[Vignette] Recommencer

recommencer

Recommencer

presented by thelittlerin

.

BAP Moon Jongup, Choi Rin (OC)

.

Fluff, Romance | PG-15 | Vignette (1300+ words)

.

“You didn’t invite me.”

“If I invite you now, will you come?”

“If I come, will you ever leave me again?”

“Never.”

Pertengahan Januari dan kota Seoul. Hasilnya adalah cuaca dingin dengan suhu di bawah nol derajat yang menggigit tubuh. Orang-orang minum minuman hangat di dalam ruangan dan berjalan cepat-cepat sembari merapatkan mantel jika sedang berada di luar.

Pertengahan Januari, kota Seoul, dan pukul tujuh malam.

Rin mengutuk dirinya sendiri karena telah lupa membawa sarung tangan dan syal miliknya tadi pagi. Dua benda berwarna abu-abu itu sekarang masih tergeletak manis di atas tempat tidur gadis itu—Rin ingat untuk menyiapkannya tetapi tidak untuk memakainya.

Gadis itu lantas mempercepat langkahnya. Udara dingin yang menggigit membuatnya tak bisa memikirkan hal lain selain segelas susu cokelat hangat dan selimut tebal di kamarnya. Dan mungkin juga makan malam hangat hasil masakan sang ibunda tercinta.

Jarak rumahnya tinggal lima ratus meter lagi—menurut perkiraan Rin. Tetapi, walaupun gadis itu sudah mempercepat langkahnya, Rin tetap merasa jarak itu tak berkurang secara signifikan.

Ada yang aneh. Tapi apa?

Kedua tangannya lantas dimasukkan ke dalam saku mantelnya—hangat memang, tapi masih saja terasa aneh bagi gadis itu. Bahkan langkahnya—yang dipercepatnya atas kemauan sendiri—terasa aneh baginya. Suasana di sekitarnya pun terasa aneh, padahal Rin setiap hari menyusuri jalanan ini.

Oh, mungkin karena ada sesuatu yang menghilang.

Lebih tepatnya seseorang.

Rin menghela napas, semakin mempercepat langkah.

Namun satu sosok di depan pagar rumahnya membuat gadis itu mempersempit jarak antar langkahnya.

Dan ketika tatapan mereka bertemu, Rin rasa dia lupa caranya bernapas.

“Hai.”

Moon Jongup bergeming—sama halnya dengan Rin. Ujung bibirnya bergerak canggung, sepertinya gatal untuk membentuk sebuah senyuman. Tetapi dia tetap memasang ekspresi datar tanpa bergerak sedikit pun. Betah memandang Rin tepat di manik gadis itu.

Rin menarik napas panjang sebelum melangkah mendekat. Dirinya tidak mau mati membeku hanya karena tak mau mendekat ke arah Jongup. Itu terlalu konyol untuk menjadi penyebab kematiannya—lagipula bisa saja tebakannya salah.

“Menunggu Sungmin? Kenapa tidak masuk?”

Pertanyaan basa-basi yang tak perlu dijawab Jongup. Memangnya sejak kapan Jongup menunggu di luar rumah jika ada perlu dengan Sungmin? Pertanyaan tadi jelas hanya dilontarkan Rin supaya dia tak terlihat terlalu kasar karena telah mengabaikan lelaki berahang tegas itu.

“Rin-ah.”

Panggilan pelan dari Jongup dengan sukses menghentikan Rin yang hendak membuka pintu pagar. Gadis itu memandang Jongup penuh tanya, sedikit berharap tidak akan ada hal-hal yang mengejutkan yang keluar selanjutnya.

“Mau ikut denganku?”

.

.

Rin tidak tahu apa yang menyebabkan dia mengiyakan ajakan Jongup.

Mungkin gadis itu hanya mengikuti kata hatinya. Mungkin juga ia hanya malas menghadapi kakak kembarnya—dan teman-temannya yang akan menginap malam ini—setibanya di rumah nanti. Atau mungkin saja Rin hanya perlu penyegaran setelah seharian menghadapi berbagai masalah.

Yang jelas, Rin tak ragu-ragu ketika menganggukkan kepala dan melesat ke dalam rumah untuk menaruh tas ranselnya. Juga ketika menjawab pertanyaan ibunya yang terheran-heran melihat anak gadisnya masuk ke dalam rumah hanya untuk keluar lagi beberapa detik kemudian.

Tetapi, lagi-lagi gadis itu melupakan sarung tangan dan syalnya.

Rin menghela napas. Separuh karena kedinginan, sebagian untuk menyalahkan dirinya sendiri, dan sebagian lagi karena dirinya merasa canggung.

Gadis itu kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel. Berharap mendapat sedikit kehangatan sampai dia kembali ke kamarnya yang hangat—udara yang semakin mendingin tidak membantu sama sekali.

Namun, yang terjadi beberapa detik selanjutnya membuat Rin menahan napasnya sejenak.

Jongup hanya memperhatikan gadis itu sedari tadi mereka berjalan berdampingan—mungkin hal ini yang membuat Rin merasa canggung. Dan ketika kedua matanya menangkap sosok Rin yang sedang kedinginan, lelaki itu dengan cepat meraih tangan kanan Rin dan menggenggamnya erat.

Oh?”

Hanya itu yang dapat dikeluarkan Rin sebagai tanggapan. Selain pipinya yang tiba-tiba saja memerah, tentu saja.

Dan keterkejutan gadis itu semakin menjadi-jadi ketika Jongup memasukkan tangannya—dan tangan Rin yang sedang digenggamnya—ke dalam saku jaketnya. Membuat gadis itu mau tak mau menempel pada Jongup.

Ada kupu-kupu di dalam perutnya dan Rin hampir lupa caranya bernapas.

Namun, sisi positifnya adalah Rin dapat melupakan suhu dingin yang menerpa tubuhnya.

Tak ada yang mengubah posisi mereka bahkan hingga keduanya memasuki kedai kopi di ujung jalan. Rin, begitu juga dengan Jongup, tak begitu suka kopi, tetapi tak pernah menolak jika ada yang mengajaknya ke kedai ini—lagipula kedai ini menawarkan susu cokelat hangat dan cheese cake yang enak rasanya.

Jongup menarik Rin menuju meja di dekat jendela, tangannya masih menggenggam tangan gadis itu erat. Duduk berhadapan di tepi jendela berkusen hitam, di mana mereka berdua bisa mengamati butiran-butiran salju yang turun.

“Kamu terlihat lelah.”

Itu kata pertama yang dikeluarkan Jongup setelah beberapa saat. Tangannya tanpa sadar bergerak maju, menyingkirkan anak-anak rambut yang menghalangi pandangan Rin.

“Ujian akhir dan proses pergantian pengurus. Rasanya aku ingin menghilang saja,” jawab Rin kemudian, sebelum menelungkupkan kepala di atas meja—tangan Jongup masih setia merapikan anak-anak rambutnya.”Kamu sendiri?”

Moon Jongup berangsur maju ke depan, menyejajarkan pandangannya dengan kedua manik kelam milik Rin. Senyum kecil terukir di wajahnya,”evaluasi akhir tahun sudah selesai. Aku bisa bernapas lega sekarang.”

“Tahun ini, Sungmin yang mengundangku. Bukan kamu.”

Tak ada jawaban. Jongup kembali sibuk merapikan anak rambut Rin. Dan pada saat itulah kenyataan pahit menampar gadis berusia dua puluh satu itu—berakibat senyum pahit tercetak di wajahnya.

Keduanya terdiam selama beberapa saat. Berusaha membaca pikiran masing-masing lewat sinar mata yang terpancar. Tidak berhasil, tentu saja—terlebih ketika panggilan dari counter memutuskan kontak mata itu.

“Kalau aku mengundangmu sekarang, apakah kamu akan datang?”

Belum sempat Rin memikirkan maksud di balik kalimat tersebut, Jongup sudah bangkit berdiri, hendak mengambil pesanan di counter di tengah ruangan.

“Kalau aku datang, apakah kamu akan meninggalkanku lagi?”

Langkah Jongup terhenti. Menatap Rin lamat-lamat sebelum akhirnya mengelus puncak kepala Rin pelan.

Never.”

.

.

Pukul sembilan malam dan udara dingin semakin menggigit.

Anehnya, baik Moon Jongup maupun Choi Rin sama sekali tak merasa kedinginan, tidak seperti yang mereka berdua rasakan beberapa jam yang lalu. Senyum kecil terpasang di wajah masing-masing, dengan kedua tangan berpegangan erat.

“Terima kasih.”

Ah, betapa senangnya Rin lantaran dapat mengatakan hal itu lagi.

Jongup tersenyum kecil, tangannya masih menggenggam tangan Rin erat. Seolah tak berkenan untuk melepasnya barang sedetik saja. Biarkanlah, toh lelaki itu sudah lama tak melakukannya.

Tak ada kata yang terucap untuk beberapa saat kemudian. Biasanya, Jongup akan tersenyum sebelum mengelus puncak kepala Rin dan berjalan pulang ke rumah. Namun hari ini tampaknya lelaki itu tak punya keinginan untuk cepat tiba di rumahnya sendiri.

Lagipula dua kata itu bisa berarti banyak. Tak hanya sekedar ucapan terima kasih karena dirinya telah mengantarkan Rin pulang dengan selamat.

Satu senyuman dari Rin dan Jongup bergerak maju. Tidak memperhatikan ekspresi terkejut dan bingung milik Rin yang muncul sesudahnya. Mengurangi jarak di antara mereka berdua sebelum mengecup kening gadis itu lembut.

Terkejut? Tentu saja. Memangnya apa lagi yang bisa dirasakan Rin selain terkejut?

Tetapi kejutan belum berakhir sampai di situ.

Selang beberapa detik setelah Jongup kembali menatap kedua mata Rin, lelaki itu kembali memangkas jarak di antara keduanya. Menempatkan bibirnya di atas milik Rin, merasakan sensasi manis yang menghampirinya—susu cokelat yang diminum gadis itu beberapa saat lalu.

Rin memejamkan matanya, tangannya balas menggenggam tangan Jongup erat. Membiarkan lelaki itu menyelesaikan apa yang telah dia mulai.

Udara dingin kembali menerpa ketika jarak kembali tercipta. Moon Jongup masih betah memandangi Rin sedangkan gadis itu langsung menunduk sedetik setelah pandangan mereka bertemu.

“Terima kasih,” ujar Jongup sembari melepaskan genggamannya pada tangan Rin—berat memang, tapi dia harus melakukannya.”Aku pulang dulu.”

Jongup berjalan pulang, setelah sebelumnya melayangkan senyuman terakhir untuk Rin.

Rin balas tersenyum, sebelum melihat punggung lelaki itu menghilang di ujung jalan.

.

.

Choi Rin bersandar pada pintu rumah setelah menutupnya, berusaha mengatur napas sebelum ada orang rumah yang melihat keadaannya.

Beberapa tarikan napas dan gadis itu siap untuk naik ke atas, masuk ke dalam kamarnya dan tersenyum seperti orang bodoh.

“Rin-ah, selamat!!”

Rin baru saja mengambil barang-barangnya yang tadi dia letakkan secara tergesa-gesa saat suara melengking itu memenuhi indera pendengarannya. Suara derap langkah kemudian terdengar, dan butuh waktu agak lama bagi Rin untuk menyadari situasi yang sedang terjadi.

Teman-teman kakaknya sedang menginap.

Jendela kamar Choi Sungmin menghadap ke arah jalan.

Itu artinya Choi Sungmin, Yook Sungjae, Han Sanghyuk, Kim Taehyung, dan Park Jimin melihat semuanya.

Sial.

“Rin-ah, ceritakan semua pada kami!”

Rin mengenali suara itu sebagai milik Taehyung.

“Choi Rin!!”

Dan yang itu milik kakak kembarnya.

Seseorang tolong selamatkan Rin sekarang juga.

fin.

A/N:

Yeeeeaaaaayyyy akhirnya MoonRin balikan juga :” setelah berminggu-minggu ditanyain sama minha aka tsukiyamarisa……..TUH UDAH BALIKAN TUH

mungkin ini bisa menjawab pertanyaan yang muncul di fic Moonrin sebelumnya :” they’re doing fine right now, and hopefully no major incident will happened

yes, hopefully

so, mind to review then?

4 thoughts on “[Vignette] Recommencer”

  1. aaaakk endingnya tetep rusuh demi apaaa sukaaa, akhirnya mereka balikan dan bayangin muka malumalunya jong up kok gimanaaaa gitu ya :”
    atuhlah bawa moonrin sampe pelaminan! hwaiting!

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s