[Vignette] Childhood

childhood

­­­“Childhood”

Scriptwriter: innochanuw (ex-alfykmn) || Casts: Aleanna Lukin (OC/You), Park Jinyoung (GOT7) || Genre: Fluff?, !cheesy!, Romance?, friendship?!!, a little bit Comedy, and AU || Duration: Vignette || Rating: G || Summary: ada di poster:v (maaf atas tulisan summary gak kebaca, maaf posternya jelek banget:vvv)

.

.

.

.

.

NB: Btw aku gak bisa jelasin semua gimana kepribadian Alea disini –saking bacotnya dan hipebolanya kata-kataku kali ini jadi takut udah panjang makin panjang– pokoknya bayangin aja kaya anak kolot gitu taat peraturan kaya ‘kata ibuku blablabla gak boleh, kata nenekku blablabla’ yah pokoknya gitu deh, kalem anteng tenang, semuanya seperlunya –ketawa, senyum, becanda, ngomong– yang beda cuma Alea disini penampilannya gak kolot-kolot amat gak dikepang atau kacamata tebel sampe mau jatuh, penampilannya ya kaya cewek biasa gitu tapi natural gak ada baju ketat kependekkan dll dan mencoba jaga jarak sama lawan jenis biar sesuai kodrat (?) tapi zaman sekarang susah kan gitu jadi ya Alea palingan cuma dorong pelan ancem mukul dikit gak sampe ke rumah lawan jenis sendirian –plissss ini udah bocoran ff ini– udah lah yah udah kujelasin jadi baca dong bacaaaa /gggg

.

.

.

.

Untuk kesekian kalinya kedua bola matamu menyipit, memandang kotak pos di dekat pagar rumah dan pintu utama di depannya yang terlihat welcom-ing.

Kamu yakin pengelihatanmu masih sangat bagus jadi sekarang pasti kamu tak akan salah lihat tapi….kenapa Jinyoung membawamu kesini? Ke rumah dengan kotak pos bertuliskan ‘Park’s Family’?

Apa justru kedua bola mata teman sebangkumu yang lebih besar ini sudah rusak?

“Ah…..Aku lupa ya bilang padamu?” tanya Jin Young menepuk pundakmu, kamu pun menoleh dan mulai menatapnya yang terlihat berkilau berkat bulir-bulir keringat membasahi poni di atas alisnya dan ada beberapa yang sudah menetes di dagu lalu dengan sexynya mengalir melewati le–

Kamu menggelengkan kepalamu cepat. Dalam hati kamu merutuki fantasi liarmu yang seharusnya muncul saat-saat genting sepert terkena writer block begitu berhadapan dengan sang kekasih yang lain dan tak bukan hanyalah sebuah laptop keluaran lama.

“I-iya sepertinya atau mungkin aku lupa,” Kamu memiliki beberapa maksud tersendiri karena membalas pertanyaan Jin Young dengan cepat –bagimu itu cepat rasanya seperti kumur-kumur tapi bagi kalian tentunya tidak. Salah satunya agar pemuda tersebut tidak bisa menggunakan otak cerdasnya untuk mendeteksi kesalahanmu dalam satu jentikkan jari –kecuali kamu buru-buru menjawab untuk mengacaukan fokusnya.

Namun apa daya, kamu yang sudah berusaha semaksimal mungkin menggunakan kemampuan otakmu dengan cepat  –mungkin sekecepatan cahaya– dalam merangkai kata-kata bagus tetap saja memiliki celah disana sini. Salah satunya yah….gugup seperti tadi.

“Oh….” Pemuda jangkung tersebut hanya mengangguk sebentar seakan-akan nada gugup yang terlihat jelas di permukaan tadi hanyalah salah satu dari kebiasaanmu –atau mungkin lebih parah lagi dia tau kesalahanmu hanya terlalu malas bahkan pura-pura bodok. Kamu menghela nafas lega, sepertinya temanmu ini tengah berbaik hati dengan tidak me-

“Jadi hari ini kita mengerjakan tugas bahasa di rumahku. Maaf mendadak tapi tadi pagi memang ibuku baru bilang ia memasak besar-besaran karena kedatangan kakakku. Sekali lagi maaf ya.”

.

…….Apa sekarang kamu harus menarik kembali kata-katamu beserta helaan nafas lega tadi dan mulai ber-sweet drop ria?

****

Kamu nyaris saja menyeret menarik Jin Young keluar rumah, merengek, menangis atau melakukan apapun yang menghancurkan imagemu selama ini di depannya –tak peduli nanti akan diolok-olok oleh Park jerapah ini– untuk meminta diantar pulang secepatnya.

Atau kalau Jin Young menolak untuk mengantarmu, kamu tanpa pikir panjang akan berlari seperti orang gila –berjaga jaga jika saja Jin Young menahan tanganmu layaknya drama di televisi – beharap tidak tersesat dan selamat sampai rumahmu.

Berlebihan? Tidak, kamu bukanlah tipe seperti itu. Justru amat sangat wajar kamu memberikan respon seperti itu ketika kalian berdua sudah berdiri di depan meja makan keluarga Park dan Jin Young dengan santainya mengenalkanmu kepada seluruh anggota keluarganya seperti ini,

“Semuanya, perkenalkan ini temanku, Aleanna Lukin. Hari ini ia berkunjung kesini karena ada tugas bahasa, kami akan mengerjakannya mungkin di kamarku jadi tolong nanti jangan ada yang mengganggu ya.”

Sebenarnya pemuda dengan tinggi 178 cm ini mengatakannya seperti itu namun sepasang telingamu yang rasanya sudah kehilangan daya dengar sampai beberapa persen sejak menginjakkan kaki di rumah orang asing ini justru mendengarnya seperti:

“Semua anggota keluargaku ini adalah calon istriku. Hari ini dia akan tinggal disini dan tidur di kamarku jadi tolong nanti jangan ada yang menganggu ya.”

Terdengar terlalu percaya diri atau bahkan byuntae? Tidak juga karena sepertinya bukan hanya kamu disini yang berpikiran seperti itu, semua anggota keluarga Jin Young yang sudah duduk rapih di kursi masing-masing menatap kalian berdua seperti itu.

Sementara itu pelaku dari kesalahpahaman ini hanya mengedikkan bahu, menoleh ke arahmu lalu mengulum senyum manis. “Alea, kamu mau makan dulu di meja makan bersama kami semua, makan bersamaku di kamar, atau langsung mengerjakan tugas?”

Dan lagi-lagi, pemuda kelewat polos atau sengaja membuatmu melepaskan imagemu didepannya berbicara dengan nada ambigu lagi.

Kali ini kamu rasa, bukan hanya kamu saja yang ber-sweetdrop ria.

****

Sekedar untuk tata krama –dan tentu saja agar tidak ada persepsi aneh, akhirnya kamu memilih untuk ikut makan siang bersama keluarga Park, mengambil kursi kosong jauh dari apapun –entah dari Jin Young yang mulai menunjukkan ekspresi pura-pura bodoh polos yang sialnya menggemaskan atau seluruh anggota keluarganya yang menatapnya menggunakan laser, pengecualian untuk sang ayah.

Makan siang bersama keluarga yang selalu kau rasakan dengan bersuasana hangat dan santai –sekalipun itu bukan dengan keluargamu–berubah menjadi seperti saat ini, begitu kaku dan membuatmu merasa gerah karena merasa bokongmu sudah terasa pegal seperti sudah duduk selama berjam-jam.

Kamu buru-buru melirik ke arah Jin Young, meminta pertolongan ketika pemuda tersebut meneguk buru-buru gelas berisi air mieralnya sebelum membuka pelan katupan bibir tebal milik Jin Young yang berhasil mele-

“Makananmu sebentar lagi habis kan? Makananku juga sebentar lagi habis,” Kepalanya memutar lucu dari kiri-kanan-depan ke arah kursi-kursi dari pihak keluarganya. “Boleh kan aku melanjutkan makan sambil mengerjakan tugas di kamar bersama Alea?”

Entah mungkin karena Jin Young satu-satunya anak lelaki bungsu dari tiga bersaudara atau karena sikap polosnya yang kelewat manis hingga membuat keempat anggota keluarganya tersebut mengangguk serempak meskipun agak sedikit kaku.

Kamu yang awalnya berterimakasih atas sedikit bantuan dari pemuda dengan panggilan Jin Yongie ini kembali ber-sweet drop ria saat tangan kirimu ditarik begitu saja oleh Jinyoung yang ternyata sudah berdiri di sebelah kursimu.

Dengan gestur tak nyaman, kamu langsung berkata bahwa kamu harus meletakkan alat makan, gelas, dan piringmu ke dapur untuk membersihkannya karena sudah merasa kenyang seraya dengan berat hati melepaskan genggaman tangan Jin Young yang teasa hangat –iwh, berlebihan sekali. Mungkin efek karena dia lelaki kedua yang berkontak fisik denganmu setelah ayahmu.

Perkataan yang terdengar konyol memang tapi kalau itu mampu membuat aksi sweet drop riamu berhenti sejenak bukanlah hal yang harus dibesar-besarkan.

****

Kamu yang keluar dari dapur dengan langkah kelewat riang saat itu tengah membanggakan diri sendiri karena kebisaan kebiasanmu yang berkaitan dengan ‘rumah tangga’. Membanggakan diri kalau kebiasannmu mengurus rumah dengan amat sangat baik yang dianggap kuno oleh anak zaman sekarang bukanlah aib yang harus diolok-olok terus menerus ketika ekor matamu menangkap sebuah bingkai berkilau di dekat ruang tamu.

Kamu menghentikkan langkahmu, menatap dengan kedua mata yang kembali disipitkan untuk menilai sebagus atau seberharga apa foto itu sampai dibingkai oleh figuran mencolok.

Namun nihil. Yang kau lihat dari dapur sini hanyalah 10 pasang mata dengan titik hitam disana.

Akhirnya kamu pun menyerah untuk lebih merusak matamu dengan kembali merajut langkah lagi, mendekati bingkai foto yang dipajang di dinding.

“Ah…..kamu rupanya. Kukira siapa yang mendekati bingkai berharga itu.”

Kamu sontak terlonjak kaget ketika mendapati presensi seorang wanita paruh baya yang baru muncul setelah mengeluarkan suara. Dari sekian banyak sudut ruangan tamu yang lenggang, beliau malah memilih berhenti dan berdiri di sampingmu dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada.

“Eh….Ahjumma sedang apa disini? Bukannya setelah jam makan siang banyak acara bagus di televisi?” tanyamu berusaha tidak terlalu gugup –kalau perlu tidak usah ber-sweet drop ria untuk mengalihkan perhatian wanita yang mirip menurunkan hampir setiap lekukkan di wajah Jin Young.

Memang tingkahmu terlihat lebih memalukkan –bahkan sekarang ditambah sok tau dan sok asik daripada sebelumnya, tapi toh buat apa kamu peduli? Jika imagemu sudah terlihat lebih-dari-cukup-untuk-diusir-dari-sini-karena-begitu-mudah-sweetdrop, mungkin saja kalian berdua tidak akan mengerjakan tugas disini ini lagi meskipun ada acara besar yang mengharuskan akan kehadiran Jin Young. Lagipula kamu bukanlah siapa-siapanya jadi bersikap jaim pun tidak akan memberikan nilai berarti bagimu.

Oke, sepertinya kamu bukanlah gadis yang sepenuhnya kuno. Itu terlihat jelas sekali dari pemikiran bebasmu barusan tentang ‘bersikap seenaknya di depan orang yang bukan siapa-siapa sekalipun orang tua’. Pemikiran yang khas sekali untuk gadis-gadis nyetrik zaman sekarang yang kadang-kadang membuatmu benar-benar malu pemikiranmu kadang disamakan oleh mereka karena sama-sama masih remaja –alasan yang klasik.

“Hanya memandang kembali wajah keluargaku. Wahahaha, kalau dibandingkan dengan sekarang tentu sudah sangat berbeda. Apalagi anak-anakku. Bahkan Jin Young yang kupikir akan terus menjadi ‘baby’ sekarang sudah besar….sampai membawa teman wanitanya segala ckck,” Wanita yang dipanggl Ibu oleh Jin Young ini menggeleng pelan, membuatmu mau tak mau menelan air liurmu.

“….Padahal zamanku dulu gadis yang diajak ke rumah anak lelaki itu akan dinikahi, entah sekarang dianggap apa. Benar begitu bukan nona Lukin?”

“Oh em ya mungkin saja ah tidak belum tentu juga sih con–”

“Ah…Rupanya kamu disini bersama eomma….” Kamu terpaksa mengurungkan niatmu untuk sekedar gestur ancaman pukulan di bahu sang pemilik suara, Jin Young karena mengagetkanmu seperti kebiasaan kalian selama ini kalau saja tak ada ibunya di dekat kalian.

“Hah~Kamu ini membuatku khawatir saja, kupikir kamu sudah kabur karena diintrogasi,” Sepasang tungkai panjang Jin Young mengambil langkah lebar-lebar sehingga sekarang berdiri di antaramu dan ibunya dengan senyum tipisnya dan kedua tangannya yang memegang piring serta gelas berisi alat-alat makan miliknya tadi.

Senyumnya menghilang sebentar saat matanya menyipit. “Tapi eomma benar-benar tidak mengintrogasi Alea bukan?”

“Te-tentu saja tidak!” belamu dengan respon berlebihan. Kamu pun tertawa canggung untuk menutupi tingkahmu yang tiap waktu makin absurd saja sebelum melanjutkan perkataanmu.

“Aku sedang memandangi wajah keluargamu yang ada di bingkai ini saat bibi datang. Kami berbincang sedikit tentang masa kecilmu yang ternyata manis sekali, dan aku sedang mengungkapkan pendapatku yang kesal kenapa baru mengenalmu saat masuk SMA bukannya waktu kecil. Pasti kamu lebih ma-”

“Aku tidak mau.”

“Nah kan Jin Young pun–Ah apa? Kamu bilang apa tadi?” tanyamu takut salah dengar sekaligus menggunakan detik demi detik yang berharga untuk memikirkan kata-kata lain jika Jin Young mulai bersikap begitu polos sampai tidak bisa membantumu sekarang.

“Aku bilang aku tidak mau mengenalmu dari kecil,” ulang pemuda tersebut tanpa ekspresi namun perkataan sederhananya terdengar sarat akan nada kekesalan.

“Ah….Kenapa memangnya? Bukannya kamu sudah dipuji begitu terus?” tanyamu dan ibu Jin Young secara tak sengaja nyaris bersamaan. Suasana yang sudah canggung karena kesunyian dimana-mana makin canggung saat kalian berdua terbatuk, tertawa kecil, dan tersenyum canggung atau kaku secara bersamaan kembali.

Jin Young yang ternyata tak mengerti suasana dengan polosnya menjawab, “Kalau kenal sejak kecil nanti kita berdua akan dekat sebagai teman. Aku tak suka.”

“Tak suka kenapa? Bukankah itu bagus? Kalau kenal lebih lama kan kalian saling mengenal lebih jelas, Youngie…” sahut Ibu Jin Young dengan kening berkerut, terlihat tidak setuju sekali padahal ini hanyalah topik ringan yang kamu buat-buat.

“Kalau dari kecil sudah kenal dan dekat sebagai teman nanti saat remaja, akan susah menjadikan Alea sebagai pacarku, eomma,” jelas Jin Young seraya memajukkan sedikit bibirnya –bermaksud untuk melakukan pout sebelum melengos pergi begitu saja ke dapur, sama sekali tak peduli dengan sebab-akibat yang ditimbulkan atas perkataannya tadi.

Bibi Park sudah menatapmu dengan mata terbelak kaget bercampur tak percaya. Bunyi debaman saling bersautan dari dua pintu kamar terdekat yang memunculkan kedua gadis dari masing-masing pintu dengan kedua mata yang melotot dan mulut setengah terbuka.

Lain sisi dengan sang ayah yang dengan santainya muncul dari ruang perpustakaan, berjalan ke dapur lalu mengelus pelan kepala Jin Young seakan sudah memprediksi tingkah pemuda itu.

Dan tentu saja jangan lupakan dirimu yang membatu dengan seluruh darah naik ke atas, membentuk semburat merah di kedua pipimu.

“I-ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Ma-maksudku….PARK JIN YOUNG!!”

Suara tawa renyah disusul dengan perkataan seringan angin pun keluar dari bibir tebal Jin Young yang sedari tadi terus menerus membentuk lengkungan manis.

“Memang benar kok apa yang kalian pikirkan. Hanya saja aku tidak tau apa jawaban Alea~”

….Seharusnya kamu tau dari awal bahwa Jin Young tidak akan pernah bisa membantumu mempermudah masalah, justru ia-lah yang mempersulitnya.

END~~~~~

 

ngehehe~~sudah lama aku gak muncul dan malah muncul dengan ff gak tau ini apa (APA LAGI COVERNYA AMPUN DEH:” pake model di mv day6 lagi ((gamodal, gatau dan ganiat cari tau namanya udah kepepet),gambar posternya gaknyambungJ dannnnn gambar di webtoon dice dipake ((ini termasuk menyertakan kredit kan ya?:”)) kosakatanya gila-gilaan gak jelasnya. Thanks buat komik pelepas depresi menjelang UN yang bikin ff berumur setahun ini ada dan akhirnya diputuskan untuk dikirim sebagai opening kembalinya daku ke dunia ini (muup ya opening kedatangan saya yang sudah nightmare makin buruk aja karena ffnya kaya gini xD)

oh ya btw aku mau nyoba bikin cheesy pick up lines tapi masih mikir mikir tokohnya siapa. gak jauh jauh sih paling paling kalo gak ada got7, ikon aja lagi project biasku disekitar situ semua gak pindah pindah  kepengennya gitu dannnn gak tau bakalan straight atau….😄😄 gak kokkk palingan bikin dua versi kalo temanya itu kusuka banget (makasih banyak masa sma awal yang bikin stress tapi diem diem ada inspirasi /yahcurcol)

ehhh maaf seriusan banyak bacot banget gila. Author tetap aja bukan freelance banyak fans aja ffnya banyak difav aja bukan tapi gaya gede sok-sok-an banget padahal hanyalah author yang sepertinya gak pantes dipanggil author yang kirim ff yang cuma seiprit gak bermutu kemanapun jadi yahh ff disini gak perlu jari banyak banyak buat ngitung:”) (maaf kan daku yang gak nyadar diri dengan masih aja minta dipublish disini ya:”)

Aku yakin disini banyak yan skip curhatan daku karena gak penting banget (plus dulu sering banget aku baca ff dan skip curhatan authornya so karma pasti exist bangetJ sekarang sih baca ff aja gak pernah lagi apalagi bikin HAHA)

Maaf banget maklumin aja kosakata ambruadul, bener-bener kaya orang sok-sokkan nongol di ifk biar ngehitz karena gak pernah komen lagiL dan gak tau soal perubahan dunia per-ff-an disini –daku kudet banget serius fangirl aja udah jaranggg banget

udah ah ya aku akhiri aja (alig satu halaman penuh curcol gak jelas paling pada skip semua gakada yang baca, pusing pusing deh tuh kepala:v) wkwkwk makasih buat yang udah baca. Ini ff pertama setelah berhasil bangkit dari kubur jadi aku menghargai banget apresiasi kalian dalam bentuk apapun (plus ini ff yang kusayang banget gak tau kenapa, konsep atau jin young ya mungkin /yesss) maaf banget buat kosakata, typo, hiper dimana-mana yang bikin mata kamu sakit. Aku sayang banget sama ff ini sampe gak tega ngedit (sekalian gak ada waktu HEHE) dan jadilah kaya giniL tapi beneran makasih banyak ya!! Paipai~!!

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s