It’s Okay, We’re Gonna Be Okay (Part 4)

It's Okay, We're Gonna Be Okay

Title: It’s Okay, We’re Gonna Be Okay

Scriptwriter: naypcy

Main Cast: Park Chanyeol. Oh Sehun. Shena Cho. Park Cheonsa

Genre: Romance, Family, Friendship

Duration: Chaptered

Rating: PG-13

Previous part: 1. 2. 3

Takdir terkadang memang kejam dan tak masuk akal. Tapi percayalah, apa yang sudah Takdir tuliskan akan berakhir dengan indah pada waktunya.

“Ne, Suho-nim. Jeosonghamnida. Aku akan mengabarimu lagi nanti,” Shena menutup telepon dengan relasi bisnisnya. Baru saja ia membatalkan janji pentingnya hari ini karena kejadian yang ia alami tadi. Polisi sudah menindak lanjuti perihal wanita yang ditemukan Shena tadi. Polisi sudah mengonfirmasi kalau wanita itu adalah korban perampokan. Perampok itu berhasil mengambil seluruh tas beserta isinya, hingga tidak meninggalkan apapun bahkan tanda pengenal, visa, dan handphone.

Sebenarnya Shena bisa saja meninggalkan wanita paruh baya ini dan menyerahkan semuanya pada polisi. Namun batinnya sangat ingin merawat wanita itu, paling tidak sampai wanita paruh baya itu sadar dan bisa member keterangan pada polisi.

“Nona Cho, anda diminta untuk menemui dokter sekarang,” kata seorang suster dengan bahasa Jepang. Shena tidak begitu mengerti, tapi ia rasa ia tau apa yang dimaksud oleh suster itu.

“I should talk to the doctor?” tanya Shena memastikan sambil mendekati sang suster. Suster tersebut hanya tersenyum dan mempersilahkan Shena masuk ke ruangan dokter. Dokter yang ada di ruangan tersebut tersenyum dan sedikit membungkukan badannya.

“Nice to meet you, Miss,” ujar sang dokter yang kira-kira berusia 50tahun. Shena hanya membalasnya dengan senyuman dan membungkukan badannya hormat lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter tersebut.

“So, how is she? Is she alright?” tanya Shena to the point.

“She is better because your first-aid treatment was really good. You really saved her from brain-damaged and blood-deficit. But there’s a thing you should know,”

“What is it?”

“She has a minor amnesia,” kata sang dokter yang membuat Shena tertegun. Ia memang tidak terlalu paham apa itu minor-amnesia, namun ia cukup paham mengenai apa itu amnesia.

“Don’t worry. It usually happens to people who has a hard blame on their head—especially on its back. Maybe, she will forget some important or recent things like, her name, her family, what was happened to her, and so on. But it will recover soon, in one or two weeks,” jelas sang dokter dengan detail.

“Then, it means, we can’t find out more about her?”

“I already solved that problem. She is Korean. And I’ve sent her blood sample and fingerprints to Intelligence in Korea. You just have to wait for further information,”

“I got it. I’ll take care of her until the result arrived. Thank you for your consideration,” Shena tersenyum sambil sedikit membungkukan badannya lalu ia keluar dari ruangan dokter tersebut. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri, karena ia sangat ingin merawat wanita yang ia temukan itu. Apalagi setelah mengetahui kalau wanita tersebut juga berasal dari Korea sama seperti dirinya.

Shena sedang membuka tirai dan jendela di kamar yang ditiduri oleh wanita yang ia tolong kemarin, sampai ia mendengar suara rintihan lemah yang ia yakini berasal dari wanita paruh baya itu. Dengan cepat Shena menghampiri wanita itu sambil tersenyum manis.

“Annyeonghaseyo, Ahjumonim,” sapa Shena dengan sangat ramah.

“Nuguseyo? Aku dimana?” tanya wanita itu sambil mengerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan matanya dengan sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar tersebut.

“Cho Shena imnidaa. Ahjumma sedang ada di Jepang sekarang. Ahjumma tidak perlu khawatir, aku bukan orang jahat. Aku akan merawat Ahjumma,” jawab Shena masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

“Apa yang terjedi padaku?” tanya wanita itu masih bingung sambil memegangi kepalanya yang terasa sedikit nyeri.

“Aku akan menceritakannya nanti setelah aku menyiapkan sarapan untukmu, ne? Ahjumma ingin makan apa?” tanya Shena sambil membantu wanita itu duduk. Sementara wanita itu menatap heran pada Shena dan bertanya-tanya mengapa gadis ini begitu menyenangkan dan begitu baik padanya.

“Aku akan makan apapun yang kau buatkan,” jawab wanita itu sambil tersenyum membuat Shena terkekeh pelan.

“Algeusseumnida. Ahjumma tunggu sebentar, eo?” ujar Shena sambil mengusap lengan wanita itu sebelum ia beranjak keluar dari kamar itu.

“Aku ingin melihatmu memasak,” kata wanita itu yang membuat Shena menghentikan langkahnya.

“Ne? Apa ahjumma sudah baik-baik saja?” tanya Shena memastikan. Wanita itu mengangguk dan tersenyum.

“Arraseo, Ahjumma. Aku bantu berdiri, hm?” Shena berjalan mendekati wanita itu sambil membantunya berdiri. Wanita itu hanya tersenyum dan berjalan pelan ke arah ruang makan dengan bantuan Shena. Setelah membantu sang ahjumma duduk di kursi makan di rumah itu. Shena pun mulai memasak. Kemampuan Shena memasak memang sudah tidak diragukan lagi dan itu cukup membuat ahjumma takjub.

“Wah, kau benar-benar bisa memasak,” ujar sang ahjumma dengan kagum. Shena terkekeh pelan.

“Aniya, ahjumma,” jawab Shena yang masih fokus dengan kegiatan memotong sayurannya dengan cekatan. Kemudian keadaanpun hening.

“Mungkin akan menyenangkan jika aku punya anak perempuan,” kata-kata itu membuat Shena mengalihkan fokusnya dari kegiatan memasaknya. Ia sedikit terkejut karena sang ahjumma bisa mengingat sesuatu tentang anaknya.

“Anak ahjumma laki-laki, eo?” tanya Shena.

“Ne. Hanya satu-satunya dan aku tidak pernah bisa dekat dengannya. Tapi entah kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat namanya,” jawab wanita itu yang sedikit terdengar lirih.

“Ingatan ahjumma akan kembali sedikit demi sedikit, jadi jangan khawatir,” ujar Shena sambil tersenyum dan membawa hasil masakannya ke meja makan. “Aku memasak chicken stew, aku harap ahjumma suka,” lanjut Shena sambil meletakkan semangkuk nasi di hadapan sang ahjumma. Kemudian Shena memilihkan daging ayam yang cukup besar dari panci berisi chicken stew buatannya dan meletakannya di atas mangkuk nasi sang ahjumma.

“Gamsahamnida,” kata sang ahjumma sambil tersenyum. Shena hanya menyunggingkan senyumnya kemudian duduk di hadapan ahjumma. Ahjumma itu mulai mencicipi masakan buatan Shena.

“Wah, massita!” puji sang ahjumma yang membuat Shena terkekeh pelan dan merasa lega karena sang ahjumma menyukai masakannya. “Ibumu pasti sangat bangga padamu,” lanjut sang ahjumma yang membuat air muka Shena sontak berubah.

“Ne, aku harap begitu,” lirih Shena dengan senyum getir bertengger di bibir cantiknya.

“Waeyo?” tanya sang ahjumma sedikit khawatir saat melihat perubahan air muka Shena.

“Aku tidak tau eomma ada dimana. Sejak eomma dan appa bercerai 10 tahun lalu, aku tidak pernah bertemu dengan mereka lagi,” jawab Shena pelan, dadanya terasa sesak saat membicarakan hal ini lagi.  Sementara sang ahjumma merasa bersalah karena sudah mengungkit masa lalu Shena.

“Aigo, maafkan aku, sayang,” ujar sang ahjumma sambil mengusap pipi Shena.

“Gwenchana, ahjumma,” kata Shena sambil memaksakan senyumnya. “Ayo, ahjumma makan yang banyak! Aku akan menyiapkan obat untuk ahjumma sebentar,” tambah Shena lalu beranjak dari meja makan.

Satu minggu sebelum acara pertunangan Chanyeol dan Cheonsa.

Pagi itu Cheonsa sedang bermain di halaman rumahnya. Ia merasa sudah lebih sehat sekarang sejak ia memutuskan untuk menjalani terapinya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak mudah lelah lagi sekarang. Bahkan ia sudah bisa berjalan-jalan di lingkungan rumahnya sekarang.

“Annyeong!” seru seseorang dengan tiba-tiba dan membuat Cheonsa terkesiap. Cheonsa berbalik dan bertambah terkejut lagi saat mendapati siapa yang sedang berdiri di belakangnya sekarang.

“Yak, Oh Sehun! Kenapa kau ada disini?” tanya Shena sambil menatap Sehun dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemeja putih pas badan, celana jeans berwarna biru tua, sepatu kets Nike. Sial, namja ini benar-benar ingin membuat Cheonsa sport jantung.

“Aku sedang libur hari ini,” jawab Sehun lalu berjalan mendekati Cheonsa. “Bagaimana kabarmu, hm?” tanya Sehun sambil menyelipkan rambut Cheonsa ke belakang telinganya. Membuat Cheonsa menahan napasnya akibat perlakuan Sehun yang begitu tiba-tiba. Kekebalan Cheonsa terhadap perlakuan manis Oh Sehun sudah hampir hilang seiring dengan meningkatnya intensitas pertemuan mereka akhir-akhir ini.

“Better,” jawab Cheonsa singkat sambil memalingkan wajahnya yang memerah. Sehun tersenyum mendapati tidak ada perlawanan yang dilakukan Cheonsa.

“Kkaja!” ajak Sehun sambil menarik lengan Cheonsa.

“Kemana?” tanya Cheonsa yang masih berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah panjang Sehun yang berjalan menuju mobilnya.

“Saturdate,” jawab Sehun ringan sambil memamerkan senyumnya.

“Ne?? Aku belum minta izin dengan eommaku,” Cheonsa berusaha melepaskan tangan Sehun dari tangannya tepat di depan mobil mewah Sehun.

“Already,” ujar Sehun sambil menolehkan kepalanya ke arah pintu rumah Cheonsa. Cheonsa pun mengikuti arah pandangan Sehun dan menemukan sang eomma sedang berdiri di ambang pintu utama rumahnya sambil melambaikan tangannya.

“Hati-hati ya, Cheonsa sayang. Have fun dengan Dokter Oh, ne?” seru sang eomma sambil melambaikan tangannya dengan semangat. Cheonsa langsung menghujam Sehun dengan tatapan tajamnya. Sejak kapan Sehun dan eommanya menjadi sangat akrab? Sampai-sampai orangtuanya yang sangat overprotektif itu memperbolehkan Sehun untuk membawanya kabur dari rumah.

“Ne, Ahjumma! Annyeonghaseyo,” sahut Sehun dengan semangat juga sambil membukakan pintu mobilnya untuk Cheonsa. Sehun menolehkan kepalanya pada Cheonsa, memberi isyarat pada gadis itu untuk masuk ke dalam mobilnya. Cheonsa melambaikan tangannya sebentar pada sang eomma, kemudian masuk ke dalam mobil Sehun. Sementara Sehun membungkukan badannya sejenak pada sang eomma kemudian ia masuk ke mobilnya.

“Terkejut, hm?” tanya Sehun sambil memakai seatbeltnya dan menyalakan mesin mobilnya.

“Eomma tidak pernah mengizinkanku keluar rumah sejak aku pingsan waktu itu. Bahkan dengan Chanyeol sekalipun,” ujar Cheonsa sambil menatap Sehun yang mulai fokus menyetir.

“Karena semua orangpun tau, aku yang paling bisa menjamin hidupmu baik-baik saja, Cheonsa-ya,” ucap Sehun yang membuat Cheonsa kembali kehilangan kata-katanya. Namja ini memang kelewat percaya diri, namun sayangnya kali ini Cheonsa harus mengakui kebenaran kata-kata Sehun barusan. Ia terlalu menggantungkan dirinya pada namja ini. Hingga tanpa sadar, Sehun sudah menjadi obat bagi penyakitnya dan juga masalah-masalah yang ia hadapi akhir-akhir ini.

“Kau terlalu percaya diri, Oh Sehun,” cibir Cheonsa mengalihkan pembicaraan. Sementara Sehun tertawa pelan menanggapinya.

“Aku memang sangat percaya diri, jika itu tentang kau,”

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, hamparan pasir putih dan laut biru menyapa pengelihatan Cheonsa dan Sehun. Ekspresi takjub pun langsung ditunjukkan oleh Cheonsa yang sudah sangat lama sekali tidak melihat pemandangan yang seperti ini. Begitu pula dengan Sehun. Tidak, bukan dengan pemandangan pantai yang terlukis di hadapannya saat ini, melainkan wajah bahagia dari gadis yang duduk di sebelahnya ini. Sehun benar-benar menunggu hampir seumur hidupnya untuk melihat wajah ceria ini lagi.

“Aku rela bolos kerja setiap hari jika bayarannya seperti ini,” gumam Sehun sambil mencoba membagi fokusnya pada menyetir dan mengagumi gadis di sebelahnya itu.

“Ne?” tanya Cheonsa yang tidak begitu mendengar apa yang disebutkan Sehun.

“Aniya. Kau mau main di sana?” Sehun menepikan mobilnya hingga benar-benar dekat dengan pesisir pantai.

“Apa boleh?” tanya Cheonsa dengan mata berbinar. Membuat Sehun tertawa pelan mendapati ekspresi antusias Cheonsa yang persis sama ketika Sehun pertama kali mengajak Cheonsa ke pantai dulu. Pantai merupakan tempat favorit Cheonsa dan Sehun ketika mereka masih pacaran dulu.

“Tentu saja. Tapi kau tidak boleh berlari, arraseo?” ujar Sehun yang langsung mendapat anggukan semangat dari Cheonsa. Mereka berdua pun keluar dari mobil Sehun dan berjalan menuju tepian pantai. Sehun bahkan tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Cheonsa yang sedang menikmati belaian angin laut di wajah cantiknya. Gadis ini memang tidak pernah berubah. Selalu memesona di mata Sehun.

Cheonsa yang masih memejamkan matanya dan menikmati angin pantai dikejutkan dengan lengan yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya. Tubuhnya membeku saat merasakan hembusan nafas Oh Sehun di tengkuknya. Lagi-lagi tidak ada penolakan dari Cheonsa. Ia menyerah pada tubuhnya yang benar-benar merindukan pelukan seorang Oh Sehun—cinta pertamanya.

“Biarkan seperti ini. Sebentar saja,” bisik Sehun sambil menyandarkan kepalanya di bahu Cheonsa. Cheonsa mengangguk pelan dan perlahan menggerakan tangannya untuk menyentuh tangan Sehun yang melingkar di pinggangnya. Hingga keduanya terdiam dalam waktu yang cukup lama.

“Kau membuat ini semakin sulit, Sehun-ah,” ujar Cheonsa pelan. Kenyataannya hal yang seperti ini hanya akan menjadi kenangan bagi mereka berdua, mengingat status Cheonsa yang akan berubah menjadi Nyonya Park beberapa bulan lagi.

“Wae?”

“Aku akan menikah dengan–”

“Dan aku sedang mengusahakan agar itu tidak terjadi,” ucapan Sehun membungkam Cheonsa. “Mengusahakan agar kau percaya bahwa selain Chanyeol, masih ada namja yang lebih bisa menjamin hidupmu, melindungimu dari apapun, bersyukur atas kelebihan dan kekuranganmu,” Sehun menggenggam kedua tangan Cheonsa dengan erat.

“Dari awal kau tidak pernah percaya padaku, bahkan saat kau tau hanya aku yang dapat menyembuhkan penyakitmu. Aku sangat bahagia karena akhir-akhir ini kau mulai percaya padaku dan aku yakin kita bisa mulai dari awal. Sampai ketika kau menyerahkan undangan pertunanganmu dengan Chanyeol. Aku sempat berpikir untuk menyerah, tapi aku tidak ingin usahaku sia-sia,” Sehun memutar tubuh Cheonsa sehingga ia bisa menatap mata indah Cheonsa. Sementara Cheonsa tidak berani membalas tatapan Sehun. Sehun menangkup pipi kanan Cheonsa sehingga mau tak mau, Cheonsa harus membalas tatapan tajam itu. Tak ada canda sama sekali di raut wajah Oh Sehun.

“So, I ask you for the last time. Will you trust me in everything from now on?” tanya Sehun masih sambil menatap mata Cheonsa lekat. Cheonsa terdiam cukup lama. Ia sadar bahwa ia benar-benar menggantungkan hidupnya pada namja ini. Ia pikir, ia sudah terlalu munafik karena tidak mengakui perasaannya pada Sehun. Sekarang ia ingin menebus semuanya dan mengusahakan segala yang ia bisa untuk bersama dengan Sehun lagi.

“I’ll trust you in everything,” jawab Cheonsa dengan suara amat pelan namun Sehun dapat mendengarnya dengan jelas. Sehun langsung menarik Cheonsa ke dalam pelukannya. Cheonsa menghela napas dengan lega. Setelah sekian lama, sekarang ia bisa bernafas dengan benar tanpa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.  Ia telah kembali ke tempat yang benar dan ia tidak ingin pergi lagi, bagaimanapun caranya.

“Ah, chamkaman,” Sehun melepaskan pelukannya dan merogoh saku celananya. Kemudian ia mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin sebuah kristal berwarna biru keunguan. Cheonsa mengerutkan keningnya, ia benar-benar terkejut dengan kalung itu.

“Selamat tanggal 7 April, Park Cheonsa,” ujar Sehun sambil tersenyum manis. Ya, hari ini adalah tanggal 7 April, bertepatan dengan anniversary Sehun dan Cheonsa dulu.

“How can you? Ini kan kalung yang benar-benar aku inginkan saat kita masih berpacaran,” tanya Cheonsa heran.

“Ini seharusnya jadi kado anniversary yang akan ku berikan padamu. Tapi ternyata aku harus menunda untuk memberikannya sampai hari ini,” jawab Sehun yang membuat Cheonsa lagi lagi kehabisan kata-kata. Sehun kembali mendekat dan memasangkan kalung itu pada Cheonsa. Cheonsa menatap kesempurnaan namja dihadapannya ini dengan penuh rasa syukur karena Tuhan menunjukan ketulusan namja ini tepat pada waktunya.

“Gomawo,” ujar Cheonsa dengan sungguh-sungguh.

“Aniya. Gomawo. For the second chance,” balas Sehun. Kemudian dengan gerakan cepat, Sehun mengecup bibir mungil Cheonsa dan membuat pipi yeoja itu merah padam. Sehun tertawa menanggapi ekspresi wajah Cheonsa yang terlihat benar-benar shock atas perbuatan Sehun barusan.

“Yak, Oh Sehun!!”

Shena sedang memilih-milih sayuran segar di supermarket itu bersama Park Ahjumma—wanita paruh baya yang tinggal bersama Shena selama seminggu ini. Keadaan Park Ahjumma sudah jauh lebih baik. Ia sudah mengingat berapa umurnya, tujuan ia datang ke Jepang, dan nama depannya. Sesekali Park Ahjumma bercerita mengenai anak laki-lakinya, namun ia tidak pernah berhasil mengingat siapa nama anaknya itu.

“Ahjumma ingin aku masak apa hari ini?” tanya Shena sambil memilih-milih beberapa jenis sayuran yang ada di hadapannya.

“Aniya, hari ini aku yang akan masak untukmu,” ujar Park Ahjumma sambil tersenyum dan turut membantu Shena memilih bahan-bahan makanan.

“Aniya, Ahjumma. Kau bisa kelelahan nanti,”

“Yak, kau meremehkanku, eo? Aku ini kuat!” kata Park Ahjumma dengan semangat sambil memamerkan tubuhnya yang sudah terlihat bugar sekarang.

“Ahh, jinjayo? Kalau begitu, aku mau makan nasi goreng kimchi, kimbab, mandu, ramen..” goda Shena sambil melirik ke arah Park Ahjumma.

“Geurae! Akan ku buatkan untukmu, tapi kau harus menghabiskannya sendirian dalam waktu kurang dari satu jam,” balas Park Ahjumma yang membuat Shena mengerucutkan bibirnya.

“Mwoya, Ahjumma..” ujar Shena pelan. “Aku hanya bercanda. Kita masak berdua, eo?” lanjut Shena sambil memeluk lengan Park Ahjumma dan ber-aegyo yang membuat Park Ahjumma gemas dengannya. Park Ahjumma hanya mengangguk dan mengusap kepala Shena dengan sayang.

“Aku benar-benar berharap kau adalah anakku, Na-ya,” Shena tertegun dengan apa yang di dengarnya barusan. Bukan kata-kata mengenai seberapa inginnya Park Ahjumma menginginkan Shena sebagai anaknya, tapi sapaan di akhir kalimat itu yang membuat Shena terpana. Panggilan ‘Na-ya’ kepada dirinya hanya ditujukan dari seseorang. Hanya Park Chanyeol yang memanggil Shena dengan sapaan ‘Na-ya’.

“Hmm, setelah Ahjumma pulang ke Korea pun aku pasti akan sering mengunjungimu,” ujar Shena sambil mendorong trolly belanjaan mereka yang sudah cukup penuh dan menggandeng lengan Park Ahjumma menuju ke kasir.

Shena membuka dompetnya bermaksud mengambil sejumlah uang untuk membayar seluruh keperluan yang ia beli. Tapi ada yang menyita perhatian Park Ahjumma ketika pandangannya menangkap sebuah foto yang ada di dalam dompet Shena. Di foto hasil jepretan Polaroid itu terlihat jelas foto Shena bersama seorang namja yang wajahnya benar-benar familiar bagi Park Ahjumma. Seketika Park Ahjumma merasa pusing. Ia berpegangan pada lengan Cheonsa dan memejamkan matanya, berharap rasa sakit di kepalanya cepat menghilang.

“Ahjumma, gwenchanayo?” tanya Shena yang mulai panik. Park Ahjumma masih memejamkan matanya untuk beberapa saat sebelum ia membuka matanya lagi dan tersenyum.

“Aniya, gwenchana. Tadi hanya sedikit pusing,” jawab Park Ahjumma yang merasa kepalanya sudah lebih baik.

“Ah, pasti ahjumma kelelahan. Ayo kita pulang dan istirahat,” Shena menggandeng lengan Park Ahjumma dan mendorong trolly belanjaan ke mobilnya.

Setelah memasukan semua barang-barang ke dalam bagasi mobilnya. Shena pun turut masuk ke mobilnya dimana Park Ahjumma sudah menunggu. Shena mulai menyalakan mobilnya setelah memastikan sabuk pengaman miliknya dan milik Park Ahjumma sudah terpasang dengan benar.

“Shena-ya,” panggil Park Ahjumma di tengah-tengah perjalanan mereka menuju rumah.

“Ne, ahjumma,” sahut Shena yang masih fokus menyetir.

“Aku boleh lihat dompetmu?” tanya Park Ahjumma. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang dilihatnya tadi.

“Ne?” Shena mengerutkan dahinya karena mendapatkan pertanyaan yang cukup random dari Park Ahjumma. Namun, Shena tetap memberikan dompetnya pada Park Ahjumma. Mungkin saja ada sesuatu yang membuat ingatan Park Ahjumma kembali, pikir Shena.

“Ambil saja di tasku, ahjumma,” tambah Shena sambil tersenyum. Park Ahjumma mengambil dompet yang ada di tas Shena dan membukanya. Tangannya mencari-cari foto yang tadi dilihatnya dan tak lama kemudian Park Ahjumma menemukan foto tersebut. Matanya memperhatikan foto tersebut. Pengelihatannya tidak pernah salah dalam mengenali namja yang ada di dalam foto tersebut.

“Na-ya, kau mengenal namja ini?” tanya Park Ahjumma tepat saat mobil Shena berhenti karena lampu merah. Shena menolehkan kepalanya dan terkejut bukan main saat Park Ahjumma sedang memegang foto dirinya bersama Park Chanyeol.

“N..ne? Itu..itu temanku,” jawab Shena sedikit gugup. Pikirannya mulai menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. “Apa ahjumma mengingat sesuatu?” tanya Shena dengan hati-hati. Park Ahjumma terdiam beberapa saat. Merasakan memorinya yang seperti terisi kembali.

“Anakku. Ini anakku yang sering ku ceritakan padamu,” Bingo! Jawaban Park Ahjumma benar-benar sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh Shena. Shena mengerjapkan matanya menganggapi jawaban Park Ahjumma. Terlalu takjub dengan semua yang ia alami dan berujung pada hal ini.

“Chanyeol oppa..anakmu?” tanya Shena sekali lagi.

“Ne.. Park Chanyeol,” jawab Park Ahjumma sambil mengeja nama Chanyeol. Shena terdiam untuk waktu yang cukup lama, hingga traffic light menunjukan lampu hijau. Shena kembali mengemudikan mobilnya.

“Sesampainya di rumah aku akan segera mengabari Chanyeol oppa,” ujar Shena sambil memaksakan senyumnya. Mengabarinya? Yang benar saja. Shena tidak akan sanggup mendengar suara namja itu lagi. Takdir begitu senang mempermainkan dirinya sekarang.

Siang itu, Sehun dan Cheonsa sedang bermalas-malasan di ruang tamu di rumah Cheonsa. Akhir-akhir ini Sehun sangat sering mengunjungi rumah Cheonsa dengan tujuan membuat eomma dan appa Cheonsa peka dengan hubungan mereka sebelum Sehun mengatakannya secara formal nanti.

“Aku bosan,” ujar Sehun sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa yang sangat nyaman itu.

“Nado,” timpal Cheonsa sambil melakukan hal yang sama dengan Sehun. “Sehun-ah, aku ingin lihat foto-foto kemarin,” pinta Cheonsa sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Sehun.

“Ah, kau benar! Foto-foto kemarin seperti foto pra-wedding,” ujar Sehun dengan semangat sambil mengeluarkan handphone dari sakunya.

“Kau berlebihan sekali, Sehun-ah,” cibir Cheonsa diiringi oleh tawa ringannya. Kemudian ia mulai serius melihat ke arah handphone Sehun.

“Igeo, lihat! Aku seperti fotografer professional kan?” kata Sehun sambil menunjukan beberapa foto Cheonsa yang ia ambil. Cheonsa menganggukan kepalanya sambil tersenyum menanggapi ucapan Sehun.

Mereka terlalu asyik mengomentari foto-foto mereka saat di pantai kemarin, sampai tiba-tiba sebuah panggilan masuk terpampang di layar handphone Oh Sehun. Cheonsa dan Sehun mematung untuk beberapa detik. Saat sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi, Sehun segera bangkit dari duduknya dan menjauhi Cheonsa.

“Apa itu benar Shena?? Kenapa Shena menghubungimu?” tanya Cheonsa dengan nada tinggi. Tidak, Cheonsa sama sekali tidak cemburu. Yang membuatnya marah adalah fakta kalau Sehun menyembunyikan sesuatu mengenai Shena yang belakangan ini menghilang.

“A..aku akan menjelaskannya nanti, Cheonsa-ya. Aku harus mengangkat telepon ini sekarang. Ia tidak mungkin meneleponku jika tidak terjadi sesuatu yang penting,” jelas Sehun dengan sungguh-sungguh. Cheonsa menghela napasnya dan kembali duduk di sofanya. Ia mencoba menahan egonya karena ini berhubungan dengan yeoja yang sudah ia anggap adiknya sendiri.

“Nyalakan loudspeakernya. Aku tidak akan bicara apapun, aku hanya ingin mendengar suaranya,” ujar Cheonsa dengan lebih lembut. Sehun mengangguk lalu duduk di samping Cheonsa dan menerima telepon dari Shena.

“Yeoboseyo, Shena-ya,”

“Yeoboseyo, oppa. Apa oppa sedang sibuk?”

“Aniya, aku sedang istirahat. Apa kau baik-baik saja?”

“Tidak, oppa. Aku rasa aku bisa gila,”

“Waeyo??” terlihat raut wajah panik dari Cheonsa dan Sehun.

“Ahjumma yang aku rawat sudah sembuh dari amnesianya. Ternyata dia adalah…eommanya Chanyeol oppa,”

“NE??” Sehun benar-benar terkejut dengan ucapan Shena. Apakah yang seperti ini masih bisa disebut sebagai kebetulan? Kemudian Sehun menatap Cheonsa yang tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Shena dan Sehun namun ia sudah mulai dapat menyimpulkan sesuatu.

“Apa Chanyeol sudah tau?”

“Tentu saja belum, oppa. Aku tidak tau bagaimana cara memberitaunya,”

“Tapi kau harus segera memberitahunya, Shena-ya,”

“Igeo…bisakah oppa membantuku memberitahu Chanyeol oppa?” tanya Shena dengan hati-hati. Sehun terdiam cukup lama.

“Arraseo. Kirimkan aku alamatmu, ne?”

“Ne, oppa! Jeongmal kamsahamnida,” ujar Shena dengan gembira.

“Geundae, Shena-ya…pulanglah ke Korea dengan Chanyeol dan eommanya nanti,”

“Hmm, aku tidak bisa, oppa. Kemungkinan aku akan menjalani bisnisku di Jepang saja,”

“Oppa, aku ada urusan penting. Aku tutup dulu, ne? Annyeong,” Shena menutup teleponnya begitu saja, meninggalkan Sehun dan Cheonsa yang kehabisan kata-kata karena ucapannya.

“Ia begitu terluka karena rencana pernikahanmu dan Chanyeol,” ujar Sehun setelah sekian detik ia bungkam. “Aku menemukannya sedang berjalan tak tentu arah di tengah malam dengan keadaan yang benar-benar kacau. Dan awalnya ia tidak bilang jika yang membuatnya seperti itu adalah masalah pernikahan itu. Lalu ia pergi ke Jepang dengan alasan ingin mengurus bisnis kakeknya dan menyuruhku untuk tutup mulut dari kalian. Aku melakukannya karena aku menghargai privasinya,”

“Aku merasa bersalah karena tidak sejak awal berusaha keras membatalkan pernikahanku dengan Chanyeol. Aku hanya pasrah dengan apa yang terjadi padaku sampai aku sadar jika memang harus ada yang diperjuangkan,” timpal Cheonsa sambil menatap wajah Sehun dengan serius.

“Tapi Shena juga tidak mengusahakan apa-apa,”

“Itu karena Shena pikir hanya Chanyeol yang benar-benar mengerti aku. Dengan segala image burukmu yang ku gambarkan pada Shena, ia hanya melihat betapa aku membencimu dulu. Tidak ada namja lain yang ia tau,” jelas Cheonsa panjang lebar.

“Aku harap Chanyeol bisa membawa Shena pulang. Aku benar-benar khawatir,” tambah Cheonsa kemudian bersandar di pundak Sehun. Sehun melingkarkan tangannya di pundak Cheonsa dan mengelus lengan Cheonsa.

“She will be okay,”

Eomma Cheonsa baru saja pulang dari kegiatan berbelanjanya. Ia berjalan perlahan-lahan masuk ke dalam rumahnya setelah mendapati sebuah mobil yang tak ia kenal terparkir di halaman rumahnya. Ketika memasuki ruang tamu, ia disuguhi dengan pemandangan yang cukup mengejutkan baginya. Cheonsa sedang bersandar pada tubuh seorang namja—tentunya Oh Sehun—dan terlelap dengan nyaman di sana. Tangan melingkar memeluk pinggang Sehun, sementara lengan Sehun mengusap kepala Cheonsa dengan sayang. Sang eomma tertegun namun tetap bersembunyi dibalik lemari besar di sana dan memperhatikan kedua orang itu.

Sehun menatap jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 2 siang, tandanya ia harus segera kembali ke rumah sakit sekarang. “Cheonsa-ya, aku harus kembali bekerja sekarang,” ujar Sehun namun Cheonsa tidak terpengaruh sama sekali. Ia benar-benar tidur dengan nyenyak.

Dengan hati-hati, Sehun mulai mengangkat tubuh Cheonsa. Ia tidak tega membangunkan gadisnya itu, jadi ia lebih memilih memindahkan Cheonsa ke kamarnya. Ia berjalan dengan pelan menuju kamar Cheonsa, tidak ingin mengganggu tidur gadis itu sama sekali. Setelah sampai di kamar Cheonsa, Sehun meletakkan tubuh Cheonsa diatas tempat tidur dan menyelimutinya.

“Saranghae,” Sehun mengecup kening Cheonsa sebentar lalu berjalan meninggalkan kamar Cheonsa. Namun, betapa terkejutnya Sehun saat mendapati Eomma Cheonsa sedang berdiri menatapnya di luar kamar Cheonsa.

“Ah, Annyeonghaseyo, Ahjumma,” sapa Sehun sambil membungkukan badannya.

“Annyeonghaseyo, Dokter Oh. Ada apa kemari?” tanya sang eomma. Ya, ibu mana yang tidak curiga jika ada laki-laki yang menghabiskan waktu berdua saja dengan anaknya.

“Hanya mengunjungi Cheonsa,” jawab Sehun sambil tersenyum.

“Kau..apa kau menyukai Cheonsa?” tembak sang eomma membuat Sehun sempat gelagapan dengan pertanyaan itu.

“Hmm, jika aku boleh jujur, Cheonsa adalah pacarku saat SMA. Ia juga merupakan motivasiku untuk menjadi seorang dokter. Jadi kurasa, tarafnya jauh lebih tinggi dari sekedar ‘menyukai’,” jawab Sehun yang terdengar santai namun tidak ada kebohongan sama sekali dalam tatapan matanya.

“Kau tau dia akan menikah kan?”

“Tentu saja. Aku sedang mencoba meyakinkan Cheonsa, ahjumma, dan ahjussi, jika aku bisa menjamin hidup Cheonsa lebih baik dari siapapun,” ujar Sehun dengan percaya diri. Dan tentu saja, sang eomma benar-benar percaya akan hal itu. Namun rasanya masih ada yang tidak pas.

“Maaf jika aku lancang, tapi Ahjumma, kalau aku bisa membuktikannya dan bisa mengambil hati putrimu, bolehkah aku menjadikannya milikku? Aku benar-benar serius,”

TBC^^

One thought on “It’s Okay, We’re Gonna Be Okay (Part 4)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s