[Vignette] I’m Absolutely Sick

I'm Absolutely Sick

|| I’m Absolutely Sick ||

|| Winter Hoon ||

|| Oh Sehun & Emma (OC) ||

|| Drama, Sad, AU ||

|| Vignette (+2000 words) ||

|| T ||

|| The story inspired by “Up” (2013) but I made it into my own version. Enjoy it~ ||

***

Usia yang tak lagi muda memaksa Sehun untuk berhati-hati dalam mengambil langkah. Tulangnya yang kian melemah seiring dengan bertambahnya umur, membuat punggungnya kian membongkok. Rambutnya yang memutih bak butiran salju sangat terlihat jelas. Penglihatan yang tak lagi tajam, menjadi alasan utama mengapa kacamata bertangkai hitam itu tergantung rapi di hidung runcingnya. Berpadu dengan gelambir keriput yang muncul di sudut matanya yang sayu.

Hawa dingin dari pendingin ruangan sekitar lorong, terasa begitu menusuk. Menelusup masuk hingga sel-sel terkecil urat sarafnya. Memilukan sendi-sendi tulangnya yang terlapis kulit pucat penuh kerutan. Sontak membuat otot tangannya bergerak mengeratkan jaket lusuh yang ia kenakan. Warna abu-abunya yang agak memudar seakan berbicara. Memberi kesan betapa lama jaket itu tak tersentuh tangan manusia. Sisa-sisa debu serta bercak noda yang masih menempel dapat tertangkap jelas oleh indra penglihatan.

Menyusuri lorong rumah sakit dengan hanya bertemani sebuah tongkat tua berwarna coklat gelap yang menjadi tumpuan tubuh rentanya. Derap langkah kakinya menggema hingga sudut tersempit di ujung lorong. Begitu mendominasi. Ritme tongkat yang bergesekan dengan dinginnya lantai rumah sakit, menuntun langkahnya dengan sangat perlahan.

Hanya suasana serba putih sejauh mata memandang. Para perawat yang sibuk membawa nampan penuh obat menjadi satu-satunya objek hidup yang Sehun dapati. Aroma menyengat khas racikan rumah sakit itu menyeruak seketika, tepat ketika seorang perawat baru saja melewatinya. Sehun tidak perlu lagi repot-repot menutup hidungnya atau bahkan menahan rasa mual akibat aroma itu—aroma yang sudah sangat akrab menjamah indra penciumannya.

Sehun menyipitkan kedua matanya bersamaan dengan dahinya yang berkerut. Memastikan objek yang ia pandang di ujung lorong tidaklah salah. Sebuah ruangan berpintu, dengan kenop silver sebagai penghubungnya. Papan kayu bertuliskan nama seorang dokter ahli  terpampang dengan jelas disana. Sebisa mungkin ia mempercepat langkah kakinya, menimbulkan suara decitan antar tongkat dan lantai yang terdengar cukup nyaring.

Tak perlu memakan waktu cukup lama, tungkai kakinya pun menapaki lantai dengan posisi yang sejajar. Berhenti tepat di depan ruang periksa yang sudah tidak asing lagi baginya sejak tiga bulan lalu. Tanpa aba-aba, Sehun memutar kenop pintu dengan pasti. Kilau akibat pantulan cahaya lampu begitu terasa, menyilaukan pandangannya untuk sepersekian detik. Tepat ketika ia mulai melangkahkan kakinya melewati pintu berwarna senada dengan kulit kayu itu.

“Kau datang lagi Oh Sehun,” Ucap seseorang dari balik kursi kerja yang menutupi hampir seluruh bagian punggungnya. Sepertinya ia tak perlu repot-repot berbalik untuk mengetahui siapa yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya, layaknya seorang cenayang.

Balutan jas berwarna putih bersih menyelimuti tubuh pria yang terpaut enam tahun lebih muda dari Sehun itu. Suara baritonnya masih terdengar sama di telinga Sehun, setidaknya untuk beberapa bulan terakhir. Senyum miring penuh arti lantas hinggap begitu saja di sudut bibirnya. Menampilkan guratan lipatan yang sama seperti milik Sehun.

“Duduklah,” Ujarnya sembari berbalik memutar posisi kursi berbahan kulit itu ke arah sang pasien. Membuat Sehun mengambil satu langkah lebih maju. Menggerakkan sebelah tangannya untuk menarik punggung kursi keluar dari persembunyiannya dan mengambil ancang-ancang untuk duduk.

 “Terimakasih,” Balas Sehun seraya menyamankan posisi duduknya. Tak lupa ia menyandarkan tongkat kayu miliknya di bibir meja yang hanya sebatas tinggi dadanya ketika ia duduk.

Berkas-berkas rumah sakit yang terbungkus lampiran map sewarna langit—yang sedari tadi pria itu genggam—sudah tidak tampak menarik lagi sejak kedatangan Sehun beberapa detik lalu. Lantas dasar meja ruangan yang dingin menjadi sasaran empuk untuk mendaratkan kumpulan berkas itu diatasnya.

Rambut hitamnya yang hampir terkikis uban putih terlihat begitu mencolok. Beberapa guratan kasar juga sudah siap bertranformasi menjadi keriput, seiring dengan berjalannya waktu kelak. “Seperti biasa, kau datang lima menit lebih awal Pak Tua,” Pupil matanya menjurus pada arloji bergaya kuno yang tersampir elok di pergelangan tangannya, merekahkan sebuah senyuman ringan di sudut bibirnya yang tertarik.

“Bisakah kita langsung mulai saja?,” Sahut Sehun ketus. Sehun tidak memiliki cukup waktu untuk hanya sekedar menanggapi basa-basi dokter berdarah Tiongkok ini.

“Baiklah-baiklah. Itu artinya kau tidak ingin berlama-lama denganku bukan Tuan Oh,” Xi Luhan lantas membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit miring dan menegapkan posisi duduknya. “Bukankah baru kemarin aku memeriksamu Tuan? Ini sudah kesepuluh kalinya dalam satu bulan,” Kali ini suara baritonnya terdengar cukup mengintimidasi, seakan menuntut. Ia mencondongkan wajahnya ke arah sang pasien yang tiba-tiba saja terdiam seribu bahasa. Memangku wajahnya dengan sebelah tangan sambil berkata, “Kau sehat Oh Sehun. Bahkan terlalu sehat untuk aku periksa,” Air mukanya mendadak menunjukkan ekspresi yang tidak biasa, seperti sedang tidak main-main. “Jika ini semua karena Emma……” Luhan tidak melanjutkan, ia menghirup nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar. “Berhentilah Oh Sehun,” Ucapnya dengan nada mengiba.

Sehun tertegun. Mendengar nama itu membuatnya mematung layaknya baru saja tersambar petir di siang bolong. Dadanya terasa begitu perih bak ditusuk sebilah mata pisau yang baru saja diasah diatas batu. Begitu tajam hingga menembus tulang-tulangnya. Seperti baru saja terhantam beban berat yang menimpa jantungnya hingga tak lagi membuatnya mudah untuk bernafas. Nafasnya seakan tercekat tiap kali ia mencoba untuk menghirup oksigen di sekitarnya. Bahkan, untuk mengucapkan sepatah katapun saja ia sulit.

“Maaf Oh Sehun, aku benar-benar minta maaf,” Menyadari perubahan sikap Sehun yang terlihat janggal, Luhan pun melontarkan sejurus kata maaf. “Aku tidak bermaksud untuk berkata lancang seperti tadi. Hanya saja ak—“ Perkataan Luhan terpotong begitu saja tanpa permisi, tatkala Sehun memberikan isyarat untuk berhenti dengan telapak tangannya. Tatapan matanya kosong, bibirnya pun masih enggan untuk terbuka.

“Sehun, aku mohon,” Tanpa mengindahkan gesture tangan Sehun yang menyuruhnya untuk tidak melanjutkan perbincangan, Luhan justru memberikan penekanan pada setiap kata yang ia lontarkan setelahnya. “Dengarkan aku, ku mohon,”

“Cukup,” Sang lawan bicara pun akhirnya angkat bicara. Sehun tak menampik jika rasa sakit itu masih membekas di dadanya.

“Kau bahkan tidak tahu apa-apa Xi Luhan,” Tukasnya.

Kini giliran Sehun yang mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar . “Kau benar-benar tidak tahu,” Sehun menegaskan kembali.

Tatapan nanar dari bola mata sewarna caramel miliknya menyertai beberapa kata yang baru saja keluar dari bibir kering Sehun. Dapat ia rasakan betul kerinduan mendalam menggema hingga menggetarkan seluruh ruang hatinya yang kelam akibat luka. Disertai perih yang tak kunjung mau pergi mengepung jantungnya. Menjadi satu menghancurkan sel-sel tubuhnya yang sudah usang dimakan usia.

“Sekali ini saja Oh Sehun. Dengarkan aku,” Pinta Luhan bersikeras.

“Ku anggap perbincangan kita sudah selesai,”  Tak ingin rasa sakit itu semakin menjadi, Sehun pun ambil keputusan. Tak ada lagi alasan untuk Sehun tetap berada di ruangan ini. Keputusannya untuk segera angkat kaki sudah bulat. Sehun tidak akan membuang-buang waktunya disini hanya untuk mendengarkan ocehan tentang dirinya. Yang ia butuhkan hanyalah resep untuk menebus obat. Bukan nasihat dari seorang dokter ahli mengenai hal-hal di luar dunia medis.

Tanpa pikir panjang lagi, Sehun segera bangkit dari posisi duduknya. Meraih sang tongkat untuk kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya menjauh dari bibir meja dengan sedikit tertatih.

“Tidak Oh Sehun, tunggu,” Luhan ikut bangkit dari posisi duduknya. Membuat suara kursi yang beradu dengan permukaan lantai terdengar hingga seantero ruangan berukuran minimalis ini. “Izinkan aku untuk mengatakan ini padamu. Aku tidak ingin kau terlarut dalam kesedihan seperti ini Oh Sehun. Ku mohon,” Luhan tidak patah semangat untuk merayu pria tua ini. Jelas terdengar nada memohon pada akhirannya. Luhan benar-benar berharap jika kali ini pria tua keras kepala bernama Oh Sehun itu akan mendengarkannya.

Namun sayang seribu sayang, Sehun lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya ketimbang mendengarkan ocehan-ocehan yang sebentar lagi akan memenuhi bibir dokter bermarga Xi yang kini memasang tampang khawatir. Tatapan mengiba itu kembali muncul lewat pupil matanya. Retina matanya yang sendu seakan berbicara. Berbaliklah Oh Sehun! Berbaliklah!

“Aku akan kembali lagi besok,” Luhan tercengang. Ternyata Sehun benar-benar mengabaikannya. Tidak pernah ia jumpai pria keras kepala seperti Sehun ini. Sehun benar-benar keras kepala. Ia sama sekali tidak menghiraukan ucapan Luhan yang berusaha menahan kepergiannya. Apa yang dilakukan Luhan semata-mata hanya ingin membantu Sehun agar terbebas dari lubang kesedihan yang menjebaknya selama ini . Emma sudah tidak ada, dan Sehun harus sadar akan hal itu. Kehidupannya harus tetap berjalan walaupun tanpa Emma di sisinya.

“Kau akan memeriksaku besok,” Sehun menatap sosok sang dokter dari balik bahunya. “Aku harap begitu,” Lanjutnya diselingi dengan sebuah senyum pahit.

Lantai demi lantai Sehun tapakki. Terdengar jelas erangan dari sang lantai yang  menahan perih akibat gesekan permukaan tongkat kayu yang kasar. Sampai pada akhirnya telapak tangan Sehun menyapa kilaunya kenop pintu yang seolah-olah sudah menantikan kedatangannya sedari tadi.

“Ah, ya. Satu hal lagi dokter. Bisakah besok kau langsung memeriksaku saja? Kau tahu, aku tidak suka membuang-buang waktu bukan?,” Baru saja Sehun ingin mengeluarkan energi untuk membuka pintu, suara lantang Luhan tiba-tiba saja menginterupsi.

“Kau tidak sakit Oh Sehun! Kau benar-benar tidak sakit! Bahkan aku tidak tahu harus memeriksamu dengan cara apa? Apa yang harus ku periksa? Sementara tidak ada yang sakit disini!,” Akhirnya kata-kata yang Luhan pendam selama hampir tiga bulan ini terluap juga. Ini sudah saatnya Luhan untuk jujur. Ia sudah tidak bisa bersandiwara lagi hanya demi rasa kasihan yang terus menghantuinya.

“Aku memintamu untuk mendengarkanku. Tapi kau tidak pernah melakukannya!,” Sehun masih tidak berkutik dari posisinya di ujung ruangan. Tangannya terlalu kaku untuk bergerak menjauh dari kenop pintu. Bibirnya terlalu kelu untuk membalas semua kata-kata yang baru saja melewati indra pendengarannya.

“Kau benar,” Luhan menampilkan seringaian asing dari sudut bibir tipisnya. “Aku memang tidak tahu apa-apa mengenai dirimu. Apalagi tentang kau dan Emma,” Kembali, mendengar nama itu keluar dari mulut Luhan membuat Sehun mengeraskan genggamannya pada tongkat tua miliknya. Menyembulkan urat-urat halus berwarna hijau dari balik kulitnya yang tak sekencang dulu.

“Aku melakukan ini karena aku peduli padamu Sehun. Dengar,” Lagi-lagi Luhan menghirup nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar. “Aku sudah mengenal Emma cukup lama, dan setelah itu aku mengenalmu,” Air mukanya benar-benar menampilkan sisi berbeda dari seorang Xi Luhan yang terkenal ramah. “Sepeninggal Emma….” Luhan menggantungkan kata-katanya, membuat Sehun menggeratakan gigi gerahamnya keras. “Aku merasa bahwa kau bukanlah Sehun yang ku kenal. Kau tidak pernah lagi bertingkah konyol seperti dulu. Kau tidak pernah lagi tersenyum. Kau menjadi pendiam dan dingin. Kau jadi jarang berbicara, bahkan padaku,” Luhan menggelengkan kepalanya lemah. Menundukkan pandangannya menatap tumpukan berkas rumah sakit, dengan berkas milik Sehun sebagai puncaknya. “Kau tidak pernah mengeluh jika kau merasa sakit. Namun sekarang? Kau bahkan mendatangiku hampir setiap hari. Kau bertingkah aneh sejak Emma tak berada di sampingmu. Kau bertingkah seolah-olah kau ini sedang sakit kronis. Apa kau tahu? Selama tiga bulan ini, aku merasa seperti sedang mengobati mayat hidup. Kau terlihat sangat menyedihkan Oh Sehun,”

Sehun terperanjat. Ia tak dapat berpikir jernih untuk sesaat. Sel-sel di otaknya terlalu sulit untuk mencerna kata demi kata yang baru saja Luhan tuturkan.

 “Cukup,” Walaupun berat, Sehun memaksakan bibirnya untuk berucap. “Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi,” Suaranya terdengar begitu lirih.

“Tidak. Aku tidak akan mengalah kali ini,” Luhan memantapkan omongannya. “Aku hanya ingin membantumu Oh Sehun. Sebagai teman. Sebagai temanmu dan juga Emma,”

“Aku bilang cukup Xi Luhan!” Sehun benar-benar sudah tidak tahan lagi. Kata demi kata yang terlontar bebas dari bibir pria berusia empat puluh enam tahun itu benar-benar membuat tubuhnya mati rasa. Memborbardir isi hatinya menjadi kepingan-kepingan kecil yang hilang tersapu angin.

“Aku tahu ini memang tidak mudah untukmu. Tapi Emma sudah tidak ada Oh Sehun. Kau harus bisa menerima itu semua. Emma sudah tenang sekarang. Tolong jangan usik dia dengan sikapmu yang seperti ini!,” Terlihat jelas urat-urat leher Luhan yang terekspos akibat aksi setengah berteriaknya. Luhan benar-benar di luar kendali.

“Kau terus memaksaku untuk memeriksamu selama tiga bulan terakhir ini. Dan selama sebulan terakhir juga, kau memaksaku untuk memberikan resep obat yang berbeda setiap harinya,” Luhan berusaha mengontrol emosinya. “Aku sama sekali tidak habis pikir denganmu Oh Sehun. Kau tidak sakit. Sekali lagi ku katakan padamu, kau sama sekali tidak sakit!,” Luhan mengacungkan jari telunjuknya ke arah Sehun yang kembali menatapnya dari balik bahu. Seakan membalas, Luhan pun menatap Sehun dengan tatapan mengasihi.

“Aku minta maaf Oh Sehun. Aku tidak menyangka rasa kasihanku padamu akan membuatmu terlena sampai seperti ini. Aku benar-benar minta maaf,” Luhan merendahkan volume suaranya. Lalu berkata dengan suara bergetar. “Awalnya, ku kira kau ini benar-benar sakit. Dan setelah ku periksa……. ternyata kau baik-baik saja. Tapi kau tetap mengeluh jika ada yang salah dengan dirimu. Dan itu semua membuatku berpikir. Kau berubah sejak kematian Emma. Kau lebih sering mengunjungiku untuk berobat padahal kau sama sekali tidak sakit. Itu benar-benar tidak masuk akal Oh Sehun,”

Sehun tertawa lirih. “Apa kau bilang? Mengasihaniku?,” Sehun membalikkan tubuhnya menghadap Luhan. Sehun merasa harga dirinya terlukai disini. “Aku bukan pengemis di pinggir jalan yang sedang menanti belas kasihan dari para pejalan kaki! Aku tidak perlu dikasihani sama sekali!,” Ucap Sehun menggebu-gebu. Amarahnya tersulut. Nafasnya terengah selepas berhasil membangun kembali harga dirinya di hadapan Luhan.

“Sehun.. bukan begitu,” Luhan berusaha meluruskan kesalah pahaman ini. Luhan sama sekali tidak bermaksud untuk melukai harga diri Sehun seperti tadi. Luhan baru saja mengungkapkan sebuah fakta yang selama ini susah payah ia tutup-tutupi. “Sadarlah Oh Sehun,” Luhan memantapkan langkahnya untuk berjalan menghampiri Sehun. “Tanpa Emma disisimu, kau harus tetap bisa hidup dengan baik. Dengan begitu, aku yakin Emma akan tersenyum bangga padamu dari atas sana,”  Telapak tangan Luhan bergerak menyusuri pundak kiri Sehun dan menepuknya ringan. “Kau tidak perlu datang ke tempatku lagi untuk berobat. Karena kau tidak sakit,” Luhan berusaha untuk menyematkan sebuah senyuman tipis di bibirnya.

“Apa-apaan ini,” Sehun kembali tertawa lirih. “Kau bilang jika aku ini tidak sakit? Pria tua yang berada dihadapanmu ini tidak sakit?,” Sehun meninggikan nada suaranya dan menatap Luhan lekat. “Kau bohong Xi Luhan!,”

“Jika aku sama sekali tidak sakit, tolong jawab pertanyaanku!,” Luhan termangu, ia belum pernah melihat sosok Sehun yang semarah ini sebelumnya. Kilat matanya berapi-api seakan siap membakar apa saja yang ada di depannya.

“Jika aku memang benar-benar tidak sakit, lalu mengapa dadaku selalu sesak setiap kali aku menyebut namanya?! Kenapa dadaku perih setiap kali aku merindukannya?! Kenapa sekujur tubuhku terasa kaku tiap kali aku menyadari bahwa Emma sudah tak berada di sisiku untuk selamanya?! Kenapa?!,” Seperti anak panah yang baru saja menusuk jantungnya, Luhan benar-benar merasa terpukul. Hening seketika menguasai. Memberikan hawa mencekam pada Luhan yang tak dapat berkutik sama sekali. Tampak jelas Luhan yang menelan samar salivanya beberapa kali.

Dan sekali lagi, Sehun memang benar. Luhan tidak mengetahui apapun tentang dirinya. Luhan tidak tahu betapa dalam kerinduan dan kehilangan yang Sehun rasakan setelah kepergian Emma. Yang Luhan tahu hanyalah Sehun yang berubah sejak Emma meninggal. Tanpa tahu apa yang Sehun rasakan sebenarnya. Tanpa tahu betapa tersiksanya Sehun ketika ia tak bisa melihat lagi sosok Emma yang selalu membuatkannya secangkir kopi hangat setiap pagi. Tanpa tahu betapa tersiksanya Sehun ketika ia tak bisa melihat lagi senyum hangat Emma yang mengisi tiap harinya. Tak terlebih ketika sepasang bola matanya memandang sendu figura pernikahan mereka dua puluh tahun lalu, dan menyadari bahwa pengantinnya tak lagi ada disampingnya untuk mengenang masa-masa indah bersama. Hanya semilir angin yang setia menemani Sehun tiap kali memandang benda berbentuk persegi itu. Tak ada lagi sosok Emma.

Luhan tidak akan pernah tahu itu.

“Sehun aku—“ Luhan tidak mampu lagi untuk berkata-kata.

“Kenapa Xi Luhan? Kenapa?! Kenapa aku merasa sangat sakit tanpanya disisiku?!,” Sehun semakin menjadi. “Sudah kubilang aku ini sakit Luhan! Aku sakit!,”

“Ak-aku. Se-sehun. Aku—“ Luhan tergagap.

“Kau benar. Aku bukan lagi Sehun yang dulu. Aku bukan lagi Sehun yang kau kenal sepuluh tahun lalu tanpa Emma disisiku. Aku bukan lagi laki-laki yang pantang mengeluh tanpa Emma disisiku. Tanpa Emma, hidupku benar-benar terasa hampa. Sehun yang dulu tegar kini menjadi sangat lemah tak tau arah,” Sehun menghembuskan nafasnya pelan, membuat bahunya merosot lemah. Pikirannya tak fokus, melambung tinggi melewati lorong waktu kembali pada dua puluh tahun silam. Terlihat jelas pelupuk matanya yang sudah tampak kewalahan menahan gejolak airmata yang hampir tumpah ke permukaan.

“Sehun….”

“Tidak ada yang perlu kau katakan lagi,” Sehun menghempaskan tangan kanan Luhan dari pundaknya lembut. Secepat kilat Sehun kembali berbalik untuk menyambut kenop pintu di ujung ruangan. Kemudian berjalan tertatih menghampiri pintu yang kini sudah tak begitu jauh dari posisinya.

“Aku akan kembali lagi besok. Dan ku harap kau bersedia untuk memeriksaku, karena aku…. aku ini sakit dokter,” Sehun memutar kenop pintu dengan pasti. Melangkahkan kakinya keluar dari ruang periksa tanpa memandang Luhan terlebih dahulu. Meninggalkan sosok Luhan yang tidak bergeming dari posisi sebelumnya. Pikirannya masih belum leluasa untuk mencerna semua yang baru saja terjadi antara dirinya dan Sehun.

Setidaknya, kini Luhan mengetahui sesuatu tentang Sehun.

Satu-satunya hal yang dapat menyakiti Sehun, hanyalah Emma. Hanya Emma yang dapat membuat Sehun selemah ini.

Hanya Emma.

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s