CHSJ (Part 1)

chsj

CHSJ

Cast:

Kim Jongin – Han Jieun – Oh Sehun – Jung Soojung

Scriptwriter: GSB (@sadanema)

Genre:

Angst, Friendship, Romance

Rating: PG – 15


Seoul, 2010

Halo semuanya, namaku Kim Jongin. Aku berasal dari Daegu dan baru saja pindah ke Seoul karena suatu alasan. Di Daegu aku tinggal bersama ibuku dan suami barunya atau sebut saja ayahku, ayah tiri maksudnya. Kehidupanku di Daegu baik-baik saja, meski sebenarnya sering kali aku dipukuli ayah tiriku, mendengar ibuku menjerit setiap kali mereka bertengkar, menelan kenyataan kalau sampai kapanpun ibu tak akan pernah membela diriku–walau suaminya itu kasar dan tukang mabuk, ibuku jauh lebih mencintai pria itu daripada diriku, ibuku juga lebih mencintai adik tiriku, dan satu hal lagi yang paling membuat kesal adalah ibu tidak bisa berbuat apapun saat pria itu tidak lagi bersedia membiayai iuran sekolahku dan membiarkanku putus sekolah.

Setelah membiarkanku putus sekolah, akhirnya ibupun putus asa pada segala hal terutama pada diriku. Sering kali aku menemukan dirinya tengah menangis tanpa bersuara sedikitpun. Setelah beberapa waktu berlalu, tangisan ibu akhirnya berujung pada sebuah keputusan. Ibu akan menyerahkan tanggung jawab atas diriku kepada ayah, maksudku ayah kandungku. Karena itulah aku pindah ke Seoul dan tinggal bersama nenekku. Meski seharusnya aku tinggal bersama ayah, namun tidak begitu kenyataannya. Ayah bilang aku akan tinggal di rumah nenek untuk sementara waktu, sampai ia bisa membeli rumah yang lebih besar yang bisa menampung istri barunya, anak-anak barunya, dan juga diriku.

Aku tak peduli apakah ayah sungguh-sungguh dengan ucapannya. Aku juga tak peduli dengan kenyataan bahwa nenek dan bibi Junhee benar-benar tidak menyukaiku, lagipula ibuku saja sudah tidak menyayangiku. Bukan masalah besar, kan? Aku sudah tidak peduli sekalipun tak ada orang yang mengharapkan keberadaanku. Aku tahu aku sangat mencintai diriku, kenyataan itu sudah cukup untukku bertahan.

****

Author POV

Rasa nyeri menerjang sekujur tubuhnya saat ia berniat beranjak dari kasurnya. Jongin mengembuskan napas perlahan, ia memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit yang menyerangnya tanpa ampun. Rintihannya terdengar pelan begitu kakinya menyentuh lantai dan melangkah masuk ke kamar mandi. Meski rasanya benar-benar tersiksa dengan rasa nyeri yang menghujam tubuhnya, tapi Jongin harus menahannya, ia harus bersiap sebelum bibinya datang dan meneriakinya.

Setelah ibunya menikah dengan Yoongil, Jongin sudah terbiasa diteriaki dan dipukuli. Ia sudah terbiasa diabaikan dan terbiasa juga dihina atas kesalahan kecil yang ia perbuat. Singkatnya ia sudah terbiasa diperlakukan dengan tidak baik. Sehingga ia tidak lagi menangis begitu sang ayah memukulinya kemarin malam. Ia dipukuli karena tak sengaja menghilangkan ponsel yang diberikan ayahnya. Ia sangat menyayangi ponsel itu, biar bagaimanapun benda itu adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya merasa senang. Ia ingin bilang pada ayahnya kalau ia sangat menyesal, namun ayahnya tak akan memberinya kesempatan untuk bicara. Ayahnya bukan pendengar yang baik, jelas-jelas ia adalah tukang pukul yang hebat.

Sambil mengaduh kesakitan ia memakai kemejanya, ia menatap sosoknya di dalam cermin. Tanda merah di pipi kanannya samar-samar masih terlihat. Ia menyesal karena tidak melindungi wajahnya dari serangan sang ayah tadi malam. Ia bisa bertahan diperlakukan tidak baik, namun ia tidak tahan dipandangi dengan rasa kasihan. Orang-orang di sekolahnya pasti akan meringis begitu melihat wajahnya dan menaruh rasa iba. Itu benar-benar mengerikan. Jongin tidak suka dipandangi seolah ia patut dikasihani.

Sekali lagi ia memandangi penampilannya sambil merapikan tatanan rambutnya. Setelah itu ia menyambar tasnya dan keluar dari kamar.

“Jongin, bisa bantu aku?” Itu Sinbi, putri bibi Junhee satu-satunya. Perempuan berusia dua puluh lima tahun itu merupakan satu-satunya penghuni rumah yang bersikap baik padanya.

Jongin menghampiri Sinbi dan membantunya tanpa banyak bertanya. Ia sudah mengerti dengan tugasnya di pagi hari, membantu gadis itu menyiapkan sarapan pagi dan mengatur meja makan. Ia sudah tinggal di rumah itu selama setahun, ia sudah mengerti dengan sangat baik apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan.

Aigoo, anak malas ini sudah bangun.” Kali ini suara bibi Junhee yang terdengar. Wanita paruh baya itu selalu mengatakan hal yang sama setiap kali menemukannya di meja makan pada pagi hari seolah ia benar-benar seorang pemalas. Padahal ia selalu bangun pagi dan membantu menyiapkan sarapan.

Wanita itu duduk di kursinya sambil meneguk air putih yang baru saja Jongin tuangkan. Seperti rutinitasnya setiap pagi, wanita itu selalu mengeluhkan berbagai hal, seperti halnya pelanggan di toko kosmetiknya, para tetangga yang menganggapnya sombong, bibi Bokyung si tetangga sebelah yang memiliki kulit lebih baik darinya, atau para pegawai di tokonya yang ceroboh. Namun Jongin melupakan satu hal, bibi Junhee tidak hanya mengeluh di pagi hari, melainkan setiap saat.

“–aku berani bertaruh kalau si Bokyung itu baru saja melakukan operasi kecil pada wajahnya. Lihat saja kulit wajahnya yang semakin kencang,” tandas bibi Junhee dengan nada iri.

Bibi Junhee adalah tipe orang yang akan bicara dengan keras seolah semua orang tertarik dengan ucapannya. Padahal baik ia dan Sinbi tidak ada yang tertarik mendengarnya, bahkan Sinbi terlihat mendenguskan napas sambil memutar bola matanya.

“Siapa yang melakukan operasi?” Nah, yang ini adalah Im Jae Suk, si nenek tua yang tak kalah kejam dari anaknya, Kim Junhee.

Wanita berambut putih itu langsung duduk di kursinya dan menatap hidangan di atas meja dengan penuh minat.

“Cha Bokyung, si tetangga sebelah. Aku melihatnya kemarin. Ia kelihatan tampak berbeda. Kulit wajahnya tampak lebih kencang dan tulang pipinya tampak lebih tinggi dari terakhir kali aku melihatnya. Wanita itu pasti itu telah melakukan operasi untuk mendapatkannya. Aigoo, ia pikir para pria akan melirik wanita tua seperti dirinya,” sahut bibi Junhee di tengah kegiatan mengunyahnya.

Sepertinya percakapan pagi hari ini akan berjalan dengan sangat seru dan Jongin berharap ia bisa menghabiskan makanannya dengan cepat. Duduk bersama seorang wanita tua yang begitu banyak bicara sangatlah menyebalkan, apalagi dua orang wanita tua sekaligus. Terlebih obrolan bibi dan neneknya benar-benar tidak menarik. Kedua wanita itu begitu senang membicarakan keburukan orang lain seolah mereka adalah manusia paling benar di muka bumi.

Jongin segera bangkit dari kursinya, membawa serta peralatan makannya ke bak cuci piring. Dengan cepat ia membersihkan semuanya dan meletakkannya ke tempat semula.

“Nenek.” Ia menghadap neneknya, kemudian beralih menatap bibi dan Sinbi secara berurutan, “Bibi, aku berangkat dulu.” Ia membungkukkan badannya dengan santun.

“Pergilah dan jangan membuat masalah lagi. Kau tidak ingin dipukuli ayahmu seperti tadi malam, bukan?” Pesan neneknya sebelum ia berlalu untuk memakai sepatunya.

Ketika ia memijak jalanan di depan rumah, ia mengembuskan napas lega. Akhirnya ia terlepas dari jeratan dua nenek sihir itu, walau hanya untuk beberapa jam saja. Tentunya ia akan kembali bertemu mereka setelah pulang sekolah. Namun bukan masalah besar, setiap hari ia menghadapinya, bukan?

****

Jongin bergeming menatap benda di atas mejanya. Mulutnya menganga lebar dan matanya tak berkedip selama beberapa detik. Ia dipukuli ayahnya dan harus menahan rasa sakitnya karena ketololan Oh Sehun? Demi Tuhan ia ingin mencekik pemuda di sebelahnya.

“Soojung membantuku untuk mengambil ponselmu kemarin. Hebat, kan? Kau pasti sangat terkejut.” Jongin beralih menatap Sehun sambil mendengus pendek.

“Benar, aku sangat terkejut sampai ingin membunuhmu.” Sehun tersentak mendengar suara Jongin yang begitu serius dan menyeramkan.

Biar bagaimanapun ia tidak bermaksud jahat. Ia, Soojung, dan Jongin memang biasa melakukan hal-hal semacam itu. Menjahili satu sama lain hingga membuat salah satu di antara mereka kesal. Namun baru kali ini Jongin semurka ini.

Aigoo, kenapa kau marah sekali? Kau benar-benar tidak tahu caranya bersenang-senang, ya?” Jongin berdecak sebelum akhirnya beralih menatap ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celana.

Setelah itu Jongin tak bicara lagi, ia duduk dengan pandangan menghadap ke depan. Melihat reaksi tak wajar pada diri Jongin, Sehun hendak menepuk bahunya dan kembali mengoceh. Namun semuanya tertelan kembali begitu menemukan tanda merah yang mulai berubah warna menjadi keunguan di pipi kanan Jongin. Seingatnya ia tidak melihat tanda merah itu tadi pagi. Sehun menelan ludahnya, perlahan ia menjulurkan telunjuknya untuk menyentuh tanda itu.

“Jangan menyentuhnya atau aku akan membuat tanda merah seperti ini di pipimu,” cegah Jongin.

Jongin tak mengalihkan pandangannya, ia masih menatap ke arah papan tulis di depan sana. Di sebelahnya, Sehun terdiam dengan rasa sesal yang tiba-tiba mencekiknya.

Jongin dipukuli ayahnya lagi. Lagi. Yah, ia sudah mengetahui sikap kasar ayah temannya itu. Bukan hal baru lagi menemukan Jongin meringis kesakitan ketika ia tak sengaja menepuk pundaknya. Bahkan Jongin pernah dipukuli karena ulah dirinya. Kalau tidak salah dua kali. Yang pertama karena ia mengajak Jongin pergi hingga larut malam dan yang kedua kalinya, karena Jongin membantunya melawan para berandal di sekitar sekolah. Dan karena dirinya juga, Jongin dipukuli lagi sekarang.

“Aku tidak melihat kalian di kantin. Tidak lapar, huh?” Sehun memutar bola matanya melihat Soojung yang datang dengan wajah kesal.

Astaga, bisa tidak gadis ini membaca situasi? Geram Sehun dalam hati.

Soojung duduk menghadap Jongin dengan menampilkan ekspresi kesal. “Ada apa? Sejak tadi pagi kau terlihat berbeda,” racau Soojung sambil meminum susu cokelatnya.

Jongin tak menjawab, bahkan pemuda itu tak berniat menatap gadis di hadapannya. Ia menjatuhkan pandangannya pada buku catatannya, singkatnya ia mengabaikan Soojung yang membuat gadis setengah ramah itu mendengus kesal kemudian melotot ke arahnya.

“Kau marah padaku? Karena ponselmu?” Soojung mendesah tak habis pikir.

“Yak! Lihat aku! Kim Jongin! Kau mengabaikanku, huh?”

Sehun berulang kali mengirim sinyal pada Soojung untuk menghentikan konfrontasinya dan meninggalkan Jongin sendirian. Namun gadis itu sangat tolol saat sedang marah. Gadis itu malah balik memelototinya dan meluapkan amarahnya dengan mencerocos panjang.

“Jangan menyuruhku diam! Kenapa aku harus diam? Aku ingin memberitahu pada anak ini kalau ia benar-benar–“

“Benar-benar menyebalkan, membosankan, dan menyedihkan.” Jongin akhirnya angkat bicara, ia menatap Soojung dengan luapan kekesalan yang tak dapat ia sembunyikan, hal itu membuat Soojung bertambah kesal.

“Kau–“

Jongin tak menanggapi kekesalan Soojung, ia beranjak dari kursinya dan bersiap untuk meninggalkan kelas. Ia mengayunkan kakinya tanpa peduli dengan sumpah serapah yang dilayangkan Soojung kepadanya. Ia terus berjalan dan sadar telah berada cukup jauh dari kelasnya.

Ia memang sudah terbiasa diabaikan dan kekurangan kasih sayang, tapi bukan berarti ia senang dipukuli. Ia tidak suka dipukuli terlebih atas sesuatu yang bukan kesalahannya. Saat dipukuli ia merasakan sesuatu dalam dirinya berteriak ketakutan, belum lagi rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya. Setelah ayahnya berhenti memukulnya, rasa sakit itu belum terasa jelas. Namun saat ia meringkuk di kasurnya barulah rasa sakit itu terasa sangat jelas dan akan semakin jelas begitu ia terbangun dari tidurnya.

Ketika ia keluar dari rumah ibunya, ia merasa cukup bersyukur karena setidaknya ia terbebas dari amukan Yoongil setiap kali pria itu pulang dalam keadaan mabuk. Namun ia lupa kalau sang ayah bisa memukulinya di saat pria itu dalam keadaan sadar.

Dalam kurun waktu setahun ia sudah sering dipukuli dengan berbagai alasan. Ia pernah dipukuli karena hal-hal sepele, seperti saat gurunya melapor pada ayahnya kalau ia sering tidak mengerjakan PR. Ayahnya bukan tipe orang tua yang mau mendengarkan keluhan anaknya dan mendiskusikan solusinya. Pria itu lebih percaya bahwa pukulan bisa membuat anaknya lebih patuh. Dan Jongin berusaha sebaik mungkin untuk tidak membuat masalah.

Namun usahanya sia-sia karena kedua orang temannya itu. Padahal sudah cukup lama ayahnya tidak memukuli dirinya, ia pikir hal itu akan berlangsung lebih lama. Ia tahu ini semua bukan salah Soojung dan Sehun sepenuhnya. Ayahnya tidak akan sebegitu marahnya kalau saja nenek dan bibinya tidak ikut campur. Yah, kedua nenek sihir itu memang senang melihatnya dipukuli.

Jongin menghentikan langkahnya, ia menatap pelakat besi yang melekat pada pintu di depannya. UKS. Setelah berpikir ulang, ia segera mendorong pintunya ke dalam. Ini bukan pertama kalinya ia masuk ke ruangan itu. Bisa dibilang ia sangat sering datang ke sana, entah karena membutuhkan obat merah, merasa pusing atau karena sekedar mencari-cari alasan untuk bertemu seseorang di sana. Ia memang suka berkunjung ke ruangan itu untuk bertemu dengan seseorang, ia bisa menemukannya kalau sedang beruntung. Dan kali ini ia sedang beruntung.

Ia menemukan gadis itu sedang menumpuk beberapa selimut ke dalam lemari bercat putih yang mulai keropos di sisi bawahnya. Tak lama berselang sosok itu berpindah ke rak tempat dimana obat-obatan berada. Gadis itu mengamati segalanya dengan cermat sambil menggumamkan sebuah lagu dengan nada sumbang.

Jongin berjalan ke arahnya dengan degup tak karuan. Ia melewatinya dan duduk di pinggiran kasur yang berada di ruangan itu. Gadis itu berhenti dan menatapnya sambil menggelengkan kepala. Dari tempatnya, Jongin bisa mendengar suaranya yang sedang menggerutu. Kedatangannya memang tak pernah disambut dengan senyum hangat atau tatapan penuh perhatian. Oh, mungkin pernah. Itupun saat pertama kali ia datang kemari, sebelum ia meneriaki gadis itu dan bersikap menyebalkan.

“Kau terlihat baik-baik saja. Kali ini ada apa?” tanyanya tanpa minat. Kedua tangannya melekat di pinggangnya.

Namanya Han Jieun. Gadis dengan rambut panjang berwarna hitam yang sering bertugas di ruangan ini. Gadis itu salah satu anggota PMR di sekolahnya, sehingga bisa menjelaskan kenapa gadis itu bisa berada di ruangan ini dan menyentuh segala barang dengan leluasa.

“Apa kau selalu menyambut semua orang yang datang dengan wajah seperti itu? Kau membuat orang sakit semakin sakit,” cibir Jongin yang sudah berbaring di atas kasur.

Gadis itu berbalik, mengabaikan Jongin yang tengah mengamati pergerakannya. Gadis itu tak lagi menawari ini dan itu pada Kim Jongin. Ia memang bertanggung jawab memberi bantuan pada setiap orang yang datang, tapi tidak setelah Jongin meneriakinya tahun lalu, ditambah Jongin juga tak menginginkan bantuannya. Jongin selalu memasang wajah garang setiap kali datang ke ruang UKS, seolah memperjelas bahwa pemuda itu tidak ingin dibantu.

Namun gadis itu hanya tidak mengerti, Han Jieun hanya tidak mengerti betapa Jongin menginginkan perhatiannya. Awalnya Jongin memang tidak membutuhkan apapun dari gadis itu, terlebih pada saat pertama kali ia datang ke ruangan itu. Saat itu kakinya terkilir di tengah-tengah sesi latihan.

Tapi segalanya berubah secara perlahan. Gadis itu tetap memberinya obat merah atau obat sakit perut sekalipun ia memintanya dengan kasar. Membuatnya berharap ia bisa jatuh sakit setiap hari. Itu harapan paling payah, bukan? Huh, bahkan tak jarang ia bertandang ke tempat itu hanya untuk menemui Han Jieun. Hanya saja Jongin tidak bisa mengendalikan sikapnya di depan gadis itu. Ia selalu datang dengan harapan bisa bersikap baik pada gadis itu, tapi begitu melihat wajah Jieun semua rencananya sia-sia. Ia hanya kembali menjadi sinis dan arogan.

“Yak, siapa namamu? Kenapa aku sering sekali bertemu denganmu di sini?”

Gadis itu menatap Jongin dari tempat duduknya, mengutuk Kim Jongin dalam hati. Jieun mendesah, mengabaikan buku besar yang sedang dibacanya. Ia mengamati Jongin dengan tidak habis pikir. Ia tahu pria itu cukup populer. Pria itu murid pindahan dari Daegu yang meraih popularitas dengan cepat karena penampilannya yang menawan, ditambah lagi dengan keikut sertaannya di dalam grup tari sekolahnya.

Pria itu menjelma menjadi salah satu selebriti di sekolahnya. Tapi apakah semua itu membuat dirinya nampak tak penting untuk dikenali? Pria itu sering bertemu dengannya di ruangan itu. Ia yang memberikannya obat merah dan beragam obat lainnya, ia yang berada di dekatnya saat pria itu merintih kesakitan atau termenung dalam kesedihan, dan pria itu tidak tahu namanya? Serius?

“Kau serius tidak tahu namaku? Sekalipun kau sering datang ke tempat ini?”

Jongin ingin tertawa melihat ekspresi kesal Jieun saat menanggapinya. Gadis itu terlihat dan terdengar amat murka dengan kenyataan palsu yang baru ditemukannya. Jelas saja Jongin ingin tertawa sambil memegangi perutnya. Sebenarnya Jongin mengetahui nama gadis itu setelah kunjungannya yang kedua. Saat itu ia tak sengaja melihat nama Jieun tercantum di atas buku jaga yang terletak di atas meja yang Jieun bentangkan saat ini.

Selain namanya, Jongin mengetahui beberapa hal tentang Han Jieun. Gadis itu seorang anggota PMR, ia mendapat giliran jaga pada hari selasa dan kamis, gadis itu merupakan tipe orang yang ramah pada siapa saja namun bisa bertingkah sangat gila di depan teman-teman dekatnya, gadis itu berteman baik dengan Jiwon, Ri Kyeong, dan Eunbi, gadis itu murid kelas 3-2, gadis itu memiliki tawa yang membuat orang di sekitarnya ikut merasa senang entah bagaimana, karena terlalu ramah gadis itu merupakan salah satu objek yang mudah ditindas, dan yang terakhir, tanpa gadis itu sadari ada beberapa orang pria di sekolah yang mencoba untuk mendekatinya, termasuk Oh Sehun.

Jieun bukan sosok gadis yang sangat amat cantik, bukan sosok yang membuatmu meneteskan air liur hanya karena menatapnya. Gadis itu punya aura yang menyenangkan, yang membuatmu ikut merasa senang. Setelah mengamati gadis itu diam-diam selama ini, Jongin merasa ia pun harus tertawa seperti yang gadis itu lakukan. Jongin selalu suka melihat tingkah anehnya, seperti ekspresi-ekspresi yang gadis itu tunjukkan saat sedang bersama teman-temannya. Jieun bukanlah gadis pendiam yang lemah lembut, gadis itu malah suka tertawa keras-keras sampai membuat teman-temannya malu. Tapi itulah pesonanya, ia terlihat cemerlang dengan tawanya.

“Jangan salahkan aku, kau tidak pernah mengenalkan dirimu,” sahut Jongin tak peduli.

“Aku bahkan tahu namamu sekalipun kau tidak pernah mengatakannya. Apa orang populer sepertimu memang seperti itu? Kalian tidak akan–“

“Apa yang ingin kau katakan? Aku tak–“

Wae? Orang sombong sepertimu memang begitu, kan? Kalian tidak akan bergaul dengan seseorang yang tidak berada dalam status sosial yang sama. Kalian tidak peduli dengan orang-orang sepertiku. Kalian menganggap orang-orang sepertiku merusak citra kalian dan mengganggu keseimbangan dunia. Aku sudah mengetahuinya sejak awal, tapi–“

“Yak, Han Jieun! Bisakah kau berhenti? Kau benar-benar sudah keterlaluan! Bukan salahku kalau aku begitu populer. Lagipula apa maksudmu dengan ‘orang-orang sepertiku’ dan ‘orang-orang sepertimu’?” Jongin akhirnya angkat bicara. Ia benar-benar tidak tahan dengan semua tuduhan Jieun. Ia tak menyangka bahwa pendapat Jieun tentangnya begitu buruk.

Di lain sisi, Jieun terkejut bukan main. Ia tidak salah dengar, kan? Barusan Jongin menyebut namanya. Nama lengkapnya!

Wae? Kenapa sekarang kau diam? Merasa bersalah, huh? Yak, Han Jieun! Bicaralah! Aku yakin….” Perlahan suara Jongin menghilang begitu pemuda itu menyadari alasan membisunya Han Jieun. Astaga! Gadis itu pasti terkejut karena ia menyebut namanya.

Jongin meringis, matanya terpejam dengan rasa malu. Matanya kembali terbuka lebar begitu merasakan pandangan Jieun yang menghujam ke arahnya.

“Apa? Berhenti menatapku! Aku tidak bisa beristirahat-ARGGH!” Jongin memegangi punggungnya yang merasa nyeri begitu ia tak sengaja menggerakkan tubuhnya.

Dengan sigap Jieun beranjak dari kursinya dan menghampiri Jongin. Namun Jongin mengangkat tangannya, meminta gadis itu untuk tidak mendekat.

Jieun pun tak melanjutkan langkahnya, ia memutar tumit dan berjalan ke arah rak obat-obatan. Sementara Jongin kembali merebahkan tubuhnya sambil meringis, Jieun sedang sibuk mencari krim penghilang rasa nyeri.

Ia kembali menghampiri Jongin yang masih meringis dengan mata terpejam. Botol krim sudah berada dalam genggamannya dan begitu Jongin membuka matanya, Jieun langsung memberikannya. Jongin tak segera menerimanya, pemuda itu menatapnya sebentar kemudian mendengus kesal dan menyambar botol itu.

“Apa ada petugas laki-laki yang bisa membantuku?” Jongin mengangkat botol krimnya.

“Aku akan memanggil dokter Seo. Tunggu sebentar, oke?”

Setelahnya Jieun melesat pergi meninggalkan Jongin sendirian. Jongin terdiam menatapi kepergian gadis itu, entah kenapa ia merasakan sebuah ledakan di dalam dadanya dan membuatnya merasakan kehangatan. Ia merasa nyaman, ia merasa begitu senang saat Jieun bicara padanya dengan penuh perhatian. Ia merasa berarti ketika Jieun tersenyum kecil sebelum pergi meninggalkannya. Tanpa ia sadari perasaan hangat itu berubah menjadi panas yang menjalar ke daerah matanya. Air mata mengalir membasahi pipinya dan dengan cepat ia menyekanya sambil meringis kesakitan.

Tak lama berselang dokter Seo datang, Jieun mengekor di belakangnya. Pandangan mereka bertemu, gadis itu kemudian mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Ia tak mengerti maksud gadis itu, namun ia balas mengangguk dan tersenyum, membuat Jieun melakukan hal yang sama.

Segalanya berubah setelah hari itu. Jongin menyadarinya, begitupun dengan Jieun yang perlahan mulai merindukan kedatangan pemuda itu dan wajah masamnya. Namun Jongin bukan lelaki yang akrab dengan hal-hal semacam itu. Ia hanya seseorang yang sibuk berjuang untuk tetap baik-baik saja dengan segala keburukan yang hadir dalam hidupnya. Ia tidak terbiasa dengan perasaan hangat yang bisa membuatnya begitu lincah dan sumringah seperti orang gila.

Beberapa hari setelah hari itu, Jongin berusaha menghindari Jieun. Bahkan ketika pandangan mereka tak sengaja bertemu saat berada di kantin, di lorong, atau di lapangan. Sementara itu Jieun akan terus memandangi Jongin sampai pemuda itu tak lagi terlihat, kemudian mendesah kecewa karena pemuda itu menghindarinya untuk alasan yang tidak ia ketahui.

Dua hari setelah kejadian di UKS waktu itu, ia hendak menghampiri Jongin yang sedang berjalan dari arah berlawanan, namun Jongin berhenti dan memutar tumitnya. Pemuda itu menghindarinya seolah ia adalah seorang pengganggu. Padahal ia hanya ingin menanyakan keadaannya saja. Menurut informasi yang ia dapat dari dokter Seo, lebam-lebam di tubuh Jongin cukup serius. Entah kenapa hal itu membuatnya khawatir.

Dan setelah beberapa kali mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Jongin, akhirnya Jieun berhenti. Ia memendam keinginannya untuk menghampiri pemuda itu dengan alasan apapun. Kelihatannya Jongin sudah baik-baik saja, lagipula mereka tidak berteman, jadi untuk apa ia begitu memedulikan pemuda itu?

****

“Jangan hanya memandanginya! Datang dan bicara padanya! Payah!”

Jongin mengalihkan perhatiannya pada Soojung yang sedang mengunyah makanannya. Gadis itu memelototinya kemudian mencebikkan mulutnya. Ia kembali mengamati sosok Jieun yang duduk cukup jauh dari mejanya. Gadis itu sedang mengatakan sesuatu pada temannya, sebelum akhirnya tertawa.

“Sudah kubilang bocah ini tidak akan berani.” Kini giliran Sehun yang bersuara. Jongin memalingkan wajahnya, meminta Sehun menutup mulutnya.

“Kau benar! Ia benar-benar payah,” sahut Soojung tak kalah sinis.

Jongin memandangi kedua temannya secara bergantian. Sehun menjingkatkan alisnya sementara Soojung memutar bola matanya dan kembali menjejalkan makanan ke dalam mulutnya.

“Berhenti membicarakanku seolah aku tidak ada!” protes Jongin.

Soojung mendesah, ia benar-benar jengah dengan Jongin. “Kalau begitu berhenti membuat kami gemas! Berhenti bertingkah seperti orang payah yang cuma bisa memandangi orang yang disukai dari kejauhan!” timpal Soojung dengan volume suara cukup tinggi, hingga beberapa orang menatap ke arahnya.

Namun bukan Jung Soojung namanya kalau tidak bisa membuat orang lain takut dengan delikan matanya. Ia kembali mencurahkan perhatiannya pada Jongin.

“Jangan bicara yang macam-macam.” Mendengar ucapan Jongin, membuat Soojung merasa kesal. Gadis itu melebarkan matanya sambil mencebikkan mulutnya.

“Memangnya aku tidak tahu? Kau sedang memandangi Han Jieun seperti orang idiot! Bahkan kau terus melakukannya belakangan ini.” Jongin melebarkan matanya, dengan cepat ia menyumpal mulut Soojung dengan roti milik Sehun.

“Aishh..itu milikku. Astaga! Benar-benar,”gerutu Sehun mendapati rotinya berlabuh di dalam mulut Soojung.

“Sudah kubilang jangan bicara yang macam-macam.”

Soojung yang tengah berjuang menelan sisa roti di mulutnya hanya mampu memutar bola matanya dengan kesal, sementara Sehun berdecak keras yang membuat Jongin beralih menatapnya.

“Kau pikir kami itu tolol? Kau terus memandanginya beberapa hari belakangan ini, belum lagi kau bertingkah aneh setiap kali bertemu dengannya.” Sehun menggelengkan kepala dan menatapnya dengan kasihan.

“Memangnya aku tidak tahu? Kau sering datang ke UKS untuk bertemu dengannya, kan?” tuduh Soojung dengan yakin.

Setelah itu Jongin tidak bisa mengelak lagi. Teman-temannya sudah menangkah basah dirinya. Mereka sudah menelanjanginya dengan fakta-fakta yang tak dapat ia sangkal. Ia menjatuhkan pandangannya ke permukaan meja, kemudian menggaruk kepalanya serba salah.

“Kusarankan agar kau menemuinya. Katakan apa yang ingin kau katakan, kau tak harus memedulikan tanggapannya,” ucap Soojung memberi saran.

Sehun mengangguk-angguk dengan kedua tangan terlipat di depan dada. “Berhenti menjadi pecundang–“

“Kau tidak keberatan?” Jongin menyorot Sehun dengan mata terbuka lebar, membuat Sehun sedikit terkejut.

“Bukankah kau menyukainya?”

“Huh?”

Sehun tak mengerti dengan ucapan Jongin. Memangnya sejak kapan ia menyukai Han Jieun. Apa selama ini Jongin tidak mengatakan perasaannya, karena berpikir ia menyukai Jieun?

“Kau terlihat cukup akrab dengannya, aku bahkan pernah melihatmu bergurau dengannya,” tutur Jongin penuh kecurigaan. Setelah beberapa detik, Sehun melenguh panjang.

“Sekalipun aku menyukai seorang gadis bermarga Han, tapi tetap saja bukan Han Jieun. Aku menyukai Han Jihyun. Kebetulan Jihyun itu adiknya Jieun,” ucap Sehun dengan santai.

Jongin melongo tak percaya. Han Jihyun? Siswi kelas 1 yang merupakan salah satu anggota baru tim tarinya. Sehun bilang gadis itu cerewet dan menyebalkan. Aigoo..benar-benar munafik. Di lain sisi, Soojung tengah menatap jengah kedua temannya. Ia memangku dagunya dengan bosan.

“Astaga, aku tak percaya berteman dengan dua idiot seperti kalian,” komentarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Diam dan khawatirkan saja Minhyuk-mu! Kurasa ada banyak gadis yang lebih menarik di SMA Hwaran,” tandas Sehun tak peduli.

“Aku juga tak menyangka Minhyuk yang baik hati dan penyabar itu mau dengan gadis kasar dan manja sepertinya. Aigoo, aku kasihan pada Minhyuk. Entah keburukan macam apa yang ia perbuat di masa lalu, sampai harus bertemu dengan gadis ini.” Jongin menatap Soojung dengan mengejek, membuat gadis itu semakin kesal dan sudah siap membenturkan kepalanya ke meja.

To be continued

Gimana cerita ini? Ada yang tertarikkah? Kalau gitu tungguin kelanjutannya yah.. Btw thanks buat kalian yang udah baca, semoga ff-nya menghibur. Oiya, sekedar info aja, FF ini udah pernah dipublish di GIGSent fanfiction.

 

 

Regards,

 

GSB

2 thoughts on “CHSJ (Part 1)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s