Cousins’ Opinion

cousins' opinion

Cast Moon Byulyi [Mamamoo], Bobby Kim [iKON], Jane [The Ark] and Boo Seungkwan [Seventeen] Genre Family Rating PG-15 Duration Vignette

© 2016 namtaegenic

.

Moonbyul:

Cokelat itu tidak pernah berbohong. Jika pun ada kebohongan, adalah manusia yang menciptakannya, menodai kemurnian cokelat dengan berjuta dalih. “Ini cokelat untukmu, yang kemarin itu bukan pacarku, oke?”. Orang seperti itu tidak berhak menyentuh cokelat—semurah apa pun harganya. Cokelat mengutarakan perasaan sebenarnya. Jadi jika seseorang memberikan cokelat kepada seseorangnya, lalu ternyata orang tersebut mengoper cokelat itu ke orang lain, maka sama saja ia abai. Dan tidak pernah ada maaf untuk orang yang tak acuh pada pemberian tulus orang lain.

Bobby:

Jangan dengarkan Moonbyul. Dia kan perempuan tulen, banyak bicara, sedikit mendengarkan. Maunya dimengerti, tapi tidak mau memahami. Ia terus-terusan berkoar tentang bagaimana Aron kerap bersikap acuh padanya. Padahal ia yang menyia-nyiakan cowok itu. Ujungnya, mereka putus. Kini Moonbyul sok-sok berorasi soal benda mati. Aku curiga ketika SMU, ia terlalu banyak menelan materi majas. Karena kalau cokelat bisa ngomong, tentunya ia akan berbohong sekali dua kali demi kebaikan—misalnya seperti “Oh, Moonbyul, kamu itu nggak gemuk, kok!” pakai emotikon James si flamboyan genit, blah!

Jane:

Aku suka cokelat. Tapi di sekolah tidak pernah ada yang kasih. Jadi aku kumpulkan uang saku supaya bisa beli Ritter Sport rasa yoghurt. Kenapa Ritter Sport? Karena merek cokelat di sekolah adalah penentu kasta. Kecuali kalau kamu ketua kelasnya.

:::

:::

:::

“Jadi kamu berpihak pada Moonbyul?” tuding Bobby pada Seungkwan. Lirikan matanya secadas bantingan gitar sebuah grup musik rock underground. Sebal, sebenarnya, bahwa setelah ia bersusah payah memberikan pendapat yang diminta oleh Seungkwan, sepupunya itu malah memutuskan untuk mengikuti saran Moonbyul. Menyatakan perasaan lewat cokelat.

“Setiap melakukan pendekatan dengan cewek yang aku sukai, aku tidak pernah sesentimentil ini.”

“Kamu pernah punya pacar?” sembari memutar kemudinya membelok ke pelataran kios-kios, Moonbyul melancarkan serangan balik. Dari bangku penumpang depan, Bobby mengganti arah lirikan. “Aku lebih sering pacaran ketimbang kamu, doh!”

“Dan pacarnya perempuan semua,” sambung Jane, berhadiah hujan tatapan dari Bobby maupun Seungkwan. Sejurus kemudian Bobby memutuskan untuk tersenyum.

“Bagus, Jane. Kamu sepertinya berpihak padaku.”

Jane dan Bobby ber-high five, meskipun gadis itu bingung apa yang harus dirayakan dari kalimatnya tadi. Moonbyul memarkir mobil persis di sebelah sebuah Hyundai perak, di pelataran toko cokelat, dan keempat bersepupu itu turun.

Jadi ceritanya, Seungkwan sedang naksir seorang gadis. Tidak sekelas dengannya, tapi mereka mengambil kegiatan klub yang sama—klub bahasa isyarat. Dan tampaknya teman kita ini sudah membulatkan tekad untuk meruntuhkan status pertemanan mereka dan membangun status baru, teman-super-dekat-yang-berhak-cemburu-cemburuan. Lumayanlah.

Setelah meminta pendapat dari ketiga sepupunya, akhirnya Seungkwan memutuskan bahwa pendapat Moonbyul lebih bisa dipertanggungjawabkan. Moonbyul berjanji akan mengabulkan apa pun yang dimintanya apabila Seungkwan ditolak setelah memberikan cokelat Inilah Perasaanku yang Sebenarnya.

Di kubu lain, Bobby dan sekutunya—Jane—memutuskan untuk memisahkan diri dari Moonbyul dan Seungkwan yang sibuk memilih cokelat terbaik yang pernah ada. Pemuda itu mengajak Jane ke rak cokelat impor. Bobby tidak akan memberikan Jane cokelat buatan sendiri seperti yang Moonbyul lakukan pada Seungkwan. Jane berhak dapat yang bermerek.

“Pilih saja, Jane. Nanti Kak Bobby belikan. Kamu sukanya apa selain Ritter Sport? Hershey? Ferrero Rocher? Van Houten?”

Nestle.”

“Oke, sebutkan.”

“Sungai cokelat Nestle seperti milik Willy Wonka.”

Bobby menatap Jane.

Jane menatap Bobby.

Bobby tersenyum dan menggamit lengan sepupunya.

“Ke sana yuk, bantu Seungkwan dan Moonbyul pilih-pilih cokelat!”

:::

:::

:::

Moonbyul dan Seungkwan berdebat usai meninggalkan meja kasir. Pasalnya, Moonbyul menyarankan kotak emas dan pita pink sebagai pembungkusnya. Sementara Seungkwan—terpengaruh Bobby—tidak setuju soal totalitas yang demikian. Menurutnya, meskipun ini pernyataan cinta, tapi laki-laki harus tetap menjaga citra kejantanan mereka. Masa yang jantan-jantan pakai warna pink—begitu kata Bobby. Di pihak lain, Moonbyul sebal dan menyesal sudah mengajak Bobby kemari. Pemuda itu sukanya mengomentari tanpa ada niat memuji jerih payahnya. Keributan pecah di mobil.

“Bob, kamu sebaiknya diam saja, deh!” tukas Moonbyul gusar.

“Lho, aku kan turut dimintai pendapat?” Bobby menjungkitkan alisnya.

“Memang, tapi pendapatmu tidak ada yang membantu!”

“Siapa bilang? Seungkwan akan terselamatkan mukanya karena aku melarangnya menggunakan pita pink tadi.”

Seungkwan, yang mana sejak tadi tak banyak bicara, kini menjerit tertahan. “STOOOPPPP! STOP, STOP, STOP!”

Keadaan memang berhasil dikendalikan. Namun kini ketiga pasang mata itu memandang si objek pembicaraan. Wajah Seungkwan sudah memerah. Tapi ekor matanya sayu. Tangannya menimang-nimang kotak cokelat yang dibicarakan.

“Aku toh akan ditolak.”

Untuk kali pertama pada hari ini, Moonbyul, Bobby, dan Jane saling bertukar pandang tanpa lisan. Masing-masing memberi kesempatan Seungkwan untuk melanjutkan, karena mereka yakin ia belum selesai.

“Gadis yang aku sukai ini…suka dengan temanku. Ia sudah bilang padaku soal itu. Aku cuma ingin…ingin…”

“Berusaha?” bak dikomando, ketiga lainnya mengeluarkan satu suara. Seungkwan menjawabnya dengan anggukan lesu. “Kalian tidak perlu bertengkar karena hal yang jelas-jelas sudah tahu apa hasilnya.”

Keheningan menyergap keempat sepupu itu. Belum ada yang bicara hingga detik kesepuluh. Tampak sudah bosan menanti, Jane membuka mulut.

“Kak Seungkwan memang harus berusaha, ‘kan? Kalau tidak berusaha, mana bisa tahu akan jadi apa? Ditolak setelah berusaha itu lebih melegakan ketimbang menebak-nebak sampai mau mati.”

Inginnya Moonbyul menegur Jane untuk tidak sembarangan menyebutkan kata ‘mau mati’, terlalu frontal untuk anak seusianya. Tapi kali ini ia tidak peduli. Sebuah anggukan ia berikan untuk mendukung pendapat Jane. Untuk mendukung Seungkwan.

Bobby meraih bahu Seungkwan dan merangkulnya.

“Nanti kuajarkan cara mendekati cewek yang naksir orang lain.”

“Benar sekali. Bobby punya jutaan jurus yang pasti akan berhasil! He’s now your man, baby!” Moonbyul menepuk bahu Bobby, membuat pemuda itu menoleh terpana pada kakak sepupunya itu. Sejurus kemudian, ia tersenyum bangga.

“Trims, Byul! Omong-omong, Aron titip salam.” Ucapan tulus Bobby mewarnai wajah Moonbyul dengan tinta pink pastel.

Seungkwan mengangkat wajahnya, berusaha keras menarik sudut bibir kanannya ke atas, dan akhirnya terbentuklah senyum di wajah itu. Sorakan menggelombang di dalam mobil, ketiganya bergantian menepuk-nepuk bahu Seungkwan, memberikan dukungan penuh tanpa pamrih pada pemuda itu, dan membuatnya merasa tak bisa lebih bersyukur lagi sudah memiliki mereka. Mungkin apabila kita membeo ucapan Moonbyul, seperti cokelat, pertalian darah juga tidak berbohong.

Bukan begitu?

.

| FIN.

NAMTAENOTE:

BEHIND THE SCENE

Oke jadiii…awal mula terbentuknya Cousin’s Chronicles ini di chatroom sih ya, pas lagi ngebahas Seventeen atau apa sih aku lupa. Terus Dhila (dhiloo98 on IFK/futureasy on IFK) mencetus kayak “eh si chaeyoung (TWICE) ini bagusnya sepupuan sama Dino yang eh lo tau ga kalo si Yeri blablabla.”

Nah, dari sebutan sepupu-sepupu itu, aku jadi terinspirasi buat nulis Seungkwan, yang punya sepupu-sepupu gini. Awalnya, cuma mau bikin dia sepupuan sama Moonbyul sih, tapi berikutnya sepupunya tambah banyak dan aku menetapkan tiga orang dari grup yang berbeda buat jadi sepupunya Seungkwan.

Jadi trims berat spesial buat Dhila karena sudah menginspirasi. Maaf banget ya, Dhil, baru bilang pas kelar drabble ketiga. Makanya aku mutusin buat nulis nama Dhila di namtaenote pada kisah ini. Hehehe.

By the way, teman-teman. Silakan kunjungi fanfiksinya Dhila dengan search nama pena dhiloo98 dan futureasy di IFK. Or simply click this and have a nice visit to her personal blog. Tulisannya keren-keren!

 

 

11 thoughts on “Cousins’ Opinion”

  1. I WANNA CRI

    huHUHU

    kaeciㅠㅠ you know you have your own color;) ini, ini tuh, MOONBYULNYA
    ….. so my bias sekali. Terus Jane juga ya Allah doi polos sekali di sini hamdalah kuharapkan rambutnya tidak seperti yg didandani oleh stylist the Ark. dan bobby sangat menghibur, soalnya kalo dipikir-pikir dia kan cowok, kayak lebih ngerti gituuu. Tapi si Moonbyul juga ngerti sih jadi bisa kasih respons sebagai perempuan asheeekkk.

    kusuka ini namun kemenemukan satu typo yang mungkin hendak diitalic? atau emang pure kebawa nuansa yang santai di tulisan ini?

    ada kata ‘sebenernya.’ di part Moonbyul, kaaak

    They’re so lovely, each of them, ditambah bareng-bareng. Dan aku suka karena adegannya dalem mobil awwww, gimana ya, realistik gitu???? Aku yakin orang-orang yg sepupunya banyak, yg asik, bahkan yg gak punya sepupu sekali pun bakal seneng baca series ini🙂

    THANKYOU KAECI! :’)

    Suka

    1. ULANG YOU ARE HERE HEUHEUHEU TERHARU! jadi tuh padahal kan yang laen udah repot-repot eh gataunya si cewe suka sama cowo lain tapi ya gapapa selama belum ada ikatan semua masih halal ditikung ya (loh)
      makasih ulang ^^

      Suka

  2. Ceritanya lucuuu, duuh aku jadi irii…
    Kayaknya punya banyak sepupu terus deket kyk gitu nyenengin bgt. Dunia jadi nggak sepi pas lagi galau, hoho
    aku nggak bisa komen apa2lah, ini baguus
    salken Neng ^^

    Suka

  3. Gatau mau ngomentarin apa duh. Pokoknya semangat deh buat Seungkwannya. Intinya diungkapin dulu, daripada dipendam terus, nanti malah membusuk yang ada :”)
    Btw itu si Jane saking polosnya pengen aku gigit deh kak (saking gemasnya ya, bukan karena lapar). Tapi nasihatnya untuk Seungkwan itu kedengarannya dewasa banget duhhh ><

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s