Rumpled, Hole, Bamboo [2: Hole]

Rumpled, Hole, Bamboo

Rumpled, hole, bamboo.

Hole

Crystbellzinski’s plot

Cast: Oh Sehun (EXO) OOC, Park Seul (ulzzang) | Genre: Romance, Slice of life | Type: Vignette| Rating: G

PROLOGUE // RUMPLED

“Aku terjeblos ke dalam lubang.”

Seul bergemetaran, sekujur tubuhnya keluar keringat dingin ketakutan. Sehun merasakan Seul bergetar seperti orang mengigil, ia mempererat pelukannya. Kepanikan Seul terlihat pada matanya yang terbuka namun tampak tidak sedang melihat sesuatu. Sehun mendekap kepala Seul ke dada bidangnya. Ia begitu khawatir pada Seul. Dia ingin menenangkannya. Sehun juga bergemetar tapi, bukan karena lift yang bergoyang, dia gemetaran ketika melihat raut wajah ketakutan dan air mata Seul yang mengalir. Sehun akan berusaha sebaik mungkin agar dia tidak melihat air mata pada Seul. Dan dia usahakan Seul selalu bersamanya saat ketakutan. Tidak terbayangkan jika saat kejadian ini Sehun tidak ada di dekatnya. Jantungnya bertabuh setiap kali mencoba membayangkannya, hanya dengan mencobanya saja Sehun merasa ketakutan bukan main. Ada rasa keinginan yang kuat untuk selalu ada didekat Seul. Sehun mempertambah eratan pada pelukannya.

Haaatchiim!

Suara bersin Seul membuyarkan lamunan Sehun, mengendurkan pelukannya. Seul menengadahkan kepalanya. Ia memperhatikannya, Seul menjemput warna hezel indah dari mata Sehun.

“Sudah baikan?”

Seul mengangguk.

Bau amis tubuhnya, Sehun berdeham. Dia mundur, memberi jarak sekaligus memberi ruang udara, kalau-kalau Seul sesak dengan aroma anyir tubuhnya. Sehun berdiri, lift agak goyang lagi. Tapi kali ini Seul tidak setakut sebelumnya. Sehun menatap tembus kedalam lubang, matanya tertuju pada pintu lantai tiga yang masih terbuka dan masih tanpa kehadiran bala bantuan.

“Sepertinya ada kesalahan, entah karet penahan yang terlepas atau karetnya sudah haus dan tidak bisa berfungsi dengan benar,” usai berucap, tatapannya kembali tertuju pada Seul yang masih menatapnya tanpa kedipan dan tanpa suara. Sehun berjongkok, mendekatinya.

“Kau aman bersamaku nona,”

“Aku tahu.” Jawaban dari bibir penuh Seul serasa seperti setrum didada Sehun. Jantungnya memompa lebih kencang, aliran darah serasa mengalir dengan kekuatan turbo keseluruh bagian tubuhnya. Suara detak jantungnya seolah-olah tembus melewati tulang rusuk, daging dan kulitnya. Dua patah kata yang membuat kehebohan besar-besaran didalam tubuhnya.

“Bantuan akan segera datang,” ujarnya yang diselingi dengan desahan. Jantung yang berdetak kencang membuat dirinya kesulitan mengatur nafasnya.

Seul memberi senyuman.

Tungkai-tungkai kakinya melemas, Sehun memilih duduk, dia lemah untuk bisa berjongkok lagi. Dirinya sendiri tidak tahu perubahan apa yang terjadi pada tubuhnya. Sehun meneguk ludah.

“Kemejamu sudah tidak kusut lagi,” kini Seul yang berusaha memperjernih suasana.

Sehun mendengus, “ini kemeja seragamku, aku berterima kasih pada perusahaan yang mempunyai pelayanan laundry untuk kemeja seragam karyawannya.”

Ia melirik pada Seul, “tapi aku masih berbau amis ‘kan,”

Seul berkikikan, “iya,” tawanya semakin lama semakin pecah. “Maafkan aku, yang suka tiba-tiba bersin,” Sehun melongo menatapnya. “Hidungku suka rewel,” gelak tawanya semakin menjadi. Lift bergoyang sedikit. Sehun siap-siap mendekati Seul, untuk memeluknya. Seul mencoba menghentikan tawanya. Ia menyeka matanya yang mengeluarkan air mata karena tawa.

“Maafkan aku ya, aku sendiri merasa lucu kenapa suka sekali bersin belakangan ini. Mungkin kamu berbau amis tapi, saat dekat denganmu aku sama sekali tidak mencium bau amis yang buruk.” Seul membubuhi dengan senyuman.

Lift bergoyang. Sehun siaga. Ia menyuruh Seul berpegangan pada besi sementara dirinya berdiri mengamati sekitar dan lubang di atap lift. Lift bergerak kebawah. Tidak kencang, ini lebih kearah halus?

Mendadak lift berhenti. “Tekan tombol buka-pintu-lift,” suara dari pengeras suara pada papan tombol. Sehun mengikuti instruksi. Pintu terbuka. Si teman dan beberapa orang yang terdiri dari penjaga gedung, pegawai kantor, hingga asisten Seul bergerumul di depan pintu. Sehun menjemput Seul yang tersenyum lega. Mengantarnya pada orang-orang yang menyanginya dan memgkhawatirkannya. Seul mengengam jemari Sehun tanpa rasa jengah, dan geli pada seseorang sepertinya. Lelaki dengan ikat pinggang bambu. Bau amis tubuhnya sudah bukan masalah. Seul berkata baunya tidak buruk.

Sehun diberi informasi dari teman satu bagiannya. Mereka bilang; kesalahannya pada karet yang ada dibagian bawah tabung lift, dan tadi sudah di perbaiki. Ia melirik pada Seul, oh god! Seul menatapnya dengan senyumannya. Ia membalasnya tanpa disadari. Saat sedang asik, si teman menepuk pundaknya.

“Pergilah cari udara segar, kamu pasti baru pertama kali mengalaminya. Nanti kita lanjutkan lagi kerjanya,” Sehun melongo, dan mengiyakan saja. Ia memandang kedepan, tepat didepannya Seul sedang berjalan menuju sebuah ruangan sambil berbincang.

Saat melewatinya Sehun mendengar obrolan mereka sedikit.

“Nona Seul, kau pasti masih tergoncang ‘kan. Karena nona takut dengan ketinggian.”

“Tidak-tidak, sama sekali aku tidak merasakan itu. Aku sudah cukup terhibur.” Seul tertawa renyah. Sehun berlangkah ringan saat bersisian dengan Seul. Keduanya saling melirik melewati ekor matanya. Mereka berpisah didepan pintu ruangan istirahat Seul.

Selepas istirahat semuanya melanjutkan pekerjaan masing-masing. Sehun masih punya sisa semangatnya untuk hari kerja pertamanya. Saling bertemu dua hari berturut-turut sejak pertemuan pertama mereka. Membuat Seul semakin hafal dengan semua hal yang Sehun punya. Pria jangkung dengan rambut peraknya. Mata hezel yang begitu tajam dan satu lagi yang mampu menyetrum dirinya yakni senyum menawan Sehun yang terbaik sejagat raya ini.

Semburat jingga mulai menembus celah-celah tirai disetiap jendela kaca yang ada di gedung berlantai lima belas ini. Beberapa ruangan sudah kosong dari pekerjanya. Hanya menyisakan satu-dua orang didalamnya. Waktu kerja hari ini telah kadaluwarsa. Bulan agustus, bulan yang memberi keringanan. Ringan karena semua orang tidak perlu membawa perbekalan alat penangkal air hujan.

Seul keluar dari ruangan. Niatnya ingin pakai tangga darurat saja untuk turun ke lantai dasar. Lagipula hitung-hitung olahraga. Masih tersisa sedikit rasa ketakutannya saat di dalam lift tadi pagi. Seul mendekati pintu tangga darurat di sebelah lift terakhir.

Eh! Langkahnya terhenti ketika Sehun muncul keluar dari pintu. Dan ketika sudah diluar ia mengunci pintu itu. Dari nada siulan yang terdengar sepertinya Sehun tidak menyadari ada orang lain selain dirinya. Dia baru menyadari setelah memencet tombol lift lalu berjalan mendekati pintu lift. Keduanya sama-sama berubah jadi patung. Cukup lama sampai akhirnya Sehun mengambil alih, menarik nafas panjang dan menyapanya lebih dahulu.

“Sore nona,” Sehun membungkuk memberi salam.

Seul mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum membalas salam.

Pintu lift terbuka, Sehun mempersilahkannya masuk, ia mengalah padanya. Seul menurut. Keduanya kini berada didalam satu lift, lagi. Sehun menekan tombol lantai yang dituju, saat menengok ke arah Seul. Dia mengembangkan senyuman. Seul sangat menempel pada dinding lift. Tangannya berpegangan kencang pada besi pegangan. Sehun mendekati. Ia menyentuh telapak tangan Seul, menggengamnya. Ia juga mengambil alih mata Seul yang terus-terusan mendongak ke atap menjadi menatap mata hezel tajamnya.

“Ada aku, aku disini.” Ucapan yang sama persis saat Sehun mencoba menenangkan dirinya tadi pagi. Sekilas ingatannya soal tadi pagi bermunculan di pikirannya. Seul mendekap tubuh Sehun dengan cepat. Sehun terkejut.

“A-aku..”

“Tolong lindungi aku Sehun,” ucapnya dengan kepala yang tenggelam di dada Sehun.

Setelah mendengarnya Sehun balas mendekapnya. Ia merasakannya degub jantung Seul yang tidak beraturan, pasti kejadian tadi pagi menyisakan sedikit trauma.

“Tenang saja, ini aku.” Sehun mengangkat wajah wanita mungil yang berada dalam dekapannya, akhirnya mereka saling senyum. Namun Seul masih belum mau melepaskan dekapannya pada Sehun.

Sehun berdeham pelan, “masalahnya, sekarang aku sedang memakai kemeja kusutku yang dilapis dengan jas berlubang disiku, dan aku masih berbau amis.”

Seul memandang Sehun yang sedang merasa malu, alisnya yang berkerut khawatir. Seul menjelajahi bagian tubuh Sehun yang tidak tertutupi olehnya. Detik berikutnya ia mempererat dekapannya pada Sehun.

“Semuanya tidak ada masalah,” suara Seul sedikit meredam karena kepalanya ia telungkupkan lagi ke dada pria berambut perak. Sehun terkekeh, ia mengusap rambut Seul yang berwarna coklat kemerahan. “Yang kutahu, kamu penyelamatku.”

Haatchiiim!

Sehun kali ini benar-benar melepas dekapannya, ia agak mendorong Seul. Ia memperhatikannya. Ia khawatir Seul terkena penyakit atau virus semacamnya. Namun kekhawatiran itu menguap di detik berikutnya. Seul tertawa lepas membuat tawanya juga ikut mengalir. Seul bersin ketigakalinya karena bau menusuk hidungnya yang sensitif. Sehun memposisikan Seul disampingnya tidak jauh, ini benar-benar disampingnya agar ia mampu mendekap bahu Seul. Begini saja, lebih baik. Seul tidak menolak.

Sesampainya dilantai dasar. Sehun memberi hormat. Tapi tidak dibalas dengan Seul.

“Kita berpisah disini?” Lalu keduanya saling diam setelah Seul mengatakannya.

“Lebih baik begitu,” Sehun menghela nafas. “Aku duluan.” Ia melewatinya, dengan beban yang tersirat di alisnya yang datar dengan mata yang menggambarkan kepedihan. Seul dalam kegemingan ditempatnya.

Entah mengapa, Sehun seperti merasakan ada lubang besar saat meninggalkan Seul disana. Lubang yang membuatnya perih. Lubang yang tak kasat mata namun begitu dirasakannya saat Seul menjauh dari tatapannya. Saat Seul tidak bisa lagi disentuh olehnya. Saat suara rendah Seul tidak lagi didengar oleh Sehun. Pemuda berumur tujuh belas tahun itu berjalan menjauh sambil memperbaiki dirinya yang mempunyai lubang, kerinduan.

Tbc

Apa ada yang punya BAMBOO?

2 thoughts on “Rumpled, Hole, Bamboo [2: Hole]”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s