Please Hide My Identity – 5

please hide my identity

Please Hide My Identity Part 5

Scriptwriter: Charikha

Main cast: Park ae hyeon OC, Mark Tuan (GOT7)

Support Cast: GOT7 member, Gongchan B1a4, Kim Yoora OC, Miss A, Apink

Genre: School Life, Romance, Drama, Sad

Rating: PG-15

Duration: Chaptered

Previous part: 1. 2. 3. 4

Enjoy the show . .

 

Hyeon POV

“jam pulang sekolah tunggu aku di depan gerbang pukul 3.30 saat institute telah sepi. Jika kau tidak datang maka  temanmu, kau tau sendiri”

Aku segera menggeleng-gelengkan kepala ketika kalimat mark sunbae berputar di dalam pikiranku hingga bel akhir pun tak terdengar sama sekali di telingaku.

“na eotteokhe..heish” aku mengacak-acak rambutku yang lurus

“Angela, ayo pulang” ajak yoora padaku yang sudah siap sejak 2 menit yang lalu

“geure,kajja” akhirnya aku memutuskan untuk pulang bersama yoora dan chan

Kami berjalan pulang bertiga menyusuri koridor demi koridor hingga sampai pada gerbang institute. Aku dan yoora saling berpandangan ketika kami berpapasan dengan Got7 dan suzy. “aigoo got7” bisik yoora yang sangat senang ketika berada di dekat kelompok popular itu. Chan seperti biasa menunjukan ketidaksukaannya terhadap got7 dengan memilih untuk pulang lebih dahulu ketimbang kami yang masih terpaku menempel di tanah.

“oh my god, pulang sekolah pun aku masih bertemu bidadari yang pandai melukis” ujar Jackson sumringah dan menghampiri ku

“angela bisa kah kau mengajariku melukis? Lukisanmu noemu jjangieyo” tambah Jackson yang sudah berdiri disampingku

“ne sunbae” aku menjawabnya dengan senyum canggung

“angela siapa yang berada di sampingmu itu?” ujar bambam yang terlihat mengamati yoora dengan tatapan penuh maksud

“oh ini, perkenalkan dia adalah teman sekelasku” aku menyuruh yoora untuk memperkenalkan diri

“joneun yoora imnida, bangapta sunbae” gadis itu membungkukkan badannya dan terlihat sangat senang

“jadi namamu yoora, wah nama yang bagus” sanjung bambam kepada hobae barunya itu

“eh…mark sunbae sepertinya tak terlihat, dia kemana sunbae?” tanya yoora sambil menghitung satu per satu anggota got7

“hyung sedang ada urusan jadi sudah pulang sejak tadi” jelas bambam

Disisi lain jaebum sudah berdiri disampingku, menatapku. Bonekanya yang sangat cantik tetap berada disisi jinyoung namun matanya seperti berjalan mengawasi kemana jaebum melangkah.

“Neo gwenchana” tanya jaebum padaku karena dirinya khawatir akibat hukuman yang di berikan mark

“yah hyung, aku kan sedang mengobrol dengannya” protes Jackson yang kini lebih memilih pergi mengganggu dongsaengnya yugyeom dan youngjae karena bambam asik mengobrol dengan yoora

“aku sudah tak apa sunbae” aku menjawab seperlunya karena aku merasa sedang di perhatikan oleh suzy sunbae

“apa kau ingin pulang bersama kami? Kami akan pergi sebentar ke café coffee yang ada di ujung jalan” ajak jaebum padaku

Yoora walaupun sedang berbicara dengan bambam tapi telinganya sangat jeli ketika jaebum mengatakan akan mengajak minum bersama. Sikutnya terasa sekali di lenganku kemudian dilanjutkan dengan bisikannya yang menginginkan aku menerima ajakan jaebum sunbae.

“Mianhaeyo sunbae tapi kami sepertinya tidak bisa ikut” aku menolaknya dengan sopan

“wah kalau kau ikut pasti akan seru, angela” ujar Jackson dari kejauhan

“jb-ah kalau dia tak ingin ikut sudahlah, kajja. Aku ingin segera pergi ke café” ungkap gadis yang menjadi primadona di jurusan music

“geure, jika kau memang tak bisa ikut tak apa” terlihat raut wajahnya kecewa

Aku bisa melihat ketujuh punggung para sunbae yang kini sudah menghilang di balik tembok gerbang institute. Aku dan yoora sebenarnya ingin melanjutkan perjalanan kami menuju subway namun aku mulai risih dengan rengeknya yang ingin ikut untuk berkumpul di café.

“yah! kau ini diberi kesempatan baik malah kau tolak” yoora memanyunkan bibirnya

“Apa kau tidak malu dengan situasi seperti itu. Akan terlihat cangung” aku menjelaskan sambil menggandeng tangannya agar dirinya cepat berjalan

“walaupun mark sunbae tidak ada aku juga ingin bersama sunbae tampan lainnya” ujar yoora yang kini tengah berada 2 langkah didepanku

Aku berhenti sejenak ketika yoora mengucapkan nama mark sunbae, aku jadi teringat akan kata-katanya. “Apa aku harus menunggunya disini tapi kenapa sunbae pulang terlebih dulu” aku berkata dalam hati.

“yah? Kau tidak ingin pulang?” yoora mengguncangkan bahu ku akibat aku melamun

“omo, sepertinya bukuku tertinggal di kelas” aku memberinya alasan yang masuk akal agar dapat berpisah dengannya

“heis, kau ini. kajja aku antar kau kekelas” yoora berbalik badan dan berjalan semangat

“ani, , yoora-yah kau tak usah mengantarku. Pulanglah aku akan mengambilnya sendiri” jelasku padanya

“o,,kenapa kau tidak seperti biasanya. Apa kau ingin berkencan?”

B L A M . . .

Aku terkejut ketika mendengar yoora mengatakan aku ingin berkencan, apa yoora mengetahui gerak-gerik ku sehingga pikiranku mudah sekali dibacanya

“kenapa kau melamun lagi, memang benar kau sepertinya ingin berkencan dengan sekuriti itu, baiklah aku tak akan mengganggumu” Yoora tersenyum mengejekku

Lega rasanya ketika yoora hanya mengejekku dengan sekuriti penjaga institute, aku pikir dia mengetahui aku akan menemui mark sunbae. “yah! memangnya aku ahjuma berkencan dengan ajoshi penjaga pos itu, sudah kau pulang saja”

“arraseo, , anyeong angela. Josimhae” yoora pamit lalu bergegas menuju jalanan subway

Aku langsung berjalan masuk kembali ke dalam gerbang agar yoora tak curiga namun saat punggung yoora tak terlihat lagi aku segera membalikan badan dan menunggu di bawah lampu penerang gerbang. Aku menunggunya sambil melihat jam yang melilit ditangan kananku. Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 3.30 seharusnya sunbae itu telah menemuiku tapi sampai detik ini belum juga ada tanda-tanda darinya.

“heish, kalau bukan karena temanku aku tak akan menunggumu sunbae. Ini sudah lebih 5 menit!”

Aku masih berdiri sambil menggoyang-goyangkan kakiku untuk mengurangi rasa bosan. 10 menit sudah aku menunggunya dari batas permintaan yang ditentukan olehnya. Aku seperti dipermainkan oleh sunbae tak berperikemanusiaan itu.

“yah sunbae, aku sudah menunggumu tapi kau sendiri yang tidak datang. Sekarang aku pulang jangan salahkan aku jika kau tidak menemukanku di gerbang,eoh!” aku meyakinkan diri untuk beranjak dari gerbang institute. baru saja langkahku sampai pada langkah ke 5 sebuah mobil jaguar putih melaju kencang dan tiba-tiba berdecit tepat di sebelah ku. Sontak aku memberhentikan langkah kakiku, saat aku lihat dari jendela yang kini terbuka secara otomatis aku melihatnya dengan jelas kalau yang duduk dibalik kemudi adalah mark sunbae sang manusia dingin.

“naiklah” ujarnya dari dalam mobil

“waktumu sudah habis sunbae” aku kembali berjalan

Suara pintu mobil terbuka terdengar jelas ternyata sunbae dingin itu telah keluar dari kemudinya, dia berjalan mengejarku dan menggenggam lengan tanganku dengan kekuatannya sehingga dengan mudahnya aku berbalik badan.

“yah” teriakku

“aku bilang naik, kenapa kau pergi?” mark menggenggam pergelangan tangan dan menarik tubuhku menuju pintu penumpang. Namja tampan itu membukakan pintu lalu menaikanku ke kursi mobilnya yang empuk.

Aku hanya bisa duduk diam menatap sunbae yang sedang berjalan di depan kap mobil dan kini telah sampai pada pintu mobilnya. Dibuka knop pintunya lalu duduk di balik kemudi. Aku masih menatapnya tajam tanpa sebuah kata keluar dari bibir tipisku.

“kenapa kau melihatku seperti itu? Tertarik padaku?” dirinya memberikan senyuman sekejap dan berbicara kembali “cepat pakailah sabuk pengamanmu”

aku masih diam menatapnya, aku menyimpan amarah padanya sebab dirinya membawaku entah kemana tanpa persetujuan dari ku. “kau ingin membawaku kemana? Aku tak kan memakai sabuk pengaman hingga kau memberitahuku” aku memberanikan memanggilnya tanpa ada embel-embel sunbae. Bukannya marah namun mark kini mendekatkan tubuhnya padaku tangannya meraih ujung sabuk pengaman yang tepat berada disampingku hingga wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Entah kenapa aku seperti tak bisa bernafas jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Mark sunbae memasangkan sabuk pengaman padaku kemudian dirinya memasangkan sabuknya. Aku yang masih kaku akibat perbuatannya memalingkan wajah setelah ia berkata “kemana kita, nantinya kau akan tau”. Mark langsung menyalakan mobil mewahnya itu kemudian melajukan mobilnya sehingga menyepa dedaunan yang tengah gugur di jalanan institute.

*****

Rumah besar bergaya tradisional korea itu membuat penghuninya nyaman dan terlihat awet muda. Mungkin karena adanya air terjun buatan yang di buat oleh keluarga Bae. Inilah rumahnya yang amat terkenal dengan keasriannya ditengah kota seoul yang sangat modern. Hari ini Usai Suzy berkumpul dengan got7 sang kelompok popular, ada jadwal yang memang diperuntukan untuk berkumpul dengan kelompoknya sendiri. Kelompok wanita yang juga popular namun hanya popular dikalangan jurusan musik saja karena kepopuleran institute masih dipegang oleh GOT7 yang notabene keluarga-keluarnya yang penting bagi institute of art.

“kau sudah dirumahku min?” tanya suzy yang baru sampai di halaman belakang rumahnya

“yah, jam berapa sekarang apa kau lupa?” jawab min sambil memberikan makanan untuk ikan koi peliharaan suzy

Jia yang sibuk bermain golf pun ikut mencercanya “ sepertinya kau kini lebih menempel pada Got7 daripada kami?” jia melanjukan pukulanannya membuat one hole

“jangan seperti itu, bukankah kalian yang mendukungku untuk bersama jb? Lagipula masih banyak waktu untuk kalian berdua” suzy tersenyum membuat suasana hati temannya sedikit mencair. Memang senyuman suzy dapat mencairkan hati siapapun yang sedang memiliki tingkat emosi tinggi

Jia menghentikan permainan golfnya dan meletakan stick golf pada pelayan suzy yang selalu stanby disampingnya. Jia berjalan menuju gazebo dimana suzy duduk.

“suzy-ah kau tau kabar tentang jaebum?” ujar jia yang kini wajahnya serius

“memangnya jb ada apa? Sepertinya baik-baik saja?” jawab suzy cuek dan memilih ikut menebarkan makanan untuk ikan koi kesayangannya

Min merebut bungkusan makanan ikan yang di pegang suzy “ kau dengarlah jia dulu ini sangat penting”

“baiklah, kabar penting apa?” suzy duduk dan menatap jia serius

“aku mengetahui ini dari temanku yang mengambil jurusan film, beberapa hari yang lalu jaebum dan angela pulang bersama” jia menjelaskan dengan mimik wajah yang terlihat tidak begitu senang

“jinjja? Ey, solma” suzy sedikit terkejut mendengar hal tersebut

“bukankah kau selalu berada di samping jaebum? Jia bercerita padaku kalau anak itu bergandengan tangan dengan jaebum” min menambahkan ulasan yang diberikan jia

Mendengar kata bergandengan tangan suzy terperanjat, wajahnya yang putih seperti mutiara berubah menjadi merah seperti bunga mawar yang mengeluarkan duri, api kecemburuan terlihat nyata di matanya

“bagaimana bisa?? Aku tak akan membiarkan ini terjadi. Aku harus cepat mengatakan pada ayah agar pertunanganku dengannya dipercepat” ungkap suzy yang matanya disipitkan seperti sedang mengatur suatu rencana besar.

****

Hyeon POV

Mobil mark berhenti tepat didepan rumah modern yang juga sama besarnya dengan rumahku. Gerbang rumahnya yang terbuat dari besi bercat emas menambah nilai kemewahan dari rumahnya itu. Tanpa mark turun dari mobil, sepertinya jaguar putihnya itu sedang berbicara pada orang-orang berbaju hitam untuk membukakan pintu gerbang. Mark pun dapat melenggang masuk lalu memarkirkan kuda besinya itu tepat dipintu masuk rumahnya.

“kita sampai” ujar mark sambil melepaskan sabuk pengamannya

Aku sudah mengetahui bahwa ini adalah rumahnya karena 2 penjaga gerbangnya menunduk ketika mark memasuki gerbang. Namun yang menjadi pertanyaan di dalam pikiranku untuk apa mark sunbae mengajakku ke rumahnya atau sebenarnya dia ingin melakukan hal-hal yang tak terduga seperti di institute. “andwae”, beberapa pemikiran melayang-layang dibenakku.

“apa kau tak ingin turun?” tanpa ku sadari mark sudah membukakan pintu

“untuk apa kau mengajakku kerumahmu sunbae?” aku bertanya padanya karena aku tak ingin hal buruk terjadi

“nanti akan ku jelaskan saat kau masuk kedalam” jelasnya

Akhirnya lagi-lagi aku mengikuti keinginannya karena jika tidak aku akan kehilangan temanku. Aku berjalan 1 langkah dibelakang langkahnya, aku mengikutinya masuk keruang tamu yang bernuansa orange. Mulai dari cat dinding, jendela dan pintu hingga seluruh isi perkakas ruang tamunya berwarna orange lembut. Aku melihat dindingnya dipenuhi foto-foto keluarga mark sunbae namun foto yang kulihat lebih pada foto eommanya yang utama. Foto eommanya terpajang manis dimana-mana mulai dari dinding, meja, laci, lemari bahkan diatas piano klasik pun foto eomma mark sunbae seperti tersenyum memandang kami yang baru saja masuk dan pergi ke arah ruang keluarga. Perapian kuno telah menyambut kehadiran kami, disana hanya ada aku dan mark serta beberapa pelayan yang berjaga di luar pintu.

“kau ingin minum sesuatu?”

“tidak perlu, katakan saja kau membawaku kesini untuk apa?” ku terus menanyakan dengan wajah yang lebih serius

“Baiklah kalau kau ingin segelas orange jus akan aku ambilkan kau tunggu saja disini” ujarnya yang berkata begitu cepat dan menghilang juga di balik tirai lorong ruang keluarga

“hei!!” aku berteriak kesal padanya

Entah mengapa seperti ada yang memanggilku untuk melihat-lihat seisi ruangan. Lagi-lagi bingkai foto bertebaran dimana-mana. 1 bingkai foto berukuran besar terpajang didinding sepertinya itu adalah sebuah foto keluarga. “ternyata sunbae itu anak tunggal” aku mengatakannya ketika melihat hanya ada mark difoto itu dan dari foto itu ditegaskan bahwa seorang laki-laki tua yang memiliki kharisma seperti sunbae lalu foto seorang ibu yang cantik memiliki senyum menawan adalah orangtuanya. Saat aku beranjak ke arah sofa aku melihat ada bantal yang sepertinya pelapisnya adalah foto ibu mark dan saat aku melanjutkan ke arah rak yang berisikan seluruh foto-foto kecil aku tersentuh dengan foto mark bersama ibunya. Mark berfoto dengan ibunya dikala usianya masih dini.

“kau lihat apa?” tanya mark tiba-tiba yang tentu saja membuatku terkejut

“ah tidak, aku hanya tertarik pada rumahmu, sepertinya kau menempelkan semua foto-foto keluarga” aku menjelaskannya tanpa canggung

“ya begitulah” jawabnya singkat sambil mempersilahkan aku untuk meminum minuman yang dibawanya

“ne-neo gwenchana sunbae?” aku bingung ketika raut wajahnya berubah dan langsung duduk lemas di sofa orangenya itu.

Aku mengikutinya duduk disamping tubuhnya lalu menatap wajahnya sambil meminum segelas orange jus yang dibawakannya.

“ne, gwenchana” dirinya kembali tersenyum lalu menatapku

“kau pandai melukis jadi aku ingin kau melukis” mark kini menjelaskan mengapa aku diajak kerumahnya

“mwo? Melukis? shiro, aku sudah berjanji tak akan melukis atau menggambar wajahmu lagi” jelasku padanya, minuman yang ku minum entah bagaimana dapat membasahi sudut bibirku

Tanpa ada angin dan hujan, tangannya sudah berada pada bibirku dan menghapus air yang ada di sudut bibirku menggunakan jari jempolnya.

Lagi-lagi aku seperti tak bisa bernafas dan jantungku berdetak tak teratur.

“aku ingin kau melukis foto yang ada dirumahku” tambahnya

“melukis foto keluarga? Bukankah kau sudah banyak memiliki beberapa foto” tanyaku bingung

“ani, kau hanya perlu melukis eomma ku karena rumah ini belum terpajang sebuah lukisan eomma” mark memberikan 1 foto eommanya saat menggendong mark diusia 2 tahun

“hey, apa ayah mu tidak cemburu kalau kau hanya memintaku melukis kau dan ibumu?” aku memandangi foto itu

“untuk apa ayahku cemburu, aku bisa menemui ayahku kapan pun sedangkan eomma, aku hanya menemuinya di dalam foto-foto itu” pandangannya tertuju pada foto besar berwajahkan ibunya di dinding

“maksudmu sunbae?” aku menyeringai seperti kurang paham akan maksud mark

“eomma ku meninggal saat aku berusia 7 tahun” dia menjelaskan dengan raut wajah yang belum pernah sekalipun aku melihatnya di institute

“mi-mianhe sunbae aku tak bermaksud untuk . . .” kata-kataku terputus saat dirinya mengucapkan sesuatu

“it’s ok” wajahnya kembali terlihat rona kesedihan

Aku melihatnya seperti tak percaya sosok manusia dingin yang memiliki sikap acuh di institute sangat berbeda ketika sampai dirumah dan jauh berbeda ketika teringat akan mendiang ibunya. Aku  memberanikan tanganku untuk meletakkannya diatas bahunya “tenanglah sunbae, eomma mu pasti bahagia” aku menenangkan sunbae ala kadarnya

“kau berusaha menenangkanku?? Kalau begitu berikan bibirmu aku akan tenang jika kau memberikannya padaku” ucapannya membuat tanganku turun dari bahunya dan ingin sekali berpindah ke pipinya yang berwarna putih itu

“yah! Sunbae neo jjinja . .” aku sudah berada pada posisi ingin memukul pipinya namun saat melihatnya tersenyum memperlihatkan giginya yang putih aku tak jadi memberikannya sebuah pukulan.

“aku hanya bercanda angela” ujarnya

“baiklah jika aku menolongmu melukis apa kau berhenti mengancam temanku?”

“sepertinya tidak, aku ingin sekali mengeluarkannya karena dia itu seorang baby sister” mark tertawa seperti ada hal lucu di depan bola matanya

“kalau begitu aku tak akan melukis untuk mu lebih baik aku pulang” aku mulai berdiri dari posisi dudukku tiba-tiba saja mark menggenggam pergelangan tanganku erat

“hajima, aku akan menurutimu angela, mianhe”

****

Makan malam keluarga jaebum sangat formal setiap harinya, appa dan eommanya selalu ada dimeja makan lengkap dengan menu khas keluarga tersebut. Sapi panggang segar adalah menu yang paling disukai keluarga itu ditambah dengan 1 botol wine yang diambil dari gudang penyimpanan wine di ruang bawah tanah. Jaebum tepat duduk disamping eommanya sehingga appanya dapat memandang anaknya jelas.

“jaebum-ah bagaimana hubungan kau dengan nona suzy?” tuan Im membuka percakapan

“aku berhubungan baik dengannya appa” jawab jaebum kemudian melahap 1 slice daging sapi yang sudah ditambah dengan selembar kimchi

“baguslah kalau begitu jadi jika pertunangan kalian dipercepat tidak akan masalah” ujar tuan Im yang kini meminum segelas wine berwarna merah

“yeobo” tutur eommanya

“appa, aku tak suka dengan pertunangan, kami berhubungan baik karena kami adalah classmate dan aku bisa mendapatkan yeoja pilihanku sendiri appa” bantah jaebum kali ini dengan meletakkan alat makannya sehingga menimbulkan bunyi nyaring

“Tuan Bae ingin mempercepat tunangan kalian, appa harap kau sebagai anak appa menghormati keputusan appa” ayahnya kini sepertinya menutup pembicaraan dengan sebuah pernyataan dan pergi begitu saja meninggalkan meja makan

“eomma” jaebum memanggil eommanya seperti sedang meminta tolong

“arraseo, eomma akan bicara dengan appamu” eomma jaebum lebih memihak pada anak tersayangnya

Jaebum adalah anak yang berbakti kepada orangtuanya, semua perkataan ayah dan ibunya akan diturutinya namun kali ini hatinya bertentangan dengan akal pikiriannya karena dihatinya hanya ada angela seorang

Author POV

Bibir wanita muda ini seperti selalu berkomat-kamit, kata-katanya selalu mengandung nama dari anaknya ae hyeon. “Hyeonie ini sudah malam kau kemana?” eommanya benar-benar khawatir pada anaknya itu. Sudah beberapa kali Ae kyung menelpon dan mengirim pesan padanya namun tetap saja hasilnya nihil tak ada jawaban dari hyeon hanya jawaban operator provider yang menjawab.

“Mr.Han apa kau tau ae hyeon kemana? Apa kau sudah cek ke institute?”

“jwesonghamnida Mrs, tapi saya tak mengetahui nona park ada dimana, 1 jam yang lalu saya sudah cek ke institute kalau keadaan institute sudah sepi sejak 2jam yang lalu dan kami bodyguard telah menyusuri sekeliling institute namun juga tak menemukannya” Mr.Han hanya membungkuk karena ini pertama kali dirinya merasa tak berguna

“apa yang harus aku lakukan Mr.Han, bagaimana kalau terjadi apa-apa pada anakku!” ae kyung mulai bingung bahkan suaminya juga mendapatkan sambungan telepon olehnya.

Ae kyung merasa sangat bersalah dengan membebaskan putrinya yang masih baru di seoul pikirnya ae hyeon tidaklah mengenal dengan baik wilayah seoul. Hingga Ae kyung menetapkan hatinya untuk kembali mengawal anaknya.

****

Suasana malam di kediaman Mark Tuan seperti biasa ayah mark Raymond Tuan pulang dari rutinitasnya. Raymond heran dengan mark yang berada di ruang keluarga hal ini dia ketahui dari laporan pelayan dirumahnya. “Jadi dia tidak berada dikamar seperti biasanya, wah ini perlu dirayakan” Ayahnya kaget karena kebiasaan mark setelah pulang dari institute adalah masuk kamar dan keluar saat hanya makan malam dengan ayahnya sisanya mark akan masuk kembali kedalam kamar, kebiasaannya ini sudah dari 15 tahun yang lalu semenjak ibu mark meninggal. Ayahnya mengetahui mark sedang ada tamu hingga dirinya lebih baik membiarkannya dengan tamunya itu, karena berkat tamunyalah mark berubah.

Hyeon POV

“selesai”

Aku meletakan sebuah kuas dan pallet milik mark sunbae diatas meja, kami berdua masih asik berada di ruang keluarga. Selama melukis mark selalu memperhatikan detail garis, goresan dan warna yang aku pergunakan. Tanpa melewatkan waktu sedetikpun, mark fokus belajar bagaimana cara melukis yang baik dan indah. Saat aku ucapkan kata selesai raut wajahnya mulai tampak rona kesedihan, sunbae dingin itu tak lagi menunjukan sikap dinginnya seiring dia melihat lukisan eommanya.

“eomma” panggilnya lirih

Aku melihat matanya yang berwarna coklat itu kini mengeluarkan butiran air mata, aku sangat membenci namja ini namun saat ku melihat raut wajahnya sekarang aku merasa sangat iba padanya dan mulai timbul rasa peduli padanya.

“Sunbae, kau tak apa?” Aku menghapus bulir air matanya dengan tisu yang selalu aku bawa di dalam tas

“boleh pinjam bahumu?” mark menatapku penuh haru

Aku terdiam sesaat lalu ku ijinkan sunbae itu meletakan kepalanya di bahuku seperti seorang anak kecil yang sedang merindukan eommanya. Dia tak menangis seperti wanita yang sangat begitu jelas terlihat jikalau sedang menangis namun sepertinya tangisannya adalah sebuah tangisan yang terpendam karena sampai detik ini mark sunbae masih diam tanpa berkata sesuatu hal semenjak menyandarkan kepalanya.

Diangkatnya lukisan yang telah ku lukis dengan sempurna sejajar dengan arah matanya yang fokus ke mata eommanya, Kurasakan air matanya membasahi jaket seragamku. “Eomma, kau tampak nyata” ujarnya tanpa melepaskan pandangan dari lukisan eommanya itu. Memang lukisanku terlihat begitu nyata seperti aslinya karena aku membuatnya dengan penuh kesungguhan ingin membantunya. Suasana kembali hening namun tiba-tiba mark sunbae kembali membuka pembicaraan kali ini bukan hanya kepalanya yang di sandarkan di bahuku tangan kanannya mulai menggenggam tanganku erat karena tangan kirinya sibuk dipakai untuk memeluk lukisan eommanya. Hal ini membuatku terbujur kaku, lagi-lagi aku seperti berhenti bernafas jantung seperti akan keluar dari tulang rusuk. Perasaan seperti ini belum pernah aku rasakan sebelumnya.

“wanita yang aku cintai meninggalkanku saat aku berusia 7 tahun, Sebelumnya Appa, eomma dan aku hidup bahagia kami adalah keluarga yang sempurna. Pada saat itu hari ulang tahunku eomma menghadiahkanku pergi bertamasya ke pusat taman bermain yang ada di seoul. Hari itu kami memilih untuk berjalan kaki karena udara sangat sejuk untuk dinikmati, appa dan eomma selalu menggandengku tiap kami berjalan namun saat kami menyebrang aku masih ingat peristiwa itu. Mobil jaguar hitam itu tiba-tiba melaju dengan kencang, aku pikir saat itu aku akan mati namun saat aku membuka mata eomma. . .” Mark memutus pembicaraannya

Aku merasakan genggaman tangannya menjadi semakin kuat menggenggamku, aku seperti bisa merasakan emosi yang dirasakan oleh mark sunbae melalui sentuhan tangannya itu. “sunbae, kalau kau tak kuat bercerita tak apa, tenanglah” lalu aku membalas menggenggamnya erat. Tak lama ia melanjutkan ceritanya

“saat aku membuka mata eomma sudah tergeletak di tengah jalan pada zebra cross yang kami lewati. Eomma melindungi aku dan appa dengan mendorong kami kearah belakang dan mengorbankan dirinya. Eomma meninggal saat dalam perjalanan menuju rumah sakit”

“ne sunbae, aku memahamimu. Eomma mu pasti sudah bahagia disana”

Kali ini posisinya berubah, dia menatapku tajam. Matanya sama seperti saat di institute, menjadi tatapan dingin. “ania, eommaku tak akan bahagia jika aku belum menemukan siapa pelakunya”

Aku sangat takut saat sunbae menatapku, tatapannya penuh dengan kebencian saakan-akan sunbae ingin membunuh pelaku penabrak eommanya itu.

Kembali tatapan penuh lirih ditunjukan mark sunbae padaku “aku ingin kau menjadi malaikat penghubungku dengan eomma”

“eh” aku menatapnya terpaku, heran dengan kata yang diucapkannya barusan

“malaikat penghubung? Ma-maksudmu sunbae?”

“ku mohon kau teruslah melukis eommaku dari foto-foto terdahulu dengan begini kau akan menjadi penghubungku dengan eomma. Aku akan selalu dekat dengan eomma memandanginya setiap hari setiap waktu”

“ta-tapi. . . “

“jebal” mark menggenggam kedua tanganku dan meletakanya di keningnya lalu menunduk seperti orang yang sedang memohon

“eh. . .ehm. . .hmm. .”suara orang yang sedang berdehem terdengar dari balik punggung kami

“eoh, appa sudah pulang?” mark langsung melepas posisinya denganku kemudian berlalu menghampiri appanya

“sudah, appa tidak ingin mengganggumu dengan malaikat mu itu” Raymond tuan menunjukan bibirnya pada arah aku duduk

Aku mendengar mark sunbae memanggilnya dengan sebutan appa tubuhku reflek membungkukkan badan 90°  kearahnya dari sofa yang aku duduki dengan mark 1 menit yang lalu

“anyeonghaseyo ajoshi, naneun angela imnida, bangapseumnika” aku menyapa hangat padanya tentu ayah mark sunbae menyambutku dengan baik

Ayahnya kemudian duduk tepat di depan sofa yang kududuki dan menyuruhku untuk duduk. Sepertinya aku melihat rona ayahnya sama seperti suasana taman yang penuh dengan bunga memancarkan ketenangan dan kedamaian.

“apa mark berbuat tidak baik padamu?” tanyanya disertai senyum khas miliknya

“appa?!” mark menyela seperti tanda protes dirinya yang sedang digoda. 1 kedipan mata sudah diberikan padaku sebagai tanda agar menjawab hal yang baik kepada ayahnya itu

Aku memahami maksudnya dengan mudah “ah, , ania,sunbae baik padaku ajoshi” langsung aku mengaitkan jariku dan menggerutu didalam hati “baik apanya, aku dipermalukan di depan para sunbae, dilakukan tindak penghinaan. Heish dasar!”

“ha. . ha. . ha aku ini hafal sekali dengan sikap anakku, kau tak perlu menutupinya angela” Ayahnya mengetahui jika mark sudah mencoba bersekongkol dengan ku. Ucapannya dilanjutkan pada anak kesayangannya “ini sudah malam, lebih baik kau siapkan makan malam untuk tamu istimewa mu”

“appaaa!” lagi-lagi mark bersuara dan berlari keluar ruangan karena sedikit malu dengan ucapan ayahnya

Aku dan ayah sunbae masih di dalam ruang keluarga kami memang baru saja kenal tapi kami seperti sudah mengenal lama, tak ada rasa canggung diantara aku dan Raymond tuan.

“kau adalah penyelamat mark” ujar lelaki paruh baya itu

“Na” tanyaku tak mengerti “na waeyo?”

“paman memperhatikan sikapnya. Baru kali ini anak itu sepulang dari sekolah meluangkan waktunya untuk berada diluar kamar pribadinya karena semenjak 15 tahun yang lalu dia hanya menyukai kamarnya untuk menyendiri, anak itu hanya keluar kamar untuk makan dan sekolah”

Aku mendengar ayah sunbae bercerita namun saat itu seperti ada hujan batu yang menimpa kepalaku. Aku bisa merasakan betapa sedihnya penderitaan yang dialami sunbae.

“jadi ku mohon. . terima permintaannya untuk selalu melukis wajah Dorine Tuan,eommanya karena sepertinya dia telah mendapat pengganti sosok eommanya” jelas Raymond tuan

“ne ajoshi aku akan berusaha membuatnya tak bersedih”

“ne,,,gamsahamnida mark sangat tenang jika dia memandang foto-foto eommanya”

“appa. . makanan sudah siap” mark masuk ruangan untuk mengajak makan malam

“kau pasti lapar, ayo kita makan bersama” ajak Raymond tuan padaku

“ne ajoshi, gamsaheyo”

Aku, mark sunbae dan Ajoshi sangat menikmati makan malam yang sengaja di persiapkan mark. Sebuah tenderloin steak dengan bumbum khas Taiwan yang menggugah selara makanku terlebih ditemani dengan sebotol wine khas Taiwan yang dibawa ayahnya saat berkunjung ke Taiwan beberapa minggu lalu. Aku mengobrol tanpa batas dengan keluarga baru, aku menyebutnya keluarga karena entah mengapa sepertinya aku mudah sekali dekat dengan keluarga ini.

“mark, kalau sudah selesai kau antar angela pulang, arra? Appa ingin menyelesaikan pekerjaan dikamar. Yah angela jika anak itu berbuat aneh kau ketuk saja kepalanya 3 kali” sepertinya appa mulai menggodaku dengan memberikan senyum diawal langkahnya sebelum menuju ruang atas.

“Appa?!” lagi-lagi mark protes akibat ulah godaan dari appanya itu

Mark melihat ke arahku yang sedang tersenyum

“mwo?”

“ani. . ayahmu berbeda sekali denganmu sunbae” aku tertawa lembut

“yah! Ikut denganku” mark dengan segera menggandeng tanganku

“sunbae kau ingin membawaku kemana lagi?”

Aku mengikuti langkahnya kembali menuju anak tangga ke lantai 2 dan melangkah lagi ke lantai 3, aku sebenarnya ingin menolak ajakannya karena ini sudah malam, aku takut sekali eomma mengeluarkan tanduknya jika aku tak berada di rumah pukul 9.00. Sepertinya aku akan dibawa sunbae menuju loteng rumahnya karena aku dapat melihat langit tanpa atap rumah yang menutupi. Aku ingat perkataan ajoshi “jika anak itu berbuat aneh ketuk saja kepalanya 3 kali”

T U K . . T U K . . T U K . .

“auh, , yah!” teriak mark kesakitan karena aku tepat memukul kepalanya dibagian samping

“jangan salahkan aku, ini ucapan ayahmu sendiri sunbae”

Mark lalu memegang kedua pundaku dengan tangan kokohnya, lalu tubuhnya mendekat ke arah tubuhku yang otomatis membuat wajah tampannya semakin dekat denganku. “ ka-kau mau apa sunbae?” aku ingin sekali memukul kepalanya lagi namun tanganku terkunci dengan tangannya yang bergeser kelenganku dan menahan segala upaya penolakan dariku.

“yah, sunbae jika kau macam-macam kau akan mati”

Mark tak menggubris ucapanku, semakin dirinya mendekatkan wajahnya padaku jika aku bergerak sedikit saja maka hidung kami akan saling bersentuhan. Aku merasakan hembusan nafas yang di keluarkan dari hidungnya. “apa dia sungguh akan menciumku?” aku bertanya-tanya dalam hati. Tak ada yang bisa aku lakukan selain menutup mataku namun 2 detik setelah ku menutup mata terdengar 1 suara lembut

“kau yang mesum” mark tertawa seraya melepas semua kuncian ditubuhku, melepas tangannya dan membuang muka karena ia tak tahan dengan wajahku yang terlihat memerah

“yah! Sunbae heish jinjja kau!” aku sungguh geram padanya karena mempermainkanku

“aku pulang”

“hei” panggil mark dengan menahan lenganku dan membuatku berbalik

“aku menyukaimu” dengan sentuhan lembut mark menciumku, namja tampan itu mendaratkan bibir indahnya pada bibir tipisku.

TBC

Cerita kali ini maaf banget buat mama mertua, aku buat dia pass away alias meninggal di part ini. . mianhe mama tuan #Plak #ngarepmantu hehe

Jangan lupa tinggalkan jejak ya chingu, , ^_^ gomawo

4 thoughts on “Please Hide My Identity – 5”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s