Our Wedding Story (Chapter 5)

our-wedding-story

Scriptwriter: Ghina

Main Cast: Cho Kyuhyun – Song Eunhee

Genre: Romance

Duration: Chaptered

Rating: PG-13

Note: Beberapa part sebelumnya sudah ada, silakan di cari. Sudah pernah di post di beberapa blog maupun blog pribadi saya: macaronstories.wordpress.com

(Poster by: Ken’s @ IndoFanficArts)

Previous part: Prolog1. 2. 3. 4

.

.

.

If you only knew how much

those little moments with you

mattered to me…

(Kyuhyun’s Side)

.

Kyuhyun menginjakkan kakinya di kantor dengan perasaan yang membuncah. Bibirnya tidak berhenti tersenyum sedangkan wajahnya nampak cerah. Semua sapaan dari para karyawaannya dibalasnya kelewat semangat, membuat kening-kening mereka berkerut bingung. Pegawai wanita yang melihat penampilan dan merasakan aura berbeda dari Kyuhyun langsung berbisik-bisik mengaguminya. Jika sudah begitu, biasanya Kyuhyun akan melenggang pergi. Namun, kali ini dia meluangkan waktu beberapa detik untuk membalas senyum mereka. Pegawai-pegawai centil itu pun memekik kegirangan.

Saat Kyuhyun sampai di ruangannya, dia langsung disambut oleh sekretarisnya yang melihatnya aneh. Pasalnya, sekarang Kyuhyun memakai pakaian kasual; sesuatu yang jarang sekali terjadi mengingat Direkturnya itu begitu memegang teguh peraturan kantor yang mengharuskan setiap pekerjanya mengenakan pakaian formal nan rapi.

“Ada apa, Yoonmi ssi?” tanya Kyuhyun sembari duduk di kursinya. Dia sedikit heran melihat sekretarisnya yang berkompeten itu mengamati penampilannya dengan mata tajam.

Yoonmi berdehem pelan, nampak salah tingkah. “Tuan nampak berbeda.”

“Apa karena bajuku?”

Yoonmi menggangguk. “Ya, itu salah satunya. Tapi, wajah Tuan…”

“Kenapa dengan wajahku?”

“Lebih berbinar.”

Kyuhyun tertawa renyah. “Well, gadis impianku baru saja memintaku menjemputnya besok.”

Yoonmi yang mendengarnya tersenyum. “Apa memang sebahagia itu, Tuan?” tanya Yoonmi sembari meletakkan setumpuk dokumen di meja kerja Kyuhyun. Lalu, mengambil dokumen paling atas dan memberikannya pada Kyuhyun untuk dibaca dan ditandatangani.

“Tentu saja. Tidak ada yang lebih istimewa ketika mengetahui pasanganmu mulai bergantung padamu,” jawab Kyuhyun pelan lalu fokus membaca dokumennya.

Kyuhyun tidak melihat ekspresi terkejut di wajah Yoonmi saat lelaki itu mengutarakan pendapatnya. Kyuhyun adalah lelaki yang selalu menolak wanita di sekelilingnya, Yoonmi tahu itu. Tapi,, Yoonmi baru tahu, kalau Kyuhyun juga bisa bersikap seperti lelaki lainnya yang merasa bahagia hanya dengan secuil momen bersama orang yang dicintainya.

***

“Song Eunhee, aku menyukaimu. Jadi, bolehkah aku mengenalmu lebih dekat?”

Kyuhyun tidak tahu setan apa yang merasukinya sampai-sampai ia berani menggenggam tangan gadis itu, sudah kedua kalinya dalam seharian ini, dan mengatakan sesuatu yang tak terduga. Kalimat itu bahkan tidak pernah terpikir di benaknya; yang dia inginkan selama ini adalah menjadikan Song Eunhee sebagai istrinya, bukannya bermain-main dengan status pacaran atau semacamnya.

Dia mengerjapkan matanya berulangkali lalu membuka mulut, hendak mengoreksi kata-katanya yang terasa kurang sesuai dengan isi hatinya ketika suara lembut gadis itu sudah menginterupsinya.

“Akan kupertimbangkan,” ujar Eunhee lirih dengan wajah menunduk malu.

“Apa yang kau katakan?” tanya Kyuhyun pura-pura tidak dengar, sengaja ingin menggoda gadis itu. Dia sedikit memajukan tubuhnya sehingga jarak mereka menjadi semakin minim. Lalu, tanpa sempat Kyuhyun antisipasi, gadis itu mendongak dan menatapnya tepat di mata.

“Aku akan mempertimbangkannya.”

Niat usil Kyuhyun seketika hilang, tergantikan oleh dorongan kuat untuk menyentuh rona merah di kulit wajah gadis itu. Jadi, alih-alih menjauhkan badannya dan memberi ruang bebas bagi Eunhee, Kyuhyun malah mengulurkan tangannya dan mengelus lembut salah satu pipi Eunhee, membuatnya semakin merona. Sebuah senyum tersungging di bibir Kyuhyun.

“Cantik,” ujarnya tulus, masih dengan kesadaran yang nampaknya mulai melayang-layang.

Mendapat perlakuan seperti itu, Eunhee menggigit bibir bawahnya, nampak salah tingkah. Apalagi, Kyuhyun terpaku pada reaksi Eunhee sehingga ia tidak mengalihkan matanya sama sekali dari gadis itu. Mereka saling bersitatap, dari mata ke mata, membuat Kyuhyun tidak lagi dapat mengontrol anggota geraknya dan membiarkan perasaannya mengambil alih.

Dia menimbang-nimbang sejenak sebelum perlahan-lahan memajukan wajahnya. Sengaja berlama-lama melakukannya karena Kyuhyun ingin memberi kesempatan bagi Eunhee untuk menghindar jika gadis itu merasa keberatan. Namun, hingga Kyuhyun dapat merasakan terpaan napas hangatnya, Eunhee tidak juga menunjukkan tanda-tanda penolakan. Itu seperti lampu hijau bagi Kyuhyun sehingga ia bergerak tanpa ragu.

Kyuhyun nyaris menjangkau bibir merah itu saat ponselnya berbunyi nyaring, merusak suasana romantis yang sempat tercipta. Lalu, seperti baru mendapatkan kembali akal sehatnya, Kyuhyun langsung memundurkan tubuhnya dan membulatkan kedua bola matanya. Tenggorokannya tercekat mengingat tindakan mesum yang berusaha dia lakukan pada Eunhee.

Kyuhyun menatap Eunhee gugup. “Tadi―aku―”

“Ponselmu!” potong Eunhee dengan suara kelewat keras, berusaha menutupi rasa malunya. Wajah gadis itu bahkan sudah seperti kepiting rebus, nampak merah di mana-mana.

Setelah mendengar ucapan Eunhee, barulah Kyuhyun sadar kalau ponselnya masih berdering. Cepat-cepat dia mengambil iPhone-nya dari saku celana dan menggeser layarnya. Kyuhyun menempelkan iPhone tersebut di telinganya. “Eo, Eomma.

“Di mana kau, Kyu?”

“Di jalan. Aku baru makan siang,” jawab Kyuhyun sembari melirik Eunhee dan menerka-nerka isi pikiran gadis itu yang kini sudah membuang pandangannya ke luar jendela.

“Tumben sekali jam segini kau baru kembali ke kantor.”

Well, ada sedikit urusan,” ujarnya masih dengan mata yang mengikuti gerak-gerik Eunhee.

“Ya sudah kalau begitu. Jangan lupa pertemuan keluarga jam empat nanti, ya.”

Telepon terputus, membuat Kyuhyun segera meletakkan ponselnya di tempat semula. Dia menoleh pada Eunhee. “Kita pulang?” tanya Kyuhyun tanpa sanggup menahan nada suaranya yang bergetar karena gugup.

Eunhee membalikkan tubuhnya menghadap Kyuhyun. Sedetik kemudian, gadis itu menatap jalanan di depannya lalu mengangguk kaku. Melihat respon Eunhee yang sama salah tingkahnya dengannya, membuat Kyuhyun melajukan mobil tanpa suara. Dan, suasana hening itu berlanjut hingga mereka sampai ke tempat tujuan.

***

Cho’s Castle, Gangnam, Seoul

09:43 PM

Kyuhyun sampai di rumah dalam keadaan lelah luar biasa. Setelah mengucapkan selamat malam pada kedua orangtuanya, Kyuhyun langsung memasuki kamarnya dan melemparkan tubuhnya ke atas sofa empuk miliknya.

Pertemuan keluarga selalu berhasil menguras habis tenaga Kyuhyun. Bermain dan menjaga keponakan-keponakan mungilnya, para tetua yang menahannya minum teh sembari berbincang soal bisnis, dan sepupu-sepupunya yang memberondongnya dengan pertanyaan seputar kebenaran cerita akan dirinya yang sudah memiliki kekasih membuat kepalanya terasa mau pecah. Kyuhyun harus menyalahkan ibunya karena membocorkan hal ini pada keluarga besar mereka sehingga di pertemuan kali ini, Kyuhyun tidak mendapatkan waktu tenangnya sendiri.

Kyuhyun memejamkan mata, menghela napas lelah, lalu mengelus-elus pelipisnya. Dia melonggorkan ikatan dasinya dan membuka dua kancing kemeja teratasnya. Menggulung lengan bajunya hingga batas siku, lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Mendadak ingatannya mengulang kejadian siang tadi saat ia sedang bersama Eunhee. Bayangan akan wajah pasrah Eunhee, lengkap dengan bibir memerah yang sedikit terbuka, menyusup masuk ke dalam pikirannya, membuatnya merasakan sensasi geli di perut yang menjalar hingga ke seluruh sendinya dan menggantikan rasa lelah serta kantuknya dengan tubuh yang bergidik pelan.

Posisi duduk Kyuhyun berubah menjadi tegak. Matanya yang terpejam terbuka lebar, seiring dengan tangan kanannya yang terangkat meraba dada kirinya. Dia sedikit terkejut mendapati jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya lalu memilih untuk menikmatinya saja. Dan, tanpa dapat Kyuhyun cegah, sebuah senyum simpul tercipta di bibirnya.

Saat itulah tiba-tiba Ahra masuk dan menepuk pundaknya. Lamunan Kyuhyun pun seketika buyar, tergantikan dengan rasa kaget. “Nuna!” teriak Kyuhyun sembari memegangi dadanya. Tapi, bukannya merasa bersalah, Ahra malah duduk di sebelah Kyuhyun dan membalas teriakan Kyuhyun dengan kuapan keras. Kyuhyun mendecak kesal.

“Kenapa terkejut begitu? Seperti kau tidak tahu saja kalau aku selalu menampakkan diri sesuka hatiku,” kata Ahra polos sehingga Kyuhyun mendecih pelan.

“Kau seperti hantu, Nuna,” sindir Kyuhyun dengan nada geram.

Ahra mengamati Kyuhyun sejenak, sebelum sebuah seringaian muncul di sudut bibirnya. “Kau pasti sedang melamunkan hal-hal mesum, kan?” Wajah Ahra berubah usil dan Kyuhyun tahu bahwa kakaknya sedang menggodanya. Kyuhyun membalas pertanyaan tak masuk akal dari Ahra dengan satu sentilan lembut di kening.

“Aku bukan orang cabul,” katanya sengit, lalu tersenyum senang melihat Ahra mengaduh dan mengelus-elus keningnya.

Kyuhyun mendekap kedua tangannya sembari mengantisipasi serangan brutal Ahra. Akan tetapi, entah karena Ahra sedang berada dalam mood yang baik atau karena ia mengasihani Kyuhyun yang seringkali menjadi korban bully-nya, kakak perempuannya itu beranjak ke ranjang Kyuhyun dan tiduran di sana, sama sekali tidak terlihat hendak membalas perlakuan Kyuhyun tadi. Padahal biasanya, Ahra akan mengejar Kyuhyun sampai ia berhasil menjitak kepalanya.

“Kau sedang bahagia, ya?” tanya Kyuhyun penasaran, tidak tahan dengan tingkah Ahra yang menurutnya langka itu. Kekehan Ahra terdengar, nampak mengerti maksud dari pertanyaan Kyuhyun. Namun, bukannya menjawab, Ahra malah menelungkupkan badannya.

Ahra mengatakan sesuatu yang tidak Kyuhyun mengerti; wajah kakak perempuannya itu tertutupi oleh bantal. Lalu, seolah menyadari kebingungan Kyuhyun, Ahra memutar posisi tidurnya menjadi menyamping dan mengulangi ucapannya, “Bukankah kau yang sedang bahagia, Kyuhyunnie?”

Insiden hampir mencium Song Eunhee kembali melintas di kepala Kyuhyun, membuatnya mendadak salah tingkah. Kyuhyun bahkan tidak menyadari kilat geli yang bermain-main di mata Ahra, tanda bahwa kakak perempuannya itu tidak serius dengan ucapannya dan hanya ingin menggoda Kyuhyun saja. Dia sibuk menenangkan detak jantungnya sendiri.

Nuna,” panggil Kyuhyun ketika akhirnya ia dapat mengontrol perasaannya. Pria itu nampak menimbang-nimbang sebentar sebelum menanyakan sesuatu yang mulai mengganggunya sejak beberapa jam lalu. “Bagaimana perasaanmu jika ada lelaki yang baru kau kenal dan belum tentu kau sukai, ingin menciummu?”

Kyuhyun tahu Ahra begitu terkejut, mulut Ahra terbuka lebar. Ahra bangkit dari posisi tidurnya dan menatap Kyuhyun tak percaya. “Kau… melakukannya?”

“Tolong jawab sajalah, Nuna.”

Mendengar desakan penuh permohonan dari Kyuhyun membuat Ahra menahan rasa penasarannya. “Kau yakin mau mendengar pendapatku?” tanya Ahra yang dibalas dengan decakan gemas Kyuhyun. Ahra berdehem pelan. “Oh, baiklah. Kalau gadis itu adalah aku, akan kupastikan dia mendapat satu tinjuan di pipi.”

Kyuhyun mengiris ngilu. “Separah itu?”

“Tentu saja, Kyuhyunnie. Coba kau bayangkan kalau kau lah yang berada di posisi gadis itu, kau pasti merasa tidak nyaman, kan? Baru kenal dan bahkan tidak menyukainya, apalagi yang akan kau lakukan selain mendorong dan mungkin membentaknya? Itu reaksi yang seimbang, Cho Kyuhyunnie; perlakuan kurang ajar dibalas dengan hal yang sama pula.”

Kyuhyun hampir terjengkang mendengar kata kurang ajar yang terucap dari mulut Ahra. Wajah kakaknya itu nampak bersemangat dan benar-benar jijik seolah-olah dialah yang mengalaminya. Ahra tidak tahu saja kalau kata-katanya tadi berdampak seperti pukulan telak bagi Kyuhyun.

Kyuhyun menunduk dalam-dalam sembari mengutuki dirinya sendiri. Memikirkan kemungkinan Eunhee memiliki pendapat yang sama dengan Ahra membuat Kyuhyun khawatir. Dia tidak mau gadis pujaan hatinya menilainya seburuk itu. Dia tidak mau Eunhee ilfeel padanya.

Tapi, bagaimana jika setelah ini Eunhee menjauhinya? Atau yang lebih parah, gadis itu menolak menemuinya dan memintanya berhenti mengganggu hidupnya?

Mendadak, Kyuhyun menjadi takut.

Wait a second,” pekik Ahra keras seakan-akan baru teringat sesuatu. “Kau yakin dia tidak menyukaimu?”

Kerutan samar tercipta di kening Kyuhyun. “Apa maksudmu, Nuna?”

“Gadis itu, kau yakin dia memang tidak menyukaimu? Apa kau sudah mendengar langsung dari mulutnya?” tanya Ahra sekali lagi dengan nada was-was dan khawatir.

Kyuhyun memiringkan kepalanya, berpikir sejenak. Lantas lelaki itu menggeleng ragu sehingga binar di wajah Ahra kembali. Kakak perempuannya itu bertepuk tangan heboh lalu menjentikkan jarinya. “Kalau begitu, belum tentu dia akan bereaksi seperti yang kukatakan tadi.”

“Apa?”

“Kau tidak tahu gadis itu menyukaimu atau tidak, kan? Berarti masih ada kemungkinan perasaan kalian berada di garis yang sama. Mungkin saja dia juga menantikan ciuman darimu. Iya, kan?”

Kyuhyun tahu Ahra hanya bersaha menghiburnya saja, tapi hal itu malah membuat Kyuhyun terdiam, mulai mencerna kata-kata kakaknya. Lelaki itu menautkan kedua tangannya yang bertumpu di paha sembari mendongak menatap Ahra dengan raut serius.

“Bagaimana caraku mengetahui perasaannya?” tanya Kyuhyun tegas, penuh dengan tekad besar.

Ahra tersenyum sumringah lalu turun dari ranjang. Dia duduk di sebelah Kyuhyun dan menarik bahu Kyuhyun ke arahnya sehingga mereka saling bertatapan. “Luangkan waktu satu harimu dan ajak dia kencan. Benar-benar kencan. Lalu perhatikan sikap dan responnya padamu. Kalau dia merasa nyaman, itu berarti kesempatanmu masih terbuka lebar.”

Beberapa hari ini, Kyuhyun memang sering menghabiskan waktu berdua dengan Eunhee; makan siang bersama, mencari buku, menjemput dan mengantar gadis itu pulang. Mereka bahkan bertengkar selayaknya pasangan kekasih dan nyaris berciuman. Tapi, Kyuhyun yakin bukan itulah yang dimaksud Ahra. Lagipula, yang mereka lakukan itu tidak dapat dikategorikan kencan karena rasa-rasanya, baik Kyuhyun maupun Eunhee, masih belum saling mengenal dan memahami perasaan masing-masing.

Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya sembari menganggukkan kepala berulangkali. Lelaki itu menghela napas lega sebelum menoleh pada Ahra dan memeluk kakak perempuannya. Senyum manis itupun tidak bisa Kyuhyun elakkan. “Gumawoyo, Nuna.

Ahra terkikik geli lalu balas menepuk-nepuk punggung Kyuhyun. “Aku senang kau sudah mulai terbuka padaku tentang hubungan asmaramu.”

Pelukan itu langsung terlepas. Kyuhyun menatap Ahra dengan mata terbelalak, tidak percaya kalau sang Kakak menyadarinya secepat ini.  Padahal di pertemuan keluarga tadi, Kyuhyun berhasil mengelabui para sepupunya dengan akting yang cukup baik. Tetapi, kenapa hal ini tidak berlaku pada kakak perempuannya?

“Tidak usah menutupinya lagi, Kyuhyunnie. Aku tahu kau sedang jatuh cinta,” jawab Ahra, dengan wajah merengut, sambil menepuk punggung tangan Kyuhyun. Perlahan-lahan, raut kesal Ahra tergantikan dengan satu senyum lembut. “Tapi, aku tidak akan memaksamu. Nanti, kalau kau sudah siap, tanpa diminta pun, aku tahu kau pasti akan menemuiku dan menceritakan segalanya.”

Kyuhyun begitu bersyukur memiliki seorang kakak yang begitu pengertian. Keusilan yang selama ini dilakukan sang Kakak tidak ada apa-apanya dibandingkan segala bentuk kasih sayang yang ia curahkan untuk Kyuhyun dan keluarga. Kyuhyun bangga pada Ahra. Dan, dia menyayangi kakak perempuannya itu.

Well, kurasa nasehat cintaku sampai di sini saja. Aku sudah sangat mengantuk,” kata Ahra memecah kesunyian yang sempat melingkupi mereka berdua. “Jangan lupa segera hubungi dan ajak dia kencan.” Ahra mengedip jahil lalu cepat-cepat keluar dari kamar Kyuhyun sebelum lelaki itu mengomel.

Sekarang, tersisa Kyuhyun sendiri di kamarnya. Dia meraih ponsel dari saku celananya, mencari nama Eunhee di kontak, dan terdiam sejenak. Kyuhyun tidak tahu harus memilih yang mana; menelepon atau mengirimkan pesan singkat. Dia tidak yakin pada pilihan pertama setelah insiden mereka tadi siang; rasa gugup itu masih bersarang di sekujur tubuh Kyuhyun. Jadi, alih-alih menekan nomor Eunhee, Kyuhyun memutuskan mengajak gadis itu lewat iMessage.

Apakah kau sibuk besok?

Tidak sampai sepuluh menit, Kyuhyun menerima balasan dari Eunhee.

Tidak juga. Ada apa memangnya?

Besok, setelah urusanmu selesai, maukah kau pergi denganku?

Kyuhyun menunggu dengan jantung yang berdetak keras. Namun, sampai setengah jam kemudian, Eunhee belum juga membalas pesannya. Mendadak Kyuhyun merasa lemas. Dia mulai berpikiran macam-macam. Jadi, demi menenangkan dirinya, Kyuhyun masuk ke dalam kamar mandi. Mungkin berada di bawah pancuran air dingin dapat menghilangkan semua hal negatif yang meracuni otaknya.

Kyuhyun keluar dari kamar mandi lengkap dengan koas putih polos dan celana training panjang yang sudah melekat di tubuhnya. Wajahnya nampak fresh dan rambutnya masih basah. Sambil menggosok-gosokkan kepalanya dengan handuk kecil, Kyuhyun mengambil iPhone-nya yang terletak di atas sofa dan beranjak duduk di sisi ranjang, hendak mengeceknya saat ia melihat sebuah pesan masuk dari Eunhee. Jantung Kyuhyun pun mulai bergerak di luar kendali.

Ada sebaris kalimat yang tertera di layar depan ponselnya. Dia belum berani membukanya, takut jika yang ia terima hanya penolakan Eunhee semata. Barulah setelah ia mengembuskan napas keras dan menyemangati dirinya sendiri, dia menekan layar sentuhnya dan membaca pesan tersebut dengan napas tertahan.

Jam sepuluh, Seoul National University Hospital.

Kalimat balasan itu begitu singkat dan terkesan dingin. Tapi, itu justru membuat Kyuhyun diserang gelombang rasa senang, sampai-sampai dadanya terasa hendak meledak. Lalu, di malam panjang ini, tanpa memedulikan orang rumahnya, Kyuhyun tertawa seperti orang kesetanan.

***

Kyuhyun mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki. Kali ini, dia sampai repot-repot mencari referensi di internet. Suatu hal yang sangat jarang Kyuhyun lakukan mengingat biasanya ia begitu percaya diri pada apapun yang ia kenakan.

Saat Kyuhyun sampai di Seoul National University Hospital, Eunhee belum keluar. Jadi, dia memutuskan untuk parkir, turun dari mobilnya, dan menanyakan keberadaan Eunhee pada salah seorang perawat yang lewat. Perawat itu memang memberitahunya, tapi Kyuhyun yang tidak terlalu paham akan rumah sakit meminta tolong untuk diantarkan. Dan, tidak ada yang mau menolak jika seorang Cho Kyuhyun lah yang meminta.

Selama perjalanan, Kyuhyun diserang oleh pandangan memuja dari kaum wanita. Tidak peduli tua ataupun muda, mereka semua menatap Kyuhyun seakan-akan dia adalah orang dari luar angkasa. Kyuhyun yang terbiasa diperlakukan seperti itu memilih mengabaikannya dan memasang wajah datar, sama sekali tak menunjukkan ketertarikannya. Dia sudah memiliki Eunhee dan tidak butuh wanita lain.

“Song Uisanim sedang praktek. Sebentar, saya tanyakan,” ujar perawat tersebut lalu mengetuk pintu dan memberitahukan perihal kedatangannya. Terdengar balasan Eunhee yang memintanya masuk sehingga perawat tersebut membukakan pintu lebih lebar.

“Terima kasih,” ujar Kyuhyun santun, lengkap dengan senyum sopan di bibir.

Buru-buru Kyuhyun ke dalam, meninggalkan sang Perawat di luar dengan tubuh kaku karena terpaku, dan hendak menghampiri Eunhee ketika ia menyadari bahwa gadis itu tengah memeriksa pasiennya. Kyuhyun pun menghentikan langkahnya dan memilih memerhatikan Eunhee dari tempatnya berdiri sekarang.

Dia terkesima melihat betapa menawan dan berwibawanya gadis itu saat berbincang dengan pasiennya. Senyum lembut tidak pernah hilang dari wajahnya, membuat pesonanya semakin bertambah. Apalagi dengan jas putih dan steteskop yang melingkar di lehernya, gadis itu terlihat sangat amat mengagumkan.

“Sampai kapan kau akan melamun, Mister Cho?”

Kyuhyun terkesiap dan segera memerbaiki posisi berdirinya. Sedikit terkejut melihat Eunhee berdiri di hadapannya, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantung jas putihnya. Kyuhyun tersenyum lembut. “Sudah selesai?”

Eunhee mengangguk. “Baru saja.”

“Apa masih ada yang lain?”

Gadis itu meraih selembar kertas dari atas mejanya. “Kurasa tadi yang terakhir. Lagi pula, jam praktekku sudah habis,” jawab Eunhee sembari melirik jam tangannya sekilas.

Kyuhyun tersenyum lebar. Wajahnya menjadi cerah. “Jadi, bisakah kita berangkat sekarang?”

“Sebentar, biar kubereskan barang-barangku terlebih dahulu.”

“Kutunggu di depan, ya,” kata Kyuhyun lembut lalu mendekati Eunhee dan mengelus puncak kepala gadis itu.

Wajah Eunhee langsung memerah. “O―oke.

Kyuhyun keluar dari ruangan Eunhee dan berjalan ke arah parkiran. Mengambil mobilnya dan menunggu di depan. Tidak lama, karena dia langsung melihat sosok Eunhee tepat di menit ke dua ia menunggu. Setelah Eunhee masuk dan mengenakan sabuk pengamannya, Kyuhyun melajukan mobil dengan kecepatan sedang.

“Kau sudah sarapan?” tanya Kyuhyun saat berhenti di lampu merah.

Eunhee mengangguk. “Aku tidak telat bangun pagi tadi.”

Mendengar itu, Kyuhyun mengulum senyum. “Ada suatu tempat yang ingin kau kunjungi?”

“Tidak ada.”

“Yang menarik perhatianmu, mungkin?” tanya Kyuhyun sekali lagi, mencoba memastikan.

Eunhee mengedikkan bahu. “Entahlah. Aku merasa asing dengan Seoul sekarang.”

“Tentu saja. Kau menghabiskan enam belas tahunmu di luar negeri,” ucap Kyuhyun sembari tertawa pelan. Kyuhyun berdehem singkat. “Bagaimana kalau kita ke bioskop?”

“Boleh juga. Ada film yang sangat ingin kutonton.”

Kyuhyun menarik persneling, lalu berujar, “Permintaan diterima,” dan membelokkan mobil ke arah bioskop terdekat. Mereka menonton sebuah film komedi romantis yang menjadi incaran Eunhee selama beberapa hari ini. Meskipun Kyuhyun lebih suka menonton film action, tapi demi menyenangkan hati Eunhee, Kyuhyun rela melakukannya.

Ajaibnya, jika biasanya film dengan genre tersebut akan membuat Kyuhyun bosan dan mengantuk, saat bersama Eunhee dia malah jadi begitu menikmatinya. Mungkin ini ada hubungannya dengan aroma parfum Eunhee yang tercium olehnya dan tangan mereka yang sesekali bersentuhan tanpa disengaja. Apapun itu, Kyuhyun senang mengetahui Eunhee bersamanya, duduk di sebelahnya, dan nampak terkesima.

“Aku tidak tahu kalau film-nya sangat-sangat-sangat bagus!”

Kyuhyun terkekeh geli. Sekembalinya mereka dari menonton hingga selesai makan siang, gadis itu tidak henti-hentinya berkomentar dan memuji. Tapi, toh pada kenyataannya, Kyuhyun tidak keberatan sama sekali. Dia suka mendengar celotehan Eunhee dan melihat wajah bahagia gadis itu. Sungguh dapat menentramkan hati Kyuhyun.

“Aku suka sekali ending-nya.”

Kyuhyun tersenyum lebar. “Apa sebegitu menariknya?”

“Tentu saja!” jawab Eunhee dengan suara penuh akan semangat. Gadis itu nampak mengkhayal lalu tersenyum-senyum sendiri. Pipinya bahkan memerah, membuat Kyuhyun tidak bisa menahan cengiran di wajahnya.

Kyuhyun tahu apa yang berada di pikiran gadis itu. Pastilah tidak jauh-jauh dari adegan forehead kiss di akhir film yang menurut Eunhee manis sekali. Eunhee memang memiliki ketertarikan aneh akan hal-hal berbau romantisme dan lelaki dingin―yang hanya bersikap hangat pada orang-orang terdekatnya saja―sehingga tidak heran jika film tersebut memberikan kesan yang mendalam untuknya.

“Ngomong-ngomong, ke mana kita sekarang?” tanya Eunhee saat seluruh kosa kata pujian sudah ia lontarkan dari mulutnya. Eunhee baru sadar kalau mobil Kyuhyun sudah berjalan mulus membelah jalanan Seoul.

“Namsan Park,” kata Kyuhyun lalu menoleh ke arah Eunhee. “Bagaimana menurutmu?”

Eunhee mengangguk. Mata hazel-nya berbinar-binar penuh keceriaan. Dan, dengan hal itu saja, Kyuhyun tahu kalau dia sudah mengambil keputusan yang tepat.

***

Begitu sampai di Namsan Park, mereka langsung disambut oleh pepohonan rindang yang mulai berubah kecoklatan. Musim gugur yang akan datang sebentar lagi juga membawa dampak berupa meningkatnya jumlah pengunjung. Meskipun tidak menimbulkan kepadatan, tetap saja Kyuhyun merasa sedikit tidak nyaman dengan banyaknya orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. Itu membuat Kyuhyun tidak leluasa berbicara dengan Eunhee.

It’s beautiful,” ujar Eunhee sembari menikmati pemandangan alam yang tersaji di sekelilingnya. Bibirnya melengkung sedangkan kepalanya bergerak-gerak, mengamati pohon-pohon yang berjejer rapi. Saat tatapan mereka bertemu, Kyuhyun memberikan senyum lembut yang langsung membuat Eunhee salah tingkah. Gadis itu berdehem singkat lalu berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Kyuhyun di belakangnya yang tersenyum geli.

Kyuhyun hendak menyusul, namun indera penglihatannya menangkap sesuatu yang Kyuhyun ketahui sebagai salah satu makanan kesukaan Eunhee. Jadi, alih-alih menyeimbangi langkah pendek Eunhee, Kyuhyun malah berbelok dan melakukan transaksi dengan seorang pedagang pinggir jalan. Setelah memberikan sejumlah uang, Kyuhyun kembali ke tempatnya tadi.

Kebingungan Eunhee adalah hal pertama yang dilihatnya. Gadis itu nampak linglung dan mencari-cari dirinya. Perlahan-lahan dan tanpa suara, Kyuhyun mendekati Eunhee. “Hei,” panggilnya sambil menepuk pelan pundak Eunhee.

“Dari mana―apel panggang?” pekik Eunhee keras dengan mulut terbuka lebar.

Kyuhyun mengangguk geli. “Untukmu. Aku tahu kau menyukainya.”

“Di mana kau mendapatkannya?”

“Sebentar lagi musim gugur. Sudah lumayan banyak pedagang yang menjualnya.”

Thank you~” kata Eunhee senang dan langsung melahap apel panggangnya. Eunhee menggigit besar-besar bagian yang paling banyak karamelnya―mengakibatkan sudut-sudut bibirnya terkotori―lalu menggumam nikmat dengan mulut penuh. Bibir gadis itu maju beberapa senti; terlihat lucu di mata Kyuhyun.

Kyuhyun pun terbahak cukup keras sehingga para wanita, yang berlalu lalang dan sedari tadi memang melirik ke arahnya, kini mulai berani menatapnya terang-terangan. Bukannya Kyuhyun tidak mengetahui semua itu, hanya saja Eunhee sudah menarik seluruh perhatiannya. Bahkan ketika Eunhee memakan apel panggangnya dengan cepat, sama sekali tidak malu-malu padahal ada Kyuhyun yang duduk di hadapannya dan terus-terusan menatapnya. Well, itu pertanda baik; pertanda bahwa Eunhee merasa nyaman bersamanya.

Kyuhyun membalas tatapan bingung Eunhee dengan sisa-sisa tawanya. Tapi nampaknya Eunhee tidak terlalu ambil pusing. Gadis itu hanya mengedikkan bahu lalu memakan lagi dengan gigitan yang lebih besar. Terlalu bersemangat sehingga ia salah menelan dan berakhir dengan terbatuk-batuk karena tersedak. Cepat-cepat Kyuhyun menyerahkan air mineral yang sudah terbuka tutupnya pada Eunhee dan langsung diminum oleh gadis itu.

“Pelan-pelan saja, Song Eunhee,” ingat Kyuhyun dengan nada khawatir. Dia mengambil botol tersebut dari tangan Eunhee dan melakukan gerak memutar di setiap sudut bibir Eunhee; membersihkan bekas karamel yang sempat menempel di sana.

Tindakan Kyuhyun yang tiba-tiba itu membuat Eunhee terdiam. Gadis itu menelan dengan susah payah dan menatap Kyuhyun dengan muka memerah. “Terima kasih,” ujar Eunhee susah payah lalu mengalihkan wajahnya ke arah lain dan menghabiskan apel panggangnya, malu untuk sekadar bertatap muka dengan Kyuhyun.

Hal ini membuat Kyuhyun mengulum senyum. Eunhee yang masih belum terbiasa akan semua sentuhan Kyuhyun nampak begitu menggemaskan. Kyuhyun jadi penasaran bagaimana respon Eunhee saat mereka sudah menikah nanti. Berpelukan, berciuman, dan hal-hal yang lebih dari itu sudah pasti dibolehkan bagi pasangan suami istri. Apa dengan begitu pun Eunhee masih akan malu-malu?

Lamunan Kyuhyun yang melantur ke mana-mana membuat wajahnya memanas. Kyuhyun menunduk dan mengeluarkan napas dari mulutnya, berusaha menetralkan degup jantungnya. Dia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri sampai-sampai tidak sadar kalau Eunhee sudah meninggalkannya jauh di belakang. Setengah berlari Kyuhyun menghampiri Eunhee. Namun, tiba-tiba gadis itu berhenti melangkah, memejamkan kedua matanya, dan menghirup udara segar sebanyak mungkin.

Kyuhyun pun memandangi Eunhee dalam diam. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana, lalu memiringkan kepalanya agar dapat menjangkau sudut yang pas untuk merekam seluruh wajah dan ekspresi gadis itu di dalam ingatannya. Eunhee terlihat cantik dan itu membuat Kyuhyun tidak mampu untuk sekadar mengalihkan pandangannya.

Lalu, seolah ada yang menariknya, Kyuhyun melangkahkan kakinya. Masih dengan mata yang tertancap pada sosok Eunhee, dia mendekat.  Tepat saat Kyuhyun berdiri di hadapan Eunhee, dia langsung menangkup kedua pipi Eunhee dan mendaratkan sebuah ciuman di kening gadis itu. Lama, penuh perasaan; seolah-olah dengan begitu cinta dan sayangnya akan tersalurkan.

Ciuman itu baru Kyuhyun lepaskan beberapa menit kemudian, meskipun tanpa menjauhkan tubuh dan tangannya dari wajah Eunhee. Raut polos Eunhee, bibir merah, dan mata hazel-nya yang indah seolah menghipnotis Kyuhyun masuk ke dalam pusaran yang menyesatkan. “Menikah denganku?” tanya Kyuhyun serak, sudah sepenuhnya dibutakan oleh pesona Eunhee.

Ekspresi terkejut Eunhee menyapanya terlebih dahulu. Kedua bola mata Eunhee membulat, sedangkan bibirnya sedikit terbuka. Wajahnya pias dan pucat pasi. Keringat sebiji jagung bahkan menuruni pelipisnya. Kyuhyun pun tersentak. Mereka baru bertemu tiga hari yang lalu dan Kyuhyun sudah meminta gadis itu menikahinya? Yang benar saja!

Kyuhyun melepaskan sentuhannya di pipi Eunhee dan mengambil satu langkah mundur. Lelaki itu menatap Eunhee gugup. Tangannya bahkan bergetar. “Aku―maafkan aku. Anggap saja aku tidak pernah mengatakannya,” kata Kyuhyun lalu membelakangi Eunhee.

“Kau tidak berubah, masih seperti enam belas tahun lalu.”

Ucapan Eunhee yang tiba-tiba membuat Kyuhyun berbalik dengan cepat. “Apa maksudmu, Song Eunhee? Apa kau mengingatku?” tanya Kyuhyun dengan perasaan yang tidak keruan.

Eunhee tertawa sinis. “Bagaimana bisa aku melupakan seseorang yang membuatku menangis?”

“Aku tidak pernah membuatmu menangis. Aku―”

“Kau melakukannya!” teriak Eunhee, membuat Kyuhyun bungkam seketika. “Kau mencampakkan barang pemberianku, menghinaku di depan teman-temanmu, dan menjadikanku bahan tertawaan. Setelah melambungkan perasaanku, kau malah menghempaskannya jatuh ke dasar bumi. Kau benar-benar hebat.” Eunhee mendongak, tersenyum lebar di sela-sela tangis dan air mata yang membasahi wajahnya. Lalu, ekspresi enggan dan benci itu kembali muncul. “Kau, berengsek. Dan, aku membencimu.”

Dengan begitu, Eunhee berlari meninggalkan Kyuhyun dengan rasa nyeri di dada dan hati yang sakit, penuh akan penyesalan yang begitu terlambat.

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s