[Playlist-Fic] #3: Saturation

saturation

a playlist-fic by Jung Sangneul

// SATURATION //

Starring: [BtoB] Sungjae and [AoA] Chanmi || Genre: Romance, Sadness || Length: Ficlet || Rating: PG-15

Track #3: Rio Febrian – Jenuh

Mengembalikan hatimu bukanlah rencana awal; itu hanya jalan keluar yang kupilih.

***

                Seharusnya, cuaca sedikit buruk. Mungkin, aku sedikit berharap gerimis datang mengunjungi atap rumah, atau awan-awan kelabu datang berarak di langit. Tapi, harapanku tidak terwujud ketika aku memutuskan keluar dan menemui gadis yang kini duduk di sebelahku.

Ia menggerai rambutnya yang panjang sebatas punggung. Aku sadar tak ada lagi keinginan untuk membenamkan wajahku di sana dan menghidu harum lembutnya. Ia tersenyum ketika menyuguhkan secangkir latte. Ketika kutengok, aku merasa minuman itu tak seenak seharusnya di lidahku.

“Tidak diminum?” tanya Chanmi—nama gadis itu. Aku tersenyum kecut, merasa tidak suka mendengar namanya terulang di pikiranku.

Tidak menjawab, aku memilih menyeruput latte yang dia sajikan. Tersenyum menyadari rasanya tidak seburuk yang kupikirkan.

“Oh, ya, Sungjae-ya,” panggilnya.

Hafal kebiasaannya yang memanggil untuk menarik perhatianku, aku menaikkan alis.

Chanmi tersenyum. “Bulan depan, setelah ujian, aku senggang. Kita bisa jalan-jalan ke Busan, seperti rencanamu dulu setelah dari Jeju. Kauingat?”

Melihat dia begitu sumringah, aku merasa tak enak hati. Masih diam, tanganku mengetuk-ngetuk kursi kayu yang kududuki. Menelan ludah, kemudian mengangguk.

“Tapi, sepertinya aku tidak bisa ke sana.”

“Mengapa?” tanyanya.

Sebelum menguar kata, mau tak mau aku teringat ketika kami masih kekanakan dan memutuskan kabur bersama ke pulau Jeju. Sekadar untuk melarikan diri dari kerasnya kehidupan perkuliahan.

 

 

Ketika itu, aku mencuri kunci mobil ayahku dan menjemput Chanmi ke rumahnya. Dia membawa beberapa barang pribadinya di tangan ketika masuk ke mobilku dengan senyum lebar.

“Serius, kita kabur?” tanyanya, mengerling padaku.

Aku tertawa, mengacak rambutnya gemas. “Mana mungkin sudah sampai sini aku bercanda? Yo, let’s go!”

Let’s go! Kkaja!” serunya berbalas.

Justru tertawa senang saat kunaikkan kecepatan mobil dan membawanya menikmati semilir angin malam. Kaca jendela terbuka, tangannya melambai ke jalanan yang sepi, sementara aku menyanyikan satu-dua bait lagu dengan nada up-beat untuk meningkatkan euforia.

Malam itu terlewati tanpa hambatan. Kami sampai di hotel, memesan dua kamar—meski pada akhirnya salah satu meninggalkan kamarnya—lantas berjalan-jalan menikmati sejuknya hawa di Jeju.

Aku ingat, saat itu aku merangkul bahunya dan berkata, “Kautahu mengapa aku suka angin?”

Dia mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Karena mereka mempercantik dirimu,” jawabku. Tanganku sibuk memainkan helai-helai rambutnya yang tertiup angin, tanpa sadar kecanduan dengan aroma tubuhnya dan ingin memeluknya sekali lagi.

Dia terkekeh ketika aku melakukannya seakan tidak ingin lepas darinya. Dan, aku tahu perasaanku selalu berbalas, karena tangannya selalu balas memeluk diriku. Karena tangannya merangkul leherku ketika aku menciumnya, dan senyumnya selalu timbul saat aku tersenyum.

Waktu itu, mungkin saja, aku merasa dialah anugerah terbesar dari Tuhan untukku.

 

“Sungjae.”

Aku tersentak ketika merasakan tangan Chanmi merenggut tanganku, mengusapnya lembut.

Ketika aku menoleh, dia bertanya, “Ada apa?”

Kutundukkan kepala sembari melepas genggaman tangannya dariku.

“Maaf, aku tidak akan bisa. Karena sepertinya …, hubungan ini cukup sampai di sini.”

Cuaca tidak kelabu sama sekali, justru senja yang indah melingkupi kami. Cahaya yang oranye pudar, bercampur dengan spektrum warna kuning langsat dan cokelat terang memayungi langit. Tapi, bibirku tidak mungkin bisa dipaksa berbohong terus menerus.

Chanmi menghela napas mendengarnya. Dapat kudengar suara jemarinya yang jatuh terkulai di meja, berdentingan dengan cangkir latte-ku.

“Ke-kenapa?” tanyanya.

Aku tidak berani mengalihkan pandangan untuk melihat matanya yang meredup, atau luka yang mungkin terlihat dari gestur wajahnya. Cukup nada suaranya yang berat dan terkejut seakan tersengat listrik saja yang kudengar.

“Aku bukan berniat begitu. Aku pun tidak merencanakannya, Chanmi,” jawabku perlahan, “tapi, sungguh, aku …, jenuh. Aku bosan berada di dekatmu, aku bosan dengan tautan tangan kita, aku juga bosan dengan semua rutinitas kita berdua.”

Tanpa kuminta, bibirku mengakhiri semuanya dengan kata “maaf”.

Selanjutnya, Chanmi tetap diam. Jadi, aku tidak melanjutkan apa pun. Aku bangkit tanpa merasa perlu berpamitan, membuka pagar rumahnya, dan berjalan menjauh.

Hanya dapat kuduga-duga bagaimana keadaan gadis itu.

Mungkin, dia menangis, tertunduk, membuang barang-barangnya, atau merengut kesal dan menaruh dendam.

Ah, semua wanita ‘kan sama saja.

 

Maaf kujenuh padamu. Lama sudah kupendam, tertahan di bibirku. Mauku tak menyakiti, meski begitu indah, kumasih tetap jenuh.

 

fin.

6 thoughts on “[Playlist-Fic] #3: Saturation”

  1. woi woi sungjae-yaaa
    jadi itulah bagaimana sungjae ketemu joy di wgm *salah
    tapi sumpah sialan betul itu si sungjae, knp kok dia tega bilang jenuh, kyk gak mau berusaha banget, gitu… aish. ini fic yg berhasil sekali menonjolkan sisi ngeselin tokoh cowok, ya, bikin geregetan….
    nice fic niswa and keep writing!
    PS still struggling with rectoverso challenge right here TT

    Suka

    1. Haha iyaa gegara joy dia mutusin chanmi deh /ga/
      Wkwk iyaa, niatnya emang menunjukkan sisi busuknya cowok, bukan cuma adegan mendayu-dayu cewek nangis abis diputusin wkwk.
      Haha yaa, mudah-mudahan cepet dapet idenya kak. DL masih lama, fighting!!^^

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s