17 Going to 22? (Chapter 3)

17 Going to 22 [2]

17 Going to 22? Chapter-3 (1-4)

Cast: Chan Yeol (EXO), Jun Yeo Jun (Oc) | Genre: Romance, Married Life, Slight! | Rating : PG 15

Previous part: 1. 2

++

“Apa?!” Chan Yeol sontak langsung mendongakkan kepalanya. Pria itu baru saja akan memasukkan sesendok penuh spagheti ke dalam mulutnya, namun niat itu terurungkan seketika.

“Kenapa memang?” Chan Yeol menaruh sendoknya kembali. Ia menutup mulutnya yang tadi sempat setengah terbuka karena terkejut dengan teriakanku.

“Kita akan datang kan?”

“Tentu, bukankah kedengarannya itu menyenangkan?” Aku menahan senyumku di ujung bibir. Well, bukankah ini akan membantuku memecahkan keanehan ini? Kurasa selain bantuan So Jung aku juga memerlukan informasi tertentu dari teman-teman lamaku.

“Yeo, kau kenapa?”

“Tidak. Aku hanya bertanya” Chan Yeol mengangguk dan mengambil sendoknya lagi namun tatapannya tiba-tiba berhenti di piringku yang masih terisi penuh.

“Kenapa?”

“Spaghetinya tidak enak?”

“Apa?” Aku langsung memandangi piringku sendiri.

“Tidak kok. Ini enak”

“Tapi kau tidak memakannya. Itu artinya…..” Ucapan Chan Yeol terhenti karena tiba-tiba saat aku memasukkan sesendok penuh spagheti ke mulutku dan hal itu membuatnya tertawa geli.

“Ew, pelan-pelan saja”

“Ini enak. Sungguh!”

“Ah kau manis sekali”

“Apa?” Aku  berhenti dan menatap Chan Yeol dengan tatapan ‘ada apa?’

“Kenapa kau senang sekali bertanya ‘apa?’, seperti ini!” Chan Yeol tiba-tiba saja merubah ekspresinya menjadi sangat bodoh. Dan sumpah demi apa wajahku tak mungkin sebodoh itu saat bertanya ‘apa’ padanya. Aku hanya terkejut, jadi aku selalu bertanya seperti itu.

“Ya! Wajahku tidak sebodoh itu!”

“Aw! Ini kekerasan dalam rumah tangga tau! Kenapa kau memukulku?” Chan Yeol mengusap usap lengannya yang baru saja kupukul dan ia berbicara dengan nada yang sangat mendramatisir. Ewh, kekanakan sekali!

“Karena kau menyebalkan!”

“Tapi itu kan…..”

“Astaga! apa ini?” Chan Yeol berhenti bicara dan aku langsung berdiri dari kursiku saat merasa ada sesosok? ah entahlah aku tak tau harus menyebut apa, menjilat-jilat kakiku.

“Kenapa?” Chan Yeol ikut berdiri dan mengikutiku berjongkok di bawah meja makan.

“Anjing?” Seekor anjing berbulu cokelat lebat mendekat ke arahku dan menyurukkan kepalanya di kakiku, bulunya lembut sekali. Ia menyalak riang dan ew dia sangat menggemaskan!

“Oh Mogu”

“Mogu siapa? Anjing ini?”

“Siapa lagi?” Chan Yeol mendesah pelan saat melihatku mengangkat Mogu ke pangkuanku

“Anjing siapa ini?”

“Apa?”

“Anjing siapa ini? Ah dia manis sekali Yeol!”

“Hei itu anjing kita. Masa kau lupa?”

“Oh benarkah? Aku sangat menyukainya” Aku lantas berdiri dan kembali duduk di kursi sembari memangku Mogu. Sesekali aku menepuk kepalanya sampai anjing ini memejamkan matanya lamat-lamat. Tapi ada yang aneh. Kenapa Chan Yeol tak juga berdiri.

“Yeol, apa yang kau lakukan di bawah sana?”

“Tuh kan….”

*Bugh* Chan Yeol berhenti bicara saat tiba-tiba terdengar suara benturan yang cukup keras dan membuat meja makan di depanku bergoyang dan kukira pria itu terbentur.

“Aw, pasti sakit”

“Tuh kan, Mogu selalu merebut perhatianmu dariku. Dan ya! Dia juga membuatku terbentur” Chan Yeol keluar dari kolong meja sembari mengusap ngusap kepalanya. Mulutnya bersungut sungut melayangkan protes.

“Haha, kau cemburu pada anjing?”

“Yeo Jun!” Chan Yeol merengek dengan nada merajuk.

“Kemarilah!”

“Kenapa?”

“Kemarilah Park Chan Yeol!” Pria itu akhirnya menurut dan berjalan ke arahku dengan kaki yang sedikit dihentakkan pelan.

“Berjongkoklah!”

“Apa?” Chan Yeol memasang wajah terkejut

“Ikuti saja ucapanku Yeol. Kenapa bertanya terus?”

“Kau mau mengerjaiku ya?” Ucapnya sembari berjongkok dan aduh kenapa pria ini tinggi sekali sih?

“Sekarang, apa?”

“Kau jadi aneh saat cemburu” Gumamku sembari mengusap-usap bagian kepalanya yang sempat terbentur tadi. Aku memijitnya pelan dan meniupnya sesekali. Dan saat aku menengok ke bawah aku mendapati wajah kesakitan Chan Yeol menyambutku. Hei, kalau dilihat-lihat dia lucu juga ya?

“Kenapa menatapku terus?”

“A…apa?” Aku terkejut sekali saat tiba-tiba Chan Yeol mengangkat wajahnya, membuat pandangan kami bertemu dan oh tuhan! jaraknya terlalu dekat. Kupastikan wajahku pasti pucat pasi sekarang.

“Kau jatuh cinta lagi padaku ya?” Ucap Chan Yeol diiringi senyuman bocahnya dan

*Bugh*

“Kau memukulku lagi!”

.

“Yeo, So Ra baru saja menelpon. Dia bilang naskah novelmu deadlinenya seminggu lagi” Chan Yeol mengucapkannya ketika aku baru saja selesai mandi dan mengganti bajuku dengan piyama tidur miliknya.

“Novel apa?” Aku bertanya bingung sembari menaikkan lenganku ke atas agar tanganku tak tenggelam di balik piyama ini.

“Aku tak tahu sayang. Bukankah kau menyimpan semua tulisanmu di laptop?”

“Tapi…untuk apa aku menulis novel?” Chan Yeol mengereyit lantas mematikan video game yang tadi dimainkannya.

“Kau kan penulis. Itu pekerjaanmu. Kenapa kau menanyakannya?”

“Apa?” Aku meringis sepersekian detik berikutnya karena Chan Yeol tiba tiba mencubit kedua pipiku

“Ah kau bertanya ‘apa?’, ‘apa?’ sepanjang hari. Tidakkah kau ingin menanyakan hal lain”

“Ewh, hentikan Chan Yeol”

“Oke, oke. Eum, apa kau mau mengerjakannya  sekarang? Aku bisa mengambilkan semua yang kau butuhkan” Aku mengangguk dan setelah itu Chan Yeol langsung berjalan ke lemari kecil yang ada di bawah jendela kamar dan mengambil laptop berwarna putih dari sana.

“Aku akan menemanimu malam ini”

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Ah aku sudah menyelesaikannya di kantor kemarin” Chan Yeol sudah menyalakan laptop itu dan menaruhnya di meja yang ada di sudut ruangan. Dia lantas duduk di sampingku dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi milikku sembari mengucapkan beberapa hal yang tak kupahami seperti Penerbit PieceSchon dan cover buku Park dan Eleanor.

“Yeo Jun?”

“Ya?” Aku masih membuka buka file yang ada di laptop ini dan whoah isinya banyak sekali! Apa aku memang seproduktif ini saat 22 tahun?

“Kenapa kau seperti lupa semua hal di kehidupanmu?”Chan Yeol bertanya lirih sembari memainkan rambutku dari belakang.  Hell, kalau saja Chan Yeol tau, aku bahkan tak tau kapan aku memulai kehidupan seperti ini. Kepalaku hampir meledak dibuatnya.

“Dan sepertinya kau juga mulai melupakanku” Jariku berhenti bergerak dan aku bisa merasakan jika nafas Chan Yeol terlampau berat saat mengucapkan hal itu.

“Aku…aku hanya merasa lelah Yeol”

“Benarkah?”

“Iya”

“Baiklah, mungkin mulai sekarang aku harus memaksamu tidur di bawah jam 12 malam” Aku menengok dan mendapati raut wajah Chan Yeol yang cemberut menyambutku

“Memang biasanya aku tidur jam berapa?”

“Jam 2 pagi atau jam 3 pagi. Itu sangat larut tau dan kau selalu berhasil membuatku tidur lebih dulu” Tanpa sadar aku tertawa mendengar pengakuan Chan Yeol. Hei pria ini sungguh kekanakan. Tapi entah kenapa ia malah jadi terlihat lucu saat seperti ini dan tiba tiba sesuatu yang tak pernah kupikirkan terjadi. Tawaku terhenti dan seluruh tubuhku menegang saat bibir Chan Yeol tiba-tiba menempel di bibirku. Pria itu tersenyum di tengah kecupannya, namun tidak denganku. Aku shock. Sungguh!

“Teruslah tertawa seperti itu”

“Ehm, kurasa aku harus segera menyelesaikan ini” Ucapku canggung sembari membalik posisiku kembali menghadap laptop. Hei, kenapa badanku jadi panas dingin seperti ini.

“Baiklah, kurasa aku harus ke bawah sebentar” Gumamnya sembari menepuk puncak kepalaku dan aku tau jika sekarang pasti wajahku sudah pucat lagi.

.

Jam sudah hampir masuk ke pukul 1 malam dan aku masih mati matian menahan diriku agar tetap terjaga. Aku tidak bisa tidur seranjang dengan Chan Yeol. Ada banyak hal yang kutakutkan akan terjadi saat nantinya aku kembali ke usia 17 tahunku. Aku takut melakukan kesalahan terutama saat bersama Chan Yeol.

“Yeo, ini sudah malam. Kau tidak mau tidur?” Chan Yeol kembali bersuara dengan mata yang setengah terpejam. Yeah, sebenarnya dia sudah terlelap semenjak dua jam yang lalu dan aku membujuknya untuk menungguku di tempat tidur saja, namun dia selalu terbangun beberapa kali dan terus menanyakan hal seperti itu. Ia juga terus menerus membujukku untuk ikut tidur meskipun nyawanya sudah setengah melayang.

“Sebentar lagi Yeol”

“Apa kau butuh sesuatu? Aku bisa mengambilkan……………nya” Dan Chan Yeol kembali jatuh tertidur karena dengkuran halusnya sudah terdengar lagi.

“Tidurlah Chan Yeol” Gumamku pelan sembari mengusap hidungku yang entah sejak kapan terus berair

“Ah, aku ngantuk sekali….”

.

Aku rasa aku sakit. Ya sepertinya begitu. Tubuhku rasanya menggigil namun ada rasa panas yang menjalar menyertainya. Huh, ada apa ini? Kenapa aku susah sekali bernafas?

“Sayang…hei apa yang kau rasakan?” Aku membuka mataku yang terlampau berat dan menemukan  wajah panik Chan Yeol. Sebelah tangannya mengusap-usap rambutku dan sebelahnya lagi mengelus pipiku yang rasanya panas bukan main. Dan satu hal yang baru kusadari adalah aku tak lagi tidur di kursi. Aku tidur di tempat tidur!

“Dingin” Ucapku serak dan rasa pening itu langsung menghantam kepalaku. Rasanya lebih menyakitkan dibanding saat aku bangun pertama kali di tempat tidur ini.

“Kau demam Yeo!”

“Dingin” Aku mengulangnya lagi dan Chan Yeol menambahkan satu selimut lagi untukku.

“Astaga. Kenapa panasmu tidak turun-turun? Apa aku perlu memanggil dokter?” Aku menggeleng lemah dan menarik tangan pria itu dengan sisa tenaga yang kumiliki.

“Di sini saja”

“Baiklah, tapi sekarang kau harus minum obat” Aku mengangguk dan Chan Yeol akhirnya membantuku untuk minum obat dengan susah payah. Oh ada apa denganku?

“Ini pasti karena kau kehujanan kemarin. Maafkan aku Yeo!”

“Dingin” Gumamku lagi dengan nafas yang hampir putus. Rasanya pandanganku kabur dan berkunang-kunang. Dan tiba-tiba sesuatu diluar dugaanku terjadi lagi. Chan Yeol merangkak naik ke ranjang dan ia tiba tiba memelukku erat-erat dari samping. Ia menyurukkan wajahnya di ceruk leherku dan memasukkan kakinya ke selimut,  menindih kedua kakiku dan menggesekkannya sesekali sampai menimbulkan rasa hangat yang menenangkan.

“Chan Yeol?”

“Apa masih dingin?” Aku diam, entah kenapa tiba-tiba mataku jadi bertambah berat dan kurasa aku akam segera tertidur karena obat tadi.

“Tidurlah!” Chan Yeol berbisik lembut sebelum aku benar-benar tertidur.

.

Aku mengerjapkan mataku saar sinar mentari yang lumayan terik mengenai salah satu sisi wajahku. Saat membuka mata, hal yang pertama kali kulihat adalah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 4 sore. Well, sudah sore sekali dan yang kulakukan seharian ini hanyalah tidur. Aku menggeliat pelan dan itu membuat seseorang di sampingku ikut melenguh pelan.

“Kau sudah bangun?” Chan Yeol langsung meraba dahiku dan ia langsung menghembuskan nafasnya lega

“Oh syukurlah. Setidaknya ini tak sepanas tadi pagi” Aku mengamati pria di sampingku ini tanpa sengaja. Astaga! Apa aku benar benar menyusahkannya hari ini? Lihat! Dia bahkan tak mengganti piyamanya, matanya sayu dan rambutnya acak-acakan.

“Chan Yeol?”

“Kau memerlukan sesuatu? Apa kau masih kedinginan?” Aku menggeleng pelan

“Terima kasih”

“Untuk apa? Ini kan sudah tugasku”

“Kau tidak bekerja?”

“Jangan pikirkan itu”

“Kau bolos kerja?”

“Menurutmu? Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini?”

“Chan Yeol?” Aku memanggil namanya sekali lagi kendati tenggorokanku rasanya kering bukan main.

“Kau harus makan. Oke kau tunggu sebentar di sini!” Chan Yeol melompat turun dari ranjang dan ia pun keluar dari kamar. Mungkin ia berencana ke dapur. Dan sesuai dugaanku setelah 15 menit berselang ia kembali lagi dengan membawa semangkuk bubur yang masih mengepulkan asapnya ditambah segelas susu.

“Kau belum makan dari tadi pagi” Chan Yeol sekarang tengah sibuk meniup bubur yang baru saja disendoknya.

“Mana punyamu?”

“Apa?”

“Kau juga belum makan dari tadi pagi”

“Aku sudah makan kok” Aku tak tau, tapi yang jelas wajah Chan Yeol berkata jika dia sedang mencoba membohongiku.

“Ayo buka mulutmu” Aku pun membuka mulutku dan Chan Yeol langsung tersenyum senang. Saat ia mencoba menyuapkan suapan kedua, aku menahan pergerakan tangannya.

“Kenapa?” Ia bertanya bingung

“Kemarikan sendoknya” Chan Yeol menurut meskipun ragu dan aku mengarahkan sendok berisi bubur tadi ke depan mulut Chan Yeol.

“Kau juga harus makan”

“Tidak usah Yeo. Yang sakit kan….”

“Chan Yeol?”

“Baiklah” Dan akhirnya pria itu mau memakan buburnya. Well setidaknya ini membuat rasa bersalahku berkurang.

“Kita tidak jadi datang ke reuni?”

“Tidak. Kau belum sehat”

“Tapi aku..”

“Kau demam sayang” Chan Yeol meletakkan mangkuk bubur yang sudah kosong tadi ke meja dan menunjukkan penolakannya.

“Baiklah”

“Aku akan ke bawah sebentar” Chan Yeol sudah bersiap keluar dengan membawa mangkuk dan juga gelas kotor tadi dan aku menahannya sekali lagi

“Yeol?”

“Ya?”

“Bisakah kau kemari sebentar?” Chan Yeol mendekat dan saat itu aku menarik kerah piyamanya dan hell apa yang baru saja kulakukan? Aku mengecup pelipisnya tanpa izin.

“Well, bibirmu panas sekali. Kenapa tidak cium bibirku saja?” Chan Yeol tersenyum menggoda

“Aku hanya bercanda sayang. Kenapa wajahmu jadi tambah pucat?”

“Be…narkah?” Pria itu menggeleng  lantas mengusap rambutku sebelum ia benar benar turun ke bawah. Well, sepertinya suasananya sudah jadi canggung terlebih saat aku menyadari jika hari ini Chan Yeol memelukku sepanjang hari.

.

Chan Yeol tidak ada. Aku tak menemukannya di mana pun. Hanya ada secarik kertas yang mengabari kepergiannya.

“Sayang, aku pergi sebentar. Telpon aku jika kau memerlukan sesuatu” Aku tersenyum dan Mogu yang sedari tadi sembunyi di balik selimutku mulai membuatku geli. Ia terus menerus menjilati tanganku dan bersikap manja bukan main. Aw, dia lucu sekali. Setidaknya aku tak kesepian saat Chan Yeol tak ada.

“Kau sudah makan heum? Apa Chan Yeol memberimu sereal?” Aku mengusap bulu Mogu gemas. Aku melirik ke arah nakas dan mendapati ponselku tergeletak menyedihkan di sana. Saat aku mengecek ponselku aku menemukan sejumlah pesan dari So Jung. Astaga! Aku lupa ada janji dengan gadis itu.

“Yeo Jun aku sudah sampai di cafe. Apa kau jadi datang?”

“Yeo Jun hubungi aku jika sesuatu terjadi padamu”

“Yeo Jun kenapa tidak datang?” Bagaimana ini? Aku lupa mengabari wanita itu dan sekarang sudah pukul 10 malam. Aku lantas buru buru mendial nomornya dan hampir satu menit berlalu tak ada jawaban darinya. Tuhan, apa dia marah? Lalu sesuatu mulai melintas di pikiranku. Chan Yeol? Ya Chan Yeol!

5 detik

10 detik

“Maaf nomor yang…..” Astaga! Chan Yeol juga tak mengangkat telponku. Hei ini menyebalkan sekali. Kemana dia larut malam seperti ini? Kenapa belum pulang? Aku meraba keningku dan mendapatinya masih terasa sedikit hangat. Well, tapi setidaknya aku merasa lebih baik.  Dan sekarang aku merasa lapar? Jadi kuputuskan untuk beranjak dari tempat tidur dan menuju ke dapur. Aku menuruni tangga dengan langkah yang teramat pelan sampai sampai aku ragu jika cicak di rumah ini bisa mendengar derap suaraku atau tidak. Ketika sampai di dapur hal pertama yang kulakukan adalah membuka kulkas dan Great! Aku menemukan semangkuk es krim rasa strawberry di sana. Aku lantas mengambilnya dan bergegas ke sofa yang ada di ruang tengah untuk menikmatinya sembari menonton kartun. Oh ya, kuharap masih ada kartun tayang di jam jam seperti ini. Tapi tiba-tiba Mogu datang dan melompat ke pangkuanku. Ia menyalak beberapa kali dan well, kurasa ia lapar. Aku pun kembali ke dapur dan mengambil sepotong daging sirloin dari sana. Ough, aku bahkan berpikir untuk memanggangnya terlebih dahulu agar Mogu tak kesusahan saat memakannya. Jadi aku memanaskan pemanggang daging milik Chan Yeol yang ada di lemari bawah. Anjing itu manis sekali. Sungguh aku tak bohong. Bahkan sekarang ia duduk di kursi, menungguiku memasakkan makan malam untuknya.

“Ini untukmu Mogu! Hei kau mau makan bersamaku?” Tanyaku pada Mogu dan aku langsung berlari ke ruang tengah mengambil es krimku tadi.

“Apa kau menunggu lama?” Aku menarik kursi yang ada di depan Mogu dan mulai memakan es krimku perlahan sembari mengamati anijingku yang tengah bersemangat menyantap makan malamnya.

“Ouh, mungkin kita perlu musik agar malamnya tak terlalu sepi” Aku akhirnya memutar sebuah lagu lama milik Paramore. Well, ini tidaklah buruk. Dan kupikir pikir menghabiskan waktu dengan Mogu adalah hal yang menyenangkan.

“Hei Mogu! Kapan aku dan Chan Yeol membelimu? Kenapa aku tak ingat sama sekali? Eum, maafkan aku ya?” Aku mengemut sendok es krimku dan mendapati Mogu sudah selesai dengan makanannya. Jadi,

“Apa kau mau mi….”

“Yeo Jun?” Itu suara Chan Yeol! Aku baru akan bersiap menuju pintu masuk namun nyatanya Chan Yeol sudah lebih dulu sampai di dapur. Pria itu kini tengah menatapku dengan ekspresi yang tak bisa kubaca sama sekali. Pandangannya bergantian menyapuku dan Mogu serta meja makan yang sekarang sudah berantakan oleh piring kotor bekas makanan Mogu dan juga mangkuk es krim kosong milik Chan Yeol yang baru saja kuhabiskan. Tak lupa pemanggang daging yang masih bertengger di atas meja menjadi  objek perhatiannya.

“Kau memanggang daging sendiri?”

“Ya. Tapi untuk Mogu”

“Kenapa kau menatapku dan Mogu seperti itu?”

“Kau makan es krim?” Aku mengangguk dan Chan Yeol buru buru berjalan ke arahku dan

*slap* dia meraba raba keningku dengan khawatir

“Kenapa makan es krim? Badanmu masih hangat”

“Aku lapar”

“Kenapa tidak menelponku?”

“Aku sudah melakukannya dan kau tak menjawab telponku” Hening, seolah ada hal yang tak seharusnya terjadi. Aku melihat ada kegelisahan di mata Chan Yeol. Astaga, ada apa dengannya?

“Hei, kau kenapa?”

“Apa kau ingat kapan pertama kali aku menciumu?” Aku diam seketika. Otakku rasanya beku saat pertanyaan itu terucap. Chan Yeol menatapku dalam-dalam. Ia memegang bahuku, seolah memberiku isyarat agar aku bisa menjawab pertanyaan itu dengan mudah.

“Aku tidak tau” Aku tidak bisa berbohong. Jadi kukatakan yang sebenarnya.

“Chan Yeol ada apa?”

“Ehm lebih baik kau istirahat dan tidur” Chan Yeol berbalik dengan langkah yang teramat berat. Ia mulai menapaki anak tangga dengan susah payah seolah di punggungnya ada satu ton batu yang harus dipikulnya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku! Sebenarnya apa yang terjadi” Chan Yeol berbalik dan ia memaksakan sebuah senyuman untukku. Sangat terpaksa dan aku tidak suka melihat senyum Chan Yeol yang itu.

“Aku tidak apa apa”

“Kau bohong! Matamu bilang kau bohong!” Aku melihat dari ekor mataku Mogu berlari ke arah Chan Yeol dan meninggalkanku sendirian di tepi meja makan ini.

“Apa kau mau melakukan sesuatu untukku?”

“Apa?”

“Kau mau melakukannya tidak?” Aku berpikir sejenak. Sepertinya rasa penasaranku sudah mencapai tingkat akut dan mungkin aku harus menuruti permintaan Chan Yeol agar pria ini bicara.

“Baiklah. Aku akan melakukan sesuatu yang kau mau. Tapi kau harus bilang apa yang terjadi” Chan Yeol berjalan selangkah demi selangkah dan entah kenapa setiap pijakan kakinya membuatku gemetar perlahan-lahan. Ada rasa takut yang menyusupi hatiku. Dia kini berhenti saat jarak kami sudah tinggal satu jengkal.

“Cium aku!”

“Apa?!” Aku terkejut, sungguh!

“Kenapa? Kau tidak mau melakukannya?”

“Bukan begitu Yeol, hanya saja….”

“Kalau begitu cium aku!”

“Tapi…”

“Apa kau takut? Kita sering melakukannya bukan?”

“Chan Yeol aku tidak….”

“Ada apa denganmu?”

“Aku tidak bisa” Dan keheningan kembali melanda kami. Aku hanya bisa menatap lantai sekarang. Dan saat itu aku baru sadar jika Chan Yeol sudah menangis sesenggukan.

“Kau bukan Yeo Jun-ku!”

3 thoughts on “17 Going to 22? (Chapter 3)”

  1. Wah waaahhh Chanyeol meweekkk T.T cupcucpcup… sini Yeol aku aja yg cium kalo Yeo Jun nggak mau /Plakk😄 aduuhh sampek kapan ini Yeo Jun ini balik ke dunia nyatanya. Mungkin dia harus nonton film itu lagi supaya semuanya bisa kembali. eh tapi kalo aku jadi Yeo Jun aku aih iklas kok langsung umur 22 terus punya suami kaya Chanyeol. Wuaaaaa ♡.♡ nggak mau baliiiikkk…. lovyuh banget deh Chanyeol oppa! :*

    lanjut terus yaa! aku akan selalu nunggu ff kece ini! fightiing!^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s