Please Hide My Identity – 4

please hide my identity

Please Hide My Identity Part 4

Scriptwriter: Charikha

Main cast: Park ae hyeon OC, Mark Tuan (GOT7)

Support Cast: GOT7 member, Gongchan B1a4, Kim Yoora OC, Miss A, Apink

Genre: School Life, Romance, Drama, Sad

Rating: PG-15

Duration: Chaptered

Previous part: 1. 2. 3

Enjoy the show. . . .

“selamat datang miss. Park” Sambut Mr. Han dari balik pintu gerbang rumah

Beberapa Asisten Rumah Tangga mulai meminta hyeon untuk dibawakan tas yang ada dipunggungnya namun hyeon tetap pada pendiriannya yang selalu ingin membawa tasnya sendiri. Bunga lavender menjadi wewangian khas ketika memasuki bagian ruang tamu rumah yang bergaya klasik ini. Hyeon terus melangkahkan kakinya menaiki anak tangga yang mungkin jumlahnya lebih dari 10. Saat tiba diatas lantai 2 hyeon langsung menuju ke kamar pribadinya yang memiliki luas 400m2 yang mungkin sangat cukup untuk tempat bermain futsal. Tasnya yang berbahan kulit diletakkannya di atas meja belajarnya yang terbuat dari gabungan marmer dan batuan lainnya. Hyeon membaringkan tubuhnya diatas kasur yang lagi-lagi bahannya terbuat dari bulu-bulu angsa import sehingga membuatnya nyaman dan rileks. Mata gadis itu terpejam bukan karena lelah tapi karena dirinya mengingat sesuatu hal.

Flashback

“dimana rumahmu?” tanya jaebum saat kami duduk bersampingan di dalam subway

“em.. daerah myeongdong” aku menoleh kearahnya lalu kembali menatap lurus ke seberang tempat duduk yang ada di depanku

“o. . apa lukamu masih sakit?” jaebum melihat ke arah pipiku dan meraba lembut plester transparannya

“igo” aku menjawabnya lalu meraba pipiku tapi tak sengaja tanganku dan tangannya saling bersentuhan

Karena kejadian tadi membuat ku dan jaebum terdiam sesaat karena kami merasa canggung satu sama lain. Setelah beberapa menit aku memberanikan diri memulai pembicaraan.

“plester ini, Gamsahamnida sunbae” tatapanku masih memandang lurus kedepan

“sunbae? Apa tidak terlalu formal?”

Aku yang terkejut dengan pembicarannya menoleh kearahnya dan ternyata jaebum sedang memberikan senyum terbaiknya padaku ditambah dengan senyuman matanya yang segaris.

“mwo?” ku berkata lembut

“mulai detik ini aku tak kan membiarkanmu menangis”

Flashback end

Hyeon masih memejamkan matanya, pikirannya masih melayang-layang dengan kata-kata jaebum yang didengarnya saat pulang sekolah. “really I don’t understand what he said”. Saat hyeon mulai membangunkan dirinya dari kasur kesayangannya itu suara ketukan pintu terdengar nyaring ditelinganya. Hyeon berjalan kearah pintu dan didapati eommanya berdiri menggunakan pakaian gaun berwarna hitam elegan.

“hyeon kau belum bersiap kenapa masih mengenakan seragam?”

“memangnya kita akan kemana?”

“kita akan makan malam diluar, eomma ingin membicarakan hal penting” pandangannya kini beralih kearah seragam hyeon namun sepertinya bukan pada sweater yang dikenakan putrinya, Pandangannya tertuju pada name tag yang terpasang di dada gadis itu yang bertuliskan Angela Park

“kenapa kau mengenakan name tag Angela?”

“o ini” dengan cepat hyeon menutupi name tagnya dan melepasnya

“sepertinya tertukar, ini milik temanku eomma. Aku akan menukarnya besok” Seperti biasa hyeon tersenyum dikala sesuatu yang sudah pada posisi genting

“sweetheart, kenapa dengan pipimu?” Ae kyung memegang plester transparan itu

“auh,,ini hanya luka kecil eomma, aku kurang berhati-hati saat di toilet institute” lagi-lagi senyumnya di perkuat agar eommanya tidak mengetahui kalau dirinya sedang akting.

“baiklah, cepat ganti pakaian. Eomma tunggu di bawah arra” Park Ae Kyung berjalan ke bawah tangga dan mengilang di balik perbatasan lantai 1 dan 2.

*****

Tiada yang paling indah disaat pagi hari menjelang suasana yang begitu sejuk, burung-burung berkicau dan angin semilir membuat hyeon merapatkan jaket sekolahnya. Hyeon berjalan kaki menuju subway. Kali ini dia berjalan santai menikmati udara yang begitu dingin. “tidak ada mobil, tidak ada para bodyguard, tidak ada tugas, just feel free” hyeon selalu berceloteh menuangkan segala perasaannya yang sangat bahagia. Tak terasa langkahnya telah tiba di halaman institute kali ini senyumnya mulai hilang dari paras cantiknya karena semua siswa memandanginya seperti saat pertama kali menginjakan kaki di institute. “what’s the matter” hyeon terus berlalu tanpa memperdulikan siswa yang memerhatikan dirinya sesekali hyeon mendengar bisik suara yang mengatakan dirinya jahat atau mengatakan dirinya mencari mati. Hyeon tak mengerti dengan semua omongan yang di bicarakan siswa-siswi tersebut hal ini membuatnya ingin sekali cepat memasuki kelas agar dapat menanyakan pada temannya.

“yoora-yah” hyeon berteriak saat baru masuk ruang kelasnya namun alangkah terkejutnya hyeon saat didapati seluruh kelas memandanginya dengan tatapan berbeda dari biasanya walaupun tak sepatah katapun keluar dari teman sekelasnya itu. Mereka hanya diam dan menatap tajam hyeon.

“akhirnya kau datang juga angela, kau dalam masalah besar” ujar yoora langsung menghampiri dan menarik tangan hyeon kemudian duduk

“masalah apa yoora? Pagi-pagi kau ini sudah mengagetkanku saja” hyeon berbicara sambil menaruh tasnya diatas meja

“kau belum lihat papan pengumuman nilai pagi ini?”

“belum, memangnya—oh. . apa nilai sketsa ku buruk?”

“bukan buruk lagi tapi sangat buruk, ayo ikutlah”

Yoora menggandeng tangan hyeon lalu diikuti chan yang berjalan di belakang kedua gadis yang memiliki tinggi hampir sama itu. Sepanjang jalan hyeon menerka-nerka hasil dari sketsanya itu apakah ia akan mendapat nilai 0 atau tidak mendapatkan nilai sama sekali. Ruang seperti aula tanpa sekat kini sudah mulai terlihat disanalah semua papan pengumuman penilaian dari segala jurusan di pamerkan. Keadaan pagi ini di lokasi itu sangatlah ramai bisa dibilang sangat padat terutama pada bagian jurusan visual art. Hyeon dan yoora menerjang badai orang-orang yang sedang melihat pengumuman.

“permisi. . beri aku jalan” kata yoora sambil mengeser siswa lainnya

Yoora yang ada di depan hyeon memudahkan jalannya karena kerumunan orang kini telah diatasi yeoja yang hari ini tetap mengikat rambutnya itu lalu hyeon melihat pengumuman dengan mata yang di sipitkan sebab hyeon merasa takut akan nilainya yang kecil. Telunjuknya menderetkan urutan dari urutan paling bawah namun namanya tak ada dilanjutkan kederet berikutnya deret pertengahan juga tidak ada namun saat telunjuknya berarak kebagian atas namanya tertera. ANGELA PARK 100. Namanya tertera diurutan pertama setelah Chan yang berada di posisi ke dua dengan poin 99.

“this is impossible. Yoora-yah igo jongmal?”

“ne, jongmalyo”

Hyeon sangat senang mendapati fakta bahwa sketsa miliknya yang di gambar tempo hari mendapatkan nilai yang sempurna dari cho seonsaengnim.

“orang ini tak tau malu, kurang ajar sekali” kata siswa-siswi lain yang berkerumun di depan papan hasil karya yang juga bersebelahan dengan papan pengumuman nilai

“angela lebih baik kau keluar saja dari institute daripada kau melukai idola kami” beberapa siswa mengatakan hal yang sama

Hyeon tidak mengerti dengan apa yang di katakan siswa lainnya, hyeon merasa bingung. “apa aku salah mendapatkan nilai 100?”

“bukan nilaimu yang salah tapi lihatlah disebelahmu, karyamu di pajang dan semua siswa telah melihat sketsamu” yoora menjelaskan dengan wajah yang penuh khawatir pada temannya itu.

Saat hyeon melihat kearah papan mahakarya benar sekali sketsa gambar tepatnya sketsa wajah mark terpajang rapi dengan ukuran sangat besar menutupi 1 karya yang sebelumnya juga terpajang. Mata hyeon sama sekali tidak berkedip ini pukulan besar baginya, mau di taruh mana wajahnya kini. Sketsa wajah mark ditambah keterangan yang dibuat oleh cho ssaem membuat bulu kuduk hyeon berdiri.

Sketsa wajah abstrak: wajah yang penuh dengan ekspresi kekacauan, kebimbangan dan tidak beraturan. Kesempurnaan sketsa ini terlihat dari bentuk mata, bibir dan tulang rahang. Sumber: Mark tingkat 2 jurusan music. Pelukis: Angela Park

Dua detik setelah hyeon membaca keterangan sketsa tersebut rasanya hyeon ingin sekali merobek hasil karyanya karena hyeon tidak menyangka karyanya ini akan di pamerkan, walaupun ia menggambar wajah mark tapi didalam hatinya ini tidak boleh terjadi karena akan sangat melukai perasaan mark. “kau harus segera menemui cho ssaem sebelum got7 mengetahui hal ini” bisik yoora dari arah belakang. Sorak-sorai penghinaaan seperti “huuuu”, “eyyy”, atau teriakan “yaaah!” sudah mulai terdengar di telinga hyeon mereka semua tidak menyukai jika mark di hina seperti ini karena mereka semua adalah penggemar setia mark. Bola-bola kertas sudah mendarat di wajah hyeon terutama di kepalanya

“rasakan ini kau anak baru yang sombong” lemparan bola kertas mengenai mata hyeon

Hyeon tidak tahu apa yang harus dia lakukan ditengah kerumunan siswi-siswi yang terlihat marah. Yoora ingin sekali membantunya keluar namun apa daya yoora seorang wanita tak mungkin menerjang kekuatan para penggemar kelompok popular yang sedang marah. “auh,appo” hyeon berteriak dan tiba-tiba chan yang tadi tak tahu berada di mana kini sudah ada memeluk hyeon tangannya yang lihai berada diatas kepala hyeon melindungi dari serangan lemparan bola kertas tangannya yang satu memeluk hyeon seakan tak ingin melepaskannya walaupun ada guru yang melihatnya pikiran chan saat itu adalah menyelamatkan hyeon dan melindunginya hingga sampai ditempat yang aman.

****

Kerumunan masih saja menetap di aula tempat di mana semua nilai dan hasil karya siswa dan siswi institute di pamerkan. Bel tanda akan dimulainya pelajaran sudah bordering membuat semua siswa kembali ke kelasnya lagi. Anggota kelompok popular Got7 pun juga melangkah ke kelas. Mereka berjalan santai tanpa harus menebar senyuman, kali ini pun bambam absen mendapatkan makanan dari para fansnya.

“kenapa hari ini tidak ada penggemarku ya?” ujar bambam yang dari tadi celingak-celinguk

Jinyoung merasa ada yang aneh dengan keadaan institute pagi ini, hal ini membuatnya ingin sekali mengetahui apa yang terjadi.

“Hey apa yang kau lihat?” Jin Young bertanya pada 2 orang siswi yang masih berada di depan papan pengumuman hasil karya jurusan visual art.

“omona. . JinYoung sunbae. Ini kami melihat Mark sunbae di permalukan oleh seorang siswi” jawab siswi yang memiliki nama bomi

“ne..aku ingin sekali memberi perhitungan padanya karena sudah mempermalukan mark sunbae” tambah eun ji yang memang sangat menyukai mark karena mereka 1 gedung 1 jurusan walaupun berbeda tingkat kelas.

“jjinja? Mark hyung dipermalukan?” dengan cepat jinyoung memberitahu temannya yang sedikit berada jauh dibelakang langkahnya.

“yedera ppalli?” panggil jinyoung kepada teman-temannya itu

“mwo hyung?” tanya youngjae

“wae hyung?” tanya yugyeom

Saat mereka bertujuh sampai di depan gambar sketsa rasa geli yang mereka rasakan sudah tak tertahankan lagi tawa mulai memecahkan suasana aula yang hening.

“ha. .ha. .ha” tawa lepas jaebum

“ige mwoya, , ha..ha” lanjut tawa keluar dari mulut jinyoung sambil menunjuk ke arah sketsa wajah temannya itu

jackson tentu saja yang paling senang dengan gambar tersebut, Jackson memeragakan wajah mark seperti yang di gambar kemudian tertawa saat melihat wajah asli mark.

“irreoke hyung, , “ senyum Jackson melanglang buana

Semua member tertawa bahagia terkecuali mark yang sedari tadi memperhatikan sketsa dan melihat dengan tajam siapa yang menggambar wajahnya itu.

“perbuatan siapa ini?” ujar mark dengan wajah seriusnya

“sudahlah hyung anggap saja ini teguran buatmu supaya kau itu berekspresi” celetuk yugyeom sambil memegangi perutnya akibat tertawa berlebihan

“neo gwenchana sunbae?” tanya eunji dengan memegang pundak mark

“lepaskan tanganmu dan kembalilah kekelas!” ucap mark datar dengan tetap pandangannya kearah gambar tersebut.

Kedua siswi tersebut akhirnya meninggalkan Got7 di depan papan pengumuman. Mark masih saja berdiri didepan sketsa dengan mengepalkan tangannya. Teman-temannya sudah berlalu dari aula namun jinyoung menyadari bahwa mark tertinggal lalu ia kembali untuk menjemput mark.

“hyung, sudahlah ini sudah jam pelajaran sebaikanya kita masuk kelas. Ini hanya gambar hyung sudahlah, kajja” ajak jinyoung, jin young tau benar mendinginkan mark

Mark yang masih marah mengikuti ucapan jin young dan berjalan beriringan dengannya menuju koridor ke gedung 4.

Hyeon POV

“perlu aku temani ke ruang cho ssaem?” ujar chan menawarkan diri kepada hyeon

“ania, tak perlu aku bisa sendiri chan-ah” tolak lembut hyeon

“tapi bagaimana kalau mereka mengerjaimu lagi?”

“tidak akan chan tenanglah” kali ini aku menenangkan chan dengan memegang bahu chan dan memberikan senyuman hal ini membuatnya senang luar biasa

Aku melanjutkan perjalanan menuju ruang cho ssaem yang berdekatan dengan ruang ji ssaem. Ini karena kelasku sedang tidak ada guru sehingga mempermudah ku yang ingin menuju ruang guru. Dalam perjalanan tentu aku melewati aula dimana terdapat gambar yang membuat ku memiliki masalah di institute ini. Sesekali aku melihatnya—tidak—aku hanya meliriknya, aku tak akan lagi membuang-buang waktu untuk segera meminta cho ssaem menurunkan sketsa gambarku.

“yah, neo!” teriak seorang gadis dari arah belakang

Langkahku terhenti dan aku menengok kearah belakang. Ku dapati 6 yeoja yang sungguh modis dengan memakai aksesoris bermerk.

“maaf kau memanggilku?” aku menunjukan jari telunjuk ke wajah ku sendiri sambil menoleh kanan-kiri ku pikir mereka salah memanggil orang

“tentu kau siswi babo” ujar eunji dengan penuh amarah

“jaga ucapanmu agashi” aku memberanikan diri melawan perkataannya dengan lebih sopan

“cih, seharusnya kau yang jaga ucapan dan tingkahmu yang bodoh itu” eunji dan teman-temannya kini mengelilingiku dengan paras yang begitu memancarkan rona penuh benci

“maaf tapi aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan”

“jangan pura-pura tidak tau, kau kan yang menggambar wajah mark sunbae seperti itu!”

“sudahlah eunji-yah kau tak perlu basa-basi dengannya” tambah chorong yang memajukan 1 langkah ke sisi kiri ku

“o..soal itu aku memang ingin me-“ belum selesai aku menjelaskan eunji memotong pembicaraanku dan meletakan tangannya tepatnya dia mencengkram kerah seragamku erat.

“aku peringatkan kau untuk hati-hati, mark sunbae itu milikku jika kau melukainya seperti ini aku tidak akan tinggal diam. Apa kau ingin merasakan basement bawah tanah? Kau sepertinya memang Per” Ucapan eunji terputus ketika 1 suara muncul

“yah. .yah. . yah sedang apa kalian?” ji ssaem berjalan membawa beberapa buku

Eunji segera melepaskan cengkramannya dari kerah seragamku, namun matanya tetap memandang tajam ke arahku. Sepertinya eunji memang tak menyukaiku

“kali ini kau lolos tapi lain kali kau akan mati” ucap eunji sepersekian detik sebelum kedatangan ji ssaem yang sudah tepat berada ditengah-tengah kami

“kalian berkelahi? Kau tau pasal 5 bagi siswa dan siswi yang berkelahi akan dikenai sangsi membersihkan basement yang horror itu” ji ssaem mulai berceloteh

Aku hanya bisa terdiam karena memang aku dalam posisi yang salah.

“Ssaem kami hanya berkenalan lagipula kami ingin menuju ruang alat musik tak sengaja bertemu dengan gadis ini lalu kami . . . “

“sudahlah kalian cepat keruang musik! Dan kau angela tetap disini”

Mereka berlalu melewati ku namun eunji berjalan dengan menabrakkan bahunya pada bahu ku. Akhirnya aku bisa bernafas lega karena jauh dari eunji dan kawan-kawan entah kenapa atmosfir yang mereka bawa berbenturan dengan energiku.

“aku tau sebenarnya mereka sedang berulah terhadap mu angela karena aku tau mereka suka membuat ulah.”

“mianhe ji ssaem” aku menundukan kepala sejenak

“karena kau ini anak Ae Kyung aku tak kan membiarkan dirimu disakiti oleh siswa lainnya. Masuklah ke kelasmu, tidak baik berkeliaran dijam pelajaran”

“gamsaheyo ji ssaem. Kelasku sedang tak ada guru lagipula aku ingin menemui cho ssaem. Permisi Ssaem” aku berjalan menjauhi ji ssaem yang juga berjalan bertolak belakang menuju gedung 4

CHO SSAEM ROOM

“Seonsaem, bisa kah kau menurunkan sketsa itu dari papan mahakarya?”

“jadi kau kesini hanya ingin mengatakan hal itu, aku pikir kau ingin mengucapkan terima kasih.”

“baiklah, aku sangat berterima kasih tapi ssaem ini membuatku tidak nyaman. Aku merasa tak enak dengan Mark sunbae. Lagipula seharusnya sketsa itu hanya ditumpuk dan menjadi arsip guru ya kan?”

“sketsamu itu bagus angela mungkin jika aku menjualnya akan mendapat royalti 1 juta won. Aku tak akan menurunkan sketsa itu”

“Baiklah kalau ssaem tak ingin menurunkan aku akan memberitau ji ssaem tentang pameran yang ada di daerah suwon. Lukisan wajahnya, kira-kira apa yaa reaksi ji ssaem ketika wajahnya di pamerkan di publik?” aku menakut-nakuti ssaem agar mau untuk menarik kembali sketsaku

“bagaimana kau tau?” jawab ssaem dengan intonasi yang mulai gugup

“aku melihatnya, wajah itu cukup kacau ssaem lebih parah dari sketsa yang ku gambar. Hmm ji ssaem mungkin akaaannn. . . .”

“b-baiklah akan ku turunkan sketsamu, kembalilah ke kelas”

Bibirku langsung tertarik kedua arah yang berbeda, senyuman kemenangan ku dapatkan.

****

FIUH. . . aku berjalan masuk kedalam kelas

“angela eotte?” sambar yoora yang sejak tadi telah menanti kehadiranku

“birkan dia duduk dulu. Duduklah angela” ujar chan

“sketsa itu akan di turunkan, semuanya beres” aku menghela nafas panjang

“untung saja anak-anak kelas tak mempermasalahkan sketsamu karena menganggap itu seni tidak dengan murid yang lain yang tidak tau seni” Emosi yoora mulai memuncak melihat kesulitan yang dihadapi temannya itu

“minumlah ini, kau terlihat lelah angela” chan memberikan sebotol minuman energy

“gomawo chan-ah” aku meminumnya hingga air berwarna ungu itu tak terlihat lagi dalam botol

“mau apa anak manja itu datang ke kelas ini” chan berbicara ketika melihat mark telah berdiri diluar pintu kelas visual art

“nuguya?” Yoora membalikkan badan dan menoleh kearah pintu

“daebaaaaakkk….waaaaaa” histeris yoora mulai memecahkan suasana kelas yang hening

“maaark sunbaaaeeee” teriak siswi-siswi lainnya

Semua siswi-siswi mencoba untuk lebih dekat dengan mark, mereka semua menghampiri namja yang penuh karisma itu tak terkecuali yoora yang sudah tepat berada di depannya. Aku melihatnya, melihat matanya serius menatapku seperti tempo hari diruang ji ssaem. Tanganku mulai gemetar, aku merasa takut dengannya. Chan yang berada di sebelahku memegang tanganku yang terlihat jelas dimatanya sedang bergetar. “tenanglah,aku akan melindungimu”. Chan bangun dari tempat duduknya dan berdiri dengan tetap menggenggam tanganku. Manik mata chan menatap iris mata mark.

“tampan sekali yaa” pekik salah satu siswi berkacamata

“sunbae k-kau mencari apa di sini? Emm kenalkan aku yoora” yoora langsung membuka pembicaraan dengan mark namun mark tetaplah mark, tidak ada yeoja yang berhasil berbicara dengannya lebih dari 5 menit

“angela” mark melenggangkan langkahnya masuk kedalam kelas. Tempat duduk dimana angela duduk adalah tujuan langkahnya. Tak dihiraukannya ucapan yoora di pintu, membuat yoora sedikit kecewa.

“aku ingin bicara denganmu!” mark mengatakan dengan nada datar namun tajam

Aku tidak menjawabnya, aku hanya menatapnya dengan tatapan penuh ketakutan. Ku genggam tangan chan lebih erat. Ini Membuatnya mengerti kalau aku merasa tidak nyaman dan ketakutan.

“kalau kau ingin bicara, bicaralah. Angela akan mendengarkannya” chan membantu membelaku di depan mark sunbae

Mark sunbae masih menatapku tajam, setelah chan mengatakan perkataan tadi tentu saja membuat mark semakin geram. Entah mengapa aku mengetahui ekspresi wajahnya yang kini terlihat sangat menahan amarahnya. Tiba-tiba saja mark memalingkan wajahnya ke gongchan sontak terjadi perang dingin diantara mereka.

“apa kau baby sisternya?”

“aku namjachingunya, kalau kau ingin berbicara bicaralah!” chan menaikan nada suaranya

“tsk,keterlaluan sekali ucapannya” ku berkata dalam hati

Mark melebarkan sudut bibirnya “apa kau sudah bosan di institute ini?”

Aku tau pasti mark akan mengatakan hal itu, sebelum hal buruk terjadi pada teman baikku. Aku melepaskan genggaman chan dan berusaha melindungi chan dari hal buruk yang akan dilakukan mark.

“baiklah sunbae, aku akan berbicara padamu diluar. Jangan kau libatkan temanku” aku berdiri dari kursi lalu menatap chan yang juga menatapku

“great, follow me” ucap mark singkat dan berjalan kearah luar kelas

“angela tapi ini akan ber—“ chan mengatakan sesuatu namun kuputus ucapannya

“chan ini masalahku, aku tak akan membiarkanmu keluar dari institute ini” aku langsung pergi keluar kelas mengikuti langkah kaki mark sunbae

Author POV

Kelas koreo masih terlihat kosong karena ini masih hari dimana Miss. Kim ijin sakit. Kali ini para maknae mengikuti keinginan sang leader berlatih koreo untuk pertunjukan showcase. Mereka berkumpul di ruang khusus untuk kelompok popular sebuah ruangan seperti Studio dance dan beberapa pernak-pernik pendukungnya seperti sebuah tape besar lengkap dengan soundsystemnya. Cermin besar berukuran raksasa cukup sekali menampung ketujuh pantulan refleksi bayangan mereka namun kali ini bayangan menjadi delapan karena miss suzy ikut dengan mereka untuk melihat latihan.

“ayo mulailah” ujar suzy yang duduk manis di kursi sofa belakang cermin

“andwea, jika tidak lengkap maka kami tidak akan mulai” jelas jaebum pada suzy teman dekatnya itu

Suzy mengerti dengan gaya bibirnya yang terlihat membulat penuh membentuk huruf o

“mark hyung lama sekali” kata bambam yang sudah tak sabar ingin melatih koreonya

Mereka bertujuh asik mengobrol sambil memutarkan lagu mereka yang akan dinyanyikan saat showcase. Namun saat pertengahan musik diputar terdengar derap langkah yang jelas sedang menuju kearah ruang khusus ini. K R E K suara khas yang terdengar dari knop pintu membuat semua mata tertuju ke arah datangnya mark namun ke tujuh pasang mata terbelalak saat melihat mark datang bersama seseorang yang tidak lain adalah angela

“yes hyung kau baik sekali mengantarkan yeoja ku kemari” dengan fantasinya Jackson langsung mengeluarkan kata-kata yang menurut jaebum sangat menjijikan

“kenapa kau membawanya kemari?” tanya jaebum

“ey,,nuguya” suzy ikut berceloteh

Tidak tau lagi perasaan hyeon sekarang, takut, sedih, gelisah, gemetar. Tak ada lagi yang menggenggam tangan halusnya untuk sekedar menenangkan hatinya. Hyeon mengikuti mark kemari karena hyeon memang salah terhadapnya sehingga hyeon akan melakukan apa yang diminta mark agar dapat memaafkannya. Hyeon membungkukan badan ketika bertemu dengan got7 dan suzy, wajahnya yang sedikit pucat tentu sangat membuat jaebum khawatir.

“yorobun, lihatlah pelukis handal kita. Beri tepuk tangan” mark dengan semangat bertepuk tangan dan tersenyum

Keadaan di dalam ruangan tentu saja hening karena mereka Shock melihat mark melakukan hal diluar dugaan

“hajima hyung” tutur jaebum lalu beranjak mendekati hyeon

“jaebum stop… kalian duduk saja lihatlah dia ingin mengatakan sesuatu” mark memberhentikan langkah jaebum

Sebenarnya Tak ada yang ingin hyeon katakan namun ini adalah paksaan dari mark apabila tidak melakukannya maka hyeon tidak akan melihat chan lagi di institute ini. Hyeon memajukan langkahnya kedepan dan menghadap ke arah tujuh sunbae yang menatapnya terpaku.

“Jwesongheyo sunbaedeul, aku meminta maaf atas kelancanganku menggambar mark sunbae seperti itu. Aku tak akan mengulanginya lagi” hyeon membungkukan badan lalu sesuai keinginannya gadis cantik itu mulai menggoyangkan pinggulnya 2 kali kekanan dan kekiri kemudian berjongkok lalu berdiri begitu terus dia lakukan hingga beberapa hitungan.

Mark tersenyum dan terlihat sedikit mengeluarkan suara seperti tertawa namun bagi teman-tamnnya ini sangat tidak lucu bahkan bagi bambam yang lebih muda juga tau bahwa ini sangatlah kejam.

“Mark hyung hentikan,tolonglah” pinta Jackson lirih

Junior berjalan mendekati mark lalu memintanya untuk menghentikan ini semua karena diantara ketujuh namja tampan ini jinounglah yang paling tidak bisa dengan hal yang berbau kekerasan terhadap seorang wanita.

“mark!” suzy pun ikut bersuara

“teruskan!” ucap mark

Hyeon terlihat sudah lelah karena dari mulutnya terdengar hitungan yang sudah mencapai 20. Hyeon sebenarnya sudah tak tahan lagi namun hitungannya harus diteruskan hingga angka 50 itulah yang diminta mark padanya. Bola mata hyeon yang berwarna coklat kebiruan sudah terlihat berkaca-kaca bagaimana tidak hukuman seperti ini dilakukan didepan anak laki-laki seperti dipermalukan didepan umum. “angela berhenti!” jaebum berteriak hingga menggema keseluruh sudut ruangan. Jaebum mendekati hyeon dan memegang tangangannya lalu memaksa gadis itu untuk berhenti.

“angela hentikan, sudah cukup” jaebum masih memegang tangannya erat

“hyung kali ini kau sangat keterlaluan, angela sudah meminta maaf apa kau tidak bisa memaafkannya? Kalau kau begini padanya aku akan melindunginya” perkataan jaebum sontak membuat mark terkejut dan juga boneka cantik suzy terperangah dengan perkataan jaebum.

“sunbae,sudahlah aku tak apa” tutur hyeon dengan lantunan suara yang lemas

“kau ingin menjadi pahlawannya?” mark berada tepat di depan wajah jaebum, mereka berdua saling berpandang seperti orang yang siap untuk berkelahi.

“hey..hyung” jinyoung menjauhkan mark dari jaebum dibantu oleh Jackson

Bambam, yugyeom dan youngjae menahan agar jaebum mundur dan tidak lepas kendali karena jika jaebum marah maka seisi institute akan terasa seperti sedang dihantam oleh angin tornado.

“kembalilah kekelas, angela” jaebum menatap hyeon lalu menyuruhnya pergi

Hyeon tanpa pikir panjang langsung pergi keluar sebelum bulir air matanya terlihat oleh mereka. Hyeon secepat kilat berlari ke arah luar ruangan menyisakan anggota member yang kini berada dalam posisi yang masih panas. Beberapa Menit kemudian mark keluar ruangan setelah menggebrak sebuah meja mungil didekat sofa santai. Suzy memandang heran jaebum, teman dekatnya itu kini terlihat memihak pada yeoja berambut coklat itu. Sejak kejadian tadi Suzy akan terus mengamati angela karena dia telah merebut perhatiannya dari jaebum.

 

DI TANGGA GEDUNG JURUSAN MUSIK

Mark berlari sekuat tenaga agar dapat mengejar hyeon yang berjalan lebih dulu. Dari kejauhan mark sudah dapat melihat punggung gadis itu dan tanpa ragu mark mempercepat langkahnya agar dapat mendekati yeoja itu.

“angela”

“mwo? Tidak cukupkah kau menyakitiku?” hyeon melampiaskan kekesalannya

“bakankah ini adil, wajahku kau pamerkan dihadapan seluruh siswa-siswi dan kau hanya aku kenalkan dengan beberapa temanku”

“kenalkan dengan cara seperti itu! Heish, baiklah anggap saja ini impas” hyeon membungkukan badannya dan melanjutkan langkahnya namun saat langkah pertamanya lengan hyeon tertahan oleh genggaman mark

“tunggu”

“heish, apa lagi sekarang?”

“jam pulang sekolah tunggu aku di depan gerbang pukul 3.30 saat institute telah sepi. Jika kau tidak datang maka temanmu, kau tau sendiri” mark berlalu begitu saja pergi meninggalkan hyeon

“yaaah!!”

TBC

3 thoughts on “Please Hide My Identity – 4”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s