Rumpled, Hole, Bamboo [1: Rumpled]

Rumpled, Hole, Bamboo

Rumpled, hole, bamboo.

Rumpled

Crystbellzinski’s plot

Cast: Oh Sehun (EXO) OOC, Park Seul (ulzzang) | Genre: Romance, Slice of life | Type: Vignette | Rating: G

PROLOGUE

“Meski kemejaku kusut, tetapi aku tidak sekusut dirimu.”

Lift berhenti tepat dilantai delapan tujuan dua manusia berbeda jenis didalamnya itu. Bunyi ‘ting’ yang khas itu mengudara. Untuk beberapa detik Sehun merapikan kemejanya, mapnya dan tidak ketinggalan ikat pinggang keberuntungannya. Pintu stainless mulai terbuka. Sehun kembali melirik si wanita untuk terakhir kalinya sebelum keluar. Wanita itu hanya menundukan kepala. Wanita yang memakai kemeja putih dengan lengan seperempat yang bagian bawah kemejanya dimasukkan ke dalam celana yang berbentuk runcing seperti pensil dari bahan dril. Sehun sedikit memiringkan kepalanya, dia melihat kepala si wanita yang melakukan sesuatu pada rambutnya sampai menyerupai sebuah ekor kuda. Tas selempang kulitnya menyatu dengan warna kulit celana dan ikat pinggangnya. Ikat pinggang. Itu jauh lebih mahal seratus kali lipat dari pada miliknya. Sehun menyentuh ikat pinggang bambunya.

Pintu sepenuhnya terbuka. Gawat, Sehun ragu melangkah. Dia khawatir akan diteriaki atau dipukul karena melangkahi map orang lain. Sehun melemparkan tatapan ke si wanita. Dia terkejut saat mendapati mata teduh si wanita sedang menyorotinya. Seulas senyum diberikan si wanita padanya.

“Silahkan duluan, tuan,” pinta si wanita.

Sehun mundur selangkah, “tidak anda yang duluan saja nona.” Tatapan keduanya seperti terikat, tidak melihat ke tempat lain selain lawan masing-masing.

“Ah, tidak-tidak. Saya saja yang mengalah. Silahkan tuan duluan.” Si wanita terhimpit dengan waktu. Dia sedang ada janji. Dan dokumen untuk nanti ada didalam map yang terjatuh itu. Si wanita melirik pada map yang jatuh.

“Anda saja nona, silahkan.”

“Saya masih bisa menunggu, ya silahkan tuan.”

Sehun mulai geram, habis sudah kesabarannya, “nona duluan saja. Saya setelah nona.”

“Tidak kok tuan, anda saja.”

“Kenapa sih nona? Saya nanti juga tidak masalah kok.”

Si wanita menunduk kebawah. Oh ya, Sehun mengerti.

“Apa? Karena ini?!” Sehun mengambilnya dengan rasa kesabaran yang tersisa, telapak tangan basah kuyup, sedikit gemetaran. Ia mengambil map dari depan kakinya. “Ini ‘kan? Nona bisa langsung ambil, dan melangkah keluar, apa susahnya?”

Si wanita diam seperti seekor keong, dia mengetahui kesalahannya, sangat. Makanya dia mempersilahkan Sehun untuk memberikannya teguran. Ini salah keputusannya yang tidak mau menyungging perasaan orang lain. Si wanita tidak enak-hatian orangnya.

Tangannya sedikit kaku ketika menghantarkan map itu pada si wanita yang menatapnya dengan matanya yang teduh. Si wanita sudah mengikuti gerakan Sehun sejak mulai mengambil map itu.

“Ini nona,” matanya tertuju pada map.

Si wanita mendengarkannya.

“Map anda yang terjatuh.”

Sleeeb!

Pintu lift tertutup kembali.

Sehun menyatukan map tersebut disalah satu tangannya. Dan langsung lari ke papan tombol angka lantai. “Aagh, yang mana? Yang mana?” Kepalanya tidak ada hentinya menjelajahi satu-persatu tombol yang ada. Mulai dari kekanan-kiri, keatas-bawah. Dia sama sekali tidak menyimpan ingatan tentang cara membukanya kembali.

Tiiesp! Pintu lift menggeser, terbuka. Kepanikan Sehun berhenti. Ia menemukan tangan mungil yang terjulur memencat tombol buka-pintu-lift pada papan tombol. Tangan putih kemerahan yang sangat bersih itu menyilang dengan tangannya yang sedang memegang papan tombol. Si wanita tidak ragu membiarkan tangannya mendekati wajah Sehun yang hanya beberapa inchi dari papan tombol. Lalu mereka saling bersitatap.

“Ayo kita keluar sebelum pintunya tertutup lagi,” seulas senyum mengakhiri perkataan sederhananya.

Sehun hanya mengangguk. Mengikuti si wanita yang juga keluar meninggalkan lift.

“Bisa aku minta map itu?” Si wanita menunjuk map plastik miliknya. Map yang sangat mencolok jika dibandingkan dengan map kertas bekas milik Sehun.

“Ah, iya.” Sehun menyerahkan map itu kepada sang pemilik.

Sesampainya map itu di tangan si wanita, Sehun melepaskan tatapan tepat di mata si wanita.

Si wanita langsung lari menuju pintu yang bertuliskan ‘Park Seul’. Hampir terlambat. Sehun melihat tulisan yang ada di pintu. Detik berikutnya dia tersadar dengan janji pertemuannya. Ia merapikan pakaiannya, dia mencium lengannya. hmpft.. masih berbau amis. Sehun mempercepat langkahnya menuju pintu.

“Ah, untung saja dia belum datang,” ucapan yang terdengar dari dalam ruangan ketika Sehun membuka pintu. Didalam terdapat satu buah meja, dengan hiasan lengkapnya. seorang wanita mungil dibelakang meja. Dua buah kursi di bagian depannya dan ada satu sofa di sudut ruangan.

Keduanya kembali beku dikeadaannya masing-masing. Sehun yang entah untuk yang keberapakalinya menatap mata teduh sang wanita.

“Saya ada janji bertemu dengan nenek Park Seul.”

Dhiesskk! Nenek katanya?

“Maaf, anda dengan siapa?”

“Sehun.”

Wanita itu langsung merapikan berkas-berkas diatas mejanya. Di depan meja itu terdapat papan nama bertuliskan ‘Park Seul’.

“Silahkan masuk, tuan.”

Sehun memasukkan badannya kedalam ruangan.

“Silahkan duduk,” dia tersenyum manis.

Sehun enggan melakukan instruksi selanjutnya. “Tapi, saya punya janjinya dengan nenek.”

Errghh! Nenek lagi katanya!

Dia menyerah, wanita itu keluar dari meja. Menghampiri Sehun. Ya sudahlah kalau tidak mau duduk, berdiripun tidak masalah.

“Kenalkan nama saya Park Seul,” Sehun menaikan sebelah alisnya. Ia masih ragu dengan perkataan wanita dihadapannya.

“Saya satu-satunya park seul di gedung ini.”

“Lalu, nenek yang kemarin aku temui itu…”

“Bagaimana kalau nenek sedang tidak ada disini.” Seul tiba-tiba merasakan itu, sesuatu yang seharusnya tidak dia rasakan. Tak tahu darimana asalnya Seul begitu kesal dengan Sehun yang menanyakan tentang nenek terus-menerus.

“Aku tidak masalah,”

“Nenek ‘kan harus banyak istirahat.”

“Ya, lebih baik begitu.”

“Kenapa kau sangat ingin bertemu dengan nenek sementara nenek sudah menyerahkan tugas ini padaku?”

Sehun diam. Seul benar-benar memberondongnya dengan pertanyaan. Ini tidak baik. Tidak baik baginya untuk menjawab. Seul sedang tidak stabil.

“Kau siapanya nenek? Bagaimana denganku saja bertemunya?” Seul mengerti urusan diantara mereka, tetapi dia juga bingung dengan perasaannya, baru kali ini dia sangat ingin. Diinginkan oleh Sehun, pria berambut perak yang membuatnya bersin.

“Aku terima,” Sehun mengulas senyum diiringi tatapan teduhnya. “Malah aku sangat senang jika bersamamu.”

Seul menundukkan kepala, habis kata. Entah datang darimana Seul merasakan kesenangan yang berkali-kali lipat setelah mendengar jawaban dari Sehun. “Dia nenek Pucci, bisa kita duduk sekarang?” Seul mundur, kembali ke belakang meja.

Sehun menelan ludah mengingat bahwa wanita ini seorang Park Seul, dan kejadian di lift. Kemarahannya di lift, dan bau menyengatnya yang membuat bersin. Sial. Sehabis wawancara ini pasti neraka!

Pria berambut perak mengikutinya. Mengambil salah satu kursi dan mereka duduk berhadapan. Seul meminta berkas yang sedari tadi digengam erat oleh kedua tangan Sehun. Ia mulai berakting seolah-olah sedang membaca berkas. Padahal nenek sudah memberitahu semua hal padanya.

Er, maaf kalau boleh saya tahu, bagian mana yang diberikan nenek untuk saya?” Sehun yang tidak sabaran menunggu Seul melihat berkasnya. Lebih cepat dapat kerja lebih baik baginya, terutama bagi bau tubuhnya yang mudah menyebar keseluruh ruangan itu.

“Kamu akan ikut denganku untuk mengetahuinya.”

Mereka keluar ruangan, Sehun memberi jarak yang cukup jauh dari Seul. Setelah tahu tentang siapa wanita itu nyalinya terkikis untuk bersikap biasa saja dengannya. Apalagi sepanjang jalan mereka sesekali berpapasan dengan beberapa karyawan, dan Sehun selalu menunduk begitu dalam terhadap mereka. Sehun cukup sadar diri. Mereka memasuki lift kembali. Namun tidak seperti semula, keadaan didalam lift ada beberapa orang lainnya. Sehun masuk, dan menyelesap ke pojok bagian belakang dengan cepat. Dia didalam ruangan, bersuhu rendah pula, tetapi peluh mulai mengalir dari keningnya. Lengkap sudah, badan berbau amis itu kini bermandikan keringat, kemeja kusut, jas berlubang dikedua sikunya, dan ikat pinggang bambu di celananya yang mengatung.

Seul yang ditinggalkan Sehun dipojok belakang sesekali menoleh padanya. Dia melihat Sehun yang menganyunkan tangannya mengipas-ngipas, kegerahan. Seul khawatir akan kehilangan Sehun, kalau tidak diperhatikan seperti itu. Atau dia takut malah dia yang meninggalkannya karena Sehun berada dipojok belakang. Ini tugasnya. Lantai tujuan Seul lantai teratas.

Tinggal tiga lantai lagi, didalam lift hanya tersisa mereka berdua. Seul mundur kebelakang ke tempat Sehun. Sehun yang asik menonton pergerakan angka pada monitor, bergidik saat melihat Seul mendatanginya. Jarak mereka seperti saat mereka datang, sekitar dua langkah. Sehun yang semula menyandar kesamping, menegapkan tubuhnya.

“Yang kita kunjungi sekarang adalah tempat ruangan kerja kamu, jadi nanti kamu akan dibagikan tugas sesuai bagianmu disana,” Seul mengedipkan sebelah matanya. Sehun hanya bisa mengangguk dengan sedikit kaku. Tangannya berpegangan pada besi di dinding lift. Kedipan mata Seul, membuatnya limbung karena didalam dadanya seperti ada yang menghentak keras pada jantungnya dan kini detakannya beritme sangat cepat membuat peluh yang tadi sempat mengering kembali mengguyur tubuhnya.

Pintu lift terbuka, kondisi itu membuat Sehun tidak sadar kalau sudah sampai ditempat tujuan.

Kala keluar dari lift, Sehun disuguhkan dengan banyak pipa-pipa besar yang bercabang-cabang. Ada beberapa diantaranya mengeluarkan bunyi dan uap. Lampu berwarna merah yang terselip diantara pipa satu-satunya penerangan yang ada. Bau? Disini jauh dari bau, bahkan wewangian. Disini mungkin hanya ada udara yang biasa.

“Marga!” Seul berbalik dengan suara lantangnya, mengejutkan Sehun yang masih berada didepan lift.

“Kemari, kenapa kamu masih disana!” Ia kembali berteriak, jarak mereka terlalu jauh, bahkan sangat jauh. Jadi dia terpaksa melakukannya.

“Ma-maaf. Tadi anda bertanya apa nona?” Sesampainya Sehun di hadapan Seul.

“Marga, kamu tidak menuliskan margamu di lembar surat lamaranmu ‘kan?” Seul bertanya dengan mata bulatnya yang teduh. Sehun menelan ludah.

“Siapa margamu?”

“O-oh,” suaranya begitu halus. Oh tuhan, dia takut. Dia sungguh takut menyebutkan nama marga itu. Nama marga yang selalu ia bawa kemanapun. Nama marga yang membuatnya di remehkan oleh banyak orang. Yang membuatnya tidak dianggap. Seolah dongeng, marga yang ada padanya dianggap tabu oleh masyarakat sekitar. Dia teringat masa lalunya. Masa dimana dia memperkenalkan diri tentang siapa namanya dan berakhir menjadi bahan tertawaan bagi banyak orang. Sebuah nama marga yang mempunyai ciri khas, semua yang bermaga ini mempunyai rambut berwarna perak.

“Siapa?”

“Marga saya ‘Oh’, nona.”

Seul menyunggingkan senyuman. Ia mendekati sebuah pintu berkaca lalu membukanya. Beberapa pemuda sedang asik mengetik dan mengecek sebuah alat.

“Ini bagian untukmu. bagian mekanik. Kamu bisa mulai kerja besok.” Selanjutnya Seul menoleh pada seorang pria berkumis, “tuan, tolong posisikan dia sesuai perintah nenek, terima kasih.”

Sehun menunduk, memberi hormat pada semua pekerja di ruangan itu. Dan kepada Seul.

Hari pertama bekerja. Hari perubahan hidupnya, Sehun datang lebih awal. Pada permulaan Sehun diajarkan mengenal letak dan wilayah yang ada pada gedung. Ia mendapatkan tugas tim khusus penanganan pada lift. Tugas-tugasnya membersihkan lift, mengecek keadaan layak pakainya dan memperbaikinya. Rambut perak dikepalanya memberikan peruntungan lagi. Rambut ini juga terkenal karena siapapun yang terlahir dikeluarga bermarga ini mempunyai kemahiran dalam bidang mekanisme.

Sehun dengan seorang temannya masuk kedalam lift. Temannya menekan angka tombol lantai paling dasar. Meski telah menekan tombol, tetapi bukan itu tujuannya. Bukan tujuan mereka. Setelah pintu tertutup dan lift mulai bergerak menurun, temannya melirik keatas, Sehun yang mengamati temannya dengan seksama ikut melirik keatas. Mereka beradu tatap. Detik selanjutnya si teman memanjat pada besi pegangan, membuka satu kotak yang berlubang-lubang. Si teman menyelusup keatas. Ayunan tangannya meminta Sehun mengikuti kelakuannya yang tadi. Ketika Sehun sudah diatas si teman menutup pintu akses mereka.

Disana Sehun diperkenalkan semuanya. Dia bertemu banyak komponen, alat, dan jenis beberapa benda. Disaat perkenalannya berlangsung lift berhenti. Sehun memperhatikan bagian dalam lift, ada seseorang yang masuk rupanya. Seul memakai lift yang sama dengannya untuk yang ketigakalinya. Tanpa disadari oleh dirinya sendiri Sehun menyunggingkan sudut bibirnya. Asik memperhatikan Seul, Sehun ditepuk beberapa kali dibagian pundak oleh temannya. Rasanya Sehun ingin dan selalu ingin menatap pun bersamanya. Matanya seolah tidak bisa barang sedetik saja tidak melihat Seul.

Mendadak ada dentuman agak keras. Si teman mengecek kesetiap sudut.

“Sepertinya ada masalah,” ucap si teman.

Sehun mengangguk.

Lepas Sehun mengangguk lift turun dengan sangat cepat. Sehun dan si teman berpegangan pada bagian atap lift yang menjadi tumpuannya. Kecepatannya menciptakan percikan api dibagian sudut-sudut dinding. Sehun teringat Seul yang masih ada didalam lift. Sehun bergegas mendekati kotak berlubang. Dia berusaha begitu keras mendekati kotak berlubang itu di saat lift meluncur turun dengan sangat cepat. Sehun akhirnya menemukannya, Seul yang sedang berjongkok sambil menggantungkan tangannya yang berpegangan pada besi yang melintang di dinding lift. Mukanya pucat pasi. Seul berteriak keras. Namun, karena gesekan yang terlalu kencang suaranya meredam dengan sendirinya.

“Seul!” Seru Sehun padanya, Seul mendongakkan kepalanya keatas mendapati Sehun yang sudah membuka kotak berlubang dengan kepala yang menyembul kedalam lift. Air mata Seul mengalir dengan begitu derasnya.

“Apa!”

Si teman mendekati Sehun. Bersamaan dengan itu lift mendadak berhenti. Keadaan tabung lift sedikit miring kebelakang. Posisi lift terjebak diantara lantai tiga dan lantai dua, tepat dibagian Sehun berada sekarang adalah tempat seharusnya lift berhenti, terdapat pintu lantai tiga dibelakangnya. Terdengar suara Seul dari dalam yang ikut terperosot kebelakang. Sehun dan si teman keduanya lelaki, mereka masih kuat berpegangan.

“Ada orang didalam lift?”

“Satu orang,” Sehun kembali melongok ke dalam lubang, si teman mengikuti. Sehun seolah merasakannya, kekhawatiran yang sangat besar. Kedua kelopaknya menunjukan keadaan hatinya yang gusar. Matanya meneduh dan alisnya berkerut memandangi Seul yang sedang gemetaran memegangi besi pegangan. Tanpa disadari Sehun hendak menurunkan kakinya saat si teman menepuk lengannya.

“Kau tenangkan dia, sementara aku cari bantuan.” Sehun mengangguk. Si teman mengambil alat yang dapat membuka pintu pada lantai tiga. Sehun membantunya, pintu yang dibuka paksa itu sedikit sulit untuk dibuka. Ketika si teman sudah berhasil memasuki lantai tiga keduanya langsung mengerjakan tugas masing-masing.

Sehun menurunkan tubuhnya kedalam lubang. Lift agak goyang saat Sehun memijakkan kaki didalam ruangan lift. Seul kembali berteriak. Dengan cepat Sehun menghampirinya. Memeluknya, “tenang, ada aku. Aku disini.

-tbc-

Mari kita ke HOLE, hati-hati!

3 thoughts on “Rumpled, Hole, Bamboo [1: Rumpled]”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s