T(w)o Day-s (Part 2)

twoday-s

T(W)ODAY-S

By:  C.AK (GK)

wp:  wordyworldgiana.wordpress.com

MC:  Suho (EXO), Jimin (AOA) | SC:  Changmin (TVXQ) | Genre:  AU, Crime |

Duration:  Series/Chaptered | Rating:  T

Previous part: 1

Dari gerbang bangunan yang belum selesai dibangun Jimin melihat beberapa orang yang dua diantaranya pernah bertemu dengannya saat Park Byeong Su mendatanginya. Tanpa rasa takut yang seharusnya dia rasakan Jimin berjalan menghampiri pria-pria tersebut.

Dua orang yang dia kenal membungkuk kearahnya diikuti dengan pria-pria yang lain. ya benar, aku lupa kalau sejak saat itu aku adalah cucu dari bos kalian dan itu artinya aku juga bos kalian.

“nona Jimin.” Lalu pria tersebut mengarahkannya pada sebuah mobil hitam di tepi jalan.

“sampaikan saja disini apa yang dia ingin aku ketahui.” Tolak Jimin. “aku sudah bilang padanya dengan sangat jelas aku tidak akan menyentuh apapun miliknya. Karena aku melakukan ini untuk ibu dan saudaraku.”

Pria tersebut mengangguk, dia lalu memerintahkan salah satu anak buahnya untuk mengambil sesuatu dari dalam mobil yang ternyata adalah sebuah amplop besar. Pria tersebut menyerahkan amplop tersebut pada Jimin yang langsung membukanya dan melihat data diri seseorang yang harus dia bawa kehadapan Park Byeong Su.

“Kim Joon Myeon?”

Setelah seminggu lebih dia mulai masuk kesekolah barunya baru malam ini dia mendapatkan nama siapa yang harus dia bawa ke hadapan laki-laki itu. Bagaimana caranya dia mencari orang yang bernama Kim Joon Myeon kalau tidak ada satu orangpun yang dia ketahui namanya disana.

hwajangnim memberikan waktu satu minggu untuk nona membawanya.”

“satu minggu?” Jimin melihat pria itu dengan dahi berkerut, bagaimana bisa aku membawa orang bernama Kim Joon Myeon kehadapan laki-laki itu tanpa mendekatkan diri lebih dulu. “apa dia benar-benar sudah gila? Park Byeong Su, aku bukannya membawa benda tapi aku disuruh membawa manusia. Itu tidak segampang yang-“

“satu minggu.” Ulang pria itu. Jimin hanya bisa menghembuskan nafas berat tanpa bisa membantah lagi.

“baiklah, satu minggu. Tapi sebelum itu jawab pertanyaanku karena aku yakin kalian pasti tau jawabannya.” Dia melihat wajah pria itu dengan sungguh-sungguh. “kenapa Park Byeong Su ingin aku membawa Kim Joon Myeon ini? apa yang akan dia lakukan setelah orang ini datang?”

“itu bukan urusan anda lagi. Hwajangnim memerintahkan anda untuk membawa orang ini kehadapannya dan selain itu tidak ada urusannya dengan anda.”

Jimin mengangguk, “dia memerintahkanku. Benar. Dan juga mengancamku. Apa park Byeong Su juga mengancam kalian untuk bersikap seperti ini?”

Tanpa mempedulikan mereka akan menjawab atau tidak, Jimin mengembalikan amplop yang tadi diberikan padanya ke dada pria di hadapannya dengan kasar. “katakan pada Park Byeong Su, tidak perlu menyuruhku untuk datang kemari hanya untuk memberikan selembar kertas bertuliskan tiga kata.”

***

Memandang berkeliling Suho mencari sosok Jimin yang tiba-tiba menghilang dari pandangannya. Sekali lagi dia melihat kearah gedung tinggi yang belum selesai di bangun.

“dia tidak mungkin ketempat seperti ini.” gumamnya lalu kembali berjalan melewati gedung tersebut.

Suho terus berjalan sambil memperhatikan sekelilingnya berharap dia bisa cepat menembukan sosok Jimin.  Dia melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Apa mungkin dia sudah pulang? apa tadi aku bertemu dengannya saat dia pulang atau dia baru akan pergi? Suho bertanya-tanya dalam hatinya.

“aku sudah bilang padamu berhenti mengikutiku.”

kamjjaghi!!” Suho benar-benar terkejut saat mendengar seseorang bicara dari arah belakangnya.

Meskipun jalanan tidak terlalu sepi tapi tiba-tiba mendengar suara pelan dan sinis seperti itu siapapun pasti akan terlonjak kaget. Masih memegang dadanya yang berdebar kencang Suho melihat Jimin berdiri di hadapannya dengan kedua tangan di saku jaketnya. Matanya masih terlihat sinis kearahnya.

“Jimin-ah.”

“dan jangan memanggil namaku seperti itu.” tolak Jimin. “kita tidak akrab sama sekali.” Gumamnya sebelum melangkah melewati Suho.

“Ya, kau mau kemana? Pulang? kenapa kamu masih di luar selarut ini?” Suho menyusul Jimin dan menyamakan langkah mereka.

Dia mengikuti Jimin yang tidak menjawab satupun pertanyaan yang diajukannya dan hanya berjalan menghadap kedepan tanpa pernah melirik sekalipun kearah lain. Mereka berjalan mendaki sebuah jalanan yang dikanan dan kirinya terdapat banyak rumah.

“apa kau mengikuti adikku?”

Untuk kedua kalinya Suho terlonjak kaget saat seseorang tiba-tiba muncul dibelakangnya dan bicara dengan suara pelan. “kamjjaghi!

“oppa.” dia melihat Jimin lalu laki-laki yang baru saja membuat jantungnya hampir meloncat keluar.. “apa yang oppa lakukan disini?”

Laki-laki itu berjalan melewati Suho dan berdiri disamping Jimin, “kamu kenal anak ini?”

Suho melihat dari laki-laki itu ke Jimin. “salah satu murid di kelasku. Jangan hiraukan dia, ayo pulang.”

Tanpa menunjukkan ekspresi apapun Jimin balik badan dan kembali melangkah. Suho melihat laki-laki itu masih memperhatikannya dengan tatapan mata yang tajam. “siapapun kau, jangan mengganggu adikku.”

Dia mengangguk patuh dan memperhatikan laki-laki itu kemudian menyusul Jimin dan melingkarkan lengannya di pundak gadis itu.

“ch, siapapun kau, jangan mengganggu adikku. Memangnya aku anak SD yang kerjanya mengganggu murid perempuan, yang benar saja.” dia mendecakkan lidahnya dengan kesal, “tidak heran kalau mereka kakak adik, dalam beberapa jam aku bisa kena serangan jantung karena mereka.” mengelus dadanya yang tadi berdebar kencang karena terkejut Suho akhirnya beranjak pergi dari sana.

***

Jimin berjalan masuk melewati gerbang sekolahnya pagi itu. Di saat murid-murid berjalan bersama teman mereka Jimin hanya bisa menutup rapat-rapat telinganya dengan earphones dan memutar lagi dengan suara keras. Kim Joon Myeon. Nama itu tetap berada dalam kepalanya sejak kemarin malam. Tidak ada informasi lanjut tentang siapa Kim Joon Myeon ini apalagi tentang alasan kenapa Park Byeong Su ingin orang itu dibawa kehadapanny.

“apa dia guru? Murid?” Jimin bertanya-tanya pada dirinya sendiri. “ada banyak orang sekolah sebesar ini bagaimana aku bisa mencarinya kalau aku tidak pernah bicara dengan satu orangpun.”

Dia mengeluh panjang lebar dan akhirnya memukul pelan kepalanya dengan kesal, “Shin Jimin kau memang benar-benar menyedihkan.”

Kemudian dia menyadari sesuatu yang muncul tiba-tiba dikepalanya, Kim Suho. Anak itu pasti bisa membantuku. Pikirnya. “apa anak itu benar-benar bisa membantuku? Mungkin tidak.”

“apa yang bisa membantumu dan mungkin tidak bisa membantumu?”

Jimin mendengar suara seseorang yang bertanya padanya di jeda lagu yang baru saja selesai di putar. Dia menoleh dan melihat Suho tersenyum lebar kearahnya dan mememarkan sederet giginya yang rapi. Awalnya Jimin akan mematikan lagu yang sedang dia dengar namun saat ekspresi wajah Suho yang berjalan disampingnya dia langsung mengurungkan niatnya itu dan terus berjalan menuju kelasnya.

Sebaiknya tidak usah minta bantuan anak ini.

***

Suho sedang sibuk meluruskan kerutan-kerutan di seragamnya dan memastikan rambutnya yang sudah tersisir rapi. Di sebelahnya duduk seorang pria berusia 60an, Kim Hun Myeon. Kakeknya yang seorang direktur sebuah perusahaan besar di Seoul.

“aku sudah terlihat tampan?” tanyanya pada kakeknya.

“tentu saja, cucuku memang pemuda paling tampan yang pernah aku lihat.”

Suho tertawa samar, “itu karena aku cucu kakek jadi aku selalu terlihat tampan.”

“memangnya di sekolahmu tidak ada yang mengatakan kalau kamu adalah pemuda yang paling tampan?”

“hampir semuanya.” jawabnya bangga. “tapi…” wajah Jimin tiba-tiba muncul dalam kepalanya.

“tapi?”

Dia segera menggeleng dengan cepat saat kakeknya menunggu ucapannya selanjutnya. “tidak. Tidak ada.”

Lalu Hun Myeon mengangguk mengerti, dia tersenyum melihat cucu satu-satunya itu. “perempuan? Dia tidak melihatmu sebagai murid laki-laki yang paling tampan?”

Dia mengangguk, “dia bahkan tidak mau bicara denganku.”

“itu artinya ada dua kemungkinan.” Ujar Hun Myeon. “pertama dia adalah gadis yang benar-benar baik dan kedua dia gadis yang benar-benar berbahaya.”

“aku tidak tahu pasti apa dia anak yang baik atau tidak. Tapi aku bisa pastikan dia bukan anak yang berbahaya.”

Hun Myeon mengangguk mengerti mendengar penilaian cucunya tentang gadis yang membuatnya tertarik. Tanpa disadari mereka sampai di depan gerbang sekolah Suho. Sekali lagi dia merapikan rambutnya dan menoleh pada kakeknya dengan senyumnya yang khas.

“aku pergi dulu, kakek.”

“baiklah, fighting!” dia menirukan apa yang dilakukan kakeknya dengan mengangkat satu tangannya yang terkepal dan berkata ‘fighting’ dengan semangat.

Setelah mobil kakeknya menghilang di tikungan dia berjalan masuk melewati gerbang dan melihat sosok murid perempuan yang duduk disampingnya saat berada dalam kelas. Suho setengah berlari menyusul Jimin yang berjalan beberapa langkah di depannya dan sedang berbicara sesuatu.

“dasar aneh, dia benar-benar bicara sendiri?” gumamnya pelan saat mendengar Jimin bicara pada dirinya. Kemudian tertawa geli melihat gadis itu memukul kepalanya sendiri dengan cara yang menggemaskan.

“apa anak itu benar-benar bisa membantuku? Mungkin tidak.” Dia mendengar Jimin mulai mengatakan hal-hal yang membuatnya penasaran.

Lalu dia mempercepat langkahnya dan bertanya, “apa yang bisa membantumu dan mungkin tidak bisa membantumu?”

Dia langsung tersenyum lebar memamerkan sederet giginya yang rapi saat Jimin menoleh kearahnya. Meskipun dia sudah tahu kalau Jimin tidak akan menjawab pertanyaannya tapi tetap saja melihat gadis itu berjalan meninggalkannya membuat perasaannya sedikit terluka.

***

4 thoughts on “T(w)o Day-s (Part 2)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s