[Vignette] Sense of Your Presence

sense of your presence

Sense of Your Presence

Scriptwriter:

@fiah_s

Cast: Lee Minhyuk BTOB, Minah Girl’s Day | Genre: Romance, Fluff? | Rating: PG-15 | Duration: Vignette (2700+ word)

Summary:

 

“Apa kau takut aku membawamu ke kandang sapi? Yang benar saja, aku tidak segila dirimu, chagi..”

.

“Oouuw, kau sangat menggemaskan, chagi..” kurasakan jemari Minah mencubit hidungku. “Tapi maaf ya, hari ini aku tidak akan semudah itu luluh denganmu.”

.

“Lee Minhyuk,” Minah menatap mataku lekat-lekat, “kau masih punya rasa dengan Lee Hyeri ya?” selidiknya.

.

 

“Tentu saja tidak, aku tidak akan membuatmu gendut di hari ulang tahunmu. Lagipula kau tahu aku aku tidak suka pria gendut kan?”

.

Minah benar-benar di luar dugaanku. Aku tidak pernah menyangka hadiah ulang tahun kedua puluh tigaku akan seperti ini.

*Sense of Your Presence*

Lee Minhyuk.

Namaku. Kata orang tuaku itu nama yang bagus dan aku percaya,  karena banyak orang tua lain yang menggunakan nama itu. Sayangnya kisah hidupku –mungkin–  tidak sesederhana orang lain yg punya nama sama dengankku. Milikku mungkin lebih rumit.

Letaknya ada pada banyaknya kesalahan yang kubuat. Seperti: mengecewakan cinta pertamaku di hari ke-22 kami berkencan, membuat masalah dengan setiap wanita yang pernah menjadi pacarku setidaknya di dua bulan pertama berhubungan, menghilangkan motor yang baru saja ayahku beli –yang sampai sekarang aku tidak tahu apa ayahku pernah membelinya atau apakah aku benar-benar menghilangkannya.

Jika aku menyebutkan semuanya, cerita ini akan penuh dengan daftar kesalahan yang pernah kulakukan seumur hidupku. Kusebutkan saja kesalahanku yang –mungkin–  paling parah, yaitu menolak mengakui semua kesalahan yang kuperbuat. Aku tidak mengaku bukan tanpa alasan,

Karena aku memang tidak ingat pernah melakukannya.

Jadi jangan pernah salahkan aku. Salahkan penyakit aneh yang sering tiba-tiba muncul di kepalaku.

.. Sense of Your Presence..

Sabtu, 29 November 2014.

Mata kuliah hari ini selesai lebih awal, penyebabnya istri dosenku melahirkan. Aku baru saja keluar dari ruang kuliah ketika pacarku mengirim pesan, ia ingin bertemu di rumah makan kecil di dekat kampus kami. Seperti biasanya.

Chagi anyeong!!” aku melambaikan tangan padanya yang sedang duduk di pojok kiri rumah makan yang penuh sesak.

“Oh, cepat sekali datangnya!” seru Minah. Ia menarik lenganku dan menyeret kursi untukku. Aku hanya menikmati perlakuan manisnya sambil tersenyum curiga.

Ya, Minah. Pacarku. Atau lebih tepatnya wanita yang paling betah bersama orang sepertiku. Aku bukan player, tapi  yeah, aku cukup sering ditinggal oleh wanita dan mendapatkan yang lain dalam waktu relatif dekat. Tapi percayalah itu bukan salahku, merekalah yang memutuskanku lebih dulu.

Aku tipe orang yang straight saat tertarik pada wanita dan anehnya mereka menyambutku dengan dengan senang hati. Bukan bermaksud sombong, aku cukup populer di kampus. Mereka yang menyukaiku belum tahu saja kalau ada yang aneh dengan kepalaku. Jika mereka tahu, mereka pasti meninggalkanku seperti yang mantanku lakukan.

“Buka mulutmu, aaaa…” ujar Minah seraya memenuhi mulutku dengan tteokbokki. Dia sengaja melakukan ini agar aku sibuk mengunyah dan Minah bisa bicara semaunya tanpa interupsi dariku.

“Sekarang apa?” Susah payah aku bicara dengan tteokbokki di dalam mulutku.

“Ehehe, tahu saja,” sahutnya ringan. “Aku sudah memikirkan tentang ini kurang lebih sebulan. Begini rencananya, pertama-tama kau harus menutup matamu dengan ini,” Minah mengeluarkan penutup mata yang menurutku terlihat kekanakan –berbentuk kelinci warna merah muda. “Kemudian aku akan membawamu ke tempat-tempat yang kuinginkan.”

Perkataan Minah barusan membuatku menelan beberapa tteokbokki bulat-bulat, “ohok, ohok.. kau ohok.. serius ohok, ohok..

Minah spontan menyodorkan minuman padaku, “siapa suruh makan sambil bicara?!”

“Kau serius? Oh ayolah, chagi.. yang begitu sudah tidak cocok untuk pasangan jaman sekarang. Dan apa kau bilang tadi?” Aku meraih penutup mata itu, “kau mau orang-orang menatapku aneh karena memakai ini?”

Minah mendengus dan langsung menjejalkan sejumlah  besar tteokbokki ke mulutku, lagi. “Dilarang protes!” serunya. “Kau sudah membuatku berkubang dengan kerbau-kerbau kakekmu terakhir kali. Jadi sekarang kau harus menuruti apa kataku!”

Cuma bisa kehabisan kata. Aku membuat Minah penuh lumpur dan menangis berjam-jam di hari ulang tahunnya. Sekarang suka atau tidak aku mengikuti rencananya. Apapun itu, semoga tidak berhubungan dengan hewan dan lumpur seperti yang kulakukan padanya.

“Ini mau dihabiskan tidak?” tanya Minah. Aku hanya mengendikkan bahu. Tapi Minah malah membuatku melahap potongan  tteokbokki yang tersisa. Kuharap perutku tidak bergejolak karena makanan pedas ini.

Aku hendak membukakan pintu mobil untuknya ketika dia bilang, “stop!”

“Kenapa?”

“Kemarikan kunci mobilnya!” Tangan Minah menjulur. “Kau harus mulai menutup matamu dari sini.”

“Kau yakin?”

“Apa kau takut aku membawamu ke kandang sapi? Yang benar saja, aku tidak segila dirimu, chagi..

“Baiklah” kataku pasrah. Aku bisa melihat Minah tersenyum menang sebelum penutup itu mengambil alih seluruh penglihatanku. Lalu Minah menuntunku masuk ke mobil.

.. Sense of Your Presence..

 

Chagiya, bisakah aku dapat petunjuk tentang kemana kita menuju?” rengekku. Aku tidak biasa melakukan ini, hanya jika perlu saja –contohnya sekarang.

“Jangan coba-coba merayuku kecuali kau mau bibir mungilmu itu ku plester, chagi” sahut Minah dengan nada manis –sekaligus menyebalkan.

Hampir tiga tahun. Maksudku, aku dan Minah. Kami satu kampus, aku jurusan olahraga dan Minah psikologi. Terakhir kali, di ulang tahun Minah, aku mengajaknya ke rumah kakekku. Dan tentang Minah berkubang dengan kerbau itu, dia jatuh saat aku mengajaknya –sebenarnya aku sedikit memaksa–menaiki kerbau.

Chagi, bicaralah sesuatu. Aku tidak tahan merasakan gelap dan sepi sekaligus” rengekku lagi.

“Oouuw, kau sangat menggemaskan, chagi..” kurasakan jemari Minah mencubit hidungku. “Tapi maaf ya, hari ini aku tidak akan semudah itu luluh denganmu.”

Untuk kesekian kalinya aku gagal. Entah karena mataku sedang ditutup atau memang perjalanan ini cukup jauh, aku mulai bosan.

“Minah –ya, mana tanganmu.”

“Mau apa?”

“Aku mau tidur. Setidaknya biarkan aku memastikan kau tidak meninggalkanku saat aku tidur.”

“Oke oke, kalau itu boleh.” Tangan kecilnya menyentuh tanganku, aku menggenggamnya dan menyandarkan kepalaku kbelakang.

.. Sense of Your Presence..

 

Aku sudah bangun. Masih gelap, tapi aku sudah terjaga. Tapi kemana tangan Minah? Apa dia meninggalkanku?

Cha–”

Eh? Seperti ada sesuatu yang jatuh dari mulutku

“Nyenyak sekali tidurnya,” itu suara Minah “yang tadi itu baso ikan. Apa senyenyak itu sampai tidak tahu aku memasukkan baso ikan ke mulutmu?”

Kurasakan tangan Minah  menyuapiku secuil baso ikan, “Minah –ya, bisa tidak penutupnya dibuka sebentar? Aku pusing” kataku, kali ini aku jujur.

“Oh, maaf maaf,” Minah menarik penutup mataku, butuk beberapa detik bagiku kembali melihat dengan jelas. “Kita sudah sampai di tempat pertama. Masih pusing ya?”

“Eh ini kan tempat baso ikan waktu itu?”

Minah tersenyum, “Iya, waktu kau sedang mabuk karena baru putus dengan Lee Hyeri dan aku harus mendengarkanmu meracau semalaman. Aku benar kan? Ayo turun!”

.. Sense of Your Presence..

“Jadi?”

“Jadi?” ulang Minah.

“Jadi kenapa harus tempat ini?” tanyaku penasaran.

Minah menyelipkan anak rambutnya ketelinga, “aku mau menceritakan semua kejadian malam itu padamu.”

“Bukannya sudah pernah?”

“Belum,” senyum Minah mencurigakan. “Aku belum cerita bagian yang paling penting, coba ingat dulu..”

“Buat apa? Tidak mau!” tolakku malas. “Kau sudah mengingatkanku pada Hyeri dengan datang kemari. Katakan saja bagian yang katamu penting itu lalu kita pergi ke tempat selanjutnya!”

“Lee Minhyuk,” Minah menatap mataku lekat-lekat, “kau masih punya rasa dengan Lee Hyeri ya?” selidiknya.

“Salahmu sendiri mengajakku kemari.” Balasku ringan.

Air muka Minah menjadi keruh, dia melahap sebatang baso ikan sekali gigit, “apa Hyeri lebih baik dariku?!!”

“Errr, dia lebih langsing darimu –eh.”

Sial, tidak seharusnya aku bilang begitu. Gumamku dalam hati.

Bola mata Minah hampir keluar ketika menatapku, “dasar playboy, makan ini!!” Minah memasukkan sebatang baso ikan ke mulutku.  Jika kalian heran kenapa Minah sering melakukan ini, aku sendiri juga heran, tapi aku menikmatinya.

“Tidak boleh komentar apapun tanpa instruksi dariku, awas kau!!” ancam Minah. “kau masih ingat kalau Lee Hyeri itu langsing tapi kau melupakan ciuman pertama kita, huh?”

“Ciuman pertama? Aku ingat, waktu itu aku menciummu di gedung olahraga setelah turnamen futsal kan?” Aku membela diri.

“Bukan yang itu bodoh, kau menciumku pertama kali disini!!”

“Mana mungkin? Kita bahkan belum pacaran –” tiba-tiba sekelebat ingatan tentang malam itu muncul.

Dan disitu, aku mencium Minah.

“–eh, benarkah?” gumamku kemudian.

“Ingat kau sekarang?” Ejek Minah.

“Waktu itu kau bilang Hyeri adalah mantan terbaik yang pernah kau miliki, tapi dia memutuskanmu karena kau tidak menjemputnya di rumah sakit dan malah datang ke pertandingan balet yang tidak jadi ia tampilkan. Kau bersikeras padaku kalau Hyeri salah, kau ngotot kalau Hyeri tidak pernah jatuh dari motormu dan tidak pernah mengantarnya ke rumah sakit.” Minah mengulang cerita itu.

“Iya aku ingat yang itu. Tapi kenapa aku menciummu?”

“Tidak tahu,” Minah mengendikkan bahu, “kau cuma bilang ‘Minah –ssi, terimakasih’ dan menciumku begitu saja.”

Aku tidak ingat bisa segila itu, jadi aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal dan menunjukkan wajah sepolos mungkin,“kalau begitu, mian.

“Tentang ciuman itu, tidak masalah. Tapi bagaimana bisa kau bilang Hyeri lebih langsing dariku,” Minah mengungkitnya lagi, “bukanka berat badanmu sendiri juga bertambah?”

“Hei, berat badanku bertambah kan kau juga penyebabnya! Sekarang kutanya–”

“Eiitt..” Minah menghentikanku dengan meletakkan telunjuknya di bibirku. “Waktumu sudah habis, chagi.. sekarang waktunya pakai ini lagi.” Minah memainkan penutup mata di tangannya.

“yah, jangan lagi,” gumamku.

Minah tidak peduli dan menyeret lenganku kembali ke mobil.

“Kita berangkat, mau kupegang tanganmu lagi?” tawar Minah. Tawaran yang terdengar menyebalkan. Aku sungguh bertanya-tanya kapan rencana aneh Minah ini akan berakhir.

“Kau suruh aku tidur lagi?” tanyaku, “tidak, kali ini kau harus mengobrol denganku.”

“Hei, apa yang kau harapkan dari mengobrol dengan mata tertutup, Minhyuk? Bagaimana kalau kuhidupkan radionya, hm?”

“Sebenarnya berapa tempat lagi kau akan membuatku seperti ini terus?” Aku mulai jengkel.

Tidak ada jawaban dari Minah, ida hanya menghidupkan radio dan menggenggam tanganku.

“Ini baru saja dimulai, jangan marah sekarang, ne?” kata Minah dengan nada persuasif. Tidak berhenti disitu, dia tiba-tiba mengecup pipiku.

Aku malu mengakuinya, tapi otot-otot pipiku terangkat tanpa terkendali. Meskipun Minah tidak mengeluarkan suara, aku yakin sekarang dia sedang tersenyum geli melihatku seperti ini.

Seperti sihir, Minah berhasil membuatku seperti patung dalam beberapa detik dan sekarang, aku semakin mengantuk mendengar alunan musik dari radio–yang sialnya sengaja memutar lagu ballad.

Apa aku akan terus dipaksa tidur begini setiap masuk mobil? Tanyaku dalam hati

.. Sense of Your Presence..

 

Chagi,” suara Minah membangunkanku. Kali ini dia sudah membuka penutupnya tanpa kuminta.

Mengerjapkan mata sebentar, pemandangan pertama yang kulihat adalah restoran ramen pedas.

Aku masih menatap bangunan itu, “jadi, kita makan lagi? Jangan bilang semua tempat yang kau maksud adalah tempat makan yang pernah kita datangi?” selidikku.

“Tentu saja tidak, aku tidak akan membuatmu gendut di hari ulang tahunmu. Lagipula kau tahu aku aku tidak suka pria gendut kan?”

“Ya, ya, ayo masuk saja sekarang!” ajakku.

Kami berdua punya kesamaan, yaitu makanan pedas. Itulah alasan mengapa aku mau makan tteokbokki dengan Minah lebih dari tiga kali dalam seminggu. Tetapi kalian perlu tahu satu hal, Minah lebih kuat dariku soal makan pedas. Jadi kutebak sekarang dia senyum-senyum sendiri karena dia yakin, aku pasti kalah darinya.

“Peraturannya, siapa yang lebih dulu minum dialah yang kalah.” Jelas Minah.

Jujur aku sudah pesimis sejak awal. Tapi diremehkan pacarmu sendiri apalagi di hari kau semakin tua sama sekali tidak menyenangkan. Jadi aku bilang, “lalu keuntungan pemenang?”

“Kau tidak perlu memakai penutup mata untuk ke tempat ketiga,” sahut Minah, “tapi itu sih kalau kau menang,”

Sial, dia benar-benar meremehkanku.

“Bagaimana, adil kan?”

“Adil dimananya?” protesku.

“Oh, itu ramennya sudah datang!!” Minah memekik.

“Jangan harap aku  mengalah karena kau wanita ya,”

“Kau pikir bisa menang dariku?”

.. Sense of Your Presence..

 

Chagi, kau blushing.. Yakin masih lanjut?”

Aku tidak bisa membalas pertanyaan mengejek Minah barusan –terlalu sibuk menahan rongga mulutku yang terbakar. Sialnya lagi, wajah Minah yang masih santai santai saja membuat gejolak di mulutku tambah parah.

Wuekk,” kusambar segelas air dan meneguknya sekaligus.

Hahh, leganya..

“Yeaayy!! Kau kalah chagi, aku saja deh!” Serunya. Minah memang menyebalkan, tapi hari ini dia jadi jauh lebih menyebalkan dari biasanya.

Alih-alih mengakui kekalahan, aku memilih langsung kabur ke mobil dan memakai penutup mata sendiri. Minah tidak langsung menyusulku. Aku sendirian di mobil, lalu beberapa menit kemudian kudengar ia menutup pintu dari dalam.

“Segitu kesalnya ya? Ehehee, janji deh setelah ini aku tidak akan membuatmu marah lagi.” Minah meraih tanganku, “tenang saja, aku tidak memintamu tidur lagi kok!”

“Apa aku harus seperti ini agar kau mau mengobrol? Kau gadis paling aneh yang pernah kutemui.” Dengusku.

Eiiyy, buktinya kau masih suka padaku kan? Sekarang, bagaimana kalau kita bernyanyi bersama, kau yang pilih lagunya, oke tampan?”

Cih, beraninya sekarang merayuku.”

“Mau bernyanyi tidak? Atau mau tidur lagi?”

Aku malas menyahutinya sekarang, aku hanya akan mulai bernyanyi.

 “The sun goes down, the stars comes out

And all that count, is here and now

My universe will never be the same

I’m glad you came”

Kemudian Minah,

“You cast a spell on me, spell on me

You hit me like the sky fell on me, fell on me

.. Sense of Your Presence..

 

Aku tahu kenapa Minah yakin sekali aku tidak akan marah lagi, karena tempat dihadapanku ini, adalah salah satu tempat favoritku di dunia. Fitness Center.

“Kau seharusnya mengajakku kemari dawi awal, chagi” ujarku bersemangat.

“Mau menurunkan berat badanmu tidak? Jangan buang-buang waktu, semakin cepat kau selesai semakin cepat kau mendapat hadiah ulang tahunmu.”

“Oke, kau ikut aku masuk atau disini saja?” tawarku.

“Tidak ah, aku tidak mau dekat dekat, kau pasti bau nanti. Jangan lupa mandi kalau sudah selesai.”

Tidak perlu bicara lagi, kutinggalkan Minah di mobil.

“Minhyuk-ah!!” Minah tiba-tiba memanggilku.

“Ada apa?”

Dia tidak langsung menjawab, “ngg, tidak jadi.”

Dasar aneh. Pikirku.

.. Sense of Your Presence..

 

“Kau siap?” tanya Minah. Aku mengangguk antusias.

Minah membuka penutup mataku.

Dan aku dibuat heran.

“Ini kan rumahku? Apa hadiah ulang tahunnya adalah ‘Pacarku repot-repot mengantarku pulang ke rumah’?”

Minah tertawa terpingkal. Dan aku masih tidak mengerti. Dia yang memberiku hadiah aneh kenapa dia juga yang tertawa?

“Bukan, chagi, aku cuma mau memberikan hadiah ulang tahunnya disini.”

Oh begitu rupanya.

“Ini dia! Bukalah!”

Minah memberiku sebuah kotak kado kecil, persegi panjang, warna merah hati. Aku membukanya. Aku semakin bingung, seberapa pun anehnya rencana Minah dan tempat-tempat tadi, hadiah ulang tahun inilah yang paling aneh.

Dia memberiku sebuah pena hitam dengan pita merah muda.

Iya, cuma pena biasa. Titik. Satu-satunya yang berbeda hanya pita merah muda yang menghiasinya.

“Ini, maksudnya?” tanyaku sedikit kecewa. Aku menatap Minah penuh selidik.

“Jangan berpikir yang tidak-tidak dulu, kau bahkan belum memegangnya, chagi” jawab Minah.

Aku masih tidak mengerti maksud Minah sampai aku memegang pena itu dan merasakan sesuatu yang berbeda.

Itu bukan pena, melainkan perekam suara berbentuk pena.

“Oke, kujelaskan semuanya dari awal.” Tutur Minah. “Pertama, aku membawamu ke tempat baso ikan itu intuk memberitahumu ciuman pertama kita yang sesungguhnya. Aku sudah perkirakan kalau kau akan ingat dengan mantan yang katamu lebih langsing dariku itu. Jadi aku memilih restoran ramen itu sebagai tempat kedua, karena disitulah kita pertama berkencan.”

“Lanjutkan,”

“Lalu lagi-lagi seperti perkiraanku kau marah ketika kalah makan pedas, jadi untuk memperbaiki suasana hatimu aku mengajakmu ke tempat yang paling kau sukai, Fitness Center langgananmu. Dan yang terakhir…”

“yang terakhir,” aku mengulang perkataannya.

“Yang terakhir adalah rumahmu karena sudah kuduga kita akan pulang cukup malam.”

“Iya, terus hadiah ini?”

Minah menghembuskan napas berat, “masa kau belum paham juga sih? Itu untuk merekam semua kejadian setiap hari dalam hidupmu, chagi

DEG

Minah benar-benar di luar dugaanku. Aku tidak pernah menyangka hadiah ulang tahun kedua puluh tigaku akan seperti ini.

Seindah ini.

“Tidak usah berterimakasih,” sahut Minah seakan tahu yang ingin kukatakan. “aku melakukan ini karena aku peduli padamu, Minhyuk. Memang benar, aku seringkali marah besar waktu kau mulai lupa lagi. Tapi belakangan ini aku paham kalau kau sendiri juga tidak menginginkan itu, aku paham kau tidak bermaksud mengecewakan mantan pacarmu itu –eh maksudku, ‘mantan-mantan’mu itu kan?”

Aku tergelak, “ya, kau benar.”

“Mereka seharusnya bisa mengerti keadaanmu.”

“Minah –ya, teri–”

“Ssst,” Minah meletakkan telunjuknya dibibirku –aku tidak tahu kenapa Minah suka melakukan ini, tapi sekali lagi, aku menikmatinya. “Sudah kubilang tidak usah berterimakasih. Lagipula aku belum selesai bicara, meskipun sampai sekarang  aku masih bertahan denganmu dan penyakit anehmu itu, aku tidak ingin kejadian-kejadian kau membuatku marah terulang lagi. Jadi aku memilih perekam suara ini, kau suka?”

Aku belum sempat menyahuti Minah ketika dia bilang, “omong-omong, aku merekam semua kejadian hari ini, mulai di toko tteokbokki sampai sekarang. Maksudku, perekam suaranya masih merekam sampai detik ini..”

Minah hampir saja meraih perekam suara itu dan mematikan tombolnya, aku berhasil mencegahnya.

“Tidak, chagi, jangan dulu. Aku masih ingin merekam sesuatu,”

Eung?” Minah mengernyit.

Aku tidak peduli entah itu Minah atau orang tuaku yang akan menganggapku terlalu terburu-buru, tapi aku harus mengatakannya sekarang.

Chagiya, ayo kita bertunangan!”

Minah terlihat terkejut mendengar ucapanku barusan, “tapi Minhyuk–”

Chu~

Aku tidak ingin mendengar jawaban ‘tapi Minhyuk bla bla bla…’ ataupun ‘apa tidak terlalu bla bla bla…’ dari Minah. Aku tidak tahu pasti alasan Minah bisa menerimaku dan melakukan hal secemerlang ini, entah itu karena dia adalah mahasiswa psikologi yang –mungkin– sudah biasa berkecimpung dengan orang aneh sepertiku atau apapun itu.

Yang kutahu, hari ini Minah membuatku tersadar bahwa aku bukan hanya mencintainya, tapi juga membutuhkannya untuk berada disisiku. Selalu disisiku.

Setelah ciuman itu, aku dan Minah membicarakan tentang rencana pertunangan kami dengan orang tuaku. Syukurlah Minah berhasil membantuku meyakinkan orang tuaku.

Kami sekarang berada di depan rumah Minah.

“Aku membutuhkanmu Minah, dan aku tidak akan buang-buang waktu untuk berpikir lagi. Kau sudah lihat sendiri kan?” kataku sebelum membiarkan Minah masuk ke rumahnya.

Dan dia membuatku terkejut,

karena dia tiba-tiba menciumku.

“Kau pikir cuma kau yang bisa mencuri?” teriak Minah sebelum akhirnya hilang dibalik pintu. Meninggalkanku yang masih linglung sendirian.

fin.

Kyaaa… aku akhirnya bisa bikin romance beneraann… ff ini buat Park Hagi yang udah komen ff debutku dan request ff minhyuk-minah. Ini dia ffnya.. maap ya, aku masih butuh belajar, maap juga kalo gak sesuai harapan atau ceritanya kurang ngena feelnya, aku udah berusaha sebaik mungkin,

Like, and comment please…

Afiah 98 line

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s