Rumpled, Hole, Bamboo [Prologue]

Rumpled, Hole, Bamboo

Rumpled, hole, bamboo.

Prologue

Crystbellzinski’s plot

Cast: Oh Sehun (EXO) OC, Park Seul (ulzzang) | Genre: Romance, Slice of life | Type: Ficlet | Rating: G

Potongan cerita tentang kusut, lubang, dan bambu dalam kehidupan.

Dia masih berbau amis. Meski pakaian yang dipakainya adalah pakaian bersih dari lemari. Seolah aroma anyir terlalu malas meninggalkan tubuhnya. Padahal penampilannya sudah seperti eksekutif termuda. Kemeja putihnya yang kusut dan kumal. Jas hitam yang mempunyai lubang pada kedua sikunya. Dan walau sedikit mengatung, celana bahan warna coklat kopi itu sudah di balut ikat pinggang dari anyaman bambu buatannya. Rambut peraknya bisa dibilang satu-satunya nilai lebih dari keseluruhan penampilannya. Karena rambut peraknya juga dia bisa mendapatkan peruntungan dipanggil wawancara disalah satu perusahan besar yang dahulu sempat dia impikan.

Sambil mempererat map yang dia bawa sekali lagi sebelum melewati pintu masuk Sehun mengambil nafas panjang untuk mengurangi rasa gugupnya.

Tak sempat terpikirkan sebelumnya oleh Sehun. Yang semula hanya berniat membantu menyeberangkan nenek rapuh yang seorang diri, kini dia mendapatkan pekerjaan disebuah perusahaan ternama.

“Terima kasih nak. Sebagai balasanya datanglah ke perusahaan saya.”

Sehun masih ingat betul percakapan mereka yang hangat, yang baru saja terjadi pagi tadi.

“Saya butuh satu orang pekerja. Boleh saya tukar kebaikanmu dengan itu?”

Hatinya langsung pecah dengan kesenangan. Tidak dipikirkannya lagi hari apa sekarang, tidak terlintas lagi roti yang baru diambilnya dari tong sampah untuk makan siangnya, tidak ada yang dilakukannya sejak tawaran sang nenek disetujui olehnya selain mempersiapkan pakaian. Menjahit sedikit siku pada lengan jasnya, namun keburu habis benang jahitnya. Yang setelahnya menjemur lempengan besi diatap rumahnya sebagai alat pelicin pakaian buatannya yang mutakhir mampu membuat pakaian kusutnya menjadi sedikit rapi, karena tiba-tiba cuaca berubah menjadi mendung. Ditambah dengan rajutan bambu miliknya untuk ikat pinggang yang baginya mampu menambahkan rasa percaya diri, meski harus berjuang lari kucar-kacir dari anjing yang marah saat mengambil bambu dari kebun milik orang. Semua itu rela si rambut perak lakukan demi tawaran emas sang nenek.

Er, permisi pak?” Tanyanya pada penjaga yang bertugas.

Hanya dibalas dengan lirikan tajam yang membangunkan bulu roma.

Sehun meneguk ludah. “Saya Oโ€”Sehun,” dia berdeham pelan memperbaiki suaranya yang sempat hilang karena nyali yang sedikit menciut, dia lupa. “Saya Sehun. Ada perlu dengan nenek Park Seul.”

Penjaga yang semula sangat amat tidak tertarik dengan kedatangan Sehun kini menatapnya dengan mata bulat penuhnya dan alis yang berlekuk.

“Isi form ini,” suara bas penjaga menyentak Sehun seketika.

Pada form itu setiap satu bagiannya terdapat;nama, alamat, umur, dan keperluannya.

Mula-mula ia mengisi bagian nama, SEHUN saja yang ia tulis lanjut ke baris selanjutnya, alamat hanya distriknya yang mampu diingat karena selama ini dia menumpang di atap kondominium tua dengan bentuk rumah yang sederhana dari kayu-kayu bekas yang setiap hari ia cari. Umur, mengingat berkas yang masih disimpan olehnya meski sudah lusuh dan nyaris terbagi dua, saat ini umurnya tujuh belas tahun, ya itu satu-satunya hal yang membuktikan keberadaan dirinya di planet ini. Tinggal satu baris lagi yang diisi. Sehun berhenti sejenak, dia mengigit bagian bawah bibirnya. Menimbang-nimbang apa yang seharusnya dia tulis disana. Keperluan? Ini tentangnya, tapi dia disini ‘kan karena si nenek. Detik berikutnya Sehun dapat ide. Anda dan saya sama-sama memerlukannya. Selesai, Sehun mendorong map itu ke penjaga yang masih duduk manis menunggu form itu terisi.

Sebelum melapor ke resepsionis ruangan yang akan dituju Sehun, penjaga itu kembali membuka lebar matanya ketika melihat bagian ‘keperluan’ yang diisi Sehun. Sedangkan orang yang mengisinya sedang asik mengamati gedung yang tingginya hampir menembus langit itu.

Sehun akhirnya diperbolehkan mengunjungi ruangan yang ada di lantai delapan tersebut. Sambil memberi senyuman termanisnya ia pamit dari si penjaga yang masih keheranan.

Bagaimana tidak? Park Seul, dengan pemuda berbau amis, berkemeja putih kumal yang kusut, memakai jas berlubang disiku, dan jimat buatan tangan yang jadi ikat pinggangnya. Ini mustahil, pikir si penjaga.

Sehun memasuki lift, untung saja dia pernah sesekali mengintip rumah besar atau penghuni kondominium tuanya yang sedang menonton televisi, dan beberapa adegan sedang berada di dalam lift. Dari situlah dia tau mana yang seharusnya dipencet.

“Tunggu! Tolong tahan pintunya.”

Sehun langsung menahan salah satu daun pintu stainless dengan otot lengannya sampai wanita mungil yang baru saja menyerukan permintaan itu masuk. Lalu Sehun kembali mundur kedalam.

“Lantai delapan,” si wanita maju hendak memencet angka lantai yang berada disebelah kanan Sehunโ€””ah, iya sudah”โ€”namun tertahan saat mengetahui lampu pada tombolnya sudah menyala. Sehun menggaruk pinggir bibirnya yang tidak gatal. Si wanita kembali berdiri tenang di sebelah kiri Sehun. Namun tak berlangsung lama, si wanita tiba-tiba bergerak merapikan berkas-berkas bawaannya. Sehun melirik dari sudut ekor matanya, menarik.

Plaak! Satu berkas terpental dan jatuh di depan kaki pria berambut perak. Bibir mungilnya mengerucut, membentuk huruf o. Dia tidak yakin akan mengambilnya, atau lebih tepatnya diperbolehkan menyentuhnya. Dia cukup sadar diri, aromanya masih berbau amis karena tidak memakai sabun saat mandi dan hanya menggunakan air yang agak bersih. Wajar kalau masih berbau.

Rupanya si wanita disebelahnya belum menyadari kalau salah satu berkas bawaannya terjatuh, dia masih sibuk merapikan tali tas selempangnya dan pakaiannya.

Sehun meratapi sebuah map yang tak kunjung di perhatikan oleh pemiliknya itu. Bolekah dia menyentuhnya? Atau..

“Anu, er.. nona, salah satu map anda jatuh,” percobaan pertamanya, yang masih dengan nada gemetar, lirih dan sedikit tergegap.

Nampaknya sebaris kalimat itu tidak mampu membangunkan si wanita dari aktivitasnya.

Sehun mencoba lagi, “nona, itu salah satu map milikmu terjatuh.”

Si wanita terkejap, dia seperti mendengar suara halus kearahnya. Namun kembali tidak menoleh. “Satu map lagi.. di? Ah, itu dia.” Ia baru sadar.

Akan tetapi saat hendak ingin mengambil ia dan Sehun beradu tatap. Sehun yang mencondongkan tubuhnya ke si wanita yang sedang mendongak menatap pria asing yang tiba-tiba menghalanginya mengambil map.

Sejenak mereka beku di posisinya masing-masing. Sampai..

Haattchiim!

Si wanita bersin.

Sehun kembali sadar, ia cepat-cepat merubah posisinya menjadi berdiri tegap, yang sedikit-sedikit mencoba melirik keadaan kubu disebelahnya. Si wanita mengusap-usap hidungnya, entahlah dia sendiri juga bingung. Biasanya hidungnya tidak serewel ini dengan bau menyengat. Si wanita menjadi sungkan mengambil map, atau hanya memutar badannya ke samping. Ia kembali keposisi awal, berdiri tegap. Dia khawatir membuat pria disebelahnya tersinggung dengan bersinnya yang tadi. Hmm, biarkan saja dulu map itu. Tinggal melewati satu lantai lagi, nanti dia menunggu si pria rambut perak keluar terlebih dulu, baru mapnya dia ambil, ya begitu lebih baik.

Tbc_

terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan membaca ^^

Buat para fans yg biasnya jadi pemeran utama disini, aku mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya toloongg.. ini buat keperluan cerita semata saja kok ._.

Tentu saja ceritanya masih berlanjut, soal rumpled (kusut), hole (lubang), dan bamboo (bambu). Soal apa hubungannya rambut perak Sehun dengan pekerjaannya; bagaimana hubungan selanjutnya Sehun dengan si wanita ini, akankah mereka bertemu lagi; dan jika kalian perhatikan apa masalahnya kalau dia memberitahukan marganya?

7 thoughts on “Rumpled, Hole, Bamboo [Prologue]”

  1. Kalo dia ngasih tau marganya…….. aduh..kenapa ya.. kok nggak nangkep๐Ÿ˜ฆ
    Ini jangan-jangan nenek-nenek yang dibantuin nyebrang bukan park seul yang sebenarnya(??)
    Hadeuuuu. Lanjut thor~ kepo~

    Suka

    1. kenapa ya? hehe..

      maafin ya, ini mistery ala-alaan saya yang baru diposting disini. masih ada sambungannya kok tenang aja. makasih banyak udah nyempetin main ke cerita aku ini. kamu menggemaskan sekali ๐Ÿ˜ณ. hehe.. tungguin ya ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

      Suka

    1. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜„๐Ÿ˜ณ sungguh? haruskah?..
      siap!! nanti dilanjutin, dan udah ada juga lanjutannya ditunggu ya. riddle? kekuatanku blm segitu deeh.. masih perlu bertapa dulu baru bisa bikin riddle readers manisku ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

      makasih atas kunjungannya ๐Ÿ˜‰

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s