[Ficlet] Ataxia

Ataxia

Scriptwriter: Naa Mitwins | Title: Ataxia | Cast: Kim Seok Jin (BTS) and Min Na Yeon (OC) | Genre: Romance | Duration: Ficlet | Rating: All age |

Summary: Yah.. Min Na Yeon melakukannya. Menggenggam hati Seokjin dengan sepenuh cinta.

 

Ataxia

“Seokjin-ah, kau tidak malu? Sedari tadi mereka melihat kearah kita?”

“Aku tidak peduli.”

Pria manis itu masih berusaha menusuk sosis di piring dengan garpunya, memotongnya menjadi bagian-bagian kecil agar gadis di hadapannya tak kesulitan menelan makanannya.

“Segera letakkan sendok dan garpunya Seokjin Oppa. Aku bisa makan sendiri.” Gadis itu mendelik sebal, berharap intonasi yang sedikit ia naikkan mampu membuat pria manis yang masih sibuk berkutat dengan sendok dan garpunya itu segera meletakkannya di piring.

Bukan masalah besar memang jika gadisnya itu terus saja menggerutu sejak tadi, bahkan sudah beberapa bulan belakangan gadis itu terus menggerutu tentang hal yang sama. Toh, pria manis itu tak peduli. “Tidak bisa sayang. Itulah sebabnya aku meluangkan waktuku untuk menemanimu makan siang.”

“Tapi mereka menganggapku gadis yang terlewat manja pada kekasihnya Seokjin.”

“Memang begitukan?”

Seokjin, sang pria manis terkekeh. Di balik sensasi aneh yang menjalar di hatinya saat mendapati tatapan orang-orang yang seolah mencela gadisnya; tanpa tahu alasan di balik suapan demi suapan yang ia berikan pada gadisnya.

Spinocerebellar Degeneration Ataxia.

Sebuah penyakit sistem syaraf yang mengharuskan gadisnya menerima takdir bahwa ia tidak sempurna.

Memang fisik gadisnya tak berbeda jauh dengan gadis-gadis normal lainnya. Memiliki helai rambut yang bergelombang dan lembut, bibir cherry merona siap untuk dikecup, hidung mancung yang menggantung di wajahnya, dan tentu saja sorot mata itu juga seperti gadis-gadis lainnya yang penuh dengan kelembutan.

Gadis itu cantik.

Gadisnya memang cantik.

Ya, seorang Kim Seokjin mengakuinya.

Awal pertemuan mereka mungkin terbilang cukup sederhana.

Di awal musim gugur menjadi saksi bisu pertemuan dua pasang manusia. Disaksikan hujan dimana Seokjin harus berterima kasih pada sang awan kelabu yang telah membuatnya dipertemukan oleh sang takdir cinta.

            Ingatan itu kembali berputar dalam memori milik Seokjin. Memori yang bahkan rela Seokjin tukar dengan nyawanya sekalipun untuk tetap mempertahankan eksistensinya. Dan memori itu seolah berputar kembali dalam ingatan Seokjin saat jendela café di sebelahnya menampakkan awan kelabu di luar sana.

“Chogiyo.. Kau akan pulang atau sekedar menunggu hujan reda?”

            Seokjin menolehkan kepalanya saat menyadari seseorang sedang berbicara padanya, menurunkan payungnya dan kembali menarik langkahnya mundur sekedar menghindari percikan hujan di teras café yang baru saja disinggahinya.

            “Tentu saja aku akan pulang, aku rasa aku tidak mungkin menunggu hujannya reda.” Seokjin terdiam beberapa saat, memandang kelabu yang masih nyata menggantung di cakrawala senja. “Sepertinya hujan seperti ini masih akan berlangsung hingga malam.”

            Gadis yang beberapa saat lalu membuka konversasi dengan Seokjin itupun hanya mengangguk sebagai pembenaran. Sang gadis memilih memainkan ujung sweaternya sebelum memutuskan untuk berucap dengan nada yang penuh keraguan.

            “Boleh aku meminjam payungmu?”

            Seokjin mengernyit tak mengerti. Sesaat kepalanya melongok ke belakang dan mendapati gagang payung yang menyembul dari balik ransel sang gadis yang semakin membuat dahinya penuh dengan kernyitan kebingungan.

“Aku lihat kau membawa payung di balik punggungmu, dan..”

“Aku tau.” Gadis itu memotong ucapan Seokjin sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya dan buru-buru menambahkan sebelum pria manis itu kembali bertanya, “aku membawanya, tapi aku tak bisa menggenggamnya.”

Suara gadis itu terdengar lirih di akhir kalimat, memilih menunduk sedikit saat pria di hadapannya justru tersenyum dengan begitu hangat ke arahnya.

Tak selamanya musim hujan terasa menyebalkan, setidaknya itulah anggapan Seokjin. Saat ada seorang gadis cantik menemani langkahnya di tengah air dari langit yang terus menumpahkan volumenya tanpa bisa dipastikan kapan akan berhenti. “Aku Kim Seokjin, kau boleh memanggilku Seokjin, dan…”

“Na Yeon, Min Na Yeon imnida.”

Tak ada sambutan tangan hangat yang mengawali perkenalan mereka; yang ada hanya hangat yang terasa dari rangkulan tangan Seokjin di bahu Na Yeon, tak membiarkan hujan yang nakal menyentuh bahu sang gadis yang tak terlindungi sepenuhnya oleh payung.

Dan bagi Na Yeon tentu saja payung tak selalu menolong saat hujan tanpa permisi menjatuhi bumi. Seolah benda itu hanya sebagai penghias sudut terluar dari ranselnya saja. Karena Na Yeon tak peduli dengan eksistensi payungnya; karena kenyataannya ada seseorang yang ingin berbagi payung dengannya.. menggenggam erat gagang payung serta bahunya di tengah rinai hujan sore hari.

**

Semua gadis menyukai bunga,

Semua gadis menyukai mawar.

Dan Na Yeon adalah salah satu gadis yang juga menyukainya. Seokjin tau itu. Dan hari ini, di Sabtu sore musim gugur, pria manis itu dengan riang membawa sebuket mawar merah di hari kesekiannya berkencan dengan gadis pujaannya.

Langit di atas sana seolah telah berkompromi untuk tidak mengganggu kencannya hari ini, dan matahari sore dengan senang hati semakin bersinar cantik di atas sana.

Gadis itu telah menunggunya. Kekasihnya tengah duduk di bawah naungan pohon oak besar di sudut taman kota. Seokjin melangkahkan kaki, menapak begitu pasti mendekat ke arah kekasihnya menunggu, sementara tangannya yang lain semakin erat menggenggam buket mawarnya.

“Untukmu.”

Na Yeon menoleh, mendapati mawar merah di hadapannya, membiarkan separuh wajah manis pria kesayangannya tertutupi.

“Mianhae.” Na Yeon mengangkat tangannya ke atas, sedang kepalanya menunduk tanda bersalah.

Gadis itu merasa bersalah. Ia memang menyukai mawar yang dibawakan kekasihnya, namun apa gunanya jika Spinocerebellar Degeneration Ataxia tak mengizinkannya sekedar untuk menggenggam mawarnya. Manusia tanpa bisa menggenggam;  hal itu sedikit membuat Na Yeon sangsi bisa menjadi manusia seutuhnya.

“Aku tidak apa-apa. Kau tidak usah sedih, aku tidak marah Nay. Kau tidak perlu merasa bersalah karena jemarimu yang tak bisa melakukan hal yang seharusnya kau lakukan.”

Gadis itu meraih lengan Seokjin saat pria itu mencoba merengkuhnya, mencoba menegarkan diri untuk tidak mempersalahkannya lebih jauh.

“Asalkan kau masih bisa menggenggam tanganku, kau yang masih bisa memberikan pelukan hangat untukku, kau yang masih bisa menyuapiku di saat aku tengah bosan di rumah sakit, ataupun kau yang masih bisa memberikan cubitan di perutku saat aku mengganggumu. Aku tak masalah untuk itu Nay, asal kau tetap menjadi kekasihku. Dan…”

“Dan??” Na Yeon menunggu, menunggu kelanjutan kalimat Seokjin setelahnya.

Seokjin menyukai saat gadisnya menaruh rasa penasaran besar untuknya, tersenyum sesaat sebelum kembali melanjutkan, “Dan cincin ini bisa ku sematkan di jemarimu.”

Spinocerebellar Degeneration Ataxia.

            Tak masalah bagi seorang Kim Seokjin jika gadisnya tak sempurna. Pria itu tak peduli jika syaraf sang gadis memang tak mampu untuk sekedar menggenggam barang-barang kecil di sekitarnya. Tapi cukup Seokjin ketahui, jika secara tak kasat mata; gadis itu telah mampu mencengkram hatinya terlalu kuat, tak membiarkannya berpaling ataupun meninggalkannya.

Yah..

Min Na Yeon melakukannya.

Menggenggam hati Seokjin dengan sepenuh cinta.

END

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s