[Ficlet] Stop to Love

stop-to-love

Title: Stop To Love

Scriptwriter: Jelsaa

Main Cast: Jungkook [BTS], Yeonji [OC]

Support Cast: Yoomin [OC]

Genre: Angst, Hurt

Duration: Ficlet

Rating: PG-13

Poster by HyunleeaWP

Already post on Jelsaa Office

.

“Tak bisakah Tuhan menghapuskan dia dari hidupku?
Tak bisakah Tuhan melumpuhkan ingatankanku sejenak, saat bayangan itu datang menyimpang dalam detik di hidupku?

Lantas disatu sisi apa aku bisa berhenti mencintainya?”

______

Happy Reading^^

Senyumku terus mengembang sejak tungkai ini menjejakkan kaki di sekolah baruku. Yang dulunya sekolah

merupakan bencana bagiku. Namun kini menjadi anugerah sejak seseorang berhasil mencuri hatiku dengan mudah. Membuatku terus ingin berada di sebuah gedung bernamakan Seoul Of Performing Art ini. Yang rasanya mata ini ingin selalu memandangnya.

Memasuki bulan September musim yang kunantikan pun tiba. Yang dimana menjadi musim keberuntunganku. Daun-daun berubah warna orange kekuningan dan berguguran. Hembusan angin musim gugur memainkan surai hitamku. Namun, baru kali ini aku membolos karena sebuah alasan. Desingan rintik-rintik hujan samar terdengar, menyisakan genangan air dijalanan. Rasa dingin menggigit ke permukaan kulit kendati membuatku harus merapatkan mantel. Namun sesekali aku mendesah karena udara dingin pagi ini yang tak dapat dielakkan.

Aku memaksakan kedua tungkaiku berjalan diatas rintikan hujan yang jatuh ke permukaan bumi. Dingin kurasakan ketika angin menerpa wajahku. Burung-burung berkicau ria. Dedaunan jatuh berguguran. Kerlap-kerlip lampu jalanan seolah menjadi penghias jalanan kota Seoul yang khas. Semuanya terlihat sempurna nan indah. Namun tak seindah suasana hatiku. Seketika aku terhenti. Butiran bening mengalir di pelupuk mata. Aku terisak. Sepi menemaniku kini. Menyempurnakan suasana hatiku yang tengah dilanda badai angin. Pikiranku kacau.

“Agghhh!! Hentikan!!!”

Aku mengerang. Memukul-mukul kepalaku sembari duduk dengan menyandarkan kepala dipembatas besi jembatan. Memeluk lutut dan menenggelamkan kepalaku disana. Menahan isakan tangis yang perlahan semakin mengeras.

Bahagia, bingung, sedih, dingin dan sepi.

Semua bercampur menjadi satu.

Mencoba kuat. Aku mengepalkan tanganku erat. Mengangkat kepala dan menghapus air mataku gusar. Namun air mataku tiada henti mengalir. Aku terlalu sakit untuk berpura-pura kuat. Aku terlalu lemah untuk berpura-pura tersenyum. Yang kulakukan hanyalah bersandiwara dari balik semua kenyataan hidupku. Namun aku tak mampu lagi. Kini aku terlalu rapuh.

Nafasku terengah. Aku mendongak menatap langit gelap yang kini tengah menggambarkan perasaanku yang gelap gulita tanpa ada setitik cahaya yang meneranginya. Kurasakan tetes demi tetes air hujan terasa dingin menyentuh wajahku. Hujan turun seolah kuberair mata. Desau angin dengan lembut meniupkan namanya.

Jeon Jungkook

Rambut coklat gelap, perawakanan yang tinggi, kulit putih mulus, hidung bangir, bibir tipis, serta mata elangnya benar-benar tak dapat dipungkiri bahwa ia sangatlah tampan.

Dan sosok itu terus menghantui pikiranku. Bayang-bayangnya tak pernah luput dari hari-hariku. Membuatku risih akan hadirnya dalam hidupku yang menyulitkanku untuk melupakan kisah yang harusnya telah menjadi memori dalam tiap lembar hidupku.

Aku ingin dia pergi!

Pergi!

Pergi jauh dari hidupku!

Dan berkali-kali aku mengeluh. Karena terhenti dibatas senyumanmu.

Kusadari peluh dari semua perjuanganku sia-sia. Karena hati kecilku tak bisa dibohongi untuk tidak mencintainya.

Disudut relung hatiku yang membisu aku amat merindukanmu.
.

.

.

Kemarin kulihat awan membentuk wajahmu. Semalam, bulan sabit melengkungkan senyummu. Tabur bintang serupa kilau auramu. Akupun sadari lantas segera aku berlari.

Dan terjerumus dalam kenyataan pahit yang harus kuterima. Dingin dan sepi, mendekap tubuh ini membuatku merindu sosok itu. Rindu yang semakin lama membuatku takut. Takut tak dapat bisa melupakanmu.

Aku tak dapat berpangku lagi. Hingga aku lepas kendali. Terjerembab dalam kegelapan tanpa cahaya. Melalui hitam putih hidupku yang tanpa warna.

Kupercaya alam pun berbahasa. Ada makna dibalik pertanda. Apa ini semua merupakan pertanda yang harus kuakhiri? Aku lelah.

Selama tubuh ini masih mampu untuk bergerak. Selama aku masih bisa bernafas. Selama ini aku hanya mencintaimu dalam diamku. Mencintaimu lewat doa, yang kulantunkan di setiap hembusan nafas, bersamaan dengan hadirmu dihidupku.

Dalam hidupku, mata ini tiada henti memandangmu walaupun dengan jarak pandang jauh. Membuatku terbuai seketika akan senyumanmu.

Hadirmu membuatku jatuh terkurung dalam sebuah sangkar cintamu. Sadarkah dirimu akan seseorang yang menantikan sebentuk hati disini?

Tenanglah kasih, suatu saat kau tak perlu takut akan gelap karena ada terangnya cahaya yang menerangi harimu. Ketika mata ini tertutup. Aku, yang tak pernah kau lihat, aku ada disini. Menemanimu, mencintaimu dan ada bersamamu. Dalam tubuh seseorang yang kau cintai. Jantungku ada di sana. Bersama gadis yang kau cintai. Yang lantas akan mencintaimu dan selalu bersamamu. Walau dalam tubuh seseorang.

.

.

FINISH

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s