Found You (Chapter 1)

Found You

Title: FOUND YOU (Chapter 1)

Scriptwriter: @sekaibucks

Genre: Romance

Rating: 15+

Duration: Chapter

Main Cast:

  • Kim Jongin (EXO’s Kai)
  • Jung Soojung (f(x)’s Krystal)

Other Cast:

  • Oh Sehun (EXO’s Sehun)
  • Kang Seulgi (Red Velvet’s Seulgi)

Credit: ff ini sepenuhnya milik my luvely ee cengcorang kak Yonara.

P.S: balik lagi ya ff ini sepenuhnya milik temen aku kak Yonara. Aku disini cuma ngedit ulang dan ganti semua tokohnya. Aku udah minta ijin sama yang punya ff. Jadi, ini bukan plagiat ya guys.

****

“Dia melakukannya juga, kan? Tebakanku benar.” Jongin akhirnya bicara.

Keheningan yang mewarnai sore di tepian lapangan basket itu dirasakannya sudah terlalu lama.

Hari ini tiba-tiba saja Sehun menelepon dan menyuruh menemuinya di lapangan basket, tempat Sehun sedang berlatih. Selama latihan, Sehun melampiaskan emosinya yang sedang tidak stabil. Dan Jongin bisa menebak masalah apa yang telah menimpa temannya sejak masa kuliah itu.

Lagi-lagi, Sehun terjerumus dalam kisah cinta yang berakhir buruk.

Sehun tidak mengatakan apapun. Tapi itu tidak perlu. Sikap diam dan raut wajah suntuk yang ditunjukkan Sehun selama sebelum dan sesudah latihan hari ini sudah mengatakan segalanya.

Jongin memaki. “Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi…”

“Tak ada yang bisa mencegahmu mengatakan apapun yang ingin kau katakan,” potong Sehun seraya menegakkan tubuh dan memegang tengkuknya yang pegal.

“Kupikir kehidupan penuh cinta dan gadis tidak cocok untukmu, Sehun-ah.”

“Meski kau tidak cocok dengan gaya hidup seperti itu, bukan berarti kau harus mengajak orang lain untuk mengikuti pahammu yang aneh itu, Jongin. Hanya karena putus cinta sekali tidak harus membuat kau menjadi seorang biksu.” cercah Sehun.

“Setelah apa yang dilakukan gadis itu padamu, kau masih juga membantah? Diakui atau tidak, perempuan hanya bisa membuat masalah.” Jongin bersikeras.

“Aku bukan tipe orang yang menghindari masalah. Lagipula, aku laki-laki normal, Jongin-ah . Aku pria panas yang masih menginginkan perhatian dan kehangatan tubuh seorang gadis. Aku perlu menyalurkan libido yang sedang berkembang pesat dalam diriku…”

Sehun merogoh saku jaket yang terkembang di atas ransel di sampingnya, untuk mengambil kotak rokok. Dibukanya kotak itu, ia mengambil sebatang rokok sebelum menyulutnya dengan pemantik. Sehun mulai menghisap rokok dalam-dalam lalu mengembuskannya ke udara. Seolah ingin melepaskan penat yang kini melanda.

“Kenapa kau tak mencari gadis berbeda di tiap tempat yang kau kunjungi? Kau seorang model.” Jongin menatap Sehun dengan tatapan heran. Atau lebih tepat disebut tatapan prihatin. Sehun menarik napas panjang. Tubuhnya disandarkan ke bangku kayu, menatap sahabatnya itu lurus-lurus.

“Kau pernah merasakan bagaimana disayangi oleh seorang gadis? Dibutuhkan sekaligus dimanja. Heran sekali kenapa kau bisa tahan hidup seperti itu.” ucap Sehun seraya memejamkan matanya.

“Aku sudah lupa masa laluku,” Jongin berucap lirih namun Sehun dapat memastikan emosi yang tersarat dalam satu kalimat yang keluar dari mulut Jongin.

“Sebaliknya denganku, aku membutuhkan mereka. Aku lebih suka bersama dengan seorang gadis saja dan bukan bersama seorang gadis penghibur di satu malam dan berganti dengan gadis lain di malam lainnya. Aku membutuhkan lebih dari itu. Komitmen.”

“Dan akhirnya dicampakkan?” balas Jongin cepat. “Berapa kali lagi kau harus belajar dari pengalaman?” lanjutnya.

“Aku memang sedang belajar, Jongin. Tapi yang aku ingin lakukan bukanlah belajar untuk membenci wanita melainkan bagaimana caranya agar aku bisa mempertahankan cinta mereka dan bukannya ditinggalkan.”

Hening.

“Aku terdengar menyedihkan bukan?” tanya Sehun, beberapa saat kemudian. “Kalau dipikir-pikir kita memiliki sedikit persamaan dalam hal ini. Kita sama-sama pernah ditinggalkan oleh wanita—“

“Kau tak perlu menyamakan pengalamanmu denganku,” potong Jongin, agak kesal.

“—yang membedakan kita dengan kejadian-kejadian seperti ini yaitu, aku bisa tau mana gadis yang patut kupertahankan atau tidak. Sementara kau? Hanya karena seorang gadis meninggalkanmu pergi sekali saja kau sudah menganggap segalanya berakhir dan mengubah gaya hidupmu untuk
selamanya,” sindir Sehun.

“Ini karena kekasihmu yang baru memutuskanmu itu atau karena semua gadis yang pernah kau kencani?” Jongin menyahut geram. Wajahnya berubah kaku, tidak senang pembicaraan berputar arah dan menyangkut dirinya.

“Kalau hanya dia, kurasa dia tidak berhak untuk mendapatkan semua ini darimu. Gadis seperti itu tidak cukup berarti sehingga membuatmu kehilangan semangat seperti ini.” Jongin terlihat sebal.

“Tidak ada yang salah dengannya, Jongin.” ucap Sehun membela gadisnya.

“Dia hanya gadis manja, anak orang kaya, dan egois. Itu kesalahannya yang pertama. Yang kedua, dia seorang playgirl dan kau sudah tau itu. Tapi tetap saja kau menganggap hubunganmu dengannya adalah hubungan yang serius. Itu benar-benar keterlaluan,” balas Jongin, pedas.

“Kau tidak mengenalnya. Ya, kuakui dia memang sedikit senang main-main. Tapi kau akan tau sebenarnya di balik sikapnya itu dia seorang gadis yang…”

Jongin terkekeh sinis. “Gadis baik yang siap mematahkan hati lelaki maksudmu?”

“Sudahlah. Jangan mengejeknya terus. Dia memang meninggalkanku, tapi aku akan mendapatkannya kembali,” tukas Sehun penuh percaya diri.

“Sungguh?” Jongin menaikkan satu alis, meremehkan niat Sehun.

“Kau boleh saja sinis. Tapi aku tau, itu karena kau belum mengenalnya.”

“Jangan menghinaku, Sehun-ah. Aku tidak berminat mengenal gadis yang telah membuat temanku jadi berantakan begini. Aku mungkin tak terlalu pintar bergaul dengan gadis. Tapi aku tau bagaimana menjadi seorang teman yang baik. Jadi lebih baik aku memperingatkanmu sekarang. Daripada kau terus sakit hati lebih baik kau lupakan saja dia. Tak ada seorang gadis baik yang akan membuat kagum pria, bertekuk lutut dan kemudian mencampakkan begitu saja.” ucap Jongin panjang lebar.

“Sebenarnya Soojung hanya perlu lebih percaya padaku. Mungkin dengan begitu ia bisa membiarkan hubungan kami berjalan lebih lanjut.” Sehun kembali menghisap rokok sebelum membuangnya ke tanah dan menginjaknya hingga padam.

Jongin mendesah. Ia sudah terlalu putus asa untuk mengingatkan sahabatnya itu agar berhenti mempercayai seorang gadis.

 “Percayalah, kau tak perlu. Seperti kau tak perlu melanjutkan hubunganmu dengan gadis itu. Jangan biarkan gadis itu mengatur hidupmu, Sehun-ah.”

***

Soojung membanting diktat sastra Cina nya ke atas meja, tanpa memedulikan tatapan seluruh pengunjung kafe tertuju padanya karena bunyi berdebum yang dihasilkan diktat 500 halaman itu.

Gadis itu beringsut gelisah di kursi kulit berwarna kopi susu yang senada dengan warna dekorasi kafe paling prestisius di kawasan Kangnam itu. Sudah tiga hari ayahnya tidak pulang. Dan ia baru tau tadi sore, itupun karena ia menerima sebuah telepon dari seseorang yang mencari ayahnya. Kalau tidak, ia juga tak akan tau kalau ayahnya sudah tidak pulang selama ini.

Pasti minum-minum dan berjudi lagi lalu menginap entah di mana, batin Soojung sebal.

Soojung tak ingat lagi kapan mereka kehilangan keakraban. Selain kelebatan-kelebatan kebersamaan mereka yang kabur, seingat Soojung mereka tidak pernah bergaul akrab seperti layaknya seorang ayah dengan putrinya. Meski demikian Soojung tau kebiasaan buruk ayahnya yang sangat suka minum dan bertaruh besar di arena judi.

Dan, di antara waktu itu adalah sabtu sore, sebelum keberangkatan ayahnya yang terakhir. Bertepatan dengan peringatan sepuluh taun kematian ibunya. Ayahnya memang selalu mengadakan peringatan itu. Katanya agar mereka selalu mengenang dan menyimpan kenangan ibunya dalam hati. Itu adalah satu hal yang paling dihargai Soojung dari ayahnya. Yang membuat Soojung tidak suka adalah apa yang dilakukan ayahnya setiap kali sesudah peringatan itu sendiri. Bisa dipastikan ayahnya akan minum sampai mabuk dan meneruskan kegemarannya di meja judi—meski bukan berarti pada hari biasa ia tidak berjudi dan minum. Hanya saja setiap momen itu ayahnya selalu lebih parah dan tidak
terkendali.

“Bisakah sekali saja Ayah tidak melewatkan hari kematian Ibu di meja judi? Tidak minum-minum?” kata Soojung waktu itu, saat ayahnya mengenakan jaket hitam dan bersiap untuk pergi.

Tuan Jung terkekeh pelan. “Sudahlah, Soojungie. Apa kau tidak capek terus menerus memperingatkanku tentang hal ini?”

“Karena aku tau Ayah akan melewatkan hari ini dengan bertaruh besar-besaran dan minum sampai mabuk,” ucap Soojung, lagi.

“Aku tak akan mabuk.”

“Siapa yang sedang Ayah bohongi sekarang? Ayah ingat kejadian taun lalu? Ayah pingsan dua hari

karena kebanyakan minum. Kenapa Ayah selalu melakukan itu setiap kali peringatan kematian Ibu? Ibu pasti sedih melihat Ayah seperti ini.” Soojung menatap ayahnya dengan
tatapan memohon. Ia hampir menangis karena emosi.

Tuan Jung menyambar kunci mobil di atas meja sambil berkata, “Judi itu tidak baik jika sedang kalah, princess. Dan aku selalu—hampir selalu menang. Kau tau itu.” Tuan Jung mengerling pada Soojung.

“Sudahlah. Kau patut bersyukur karena terlahir sebagai gadis kaya, Soojung.”

“Jangan membodohiku. Kita kaya karena peninggalan dari haraboji dan halmoni.”

“Aku tau. Dan uang yang kuperoleh dari meja judi telah menambah kekayaan itu menjadi semakin besar. Jadi bukan aku saja yang menikmati hasilnya. Berhentilah bertingkah sok pintar di hadapanku. Kau memiliki kesempatan mendapatkan begitu banyak kesenangan dengan kekayaan yang kau miliki tanpa harus bersusah payah memikirkan caranya mendapatkan uang. Teruskan saja kegemaranmu berbelanja dan berpesta. Aku tidak pernah melarangnya,” tandas Tuan Jung sebelum melangkah pergi.

Sial, ayahnya benar. Entah kebetulan atau keberuntungan semata, kemenangan selalu berpihak pada ayahnya.

Ayahnya selalu menang dalam jumlah besar. Kalau sudah begitu Soojung tak bisa berbuat apapun. Ia
juga bukan gadis baik yang selalu berbuat lurus dan manis. Selain kuliahnya yang sangat jarang ia ikuti, ia lebih sering bersenang-senang dengan teman-temannya. Seluruh tempat-tempat hiburan yang ada di Seoul, nyaris semua pernah ia masuki. Ia gadis beruntung, ayahnya benar. Kekayaan temurun dalam keluarganya—ditambah kemenangan ayahnya di meja judi—membuat Soojung menjadi gadis biang pesta.

Tanpa sengaja ia pernah mendengar salah seorang pembantunya berkata dengan prihatin, ‘Ayah dan anak tak ada bedanya.’ Membuat Soojung sakit hati dan akhirnya, memecat pembantu itu.

Ugh, ini lagi, Soojung mengeluh saat melihat Sehun, pria yang ia putuskan dua hari lalu, memasuki pintu kafe di mana ia sedang makan malam. Malam ini ia jelas tidak beruntung karena harus bertemu Sehun. Pria itu tidak terima diputuskan tanpa alasan, katanya. Padahal Soojung merasa punya alasan yang sangat kuat untuk memutuskan Sehun. Ia merasa sudah tidak cocok lagi bersama Sehun—itu tidak mengada-ada. Soojung merasa tak ada manfaatnya meneruskan sebuah hubungan jika di antara mereka sudah tidak ada kecocokan lagi.

Selama berpacaran, Sehun seorang kekasih yang humoris. Hari-hari mereka dipenuhi dengan canda tawa. Hanya saja, Soojung mulai muak seperti biasanya, ketika ia dilanda kebosanan terhadap mantan-mantan kekasihnya terdahulu. Ia merasa ada yang kurang dari hubungan cintanya dan kemudian tidak ada jalan lain kecuali berpisah.

Soojung hendak beringsut dari kursinya, berniat untuk menghindari Sehun sebelum ia tau itu tak akan berguna. Sehun sudah melihatnya, dan dengan pasti melangkah ke arahnya.

“Boleh kami bergabung bersamamu?” Itu hanya basi-basi. Karena tanpa menunggu jawaban, pria itu sudah menempati kursi di sebelah Soojung. Sementara pria yang datang bersama Sehun duduk tepat di depannya.

“Seolah aku bisa mencegahmu saja.” Soojung tak bisa menahan kekesalan dalam suaranya.

“Kita perlu bicara,” Sehun berkata dengan hati-hati, seolah takut kalau tiba-tiba Soojung menghilang dari hadapan. “Aku sudah meneleponmu beratus-ratus kali dan kau selalu menolak teleponku lalu mematikan handphone mu.”

Seketika itu juga Soojung menyesal karena telah menghancurkan batang rokoknya yang terakhir. Ia sudah menjalani hidup yang sangat membosankan dan tidak butuh satu hal yang lebih membosankan lagi.

Ia tidak habis mengerti, kenapa para pria tak bisa dengan lapang dada menerima kata ‘Putus’.

“Bicaralah. Tapi sebelumnya aku ingatkan. Aku tak pernah kembali pada laki-laki yang sudah putuh denganku,” Soojung sengaja menekankan kalimat terakhirnya.

“Aku tak bersalah, Soojung. Aku tak pernah menyakitimu. Aku tak pernah menduakanmu.” Sehun memasang ekspresi memelas bak kucing kelaparan.

Soojung menghela napas panjang. “Memang, tapi aku sudah bosan, Sehun, mengertilah.” Dengan malas Soojung mengangkat wajah, menatap teman pria Sehun yang duduk tepat di depannya, untuk pertama kali sejak pria itu mengikuti langkah Sehun ke meja ini.

Saat pria itu balas menatapnya, Soojung bertanya, “Kau punya…” Soojung tertegun.

Astaga.

Pria itu memiliki pandangan mata paling tajam yang pernah dilihatnya, dan hidung serta bentuk bibir paling menarik. Belum lagi warna merah muda alami yang manis yang membuat bibirnya tampak sangat kiss-able .

Soojung berdeham untuk menghapus imajinasi liarnya.

“…rokok?” tanya Soojung pada Jongin.

Tidak. Rokok hanya akan membunuhmu.”

Dan suara pria itu adalah nada bariton paling indah yang pernah Soojung dengar semasa hidup.

Soojung pasti telah menatap pria itu dengan penuh minat karena didengarnya Sehun mengumpat pelan—sesuatu yang tak diketaui Soojung bisa dilakukan Sehun selama mereka berpacaran selama satu bulan.

“Kau sedang bicara denganku, Soojung. Dan sekali saja, jangan libatkan rokok dalam pembicaraan kita.”

“Jangan membuatku kesal,  Oh Sehun-ssi.” Dengan wajah manis yang tetap bertahan, Soojung berpaling pada Sehun. “Kau tau, kau tak bisa mengatur hidupku lagi. Jadi jangan lakukan itu sekarang. Kita sudah putus.”

“Aku tak ingin putus. Katakan saja apa yang salah dan kita bisa memperbaikinya. Apapun.” Sehun masih bertahan dengan keputusannya.

“Tidak ada yang perlu diperbaiki, Sehun. Sudahlah. Berhenti memelas.”

Hening beberapa lama.

Sehun menatap Soojung dengan patah hati. Sementara, Soojung menghindari tatapannya sambil mengipaskan daftar menu ke wajahnya yang ber-makeup sempurna dan tak berpeluh sedikitpun.

“Cukup, Sehun-ah! Kau tak perlu merendahkan diri begitu hanya untuk seorang gadis seperti dia yang bahkan tak bisa menghargai niatmu,” tandas Jongin, yang menatap tajam Soojung.

Tangan Soojung mendadak berhenti dan menatap pria di depannya. Hanya saja, kali ini tak ada lagi pandangan penuh kekaguman seperti tadi, meski sangat sulit untuk memungkiri betapa ia menganggumi ciptaan Tuhan yang satu ini.

Maaf?” Soojung menaikkan satu alis.

Mata kelam itu menghujam langsung ke dalam kedua manik cokelat tua Soojung. Menorehkan sakit pada lubuk dada Soojung. Soojung merasa heran, mengapa hanya lewat tatapan mata, pria asing itu mampu membuatnya salah tingkah. Untung saja sorot mata tidak bisa membunuh.

“Aku tak pernah bertemu gadis seangkuh kau.” Pria itu berkata dengan nada suara yang datar.

“Kau bilang aku angkuh?” Soojung terkekeh pelan, tanpa nada humor. “Itu tuduhan yang sangat berlebihan, yah, untuk orang yang belum pernah mengenalku. Kecuali—“ Soojung mengangkat bahu, ringan. “—aku lupa pernah mengenalmu.”

Itu mustahil. Pria seperti itu tak akan mudah dilupakan oleh siapapun.

“Tak perlu waktu lama untuk menilai peringai gadis sepertimu. Manja, egois, dan tak punya hati. Kau sama sekali tak cocok untuk Sehun. Dia layak mendapatkan gadis yang lebih baik.”

“Jongin-ah…,” gumam Sehun di kursinya. Ia tak mengira Jongin akan berbicara sepedas itu pada Soojung, gadis yang baru pertama kali bertemu dengannya.

Sehun menggigit bibir. Merasa harapannya untuk kembali bersama Soojung pupus seketika karena kalimat yang diucapkan sahabatnya itu. Sehun mendesah putus asa. Di sisi lain, Soojung juga mengalami keterkejutan luar biasa. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah. Selama ini Soojung selalu bergelimang kemewahan yang membuatnya memiliki nilai nyaris sempurna dalam hal penampilan.

Soojung tak pernah menyangka dibalik kepopulerannya yang selalu dipuja oleh pria manapun, akan ada seorang pria asing yang bahkan tak meliriknya dengan penuh puja seperti yang lain, yang mengatakan hal semenyakitkan itu.

“Jangan dengarkan kata-katanya, Soojung.” Sehun mencengkeram lembut sebelah bahu Soojung. Berusaha menenangkan gadis itu meskipun tau, akan sangat percuma.

Soojung menatap Jongin. Untuk pertama kali, ia melihat bagaimana mata indah itu memancarkan sorot dingin yang kelam dan menakutkan. Tidak memancarkan kekaguman layaknya pria-pria yang selama ini dijumpai Soojung. Soojung tak terbiasa diperlakukan begitu. Dan tak akan pernah biasa.

Soojung merupakan gadis yang memiliki beberapa kelebihan. Ia cantik dan kaya. Memiliki rambut cokelat tua yang mengikal sepunggung. Tubuhnya proporsional, dibalut kulit putih bersih serta mulus yang bersinar seperti mutiara yang telah diasah. Belum lagi selera fashion nya yang sangat tinggi, membuat Soojung selalu pandai memadu madankan pakaian yang akan terlihat indah melekat di tubuhnya. Di setiap tempat dan waktu, para pria selalu tak mampu menyembunyikan kekaguman mereka pada pesona Soojung. Jadi, bukan salahnya, kalau ia merasa punya modal untuk sedikit angkuh dan tidak harus merasa bersalah karena itu.

Tapi pria ini…

Pria ini sangat jauh berbeda.

Menatap Soojung begitu dingin. Tak ada sedikitpun kekaguman terpancar dari kedua manik hitam pekat yang indah itu. Yang ada hanya sorot mata yang memandang rendah Soojung. Dan sedikit sorot meremehkan yang membuat darah Soojung menggelegak karena emosi serta sakit hati.

“Chakkaman,” Soojung mengangkat sebelah tangannya ke udara. Ia menyipitkan mata menatap pria asing itu lekat-lekat. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Mata pria itu tetap terlihat sinis.

“Syukurlah, tidak,” jawab Jongin, polos.

“Kau…” Soojung terperangah. Tak percaya, sebegitu antinya pria itu dengannya.

“Aku tak pernah berharap yang sebaliknya.” Jongin mengedikkan bahu, malas. Soojung menatap Jongin emosi. “Kau tidak berhak menghinaku seperti itu, Jongin-ssi.”

“Sama tak berhaknya kau mempermainkan Sehun, agasshi.”

Oh, jadi begitu. Pria itu marah karena Soojung mengakhiri hubungan cintanya dengan Sehun. Soojung ingin tertawa. Ia sangat marah dan tidak suka melihat Jongin begitu angkuh dan sombong di hadapannya.

Tapi, kalau dengan begitu ia bisa menjauh dari Sehun….kenapa ia tak coba mendekati Jongin dan memperalatnya?

“Wajah cantik dan tubuh seksi,” Jongin kembali berkata tanpa nada memuji atau sorot penuh rasa kagum sedikitpun. “Kau menjadikan itu sebagai alat untuk mempermainkan setiap lelaki yang menurutmu menarik yang baru kau temui?”

Soojung terkesiap.

Tuduhan itu begitu kasar. Membuatnya cepat-cepat menghapus ide terburuk yang sempat mampir di pikirannya, tadi. “Kau benar-benar keterlaluan, Jongin-ssi.”

“Hanya itulah artinya di mataku, agasshi.” Jongin menyeringai sinis.

“Jadi, menurutku, kau benar-benar tidak layak untuk Sehun. Dia terlalu berharga untuk mengemis cinta darimu.”

“Jongin- ah..,” Sehun tak mampu berkata apapun.

Ini sudah benar-benar keterlaluan, batin Soojung. Gadis itu berdiri dengan cepat dan menghempaskan daftar menu yang dipegangnya tepat di depan Jongin.

“Kau tak perlu menghinaku seperti itu. Aku senang memiliki wajah cantik. Aku bangga punya tubuh seksi. Kalau kau tak tertarik pada wanita sepertiku, berarti kaulah yang tak waras.”

“Soojung- ah..,” Sehun kebingungan. Ia setengah mati ingin membuat Soojung kembali. Tapi Sehun juga tak menduga kalau akan kacau seperti ini.

“Asal kau tau saja, aku tak pernah kembali pada laki-laki yang sudah kutinggalkan. Dan alasanku melakukan itu bukan karena aku tak layak dengan mereka. Sebaliknya, merekalah yg tidak layak denganku,” tukas Soojung.

“Apa?” Jongin terkesiap kaget.

Dengan dagu terangkat angkuh—tanpa mempedulikan Jongin yang masih berusaha meresapi kata-katanya—Soojung menarik tote bag nya kasar. Ia pun berbalik dengan dramatis sebelum mengentakkan kaki, melangkah pergi dari kafe.

“Kau lihat?” Sehun melotot pada sahabatnya yang tetap duduk dengan tenang di kursinya, memasang wajah tanpa rasa bersalah sedikitpun.

“Kau puas, Jongin? Apa sebenarnya yang kau inginkan? Kau merusak segalanya. Kau memupuskan harapanku untuk kembali pada Soojung.” Sehun menatap onggokan buku bersampul merah di depannya yang telah patah menjadi dua dengan sampulnya yang sedikit membuka. Sebelum menjadi barang aneh tak berguna, buku itu disebut sebagai daftar menu kafe. Gadis itu pastilah marah besar hingga bisa mematah buku tebal yang isinya telah di laminating seperti itu.

“Dia menganggapmu tak layak untuknya. Apa kau masih ingin terus bersamanya? Jangan terlalu merendahkan diri begitu, Sehun-ah. Dia tak pantas memperoleh cintamu,” seloroh Jongin dengan nada santai. Tak memedulikan kekecewaan yang tercetak jelas di wajah Sehun.

****

A few days later. Jung’s house.

“Semua sesuai dengan taruhanmu. Dua toko, rumah beserta seluruh isinya, dan juga semua harta tak bergerak milikmu, seperti mobil serta tanah yang kau punya. Semua akan disita paling lambat seminggu ke depan.” Tuan Jung terpuruk lemah di ujung kursi meja makan.

Bangkrut.

Betapa kata itu tak pernah mampir dalam benak Tuan Jung. Usaha pertokoannya sangatlah sukses. Keuntungan yang diperolehnya seolah mengalir begitu saja hingga tak pernah terbayang jika pada suatu hari ia akan mengalami masalah keuangan.

Ia telah gegabah. Sebuah kecerobohan kecil yang dilakukannya mengantarkannya pada kenyataan pahit. Ia terancam jatuh melarat. Ia telah menghancurkan hidupnya begitu saja hanya dalam satu malam. Ia keranjingan berjudi dan akhirnya, harus menebus segalanya. Juga Soojung, putri semata wayangnya.

Tuan Jung mengerang. Merasa marah pada dirinya sendiri. Kalau saja ia mendengarkan perkataan Soojung pada saat pertemuan terakhir mereka pada sabtu sore sebelum keberangkatannya, ia tak akan
mengalami hal ini. Entah apalagi yang harus dilakukan Tuan Jung selain membunuh dirinya sendiri agar terbebas dari jeratan hutang ini, tanpa melibatkan Soojung sedikitpun di dalamnya. Tanpa membuat Soojung ikut menjadi korban dari kebodohan serta kerakusannya.

“Tolonglah, beri aku kesempatan sekali lagi,” pinta Tuan Jung, waktu itu.

Tuan Jung telah mencoba, meminta belas kasihan pada sosok pria dihadapannya yang tampak baru berusia duapuluh-an.

Hampir separuh dirinya yang dua taun lagi sudah mencapai angka lima puluh. Tapi Tuan Jung rela bersimpuh di hadapan pemuda tampan itu hanya untuk memperoleh keringanan pembayaran hutang demi menghindarkan Soojung dari kemelaratan yang tak pernah dirasakan gadis itu seumur hidupnya.

“Beri aku beberapa waktu lagi. Aku memiliki anak. Seumur hidup dia tak pernah merasakan kehidupan yang susah. Dia tak akan bisa bertahan menjadi orang melarat,” Tuan Jung mencoba sekali lagi.

Kim Jongin—nama pemuda itu—benci melihat wajah memelas di hadapannya.

Orang tua ini semalam begitu sombong dan berkoar-koar akan memenangkan semua taruhan. Sedikit kemenangan yang diperolehnya telah membuat Tuan Jung yang terbiasa menang itu penasaran dan memasang taruhan yang sangat besar. Saat itu, Jongin tau, Tuan Jung telah membuat kesalahan besar.

Tuan Jung sudah terlalu mabuk untuk berkonsentrasi pada permainannya. Tapi Jongin tidak pernah menyerah pada tantangan. Dan sebagai seorang pebisnis andal, ia tak pernah mau berbaik hati. Baik itu keuntungan dari segi bisnis maupun berjudi, tetap saja namanya keuntungan dan ia tak akan menolaknya.

“Saat memasang taruhan, seharusnya kau tau konsekuensinya. Sekarang sudah terlambat untuk mengemis, Jung seonsaengnim,” tandas Jongin, tanpa rasa ampun.

Tuan Jung menunduk lesu. “Aku tau, Nak. Dan aku tak akan berkelit. Aku menyadari sepenuhnya adalah kesalahanku. Karena kerakusanku. Aku hanya minta waktu sedikit lagi. Aku ingin memikirkan putriku. Dia—“

“Seharusnya kau ingat putrimu saat kau memasang warisannya dalam taruhan itu.” Jongin tetap memasang ekspresi datar, tatapan tajam yang sangat dingin, serta tubuh tegapnya berdiri angkuh di hadapan Tuan Jung yang masih bersimpuh.

Tuan Jung mengangkat wajah, menatap Jongin dengan bengis. “Aku sedang mabuk waktu itu. Kenapa kau begitu kejam? Aku tau kau orang yang sangat kaya. Apa sulitnya memberi waktu? Kalaupun kau tak mau mengasihani aku, kasihanilah putriku. Dia tak bersalah dalam hal ini.”

Jongin bergeming, tak terpengaruh oleh kemarahan Tuan Jung. Ia sudah terlalu sering berhadapan dengan orang-orang seperti Tuan Jung. Itu juga yang membuatnya kebal dengan tampang memelas yang ditunjukkan pria paruh baya itu.

“Sayangnya itu urusanmu, seonsaengnim. Aku tidak mengenal putrimu yang malang dan tak memiliki kaitan apapun dengannya.”

Di kamarnya, Soojung duduk termenung di pinggir ranjang. Matanya menatap lantai keramik putih dengan pandangan kosong. Ia masih mengingat jelas kejadian tadi siang saat tak sengaja ia pulang dari kampus dan mendengar pembicaraan ayahnya bersama pria sialan yang tempo hari pernah merendahkannya di hadapan mantan kekasih Soojung.
Belum lagi soal kabar buruk yang dibawa pria sialan itu. Ia benar-benar berharap bahwa itu semua hanyalah mimpi.

Soojung mendesah.

Ingatannya terlempar pada peristiwa tadi siang…

“Ayah? Kau sudah pulang?” Pintu rumah terbuka dari luar. Seorang gadis berwajah cantik dan bertubuh mungil dengan dandanan classy yang membuatnya semakin cantik, menerobos masuk.

“Ayah, kau kemana saja? Ayah pasti minum dan ber—“ Soojung berhenti melangkah dan berbicara.
Tatapannya terpaku pada sosok yang belum bisa ia lupakan beberapa hari ini.

“Kau?”

Entah siapa yang lebih terkejut di antara mereka. Yang jelas Jongin tak pernah mengharapkan kebetulan seperti ini. Tuhan pasti sedang berbaik hati padanya karena ternyata putri yang sombong itu akhirnya mendapatkan imbalan atas ulahnya beberapa hari lalu.

“Sedang apa kau di rumah ini?” Soojung menatap Jongin, marah.

“Jung Soojung,” Tuan Jung tak sempat merasa terkejut. Ia beranjak berdiri dan menghampiri putri semata wayangnya lalu menarik lengan Soojung kehadapan Jongin. “Tunggu dulu, Soojung-ah.”
Soojung menepis tangan ayahnya dan menudingkan telunjuknya tepat diwajah Jongin.

“Ayah tau, apa yang telah dilakukan orang ini padaku? Seumur hidup aku belum pernah merasa terhina seperti saat terakhir aku bertemu dengannya. Jadi apa maumu? Apa kau masih belum puas juga mempermalukanku di depan semua orang hingga berniat mencari tau alamatku dan mendatangiku ke sini?”

“Soojung, apa yang kau katakan?” Tuan Jung mengerutkan kening, bingung.

Jongin mendecak pelan. Sudut bibirnya terangkat naik, membentuk senyum paling dingin.

“Benar-benar keterlaluan. Kau sudah kalah telak, agasshi. Kalau saja kau tau tentang kebenaran yang sedang terjadi sekarang, kau tak berhak lagi untuk bersikap sombong padaku. Dan seperti ucapanku semalam, kau benar-benar sudah tak layak. Bukan saja untuk Jongin, tapi untuk siapapun yang masih memiliki otak dan kewarasan penuh. Karena sebentar lagi kau bukan apa-apa. Kau sama sekali bukan apa-apa.”

“Lihat kan, Ayah? Dia tak pernah berhenti menghina dan merendahkanku. Aku tak tau kenapa dia bisa ada di sini sekarang.” Soojung mengadu pada Tuan Jung. Persis seperti bocah lima taun yang sedang mengadu pada Ibunya saat dijahili teman sepermainan.

Jongin tertawa mendengus. “Beruntungnya, aku sangat berhak berada di sini.”

“Aku tak tau apa hubunganmu dengan Ayah, tapi aku tak akan pernah merelakan kau masuk ke dalam rumah ini. Mengerti?” Soojung memberi Jongin tatapan tergalak yang ia punya. Sedang yang ditatap hanya memasang senyum geli yang sinis.

“Soojung,” potong Tuan Jung sebelum Jongin menyahut. “Dia benar. Dia berhak atas rumah ini.”

Soojung menatap ayahnya tak percaya. Keningnya berkerut rapat. “Apa yang Ayah bicarakan? Bagaimana mungkin Ayah membiarkan orang yang telah menghinaku habis-habisan masuk ke dalam rumah kita—“

Ucapan Soojung terhenti. Sesuatu melintas dalam benaknya.

“A-apa maksud Ayah dengan dia….berhak atas rumah ini?” Tuan Jung menunduk lesu. Tak sanggup membalas tatapan Soojung lagi.

“Ayah? Apa maksudnya?” desak Soojung.

Setelah satu tarikan napas panjang, Tuan Jung mendongak dan menatap Soojung lalu menepuk lembut sebelah bahu putri semata wayangnya itu.

“Ayah bangkrut, Soojung-ah.”

Hening.

Soojung berusaha memahami kata-kata itu. Mencerna dua kata yang ia yakini sangat mustahil terjadi.

Mendadak Soojung ingin tertawa. Dan ia melakukannya.

Ia pasti telah salah dengar.

Ya, pasti. Soojung pasti salah dengar.

“Ayah pasti bercanda. Keluarga kita tak pernah bangkrut, kan?” Soojung tersenyum.

“Ya ampun,” gumam Jongin. “Kau benar-benar wanita paling sombong yang pernah kutemui.”

“Ayah?” Soojung mengguncang lengan ayahnya, meminta kepastian.

Namun saat ayahnya tak kunjung memberi respon, Soojung merasakan keringat dingin merambati ujung jari jemarinya dan perlahan mengaliri seluruh syaraf dalam tubuhnya.

“Ayah pasti bercanda.”

“Kalau saja Ayah masih bisa bercanda, Ayah pasti akan melakukannya, Soojung. Tapi sayangnya, Ayah benar-benar bangkrut. Semua harta kita, toko, rumah beserta isinya, juga perhiasan dan mobil, semua bukan milik kita lagi. Kita tak punya satupun harta selain pakaian yang melekat di tubuh kita sekarang,” terang Tuan Jung. Ada nada penyesalan dalam kalimatnya.

“Ini tidak benar. Ayah bohong, kan? Ayah bercanda, bukan?”

“Apa yang diucapkan ayahmu benar, Soojung-ssi. Semua ini sekarang telah menjadi milikku. Jadi, sebaiknya kalian segera bersiap-siap meninggalkan tempat ini—“

“Tapi..,” Tuan Jung berusaha mencegah.

“—secepatnya,” putus Jongin, tegas dan lugas.

“Tidak, jangan lakukan ini pada kami. Kumohon.” Tuan Jung langsung menghambur di hadapan Jongin. Berlutut di kaki pemuda penuh kuasa itu. Tuan Jung terus memohon agar Jongin mau memberinya sedikit waktu.

Di belakang mereka, Soojung berdiri mematung di tempat. Belum bisa mencerna sepenuhnya apa yang sedang terjadi. Gadis itu terlalu terkejut untuk mengatakan apapun. Ia tak pernah merasakan kejadian begini. Ia bahkan tak pernah membayangkannya.

“Apa yang kau lakukan?!” Jongin mundur beberapa langkah. Tak kalah terkejut atas tingkah Tuan Jung yang sangat tiba-tiba.

“Tolonglah. Kasihanilah kami. Beri kami kesempatan beberapa saat lagi agar kami tidak menjadi gelandangan, aku mohon padamu, Nak.”

“Kau tak perlu memohon, karena itu percuma.”

“Tolonglah, Jongin-ssi.”

“Kau sudah tau konsekuensinya, seonsaengnim. Aku tak bisa menolongmu.” Jongin menoleh, menatap Soojung beberapa saat, sambil melemparkan sebuah senyum kemenangan sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan itu.

Soojung juga masih bisa mengingat dengan baik kepingan adegan ia berdebat dengan ayahnya.

“Kenapa?” bisik Soojung setelah beberapa lama, kemudian. Memecah keheningan yang terasa begitu mencekam. “Kenapa Ayah???”

“Soojung….” Tuan Jung tak beringsut sedikitpun dari tempatnya.

“Apa yang terjadi?”

“Maafkan aku, sayang. Aku telah menghancurkan segalanya.”

“Bagaimana mungkin bisa? Bagaimana mungkin Ayah bisa membuat kita bangkrut? Kekayaan keluarga ini sangat banyak Ayah. Tak mungkin Ayah bangkrut hanya karena salah satu toko kita mengalami masalah.” Soojung terus berkata tanpa menatap ayahnya yang menunduk sedih.

Tuan Jung gelisah. Merasa bersalah pada Soojung.

“Bukan itu, Soojung. Masalahnya aku—“

Soojung tak ingin mempercayai apa yang berkelebat dalam benaknya, namun itu sangat mengusik rasa penasarannya. Ia menatap Tuan Jung tajam.

“Ayah, Ayah lihat aku! Ayah tak mungkin mempertaruhkan seluruh kekayaan kita di meja judi, kan? Ayah tidak mungkin melakukan itu. Ayah tak sebodoh itu untuk melakukannya, bukan?”

“Aku sedang tidak beruntung…” lirih Tuan Jung, pelan.

Soojung merasa tubuhnya mati perlahan-lahan.

“Jadi benar? Ayah mempertaruhkan semuanya dan Ayah kalah?” Soojung menelan ludahnya yang kering. “Dan pria sialan itu yang telah mengalahkan Ayah?” Geram, Soojung mengepalkan kedua telapak tangannya kuat-kuat.

“Bagaimana mungkin Ayah melakukan ini semua? Bagaimana mungkin Ayah membuat hidup kita berantakan semudah itu?!” Suara Soojung meninggi.

“Maafkan Ayah, Soojung.”

“Maaf?” Emosi Soojung meledak. “Kenapa Ayah tidak mengatakan itu saat aku memperingatkan Ayah kemarin-kemarin? Ayah benar-benar menghancurkan hidupku!” Soojung mengentakkan kakinya menuju kamar dan membanting pintu keras.

Soojung bangkit dari duduknya dan melangkah lemah menuju balkon.

Dari sini, Soojung bisa menangkap bayangan ayahnya yang duduk termangu di salah satu bangku taman.

Ayahnya yang tampan, memiliki postur tubuh tinggi semampai, dengan rambut hitam lebatnya yang dihiasi helai-helai rambut putih tanda umurnya yang sudah tak muda lagi.

Perutnya agak membuncit karena jarang berolah raga dan sering mengkonsumsi minuman
beralkohol. Dan masalah judi ini—Soojung mengumpat marah—telah membuat ayahnya tampak berusia dua puluh taun lebih tua. Sangat menyedihkan. Wajah tampannya berubah kuyu dan kusam. Dahinya penuh kerut-kerut oleh beban berat yang sedang dipikirkannya. Seumur-umur Soojung tak pernah membayangkan akan menemui masalah seperti ini. Sepanjang sejarah, tak pernah ada yang namanya kehabisan uang. Bagi Soojung, sebagian hidupnya dihabiskan untuk berbelanja dan bersenang-senang. Menghambur hamburkan kekayaan peninggalan kakek neneknya tanpa merasa khawatir akan kehabisan.

Soojung menghela napas sebelum beranjak keluar kamar.

“Ayah ,” panggil Soojung.

Gadis itu memutuskan untuk menghampiri ayahnya beberapa menit kemudian. Walaupun ia kecewa dengan kesalahan yang telah dilakukan pria paruh baya itu, Soojung tetap tak bisa membenci ayahnya yang merawatnya sejak ia berumur sebelas taun.

Bersama mereka saling mengisi kekosongan setelah ibunya meninggal. Pada akhirnya, Soojung merasa rasa sayangnya pada ayahnya lah yang mendominasi saat ini. Soojung mengambil tempat di sisi Tuan Jung. Pria itu hanya mendongak dan menatapnya sekilas sebelum kembali terpekur memandang kolam kecil berisi ikan koi di depan mereka.

Soojung tak tau harus berkata apa. Sejujurnya, ia masih sangat marah. Ia tak rela harta peninggalan keluarga mereka hilang. Ia tak rela kehormatan keluarga mereka selama ini berlalu begitu saja. Apalagi di tangan pria sialan yang berani merendahkannya itu. Soojung tak bisa membayangkan hidup tanpa semua fasilitas yang dimilikinya selama ini.

“Maafkan aku, Soojung,” bisik Tuan Jung memecah keheningan.

“Kata maaf tak akan mengembalikan semuanya.” Soojung menatap ayahnya.

Lalu ia menghela napas dan merendahkan suaranya. “Bagaimana kita akan melalui hidup kita setelah ini? Tanpa semua yang kita miliki sekarang? Ayah telah memikirkannya baik-baik?”

Tuan Jung membisu.

Ia telah mencoba memikirkan segalanya dan tak ada satu jalan pun untuk keluar dari masalah yang kini tengah membelenggu mereka. Ia menggeleng lesu. Membuat Soojung menatapnya prihatin dan
melingkarkan tangan di lengan Tuan Jung lalu menyandarkan kepala di bahu ayahnya.

“Sebenarnya ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk Ayah, bukan? Tapi sayangnya, pelajaran ini harus mengorbankan semua yang kita miliki,” ucap Soojung.

“Aku tau, Soojung. Maafkan Ayah. Kalau saja aku mendengar ucapanmu, semua ini tak akan pernah terjadi. Itu yang ingin kau katakan. Aku mengerti.”

“Kalau saja Ayah tidak keras kepala dan mau mendengarkan perkataanku, kita tak akan kebingungan seperti ini. Dan yang jelas kita tak akan menjadi gelandangan di jalan.”

“Aku tau,” bisik Tuan Jung, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Soojung melepas tangannya dari lengan Tuan Jung lalu bangkit. Mondar-mandir dengan amarah terhadap bayangan pria sialan itu yang sejak tadi memenuhi seluruh pikirannya.

“Tak bisakah Ayah minta tolong pada teman-teman Ayah yang pernah Ayah tolong?”

“Aku sudah melakukan itu. Tapi, mendadak saja, mereka semua juga mengalami masalah keuangan. Lagipula, semua kekayaan kita berjumlah sangat besar,” sergah Tuan Jung.

“Setidaknya hanya supaya kita tidak menjadi gelandangan, Ayah,” desak Soojung.

“Apapun.”

“Tapi mereka tak mau mempercayaiku, Soojung,” Tuan Jung masih pesimis.

“Bukankah mereka teman-teman Ayah ?”

Tuan Jung melenguh. “Itu di saat Ayah sedang punya uang.”

“Jadi, bagaimana? Ayah akan menyerah begitu saja pada pria sialan yang sombong itu?”

Tuan Jung mengusap wajahnya kasar. Ia menghela napas.

 “Aku tak melihat ada jalan lain.”

****

Next day. Jongin’s house.

Pasti ada jalan!

Begitu ucap Soojung dalam batinnya, berulang kali.

Soojung tak mau menyerah dan membiarkan seluruh kehidupannya direnggut paksa oleh pria sialan bernama Kim Jongin itu.

Ia tak bisa membayangkan pria menyebalkan itu menikmati seluruh kekayaan peninggalan kakek serta neneknya.

Karena itulah sore ini, ia berada di depan sebuah rumah mewah bergaya klasik American di kawasan Kangnam. Ia tak tau dan belum memikirkan apa yang akan dikatakannya pada Jongin. Yang terpenting, ia harus bertemu dulu dengan pria sialan itu. Ia harus bisa meluluhkan hati Jongin.

Soojung menunggu selama sepuluh detik yang penuh dengan hawa kemarahan sebelum akhirnya, pintu rumah itu terbuka.

Soojung ternganga.

Pria sialan itu hanya mengenakan celana renang ketat berwarna hitam. Sebuah handuk putih yang digunakan Jongin untuk mengeringkan rambutnya tampak belum sepenuhnya mengeringkan air yang menetes dari rambut hingga mengaliri tubuh— Tapi, tunggu, itu membuat Soojung teralih fokusnya pada tubuh atletis Jongin yang langsing namun dipenuhi otot-otot yang terbentuk sempurna.

“Oh, kau.” Pria itu mengangkat alis.

“ Masuklah. Apa ayahmu memutuskan untuk mempercepat pelunasan seluruh hutangnya?”

Soojung menahan diri untuk tidak melempar wajah pria sialan itu dengan stiletto Jeffrey Campbell yang sedang dipakainya.

Gadis itu mengikuti Jongin dari belakang yang melangkah menelusuri lorong rumah hingga mereka sampai di ruang tengah yang tak berbatasan dengan pantry.

“Ugh, begini, Jongin- ssi, aku minta maaf atas semua kata-kata kasarku padamu. Dan anggap saja semua itu tak pernah terjadi.”

Jongin mengernyit. Sambil lalu, ia mengusapkan handuk ke punggung sebelum mengenakannya di sekeliling pinggang.

“Dengan imbalan apa?”

“Berbaik hatilah. Kumohon, Jongin-ssi, beri ayahku sedikit waktu lagi. Aku tau bagaimana ayahku. Dia tak akan menghindar dari tanggung jawabnya,” pinta Soojung.

Jongin berjalan ke sudut ruangan, membuka sebuah lemari untuk mengambil gelas kaca lalu membuka pintu lemari pendingin dan menuangkan jus jeruk untuk dirinya sendiri. Diletakkannya gelas berisi jus itu ke atas meja bar sebelum melangkah ke kamarnya yang tak jauh dari pantry.

Ia menutup pintu lalu kembali keluar dengan tubuh telah terbungkus dengan kaus putih dan celana panjang hitam yang nyaman. Pria itu menghampiri Soojung dan duduk di salah satu kursi bar. Jongin menyesap minumannya beberapa kali. Ia bahkan tak repot-repot mempersilakan
Soojung duduk.

Setelah lama, Jongin berucap, “Aku tidak berbisnis dengan cara seperti itu. Memberi rasa kasihan pada orang seperti ayahmu tak akan memberiku untung. Hanya akan membuatku terputar di lubang
penyesalan. Siapa yang tau mereka takkan berkhianat?”

“Tapi ini bukan dunia bisnis. Ini hanya sebuah kesalahan yang terjadi di meja judi. Kesalahan yang dilakukan oleh orang yang sedang mabuk. Lagipula ayahku bukan pengkhianat. Terlepas dari kegilaannya berjudi, ia pria yang baik,” protes Soojung atas tuduhan Jongin terhadap ayahnya.

“Ya, pria yang baik. Apa dia juga ayah yang baik? Yang telah melibatkan putrinya dalam kesusahan yang ia ciptakan sendiri?” Jongin tertawa mendengus.

“Dan satu hal lagi yang perlu kau ketaui, gadis manja, kalau suatu hal yang melibatkan uang milyaran won, apapun itu, tetap dinamakan bisnis. Dan sebagai seorang pebisnis, aku tak akan melewatkan keuntungan sebesar itu lewat begitu saja di depan mata. Itu benar-benar kesalahan yang tak termaafkan.”

Soojung mendesah, putus asa. “Kumohon. Kami tak punya tempat yang harus kami tuju jika kami harus pergi dari rumah peninggalan kakek dan nenek.”

“Percuma kau memasang tampang sedih di depanku, agasshi .”

“Kau akan membiarkan kami keluar dari rumah itu tanpa apapun? Kau membiarkan kami menjadi gelandangan? Kau benar-benar jahat, Jongin-ssi.” Soojung berang.

Jongin menatap Soojung lurus-lurus. “Tepat sekali. Kenapa kau tak memanfaatkan tampangmu itu untuk menarik perhatian seseorang seperti Jongin? Barangkali ada pria kaya yang tertarik mengasihanimu dan membelikanmu sepasang atau dua pasang baju baru untukmu? Agar kau tidak benar-benar seperti gelandangan.”

“Kau sungguh kelewatan! Kau akan menyesal melakukan ini, Kim Jongin brengsek! Suatu hari nanti, aku pasti akan membalasmu karena kelakuanmu ini.” Soojung menuding-nuding wajah Jongin dengan jari telunjuknya.

Setelah berkata begitu, Soojung sambil mengentakkan kaki dan menahan diri agar tidak melemparkan tote bag Gucci cokelat nya ke wajah menyebalkan Jongin, ia melangkah kaku keluar dari rumah.

Di kursinya,
Jongin memandangi punggung mungil Soojung yang menghilang di balik belokan koridor. Ia tau kemarahan gadis itu sudah di ambang batas.

Sebuah senyum geli tersungging di sudut bibirnya.

Senyum yang sangat jarang ditunjukkannya di depan orang-orang. Membuat wajah tampan penuh aura angkuh nya berubah menjadi wajah tampan yang manis dan lembut. Ia memutar-mutar telunjuk di pinggiran gelasnya.

“Membalasku? Dia pikir masih memiliki kemewahan itu untuk melakukannya? Lucu sekali, Jung Soojung.” Jongin menggeleng-gelengkan kepala sambil terus tersenyum geli.

Setelah pintu rumah tertutup dan Soojung benar-benar hilang dari pandangannya, Jongin melangkah ke ruang tengah untuk meraih Samsung Galaxy Note 5 putih nya yang berada di atas meja.

“Sehun-ah, kalau kau masih berminat mengejar Soojung, sekaranglah waktu yang tepat. Aku jamin, dia akan bersedia berlutut di kakimu hanya agar kau mau menerimanya.” Jongin memutuskan sambungan telepon dan melempar handphone ke kursi.

***

Jung’s house.


“Sehun-ssi
?” Soojung terkejut bercampur kesal saat melihat siapa yang ada di rumahnya sore-sore begini.

Sudah cukup, tadi pagi ia menghadapi lelaki brengsek. Soojung tidak membutuhkan yang lain lagi.

Sungguh. Itu sangat mengganggu. Seharian berada di kafe langganannya tak membuat mood Soojung cukup membaik.

“Soojung-ah, aku sudah lama menunggu,” Sehun segera berdiri dan tersenyum manis.

Soojung tak mengerti apa yang membuat senyuman Sehun begitu lebar sementara ia dirundung kesedihan.

“Sehun, maafkan aku. Tapi aku benar-benar tak punya waktu untuk membicarakan hal-hal konyol sekarang. Aku sedang pusing dan ingin marah. Lebih baik kau pergi saja. Kau tentu tak ingin, kan, jadi tempat pelampiasan kemarahanku? Jadi, kau pergi sekarang sebelum aku melakukan hal-hal yang akan kusesali nantinya.” Soojung hendak melangkah ke kamar namun Sehun langsung menahan lengannya dan berdiri di depannya.

“Kau tau aku selalu siap membantumu setiap kali kau membutuhkanku, Soojung,” ujar Sehun yang telah menggenggam kedua tangan Soojung.

Soojung diam sejenak. Ia memperhatikan lekat-lekat wajah Sehun yang masih menunjukkan ekspresi ceria dan senyum yang seakan tak luntur.

Soojung mengerutkan kening sebelum menepis tangan Sehun kasar.

“Membantuku? Apa sebelumnya aku pernah meneleponmu dan meminta tolong sesuatu? Apa aku terlihat semengenaskan itu?”

“Bukan begitu. Aku tau kau sedang menghadapi masalah keuangan yang benar-benar sulit.” Sehun menatap Soojung penuh arti.

Soojung memaki pelan. “Berita menyebar dengan cepat rupanya.”

“Jongin memberitauku tentang masalah yang menimpa kalian,” jelas Sehun.

“Oh, pasti. Aku sudah menebaknya. Dia tidak buang-buang waktu rupanya. Si brengsek itu pasti bangga sekali bisa dengan sombong mengatakan telah menjatuhkanku dan keluargaku dengan cara seperti ini.” Soojung mengepalkan kedua tangannya, geram.

“Tenanglah, Soojung. Tepatnya bukan begitu. Ia tidak dengan sengaja ingin menyakitimu. Kekalahan ayahmu di meja judi sama sekali bukan karena kesalahan Jongin.”

“Bagaimana mungkin kau berkata begitu?!” bentak Soojung kehilangan kesabaran.

“Dia yang membuat ayahku kalah! Membuat kami melarat tanpa menyisakan apapun. Dan setelah tau aku anak orang yang telah dikalahkannya di meja judi, ia merasa mendapatkan bonus untuk pialanya! Sahabatmu itu benar-benar harus memperoleh ganjaran yang setimpal!”

“Jongin tidak seperti itu. Dia sebenarnya pria yang baik.”

“Baik? Hah…” Soojung mendengus kesal. “Dia orang baik yang akan menyita seluruh rumah beserta seluruh kekayaan keluargaku dan tidak mau memberikan sedikit waktu pada kami untuk bernafas. Mencari jalan keluar. Ia membiarkan kami tenggelam dalam penderitaan tanpa sedikitpun berniat untuk menolong. Itukah yang kau maksud baik?”

“Karena itulah aku datang, Soojung. Aku akan menolongmu. Aku tak akan membiarkan gadis yang kucintai menderita. Kau harus percaya padaku. Aku akan mengeluarkanmu dan ayahmu dari masalah ini,” tukas Sehun, optimis.

Soojung berpikir beberapa saat. “Baiklah, aku benar-benar sangat bingung sekarang. Pria sialan itu hanya memberi kesempatan seminggu untuk membayar seluruh hutang Ayah atau kami harus pergi dari rumah ini.” Soojung mengeluh lirih.

“Sebenarnya aku baru saja meminta perpanjangan waktu untuk pembayaran pada sahabatmu itu. Tapi dia malah menghinaku habis-habisan.”

“Aku akan membantumu, Soojung. Percayalah. Jangan sedih lagi.”

“Apa yang bisa kau lakukan untukku? Kau bisa membujuknya agar memberi perpanjangan waktu lebih lama lagi? Atau kau mau meminjamkan uang padaku agar aku bisa segera membayar hutang pada si brengsek itu dan mengeluarkannya dari hidupku?”

Sehun berkedip. Merasa semua tebakan Soojung tak pernah singgah di otaknya. “Bukan begitu, Soojung. Bukan itu yang bisa kulakukan untukmu.”

“Tapi kau bilang kau bisa menolongku,” sahut Soojung, sarat tuduhan. Ia sudah hampir kehilangan akal bagaimana agar bisa keluar dari masalah itu. Ia sangat berharap Sehun bisa membujuk Jongin agar memberikan keringanan pembayaran pada Soojung dan ayahnya. Ia bersedia berbaik-baik pada Sehun asal pria itu bisa meluluhkan hati Jongin.

“Itu benar. Tentu saja aku akan menolongmu. Aku tak akan membiarkanmu dan ayahmu menjadi gelandangan di jalanan. Kalian bisa tinggal di rumahku,” tawar Sehun.

“Oh.” Soojung memandang Sehun beberapa lama, mencoba menilai seberapa berartinya tawaran itu untuk dirinya. “Jadi kau tak akan membujuk Jongin agar memperlonggar perpanjangan waktunya untuk pelunasan hutang ayahku?”

“Sayang sekali, aku tidak bisa melakukan itu. Walaupun kami bersahabat, tetap saja Jongin memberi batasan apa hal yang boleh atau tidak boleh kucampuri. Jongin pria yang sangat tegas dan kejam kalau sudah menyangkut bisnis. Ia tak akan luluh karena bujukan dariku, sekalipun orangtuanya.” Sehun memberi Soojung sorot meminta maaf.

Soojung tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Sehun. “Apa syaratnya?”

“Apa?” Sehun menaikkan satu alis, tak mengerti.

“Aku mengenalmu, Sehun. Memberi tumpangan tempat tinggal padaku dan Ayah. Itu semua bukan pertolongan tanpa imbalan, bukan?” tebak Soojung.

Sehun salah tingkah. Ia mengusap tengkuknya. “Uh-oh, tidak, Soojung. Jangan membuat semua jadi terdengar bisnis begitu. Ini bukan syarat. Tapi, kau tau, aku sangat mencintaimu. Kau juga pernah menyukaiku. Kita pernah bersama dan kita bisa menemukan kecocokan. Tak ada salahnya kalau kita mencoba bersama lagi?”

Mata Soojung menyipit.

“Selain apartemen yang kutempati sekarang, aku punya sebuah rumah di kawasan Cheongdamdeong. Kalian bisa menempatinya kalau kau mau. Bagaimana?” bujuk Sehun.

“Asal aku kembali padamu?”

“Kuharap begitu.”

Soojung mengertakkan giginya. Ia kesal. Sangat merasa kesal. Bagaimana mungkin ada orang yang begitu licik seperti Sehun dan— Ya, Sehun pasti yang sudah mengatur semua ini. Ia menggigit bibir.

“Jadi kalau aku tak mau kembali padamu, kau tak akan memberi bantuan padaku, sementara kau tau aku benar-benar membutuhkan bantuanmu?”

Sehun kebingungan diserang oleh kalimat pedas Soojung. “Tidak, tapi, ayolah, Soojung. Aku bukan pria yang memiliki banyak kekurangan hingga tak pantas berada di sisimu.”

“Tidak,” tandas Soojung.

“Apa?”

“Aku tak bisa dan tak akan kembali padamu. Aku sudah mengatakannya lebih dari tiga puluh kali. Baik, kau membantuku atau tidak, aku tetap tak akan kembali padamu. Apa itu cukup jelas? Kau bisa pulang sekarang karena aku ingin beristirahat. Aku lelah dan kepalaku pusing.”

Wajah Sehun memucat. Senyumnya luntur sudah. Ia tak menduga akan mendapatkan hasil seperti ini.

Semula, ia mengira Soojung akan berterima kasih padanya karena telah menyelamatkannya dari
kemelaratan yang siap membelenggu gadis itu dan ayahnya.

“Tapi kau memerlukan bantuan, Soojung.” Sehun tak menyerah.

“Ya. Aku perlu pertolongan. Tapi tidak dengan syarat, Sehun. Aku sudah beberapa kali memberitau padamu kalau aku tak akan pernah menjalin hubungan kembali dengan orang yang telah kutinggalkan. Apa kau pikir itu akan berubah hanya karena aku jatuh miskin?” Soojung sedikit kesal menyebutkan kalimat terakhirnya.

“Tapi Soojung, aku tulus—“ Sehun berusaha meraih tangan Soojung.

“Pergilah. Aku tidak membutuhkanmu,” tolak Soojung yang langsung meninggalkan Sehun terpaku di tempatnya dengan perasaan hancur, tentunya.

***

Next day. Jongin’s house.

“Apa sebenarnya maumu?!” semprot Soojung begitu saja.

Tanpa mengetuk, memberi salam, atau apapun, gadis itu menyelonong masuk dan mendamprat Jongin di ruang tengah yang sepertinya baru pulang dari kantor karena masih mengenakan setelan kerja Armani mewah yang membuat ketampanan serta pesona pria itu terpancar sempurna berkali-kali lipat.

“Kau lagi,”

 Jongin menghela napas lelah, tetapi wajahnya tak menunjukkan ekspresi keterkejutan melihat Soojung berdiri di depan pintu rumahnya hanya berselang sehari setelah kedatangannya kemarin.

“Apa ada yg tertinggal?”

Soojung mendengus. “Lucu sekali. Kau sudah mengatur semua ini? Kau menjebakku dan mengumpankanku agar kembali pada Sehun? Setelah menginjak harga diri keluargaku, kau masih belum puas, dan ingin membuatku semakin terpuruk?”

“Jangan menyalahkan orang lain atas kesialan yang kau terima,” seloroh Jongin, tak peduli. Ia lebih tertarik pada remote tv di tangannya.

Jongin membuka kancing jas dan melonggarkan dasi lalu mengempaskan tubuh ke sofa kulit putih susu di depan tv sebelum sibuk menggonta-ganti channel tv yang menarik.

Soojung menghampiri Jongin dan berdiri tepat di depan pria itu sambil berkacak pinggang. Ia juga merebut remote tv dari tangan Jongin. Membuat pria itu mengerang dan terpaksa menatap Soojung dengan pandangan datar, tanpa minat.

“Sehun tau semua masalahku. Tak akan ada orang lain yang akan memberitaunya kecuali kau. Sehun bukan pebisnis sepertimu, dia seorang model. Tak ada temannya sesama model yang tau tentang masalah ini. Kau tentu mengerti apa yang kumaksud.”

Soojung memberi jeda pada kalimatnya. Ia perlu mengatur napasnya yang memburu karena emosi.

“Dengan memanfaatkan kesulitanku, dia mencoba peruntungan menjadi pahlawan penyelamatku. Oh, tentu saja, aku akan menghargai itu kalau dia tak mengajukan syarat sialan itu. Aku tau itu semua kau yang mengatur. Kau memiliki penilaian yang sangat rendah saat menatapku, Jongin-ssi. Kau mengira bisa mengendalikanku hanya karena aku mendadak jadi melarat. Kau benar-benar salah.”

Sehun benar-benar tidak membuang waktu , Jongin memaki dalam hati.

Ia ingin mendengus.

Sebenarnya apa yang membuat Jongin begitu tergila-gila pada gadis ini?

Memang, untuk wajahnya, Soojung memiliki nilai di atas rata-rata dibandingkan gadis pada umumnya. Gadis itu sangat cantik, harus Jongin akui. Jongin berani bertaruh tak akan ada pria yang tak akan jatuh untuk Soojung—pastinya, ia tak harus diikutsertakan dalam kumpulan pria itu, karena ia merasa tak ada hal yang menarik dari Soojung yang bisa membuatnya jatuh cinta.

“Kau tak ingin mencoba menerima tawaran Sehun?” tanya Jongin, sinis.

“Seberapa besar harga dirimu hingga kau tak mau menerima uluran tangan orang yang bersedia bertekuk lutut di depanmu hanya untuk mendapatkan sedikit perasaan cinta darimu?”

“Ini bukan masalah harga diri dan tak ada sedikitpun sangkut pautnya dengan masalah itu. Ini adalah tentang bagaimana kau bisa terus bersama orang yang tidak kau sukai,” tukas Soojung.

“Salah,” geram Jongin.

Ia sangat merasa muak dengan sikap sok-tidak-butuh yang ditunjukkan gadis di depannya ini. Entah gadis itu bodoh atau idiot.

“Masalahnya sekarang adalah, apa kau mau menerima tawaran Sehun tentang rumah itu dan kembali bersamanya, atau kau memilih menjadi gelandangan di jalanan. Itu saja.”

“Kau—“

“Bersikap dewasalah, Jung Soojung-ssi. Kau tak punya banyak waktu untuk mendapatkan uang sebesar itu agar bisa melunasi hutang ayahmu. Kau berada di ambang kemelaratan. Tawaran Sehun adalah tawaran terbaik yang bisa kau terima saat ini. Tak ada gunanya bersikap congkak dan tinggi hati. Seharusnya kau merasa beruntung karena Sehun masih perhatian padamu setelah tau kesialan apa yang menimpa kau dan ayahmu,” potong Jongin.

“Kau tau? Kau benar-benar memiliki mulut perempuan. Kenapa kau bawel sekali dan menceritakan kesusahanku pada orang lain? Apa kau berniat mengumbar kesuksesanmu membuat aku dan ayahku menderita?”

Jongin beranjak berdiri. Ia terus menatap tajam Soojung dan melangkah maju selangkah demi selangkah. Membuat Soojung ketakutan dan mundur hingga lutut gadis itu menyentuh meja.

Soojung harus menjauhkan tubuhnya tetapi Jongin tetap melangkah maju.

“Jaga bicaramu,” desis Jongin, tegas. Wajahnya tampak semakin kaku oleh amarah yang terpancar dari kedua matanya yang tanpa ekspresi.

“Kau sudah kalah. Tidak pada tempatnya kau bicara sombong sekarang.”

“I-itu karena kau yang—“

“Satu lagi. Jangan pernah mengatakan kalau aku memiliki mulut perempuan,” Jongin semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Soojung tanpa peduli posisi berdiri gadis itu yang telah melengkung 36 derajat.

Kalau gadis itu tak pintar menjaga keseimbangan, bisa dipastikan ia akan jatuh dengan membentur meja kaca di bawahnya.

“Aku tak pernah menerima hinaan yang bersifat melecehkan seperti itu. Paham?” Jongin berbalik pergi ke kamar. Meninggalkan Soojung yang kesulitan mengembalikan posisi berdirinya semula.

Alhasil, ia jatuh dan punggungnya menyentuh meja kaca.

“Ah, shit ! ARGHHH! Sakit! Sial! Kim Jongin keparat!” erang Soojung seraya mengusap-usap punggungnya. Ia benar-benar kesal dengan Jongin sekarang. Emosinya tak terbendung lagi. Soojung yakin ia bisa mengalahkan Jongin.

Ya, ia pasti bisa. Dengan menahan rasa sakit, Soojung berdiri dan melangkah menyusul Jongin. Ia membuka tanpa izin pintu kamar pria itu. Sayang, Soojung bukan cenayang yang bisa tau apa yang sedang dilakukan Jongin sekarang karena setelah melihatnya—melihat Jongin bertelanjang dada, hanya memakai celana panjang kerjanya—Soojung langsung menyesali tindakannya yang ceroboh.

Jongin yang berdiri di depan lemari, menatap Soojung dengan tatapan kesal. Gadis ini sungguh tidak tau sopan.

Penuh ketegasan, Jongin melangkah mendekati Soojung dan menarik tangan gadis itu lalu menutup pintu kamar.

Didorongnya tubuh mungil Soojung hingga membentur pintu, kemudian ia berdiri di depan gadis itu seraya kedua tangannya menempel di pintu, mengunci Soojung agar tak bisa pergi kemana-mana.

Jongin terus menatap Soojung tanpa ekspresi. Membuat Soojung jengah ditatap begitu. Soojung juga takut karena sekarang, ia hanya berduaan dengan Jongin. Tanpa siapapun di rumah ini yang bisa dimintainya tolong kalau Jongin berbuat macam-macam. Soojung berjingkat agar wajahnya tak harus berada sedekat itu dengan wajah Jongin.

“Apa yang kau inginkan? Menggodaku agar aku bersedia meloloskan ayahmu begitu saja?” tuduh Jongin.

“Kau sangat pintar. Wajah cantik serta tubuh seksimu sangatlah berguna bagimu. Tapi sayangnya, aku tak akan mengabulkan permintaanmu hanya dengan satu malam saja.”

“A-apa maksudmu? Aku bukan gadis—“

“Kuakui, aku tertarik menjamahmu. Berduaan bersama seorang gadis cantik yang menjadi pujaan seluruh pria. Apa yang akan mereka katakan kalau tau aku lah yang pertama menyentuh setiap bagian terdalam tubuhmu? Atau kau telah melakukannya dengan pria lain?”

Hawa segar mint yang tercium dari napas Jongin, membuat Soojung sedikit nyaman.

Tentu saja, Soojung tak sebodoh itu jatuh cinta pada pria brengsek seperti Jongin, hanya saja semua yang ada di diri pria itu membuat Soojung tertarik.

“Kenapa? Kau ingin merasakan ciumanku?”

“A-apa? B-bukan, aku t-tidak sedikitppunnhgng…”

Terlambat.

 Jongin telah mengunci bibir Soojung dengan ciuman. Soojung pikir pria itu akan menciumnya dengan kasar. Namun salah besar karena Jongin menciumnya dengan lembut.

Ciuman itu manis.

Berbeda dari ciuman yang pernah dilakukannya bersama pria lain.

Soojung tak bisa mendeskripsikannya dengan jelas tetapi Soojung merasa ketagihan untuk melakukan ciuman seperti ini lagi, bersama Jongin. Benar-benar menjadi candu bagi Soojung. Hawa segar mint itu kembali terasa ketika napas Jongin dan napasnya bersatu. Wangi maskulin tak menyengat yang menguar dari tubuh Jongin membuat perasaan Soojung melayang-layang. Meskipun pria itu menciumnya tanpa memindahkan tangannya dari pintu—setidaknya Soojung berharap Jongin akan melingkarkan tangan di pinggangnya—Soojung tetap menikmati ciuman dari Jongin.

Jongin melepas ciumannya dan menatap Soojung. “Kau sudah percaya, kan?”

Uh?” Soojung mengernyit.

“Bibirku. Sama sekali bukan mulut perempuan seperti yang kau katakan. Keluarlah. Ah, lebih baik lagi kalau kau pulang. Aku takut jika kau berlama-lama disini, aku tidak akan bisa menahan diri dan kau akan berakhir mengenaskan diatas tempat tidurku yang mahal ini.” Jongin melangkah menjauh dari Soojung yang masih mematung tak mengerti.

Bodoh. Bodoh, Jung Soojung. Kau idiot!

 

Bagaimana bisa kau membiarkan pria brengsek itu menciummu? Astaga, apa kau sudah gila? Tidak seharusnya kau malah menikmati ciuman Jongin. Ya ampun, batin Soojung, merutuki kebodohannya sendiri.

Air mata Soojung menetes. Merasa kesal dan bodoh dan ia tak bisa memaafkan dirinya yang telah membiarkan Jongin membuatnya lemah.

Cepat, Soojung menghapus air matanya. Tanpa berkata-kata, ia memutar tubuhnya dan pergi begitu saja. Soojung tak ingin Jongin melihat ia menangis. Yang Soojung inginkan hanya pulang, pergi jauh dari rumah ini.

Jongin termangu lama di depan pintu rumahnya. Menatap kepergian Soojung yang tanpa izin atau pamit padanya. Jongin memaki pelan. Gadis sombong itu tak berhak membuat Sehun patah hati.

Seperti juga, gadis itu tak berhak untuk membuat Jongin merasa bersalah seperti ini. Tapi apa yang dilihatnya tadi? Apa benar Jongin melihat air mata di pipi Soojung? Itu tidak mungkin.

Yoboseyo?” Jongin meraih handphone yang bergetar di saku celana dan menempelkan pada telinga kiri. “Kau tak perlu mengumumkan hasilnya padaku. Gadis itu sudah datang ke sini dan memberitauku. Aku turut berduka cita untukmu, kawan.”

“Aku salah sangka padanya, Jongin. Kupikir Soojung akan memelukku karena telah datang tepat pada waktunya, dengan bantuan yang bisa membuat hidupnya tak terlalu terpuruk,” sahut Sehun di seberang telepon dengan nada kecewa.

Jongin mendecakkan lidah. Ia mulai bisa mengenali kekeras-kepalaan gadis bernama Jung Soojung itu. Kemiskinan tidak cukup untuk membuat egonya menurun. Jongin menggeleng-gelengkan kepala dan menggaruk alisnya yang tak gatal.

“Dia memiliki ciri khas yang unik. Lalu bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Jongin.

“Entahlah. Aku berniat ingin menyerah padanya. Dia benar-benar sombong.”

Jongin terkekeh pelan.

“Syukurlah, kau telah sadar sekarang. Aku akan menanganinya.”

“Apa yang akan kau lakukan, Jongin?” Nada suara Sehun terdengar waspada.

“Membuat gadis itu membayar atas semua tingkah buruknya padamu,” tandas Jongin, misterius. Ia memutuskan sambungan telepon dan cepat, membuka aplikasi kontak untuk mengontak sebuah nomor lain.

Setelah terdengar nada sambung beberapa kali, sapaan berat dari seberang line telepon membuat Jongin tersenyum samar.

Yoboseyo? Jung seonsaengnim , aku memiliki penawaran untukmu. Kalau kau setuju, aku akan membebaskan seluruh hutangmu padaku,” ujar Jongin tanpa basa-basi.

“Benarkah ?” Suara Tuan Jung terdengar ragu sekaligus sedikit antusias di ujung telepon.

“Aku bisa menolongmu,” Jongin menyunggingkan senyum miring yang keren sekaligus berbahaya.

“Aku akan mengganggap seluruh hutangmu padaku lunas.”

“Apa yang kau inginkan? Katakan saja. Apa yang harus aku lakukan?”

“Berikan Soojung,” perintah Jongin.

“B-berikan apa?? Soojung? Putriku? Padamu?” Tuan Jung mengulang ucapan Jongin dengan terbata.

“Ya. Aku takkan berbaik hati sedikitpun mengulangi penawaranku ini,” kata Jongin.

“Dasar manusia kejam! Aku tak perlu berpikir dua kali tentang itu. Aku tak akan memberikan Soojung padamu. Aku tak akan memberikan putriku untuk kau jadikan budakmu!”

Jongin menaikkan satu alis. “Budak?” Jongin tertawa dingin.

 “Senang sekali masih ada orang yang beranggapan aku bisa melakukan hal seprimitif itu. Maksudku adalah biarkan Soojung menikah denganku.”

“Oh…”

“Pikirkan itu, seonsaengnim .” Jongin memperingatkan sebelum memutuskan line telepon.

Tuan Jung termenung di kursi. Memikirkan penawaran yang diberikan Jongin tadi.

Menikah?

Itu terdengar begitu gampang dan mudah. Tapi ia tau Soojung tak akan menerimanya. Tuan Jung bukanlah seorang ayah yang baik. Selama dua puluh satu taun usia Soojung, tak pernah ia berada dekat dengan Soojung. Ia tak pernah dengan sengaja melakukannya. Tapi ia sudah mengambil jarak dari putrinya itu dan tak tau bagaimana cara memperbaikinya. Sekarang Tuan Jung harus memberikan Soojung pada orang yang nyaris tak pernah dikenalnya. Menikah dengan orang yang sudah pasti tak dicintai gadis itu.

Sial,

Tuan Jung memang lelaki brengsek. Tak ada kepuasan yang diperolehnya dari apa yang dilakukannya. Inilah sekarang akibat dari dosa-dosanya selama ini, ia terancam kehilangan semuanya untuk membayar kekalahannya. Kecuali jika ia mau melakukan satu hal.

Menikahkan Soojung dengan Jongin.

Kalau saja tak sedang dalam posisinya sekarang, sebenarnya Jongin adalah seorang calon menantu yang potensial. Seandainya pemuda tampan itu dan Soojung sama-sama saling mencintai. Tapi sekarang? Ia akan menyerahkan Soojung ke tangan seorang pria untuk ditukar dengan rumah dan hartanya…

Itu tentu sangat sulit. Entah dengan alasan apapun, Soojung, putri semata wayangnya, tak pernah bisa ditukar atau dibeli oleh apapun.
Apalagi Soojung sangat membenci Jongin. Gadis itu pasti akan menolak mentah-mentah. Apa tawaran ini tak akan membuka sebuah luka lama? Mengulang tragedi yang berakhir dengan rasa sakit yang tak kunjung sembuh?

***

“Bagaimana mungkin Ayah berniat menjualku?” Pertanyaan Soojung itu membuat wajah Tuan Jung seolah tertampar. Sesungguhnya ia tidak tega mengatakan semua ini pada Soojung. Tapi keadaan yang mendesak yang membuat mereka benar-benar sudah berada di ujung jalan buntu, harus segera mengambil keputusan yang saat ini bisa menjadi satu-satunya penolong.

“Bukan begitu, Soojung,” lirih Tuan Jung lemah, tak punya kekuatan membalas tatapan anaknya. Tuan Jung sangat merasa malu pada Joohyun, ibu Soojung—mendiang istrinya. Bagaimana perasaan Joohyun seandainya melihat perbuatan dirinya saat ini? Menyerahkan putri semata wayang mereka
demi menebus hutang judi?

“Lalu bagaimana?!” Suara Soojung meninggi.

Kekesalannya akhir-akhir ini membuat Soojung lupa akan segala tata krama dan kesopanan.

“Aku sudah seringkali bilang pada Ayah agar berhenti berjudi. Tapi Ayah tak pernah mengindahkan kata-kataku. Dan sekarang, setelah beberapa hari Ayah tak pulang, tiba-tiba saja, Ayah muncul dan mengabarkan kebangkrutan keluarga kita. Ayah membuat hidup kita melarat dan tidak punya apapun!”

“Soojungie….”

“Belum cukup dengan itu, sekarang tega-teganya Ayah mengorbankan aku untuk menebus semua kekalahan Ayah . Aku harus menikah dengan orang yang sangat kubenci. Tidak, Ayah. Aku tidak mau. Kenapa tidak Ayah saja yang menikah dengan Kim Jongin sialan itu?” tolak Soojung.

“Tapi kita tidak punya pilihan lain, Soojung,” bujuk Tuan Jung.

“Jadi, aku harus mengorbankan hidupku? Ayah ingat kan aku masih dua puluh satu? Aku masih muda. Aku masih ingin menikmati hidupku. Aku belum mau menikah, punya anak dan menjadi ibu rumah tangga yang membosankan. Aku tidak bisa!” Soojung mengibaskan tangannya gusar.

Tuan Jung memukulkan kepalan tangannya ke meja. Merasa kesal atas ketidakberdayaannya melindungi keutuhan keluarganya.

“Setidaknya berpikirlah, Soojung. Kau tak pernah hidup dalam kemiskinan. Kau terbiasa menghabiskan uang jutaan won dalam waktu singkat. Bagaimana mungkin kau akan bisa bertahan nanti?”

Soojung meremas jari-jarinya. “Apa aku salah karena tak pernah hidup dalam kemiskinan? Aku berhak untuk menghabiskan uang sakuku semauku. Menghabiskan uang jutaan won yang masuk ke rekeningku. Dan sekarang, Ayah menghancurkan semuanya. Ayah menjerumuskan aku dalam masalah ini. Ini semua salah Ayah. Pokoknya aku tak mau tau. Aku tak mau hidup melarat. Tapi aku juga tak mau dinikahkan. Apalagi dengan lelaki brengsek seperti Kim Jongin.” Dengan murka, Soojung menghambur pergi dari ruang makan. Membiarkan Tuan Jung terpaku dalam kepedihan dan kebingungannya.

TO BE CONTINUED…

 

 

 

A/N: haiiiii. Aku balik bawain ff chapter. Sekali lagi, ini bukan ff aku. Ini ff temen aku kak Yona. Aku udah minta izin sama dia buat ngepost ff nya dan semua main cast nya aku ganti jadi kaistal. Aku juga edit kata-kata yang menurut aku kurang pas. Semoga kalian bisa nikmatin ff nya ya. Jangan lupa hargain aku dan kak yona. Tinggalin komentar kalian supaya aku bisa ngerevisi apa yang perlu di revisi. Thank uuuuuu.

3 thoughts on “Found You (Chapter 1)”

  1. Omooooooo, sangat suka sama ceritanya, terlebih perannya jongin sama soojung, karakternya juga pas bgt, suka suka suka :))), ditunggu segera kelanjutannya yaaaaaaaa

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s