[Vignette] What They Don’t Talk About When They Talk About Love

af009cc1-1664-443f-845c-0f2ced53dec1

PSEUDONYMOUS presents

WHAT THEY DON’T TALK ABOUT

WHEN THEY TALK ABOUT LOVE

starring BROWN EYED GIRLS’ GAIN genre LIFE & ROMANCE duration VIGNETTE rating PG-15

“Kita seharusnya malu ketika kita merasa kita tahu persis apa yang sedang kita bicarakan ketika kita sedang berbicara tentang cinta.” —Raymond Carver

 

Aku baru saja hendak meneguk kaleng Cola keduaku ketika bel akhirnya berbunyi. Tanpa perlu mengintip dari lubang, aku sudah tahu kalau itu pasti ibu. Kehadirannya telah kunanti-nantikan sejak kemarin ketika aku memintanya secara pribadi mengunjungiku ke Seoul. Dan ia dengan senang hati menerima undanganku, mengingat kami sudah lama tidak bertemu semenjak satu setengah tahun yang lalu ketika aku menikah dan ikut bersama suamiku pindah dari Gwangju.

Pada saat aku membuka pintu dan setiap kali melihat wajah ibu, satu hal yang pasti kulakukan adalah segera berlari ke dalam pelukannya. Aroma tubuh ibuku masih sama seperti biasa. Wangi badannya selalu berbeda dari anggota keluarga yang lain, harum, hangat dan menyenangkan. Ketika aku menenggelamkan wajahku ke dalam ceruk leher ibuku, aku tahu dengan segera bahwa tangisku akan pecah. Tetapi, sebelum itu benar-benar terjadi dan merusak momen ini dari awal, aku segera menarik tubuhku kembali dan melemparkan senyum pada ibuku.

Tidak banyak hal yang kami katakan saat aku mengajak ibu masuk ke dalam. Hanya sekadar bertukar kabar dan ibu, dengan menarik napas dalam-dalam, melemparkan bokongnya yang besar dan berat ke atas sofa. Ibu mengangkat kaleng kosong Cola yang kuminum ke depan wajahnya dan aku berniat menawarkannya minuman ringan atau bir, tetapi ia menggeleng.

“Apa kau punya rokok?” tanya ibu.

Aku tersenyum di balik pintu kulkas dan menutupnya kembali. “Sudah kuduga Ibu akan meminta rokok,” kataku, lalu berjinjit ke atas kulkas dan mengambil dua bungkus rokok yang kubeli semalam, khusus kupersiapkan untuk menyambut kedatangannya.

Ibu terkekeh padaku, melempar tas tangannya di sudut sofa yang lain dan dengan gembira menerima uluran bungkus rokok tersebut. “Kau memang benar-benar anakku, Son Gain.”

Senyum malu-malu perlahan terbentuk dari kedua sudut bibirku. Ibu menyalakan puntung rokoknya dan aku ikut bergabung bersamanya di sofa. Ibu menikmati isapan rokok pertamanya dengan gembira seakan-akan ia sudah lama sekali tidak merokok meski aku tahu bahwa mungkin ia sempat merokok dalam perjalanannya menuju kemari. Ibu mengamat-amati seisi rumah dan segala bentuk kekacauannya—tumpukan piring yang belum dicuci di atas bak, pakaian kotor yang belum disentuh di atas keranjang dan beberapa bungkusan plastik kotor di atas meja makan yang belum sempat kusingkirkan—dalam diam. Ia lalu tiba-tiba menatapku dan bertanya:

“Mereka sudah pergi?”

Aku menelan ludah dengan keras dan mengangguk sedih. “Dari seminggu yang lalu,” tegasku.

Sempat kudengar ibu mengeluarkan makian ke atas udara sebelum ia mengisap rokoknya lagi. “Seharusnya kau meneleponku lebih awal sebelum ia membawa Adam,” ucap ibuku dengan nada sesal.

Aku menggeleng dan menundukkan kepalaku. Tatapanku tertuju pada jari-jariku yang pendek, yang tengah sibuk memilin-milin kaki bajuku sendiri. “Ia bersikeras membawa Adam,” jawabku pasrah.

Ibu menyelipkan rokoknya di antara telunjuk dan jari tengahnya, lalu menggeser tubuhnya lebih dekat ke arahku. “Mengapa kau tidak melakukan sesuatu untuk mencegahnya?”

Hembusan napas panjang keluar dari mulutku. “Entahlah, Bu. Aku tidak bisa banyak berkata saat ia membawa Adam pergi bersamanya. Ia tidak memberiku kesempatan untuk bicara,” jelasku dengan suara pelan.

“Bajingan,” desis ibuku.

Ibu menatapku dengan waswas dan saat kedua pasang mata kami bertemu, aku tahu ini saat yang tepat. Ibu menyingkirkan rokoknya ke dalam asbak yang ada di atas meja dan membuka kedua lengannya lebar-lebar sebagai tempat bagiku untuk bersandar.

“Oh, kemarilah, Sayang,” bujuknya.

Aku menjatuhkan diri di atas sana dan akhirnya, tangisku meledak di dalam dadanya sementara aku terus mencoba mengatur napas ketika emosi tak tertahankan ini menguasaiku. Ibu terus membisikkan “Tidak apa-apa” atau “Menangislah jika itu merasa membuatmu jauh lebih baik” ke telingaku guna untuk menenangkanku. Meski tidak berbuat cukup banyak, setidaknya aku tahu bahwa masih ada ibu yang peduli dan memahami keadaanku.

Aku bisa mencium bau rokok yang tajam keluar dari mulut ibuku ketika ia terus membisikkan kalimat-kalimat penenang padaku. Lucunya adalah ini kali pertama aku menghirup bau nikotin tersebut dan asap beracun itu justru agak menenangkanku. Jauh sebelumnya, aku tidak pernah menyukai ide tentang seorang perempuan yang merokok. Bukan hanya karena merokok berdampak buruk untuk kesehatan, tetapi ini ibuku yang merokok. Hal ini sedikit mengingatkanku pada perdebatan sengit kami beberapa tahun silam soal ibu yang merokok. Kami—ayahku, aku dan adik laki-lakiku—tidak pernah setuju jika ibu merokok. Ayahku adalah orang yang paling keras menentangnya. Meski ia adalah orang yang pertama mengetahuinya sebelum pernikahan itu terjadi, ayah sebelumnya tidak pernah berkomentar soal kebiasaan merokok ibu. Nanti ketika aku dan adik laki-lakiku mulai menyatakan ketidaksukaan kami pada kebiasaan ibu, barulah ayahku ikut-ikutan menyuarakan pendapatnya dan bahkan berdiri di baris paling depan untuk menghentikan ibu. Dan walau pun mendapat protes keras dari kami bertiga, ibu menolak untuk mendengar kami dan hanya berkomentar dengan ringan, “Jika aku merasa sangat lelah dengan urusan rumah tangga, rokok adalah satu-satunya penghiburku. Dan kalian masih ingin juga menyiksaku dengan melarangku merokok?” Setelah itu, tidak ada lagi yang melarang-larang ibu merokok. Termasuk ayah.

Setelah kupikir-pikir lagi, sejak insiden itu, aku belakangan tahu bahwa sebenarnya ayah begitu punya banyak hal untuk dikatakan pada ibu. Jika aku diizinkan untuk mengutarakannya, ayah adalah sosok paling pengecut yang pernah kukenal. Ketika ayah menginginkan sesuatu atau menyampaikan keluhannya tentang berbagai macam hal—seperti kebiasaan buruk ibu lainnya yang sering lupa memadamkan lampu ruangan yang sudah tidak dipakai, tidak menutup makanan di atas meja, atau meletakkan barang-barang penting di sembarang tempat, ia akan mendatangiku atau adik laki-lakiku, dan menggunakan kami sebagai perantara untuk menyelesaikan permasalahannya dengan ibu. Dan ibu, karena telah terikat dengan kebiasaan yang dilakukan ayahku sejak awal, akhirnya ikut-ikutan melakukan hal yang sama pada kami. Pada akhirnya, kebiasaan ini membawa mereka pada situasi di mana mereka tidak pernah benar-benar mengobrol atau mengutarakan sesuatu secara empat mata. Aku, yang saat itu baru beranjak remaja, dengan pikiran anak-anakku akhirnya mengambil kesimpulan sendiri bahwa begitulah memang rumah tangga yang seharusnya. Bukankah anak dilahirkan sebagai tali penghubung yang mengikat kedua orangtua mereka? Begitulah aku dan adik laki-lakiku berfungsi sebagai alat komunikasi kedua orangtua kami. Dan aku terus termakan oleh gagasan keliru tersebut selama bertahun-tahun lamanya sampai akhirnya aku tahu bahwa ayah dan ibu tidak pernah terikat dalam hubungan cinta sebelum mereka menikah. Hal itu diungkapkan oleh ibuku sendiri, ketika suatu saat ia sedang bertengkar hebat dengan ayah dan aku dipaksa mendengar hal-hal buruk tentang ayah selama masa pertengkaran itu.

Perkara ini lantas membuatku bertanya-tanya, bagaimana bisa dua manusia yang tidak saling mencintai, rela menggadaikan seluruh kehidupan mereka satu sama lain dalam satu atap? Ini agak mengikis kepercayaanku—dan banyak orang—tentang bagaimana pernikahan seharusnya dilandasi dengan perasaan cinta. Jika dua orang yang saling mencintai saja masih punya kemungkinan untuk berpisah, lalu bagaimana nasib kedua orangtuaku jadinya? Aku sempat mencemaskan hal ini dan mencoba meraba-raba akan ke mana pernikahan kedua orangtuaku mengarah.

Dan pada suatu siang, ketika pertengkaran hebat antara keduanya akhirnya berlalu dan rumah tangga kedua orangtuaku masih baik-baik saja, ibu sedang mencuri-curi kesempatan untuk mengisap rokoknya di sela-sela sedang menjemur pakaian basah yang baru saja dicucinya, ketika aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Jika Ibu tidak pernah mencintai Ayah, lantas kenapa Ibu mau menikah dengan Ayah?”

Ibu, kemudian, dengan ketenangannya yang seperti biasa berkata, “Aku menikah dengan ayahmu karena ia pria yang baik. Ia pria yang sopan. Ia tidak pernah memukul wanita. Ia adalah pria religius. Lalu, apalah arti Ibu yang sifatnya buruk dan perokok berat ini ketimbang sosok ayahmu yang sempurna?”

Ibu, seolah-olah sedang menekankan kepadaku bahwa ialah yang beruntung karena masih ada pria yang ingin meminangnya. Sementara aku tahu, dari gayanya berbicara, ibu terlalu mengelu-elukan sosok ayah sehingga semua ucapannya terdengar palsu. Dan kemudian aku balik bertanya di dalam hatiku, apakah ibuku yang beruntung karena mendapatkan ayah atau ayahku yang beruntung karena bisa mendapatkan ibu?

Berangkat dari gagasan-gagasan itu dan setelah tahun-tahun berlalu ketika pernikahan kedua orangtuaku selalu dalam wilayah aman, aku sendiri mulai melihat pernikahan sebagai sesuatu yang mau tidak mau, atau cinta atau tidak, harus dilakukan. Dan semenjak saat itu, prioritas untuk menikah tidak lagi menjadi hal penting dalam hidupku. Tanpa kusadari, ini juga turut membuatku berpandangan pesimis tentang cinta. Aku tidak benar-benar percaya lagi dengan cinta dan seluruh kemukjizatannya yang sering diagung-agungkan banyak orang.

Meski tidak lama, pandangan rendahku tersebut dibantah sekeras-kerasnya saat aku bertemu dengan suamiku, Joo Jihoon, lima tahun yang lalu. Aku benar-benar jatuh cinta padanya dan segala hal tentang Jihoon membuatku kembali menemukan harapanku tentang cinta. Kami akhirnya menjalin hubungan selama dua tahun lamanya dan memutuskan untuk menikah. Sebelum kami menikah, aku dan Jihoon membuat daftar panjang mengenai hal-hal yang menyenangkan yang harus kami lakukan begitu kami menikah. Satu per satu kami lakukan secara bertahap, mulai dari membeli apartemen dengan tabungan kami sendiri, membeli perabotannya, berbulan madu di Pulau Jeju, memiliki anak, mengurus anak, sampai pada akhirnya kami berada pada batas terakhir daftar kebahagiaan kami. Tiba-tiba saja, roda kehidupan rumah tangga kami seolah-olah berhenti seiring dengan kesibukan kami mengurus perekonomian keluarga dan tumbuh kembang anak kami, Adam. Kami akhirnya benar-benar melupakan perihal daftar tersebut dan terlalu asyik dengan diri masing-masing.

Jihoon yang sepertinya murung dan tidak bersemangat lagi tentang pernikahan kami, tanpa menaruh belas kasihan meminta berpisah dariku. Aku mencoba mempertahankan pernikahan kami dan mencoba meyakinkan Jihoon bahwa kami bisa memulainya kembali dari awal seperti saat kami masih menjalin cinta sebagai sepasang kekasih. Tetapi Jihoon menolak. Masih tergambar dengan jelas dan bersih bagaimana Jihoon menunjukkan wajah muramnya padaku di suatu malam saat kami sedang duduk berdua di meja makan setelah berhasil menidurkan Adam. Kami tampaknya sama-sama sedang kelelahan dengan segala rutinitas rumah tangga kami sehingga rasanya sulit sekali untuk membuka percakapan. Aku tidak benar-benar menyadari kejanggalan ini sampai Jihoon melayangkan kalimat tajamnya tersebut padaku.

“Gain, aku rasa aku tidak bisa meneruskan pernikahan ini,” begitulah ia menghancurkan hatiku.

Tadinya aku pikir ia akan melompat dan tertawa, kemudian melontarkan permintaan maaf karena telah membuatku terkejut atas leluconnya yang sama sekali tidak lucu. Tetapi, Jihoon hanya diam saja di seberang meja, dengan kedua telapak tangannya melingkari cangkir kopinya, menungguku bereaksi.

Pada saat itu, aku yang dalam keadaan cukup terguncang, antara percaya dan tidak percaya, berhasil mengumpulkan kekuatan dan bertanya padanya mengenai alasan permintaannya tersebut. Jihoon hanya menyebutkan bahwa ia tidak bisa meneruskan pernikahan ini dan merasa bahwa hubungan kami seakan-akan hanya jalan di tempat. Aku mencoba menggenggam tangannya dengan sisa tenaga yang kupunya dan berkata padanya bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa kami pasti bisa melalui hal ini. Tetapi, Jihoon menarik tangannya menjauh dan berkata:

“Kau harus menghadapi kenyataannya saja, Gain, bahwa tidak ada lagi yang bisa diselamatkan dari pernikahan kita.”

Aku menggeleng tidak mengerti ke arahnya dan bertanya, “Apanya yang tidak bisa diselamatkan? Kita—kau dan aku—bahkan belum berjuang.”

Lagi-lagi, ia menggeleng. “Kau tahu persis bahwa kita telah sama-sama berjuang, Gain. Selama ini. Namun, tidak ada hasilnya.”

Aku sedikit terkejut dengan sifat keras kepalanya ini. Tanpa kusadari, aku telah menangis. “Jadi, kau benar-benar serius dengan ucapanmu?” tanyaku dengan suara bergetar.

Dan Jihoon mengangguk tanpa keragu-raguan sama sekali. “Aku hanya mencoba bersikap realistis.”

Sejak saat itu, aku melihat sikap realistis sebagai akal-akalan tak berdasar dari seorang pengecut. Aku tahu persis Jihoon hanya ingin lari dan tidak ingin menghadapi masalah. Dan karena ia begitu kukuh dengan keyakinannya, aku merasa tidak bisa memaksakan sesuatu yang tidak ingin dipaksakan. Pada akhirnya, aku menyetujui permintaan Jihoon dan kini ia pergi bersama Adam, kembali ke rumah orangtuanya, meninggalkanku sendiri di apartemen ini sembari tetap mengurus perceraian kami.

Setelah badai besar yang menimpa rumah tanggaku ini, aku menghabiskan banyak hari-hariku dengan menangis dan mengurung diri. Berat badanku turun secara drastis hanya dalam seminggu. Di situlah aku memutuskan bahwa aku membutuhkan seseorang untuk segera menolongku. Ibu menjadi satu-satunya pilihan terbaik yang kupunya. Dan untunglah ia berada di sini sekarang dan mendengar seluruh keluh kesahku dengan sabar.

“Kau tahu, pernikahan tidak melulu soal kebahagiaan,” ujar ibuku sembari menyeka air mataku dengan punggung tangannya. “Kau juga akan mengalami banyak masalah di dalam pernikahan.”

Aku tidak menjawab dan hanya mengipas-ngipas wajahku dengan tangan. Ibu memandangiku dengan sorot mata sedih dan melanjutkan, “Aku seharusnya memberitahumu sejak awal.”

Aku mengerti bahwa ibu merasa bertanggung jawab atas apa yang telah kualami. Ia tidak pernah membekaliku dengan ilmu yang cukup tentang pernikahan dan tidak juga memberi contoh pernikahan yang baik dengan suaminya sendiri. Sementara itu, aku terlalu banyak berkhayal tentang pernikahan yang indah sehingga aku lupa bahwa cinta juga bisa berubah menjadi hal yang sangat liar dan sulit dikendalikan. Kejadian ini membuatku kembali teringat akan pernikahan kedua orangtuaku, apakah mungkin pernikahan itu seharusnya seperti milik mereka, meski tanpa cinta?

Setelah tangisku berhenti dan aku berhasil mengumpulkan akal sehatku, ibu kembali mengisap rokoknya dan aku mengamatinya sembari menyesap Cola-ku. Ibu tampak sedang berpikir keras ketika ia mengisap rokoknya, lalu tiba-tiba ia berkata:

“Sebenarnya ada masa-masa di mana aku juga ingin berpisah dari ayahmu.”

Mendengar pengakuan yang tiba-tiba ini, aku sedikit terlonjak. Ibu menjawab seolah-olah ia mampu membaca pikiranku. “Lalu, kenapa Ibu masih bertahan dengan Ayah?” tanyaku. Sulit rasanya untuk mengakui hal ini, tetapi aku telah membuat sosok ayahku terlihat buruk meski ia tidak melakukan sesuatu yang salah.

Ibu mengangkat bahunya saat itu dan sebuah senyum manis tersungging dari bibirnya. “Saat aku menikah dengan ayahmu, saat itu kupikir inilah inti dari sebuah pernikahan, yakni bersatu dengan seseorang yang ingin berbagi denganmu. Aku telah berbagi begitu banyak hal bersama ayahmu. Mulai dari makanan favoritku, buku-buku yang kubaca, musik-musik yang kudengarkan dan film-film yang kutonton. Ayahmu melakukan semua hal itu bersamaku, dan begitu pula sebaliknya. Ketika seiring jalan, kami mulai tidak sepaham, aku merasa ayahmu mulai menyerah padaku walau pun aku masih punya harapan untuk terus berbagi dengannya. Tetapi, itu bukan hal yang mudah bagiku, dengan semua tekanan yang kualami karena merasa seakan-akan hanya aku yang sedang memperjuangkan pernikahan ini, aku akhirnya menyerah juga. Namun, aku tidak ingin mengatakan ingin berpisah dari ayahmu karena aku tidak mau merasa bersalah atau menyesal karena sudah meninggalkan ayahmu. Aku ingin ayahmu yang melakukannya duluan agar nantinya ia tahu persis apa yang sudah ia lewatkan.”

Atau membuatnya terlihat seakan-akan ialah yang jahat di sini, sambungku dalam hati.

Ibu tiba-tiba tergelak, menepuk pahaku dengan lembut dan melanjutkan, “Anehnya, ayahmu tidak juga ingin berpisah dariku. Ia belum mengatakan apa-apa hingga saat ini dan meneruskan pernikahan kami seolah-olah tidak ada yang salah dengan itu. Di sisi lain, aku juga ingin bersikap masa bodoh dan menarik diri kembali dari ayahmu. Tetapi, sejak kejadian itu, tentu saja banyak hal yang berubah. Terutama ketika aku mendengarkan lagu-lagu kesukaanku, aku tidak bisa lagi mendengarkannya dengan perasaan yang sama karena aku justru teringat oleh peristiwa-peristiwa di mana aku juga pernah mendengarkan lagu itu bersama ayahmu. Dan hal itu membuatku kesal.”

Aku terkekeh bersama ibuku dan ia tampak puas dengan apa yang diungkapkannya. Aku begitu kagum pada sosok ibuku, mengingat dengan segala macam peristiwa yang berhasil dilewatinya hanya dengan sebatang rokok. Aku tidak pernah tahu ibu pernah menjalani masa-masa sulit seperti itu dalam pernikahannya bersama ayahku. Tapi, memang begitulah hidup bekerja, kurasa. Tidak ada yang pernah tahu seberapa banyak seseorang telah tersakiti. Kita bisa saja duduk di samping seseorang yang tengah patah hati tanpa mengetahuinya.

“Dan apakah Ibu bahagia? Maksudku, dengan semua ini,” tanyaku.

Ibu menjentikkan abu rokoknya di atas asbak dan berkata tanpa menatap kedua mataku, “Apalah arti sebenarnya dari sebuah kebahagiaan? Kita bisa saja merasa bahagia saat ini dan di menit berikutnya, kita menyesal mengatakan bahwa kita sudah mencapai kebahagiaan sementara kenyataannya selalu berubah-ubah.”

Aku melihat ibu seolah sedang mencoba menghindari mataku, tetapi dengan cepat ia menepis kecurigaanku karena selanjutnya ia menggamit tanganku dan melanjutkan dengan suara lembut, “Tetapi, satu hal pasti yang kita tahu, meski kebahagiaan tidak berlangsung lama, kita masih bisa merasakannya setelah kita berhasil melewati kesulitan yang sedang kita hadapi. Dan itulah inti dari segalanya, untuk bisa merasakan dan merasa hidup karenanya.”

Tadinya, aku tidak pernah banyak mengobrol dengan ibu seperti yang kulakukan sekarang. Aku terbiasa menangani masalahku seorang diri tanpa bantuan siapa pun, termasuk ibu. Dan jika aku sedang dalam masalah, ibu menjadi pilihan terakhir yang kupunya jika aku merasa harus berbagi sesuatu dengan seseorang. Namun, setelah semua ini, setelah obrolan jujur di antara dua perempuan yang sama-sama sedang berada di kondisi kritis di dalam sebuah pernikahan, aku jadi ingin lebih banyak mengenal ibu dan mendengar cerita-cerita yang tidak sempat ia ungkapkan padaku.

Saat matahari tampak mulai tenggelam di luar dan hari mulai gelap dan setelah kami memutuskan untuk melupakan sejenak kepenatan kehidupan rumit rumah tangga dengan mengobrol ringan serta melempar lelucon seperti pasangan ibu dan anak lainnya, ibu akhirnya beranjak dari sofa dan pamit ke toilet untuk buang air. Sementara itu, aku yang mulai merasa jauh lebih baik, mulai berkeliling apartemen dan menyalakan lampu-lampu. Aku sedang berjongkok di depan pintu kulkas yang terbuka dan mengeluarkan bahan-bahan makanan mentah untuk kumasak sebagai makan malam ketika ibu tiba-tiba melompat keluar dari toilet dan menghampiriku dengan berjingkat-jingkat kecil di lantai karena tidak mau meninggalkan jejak air dari kakinya yang masih basah.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

“Aku ingin membuat makan malam untuk kita berdua,” kataku sambil mengangkat wajah ke arahnya.

Ibu mengeluarkan ponsel dari saku celananya, melihatnya sebentar dan berbalik ke arahku. “Maafkan aku, Sayang, tapi aku sebenarnya sudah ada janji dengan kawan lamaku untuk makan malam bersama malam ini. Apakah kau keberatan?”

“Oh. Begitu?” Aku berdiri dan tersenyum padanya. “Tidak sama sekali. Jika Ibu ingin makan malam di luar, juga tidak apa-apa.”

“Oh, Gain. Kau benar-benar anakku yang manis.”

Ibu memegangi wajahku dan menciumi pipiku dengan riang. Aku merasa seperti seorang ibu yang baru saja memberikan izin kepada anak gadisnya untuk keluar bersama kawan-kawannya di malam minggu. Sebelum pergi, aku mengawasi ibu yang sibuk menggosok giginya di wastafel dapur untuk menyingkirkan bau rokok dari mulutnya, disusul dengan memperbaiki riasan wajah. Aku memerhatikan dengan saksama bagaimana ibu dengan lihai menyapukan sepon bedak pada garis-garis kerutan pada dahi, pipi dan dagu untuk menyembunyikannya.

“Kau terlihat cantik, Bu,” pujiku. Dan kedua pipi ibu tampak memerah setelahnya.

Seusai berdandan, aku melihat ibu sempat mengetik pesan pada ponselnya. Ia lalu meminta izin untuk pergi.

“Jika terjadi sesuatu padamu atau kau membutuhkanku, kau bisa langsung meneleponku dan aku akan segera tiba di sini dalam lima menit,” katanya saat berdiri di ambang pintu dan berusaha mengenakan sepatu tepleknya.

Aku tertawa walau aku tahu ia tidak benar-benar serius dengan ucapannya. “Oke. Selamat bersenang-senang, Bu.”

Ibu melambai kepadaku saat berjalan menjauh menuju lift. Aku kembali masuk ke rumah dan berdiri di dapur untuk menyiapkan malam malam untuk diriku sendiri. Namun, entah karena apa, aku tiba-tiba berlari kecil menuju ruang nonton dan berjinjit di depan jendela besar untuk mengintip keluar jalan. Tampaklah ibuku sedang berdiri di luar sana dengan seorang pria paruh baya yang mengenakan topi golf berwarna abu-abu. Pria itu tersenyum saat melihat kedatangan ibuku. Ibu menggandeng tangan pria itu saat berjalan dan tersenyum lebar. Dan belum pernah kulihat sebelumnya, ibuku tersenyum sebahagia itu. []

2 thoughts on “[Vignette] What They Don’t Talk About When They Talk About Love”

  1. (oh, ‘pria paruh baya’ itu bukan bapaknya gain, ya? atau iya?)
    bagus kak ficnya, tapi mungkin agak berat dan gelap marriage lifenya utk ukuranku hahahaha. biarpun begitu aku sangat menikmati tulisan kakak, suka juga sama familynya hehe. keep writing!

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s