It’s Okay, We’re Gonna Be Okay (Part 3)

It's Okay, We're Gonna Be Okay

Title: It’s Okay, We’re Gonna Be Okay

Scriptwriter: naypcy

Main Cast: Park Chanyeol. Oh Sehun. Shena Cho. Park Cheonsa

Genre: Romance, Family, Friendship

Duration: Chaptered

Rating: PG-13

Previous part: 1. 2

Takdir terkadang memang kejam dan tak masuk akal. Tapi percayalah, apa yang sudah Takdir tuliskan akan berakhir dengan indah pada waktunya.

Shena berjalan tak tentu arah sejak satu jam yang lalu. Ia tidak pulang ke rumah. Ia tau Chanyeol bisa saja mencarinya ke sana dan ia sedang tidak ingin bertemu dengan namja itu. Kakinya sudah bergetar karena luka di lutut kanannya sekarang semakin berdenyut dan perih. Namun Shena tau jika ia berhenti berjalan ia akan terjatuh dan ia akan teringat kembali pada Chanyeol yang selalu membantunya bangkit kembali.

Shena tau bahwa berjalan di tengah malam seperti ini sama saja seperti masuk ke kandang harimau. Laki-laki hidung belang bisa saja menculiknya sekarang. Namun Shena tak peduli lagi. Pikirannya sedang sangat kalut dan ia tak tau arah hidupnya sekarang.

Pernikahan Chanyeol dan Cheonsa mungkin tidak akan merubah apapun sikap mereka pada Shena. Shena yakin keduanya pasti akan tetap menyayangi Shena seperti sekarang. Namun Shena masih memiliki rasa egois, yang tentu saja sangat manusiawi. Shena belum bisa melepaskan cinta pertamanya walaupun itu pada seseorang yang sudah ia anggap eonninya sendiri.

“Shena-ssi,” panggil sebuah suara yang tak asing di telinga Shena. Shena menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya. Seorang namja berperawakan tinggi dan kurus lengkap dengan baju hangatnya berdiri di hadapan Shena.

“Sehun-ssi,” sapa Shena dengan suara serak sambil sedikit membungkukan badannya. Sehun tertegun sejenak mendapati keadaan Shena yang sangat berantakan saat ini.

“Sedang apa kau di sini malam-malam? Dimana Park Chanyeol?” tanya Oh Sehun heran. Biasanya gadis ini memang tidak pernah lepas dari Chanyeol. Sedangkan Shena hanya terdiam sambil menggigit bibir bawahnya tak mampu menjawab pertanyaan itu.

“Ayo, aku antar pulang!” ujar Sehun sambil menarik lengan Shena. Sementara Shena justru menahan tangan Sehun.

“A-aniya. Aku tidak mau pulang,” tolak Shena pelan membuat Sehun mengerutkan keningnya.

“Wae? Ini sudah malam,” tanya Sehun.

“Ah..itu.. ada masalah di rumah. Aku tidak bisa pulang,” jawab Shena sambil menggigit bibirnya lagi. Terlalu sakit saat mengingat-ingat apa yang baru saja dialaminya.

“Terus kau mau kemana malam ini?” tanya Sehun. Shena menggelengkan kepalanya sambil tersenyum canggung. Sungguh, Shena tidak tau kemana ia akan pergi. Sedangkan Sehun hanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan gadis lugu ini. Membuatnya bertanya-tanya sebenarnya masalah apa yang sedang dihadapi gadis ini.

Shena meringis merasakan perihnya cairan antiseptic yang ia oleskan pada lukanya sendiri. Sedangkan Sehun hanya memperhatikannya dari jauh sambil membuatkan teh hangat untuk Shena. Setelah selesai membersihkan lukanya, Shena membalut lukanya dengan perban yang sudah disiapkan oleh Sehun.

“Aku benar-benar minta maaf karena merepotkanmu, Sehun-ssi,” ujar Shena memecah keheningan sambil merapikan alat-alat yang ia gunakan untuk mengobati lukanya sendiri.

“Gwenchana,” jawab Sehun sambil meletakkan secangkir teh untuk Shena di atas meja. “Tapi kurasa, aku perlu tau apa alasanmu hingga kau tak ingin pulang ke rumah?”tanya Sehun membuat Shena menghela napasnya berat. Sehun benar. Ia perlu tau. Tapi Shena tidak tau mau mulai menjelaskan dari mana.

“Igeo..Cheonsa eonni..”

“Ada apa dengan Cheonsa?” tanya Sehun dengan cepat. Mengingatkan Shena kalau Sehun juga ada di posisi yang hampir sama dengannya. Dan Shena tidak ingin Sehun tau masalah ini sekarang. Shena menghela napasnya lagi sebelum menjawab Sehun.

“M-maksudku.. keluargaku mengambil keputusan yang masih belum bisa aku terima. Jadi aku memutuskan keluar dari rumah untuk menenangkan diri. Aku ingin menginap di rumah Cheonsa eonni tapi saat aku ke rumahnya dia sudah tidur,” jelas Shena dengan penuh kebohongan. Sementara Sehun hanya menganggukan kepalanya.

“Arraseo,” ujar Sehun menanggapi. “Malam ini kau bisa tidur di kamarku. Karena aku tidak punya kamar tamu. Aku akan ke rumah sakit untuk shift malam,” tambah Sehun sambil berdiri dan mengambil jas dokter yang ia sampirkan di punggung sofanya.

“Eo? Jinja kamsahamnida, Sehun-ssi. Jaljinae!” ujar Shena sambil membungkukan badannya dan diakhiri dengan menyemangati Sehun membuat Sehun terkekeh pelan melihatnya.

“Arraseo. Jalga,” Sehun pun pergi meninggalkan Shena di dalam apartemennya.

Keesokan harinya, Shena sedang berkutat di dapur kecil milik Sehun mencoba memasakkan sarapan untuk Oh Sehun yang belum pulang dari shift malamnya. Shena merasa ia harus melakukan sesuatu untuk orang yang sudah memberinya tempat tinggal semalam. Shena mencoba memasak bibimbap—masakan rumahan yang sudah pasti Sehun jarang merasakannya karena ia tinggal sendirian.

“Wah, I feel like I have a wife,” ujar Sehun yang dilanjutkan dengan tawa kekanakannya. Shena hanya terkekeh pelan menanggapinya.

“Jadi kau bisa memasak?” tanya Sehun sambil mengambil botol air mineral dari kulkasnya lalu duduk manis di meja makannya.

“Yah, sedikit. Aku sedang berharap kau tidak keracunan setelah memakan ini,” canda Shena sambil terus fokus pada apa yang dimasaknya. Sehun hanya tertawa menanggapinya. “Bagaimana pekerjaanmu? Melelahkan, ya, menjadi dokter?” tanya Shena.

“Melelahkan. Tapi juga menyenangkan. Aku senang melihat banyak orang setiap harinya dan selain menyembuhkan mereka, aku juga belajar banyak dari mereka,” ucap Sehun dengan serius membuat Shena sedikit tertegun.

“Wah, Sehun-ssi, kau benar-benar banyak berubah,” ujar Shena dengan kagum. Yang ia kenal hanyalah Oh Sehun yang suka bermain-main dan kekanakan. Sehun hanya tersenyum. Shena meletakkan mangkuk berisi bibimbap di hadapan Sehun lalu duduk di hadapan namja itu.

“Looks yummy!” ujar Sehun dengan semangat sambil mengambil sendok dan sumpitnya. Sifat kekanakan Sehun tetap masih ada. Kemudian Sehun menyuapkan sesendok penuh nasi dan daging sapi ke mulutnya. “Wah!” seru Sehun dengan mulut yang masih penuh dengan makanannya.

“Yak, Sehun-ssi. Kau benar-benar seperti anak kecil,” kata Shena sambil tersenyum geli dan menyodorkan segelas air ke dekat Sehun. Sehun terus mengunyah makanannya dengan senyum kekanakan yang masih bertengger di bibirnya. Sungguh, ini sudah sangat lama sejak Sehun merasakan masakan rumahan seperti ini.

“Aku sekarang mengerti mengapa Chanyeol begitu tergila-gila padamu,” ucap Sehun lalu kembali menyuapkan makanan ke mulutnya hingga ia tidak menyadari perubahan air muka Shena.

“Ah, Sehun-ssi. Apa ada jadwal terapi untuk Cheonsa eonni beberapa hari ke depan?” tanya Shena mengalihkan pembicaraan.

“Hmm, besok atau lusa. Ada apa?” jawab Sehun masih fokus dengan makanannya.

“Kalau kau bertemu dengan Cheonsa eonni atau Chanyeol oppa, jangan bilang kalau aku kesini dan menginap di apartemenmu,” jelas Shena yang lagi-lagi membuat Sehun mengerutkan darinya. “Ah, dan juga aku akan tinggal di Jepang selama sebulan. Ku mohon rahasiakan ini dari mereka,”

“Ne? Shena-ssi, sebenarnya ada apa?” tanya Sehun yang kini mulai fokus menatap gadis di hadapannya itu.

“Aniya.. aku akan bertemu dengan relasi bisnis kakekku dulu untuk membicarakan masalah perusahaan kakek yang dibekukan sejak beliau meninggal,” jawab Shena.

“Kenapa aku harus merahasiakan ini pada Cheonsa dan Chanyeol? Bukankah Chanyeol yang biasanya menemanimu?”

“Chanyeol oppa sedang tidak bisa menemaniku. Aku mohon, Sehun-ssi,” ujar Shena dengan tatapan memohonnya yang tidak bisa ditolak oleh siapapun yang melihatnya. Sehun menghela napasnya pelan.

“Arraseo. Tapi kau harus mengabariku, eo? Untuk memastikan kau baik-baik saja dan aku tidak merasa bersalah pada Chanyeol dan Cheonsa karena merahasiakan ini pada mereka,”

“Arraseo, Sehun-ssi! Jeongmal gomawoyo,” seru Shena dengan senyum sumringahnya yang membuat Sehun turut tersenyum.

“Kau bisa memanggilku oppa sekarang,” ujar Sehun tiba-tiba membuat Shena mengerjapkan matanya.

“Sehun oppa?”

Hari ini adalah jadwal terapi Cheonsa. Cheonsa datang ditemani oleh Chanyeol yang keadaannya bisa dibilang lebih buruk dari Cheonsa. Tatapannya begitu kosong dan bahunya begitu rapuh, seolah tubuh itu akan roboh saat seseorang menyentuhnya.

“Hey, bagaimana kabarmu?” sapa Sehun dengan senyum manisnya pada Cheonsa yang sudah duduk di hadapannya.

“Sudah lebih baik,” jawab Cheonsa singkat sambil sedikit mengangkat lekukan bibirnya.

“Syukurlah. Ah, tumben kau hanya dengan Chanyeol. Dimana Shena?” tanya Sehun. Ia hanya ingin tau apa jawaban dari dua orang yang sangat dekat dengan Shena ini. Namun Sehun sangat yakin, tubuh yang duduk di sebelah Cheonsa sedikit mengejang saat Sehun menyebutkan nama Shena. Sehun sudah dapat mengambil kesimpulan singkat dari keadaan ini. Masalah yang dimaksud Shena bukan masalah keluarga, tapi masalahnya dengan Chanyeol.

“Shena sedang sibuk. Ayo kita mulai saja terapinya,” ujar Cheonsa dengan cepat mengalihkan pembicaraan sambil sekilas melirik ke arah Chanyeol yang dari tadi masih mengunci mulutnya.

Sehun mengangguk dan membantu Cheonsa berjalan ke ruang terapi Cheonsa. Cheonsa sedikit heran dengan Sehun. Padahal beberapa hari yang lalu terjadi ketegangan antara dirinya dan Sehun. Tapi namja ini sekarang berlagak seperti tidak ada hal penting yang terjadi.

Cheonsa duduk di tepi ranjang di ruang terapinya. Lalu ia menyerahkan lengan sebelah kanannya pada Sehun. Sehun tersenyum lalu menyuntikan serum untuk mengaktifkan antibody Cheonsa yang ‘tertidur’. Sehun memegang pipi kanan Cheonsa dan mengusapnya pelan.

“Sorry for that day. Aku seharusnya hanya perlu membuktikannya padamu bukan berbicara panjang lebar seperti kemarin,” ujar Sehun sambil tersenyum menatap Cheonsa membuat Cheonsa mati-matian menahan pipinya agar tidak merona merah. Cheonsa dengan cepat mengalihkan tatapannya dari Sehun dan berbaring di tempat tidurnya. Sehun menyalakan lampu untuk terapi Cheonsa dan mengarahkannya ke arah gadis itu.

“Aku tinggal sebentar,” kata Sehun sambil beranjak keluar dari ruang terapi tersebut. Sehun duduk di hadapan Park Chanyeol lagi yang kini sedang berkonsentrasi pada handphonenya. Sehun benar-benar tidak mengenali sosok Park Chanyeol yang sekarang. Ia terlihat begitu kosong tanpa semangat hidup.

“Shena baik-baik saja,” ujar Sehun membuat Chanyeol langsung menghujamkan tatapan dinginnya pada Sehun.

“Apa maksudmu, Oh Sehun?” tanya Chanyeol dengan pelan.

“Shena baik-baik saja. Dia mengganti nomor ponselnya. Kau tidak perlu khawatir,” jawab Sehun santai yang membuat rahang Chanyeol mengeras.

“Dia dimana? Apa sekarang ia tinggal bersamamu?” tanya Chanyeol lagi. Nafasnya memburu dan dadanya seakan akan meledak. Tangannya mengepal kuat diatas meja kerja Sehun, seolah ia akan meninju wajah tampan dihadapannya ini.

“Aku sudah memberitahumu bagaimana keadaannya agar kau tidak khawatir, tapi kenapa kau malah marah, eo?” ujar Sehun yang membuat Chanyeol mendidih. Dengan gerakan amat cepat sekarang tangan Chanyeol sudah bersarang di kerah Sehun dan menariknya mendekat.

“Jangan bermain-main denganku, Sehun-ssi. Dimana Shena?” Chanyeol tak mampu lagi menahan emosinya. Bibirnya bergetar pelan menahan amarahnya.

“Aku tidak tau apa yang terjadi dengan kalian. Tapi aku menghargai privasi gadismu itu, Chanyeol-ssi. Aku sudah janji akan tutup mulut. Namun karena melihat keadaanmu yang menyedihkan ini aku memberitahu keadaannya padamu,” jelas Sehun panjang lebar. Nafasnya juga terasa sangat berat sekarang. Tatapannya kini membalas tatapan dingin Chanyeol yang terus terarah ke matanya.

“Kenapa dia bisa percaya pada namja bodoh sepertimu?” ujar Chanyeol penuh penekanan. Namun cengkraman di kerah Sehun mulai melonggar.

“Mungkin karena dia sudah tidak memiliki orang terdekat yang bisa ia percayai lagi?” ucapan Sehun jelas menohok Chanyeol tepat di jantungnya. Benar. Kata-kata Sehun terlalu sesuai kenyataan dan itu membuat Chanyeol luar biasa merasa bersalah. Chanyeol melepaskan cengkramannya pada kerah baju Sehun dan menghempaskan dirinya ke tempat duduknya. Sementara Sehun hanya menatap prihatin pada Chanyeol yang terlihat begitu berantakan karena seorang gadis.

Chanyeol melangkahkan kakinya dengan cepat ke ruangan kerja eommanya. Meja dengan ukiran kayu jati bertuliskan ‘Direktur Kemahasiswaan’ di atasnya menyambut Chanyeol dengan angkuh. Seumur hidup Chanyeol, ia baru pertama kali menginjakan kakinya di ruang kerja sang eomma ini. Berbeda dengan ruang kerja appanya yang sudah akrab dengannya karena ia merupakan calon pewaris perusahaan appanya itu.

“Oh—Annyeong, Chanyeol-ah. Tumben sekali,” sapa sang eomma saat menyadari kehadiran Chanyeol, tanpa mengalihkan tatapannya dari laptopnya.

“Aku menolak perjodohan dengan Cheonsa,” ujar Chanyeol dengan tajam dan cepat. Dadanya naik turun merasakan emosi yang ia tahan mati-matian.

“Tidak ada alasan yang kuat mengapa kau menolaknya,” timpal sang eomma dengan santai.

“Aku yang lebih tau siapa yang lebih cocok denganku. Eomma bahkan tidak tau siapa wanita yang sedang dekat denganku, padahal aku menghabiskan waktu dengannya hampir 24 jam. Yang eomma tau hanya Cheonsa, itupun karena keluarga Cheonsa adalah teman baik eomma–,”

“Memangnya siapa gadis yang menurutmu pantas?” potong sang eomma tak kalah tajam. Kali ini ia sudah menutup laptopnya dan fokus menatap anak laki-lakinya itu.

“Cho Shena. Yeoja yang eomma lihat saat makan malam di rumah Cheonsa,”

“Lalu dimana ia sekarang?”

“Dia..pergi,” jawab Chanyeol pelan.

“See? Kalau dia memang mencintaimu seharusnya dia mempertahankan hubungan kalian,”

“Aniya, eomma. Dia juga menyayangi Cheonsa dan ingin Cheonsa bahagia. Dan menurut Shena, cara agar Cheonsa bahagia adalah dengan menikah denganku,”

“Lalu apa lagi yang kau ragukan? Yeojamu sudah menyerahkanmu pada Cheonsa,”

“Shena mengorbankan dirinya sendiri. Dia takkan bisa tanpa aku,” ujar Chanyeol yang agak terdengar sangat percaya diri jika belum tau latar belakang hidup Shena. Chanyeol berlutut di depan eommanya setelah mengenyahkan egonya sejauh mungkin. “Aku benar-benar memohon padamu, eomma. Bagaimana bisa aku menikahi yeoja yang tidak aku cintai? Aku akan menyakiti keduanya eomma,” lirih Chanyeol bersungguh-sungguh.

Sang eomma berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Chanyeol. “Cinta tidak mendidikmu menjadi orang yang lemah, Chanyeol-ah. Seharusnya kau jadi orang yang kuat setelah belajar mencintai. Karena saat kau belajar mencintai kau juga harus belajar melepaskan. Tak selamanya yang kau pikir itu milikmu, akan selalu milikmu,” jelas sang eomma panjang lebar lalu menarik Chanyeol agar ia berdiri.

“Eomma akan pergi ke Jepang selama dua minggu. Kau bisa urus masalah pertunanganmu itu sendiri kan?” ujar sang eomma lagi sambil menepuk pipi Chanyeol perlahan dan mengusap pundaknya. Lagi-lagi Chanyeol tak bisa membantah apa yang dikatakan oleh eommanya.

Aku harus apa lagi, Na-ya?

Shena menghirup udara pagi Kota Nagasaki yang terasa sangat menyegarkan. Sudah kurang lebih seminggu ia berada di Jepang dan hari ini ia akan menemui relasi terpercaya perusahaan kakeknya dulu. Relasi ini akan membantu Shena mencairkan kembali perusahaan meubel kakeknya yang sempat dibekukan setelah kakeknya meninggal. Sekarang ia merasa sudah cukup umur untuk mengurus perusahaan tersebut. Sekaligus ia ingin mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang membuatnya seperti mayat hidup itu.

Shena melangkahkan kakinya keluar dari rumah kecil yang ia sewa di sebuah daerah yang tidak terlalu ramai. Shena sengaja tidak memilih untuk tinggal di hotel atau apartemen di tengah kota selama sebulan ini. Karena itu terlalu ramai menurutnya dan ia sedang mencari ketenangan sekarang.

Shena masuk ke dalam mobil sedan yang juga ia sewa untuk sebulan ke depan. Shena yakin ia akan banyak menjelajahi Jepang selama sebulan ini. Dan angkutan umum apalagi taxi bukan pilihan yang cukup aman bagi Shena.

Shena memacu mobilnya dengan tidak terlalu cepat. Ia menikmati pemandangan Kota Nagasaki yang sangat berbeda dengan Seoul yang selalu ramai. Namun tiba-tiba pandangannya menangkap sesuatu yang janggal di tepi jalan. Seorang wanita paruh baya tergeletak tak sadarkan diri di sudut jalan raya yang tidak terlalu ramai itu. Tanpa pikir panjang, Shena menepikan mobilnya tepat di samping tubuh yang tergeletak tak berdaya itu.

“Oh Tuhan..” Shena mendadak limbung karena melihat adanya darah yang membanjiri sekitar kepala wanita tersebut. Shena berpegangan pada mobilnya dan menutup mulutnya dengan tangannya. Situasi seperti ini tentu saja masih menyisakan trauma pada diri Shena sejak kematian tragis kakeknya.

Shena menghirup oksigen sebanyak-banyaknya lalu mulai mendekati tubuh yang tergeletak itu. Tangannya merogoh ponsel di sakunya.

“Yeoboseyo, Sehun oppa,”

Sehun sedang menuliskan resep obat untuk Cheonsa yang hari ini kembali menjalankan terapinya. Hari ini Cheonsa datang ke rumah sakit seorang diri karena Chanyeol sedang mempersiapkan beberapa hal untuk hari pertunangannya dengan Cheonsa yang akan dilaksanakan sekitar 2 minggu lagi.

Tiba-tiba handphone Sehun berdering menandakan adanya panggilan masuk. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, Sehun langsung menerima panggilan masuk tersebut.

“Mianhamnida. Aku sedang sibuk. Hubungi–,”

Sehun oppa, jebal. Aku menemukan wanita tak sadarkan diri di tepi jalan. Kepalanya mengeluarkan darah.. Aku..bagaimana..” suara di seberang sana terdengar begitu panik.

“Mworago? Yak..tenangkan dirimu. Chamkaman,” Sehun langsung berdiri dari tempat duduknya dan beranjak keluar dari ruangannya setelah ia sadar kalau ada Cheonsa di sana. Cheonsa tidak boleh tau kalau yang meneleponnya saat ini adalah Shena. “Aku keluar sebentar,” bisik Sehun pada Cheonsa yang masih memandang dengan penuh tanya pada Sehun.

Oppa, apakah wanita ini masih hidup? Eottokae arra? Kepalanya berdarah..eottokae? aku tidak tau nomor rumah sakit di sini, oppa..”

“Shena-ya. Dengarkan aku. Kau masih ingat cara memeriksa denyut nadi yang aku ajarkan padamu dulu? Sekarang lakukan itu,”

Hmm..oppa aku bisa merasakannya! Dia masih hidup!” suara itu terdengar begitu antusias membuat Sehun turut membayangkan bagaimana wajah Shena yang sedang panik sekaligus excited saat ini.

“Good. Sekarang, apa kau punya sesuatu seperti kain yang bisa digunakan untuk membalut luka?”

“Chamkaman… aku punya slayer, oppa. Apa ini bisa dipakai?”

“Sekarang coba kau balutkan slayermu pada luka di kepalanya—ah, lukanya di kepala bagian depan atau belakang?”

Hmm, sepertinya di belakang, oppa,”

Ah, kalau begitu buat lebih tebal di bagian belakang kepalanya agar pendarahannya berhenti. Arraseo?”

“….”

“Shena-ya? Eotte?”

“Aku sudah membalutnya, oppa!”

“Charasseo! Nah, sekarang, coba cari taxi. Tinggalkan saja mobilmu di sana. Aku jamin di sana aman,”

“Arraseo, Sehun oppa. Kamsahamnida untuk pertolongan pertamanya,”

“Ne, Shena-ya. Hati-hati dan jaga kesehatan. Kabari aku setelah ini, hm? Keuno,” Sehun menutup telepon sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Gadis itu selalu membuat kejutan. Semoga ia baik-baik saja, pikir Sehun. Ia pun kembali masuk ke ruang kerjanya.

“Maaf membuatmu menunggu,” ujar Sehun pada Cheonsa sambil kembali duduk di kursi kerjanya. Cheonsa mengangguk menanggapinya.

“Apa ada sesuatu yang terjadi? Sepertinya kau panik sekali tadi,” tanya Cheonsa sambil menatap Sehun.

“A-ani. Tadi temanku meminta sedikit bantuan,” jawab Sehun lalu tersenyum pada Cheonsa. “Oh iya, kenapa hari ini Chanyeol tidak datang?”

“Hmm, Chanyeol sedang mempersiapkan sesuatu,” jawab Cheonsa singkat. Haruskah aku membahasnya sekarang? pikir Cheonsa. Ia memang berniat memberikan undangan ke pesta pertunangannya dengan Chanyeol hanya untuk mengetahui bagaimana reaksi dari Sehun.

“Mwonde?” tanya Sehun sambil meneruskan kegiatannya menulis resep yang sempat tertunda tadi.

“Acara pertunangan,” jawab Cheonsa cepat sambil menatap Sehun dengan lekat. Jawaban Cheonsa sukses membuat Sehun menghentikan kegiatannya lagi dan mengalihkan pandangannya pada yeoja cantik di hadapannya itu.

“Ne?”

“Igeo..” Cheonsa mengeluarkan selembar undangan pertunangannya dengan Chanyeol dan menyerahkannya pada Sehun. Sehun menerima undangan itu dengan ragu. Ia sudah bisa menebak apa isi undangan tersebut, tapi matanya tetap ingin memastikan kebenarannya. Berharap jika apa yang ada di pikirannya itu tidak benar.

Sehun mengepalkan tangannya begitu erat saat matanya menemukan nama Cheonsa dan Chanyeol di sana. Ia sangat ingin merobek undangan yang dipegangnya saat ini dan menumpahkan segala tanya dan emosi yang ada dibenaknya sekarang. Namun ia tau, ia harus menahannya jika ia tidak ingin kehilangan Cheonsa lagi.

“Dua minggu ini, aku minta kesempatan terakhir untuk menghabiskan waktu denganmu,” ujar Sehun sambil menatap Cheonsa dengan lekat. Cheonsa benar-benar terkejut dengan reaksi Sehun mengenai hal ini. Apa yang dikatakan Sehun sangat bertolak belakang dengan apa yang ada di pikiran Cheonsa. Ia kira Sehun akan menghujaninya dengan pertanyaan mengenai pertunangan ini. Namun ternyata tidak sama sekali. Apakah Sehun sudah benar-benar akan melepaskan Cheonsa? Tanpa Cheonsa sadari, ada sedikit perasaan tak rela saat mengetahui Sehun akan melepaskannya.

TBC^^

2 thoughts on “It’s Okay, We’re Gonna Be Okay (Part 3)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s