[Oneshot] Dumb Dumb

Dumb Dumb

Title: Dumb Dumb

Scriptwriter: N.H.A

Main Cast: Yura Girls Day, Chanyeol EXO

Support Cast: Minhyuk CNBLue, L Infinite, Baekhyun EXO, Amber f(x), Soyou Sistar, Hani EXID, Jaejin FT. Island

Genre: General, Romance, High School

Duration: 5.888 words (Oneshot)

Rating: General

Poster Credit for LitteRabbit@Indo FF Arts

Myungsoo tahu persis tidak ada yang namanya hubungan persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Pasti salah satu dari mereka merasakan perasaan lain di atas persahabatan mereka. Dan Myungsoo yakin dengan kebodohan dan ketidakpekaan Chanyeol dan Yura, dia harus maju untuk menyadarkan mereka.

***

Seorang gadis berlari dengan terburu-buru menyusuri lorong. Badannya dengan lincah melewati setiap orang yang ada di sana. Tak jarang dia menabrak diantaranya dan membuatnya harus menunduk meminta maaf. Wajahnya mengukir senyum ketika akhirnya dia tiba di kelas paling ujung dan melangkah masuk.

“Chanyeol!” Gadis itu berjalan menuju tengah-tengah kelas di mana satu-satunya orang di ruangan itu tertidur. Tak ada gerakan berarti dari tubuh di hadapannya. Gadis itu mendengus kesal lalu mendorong orang di hadapannya dengan keras sambil memanggil namanya lagi. “Park Chanyeol bangun!”

Tubuh Chanyeol terdorong dan jatuh ke lantai. Chanyeol membuka matanya terkejut lalu meringis kesakitan. Kebiasaan sadis gadis itu memang tidak pernah berubah.

Chanyeol berpaling pada gadis di hadapannya dan memelototinya marah. “Apa-apaan kau Yura! Tidak bisa kah kau tidak menggangguku?!”

 “Makanya jangan tidur di sekolah!” cibir Yura kesal.

Chanyeol berdiri sambil mengelus bagian punggungnya. “Jadi, ada apa kau kemari?” tanyanya lalu duduk kembali di kursinya. Yura tidak mungkin membangunkannya sedemikian rupa jika Yura tidak memiliki maksud lain.

Dan benar saja, sedetik kemudian wajah Yura kembali cerah dan menatapnya dengan pandangan penuh permohonan lalu meraih ke dua tangannya ke dalam genggaman.

“Oh, Chanyeol aku butuh bantuanmu!”

“Ada konser CNBlue malam ini. Karena aku adalah teman yang sangat sangat sangat baik, aku mengajakmu, Park Chanyeol, untuk menonton bersamaku malam ini.”

Chanyeol memutar ke dua bola matanya lelah. Konser CNBlue? Lagi? “Lalu aku harus ikut dan bilang pada Ibumu kalau kita berdua belajar bersama di rumah Myungsoo, begitu?”

Mata Yura membesar, menatapnya takjub. “Kau memang sahabat terbaikku, Chanyeol. Terimakasih.” Gadis itu tersenyum semakin lebar lalu merogoh sakunya mencari tiket  yang baru saja dibelinya setengah jam yang lalu.

Chanyeol menghela napas, “Yura.”

“Tunggu sebentar Chanyeol, aku kira tadi aku menaruhnya di saku rok. Sebentar ya.” Gadis itu kembali merogoh sakunya dan tidak memperhatikan panggilan Chanyeol yang ke dua kalinya.

Chanyeol kembali menghela napas dan meraih tangan Yura agar menghentikan pencariannya.

“Aku tidak bisa ikut,” ucapnya sambil menatap Yura lekat-lekat. Samar-samar ada nada menyesal dari suaranya.

Yura terdiam. Matanya membesar tidak percaya. “Park Chanyeol… apa kau serius?”

Chanyeol mengangguk tegas. “Aku tidak bisa ikut, Yura. Maafkan aku.”

Gadis itu berkedip bingung lalu sedetik kemudian dia menatap Chanyeol dengan pandangan biasa. Walapun Chanyeol masih dapat mengenali tatapan kesedihan samar dari matanya.

“Oh, tidak apa-apa Chanyeol. Aku… aku bisa mengajak Myungsoo pergi. Ku pikir dia tidak ada acara nanti malam,” ucap Yura lalu bangkit.

“Tidak apa-apa, kan?” tanya Chanyeol tidak yakin.

Yura mengangguk lemah lalu berjalan menuju pintu kelas dan menghilang di baliknya.

“Maaf Yura…”

***

Sebenarnya itu bukan pilihannya untuk menolak permintaan Yura tadi. Tapi dia mulai muak dengan semua obsesi Yura terhadap CNBlue. Atau lebih tepatnya kakak kelas mereka Kang Minhyuk, sang drummer.

Semua itu dimulai sejak ferstival sekolah waktu lalu. Saat pertamakalinya Kang Minhyuk bermain drum dengan band kelasnya. Yura, Chanyeol, dan Myungsoo yang waktu itu sedang bebas tugas, berkeliling melihat-lihat dan ikut menonton panggung di lapangan sekolah. Lalu tiba-tiba saja Yura ikut berteriak girang saat drummer itu bernyanyi.

“Chanyeol. Chanyeol. Kau lihat drummer itu? Dia hebat bukan, bisa bernyanyi sambil bermain drum. Suaranya bagus pula.” Yura berdiri di sebelahnya sambil terus menatap Kang Minhyuk yang bermain di atas panggung.

Chanyeol mendengus kesal. “Kalau cuma bernyanyi, aku juga bisa.”

Yura berpaling menatapnya tidak setuju. “Kalau Rap bisa dianggap bernyanyi aku baru setuju denganmu. Tapi suaramu itu aneh sekali kalau kau bernyanyi, jadi itu tidak bisa dianggap sama Park Chanyeol,” kata Yura tegas.

Dia kesal setengah mati. Pada Yura dan Kang Minhyuk. Mana ada orang yang senang dibanding-bandingkan seperti itu. Apa lagi ketika orang yang dibandingkan denganmu adalah orang yang baru pertamakali dilihat.

Lalu hal lain bermula. Hampir semua orang yang Chanyeol kenal berkata persahabatan antara laki-laki dengan perempuan adalah kebohongan. Selalu ada cinta dari salah satunya dalam persahabatan seperti itu. Bahkan Myungsoo pun berkata seperti itu ketika mendengar Chanyeol dan Yura yang bersahabat selama 7 tahun lamanya. Dulu Chanyeol akan berkata bahwa itu benar, tak ada hubungan spesial apapun atara dirinya dengan Yura. Tapi kini,  mungkin dia akan menjawab lain.

Enam bulan Chanyeol diganggu dengan ocehan Yura tentang Kang Minhyuk sang senior. Senior Minhyuk ini lah, Senior Minhyuk itu lah, dan blablabla. Chanyeol muak dengan kata-kata itu, dia muak dengan semua aktiftas CNBlue-band-nya- yang dihafal Yura di luar kepala lebih dari Yura menghafal rumus matematika.

Dia kesal dengan Yura. Dan perasaan lain menyusulnya. Iri, marah, dan degup jantung yang menjadi tidak beraturan saat mereka berdekatan atau saat Yura tersenyum dan memandangnya. Kombinasi semua itu hampir membuatnya gila. Tidak jika saja watu itu Myungsoo tidak menyadarinya.

“Kau menyukai Yura bukan?” Myungsoo menyilangkan tangannya di dada dan menatap Chanyeol dengan seringai jahil.

Chanyeol balas menatap bingung. “Apa maksudmu?”

“Kau tidak bisa membohongiku Park Chanyeol. Aku bisa melihatnya,” ucap Myungsoo masih dengan seringai jahilnya.

Chanyeol mendengus pelan lalu tertawa. “Kau lucu Myungsoo. Lucu sekali.”

Myungsoo menggeleng pelan lalu menepuk bahu Chanyeol. “Aku kasihan padamu Chanyeol-a. Sampai kapan kau akan menyangkalnya? Kau laki-laki paling bodoh yang pernah aku tahu.”

“Sudahlah Myungsoo, lebih baik kita pulang saja. Yura sudah menunggu di bawah.” Chanyeol menyampirkan tasnya ke bahu lalu berjalan mendahului Myungsoo menuju lantai dasar.

Lalu kini, akhirnya dia bisa menolak ajakan Yura untuk menonton konser CNBlue nanti malam. Meskipun Chanyeol sedikit menyesal karena membuat Yura bingung seperti tadi. Tapi itu lebih baik dari pada harus mendengarkan ocehan Yura tentang Kang Minhyuk semalaman penuh.

***

Yura menatap ke depan dengan pandangan kosong. Semua pikirannya kembali ke siang tadi, saat dia mengajak Chanyeol untuk datang ke konser CNBlue. Chanyeol menolak ajakannya. Chanyeol, sahabatnya, baru saja menolak permintaannya! MENOLAK! DIA MENOLAK PERMINTAANNYA! M.E.N.O.L.A.K!

Apa kau bisa mempercayai itu? Itu adalah yang pertama kali baginya. Ditolak oleh Chanyeol seperti itu. Meskipun dia sama sekali tidak memaksa tentang hal itu tetapi kini itu cukup mengganggunya.

“Yura! Kim Yura! Kim Ah-Young!”

Yura menoleh mendengar nama aslinya. Di sebelahnya Amber menatapnya bingung. “Kau tidak mendengarkan perkataanku sejak tadi?” selidik Amber.

Yura menyegir lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Maafkan aku Amber-a. Aku kurang konsentrasi tadi.”

Amber mendengus pelan. “Hei, konser ini ternyata tidak terlalu buruk. Lagu mereka enak-enak.”

“Ya, tentu saja,” ucap Yura dengan bangga. “Mereka tidak pernah mengecewakan penggemarnya dengan lagu-lagunya. Lagu yang sedang dimainkan sekarang adalah lagu kesukaan Chanyeol.”

“Ah… Kenapa kau tidak menonton ini dengan Chanyeol saja?” kata Amber dengan nada lalu. Yura memandanginya tanpa menjawab. Dia menjadi bingung tiap kali pertanyaan tentang Chanyeol yang tidak mau datang ke konser dengannya memasuki kepalanya.

“Hei, mereka sudah selesai. Ayo kita ke sana!” Amber meraih tangan Yura maju. Tetapi Yura diam saja dan memandanginya dengan wajah kebingungan. “Kau mau tanda tangan mereka untuk albummu bukan?” tanyanya bingung.

“Ah… ayo kita ke sana.”

“Dasar kau aneh Yura,” gumam Amber pelan.

“Kau bilang apa Amber?”

“Tidak ada.”

Mereka berdua berjalan melewati orang-orang menuju belakang panggung. Beruntung yang menjaga pintu belakang panggung adalah Sungyeol salah satu senior mereka yang mereka kenal. Sungyeol tersenyum saat mereka menghapirinya.

“Hai, Amber, Yura. Kalian ikut menonton konser juga rupanya.”

Yura tersenyum kecil sambil pura-pura mendorong Sungyeol. “Bukankah kau yang menjualkan tiketnya padaku?”

Sungyeol tersenyum semakin lebar lalu tertawa pelan. “Kau benar. Aku hanya bercanda. Kalian mau ke dalam bukan? Mau meminta tanda tangan?”

Yura dan Amber tertawa pelan lalu Yura mengeluarkan album miliknya dari dalam tas. “Kau sangat mengerti kami, senior. Bisa antarkan kami?”

“Ayo!”

Pintu terbuka dan menghadiahkan mereka ruangan luas dengan dua meja rias berjajar, sebuah lemari besar, dan satu set soffa empuk di tengah ruangan. Semua anggota CNBlue sedang duduk di sana sambil melakukan halnya masing-masing. Yonghwa sang vokalis tersenyum saat Sungyeol berjalan masuk.

“Kerja bagus Sungyeol-a, berkat dirimu konser malam ini sold out.” Yonghwa berdiri dan menjabat tangan Sungyeol kemudian ke duanya saling menghantamkan bahunya masing-masing. Salaman khas laki-laki. “Dan siapa laki-laki dan gadis yang kau bawa ini?”

“Aku perempuan.” Amber bekata dengan nada dingin. Bukan hal yang aneh jika ini terjadi, tetapi dia sangat tidak suka tentang ini.

Yonghwa maju selangkah dan menjabat tangan Amber. “Ups, maafkan aku. Mataku kurang baik,” katanya seraya tersenyum.

“Temanku ingin meminta tanda tangan untuk albumnya. Bisa kau tanda tangani sekarang? Karena ini sudah malam dan kami harus pulang ke rumah,” kata Amber lalu menyerahkan album milik Yura ke tangan Yonghwa.

“Hm… tunggu sebentar kalau begitu.”

“Kalian pulang naik apa?” Sungyeol duduk di bangku di depan Amber dan Yura. “Bukannya mau macam-macam. Kalian berdua perempuan dan sepertinya sekarang sudah tidak ada bus yang beroperasi. Jadi, kalian pulang naik apa?”

“Taksi mungkin,” Yura menjawab tak yakin.

Sungyeol menatap ke dua gadis di hadapannya bergantian. “Taksi tidak aman. Kalau Amber mungkin aku bisa mengantarnya. Tapi kau? Aku rasa rumah kita terlalu jauh untuk di tempuh, lagi pula jalannya berlawanan arah.”

“Ya, mungkin kau benar.”

“Tunggu sebentar.” Sungyeol berbalik lalu berteriak, “Minhyuk! Kau bawa motor? Bisa kau antarkan Yura pulang?”

Mata Yura langsung membesar ketika Sungyeol berjalan ke seberang ruangan. OH MY GOD! Apa dia baru saja bertanya pada Minhyuk untuk mengantarnya pulang? Apakah ini benar-benar terjadi? Jangan pernah bilang ini hanya mimpi.

“Amber…”

“Ya?”

“Cubit aku,” Yura berkata lirih. Amber menaikkan ke dua alisnya bingung. “Sudah cubit saja,” katanya lagi.

Lalu Amber melakukannya. Dengan keras. Rasa kebas disusul sengatan di lengan kanannya terasa. Pedih dan menyakitkan. Yura meringis pelan lalu memelototi Amber kesal. “Apa?” tanya Amber. “Kau yang memintanya.”

“Nah Yura, kau akan diantar Minhyuk pulang. Kebetulan rumah kalian berdekatan dan satu arah.” Sungyeol berjalan menghampirinya dan tersenyum puas.

Yura tersenyum lebar lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Terimakasih! Kau memang senior nomor satu!”

Sungyeol tertawa lalu menyerahkan album milik Yura. “Ayo kita ke parkiran saja. Minhyuk akan menemui kita di sana.”

“Oke.”

***

Sepuluh menit kemudian Minhyuk muncul di parkiran dengan dua helm di tangan. “Maaf lama, tadi aku meminjam helm dulu ke Jonghyun Hyeong.”

“Ah… oke, kalau begitu aku duluan Yura.” Sungyeol menyalakan motornya diikuti Amber yang naik di belakangnya. Amber melambaikan tangannya. “Bye Yura. Sampai jumpa senin!”

Bye!” balas Yura.

Minhyuk menyerahkan satu helm-nya ke tangan Yura lalu menatapnya dengan seksama. “Oh… kau yang bernama Yura. Pantas saja Sungyeol memintaku untuk mengantarmu pulang. Ternyata gadis cantik.”

Yura tersipu lalu menutup wajahnya dengan menggunakan helm. “Senior bisa saja. Aku tidak secantik itu.”

Minhyuk kemudian naik atas motornya dan menyalakan mesinnya. “Asal kau tahu saja, Sungyeol tak akan melakukan semua ini jika kau hanya cantik. Jadi, kau benar-benar cantik,” katanya memberi penekanan pada kata ‘hanya’ dan ‘benar-benar’. Wajah Yura kembali memerah karenanya.

Dia kemudian naik ke atas boncengan motor Minhyuk dan menggenggam jaket parasut Minhyuk sebagai pegangannya. “Lingkarkan saja tanganmu di pinggangku. Aku khawatir kau akan terjatuh nanti,” kata Minhyuk dengan sedikit nada cemas. Jadi mau tidak mau Yura melingkarkan tangannya di sana. “Oke, kita berangkat!”

Baru beberapa menit saja mereka bersama, sudah tiga kali Yura dibuat tersipu karenanya. Yura memang tidak salah menyukai orang ini. Sudah baik, sopan, pintar bermain musik, suaranya pun bagus ketika bernyanyi. Apa lagi yang kurang? Semua kriteria yang dicarinya ada pada Minhyuk.

“Yura… kau biasa datang ke konser bukan? Bersama pemuda tinggi itu?” tanya Minhyuk.

Yura mengangguk sekilas. “Ya, aku biasa datang ke konser dengan Chanyeol. Senior memperhatikan rupanya.”

Minhyuk tertawa kecil. “Aku tahu karena kalian berdua selalu berdiri di jarak pandangku. Jadi aku pasti melihat mu. Dia pacarmu?”

Yura tertawa. “Chanyeol? Pacarku? Bukan, dia bukan pacarku. Dia sahabatku. Dan aku memang datang ke konser untuk melihat senior di sana.”

“Oh…” jawab Minhyuk maklum. Lalu dia bertanya macam-macam dan membuat ke duanya tertawa sepanjang perjalanan. Motor berbelok memasuki jalan menuju rumah. Tinggal satu belokan ke kiri dan mereka akan sampai disana.

Ketika motor berhenti dan Yura turun dari boncengan, Minhyuk tersenyum dan berkata, “Sudah ku kira kau gadis yang menyenangkan. Terimakasih sudah datang ke konser.”

“Sama-sama senior. Aku sangat menikmati konser tadi. Kau keren sekali di sana.”

Minhyuk tertawa. “Lebih baik kau masuk sekarang.”

“Baiklah. Dah senior. Sampai jumpa lagi. Terimakasih sudah mengantarku pulang.” Yura melambaikan tangannya lalu membuka pintu gerbang rumahnya dan masuk ke dalam dengan perasaan riang.

***

Yura bersenandung riang dan masuk ke dalam kelasnya diikuti sapaan pagi. “Pagi semuanya!”

Beberapa orang menjawab singkat, lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Yura berjalan menuju sebuah bangku. Dia menaruh tasnya di gantungan meja lalu berbalik dan menatap kepala Chanyeol yang berada di atas meja. Pagi-pagi tapi dia sudah tidur lagi.

Dia menggoncang bahu itu perlahan. “Park Chanyeol bangun! Ini masih pagi. Bukan saatnya tidur!”

“Hmm…” Chanyeol mengerang pelan, memutar posisi kepalanya, lalu kembali tertidur.

“Park Chanyeol bangun! Ada hal yang harus kau tahu tentang konser kemarin.”

“Apa?” Chanyeol memutar posisi kepalanya malas.

Yura  ikut merebahkan kepalanya di meja Chanyeol sehingga posisi mereka saling pertatapan. “Kau harus tahu. Kemarin aku diantar pulang oleh Senior Minhyuk! Bisa kau bayangkan itu? Itu adalah malam yang luar biasa!” kata Yura bersemangat.

“Oh.” Chanyeol memutar kembali kepalanya dan menutup bibirnya rapat-rapat.

Yura menceritakan seluruh kronologis malam itu tanpa mempedulikan raut Chanyeol yang semakin tidak suka. Chanyeol menghindari segala tatapan mata Yura. Dia marah. Marah pada dirinya sendiri dan marah pada orang yang bernama Kang Minhyuk. Jika saja dia tidak menolak kemarin mungkin Yura tidak akan diantarkan Minhyuk pulang ke rumah. Ah, ini sangat menjengkelkan.

Chanyeol bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas. “Ya, Park Chanyeol! Kau mau kemana? Aku belum selesai bercerita!” seru Yura jengah dan mengejar Chanyeol sampai pintu kelas.

“Aku mau bolos. Tidur dengan tenang di atap. Jangan ganggu aku,” kata Chanyeol dan terus melangkah menuju atap sekolah. Kalau lebih lama lagi dia mendengar ocehan Yura bisa-bisa dia marah tidak karuan. Dan dia tidak ingin itu terjadi.

Kakinya melangkah masuk ke dalam sebuah pintu dan langit terhampar luas di atasnya. Chanyeol berbelon ke kanan, memasuki kawasan paling tersembunyi di atap, tempat di mana dia biasanya tidur ketika bosan. Tetapi asap dari tempat yang dia tuju membuatnya membeku sesaat. Ada orang lain di sana.

“Yo Chanyeol!” Jaejin melambaikan tangannya begitu Chanyeol berbelok.

“Ah, Hyeong rupanya. Aku kira siapa,” kata Chanyeol lalu duduk di sebelah Jaejin dan memperhatikan kertas yang terbakar di hadapannya. Seperti biasa Jaejin di sini pasti membakar kertas, entah itu kertas ujiannya ataupun surat cinta dari penggemarnya.

“Kau bolos lagi?” tanya Jaejin lalu menginjak kertas yang terbakar sampai apinya mati.

“Hehehe… iya Hyeong, aku sedang bosan di kelas.”

Jaejin menyenggol bahu Chanyeol main-main. “Dasar kau ini, mau jadi apa dunia jika semua siswa yang ada akan bolos jika bosan.”

“Ah, Hyeong bisa saja. Tidak semua siswa seperti itu Hyeong, masih cukup banyak yang tinggal di kelas untuk merepotkan guru-guru,” ucap Chanyeol setengah bercanda. Lalu ke duanya tertawa.

Bel tanda pelajaran berbunyi dan Jaejin bangkit dari duduknya. “Aku ke kelas dulu. Terserah kau mau melakukan apa saja di sini. Aku pergi dulu.”

Chanyeol mengangkat kepalanya saat Jaejin meraih pintu atap. Tiba-tiba saja suatu ide menyusup ke dalam kepalanya. “Hyeong! Apa… apa kau punya kenalan yang bisa mengajarkanku bermain drum? Hyeong anak band, kan?”

Jaejin membuka pintu atap dan memandang Chanyeol bingung. “Ya, Hong-gi Hyeong bisa mengajarkan drum. Tapi buat apa kau tiba-tiba mau belajar bermain drum?”

“Ah, bisa tolong Hyeong tanyakan? Kalau bisa secepatnya,” kata Chanyeol dengan terburu-buru, tidak menjawab semua pertanyaan Jaejin.

Jaejin mengangkat ke dua bahunya. “Bisa ku atur. Nanti aku menghubungimu lagi,” katanya lalu menghilang di balik pintu.

Chanyeol tersenyum puas lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Tangannya memencet berbagai tombol lalu dirinya tersambung dengan telepon di seberang sana.

“Baekhyun? Aku butuh bantuanmu.”

***

Yura memandai Chanyeol yang pergi begitu saja di tengah cerita serunya. Bibirnya mengkerucut sebal, lalu dia berbalik dan duduk di bangkunya. Myungsoo yang baru saja datang menatap Yura dengan pandangan heran.

“Kau kenapa Yura?” tanya Myungsoo lalu duduk di bangkunya.

“Chanyeol membuatku kesal,” ucap Yura sebal. “Dia pergi begitu saja ketika aku masih bercerita. Ugh…”

Myungsoo mengeluarkan buku pelajarannya dari dalam tas dan memasukkannya ke kolong bawah mejanya. “Memangnya kau cerita apa sampai Chanyeol kabur seperti itu?”

“Oh!” mata Yura membesar menatap Myungsoo, “Seharusnya aku bercerita denganmu juga!” Lalu semua cerita tentang dia menonton konser dan diantar pulang oleh Minhyuk keluar dari bibirnya. Myungsoo tergelak hebat saat Yura mengakhiri ceritanya.

“Ya, Myungsoo! Kenapa kau tertawa? Tidak ada yang lucu dari ceritaku!” seru Yura kesal. “Kau sama saja dengan Chanyeol. Membuat mood-ku buruk saja.”

Myungsoo menghapus air mata dari sudut matanya. Benar-benar ke dua sahabatnya ini. Lucu sekali. “Kau lucu sekali Yura. Sama seperti Chanyeol. Orang-orang bodoh yang tidak peka,” ucapnya lalu kembali tertawa.

“Ish,” Yura memukul bahu Myungsoo kesal. “Apa maksudmu itu? Aku tidak lucu dan bodoh tahu!”

“Ya, kau bodoh Yura. Kau tidak tahu kan kalau Chanyeol kesal karena kau selama enam bulan ini bercerita tentang Kang Minhyuk setiap saat. Kau tidak memperhatikan itu bukan?”

Yura menggeleng yakin. “Tidak mungkin Chanyeol kesal karena hal kecil seperti itu. Kau bohong Myungsoo.”

“Aku tidak berbohong Yura. Tidak kah kau memperhatikan bagaimana responya ketika kau bercerita? Dia memalingkan muka dan hanya menjawab satu dua kata. Dia kesal,” ujar Myungsoo tak kalah yakin.

“Tidak Myungsoo, Chanyeol memang seperti itu,” bantah Yura lalu memalingkan pandanganya pada Guru Im yang baru saja masuk kedalam kelas.

“Lihat saja nanti. Semua perkataanku itu benar tahu,” ucap Myungsoo lalu mengeluarkan buku matematikanya dari bawah kolong meja.

***

Yura menyuap makanannya dengan antusiasme rendah. Semua ini gara-gara ucapan tak masuk akal Myungsoo pagi tadi. Dia ingin menyangkalnya keras-keras, tetapi ketika dia memikirkannya lagi, semua perkataan itu benar.

Chanyeol memang berubah akhir-akhir ini. Apalagi ketika Yura bercerita tentang Minhyuk pada Chanyeol. Dan setelah kejadian ditinggal Chanyeol tadi pagi, Yura semakin percaya dengan perkataan Myungsoo.

Sebenarnya Chanyeol marah padanya atau apa. Mengapa dia tidak berbicara saja langsung padanya seperti dulu. Dulu dia tidak seperti itu. Biasanya Chanyeol tidak pernah memendam perasaannya di depan Yura.

Tanpa sadar Yura menghela napasnya keras-keras. Soyou menoleh padanya heran. “Kau kenapa Yura? Sejak tadi kerjaanmu menghela napas saja.”

Yura menyengir canggung. “Hahaha… memangnya aku begitu sejak tadi?”

Hani memasukkan sepotong telur dadar ke dalam mulutnya. “Ya, memang seperti itu kau sejak tadi,” katanya di sela kunyahan.

“Ewh. Tutup mulutmu ketika kau sedang mengunyah.” Yura mengulurkan tangannya dan menutup mulut Hani sekilas. “Kau sama sekali tidak anggun Hani.”

“Biar saja,” ucah Hani tidak peduli, lalu melanjutkan makannya.

“Jadi kau memikirkan apa tadi? Pacarmu?” tanya Soyou melanjutkan.

Yura mengangkat bahunya tidak menahu. “Chanyeol bersikap aneh akhir-akhir ini.”

Mata Soyou dan Hani membulat tidak percaya. “Chanyeol pacarmu?!” seru ke duanya heboh.

Yura menutup ke dua telinganya dengan tangan lalu menatap ke duanya bingung. “Aku tidak bilang dia pacarku.”

“Oh…”

Tiba-tiba saja sekotak minuman dingin menghampiri pipi Yura dan membuatnya terlonjak kaget.

“Kalian membicarakan aku?” Chanyeol muncul di sebelah Yura dengan senyum jahilnya.

“Ya. Yura bilang kau pacarnya,” ucap Hani polos, membuat Yura mencubit lengan Hani gemas.

“Aku sudah bilang Chanyeol bukan pacarku.”

“Terserah apa katamu.” Soyou dan Hani melanjutkan makan siangnya. Menghiraukan dua orang bodoh di sebelah mereka.

Yura berpaling dan menatap Chanyeol. “Ada apa?”

“Hmm…” Chanyeol memutar bola matanya, berpura-pura sedang berpikir. Membuat Yura mendesah pelan karena mengingat semua tingkah Chanyeol, saat ini dia sedang menyampaikan berita buruk. “Aku tidak akan bisa mengantarmu pulang untuk seminggu kedepan,” katanya setelah beberapa saat.

“Park Chanyeol! Kau tahu aku tidak suka menaiki bus itu, lalu bagaimana aku bisa pulang?” ucap Yura merajuk.

“Kau akan diantar Myungsoo. Aku sudah bilang padanya dan ia berkata ya.”

Yura menghela napas lega. “Baiklah…”

“Kalau begitu aku pergi dulu. ByeBye Hani, Soyou.” Chanyeol berbalik dan berlari menuju Baekhyun yang sudah menunggunya di depan pintu kantin.

***

Sudah akhir minggu. Ini hari terakhir dia tidak diantar pulang oleh Chanyeol, Yura menyimpan dendam pada temannya satu itu. Bisa-bisanya dia merekomendasikan orang yang tidak pernah tepat waktu seperti Myungsso. Menyebalkan sekali. Tapi setidaknya ini hari terakhir. Tinggal sedikit lagi Yura, semangat!

Matanya melirik jam tangan untuk ke dua kalinya. Sudah setengah empat sore dan Myungsoo belum muncul juga. “Awas saja bocah itu…” Yura mendesis kesal.

Semenit kemudian Myungsoo muncul dari balik belokan. Yura mendesah panjang lalu meneriakkan semua isi hatinya. “Ya, Kim Myungsoo! Kau lama sekali!”

Myungsoo menghiraukan Yura dan langsung naik ke atas motornya. “Sorry Yura, aku tidak bisa mengantarmu pulang,” ujar Myungsoo datar lalu memacu motornya keluar dari sekolah, meninggalkan Yura di belakang.

Yura melongo menatap Myungsoo yang sudah pergi beberapa detik yang lalu. Kepalanya berdenyut pelan. Myungsoo benar-benar…

“Ya! Kim Myungsoo!” Yura berteriak kesal. Ingin sekali dia menyumpahi temannya itu, tapi tenaganya sudah habis karena menunggu Myungsoo cukup lama. “Anak itu benar-benar…”

Dia mendengus kesal kemudian berjalan keluar gerbang sekolah. Percuma tak ada siapapun yang bisa mengantarkannya lagi. Sia-sia saja usahanya. Menunggu tidak menghasilkan apapun. Menyebalkan.

Dengan enggan Yura berjalan menyusuri trotoar menuju halte bus yang dibencinya. Terkutuklah Park Chanyeol yang membuatnya menaiki bus. Yura mengecek jadwal datang bus lalu duduk di salah satu bangku di sana. “Menunggu lagi,” gumamnya pelan.

Entah sudah berapa lama dia menunggu di sana, sebuah sepeda motor merah familiar berhenti tepat di depannya dan membuatnya mendongak bingung. Sang pengendara motor membuka helm-nya dan tersenyum menatap Yura.

“Kau tidak pulang Yura?” tanya Minhyuk.

Yura tersenyum kecil lalu menggeleng. “Busnya belum datang.”

“Sudah sore,” Minhyuk mengecek jam tangannya, “Mau ku antar pulang?”

Sejenak Yura tersenyum girang, kemudian ekspresinya surut mengingat Chanyeol yang tidak akan suka hal ini. Tapi tunggu sebentar, mengapa dia harus memikirkan perasaan Chanyeol? Chanyeol boleh saja tidak suka dengan Minhyuk, tapi dia kan suka Minhyuk. Lagi pula Chanyeol harusnya berterimakasih Yura tidak akan pulang sendiri dengan bus. Ya, seharusnya Chanyeol baik-baik saja karena hal itu.

“Baiklah Senior. Lagi pula aku tidak suka pulang naik bus,” ucap Yura riang menyambut helm yang disodorkan Minhyuk. Kemudian dia naik ke belakang boncengan dan motor merah itu berlari meninggalkan halte bus.

***

Hari terakhir. Yura akan senang jika dia memberitahukan hal ini. Seminggu penuh Chanyeol belajar drum dari ahlinya (terimakasih untuk Jaejin Hyeong dan Hong-gi Hyeong) dan hari ini dia sudah merencanakan acara yang akan membuat Yura terkesan.

Chanyeol sudah menelepon Ibunya Yura sebelumnya, dan dia diizinkan untuk membawa Yura pulang agak malam. Dan sekarang yang harus dilakukannya adalah menjemput Yura di halte bus sesuai rencananya dengan Myungsoo.

Chanyeol menaiki motornya dan melaju menuju halte bus depan sekolah. “Yura pasti terkejut,” bisiknya girang.

Dari kejauhan dia dapat melihat Yura yang tertunduk lesu di halte bus. Diam-diam senyumnya mengembang. “Yu-… ra?” teriakannya tertahan ketika seseorang denga sepeda motor bewarna merah menghampiri Yura dan mengajaknya berbincang. “Siapa itu?”

Chanyeol menyipitkan matanya. Kalau dia tak salah lihat, itu adalah senior yang digilai Yura beberapa waktu ini. “Kang Minhyuk…” desis Chanyeol kesal. Lalu dilihatnya Yura berdiri dan naik ke atas boncengan, kemudian ke duanya pergi meninggalkan halte bus.

Kepala Chanyeol berdenyut pelan. Seluruh rencananya batal. Tak ada yang tersisa. Dengan kesal di raihnya ponsel dari saku lalu menelepon Baekhyun untuk membatalkan rencananya.

“Baek? Rencana batal. Bubarkan semuanya.”

Chanyeol mematikan ponselnya lalu memacu motornya pergi dengan kecepatan tinggi. Entah kemana jalan ini akan membawanya. Yang penting dia hanya ingin menjauh dari semua kejadian yang baru saja dilihatnya. Pergi dari kenyataan menyakitkan miliknya.

***

“Aku pulang…” Yura berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah lemah. Hal diluar sana yang baru saja terjadi membuat dirinya ciut dan membuatnya cepat cepat menghubungi Chanyeol untuk menceritakannya.

Ibu melongok keluar dari dapur dan menatap Yura bingung. “Loh, kok sudah pulang? Bukannya kamu mau pergi dengan Chanyeol?” tanyanya.

Ekspresi Yura berubah, dahinya berkerut bingung. “Chanyeol tidak mengajakku kemana-mana, Bu. Lagian sudah seminggu aku tidak bertemu dengannya.”

“Oh…” Ibu berbalik kembali ke dapur diikuti Yura, “Tadi Chanyeol telepon ke rumah, katanya kamu sama dia akan pulang malam.”

“Dia bilang begitu?”

“Yap.”

“Sebentar.” Yura berlari masuk ke dalam kamarnya lalu meraih ponselnya. Mencoba menghubingi ponsel Chanyeol. Setelah beberapa saat, Yura menghela napas pelan.

Sepertinya Chanyeol melihatnya di boncengan motor Minhyuk tadi. Dan sekarang Chanyeol marah dan mematikan ponselnya. Sepertinya dia harus menunggu beberapa saat dulu agar Chanyeol bisa meredakan amarahnya.

Sebenarnya Yura sama sekali tidak mengeti. Kemarahan Chanyeol yang tidak tahu ditunjukkan padanya atau siapapun mengganggunya. Mengapa sampai semarah itu Chanyeol? Apa yang membuatmu terusik? Semua itu terus berputar di kepalanya dan membuatnya bingung.

Lelah dengan semua pikirannya, Yura berbaring diam menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering heboh dengan nama Chanyeol tertera di layarnya. Buru-buru Yura mengangkatnya.

“Chanyeol?”

***

Yura mengusap lengannya kedinginan. Sepertinya bukan keputusan yang tepat berada di taman di malam hari dengan selembar kaus lengan pendek dan kadigan tipis membungkus tubuh. Akhirnya hanya membuatnya kedinginan tidak karuan.

Suara Chanyeol di telepon sore tadi membuatnya tidak bisa berpikir apa-apa. Yang dia ingat adalah bagaimana cara agar sampai secepatnya di taman setelah makan malam usai. Satu kalimat Chanyeol yang hanya menyuruhnya datang membuatnya sedikit khawatir.

Lima menit berlalu dan taman masih dalam keadaan yang sama. Sepi dengan sedikit pengunjung. Tentu saja ini sudah jam tujuh malam mana mungkin orang berkeliaran di taman. Angin berhembus cukup kuat menambah hawa dingin mengganggu untuk dirinya.

Chanyeol muncul di gerbang taman dan langsung berlari mendekat ketika melihat penampilan Yura yang sedikit kacau. Dilepasnya jaket miliknya dan langsung menyampirkannya ke bahu kurus milik Yura. “Kau kedinginan,” ucapnya khawatir.

Yura terkekeh dan menatap Chanyeol lekat-lekat. “Aku khawatir padamu, jadi aku cepat-cepat berlari ke sini sampai melupakan jaketku dari balik pintu,” kata Yura dengan suara sengau.

Chanyeol terkekeh pelan. “Salahku kalau begitu. Sebaiknya kita mencari tempat yang sedikit hangat, sepertinya sebentar lagi kau akan terkena flu,” ucapnya sambil menggiring Yura keluar dari taman. Langkahnya berhenti saat menyadari Yura membeku di tempat memegangi ujung kausnya.

“Ke rumahku saja Chanyeol, di sana hangat,” pinta Yura. Hidungnya mulai berair dan suhu tubuhnya mulai naik. Chanyeol benar, sebentar lagi dia terkena flu.

Chanyeol meraih tangan Yura dan menggosoknya pelan. “Sepertinya begitu. Ayo.”

***

Mereka berdua duduk di balik selimut di atas karpet hangat kamar Yura. Tak ada yang bicara sejak ke duanya sampai di rumah Yura dan duduk di kamar. Dua mug coklah hangat yang masih mengepul di hadapan ke duanya pun sama sekali tidak tersentuh.

Ini saatnya, batin keduanya.

“Yura…”

“Chanyeol…”

Mereka saling memanggil nama satu sama lainnya lalu tertawa pelan ketika menyadarinya.

“Kau lebih dulu Yura,” Chanyeol mempersilahkan.

Yura tersenyum lalu meraih gelasnya, “Lebih baik kau duluan,” katanya sambil menyesap pelan coklat hangat dari mugnya.

“Baiklah.”

Chanyeol berdeham pelan lalu menatap Yura tepat di ke dua matanya. “Yura, apa kau pernah berpikir tentang hubungan diantara kita?” tanyanya hati-hati.

Yura menggeleng pelan. “Tidak.”

Chanyeol tersenyum dan mendengus pelan. “Sudah ku duga.” Diraihnya mug biru miliknya lalu meneguk isinya gugup. Di sebelahnya Yura mulai menatapnya penasaran.

“Kau tahu, aku sering memikirkannya akhir-akhir ini,” Chanyeol melirik Yura, “Bagaimana hubungan ini bermula dan bagaimana hubungan ini akan berakhir. Aku sering memikirkannya akhir-akhir ini.”

‘Mungkin ini saatnya semua pertanyaan Yura tentang tingkahnya akhir-akhir ini terjawab,’ batin Chanyeol lalu melanjutkan perkataannya.

“Dan semua ini membuatku berpikir tentang perasaanku yang sebenarnya. Tentang bagaimana kau yang berubah dan diriku berubah. Bagaimana dengan tubuhmu yang terlihat lebih rapuh dan begitu cantik di saat yang bersamaan. Tentang bagaimana perasaanku berubah dan tak sama lagi. Tentang… tentang…” Chanyeol memejamkan matanya dan menarik napas panjang, “Tentang bagaimana aku menyukaimu di saat kau bahkan lebih menyukai orang lain.”

Yura tertegun sesaat. ‘Apa yang tadi di katakan Chanyeol? Dia menyukaiku? Aku tidak salah dengar, kan?’

Ditaruhnya mug miliknya ke atas meja dan menatap Chanyeol lekat-lekat. “Chanyeol…”

Sekali lagi Chanyeol menarik napasnya lalu menatap Yura dengan senyum lebar.

“Yura, aku menyukaimu.”

***

Dua minggu berlalu. Dan selama dua minggu Chanyeol tidak masuk sekolah tanpa kabar. Ponselnya mati dan tidak bisa dihubungi. Seluruh temannya di sekolah sama sekali tidak tahu di mana dia berada. Para guru juga hanya menggeleng tidak menahu saat ditanyai.

Setelah malam itu di kamar Yura dengan semua pernyataannya, Chanyeol menghilang.

“Kau belum bisa menghubungi Chanyeol?” tanya Baekhyun sambil menggigit roti.

Yura menggeleng lesu. “Ponselnya belum juga aktif, dan orang rumahnya tidak ada yang tahu dia berada di mana.”

Baekhyun mengangguk maklum. Sebagai salah satu sahabat dekat Chanyeol, dirinya sama sekali tidak tahu menahu tentang hilangnya Chanyeol. Yang dia tahu semua rencana di batalkan dan sejak saat itu wuzzz… Chanyeol menghilang tanpa kabar. Bahkan sekedar menelepon untuk menanyakan latihan band mereka.

“Sabarlah, mungkin dia hanya pergi sebentar,” kata Baekhyun menatap Yura simpati.

Yura mengangguk lemah. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Ini pertama kalinya Chanyeol menghilang seperti ini. Dan ini membuat Yura kalang-kabut karenanya. Setelah semua hal yang di katakan Chanyeol, Yura tidak bisa sekedar khawatir. Dia sangat khawatir.

***

“Chan? Kau dimana?” kata pemuda itu sedikit berteriak. Tangannya yang bebas terlihat memijat pelipisnya capai. Keningnya berkerut lalu dia menggelengkan kepalanya tak habis pikir. “Baiklah. Ku tunggu kau di studio,” kata pemuda itu lalu mematikan teleponnya.

***

Dua hari kemudian.

Yura menaiki tangga menuju kelasnya lambat-lambat. Otaknya memutar kembali kejadian semalam.

Lagu Hello Bubble milik grup band miliknya berdering. Yura meraih ponselnya dan wajahnya langsung menunjukkan ekspresi terkejut. Dengan cepat diangkatnya telepon itu.

“Chanyeol?”

“…”

“Chanyeol? Kau kemana saja selama ini? Kenapa menghilang?”

“…”

“Chan …” Tut…tuut… tuuttt…teleponnya dimatikan, “… yeol?”

Yura menatap ponselnya heran. “Apa lagi sekarang?” bisiknya.

Setelah menghilang dua minggu dia menelepon tanpa mengatakan apa-apa? Tidak penting sekali. Chanyeol kau sedang apa sebenarnya?

Yura menatap pintu kelasnya yang tertutup dalam diam. Chanyeol yang seperti tidak ingin ditemukan sama sekali dan Chanyeol yang mengatakan suka pada dirinya adalah orang baru yang dikenal Yura. Dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.

Sekarang, Yura bingung luar biasa. Kemungkinan besar Chanyeol akan muncul di sekolah hari ini, dan Yura bingung apa yang harus dilakukannya saat melihat Chanyeol nanti? Tidak mungkin dia bisa bersikap biasa setelah malam itu.

“Kau mau berdiri terus di situ?” Myungsoo berdiri di depan Yura dan membuka pintu kelas.

“Kemarin Chanyeol meneleponku.”

Myungsoo berbalik dan menatap Yura. “Lalu?”

“Dia tidak mengatakan apa-apa,” Yura mengangkat kepalanya, “Apa kau tahu apa maksudnya?”

Myungsoo mendengus pelan. “Itu artinya dia baik-baik saja. Tidak usah khawatir.”

Yura berkerut menatap Myungsoo. Dia masih tidak mengerti.

“Bersikaplah seperti dirimu yang biasa Yura. Aku yakin semuanya baik-baik saja dan akan baik-baik saja.”

Yura mengangguk kecil. “Ya…” semoga.

***

Chanyeol mengangguk ringan lalu keluar dari mobil. Satu persatu teman-temannya mengeluarkan semua muatan mobil dan membawanya ke tengah lapangan. Chanyeol bertepuk tangan ringan lalu menyeringai senang.

“Show Time!” ucapnya seraya berlari mengejar teman-temannya.

***

Menjelang bel pergantian pelajaran jam ke 6. Lapangan mendadak berisik oleh sekelompok anak laki-laki yang bermain musik keras-keras. Segera, seluruh siswa melongok keluar jendela dan berteriak heboh saat melihat Baekhyun berdiri di tengah lapangan bernyanyi bersama bandnya. Tapi yang membuat semua anak perempuan berteriak heboh adalah posisi drum yang seharusnya ditempati Kai sekarang diisi Chanyeol.

“Yura. Yura. Yura kemari!” Hani berteriak heboh sambil menarik Yura bangkit dari tempat duduknya.

Yura berjalan lesu. Guru baru saja keluar dari kelas dan otaknya masih berasap akibat ujian matematika tadi. Setelah sekian penderitaannya, mau apa Hani menyeretnya ke jendela?

Suara berisik di luar jendela mau tidak mau membuat Yura mengangkat kepalanya dan menatap ke kerumunan di luar. Matanya melebar kaget.

“Chanyeol?” Yura menoleh pada Hani, “Itu Chanyeol?”

Hani mengangguk kuat-kuat membenarkan. “Cepat ke bawah!”

 Yura berlari keluar kelas, menubruk Guru Im, cepat-cepat dia menunduk meminta maaf dan melanjutkan langkahnya menuju lapangan. Kau berbuat apa lagi Park Chanyeol?

***

“Chanyeol!”

Kerumunan di sekeliling lapangan mendadak senyap. Beberapa orang bergeser memberikan jalan agar Yura bisa melaluinya. Pandangannya tertuju pada Chanyeol yang maju menuju ujung panggung dan meraih mikrofon.

“Hai, Yura. Apa kabar?” dengan riang Chanyeol menatap Yura, “Maaf karena menghilang beberapa hari ini. Banyak hal yang harus aku urus.”

Yura menghembuskan napas lelah. “Kau mau berbuat apa lagi Chanyeol? Jangan berbuat hal bodoh.”

Chanyeol menggeleng. “Tidak ini bukan hal bodoh. Yang aku butuhkan sekarang adalah kau  berdiri di situ dan mendengarkan. Oke?”

Yura menarik napas. “Baiklah.”

Chanyeol tersenyum lalu berbalik pada Kai, “Kai kembali ke posisimu.” Kai mengacungkan jempolnya sambil tersenyum lalu menyerahkan gitar ke Chanyeol dan duduk di balik drum kesayangannya.

“Oke Yura, lagu ini untukmu,” kata Chanyeol memandang Yura tepat di matanya. Lalu lagu Show You milik Girls Day melantun keluar dari bibirnya.

When the music flows in my ears

I think of you every day

Your breath and voice

Can be drawn out in my head

If I add you to to my life

It’s like a perfect melody to a song

There’s nothing like it in the world

I want your love

Let me show you

I love you, love you

I will always be a shadow by your side

I gain strength and you gain strength

Your voice lingers in my ear

Let me show you

I love you, love you

Even after time passes, it’s only you

Words that fill up my mouth

I do – all of my heart

Show you, all my love

Let me show you

I love you so much

Because you’re here

It’s the reason I live

I love you, I see you

Working on your body

I’m all healed

You always break my senses

Without you, I’m someone who walks on ice

Let me show you

I love you so much

Because you’re here

It’s the reason I live

More than anyone in the world

It’s only you for me

Even if I die, you can’t be replaced

I wish you could protect me at night

And be by my side when I wake up in the morning

Lagu memasuki reff terakhirnya, dan Yura masih bertahan di posisinya. Pandangannya tidak lepas dari Chanyeol yang bernyanyi bersama ke dua temannya. Suara Chanyeol yang berat dan sedikit kaku membuat lagu yang dibawakan terkesan sedikit aneh. Tapi tetap saja itu tidak menutupi kesan tulus yang ingin di sampaikan Chanyeol.

Lagu berakhir. Semua orang yang menyaksikan bersorak dan bertepuk tangan. Semua orang meneriakkan nama Chanyeol dan Yura. Mereka semua berharap Chanyeol akan menyatakan perasaannya pada Yura saat itu juga, seperti yang ada di drama-drama. Tetapi semua itu salah.

Chanyeol bertepuk tangan tiga kali lalu lapangan mendadak senyap. “Acara selesai. Sekarang bubar,” seru Chanyeol lalu turun dari panggung dan mulai membersihkan kekacauan yang dia buat.

Sontak semua orang bersorak kecewa dan membubarkan diri. Meninggalkan Yura yang masih berdiri terpaku di depan panggung. Memperhatikan gerakan Chanyeol yang sedang sibuk dengan teman-temannya.

Chanyeol menyerahkan gitarnya pada D.O lalu berlari menghampiri Yura. “Hei Yura,” sapaannya tertahan di sana. Dia bergerak-gerak gelisah menatap Yura yang tidak menanggapi.

“Yura, bicaralah sesuatu,” kata Chanyeol, dia mulai tidak suka dengan sikap diam Yura.

Yura menatap Chanyeol. “Aku harus bicara apa?” dia menggeleng sekali lalu kembali menatap Chanyeol, “Maksudku, aku mengerti tentang pernyataanmu malam itu, tapi ini? Apa ini? Membuat kekacauan?”

Chanyeol menghela napas. “Aku berusaha membuatmu terkesan,” Yura berjengit tidak mengerti, “Kau lihat? Tadi aku bernyanyi dan bermain drum. Persis seperti laki-laki yang kau sukai,” tutur Chanyeol.

Yura berkedip tiga kali lalu tertawa. Membuat Chanyeol berjengit bingung. “Kau berbuat seperti itu hanya karena Senior Minhyuk?” Chanyeol mengangguk sekilas lalu Yura kembali tertawa.

“Kau bodoh Chanyeol,” Yura mengusap sudut matanya lalu menatap Chanyeol serius. “Aku sudah tidak menyukainya lagi.”

Mata Chanyeol membulat. “Kau- Aku- Dia- … Ugh! Kau tidak menyukainya lagi?” ucap Chanyeol tergagap.

Yura menggeleng yakin. “Tidak. Lagi pula Senior sudah memiliki pacar yang manis. Mana mungkin aku bisa menyukainya lagi.”

“Dia… Dia sudah memiliki pacar? Dan kau tidak cerita padaku?”

Yura mengerucutkan bibirnya kesal. “Setahuku kau lebih dulu yang membuatku khawatir dan menyatakan perasaanmu padaku. Semua itu membuatku lupa tentang Senior Minhyuk sama sekali.”

Lalu ingatan Yura tentang sore di hari yang sama dengan penyataan cinta Chanyeol berputar.

 “Kau lucu sama seperti pacarku.”

Yura yang sedang memberikan helm membeku dan menatap Minhyuk dengan tatapan yang sulit dibaca. “Senior sudah memiliki pacar?” tanyanya bingung.

“Hmm…” Minhyuk menggerak-gerakkan bola matanya bingung. “Ya, aku sudah punya pacar. Tapi kau tidak boleh membicarakan ini di sekolah, oke? Ini rahasia.”

Yura tersenyum canggung lalu mengangguk. “Rahasia Senior aman di tanganku.”

Minhyuk menghembuskan napasnya lega. “Terimakasih Yura.”

“Baiklah. Kalau begitu aku masuk dulu. Terimakasih sudah mengantarku pulang.”

Chanyeol memejamkan matanya lalu menarik napas dalam-dalam dan membuka matanya. “Kalau begitu tidak ada masalah lagi. Yura, kau jadi pacarku, ya?”

***END***

Epilog

Myungsoo bersandar pada rangka jendela kelas dan menatap ke arah bawah. Bibirnya membentuk seulas senyum puas melihat dua orang yang tengah berpelukan di bawah sana.

“Apa ku bilang. Kalian itu sama, sama-sama bodoh dan tidak peka. Dunia memang baik sekali.”

One thought on “[Oneshot] Dumb Dumb”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s