[Vignette] Room No. 301

Room No. 301

A new storyline by peperomint

Cast Seventeen Kim Mingyu and Jeon Wonwoo | Genre Riddle, AU, Supernatural | Rating PG 13 | Duration Vignette (1040+w)

.

Kamar baruku bernomor 301

Belum genap sehari

Namun rasanya aku sudah ingin pindah…

.

.

Aku meniti satu persatu tangga yang akan membawaku ke lantai 3. Menuju ke tempat tinggal baruku. Semua barangku sudah dipindahkan kemarin.  Jadi hari ini aku hanya perlu membawa diriku dan beberapa barang kecil saja.

Gedung tua ini tidak terlalu besar, hanya terdiri dari 3 lantai. Aku memilih lantai 3 karena selain suasananya lebih tenang, harganya pun terbilang lebih murah. Di setiap lantainya terdapat  5 kamar yang hanya berbeda luasnya. Bagian dalamnya pun bisa dibilang sama saja. Hanya berisi satu kamar tidur, kamar mandi, dan dapur. Oh ya, ada juga balkon yang berukuran 2×1 meter. Biasanya digunakan untuk menjemur pakaian.

“Apakah kau Kim Mingyu? Penyewa baru kamar nomor 301?”

Aku menoleh. Ada seorang bibi berusia sekitar setengah abad yang tengah berdiri di belakangku, “Ya, apa anda pemilik gedung ini?”

Bibi itu tersenyum samar. Di tangannya ia memegang sebuah kunci. Sepertinya milikku, “Namaku Oh Mijung. Orang-orang biasa memanggilku Bibi Oh,” kemudian ia memberikan kunci yang dipegangnya kepadaku, “Ini kunci kamarmu. Semoga kau betah tinggal di sini!”

Aku mengangguk dan menerima kunci tersebut. Bibi Oh pun pamit untuk kembali ke kamarnya. Sepeninggal Bibi Oh, aku pun memasuki kamar nomor 301 yang masih terasa asing. Beberapa hari sebelum aku memutuskan untuk pindah ke tempat ini, aku sempat bertanya-tanya sedikit kepada temanku yang kebetulan juga tinggal di sini, tepatnya di lantai 1. Sebetulnya, temanku itu yang merekomendasikan tempat ini.

Awalnya dia mengatakan hal-hal yang baik mengenai gedung tua itu, seperti harganya yang terbilang murah untuk sebuah tempat tinggal di lokasi yang strategis di Seoul, juga pemilik dan para penyewa lainnya yang ramah. Namun sehari sebelum kepindahanku, dia menelepon dan menceritakan tentang kondisi kamar yang akan ku tempati.

“Kau tahu, penyewa sebelumnya pindah karena diganggu oleh makhluk halus. Aku masih tidak habis pikir mengapa kau mau menempati kamar itu…”

“Aku tidak peduli, selama harga sewanya murah. Lagipula, aku pindah ke tempat itu karena rekomendasi darimu!”

“Aku kan menyuruhmu untuk menyewa yang satu lantai denganku. Tapi kau malah memilih lantai 3. Dasar bodoh!” nada suaranya sedikit meninggi di kalimat terakhir.

“Sudahlah! Apapun yang kau katakan, aku akan tetap pindah ke kamar nomor 301 itu. Karena aku sudah terlanjur membayar separuh dari uang sewanya.”

“Terserah kau saja. Yang penting kalau ada apa-apa, beritahu aku segera.”

*

 

Ruangan ini terasa lebih sempit dari saat aku melihatnya pertama kali. Tentu saja karena barang-barangku yang memenuhi setiap sudut ruangan. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum mulai berbenah.

Ku pandangi setiap inchi kamar ini sambil melepas lelah di kursi. Setidaknya lebih baik daripada kamarku sebelumnya. Harga sewanya pun tidak terlalu berbeda jauh. Sambil memikirkan bagaimana akan menata barang-barangku, aku memejamkan mataku. Tanpa terasa aku tertidur.

Aku terbangun ketika jarum jam tanganku menunjukkan pukul 6 sore. Aku tertidur lebih dari 2 jam. Selelah itukah aku? Aku pun beranjak dan mulai mengeluarkan barang dari kadus. Barangku tidak terlalu banyak. Hanya saja karena kardus pembungkusnya cukup besar, jadi memakan lebih banyak tempat. Satu jam berlalu dan semua barang telah ku taruh di tempatnya masing-masing.

Kemudian pintu kamarku diketuk dari luar. Pasti Wonwoo, temanku yang tinggal di lantai 1. Karena selain ia, belum ada teman atau kerabat yang mengetahui tempat tinggal baruku. Bahkan orang tuaku sekalipun. Aku akan menelepon mereka besok.

Benar saja, saat ku buka pintu, sosok seorang Jeon Wonwoo telah menunggu di baliknya. Ia memakai pakaian seperti akan pergi ke luar.

“Oh kau, ada apa?”

“Kau sudah selesai berbenah?” aku mengangguk, “Kalau begitu, ayo kita makan malam di luar. Aku yang bayar…”

“Baik, tunggu sebentar!”

Aku segera berganti pakaian dan menyusul Wonwoo di luar. Sudah lama sejak terakhir ia membelikanku makan malam. Saking lamanya, aku sampai lupa kapan tepatnya. Karena terlalu semangatnya, aku hampir lupa mengunci pintu kamar.

*

“Bagaimana kamarnya?” tanya Wonwoo setelah kami memesan dua porsi makanan cepat saji.

“Lumayan, tidak berubah sejak pertama kali ku lihat. Dan sepertinya lebih baik dari kamarku yang sebelumnya.”

“Baguslah kalau begitu. Aku jadi tidak merasa bersalah karena takut kau tidak suka dengan tempatnya.”

Pesanan kami datang dan aku segera menyantapnya dengan lahap. Tenagaku sudah terkuras karena menata barang-barang tadi. Setelah itu, Wonwoo membawaku berjalan-jalan di sekitar tempat tinggal kami dan membahas banyak hal. Kami kembali sekitar pukul 11 malam. Aku masih harus menaiki tangga menuju kamarku, sedangkan Wonwoo telah memasuki kamarnya. Itulah keuntungan tinggal di lantai 1.

Saat akan menaiki tangga lantai 3, aku terheran-heran karena lampunya redup. Padahal seingatku, tadi lampunya menyala dengan terang. Aku berusaha menyingkirkan semua pikiran buruk dan memikirkan beberapa perkiraan yang lebih masuk akal, seperti mungkin daya lampunya sudah hampir habis dan sebagainya.

Aku memasuki kamar nomor 301 dengan tergesa-gesa. Aneh, biasanya aku tidak sepenakut ini. Kondisi kamarku masih sama seperti sebelumku tinggalkan beberapa saat lalu. Beberapa barang ada yang sudah menempati posisinya masing-masing, ada juga yang masih ku biarkan di dalam kardus. Aku akan melanjutkan berbenah besok.

Pukul 11.30 malam. Sudah sangat larut. Mataku mulai terasa berat dan tubuhku sudah merindukan ranjang. Rasanya aku bisa tertidur kapan saja. Bahkan saat di kamar mandi sekalipun. Namun aku memutuskan untuk tidak pergi ke kamar mandi, karena ruangan satu itu gelap sekali. Aku lupa membeli bohlam lampu.

Tanpa menunggu aba-aba lagi, aku menghempaskan tubuh ke kasur. Haaah… nyaman sekali. Seharian ini aku sibuk mengurus ke pindahanku ke tempat ini.  Kedua kelopak mataku sudah ingin memejam saat aku merasakan sesuatu yang tidak biasa di ranjangku. Ranjang ini basah di salah satu sisinya.

Aku mendongak, melihat ke arah langit-langit. Tidak bocor sama sekali. Lagipula saat ini sedang musim panas, mana mungkin hujan. Dan juga, aku baru saja kembali setelah makan malam di luar. Tidak ada setetes air hujan pun yang turun.

Lalu dari mana air ini berasal? Air minum yang tumpah? Tidak mungkin. Aku memang sempat minum, namun hanya air kemasan yang botolnya aku taruh di dapur. Seketika aku merasakan diriku diselimuti oleh perasaan aneh. Ku telepon Wonwoo secepat yang aku bisa, seperti hal itulah yang menjadi prioritasku saat ini juga.

“Halo! Mingyu-ya, ada a-”

“Wonwoo-ya!” ku potong kalimat Wonwoo yang belum selesai, “Apa di atas kamarku ada tempat penyimpanan air?!”

“Tunggu, biar ku ingat sebentar! Uhm… sepertinya tidak. Setahuku memang ditempatkan di atas lantai 3, tetapi tidak di atas kamarmu. Melainkan di atas kamar 304 yang berada di  ujung lorong. Memang a-”

Aku menjauhkan ponselku. Mengakhiri panggilan dan segera berlari keluar, setelah aku mengingat kembali percakapanku di telepon dengan Wonwoo sehari sebelum kepindahanku.

End

2 thoughts on “[Vignette] Room No. 301”

  1. Haloo…. Wah ini riddle ya? Bolehkah mencoba menjawab? Ehm…Dan… Mmm yap setelah dibaca ulang k bgian konvrsasi tlpon kmrinnya, wonwoo ngomongin soal mkhluk halus sih… Jd ini mingyu di ganggu makhluk halus… Iya ga?

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s