It’s Okay, We’re Gonna Be Okay (Part 5)

It's Okay, We're Gonna Be Okay

Title: It’s Okay, We’re Gonna Be Okay

Scriptwriter: naypcy

Main Cast: Park Chanyeol. Oh Sehun. Shena Cho. Park Cheonsa

Genre: Romance, Family, Friendship

Duration: Chaptered

Rating: PG-13

Previous part: 1. 2. 3. 4

Takdir terkadang memang kejam dan tak masuk akal. Tapi percayalah, apa yang sudah Takdir tuliskan akan berakhir dengan indah pada waktunya.

Malam itu, meja makan di rumah Shena sangat penuh dengan makanan-makanan Korea yang terlihat sangat lezat, namun tidak mengundang nafsu makan Shena sama sekali. Tidak lama setelah ia menelepon Sehun, Sehun langsung mengirimkan pesan singkat yang menyatakan kalau Chanyeol langsung berangkat menuju Jepang saat itu juga dan akan sampai pada malam harinya. Park Ahjumma sangat senang dan iapun memasakkan makanan kesukaan anak laki-lakinya itu untuk menyambutnya. Sangat kontras dengan keadaan Shena yang berharap ia bisa kabur saat ini juga.

Jantung Shena serasa hampir meledak saat ia mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah kecilnya. Ia benar-benar tidak siap.

“Ah, itu pasti Chanyeolie!” ujar Park Ahjumma dengan semangat. Iapun langsung berjalan menuju pintu masuk untuk menyambut anaknya. Entah kenapa, setelah ia menghabiskan banyak waktunya dengan Shena, Park Ahjumma menjadi lebih menghargai putra semata wayangnya. Sementara Shena hanya membeku di meja makan, tidak berani melangkah se inci pun dari sana.

“Eomma tidak apa-apa? Apa yang terjadi?” tanya Chanyeol pada eommanya sambil meneliti tubuh eommanya dengan seksama.

“Aku sempat terkena amnesia ringan hingga akupun tidak bisa mengenali diriku sendiri, sampai aku menemukan fotomu di dompet Shena. Semua ingatanku kembali begitu saja setelah melihat foto itu,” jawab Park Ahjumma dengan antusias. Sementara Chanyeol hanya mengangguk menanggapi ucapan sang eomma. Matanya tidak fokus mencari-cari keberadaan gadis yang sudah menghilang selama dua minggu itu.

“Ayo masuk! Aku dan Shena memasak banyak makanan kesukaanmu,” ajak Park Ahjumma sambil menarik lengan Chanyeol masuk ke dalam rumah. Shena menegang melihat wajah yang belum menyadari keberadaan dirinya itu.

“Shena, Chanyeol sudah datang,” ujar Park Ahjumma dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Dengan ragu, Shena memberanikan diri menatap mata Chanyeol dan menyunggingkan senyumnya yang malah terlihat kaku.

“Ne.. Selamat datang, Chanyeol..oppa,” ucap Shena pelan. Shena langsung menundukan kepalanya saat Chanyeol membalas tatapannya dengan tajam dan menuntut penjelasan.

“Chanyeol-ah, ayo duduk di sini. Kita makan malam bersama,” kata Park Ahjumma sambil menyiapkan mangkuk berisi nasi untuk Chanyeol di dapur. Chanyeol pun duduk tepat di hadapan Shena tanpa melepaskan tatapannya sedikitpun dari gadis itu.

“Kau terlihat lebih kurus,” ujar Chanyeol pelan, membuat Shena memberanikan diri membalas tatapan Chanyeol. Kebiasaan Chanyeol adalah meneliti segala yang ada pada Shena dan memastikan semuanya baik-baik saja.

“Ini karena  aku masih beradaptasi dengan makanan Jepang, oppa,” jawab Shena berbohong. Namun keputusannya untuk berbohong benar-benar salah. Ia berbohong pada orang yang mengerti dirinya lebih baik dari siapapun.

“Kau berbohong, Na-ya,” kata Chanyeol membuat Shena kembali menundukan kepalanya. “Aku menunggu penjelasan darimu, Nona Cho,” bisik Chanyeol namun terdengar seperti suara yang amat menusuk gendang telinga Shena.

“Nasinya sudah datang. Ayo dimakan!” Park Ahjumma kembali ke meja makan sambil membawa nasi untuk Chanyeol dan Shena. Chanyeol mulai memakan makanan yang sudah disajikan sambil terus menatap Shena. Sementara Shena masih menundukan kepalanya tak berani menatap wajah yang sedang memperhatikannya.

“Ku kira kalian dekat. Kenapa tidak mengobrol?” komentar Park Ahjumma di sela-sela kegiatan makan mereka.

“Kami akan mengobrol setelah selesai makan,” jawab Chanyeol cepat, sama cepatnya dengan detak jantung Shena. Dulu Shena sama sekali tidak pernah takut dengan namja yang menjadi heronya sejak kecil ini, namun sekarang untuk menatap dan berbicara padanya saja memerlukan keberanian yang amat besar hingga membuat Shena memilih untuk diam.

“Arraseo,” sahut Park Ahjumma.

Setelah selesai makan dan bersih-bersih, Shena mengupas Apel dan Peach untuk pencuci mulut ditemani oleh Park Ahjumma.

“Na-ya, bisa bicara sebentar?” tanya Chanyeol sambil menatap Shena. Sementara Shena hanya terdiam, ia tidak siap untuk ini.

“Aku akan melanjutkan ini. Silahkan kalian mengobrol dulu,” ujar Park Ahjumma sambil mengambil alih pisau dan buah Apel dari tangan Shena. Shena tersenyum kaku kemudian menggigit bibirnya sendiri dan mengikuti Chanyeol ke taman di belakang rumah Shena.

Park Ahjumma yang merupakan dosen di bidang Psikologi pun menyadari ada yang tidak beres dari kedua anak itu, Park Ahjumma pun mengikuti mereka ke taman dan mendengar pembicaraan mereka secara diam-diam.

Chanyeol berdiri berhadapan dengan Shena. Matanya terus mengintimidasi Shena yang dari tadi masih menundukan kepalanya. Chanyeol menangkup pipi kanan Shena dengan tangan besarnya dan mengangkat wajah itu agar menatapnya.

“Kau benar-benar menyiksa dirimu sendiri, Na-ya,” ujar Chanyeol sambil menatap mata sayu itu. Sementara Shena hanya terdiam dan membalas tatapan Chanyeol. Ia selalu terlihat lemah jika di hadapan namja ini.

“Hajima, oppa,” kata Shena pelan sambil menurunkan tangan Chanyeol dari pipinya. “Jangan mempersulit aku,”

“Kau egois. Kau meninggalkanku sendiri. Aku mencoba memperjuangkan hubungan kita, tapi kau malah pergi untuk melupakannya. Apakah semudah itu?” tanya Chanyeol dengan penuh penekanan. Membuat dadanya sesak akan emosi yang meluap-luap.

“Itu tidak pernah mudah, oppa. Aku yang menggantungkan hidupku padamu. Aku yang terlalu percaya diri dan berpikir kalau semuanya akan berakhir sesuai dengan apa yang aku mau. Aku percaya pasti kau akan lebih mudah melupakanku dari pada aku melupakanmu. Untuk itulah aku pergi,” jawab Shena panjang lebar. Napasnya terengah-engah mencoba menahan emosinya.

“Kau masih belum mengerti aku, Na-ya. Aku hampir gila karena harus melakukan semua ini. Apa kau rela melihatku memasangkan cincin di jari wanita lain? Apa kau rela melihatku memberikan perhatianku sepenuhnya padanya? Apa kau rela jika aku mengucapkan sumpah di hadapan Tuhan dengannya?” pertanyaan terakhir Chanyeol membuat Shena tertohok begitu keras. Tidak. Ia sama sekali tidak rela dengan itu. Ia masih memiliki sifat egois manusia yang memang wajar. Tapi ia tidak ingin mengacaukan semuanya. Jika takdir tidak memilihnya, lalu apa yang bisa ia lakukan lagi?

Shena menghela napasnya dalam dan memantapkan hatinya. Ia tidak ingin Cheonsa eonninya mengalah lagi. “Aku tidak apa-apa jika itu Cheonsa eonni,” jawab Shena akhirnya. Wajahnya memaksakan senyumnya walaupun hatinya begitu perih.

“Benarkah? Aku tidak yakin,”

“Ne, oppa. Aku hanya perlu merelakanmu sama seperti ketika aku merelakan orangtua dan kakekku,”

“Cho Shena, neo jinjja…” Chanyeol menggeram frustasi. Jika ia ke sini bukan untuk menjemput eommanya, pasti ia sudah akan membawa kabur gadis ini. “Baiklah, kau yang minta. Jangan sampai penyesalanmu datang terlambat, Na-ya,”

“Tidak akan, oppa. Aku tidak akan menyesal,” ujar Shena yang sangat berlawanan dengan hatinya. Matanya sudah digenangi air mata yang susah payah ia tahan. Kemudian Shena berjinjit dan mengecup pipi Chanyeol sebentar, membuat namja itu seperti dialiri arus listrik yang membuat seluruh syaraf di tubuhnya seolah lumpuh. “Ini yang terakhir..” lirih Shena yang kembali menyadarkan Chanyeol. Namun sebelum sempat merespon perlakuan gadisnya, Shena sudah dengan cepat pergi dari hadapan Chanyeol dan berjalan masuk ke dalam rumah.

Chanyeol meremas rambutnya dengan keras. Tak ada niat untuk mengejar gadis itu lagi dan berbicara panjang lebar lagi padanya. Usaha yang ia lakukan sudah sangat maksimal dan ia hanya perlu menunggu rencana Tuhan selanjutnya.

Cheonsa sedang membantu sang eomma memasak di dapur. Keadaannya sudah sangat baik hingga ia memiliki cukup tenaga untuk kegiatan-kegiatan seperti memasak dan kadang mengurus kebun kecil di halaman rumahnya.

“Cheonsa-ya, Shena sedang keluar kota lagi, ya? Eomma mulai khawatir, sudah lama sekali tidak bertemu dengannya,” tanya sang eomma tiba-tiba membuat Cheonsa menghentikan kegiatan memasaknya. Cheonsa menghela napasnya.

“Shena sedang ada di Jepang, eomma. Aku juga sangat khawatir padanya,” jawab Cheonsa sambil menebak-nebak bagaimana keadaan Shena saat ini.

“Sendirian? Kenapa Chanyeol tidak menemaninya? Bukankah Chanyeol selalu menjaganya seperti seorang adik?” tanya sang eomma lagi.

“Shena bahkan tidak memberitahu Chanyeol dan aku jika ia pergi ke Jepang,” lirih Cheonsa. Ingin rasanya ia mengatakan kalau alasan Shena pergi ke Jepang adalah untuk menghindarinya dan juga Park Chanyeol karena rencana pernikahan itu. Tapi ia tak ingin eommanya menyalahkan dirinya karena hal ini, eommanya sudah menganggap Shena seperti anak kandungnya sendiri.

“Wae? Apa kalian bertengkar?”

“Kami tidak bertengkar, tapi Shena sedang terluka,” ujar Cheonsa pelan. Sang eomma semakin mengerutkan keningnya bingung.

“Terluka karena apa? Apa ada seseorang yang melukainya? Katakan pada eomma, eomma akan..”

“Karena Park Chanyeol. Karena aku. Karena rencana pernikahan itu,” potong Cheonsa dengan cepat dan membuat sang eomma menutup mulut dengan tangannya karena terlalu terkejut.

“Mungkinkah…Chanyeol dan Shena…”

“Ia mencintai Chanyeol lebih dari apapun di dunia ini, termasuk dirinya sendiri,” kata Cheonsa yang akhirnya bisa mengungkapkan semuanya pada sang eomma. Dan sang eomma merasa luar biasa bersalah. Ia mencoba mengingat-ingat bagaimana kedekatan Chanyeol dan Shena yang memang bisa dikatakan lebih dari sekedar kakak beradik.

“Astaga.. apa yang telah eomma lakukan? Gadis itu sudah banyak terluka sebelum ini,” ujar sang eomma sambil menggenggam lengan Cheonsa. Cheonsapun hanya terdiam, tak tau apa yang harus dikatakan, semuanya sudah terlanjur. Sang eomma menatap Cheonsa lama seperti mencoba menerka sesuatu.

“Wae, eomma?” tanya Cheonsa heran.

“Eomma tidak melakukan kesalahan yang sama pada kau dan Sehun, kan?” tanya sang eomma dengan hati-hati. Sementara Cheonsa membelalakan matanya terkejut.

“Ne??”

“Eomma kemarin tidak sengaja melihatmu dan Sehun. Aku tidak pernah melihat laki-laki menatapmu penuh sayang seperti Sehun melakukannya,” Cheonsa hanya terdiam, ia tidak menemukan kata-kata yang pas untuk menanggapi pernyataan eommanya.

“Eomma tidak ingin kedua putri eomma terluka. Eomma sudah berjanji pada Sehun, jika ia bisa mendapatkan hatimu, maka eomma akan mengizinkan dia memilikimu. Jadi..eomma ingin tanya padamu, apa kau mencintainya?” mata Cheonsa berkaca-kaca mendengar apa yang dikatakan sang eomma. Cheonsa benar-benar dibuat takjub dengan rencana Tuhan yang begitu penuh teka-teki. Cheonsa mengangguk dengan cepat dan langsung memeluk sang eomma.

“Ne, eomma. Aku mencintai Oh Sehun,” Cheonsa tersenyum dan mempererat pelukannya pada sang eomma.

“Nanti kita bicarakan dengan orangtua Chanyeol, eo?” ujar sang eomma sambil mengelus kepala anak gadisnya itu dengan sayang.

“Apa tidak apa-apa, eomma?” tanya Cheonsa sambil melepas pelukannya dan menatap eommanya.

“Orangtua Chanyeol pasti mengerti, sayang,” ujar sang eomma sambil mengusap pipi anaknya dan tersenyum. “Ah, ya, dan minta Chanyeol untuk membawa Shena pulang,”

Chanyeol melempar PSPnya ke atas tempat tidur dan menggeram keras. Ia menjadi sedikit lebih sensitif sejak kembalinya ia dari Jepang. Semua hal bisa memancing emosinya termasuk game yang seolah juga tidak berpihak padanya hari ini. Chanyeol berniat untuk pergi mencari udara segar namun kunci mobilnya tak kunjung ia temukan.

“Aish, molla!” maki Chanyeol entah pada siapa.  Chanyeol menghempaskan tubuhnya ke sofa besar yang ada di kamarnya. Mengapa seorang gadis bisa membawa begitu banyak pengaruh bagi Chanyeol?

“Wae, hm?” tanya sang eomma yang tanpa Chanyeol sadari sudah duduk di sebelahnya. Chanyeol tidak menjawabnya tapi wajahnya sudah menggambarkan semuanya.

“Hmm, baru sehari tapi eomma sudah merindukan Shena. Sedang apa, ya, Shena?” ujar sang eomma sambil sesekali melirik ke arah Chanyeol. Chanyeol hanya mendengus pelan menanggapinya.

“Bagaimana jika kau meneleponnya, eo?” kata sang eomma lagi dengan nada sedikit merajuk.

“Dia tidak akan mengangkat teleponku, eomma,” balas Chanyeol dengan malas.

“Wae wae wae? Bukankah kalian teman dekat?” tanya sang eomma. Sebenarnya ia sudah tau apa yang terjadi pada Chanyeol dan Shena hasil dari kegiatan mengupingnya di rumah Shena kemarin malam. Ia hanya ingin menggoda anaknya saja kali ini.

“Eomma aneh sekali hari ini,” dengus Chanyeol mencoba mengalihkan pembicaraan. Eommanya memang terlihat berbeda sejak kemarin, ia terlihat lebih banyak bicara dan terlihat seperti ‘ibu’ pada umumnya.

“Eiish, kau mengalihkan pembicaraan,” kata sang eomma sambil mencubit lengan Chanyeol pelan. “Ah, matta! Hari ini Shena ada meeting dengan relasi bisnisnya. Ada Kim Suho, Yixing, dan Kyungsoo. Mereka tampan-tampan sekali, Chanyeol-ah. Kira-kira siapa ya yang paling cocok dengan Shena?” ujar sang eomma panjang lebar sambil sesekali tersenyum puas karena melihat perubahan air muka Chanyeol.

Mendengar celotehan sang eomma membuat Chanyeol membayangkan bagaimana Shena jika berada di tengah-tengah namja selain dirinya. Tidak mungkin, Shena tidak pandai berhubungan baik dengan namja selain aku. Namun, Chanyeol harus menelan dengan pahit pemikirannya barusan, mengingat bagaimana Shena bisa cepat akrab dengan Sehun hanya dalam sehari. Namja manapun pasti akan cepat menyadari pesona gadis itu.

“Geumanhae, eomma,”

“Wae? Kau cemburu? Takut ia menggantungkan hidupnya pada orang lain?” tanya sang eomma yang membuat Chanyeol memfokuskan 100% dirinya pada sang eomma.

“Apa maksud eomma?”

“Eomma mendengar pembicaraanmu dengan Shena kemarin karena eomma tau ada yang tidak beres dengan kalian. Eomma minta maaf jika sebelum ini eomma tidak mencoba mengenal yeoja yang kau pilih hingga Tuhan yang mempertemukan eomma dengannya,” jelas sang eomma yang membuat Chanyeol tertegun.

“Eomma sangat bersyukur bisa mengenal Shena sebelum terlambat. Dan pilihanmu memang tidak salah, Chanyeol-ah,” kata sang eomma sambil tersenyum pada Chanyeol. “Jika itu Shena, aku mengizinkan,” lanjut sang eomma yang membuat Chanyeol kehilangan kata-kata.

“Apa eomma serius?” tanya Chanyeol tanpa bisa menyembunyikan senyum yang merekah di bibirnya. Sang eomma mengangguk dengan mantap.

“Kau tau? Bukan hanya dia yang menggantungkan hidupnya padamu, tapi kau jauh lebih banyak ketergantungan terhadapnya,” ujar sang eomma sambil mengelus rambut anaknya.

“Ne?”

“Dia masih begitu muda tapi ia sudah dewasa. Eomma melihat banyak sisi keibuan yang ia miliki, bahkan membuat eomma iri sekaligus merasa bersalah padamu karena tidak sepenuhnya bersikap seperti seorang ibu,” jelas sang eomma kemudian menundukan kepalanya. Chanyeol menggenggam kedua tangan sang eomma dengan erat dan tersenyum.

“Aniya, eomma. Eomma sudah menjadi sosok ibu yang baik untukku dengan mencoba peduli dengan masalah ini. Jinjja, gamsahamnida,”  kata Chanyeol kemudian memeluk sang eomma.

“I’ll do better from now on,” timpal sang eomma sambil membalas pelukan anaknya dengan erat.

Pagi itu rumah besar milik Cheonsa sudah terlihat ramai. Ya, hari ini diadakan pertemuan keluarga Cheonsa dan Chanyeol membicarakan masalah rencana pernikahan Chanyeol dan Cheonsa yang sepertinya akan berganti subjek menjadi Cheonsa dan Sehun atau Chanyeol dan Shena.

Malam harinya setelah eomma Cheonsa mengizinkan hubungan Sehun dan putrinya itu, Sehun dan orangtuanya langsung berkunjung ke rumah Cheonsa memperlihatkan keseriusannya. Orangtua Cheonsapun sangat menghargai keseriusan keluarga Sehun, apalagi setelah kedua orangtua Sehun bercerita bagaimana Cheonsa sangat berpengaruh bagi gelar dokternya sekarang.

“Jadi..ehm..sebelumnya kami ingin minta maaf atas kekacauan yang terjadi ini,” ujar ayah Cheonsa memulai pembicaraan.

“Aniya. Ini justru rencana Tuhan paling baik untuk anak-anak kita,” timpal ibu Chanyeol sambil mengelus lengan Chanyeol yang duduk di sebelahnya. Semuanya mengangguk menanggapi kata-kata eomma Chanyeol barusan.

“Jadi bagaimana? Undangan pertunangan Chanyeol dan Cheonsa sudah disebar,” tanya ayah Chanyeol to the point.

“Gwenchana. Undangan yang disebar tidak terlalu banyak dan hanya kolega terdekat, pasti akan mudah mengabari mereka semua,” jawab ibu Cheonsa sambil tersenyum.

“Jadi benar-benar dibatalkan? Maksudku—kenapa tidak ganti saja menjadi Cheonsa dengan Sehun atau Chanyeol dengan Shena. Sepertinya Sehunpun sudah siap,” kata ayah Cheonsa.

“Igeo.. aku sudah membicarakan beberapa hal pada Sehun. Acara kali ini diundur jadi satu bulan ke depan. Aku..ingin memberi sedikit kejutan untuk Shena,” ujar Chanyeol sambil tersenyum.

“Kejutan seperti apa, Chanyeol-ah?” tanya Cheonsa antusias.

“Begini…aku tau ini tidak semudah itu tapi aku pikir tidak ada salahnya..”

Satu bulan kemudian..

Shena terburu-buru memakai wedgesnya karena ia hampir terlambat menghadiri meeting dengan koleganya. Selama satu bulan ini Shena menghabiskan waktunya dengan mencoba memulai kembali perusahaan kakeknya. Untungnya banyak yang membantu Shena di sini sehingga ia cukup menikmati pekerjaannya sekarang dan cukup untuk menyingkirkan Park Chanyeol dari pikirannya selama kurang lebih 8jam ia bekerja setiap harinya.

Tiba-tiba sebuah handphonenya bergetar menandakan sebuah panggilan masuk. Chanyeol oppa. Shena terpaku menatap layar ponselnya selama beberapa saat. Namja yang sudah sebulan tidak menghubunginya seolah tengah menghukumnya atas pembicaraan terakhir mereka. Shena menggelengkan kepalanya dengan cepat dan memasukan ponsel ke dalam tasnya. Mendengar suara namja itu sama saja melubangi hatinya lebih dalam lagi.

Shena menghela napasnya dan membuka pintu rumahnya. Namun ia hampir saja terjatuh saat mendapati siapa yang tengah berdiri tepat di hadapannya sekarang. Shena berpegangan pada pintu karena tiba-tiba kakinya tidak kuat menopang berat tubuhnya saat ini.

“Kenapa kau mengabaikan teleponku?” tanya Chanyeol dengan suara rendahnya. Setengah mati ia menahan untuk tidak memeluk gadisnya itu.

“A-ah..oppa meneleponku? P-ponselku ada di tas,” jawab Shena dengan terbata-bata sambil menunjukan senyum canggungnya. Lagi-lagi ia mengulangi kebodohannya dengan berbohong pada Chanyeol.

“Kau mau kemana? Sejak kapan selera pakaianmu jadi seperti ini?” tanya Chanyeol lagi sambil menatap Shena dari atas sampai bawah. Kemeja pas badan berwarna putih, rok rample sedikit diatas lutut berwarna biru tua, rambutnya yang sedikit kecoklatan digerai bebas dengan sedikit curl di bagian bawahnya. Style standard untuk yeoja yang akan pergi bekerja namun ntah kenapa ini terlihat tidak normal di mata Chanyeol karena Shenanya terlihat lebih ‘dewasa’ sekarang.

“W-waeyo? Aku ada meeting dengan kolegaku. Apa ada yang aneh?” ujar Shena sambil memeriksa pakaiannya lagi. Dan memang tidak ada yang aneh, hanya Park Chanyeol yang menjadi lebih sensitif saat membayangkan Shena berada di tengah-tengah banyak namja lain.

“Tidak ada meeting hari ini. Berikan ponselmu!” perintah Chanyeol yang membuat Shena mengerutkan keningnya namun tetap memberikan ponselnya pada Chanyeol dengan ragu. Chanyeol menahan senyumnya saat melihat wallpaper Shena adalah foto Shena sambil memeluk boneka baymax pemberian Chanyeol. Kemudian Chanyeol kembali ke tujuan awalnya—mencari kontak kolega Shena. Kim Suho-Kim Coorperation. Setelah menemukan nama yang ia yakini sebagai kolega Shena, Chanyeolpun tanpa ragu menelepon namja itu.

“Yak, oppa! Apa yang kau lakukan?” tanya Shena sambil berusaha merebut ponselnya dari Chanyeol, namun apa daya, Chanyeol terlalu tinggi untuk bisa ia raih.

“Ssstt..” Chanyeol menyudutkan Shena di dinding dan membekap mulut Shena dengan tangannya yang bebas. “Ye, yeoboseyo. Ne, Suho-ssi. Park Chanyeol imnida. Aku namjachi—ah, ani, aku nampyeon dari Shena,” ujar Chanyeol dengan penekanan di kata ‘nampyeon’ sambil menatap Shena dengan tajam saat mengucapkan itu. Shena membelalakan matanya namun tak mampu bicara apa-apa.

“Hari ini Shena harus kembali ke Korea karena ada urusan mendadak. Tidak bisa ditunda… Meetingnya membahas apa?…Yak! Aku suaminya! Kenapa aku tidak boleh tau??”

“Oppa..” keluh Shena yang mulutnya masih disekap oleh Chanyeol. Tangannya menggenggam erat lengan namja itu menyuruhnya untuk berhenti.

“Kami akan berangkat sekarang. Keuno!” Chanyeol memutus sambungan teleponnya dengan emosi dan menekan layar ponsel Shena berkali-kali.

“Oppa, wae irae? Kenapa kau aneh sekali hari ini?” tanya Shena setelah Chanyeol melepaskan tangannya dari mulut Shena. Chanyeol menghela napasnya.

“Aku tidak pernah melihatmu dekat dengan namja lain, hingga aku tak menyangka rasanya sesakit ini,” jawab Chanyeol dengan suara rendahnya yang membuat Shena kehilangan kata-kata.

“K-kau tidak marah saat tau aku dekat dengan Sehun oppa,” ujar Shena yang justru seperti membakar kembali api yang sudah akan padam. Chanyeol kembali menatap Shena dengan tajam.

“Aku hampir menghajarnya, Na-ya,” ujar Chanyeol sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Shena yang membuat Shena menahan napasnya. “Aish, aku kesini untuk menjemputmu. Kkaja!” lanjut Chanyeol sambil menarik lengan Shena menuju taksi yang sudah menunggu di depan rumah mungil Shena.

“Kita mau kemana, eo?” tanya Shena sambil menahan tangan Chanyeol.

“Ke Korea, Shena-ya. Aku tidak terima penolakan,” jawab Chanyeol sambil membukakan pintu taksi untuk Shena. Shena masuk ke dalam taksi dengan ragu. Semua tindakan Chanyeol yang notabenenya akan menjadi suami orang ini tidak bisa dibenarkan. Tapi ia juga tak kuasa menolak apa yang dikatakan Chanyeol. Gadis ini masih tetap lemah di hadapan Chanyeol. Kemudian Chanyeol pun masuk ke dalam taksi dan merekapun berangkat menuju Korea.

Sesampainya di Korea, Chanyeol langsung membawa Shena ke sebuah butik ternama di Korea.

“Kau di sini dulu, ne? Aku sudah bilang pada pegawai di sini, apa yang harus mereka lakukan padamu. Nanti setelah selesai, mereka akan mengantarmu ke venue acara,” ujar Chanyeol lalu mengelus kepala Shena dan sedikit tersenyum. Kemudian Chanyeol berbalik hendak meninggalkan Shena.

“Oppa..” panggil Shena pelan sambil menarik ujung baju Chanyeol. “Apapun yang kau lakukan hari ini, aku mohon jangan menambah lukaku,” kata Shena to the point sambil menundukkan kepalanya. Chanyeol berbalik dan menggenggam tangan Shena.

“Bukankah jika aku membuat Cheonsa bahagia, kau juga akan senang?” tanya Chanyeol sambil tersenyum penuh arti. Shena menggigit bibir bawahnya saat mencoba menerka apa yang dimaksud Chanyeol. Mungkinkah…

“Na kka,” ujar Chanyeol kemudian benar-benar pergi meninggalkan Shena yang masih mematung sambil meremas roknya, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang berkelebat di benaknya.

“Nona Cho, silahkan masuk,” sapa seorang pegawai dengan ramah dan menuntun Shena menuju ruang ganti. Di dalam ruang ganti tersebut sudah ada sebuah gaun berwarna silver yang sangat indah.

“Agassi, apa kau tau semua ini untuk apa?” tanya Shena pada salah satu pegawai.

“Tuan Park meminta kami menyiapkan Nona sebagai pengiring pengantin,” jawab sang pegawai sambil tersenyum.

“Pengiring..pengantin?”

Cheonsa menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia tidak pernah merasa sehebat ini sebelumnya. Pernikahan yang hanya disiapkan selama satu bulan ternyata bisa dilaksanakan dengan sempurna. Namun pikirannya masih belum tenang. Ia masih bertanya-tanya apakah Chanyeol bisa membawa pulang Shena kali ini?

“Apa yang kau pikirkan, hm?” tanya eommanya yang tiba-tiba sudah duduk di sebelah Cheonsa. Cheonsa menghela napasnya berat.

“Shena,” jawab Cheonsa singkat. Sang eomma hanya tersenyum mengelus lengan putrinya.

“Dia tidak mungkin tidak datang untukmu, sayang,” ujar sang eomma menenangkan putrinya.

“Aku tidak yakin Chanyeol melakukannya dengan baik dan memaksanya pulang,”

“Tapi kau juga tau kalau Shena tidak pernah bisa menolak Chanyeol,” balas sang eomma yang mau tidak mau Cheonsa mengakui kebenarannya. “Gwenchana, eo? Jangan terlalu dipikirkan. Ini adalah harimu, sayang,” tambah sang eomma sambil menatap putrinya yang terlihat berkali lipat lebih cantik dalam balutan gaun pengantin itu.

“Ne, eomma,” jawab Cheonsa sambil tersenyum manis.

“Kemari. Biar eomma pasangkan,” kata sang eomma sambil bangkit dari duduknya dan memasangkan hiasan kepala khas pengantin di kepala putrinya. “Ah, apa anakku akan benar-benar menjadi seorang istri setelah ini?” ujar sang eomma lalu terkekeh pelan.

“Aku juga tidak percaya, eomma,” timpal Cheonsa yang juga diiringi oleh tawa renyahnya.

“Nah sudah selesai. Eomma keluar sebentar ya,” kata sang eomma sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan ruang makeup itu. Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruang makeup itu dengan hati-hati.

“Cheonsa eonni,” panggil seorang gadis yang tentu saja sangat familiar bagi Cheonsa.

“Shena-ya! Ya Tuhan, kau benar-benar datang!” Cheonsa menatap gadis yang sedang berjalan ke arahnya dengan takjub. Shena segera memeluk Cheonsa dengan erat.

“Eonni, mianhae.. aku benar-benar minta maaf karena pergi tanpa mengabarimu sama sekali. Aku minta maaf karena sudah bersikap seperti anak-anak,” ujar Shena sambil terus memeluk Cheonsa. Matanya berkaca-kaca. Entah karena perasaan bersalahnya, atau karena perasaan bahagianya, atau karena rasa sesak di dadanya melihat yeoja yang ia sayangi ini memakai gaun pengantin.

“Gwenchana, sayang. Ssstt.. berhenti meminta maaf, eo? Aku yang seharusnya minta maaf padamu,” kata Cheonsa sambil melepas pelukannya dengan Shena. “Astaga, lihat! Kau terlihat lebih kurus. Apakah sesibuk itu kau di sana, hm?”

“Aniya, eonni. Hanya saja…” gumam Shena yang tidak benar-benar niat menjawab pertanyaan itu. “Ah! Eonni terlihat sangat cantik hari ini! Apa eonni sudah benar-benar sembuh?” Cheonsa tau Shena sedang mengalihkan pembicaraan. Cheonsa tersenyum menanggapinya.

“Hmm, sudah sangat lebih baik,” jawab Cheonsa.

“Wah, Sehun oppa daebak!” puji Shena yang membuat Cheonsa terkekeh pelan melihat wajah Shena yang begitu polosnya.

“Tentu saja! Tapi sejak kapan kau memanggilnya oppa, hm?” goda Cheonsa pada Shena. Shena tergagap menanggapi pertanyaan Cheonsa. Ia lupa kalau Cheonsa eonninya belum tau kalau ia dan Sehun sudah akrab sejak ia kabur.

“A-ah…i-itu..”

“Kkk, gwenchana, Na-ya. Kau pikir aku tidak tau kalau kau banyak menghubungi Oh Sehun selama kau di Jepang?” ujar Cheonsa diiringi dengan tawanya saat melihat ekspresi kebingungan Shena.

“Ne? Bagaimana bisa…” kata Shena sambil menundukan kepalanya.

“Kau berhutang banyak cerita padaku, dongsaengie,”

Suara lonceng di gereja itu terasa memukul-mukul gendang telinga Shena. Sekarang ia sedang berdiri di depan pintu gereja sambil memegang sebuket bunga. Di belakangnya ada sang pengantin dan kedua orang tuanya serta beberapa anggota keluarga lainnya. Shena menghela napasnya. Ia tidak percaya kalau Chanyeol menghukumnya seperti ini. Menyuruh Shena mengantarkan sendiri seseorang yang akan menempati posisinya, sebagai istri Park Chanyeol. Shena menghela napasnya dan mengedarkan pandangannya untuk mengenyahkan rasa sesaknya. Tapi tanpa sengaja, Shena melihat adik Oh Sehun—yang Shena tau dari foto keluarga di apartemen Sehun dulu—sedang berbicara dengan salah satu pengurus wedding organizer hari ini.

“Eonni, apakah kau meminta bantuan keluarga Sehun oppa juga untuk acara ini?” tanya Shena dengan pelan pada Cheonsa yang berdiri tepat di belakangnya. Cheonsa tertawa pelan dan menyebabkan Shena mengerutkan keningnya.

“Kau pikir dengan siapa putriku ini akan menikah, hmm?” ujar appa Cheonsa sambil melingkarkan tangannya di pundak Cheonsa. Shena semakin memasang ekspresi tidak mengertinya.

“Tuan Oh Sehun sudah tiba, harap bersiap,” kata salah satu pegawai Wedding Organizer pada Shena dan Cheonsa.

“Eonni.. apa yang.. Sehun oppa..” Shena tidak mampu merangkai kata-katanya saking terkejutnya dengan apa yang baru didengarnya. Cheonsa dan kedua orangtuanya hanya tersenyum menanggapinya.

“Bersiaplah, sayang,” ujar eomma Cheonsa sambil mengelus lengan Shena. Shena menggenggam erat buket bunga yang ada di tangannya sambil mencoba menerka sebenarnya apa yang sedang terjadi di balik pintu gereja yang amat besar ini.

Shena menahan napasnya saat pintu gereja itu perlahan terbuka. Ia belum berani menatap ke altar, namun ia segera mengumpulkan keberaniannya dan mulai berjalan ke depan. Kaki Shena terasa tak mampu menopang dirinya saat melihat namja dengan tuxedo berwarna putih yang senada dengan gaun yang dipakai Cheonsa sedang tersenyum padanya dan kemudian mengalihkan tatapannya pada yeoja di balik tubuh Shena. Itu bukan Park Chanyeol. Shena mulai mengedarkan pandangannya, mencari-cari sosok yang harus ia minta penjelasannya saat ini juga. Dan ia menemukan mata itu. Mata yang menatapnya dengan takjub tanpa berkedip, seakan lupa dengan tujuan awalnya—memberi kejutan pada Shena.

Tanpa sadar, Shena sudah sampai di depan altar. Shena tersenyum pada Sehun walaupun masih ada sorot kebingungan di matanya. Shena menyingkir ke samping dan mempersilahkan orangtua Cheonsa menyerahkan Cheonsa pada Sehun.

Sehun menggenggam tangan Cheonsa dan membantunya naik ke altar. Tatapannya sama sekali tidak lepas dari wajah nyaris sempurna milik gadisnya itu. “Yeppeo,” puji Sehun dengan berbisik membuat wajah Cheonsa memerah karena pujian singkat itu. Cheonsa melingkarkan tangannya pada lengan Sehun dan berdiri menghadap sang pendeta.

“Aku, Oh Sehun, berjanji di hadapan Tuhan, bahwa akan selalu mencintai, melindungi, dan menghormati Park Cheonsa dalam keadaan senang maupun susah, sakit ataupun sehat, sampai maut memisahkan kita,” Sehun mengucapkan sumpah pernikahan dengan lantang membuat Cheonsa tidak mengalihkan tatapannya sedetikpun dari Sehun saat ia mengucapkan itu. Ia kembali mengingat saat ia masih mengacuhkan Sehun dan membencinya tanpa mau mendengarkan penjelasan Sehun sedikitpun. Ia benar-benar bersyukur karena ia sempat membuka sedikit telinganya untuk mendengar penjelasan itu, jika tidak mungkin ia akan menyesalinya seumur hidup.

“Aku, Park Cheonsa, berjanji di hadapan Tuhan, bahwa akan selalu mencintai, menghormati, dan berbakti pada suamiku, Oh Sehun, dalam suka maupun duka, dalam senang maupun susah, sampai maut memisahkan kita,” kini giliran Cheonsa yang mengucapkan janji itu tanpa keraguan sedikitpun. Sang pendetapun tanpa berlama-lama langsung mengesahkan pernikahan mereka. Seluruh hadirin yang ada di ruangan itupun berdiri dan bertepuk tangan, turut merasakan kebahagiaan dua manusia yang kini sudah resmi bersama.

“Akhirnya kau sepenuhnya milikku,” ujar Sehun sambil menatap Cheonsa yang kini sudah berdiri berhadapan. Keduanya tersenyum dan saling menatap tanpa suara. Detik berikutnya, Sehun sudah menempelkan bibirnya di atas bibir mungil Cheonsa dan membuat gadis itu terkejut selama beberapa saat. Sehun memejamkan matanya dan mencium Cheonsa dengan penuh sayang dan rasa lega karena akhirnya ia bisa mendapatkan kebahagiaan yang ia kejar selama beberapa tahun kebelakang. Sementara Cheonsa, yang sempat terkejut selama sepersekian detik, turut memejamkan matanya dan menggenggam tangan Sehun untuk menopang dirinya yang mulai kehilangan keseimbangannya. Ini bukan yang pertama bagi Cheonsa dan Sehun, namun ini adalah yang paling membuat mereka bahagia.

Shena menutup mulut dengan tangannya saat melihat adegan romantis Cheonsa dan Sehun tersebut. Keduanya seperti menemukan sesuatu yang telah lama hilang dan mereka tampak benar-benar saling mencintai. Shena tersenyum lega melihat itu.

Kemudian Shena teringat akan sesuatu. Matanya mencari-cari ke arah terakhir kali ia melihat Park Chanyeol berdiri, namun ia tidak menemukan Chanyeol di sana. Sampai tiba-tiba Shena merasa sebuah lengan melingkar di pinggangnya dan menariknya mendekat.

“Mencari seseorang, nona?” tanya namja yang tak lain adalah Park Chanyeol. Shena mendongakkan kepalanya berusaha melihat wajah tampan itu. Harusnya Shena menghujani Chanyeol dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkeliaran di pikirannya, namun ia terlanjur terhipnotis oleh mata tajam yang seolah mengunci mulutnya itu.

“Aku rasa, aku tidak perlu menjelaskan apa-apa. Dengan melihat betapa bahagianya mereka, aku kira kau sudah tau apa jawabannya,” ujar Chanyeol seolah bisa membaca apa yang ada di pikiran Shena sambil menatap ke arah dua manusia yang sedang tertawa dengan lepas di depan altar. Shena kembali terdiam walaupun hatinya membenarkan kata-kata Chanyeol.

“Aku sudah memenuhi kewajibanku dengan mencari kebahagiaan untuk Cheonsa. Jadi..apa sekarang aku sudah boleh membahagiakanmu?” tanya Chanyeol sambil menatap Shena. Shena membalas tatapan Chanyeol dan dengan cepat mengangguk.

“Mianhae.. kau mengorbankan banyak sekali untukku,” Shena menyandarkan kepalanya di dada Chanyeol. Chanyeol mempererat pelukannya pada pinggang Shena.

“Aniya, aku hanya menyelamatkan hidupku yang semakin tidak benar tanpa kau,” kata Chanyeol yang langsung diikuti oleh kekehan dari keduanya.

“Oppa, kau berlebihan,” ujar Shena sambil menggenggam tangan Chanyeol yang masih melingkar di pinggangnya.

“Ngomong-ngomong, aku menyesal membuatkanmu baju seperti itu,” ucap Chanyeol tiba-tiba yang membuat Shena langsung menatapnya heran.

“Wae?” Shena melepaskan tangan Chanyeol dari pinggangnya lalu berdiri berhadapan dengan Chanyeol. Gaun berwarna silver yang menjuntai hingga menutupi seluruh kakinya dengan punggung yang separuh terbuka, bordir yang berbentuk bunga melingkari pinggangnya, dan motif sulur berwarna silver seperti merambati punggung dan juga lengan bagian atas Shena. Penampilan Shena benar-benar menyita perhatian namja-namja seumuran mereka yang ada di ruangan ini.

“Kau tidak lihat? semua laki-laki itu menatapmu seperti berniat ingin membawamu kabur, Na-ya,” jawab Chanyeol yang justru membuat Shena tertawa geli.

“Kau terlalu sensitif hari ini, oppa,” komentar Shena masih dengan sisa-sisa tawanya. Sementara Chanyeol hanya mendengus mendapati ucapannya tidak dianggap serius oleh Shena. Melihat itu, Shena langsung memeluk lengan Chanyeol dengan erat.

“Kalau begitu, aku akan memelukmu seperti ini supaya mereka tau kalau aku punya Chanyeol oppa,” ujar Shena dengan senyum kekanakannya. Chanyeol turut tersenyum dan memeluk Shena-nya dengan gemas.

“Aku mencintaimu,” kata Chanyeol masih sambil memeluk Shena.

“Aku juga mencintaimu, Chanyeol oppa,” balas Shena sambil membalas pelukan Chanyeol dan tersenyum. Akhirnya Chanyeol bisa membuktikan pada Shena jika ‘cinta’ itu tak selamanya menyakitkan. Cinta hanya butuh waktu dan perjuangan, maka semuanya akan baik-baik saja.

FIN

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s