarang….

“Lagi pula, mana mungkin aku mengajak yang lain?”

“Kenapa tidak?”

“Kau mau aku mengajak anak-anak berisik itu?” Seokjin balik bertanya, langkah kakinya sedikit dipelankan kala mereka sampai pada belokan yang akan langsung menuju danau. “Yang benar saja, Yoongi. Kita tidak butuh orang lain untuk mengalami nasib yang sama seperti Namjoon.”

Yoongi tak menjawab. Bibirnya dikerucutkan, tapi ia tahu kalau Seokjin benar. Mereka berdua bisa dibilang memiliki jalan pikir yang paling waras, paling bertanggung jawab jika dibandingkan dengan lima makhluk lainnya. Dan tentu saja, hal yang paling ingin mereka hindari saat ini adalah membuat keributan lain dengan peri air. Tidak lucu jika makhluk mungil penjaga danau itu mengamuk, lantas membuat seisi Nymus kebanjiran, misalnya.

“Oke, oke.” Yoongi akhirnya bergumam mengiakan, mengibaskan tangan Seokjin yang menggenggam lengannya sebelum menambahkan, “Tapi, kau saja yang bicara dengannya. Kau sudah mencuri jatah tidur siangku, jadi aku tidak menjamin kalau kata-kataku akan terdengar sopan.”

Seokjin memutar bola mata sebagai tanggapan, tetapi tak membantah dan memilih untuk menuruti permintaan Yoongi. Keduanya kini berjalan dalam diam, hati-hati melangkah melintasi deretan semak liar yang dihiasi bunga aneka warna. Danau itu sudah tampak di depan mata, permukaan airnya yang tenang berkilauan diterpa bias sinar mentari. Tak ada satu pun warga Nymus yang tampak selain mereka berdua, dan Seokjin baru saja mulai berdeham untuk memanggil sang peri ketika—

…tidak menurunkan hujan selama dua bulan. Memangnya aku ini satu-satunya penyedia air, hah?”

“Eh—“

Hanya karena ia tinggal di atas sana dan….”

“Eum, maaf.”

…suka sekali berbuat seenaknya….”

“Maaf, kami ingin bertemu dengan peri air.”

“Ia pikir ia ini—tunggu—siapa kalian?!”

Pekikan itu cukup membuat Seokjin nyaris terlonjak, sementara Yoongi langsung menyembunyikan diri ke tempat yang ia rasa paling aman—cangkang kura-kura favoritnya. Sukses menghadirkan kepanikan di ekspresi wajah Si Serigala, sementara peri bertubuh mungil itu melayang mendekat. Ada kerut kekesalan di wajahnya, gaunnya yang didominasi warna biru bergoyang-goyang tatkala ia mengitari kepala Seokjin dengan tatap mengintimidasi.

“Nah?”

“Er, kami penduduk Nymus,” kata Seokjin pelan, melirik Yoongi yang masih geming di dalam cangkang. Ugh, dukungan moral yang bagus sekali, sungguh!

“Aku bisa lihat,” jawab si peri, jemari memijat keningnya sesaat tanda bahwa ia tak suka basa-basi. “Maksudku, kalian mau apa? Sedang ada urusan pelik di sini, dan kalau kalian hanya mau ribut, lebih baik kalian pergi saja!”

Bohong kalau Seokjin tidak berjengit kaget, tetapi dengan cepat dapat menyimpulkan bahwa tebakannya benar. Namjoon pasti telah membuat peri air yang sedang dirundung urusan pelik ini kesal, sangat kesal sampai-sampai sebuah kutukan pun dilancarkan. Bukan situasi yang bagus, kendati Seokjin tahu bahwa ia harus tetap tenang agar tidak menambah-nambahi perkara yang sudah ada.

“Kami tidak ingin mencari ribut.” Seokjin memulai lagi, memasang mimik wajah prihatin sembari menggerak-gerakkan kedua telinga serigalanya tanda ia ikut bersimpati. “Dan, maaf jika kami mengganggu. Masalah itu pasti sangat berat, ya?”

Ditanya seperti itu, kontan kekesalan si peri air menguap pergi. Digantikan dengan kedipan tak percaya, kepala dianggukkan beberapa kali untuk mengiakan ucapan Seokjin barusan. “Sangat berat, Tuan Serigala.”

“Ah, sekali lagi maaf—“

“Peri hujan sudah tidak bekerja selama dua bulan. Semua tanaman di sini jadi bergantung pada kekuatanku dan itu melelahkan. Kamu tahu, aku benar-benar kesal dan ingin beristirahat sejenak. Tapi, warga Nymus tetap saja datang silih berganti kemari.” Satu tarikan napas, dan peri itu sibuk memelintir ujung roknya dengan ekspresi muram. “Bukannya aku keberatan, sih. Hanya saja, kadang ada yang terlalu berisik dan menganggu ketenangan. Seperti tadi pagi, misalnya. Bebek itu sangat cerewet dan suaranya membuatku pening dan—“

“Aku turut meminta maaf kalau begitu,” sela Seokjin dengan suara selembut mungkin, ujung-ujung bibir dinaikkan membentuk senyum kecil. “Bebek itu adalah teman baikku, dan ia benar-benar tidak tahu. “Aku tahu kalau dia salah karena telah menganggumu, tapi….”

“Oh.”

Sekarang, peri air itu tampak menyesal. Sepasang irisnya yang kebiruan bergerak-gerak gelisah, sementara Seokjin masih memandanginya dengan tatap pengertian di wajah. Selama beberapa saat suasana hening, tidak ada yang bergerak atau berbicara kecuali kepala Yoongi yang sedikit menyembul keluar. Keadaan itu bertahan selama hampir semenit penuh lamanya, sampai Seokjin memutuskan untuk buka mulut dan langsung menuju ke inti pembicaraan.

“Jadi, Nona Peri….”

“Ya?”

“Kalau kami boleh tahu, kutukan yang membuat suara temanku hilang itu….”

.

-o-

.

“Kau yakin itu aman?”

“Setidaknya kita harus mencoba, bukan? Bagaimana jika Seokjin dan Yoongi gagal berbicara dengan peri air?”

“Tapi warna cairannya terlihat menjijikkan! Apa saja yang kaumasukkan, Jungkook?!”

Ugh, aku hanya mengikuti buku ramuan milik Hoseok, tahu!”

Perdebatan antara empat makhluk itu belum berakhir. Sumbernya hanya satu, sebuah mangkuk berisi cairan hijau pekat sewarna lumut. Cairan yang seharusnya adalah ramuan Suara Seindah Denting Harpa, dibuat mengikuti buku petunjuk milik Hoseok si Jerapah. Jikalau sukses, ramuan itu dapat mengubah suara siapa pun menjadi indah layaknya penyanyi. Agak tidak berhubungan dengan kutukan Namjoon sih, namun Hoseok berpendapat kalau ini bisa saja berhasil.

Tapi, menilik dari warna ramuan mereka….

“Yakin ini mau diberikan ke Namjoon?” Jimin mengangkat sebelah alis, ragu. “Bagaimana kalau dia—“

“Yang jelas, tidak mungkin suaranya makin hilang!” Taehyung menimpali, tangan sibuk mengaduk ramuan itu dengan harapan warnanya akan berubah menjadi bening—seperti petunjuk dalam buku. “Kalau ini gagal pun….”

“Optimis, kawan-kawan. Optimis,” tegas Hoseok dengan anggukan mantap, walau hidungnya mengernyit kala ia mencoba membaui ramuan tersebut. “Kalau efek suara indahnya tidak muncul pun, bisa saja kutukan itu terpatahkan, ‘kan? Mungkin Namjoon akan berteriak ketika meminum ramuan ini—”

“Berteriak karena rasanya seperti meminum racun, maksudmu,” potong Jungkook sarkastis, yang langsung dihadiahi toyoran dari si pemilik buku ramuan.

“—intinya, kita coba saja dulu. Oke?”

Keempatnya saling bertukar pandang, sebelum akhirnya mengangguk setuju. Yah, setidaknya ramuan ini hanya terbuat dari air dan beberapa tanaman obat yang tumbuh di sekitar Nymus. Tak ada yang beracun, tak ada nyawa yang terancam. Jadi, dengan rasa harap-harap cemas yang masih bercokol, mereka pun bergegas keluar dari rumah Hoseok. Tangan membawa mangkuk berisi ramuan itu, menghampiri Namjoon yang terduduk lemas di bawah pohon tanpa teman.

“Ini mungkin bisa membantu.”

Namjoon menerimanya tanpa rasa curiga. Agaknya, ia sudah benar-benar pasrah. Apa pun akan ia terima asal itu bisa mengembalikan suaranya, tak peduli jika rencana teman-temannya bisa dimasukkan dalam kategori aneh atau tidak masuk akal. Termasuk ramuan ini. Kendati warnanya mengerikan, Namjoon tetap mendekatkan bibir mangkuk itu ke mulutnya dan mulai minum.

Satu teguk, dua teguk berlalu.

Lantas lima, enam, tujuh.

Tegukan kesepuluh dan ramuan itu hampir tandas sepenuhnya.

Sedikit lagi, dan….

“Teman-teman, kami membawa kabar baik!!”

Pekikan itu terdengar seiring kemunculan sosok Seokjin si Serigala dan Yoongi si Kura-Kura, sedikit berlari kecil sembari melambai-lambaikan tangan. Mereka tampak lega, kontras dengan kelima makhluk lainnya yang kebingungan. Namjoon bahkan berhenti meminum ramuannya, raut wajah sedikit pucat karena menahan pahit, tetapi siap mendengarkan perkataan kedua temannya yang baru saja tiba.

“Kata peri air, Namjoon hanya perlu menunggu sampai matahari terbenam!”

“Hah?!”

“Malah, matahari sudah terbenam sekarang,” sahut Yoongi, telunjuk teracung ke cakrawala. “Kutukan itu hanya kutukan ringan. Kalau matahari sudah tidak tampak, maka—“

Tak ada yang mendengar kelanjutan ucapan Yoongi, tidak karena Namjoon sudah bangkit berdiri dengan tubuh bergetar menahan emosi. Sukses membuat Hoseok, Jungkook, Taehyung, dan Jimin langsung berderap pergi, sementara Namjoon memaki-maki dan mengancam akan mengguyur mereka dengan sisa ramuan yang ada.

.

.

.

KEMARI KALIAN YANG BERANI MEMBERIKU RAMUAN PAHIT, TIDAK BERGUNA, DAN TERASA SEPERTI TANAH INI!! KALIAN PIKIR, AKU INI BERCANDAAN, HAH?!”

.

.

.

Oh well, setidaknya, itu membuktikan bahwa suara Namjoon sudah kembali, bukan?

.

fin.

Halo lagi!😄

Kalau-kalau ada yang inget, project series ini udah ada sejak tahun lalu lol. A year passed, dan saya baru menemukan ide dan niat buat melanjutkan /dilempar/

Untuk yang belum tahu atau lupa sama webtoon Hip Hop Monster ini, itu urutan karakternya dari kiri ke kanan: Jungkook, J-Hope, Jin, Rapmon, Suga, Jimin, V (yg nemplok di atas kepala).

Oke, sekian dulu! Any review is accepted, and see ya again in this series (hopefully, not next year though lol). See ya!❤

3 thoughts on “[Hip Hop Monster Series] The Silent Curse”

  1. Wahh ini ceritanya lucu bangeeet kak Mer!! unyu unyuu😄 nyiahahahahhhh, kayak dongeng anak-anak fabel gitu!! Nanti aku mampir ke series monster hip-hop lainya❤ /ketjup kak Mer/

    Suka

  2. Iya iya aku inget ini terusn series yg Jin kelimpungan gegara coklatnya diborong RabbitKookie,ya!! Lucu bngt ka Mer,apalg bahasanya santai bngt. Dan ga lupa Jungkook always jd sasaran ‘mata2 tajam’ para manusia jadijadian(?),ga itu obrolannya ataupun tingkahnya!! Big aplus(?) kakkk! Semangat buat nextseries,jng ditumpuk2 lagi ^^ ntar bulukan lho idenya! Hehe

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s