[Ficlet] A Cup Of Coffee and Your Thoughts

New-arrival-creative-Hand-carved-Clear-Coffee-Glass-Cup-of-juice-Milk-shake-cup-transparent-cup

a movie by tsukiyamarisa

starring [SEVENTEEN] Woozi (Lee Jihoon) and You genre AU, Life, Friendship duration Ficlet rating 15

.

“Kopinya bening.”

a prompt from snqlxoals818

.

.

.

“Jihoon-a.”

Lelaki di hadapanku mendongak, kantong mata terlihat jelas di sana. Entah sudah berapa hari ia kurang tidur gara-gara tugas kuliah yang menumpuk, kendati aku tahu pasti bahwa ada sesuatu yang lebih dari itu. Mengenal Lee Jihoon selama tiga tahun, aku paham kalau saat ini ada sebuah perkara yang sedang membebani pikirannya.

Buktinya ada pada isi cangkir itu.

Hm? Kenapa?”

“Kopinya bening,” ujarku lagi, menunjuk ke arah cangkir yang baru saja diletakkan Jihoon di atas meja. Buatannya, dimaksudkan untuk mengusir kantuk lantaran kegiatan belajar bersama kami belum juga selesai. Ujian akhir sudah dekat, dan mau tak mau, waktu bersantai pun harus semakin dibuang pergi. Digantikan dengan tumpukan tugas paper, buku-buku tebal berisi istilah yang membuat pusing, serta materi presentasi yang harus dipelototi selama berjam-jam. Perpaduan yang cukup untuk menyesaki otakmu, membuatmu tak mampu berpikir cepat saat membicarakan hal-hal tak signifikan lainnya.

Seperti Jihoon saat ini, misal.

Alih-alih menjawab, ia malah mengamatiku dengan raut lelah. Mengedip sekali, bingung dengan maksud perkataanku yang sedikit tidak jelas.

“Maksudku, kamu terlalu banyak memasukkan air,” jelasku perlahan, sedikit menahan kekeh tawa kala menyenggol tubuhnya penuh canda. “Itu pasti tidak ada rasanya, Jihoon-a. Kafeinnya tidak akan bekerja seperti seharusnya.”

“Oh.” Jihoon kini mengangguk paham, menyunggingkan sedikit senyum. “Mmm, kamu benar. Tapi, sudahlah. Aku terlalu lelah dan banyak pikiran saat ini.”

Kami lantas bertukar tatap sejenak, dan bagai dikomando, aku langsung menutup buku yang sedang kubaca. Meletakkan pensil yang tadi kupakai untuk memberi catatan di sana-sini, dagu kutopangkan pada sebelah tangan seraya berkata, “Kalau lelah, ayo istirahat dulu.”

Jihoon tak langsung mengiakan. Ia memberiku ekspresi yang mengatakan bahwa ia hanya ingin semua ini lekas selesai, bahwa kata istirahat tak tercantum di kamusnya sekarang. Aku mengerti itu, namun jika tidak kupaksa, aku tahu kalau semua usahanya untuk belajar malah akan berakhir sia-sia.

“Jihoon-a….”

“Bukan lelah yang itu,” gumam Jihoon akhirnya, lirih tapi dapat kudengar jelas. Sejenak, ia pun bergerak memijat pelipis. Mungkin berusaha untuk menata pikirannya yang acak-acakkan, memilah dan memilih mana yang akan ia kisahkan padaku. Beberapa kali ia membuka bibir seakan siap bercerita, namun lekas ditutup kembali diikuti dengan gelengan kepala.

Dan aku pun memutuskan untuk angkat bicara lebih dulu.

“Kamu tahu, Lee Jihoon….”

“Apa?”

“Isi pikiranmu dan kopi bening ini sama saja,” sahutku sambil berdecak ringan, iris terarah pada cangkir kopi Jihoon sebelum beralih pada si pemilik. “Terlalu banyak air menyebabkan rasa kopinya tidak enak. Terlalu banyak pikiran akan membuatmu cemas setengah mati dan kurang tidur.”

Sang lelaki tak langsung berargumen. Ia diam saja, sepasang manik menatapku lekat tanpa berkedip. Sekilas, bisa kulihat sepercik rasa kesal yang lewat di sana. Hanya sesaat, dan aku tahu kalau itu adalah buah dari kata-kataku barusan. Tidak semudah itu, tahu, batin Jihoon mungkin berkata. Menghentikan apa yang berpusar di otakku tidak semudah itu dan kamu mengejeknya?

Aku tahu, benakku menjawab. Yeah, aku tahu, tapi aku tidak mengutarakannya. Maka, sebagai ganti, aku pun meraih ponselku. Membuka playlist, lantas menyetel satu yang berisi lagu-lagu favorit Jihoon sejak dulu.

“Apa yang—“

“Kamu bisa berpura-pura mengabaikan kopi bening yang sudah kamu buat itu, Jihoon,” potongku cepat, sebuah usaha memperbaiki suasana. “Jadi, kamu juga bisa berpura-pura mengabaikan kegelisahanmu sejenak, ‘kan? Untuk malam ini saja.”

“Kurasa….”

“Dan aku tahu kalau kamu suka musik,” imbuhku sebagai penutup, yang—untungnya—dibalas dengan senyum dari Jihoon. Anggukan yang kuberikan kemudian adalah tanda bahwa aku mengerti, aku paham, atas apa yang sebenarnya membebani pikiran lelaki itu. Jihoon berencana untuk berhenti kuliah setelah semester ini berlalu, memberitahu orangtuanya bahwa ia sudah lelah menghabiskan setahun belakangan di bawah tekanan. Jihoon ingin menggeluti musik lebih dalam, dan diam-diam, aku mendukung itu karena kuakui bahwa ia berbakat.

Trims.

Satu ucapan terima kasih, dan konversasi kami digantikan oleh rangkaian nada, barisan lirik, serta dentuman ritme. Kegiatan belajar resmi terlupakan, tapi toh kami masih punya dua hari sebelum ujian dimulai. Bukan masalah besar. Saat ini, aku hanya ingin membiarkan diriku dibuai oleh vokal Jihoon yang terdengar mengikuti setiap lagu. Jemari diketuk-ketukkan sesuai irama, mata menatap cangkir berisi kopi bening yang jelas-jelas terabaikan.

.

.

.

Well, sometimes, being ignorant won’t hurt anyway.

.

fin.

2 thoughts on “[Ficlet] A Cup Of Coffee and Your Thoughts”

  1. JIHOON~
    Aduh iya nih aku juga lelah dengan kehidupan sekolah :” *padahal baru kelas satusatu* dan yah ga bisa bayangin sih gimana kehidupan kuliah T.T welcome mata panda deh~
    Pembawaan kak amer ngalir banget~ suka deh~ diksinya berat-berat gimana, jadi baper :”
    Kip nulis kak amer ^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s