[Vignette] Long Distance

2016-01-25 19.18.50

iKON’s Jung Chanwoo and ASTRO’s Moonbin

friendship, slight!college-life, slight!fluff | vignette | G

special bday fic by Rizuki

.

Selamat ulang tahun, Jung Chanwoo, Moonbin.

.

.

Jung Chanwoo rindu keramaian.

Selepas mengedarkan pandangannya ke luar jendela sembari menyaksikan Naraㅡanak tetangga sebelah yang kerap bermain di pekarangan asramanyaㅡChanwoo hanya bisa menghela napas. Sekelumit bagian dari bongkah hatinya merindukan sesuatu. Keramaian, keceriaan, serta gelak tawa penuh kebahagiaan. Seperti yang tengah disaksikan olehnya, kini. Bagaimana Nara tertawa keras selagi mengejar seekor kupu-kupu cantik yang berterbangan di antara rekahan wangi mawar-mawar. Serta Nara yang begitu lepas memulas bibirnya dengan tawa pun Nara yang terlihat sangat jelas tengah bertabur bahagia.

Chanwoo lupa bagaimana rasanya bahagia. Chanwoo bahkan tak lagi ingat bagaimana cara melengkungkan bibirnya. Chanwoo ingin seperti merasakannya kembali. Tersenyum, tertawa, berlarianㅡseperti dulu kala.

Setelah membiarkan keheningan menyergap cukup lama, telinganya lantas dikejutkan dengan sebuah suara dari laptopnya. Sebuah notifikasi masuk pada akun Skype yang tertampil di layar. Memencet tombol terima, lantas layar berganti menampilkan sesosok pemuda yang tengah tersenyum menyapanya.

“Hei, kenapa dengan wajahmu, Chan?” tanya pemuda di seberang.

Ck. Sedang malas mengerjakan paper-ku, nih.”

“Kau berdusta lagi, Jung Chanwoo. Matamu terlihat sangat redup, kau tahu? Jangan bilang kau habis menangisㅡhei, Kak Claire baik-baik saja, kok. Tidak perlu khawatir,” timpal pemuda itu sembari terus menampilkan senyuman manisnya.

Bibir Chanwoo lantas meretaskan karbondioksida keras-keras. Memijat pelipisnya sesekali lantas berujar, “Dari mana saja seharian ini, Bin? Kau bahkan baru menghubungiku, tsk.”

Pemuda bernama Moonbin itu tergelak, bahunya berguncang alih-alih tampilkan senyuman malaikatnya seperti tadi, “Aku baru pulang mengurus acara di kampus, Chan. Hei, apa kau belum mendapatkan teman juga, huh? Seorang pun bahkan belum bisa kauajak berteman? Astaga Jung Chanwoo! Kau harus hidup dengan baik di sana, Bodoh. Sampai kapan akan terus menjadi introvert seperti itu?”

“Diam kau Moonbin! Ini urusanku danㅡyeahㅡaku belum terlalu ingin memiliki temㅡ”

“Berhenti membohongiku, Chan! Di wajahmu bahkan terlukis jelas kalau kau kesepian di sana. Carilah satu orang saja sebagai teman bicara, Chanwoo. Apa sebegitu susahnya mencari teman, huh? Apa kau tidak ingin memiliki banyak teman sepertiku? Aku bahkan bisa mendapat lebih dari sepuluh teman jika aku mau, Chan. Apa kau tidak ingin seperti itu?”

“Oh, shut up, Bin! Aku sedang tidak ingin mendengarkan kalimat itu lagi.”

Dengan sekali hentakan, jemari Chanwoo lantas sudah menutup laptopnya. Tak lagi peduli pada sambungan video call yang diputus olehnya begitu saja. Pemuda jangkung itu lantas bangkit dari kursi belajarnya. Sejemang, melemparkan tubuhnya yang kepalang lelah ke atas kasur. Chanwoo mengusap wajahnya kasar selagi berteriak keras melampiaskan kekesalan yang menggumpal di dalam dadanya.

Chanwoo rindu keramaian. Chanwoo rindu ingin pulang. Chanwoo rindu ingin berteman.

.

.

“Kau sudah makan?”

Ck. Apa pedulimu? Sudah sana pergi! Kaubilang ingin merayakan ulang tahun dengan teman-teman barumu. Lantas, kenapa masih menghubungiku?”

Moonbin tergelak menyaksikan sahabatnya tengah mengerucutkan bibir sembari berlagak tak acuh. “Jung Chanwoo, ini juga hari spesial buatmu. Kenapa kau sebegitu jahatnya kepada sahabatmu ini, huh? Jangan cemburu, Tuan Jung. Saat kau kembali ke Seoul, kita akan merayakan ulang tahun bersama, oke? Yah, meskipun terlambat beberapa bulan, tidak apa, ‘kan?”

“Aku enggak tertarik. Sudahlah, sana pergi! Biarkan aku tidur siang dengan nyaman.”

Lagi, Chanwoo menutup aplikasi Skype-nya tiba-tibaㅡtanpa perlu mengucap salam pamungkas atau bahkan sekadar ucapan selamat siang untuk mengakhiri percakapannya. Sebut saja Chanwoo kekanakan, karena pemuda berpipi tembam itu seringkali menangis diam-diam tiap Moonbin menceritakan aktivitas hariannya. Chanwoo tak segan mengumpat tatkala Moonbin berkoar tentang teman-teman barunya. Chanwoo iri, cemburu, kesal saat menyadari betapa ia merindukan Moonbinㅡsahabatnyaㅡyang kini sudah memiliki banyak teman di sisinya.

Bukan Jung Chanwoo yang selalu tertawa bersama Moonbin. Bukan lagi Jung Chanwoo yang selalu berada di samping Moonbin.

Tahun lalu, Chanwoo masih merayakan ulang tahunnya bersama Moonbin. Tertawa bersama selagi menghabiskan waktu seharian penuh di taman bermain. Membolos sekolah demi bersenang-senang di hari ulang tahun mereka. Tampaknya, waktu berjalan begitu cepat. Toh, setahun sudah berlalu begitu saja.

26 Januari telah memasuki tahun yang baru. Namun, tidak ada lagi keceriaan seperti tahun-tahun sebelumnya. Chanwoo mendesah; sedikit tidak rela jika membayangkan Moonbin tertawa lepas selagi menyanyikan lagu ulang tahun, sementara dirinya hanya bergumul di balik selimut bertemankan senyap.

Hampir terjungkal, Chanwoo kemudian mengumpat tatkala ponselnya tiba-tiba menyalak. Sedikit kerutkan kening, ia lantas memencet tombol berwarna hijau di layar demi menjawab sebuah panggilan yang masuk.

“Apa lagi, Moonbin?”

“Jutek sekali, sih. Hei, buka pintu kamarmu sekarang!”

“Berhenti berkelakar dan jangan mengejek kesendirianku lagi, Bodoh.”

“Buka pintu kamarmu sekarang juga, Jung Chanwoo. Atau aku akan pulang begitu saja tanpa sempat memberikan kado sialan ini jauh-jauh dari Seoul, oke?”

Terperenyak sekejap, Chanwoo kemudian lekas merajut tungkainya menghampiri pintu kamar asramanya. Entah mengapa tiba-tiba ia merasakan jantungnya bergemuruh begitu hebat. Tepat saat jemarinya memutar kenop pintu, tubuh menjulang sang sahabat sudah mendekapnya seketika. Chanwoo bahkan terdorong ke belakang saking kagetnya.

Happy birthday for us!” kekehan dari bibir pemuda tampan yang baru saja tiba itu lantas menggema ke seluruh sudut kamar Chanwoo. “Kau terkejut, ‘kan? Hahaha, sengaja tidak memberitahumu, sih. Bagaimana kejutannya, Jung Chanwoo? Indah, bukan?”

Ya, Moonbin-a….” Chanwoo memutus kalimatnya sebentar selagi menepuk dahi Moonbin berirama. “Kau hampir membuatku mati, tahu. Kenapa kau tiba-tiba datang ke sini, huh? Kenapa tidak memilih merayakan hari lahirmu dengan teman-teman barumu saja? Ck.

“Oh Tuhan, Jung Chanwoo terlihat begitu menggemaskan saat ngambek seperti ini. Aku ingin merayakannya bersamamu saja, Chan. Aku tidak ingin melihatmu hanya menenggelamkan diri sendiri pada saat hari bahagia seperti ini. Aku ingin menemanimu, Jung Chanwoo. Selamat ulang tahun, omong-omong.” Moonbin menyodorkan sebuah kue ulang tahun berukuran sedang yang dipenuhi krim vanilla dan cokelat kesukaan Chanwoo.

Cih! Menjijikkan sekali kau, Moonbin.”

Di tengah tawanya yang mengudara, jemari Chanwoo lantas meraih kue dari tangan Moonbin. Menyaruk sedikit krim dengan telunjuknya lantas mengoleskannya segera pada pipi sang sahabat. Tak ingin kalah, selepas menggumamkan sebuah umpatan, Moonbin seketika balik menyerang Chanwoo. Hidung mancung pemuda Jung lantas menjadi sasarannya. Hingga akhirnya, sebuah corengan krim menempel di sana.

Keduanya sama-sama tertawa. Saling berlarian, melempar bantal serta mengoleskan krim di wajah lawan.

“Chanwoo-ya….”

Hm?”

“Segera cari teman, oke? Bukankah tertawa bersama seperti ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan bergumam seorang diri, huh? Berjanjilah kepadaku, ya? tidak perlu memberiku kado apa pun, Chan. Kau hanya perlu mengenalkan satu saja temanmu kepadaku nanti, bagaimana?”

Mengangguk pelan, Chanwoo kemudian menatap Moonbin lekat-lekat. “Kau yakin tidak ingin kado dariku?”

Moonbin menggeleng cepat. “Tidak. Cukup kenalkan temanmu kepadaku saja, Jung Chanwoo. Setidaknya aku ingin memastikan kau tidak sendirian di sini. Hei, kau tahu betapa tersiksanya diriku memikirkan sahabatku yang bahkan tidak mempunyai siapa-siapa di sini? Carilah seseorang yang bisa kauajak bicara, Chan.”

“Baiklah, aku akan mencari teman. Danㅡohㅡini saja kado dariku, Bin.” Chanwoo mengoleskan krim terakhirnya pada wajah Moonbin sembari berlari menjauh dari kejaran sang sahabat. “Selamat ulang tahun juga, Moonbin. Terima kasih sudah datang hari ini.”

“Jung Chanwoo, wajahmu bahkan masih lebih bersih dibanding wajahku. Ya! Kemari kau, Jung Chanwoo!”

.

Terima kasih sudah datang, Moonbin-a. Setidaknya aku tidak kesepian di hari ulang tahunku. Terima kasih, sobat. Aku menyayangimu.

.

-fin.


HAPPY BIRTHDAY DEAREST JUNG CHANWOO AND MOONBIN TOO!❤

first post in 2016, yehet! ^^)/

Bonus pic; Jung Chanwoo and Moonbin childhood😄

IMG_20160116_124004

2 thoughts on “[Vignette] Long Distance”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s