[ficlet] Culmination

1453472898520

[SEVENTEEN] Joshua × [OC] Navy

Angst? Fluff? ǀ T ǀ +600w

© sacchiko, 2016

.

.

.

Mereka baru saja menginjakkan kaki di apartemen Navy—yang sejak sebulan lalu juga ditinggali oleh Joshua—namun gadis itu telah kembali bersikap dingin kepadanya. Joshua menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan kelima jarinya, sekiranya hal itu bisa mengurangi rasa putus asa yang mulai membuatnya pening. Ia pikir, perang dingin di antara mereka yang berlangsung entah sejak kapan (Joshua sudah bosan menghitung hari) akan segera berakhir begitu ia mendapati tawa renyah Navy yang merespons lelucon murahan milik Dokyeom beberapa menit sebelum SEVENTEEN melangsungkan comeback kesebelasnya. Namun dari tatapan gadis itu yang seakan jijik melihatnya, Joshua tahu apa yang ada di pikirannya beberapa jam lalu hanyalah semu.

“Navy, ayolah,” panggilnya. Suara lembut khas Joshua Hong membelai gendang telinga gadis bermata biru itu, namun hatinya yang sekeras batu memantulkannya kembali dan menggerakkan kaki-kakinya dengan lebih cepat. Joshua mengikuti percepatan langkahnya, lalu dengan sigap diraihnya lengan pucat milik gadis itu sehingga mereka pun berhadap-hadapan di ruang tengah.

“Lepaskan.” Gadis itu mendesis hingga Joshua terpaku karenanya.

Lelaki itu kemudian membelai lembut daerah punggung tangannya—salah satu cara untuk melepas ketegangan yang mengikat gadis itu. “Kita bicara dulu.”

Namun sentakan yang kemudian ia terima membuat sepasang mata Joshua melebar. “Aku dengar, Joshua Hong. Aku dengar kalau kau pun mengiyakan bahwa memang lebih baik jika Chaeun yang menjadi kekasihmu.”

Joshua mengumpat dalam hati.

“Aku tahu, kau mungkin sudah lelah bersamaku—aku emosional, kasar, lancang, bahkan para penggemarmu juga sempat tidak menyukaiku, ya ampun—tapi mengatakan hal seperti itu di balik punggungku?” Navy mengakhiri pertanyaan retoris itu dengan tawa yang… bahkan Joshua pun bisa merasakan pahitnya.

“Dasar rubah,” gadis itu memicingkan matanya sebelum mendesiskan kalimat itu. Joshua selalu mendengarnya sebagai olok-olok yang ditujukan kepada wajahnya, yang kemudian dibarengi oleh juluran lidah gadis acuh tak acuh itu, namun kali ini kalimat itu terdengar beracun. Penuh dan mematikan.

Sosoknya yang lebih pendek dari Joshua berbalik dengan pelan. Lirih ia berucap, “Pergilah.”

“Semua sudah berakhir.”

Hening.

“Baik, kalau itu maumu.”

Joshua bisa melihat ketegangan yang meningkat di sekitar bahu gadis itu, namun yang ia lakukan hanyalah menatap sosoknya hingga menghilang di balik pintu.

***

Joshua meraih kopernya dari dalam lemari dengan menghela napas. Ia meraih mantel dengan sembarangan kemudian—lagi-lagi—menyisir rambutnya ke belakang. Selama ini yang ia lakukan hanyalah mengikuti alur emosi Navy hingga mencapai puncaknya, dan setelahnya semua pun kembali ke titik normal. Saat ini pun, ia masih mengikuti alur emosi gadis itu—dan karenanya mereka pun berakhir. Joshua bahkan tidak pernah menyangka bahwa ia akan sampai ke tahap ini—bahwa mereka akan sampai ke tahap ini.

Tidak, ia tidak akan membicarakannya lagi. Sejak awal ia selalu mengikuti alur emosi si gadis bermata biru dan ia tidak akan berubah, sampai akhir. Well, meskipun mereka sudah di akhir.

Maka di sinilah ia, berdiri di depan pintu kamar Navy dengan sebuah koper besar di sisi kiri dan mantel yang terpasang tidak rapi.

“Navy,” panggilnya untuk yang kesekian kali. Joshua tidak mendengar apapun sebagai balasan, tetapi lelaki itu lebih dari tahu bahwa gadisnya—mantan gadisnya—tengah bersandar dan menangis di balik kayu persegi panjang itu sambil menggigit bibir bawahnya, berharap Joshua berpikir bahwa gadis bermata biru itu baik-baik saja dan eksistensi lelaki berwajah tirus itu tidak lagi berarti.

Oke, lelaki itu membalasnya dalam hati. “Terima kasih,” ia mengucapkannya sedatar mungkin. “Aku pergi.”

Kaki-kaki Joshua melangkah beberapa puluh senti. Setengah bagian tubuhnya sudah terbiasa—mereka kerap kali bertengkar hingga Joshua tidak lagi merasa mampu untuk menghitungnya, hingga Joshua bahkan merasa cukup terlatih jika hal ini terjadi. Bagian tubuhnya yang lain merasa campur aduk—kaget, mati rasa, dan sisanya terlalu panjang jika disebutkan. Joshua tersenyum miring.

“Jangan!” Kemudian, satu pelukan menghentikan langkahnya.

“Jangan—aku mohon.”

Pria bermarga Hong itu berbalik, hanya untuk mendapati gadis setinggi hidungnya menunduk dengan air mata yang masih terus menetes. Ia meraih wajah gadis itu dengan sepasang telapak tangannya dan menatap mata birunya lekat-lekat.

“Navalora,” ia memanggil nama gadis itu. Seulas senyum khas Joshua Hong perlahan terukir pada wajah tirusnya.

“Kalau aku pergi, aku jamin tidak ada yang bisa mengatasi model PMS sepertimu.”

Joshua tahu ia hanya harus menunggu,

Joshua tahu semua akan kembali normal,

yang perlu ia lakukan hanyalah mengikuti alur emosi Navy hingga mencapai puncak. Selalu.

Omong-omong, kopernya kosong.

Uh, omong-omong lagi, sebenarnya Navy salah paham.

fin.

Uh, oke… PMS di atas itu Pra Menstruation Syndrome, aku lagi suka sama Joshua, aku masih jarang nongol, dan… selamat menikmati?

caca.

6 thoughts on “[ficlet] Culmination”

  1. Joshua sabar banget yha duh….
    Cewe PMS suka gitu, ngebetein emang /digaplok/
    Aku pikir tadi putus beneran hahaha ternyata ga.
    Duh mana tega aing mutusin orang baik kayak Josh yha /apaan/

    Nice fic btw ^^
    Keep writing ❤
    Maaf tadi sempet ngelike dan komen tapi belum baca wehehe

    Suka

    1. Halo narin ^^
      Dari wajahnya keliatan sabar2 kalem gimana gitu jadi gatel bikin fic joshua yang suuuuppppeeerrr sabar
      *anaknya emang doyan sama yg tipe2 sabar-kalem sih wkwk*
      Makasih narin sudah mampir ❤

      Disukai oleh 1 orang

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s