[Vignette] Yours, Mine.

ym-1

a movie by tsukiyamarisa

starring [SEVENTEEN] Jeon Wonwoo genre AU, Life, slight!Surrealism, slight!Family duration Vignette rating 17

written for promptParallelat Open Prompt – Our Subjects

.


Parallel: always the same distance apart and never touching


.

.

.

 

Jeon Wonwoo punya satu kelebihan unik.

Semuanya akan dimulai kala ia memejamkan mata, memasrahkan diri pada kelam yang mengambil alih. Menunggu sampai kesadarannya pudar, sampai ia terbawa ke suatu tempat yang semu dan penuh imajinasi. Orang-orang normal menyebutnya sebagai dunia mimpi; tetapi sayangnya, Jeon Wonwoo tidak masuk ke dalam golongan normal.

Wonwoo menyebut dunia yang hadir dalam lelapnya sebagai dunia paralel.

Kala itu umurnya tujuh belas; orangtuanya baru saja bercerai, ia dipaksa tinggal dengan sang ibu, dan ia menjadi lebih pendiam dari biasanya. Wonwoo amat benci hidupnya pada titik itu, pada masa ketika segalanya terlihat berantakan dan tak bisa kembali seperti semula. Yang ia dengar hanyalah teriakan dan perdebatan, hasil argumen ibunya dengan sang kepala keluarga soal uang. Mereka sudah berpisah, tetapi ibunya masih mengeluhkan perkara pembagian harta hampir setiap hari.

Sederhana saja, Wonwoo tidak ingin hidup yang seperti ini.

Ia tidak mau, tetapi ia juga tidak bisa berbuat banyak. Anak sekolah seperti dirinya bisa apa, memang? Kabur dari rumah? Oh, Wonwoo berulang kali mempertimbangkan ide tersebut. Berpikir untuk mengepak baju-baju dan bukunya, diam-diam menyelinap pergi dengan tas besar dan harapan akan kebahagiaan. Tetapi, Wonwoo bukan anak bodoh.

Tak peduli seberapa pun menariknya ide itu, Wonwoo tak pernah melakukannya. Ia tahu kalau dirinya tidak akan bahagia di luar sana—tidak dengan uang minim, beban tugas sekolah, serta pribadinya yang cenderung bungkam dan enggan minta tolong. Wonwoo belum cukup dewasa; dan kendati hal itu membuatnya sebal, ia terpaksa harus mengakui bahwa ia hanyalah seorang pengecut.

Maka, yang bisa ia lakukan hanyalah berandai-andai. Biarkan angan melambung tinggi, pun izinkan mimpi-mimpi indahnya untuk mengisi benak. Terus seperti itu, sampai suatu hari…

…ia menyadari bahwa mimpinya terlalu nyata untuk dianggap sebagai bunga tidur semata.

.

.

.

Dunia Jeon Wonwoo yang lain itu menyenangkan.

Dari sekian banyak adegan yang hadir silih berganti, Wonwoo paling ingat dengan yang satu ini. Saat ketika ia menyaksikan Jeon Wonwoo di dunia paralel pulang dari sekolah, memasuki rumahnya yang terlihat megah dan indah. Bangunan itu bertingkat dua, dengan cat krem dan putih, pintu-pintu kayu berpelitur, jendela besar, dan sebuah taman di halaman depan. Sebuah kemewahan yang tak akan dimiliki oleh Wonwoo yang lain, serta fakta bahwa Wonwoo-si-anak-dunia-paralel memiliki keluarga yang masih utuh.

“Ibu?”

Tak ada jawaban.

Pada jam-jam sore seperti ini, rumah itu sepi. Ibu dan ayah Wonwoo di dunia sana selalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing, dan mereka baru akan pulang saat malam sudah larut. Tetapi, rumah itu tidak membosankan. Wonwoo-dunia-paralel punya berbagai macam alat elektronik dan hiburan di kamarnya, juga makanan enak yang selalu tersedia di kulkas dan bisa diambil kapan pun ia mau. Sungguh kontras dengan Jeon Wonwoo yang hanya bisa diam mengamati, menyerap semua detail sembari sibuk membanding-bandingkan.

Wonwoo iri.

Dan pada saat-saat seperti itulah, ia berharap agar kehidupan mereka bisa ditukar.

.

.

.

Di lain waktu, ia ingin bertukar kehidupan lantaran Wonwoo-dunia-paralel punya banyak teman.

Tumbuh dengan kondisi seadanya, Wonwoo tidak pernah punya kepercayaan diri yang cukup untuk bergaul dengan anak-anak yang dianggap keren di sekolah. Mereka yang punya orangtua kaya, prestasi gemilang, ramah dan dikenali para guru, atau sekadar aktif di berbagai ekstrakurikuler. Toh, ia juga tidak memenuhi barang satu pun kriteria di atas. Ia hanyalah lelaki biasa—nilai pas-pasan, tidak suka berbicara, dan terlalu enggan bergabung dalam kegiatan yang menuntut banyak interaksi sosial.

Lagi pula, Wonwoo juga merasa nyaman-nyaman saja dengan hidupnya dulu.

Yeah, dulu.

Karena sekarang, setelah ia melihat bagaimana kembarannya bergaul dengan anak-anak keren itu, ia menginginkannya.

Ia ingin pergi ke mall walau untuk sekadar bermain di arcade atau duduk-duduk di cafe. Ia ingin bisa tertawa-tawa bebas dan digilai oleh para gadis yang mengenalnya dari kegiatan klub. Ia ingin punya uang cukup untuk membeli rokok atau sekaleng bir, mencobanya barang sedikit sembari menertawakan peraturan. Ah, betapa Jeon Wonwoo ingin semua itu—sebuah masa muda yang kelihatannya akan menarik untuk diceritakan ulang.

Sayang, sekali lagi, realita harus datang menghampirinya.

Pagi telah tiba, dan tak peduli apakah ia mau atau tidak, ia tak akan bisa memiliki hidup seperti Jeon Wonwoo di dunia paralel sana.

.

.

.

“Wonwoo-ya.

Malas-malasan ia mendongak, menggigit roti banyak-banyak sebelum meneguk susu langsung dari kotak kartonnya. Manik terarah pada sang Ibu yang terlihat lelah, tetapi ada seulas senyum di sana yang sukses membuat alis Wonwoo terangkat sedikit.

“Ayahmu akhirnya setuju untuk membagi harta keluarga kita sama besar,” ucap ibunya tanpa menunggu balasan, selagi Wonwoo hanya bisa memasang tampang datar. “Kita bisa hidup sedikit lebih nyaman setelah ini dan—“

“Aku berangkat dulu.”

“Wonwoo-ya, kamu tahu bukan, alasan kenapa Ibu memilih untuk berpisah dengan A—“

“Aku berangkat,” potong Wonwoo lagi, menyambar tasnya tanpa repot-repot berpamitan. Tidak menoleh, tidak pula merasakan kebahagiaan atas kabar tadi. Bagaimana bisa ia tersenyum lebar, ketika potongan-potongan kejadian Wonwoo-dunia-paralel semalam makin mengusiknya?

Oh, Wonwoo yang itu pasti tidak akan membuka hari dengan konversasi macam tadi, ‘kan?

Lelaki itu sudah melihat bagaimana Wonwoo-dunia-paralel senantiasa menghabiskan sarapannya seorang diri, tanpa ditemani celotehan tak bermutu atau obrolan yang memancing amarah. Ia bahkan tak perlu berangkat sekolah pagi-pagi, tak perlu pula menggunakannya sebagai alasan untuk menunda percakapan. Wonwoo yang itu begitu bebas dan tak punya beban, sampai-sampai mengerjakan tugas sekolah satu jam sebelum deadline pun adalah hal yang wajar baginya.

Melangkah perlahan menuju halte, Wonwoo berusaha mengingat bagaimana hari-hari di dunia paralel itu berjalan. Sudah hampir dua bulan sejak ia datang berkunjung dan mengintip dunia itu, melihat orang-orang yang ia kenal menjalani garis hidup yang berbeda. Tak terkecuali dengan dirinya, yang jelas-jelas lebih bahagia dan serba berkecukupan. Tidak adil, begitu batinnya selalu berkata, karena bagaimana bisa Wonwoo-dunia-paralel punya segala macam kesenangan sementara ia harus menanggung semua penderitaan?

Adakah kiranya kemungkinan bagi mereka untuk bertukar hidup?

Atau mungkin, sesuai dengan namanya, hidup mereka tidak akan pernah bersinggungan?

Sejauh yang Wonwoo tahu, dunia itu memang paralel dengan dunia miliknya. Serupa, tetapi tidak sama. Kedua dunia itu berjalan dengan cara mereka masing-masing, tidak akan pernah bertemu kendati Wonwoo berharap dan berdoa hingga semalam suntuk. Alih-alih menjalani hidup seperti Wonwoo-dunia-paralel, Wonwoo yang ini hanya bisa merutuk dan tenggelam akan rasa iri. Mempertanyakan eksistensinya, juga mencari-cari cara agar ia bisa—paling tidak—memiliki hidup yang mendekati Wonwoo-dunia-paralel.

Tetapi…

…bisakah itu terjadi?

.

.

.

Jawabannya: tidak.

Seharusnya ini sudah bisa Wonwoo duga, mengingat nama dari dunia itu sendiri. Paralel; bagai dua garis lurus yang selamanya tidak akan bertemu, menempuh jalan masing-masing tanpa niat bersinggungan. Malah, Wonwoo harusnya bersyukur karena garis paralel itu tidak ditakdirkan untuk bersentuhan.

Dua minggu lagi telah berlalu, dan kejadian itu muncul dalam mimpi Wonwoo ketika yang bersangkutan terlelap di ruang kesehatan. Beralasan bahwa ia sedang tidak enak badan, kendati sebenarnya ia hanya sedikit pusing karena kurang tidur. Maka, ia pun memilih untuk menghabiskan dua jam pelajaran Matematika dengan kabur kemari, tanpa tahu bahwa mimpi buruklah yang menanti.

Untuk pertama dan terakhir kalinya, ia melihat sisi gelap dari Wonwoo-dunia-paralel.

Entah bagaimana cara keahlian milik Wonwoo dan waktu bekerja; tetapi selama ini, ia hanya berkesempatan untuk melihat hal-hal bahagia dari kehidupan Jeon Wonwoo yang lain. Hal-hal yang ia mimpikan, yang ia harap untuk ia miliki tanpa tahu harga dibalik semua itu.

Karena sesungguhnya, Jeon Wonwoo dari dunia paralel itu kesepian.

Ia sendirian, meskipun dari luar, ia terlihat memiliki keluarga yang utuh dan kaya. Ia memang punya segalanya, namun ia tak pernah merasa dicintai lantaran sang ayah lebih suka memukulinya tiap mereka bertemu. Ia suka bersenang-senang dan berpesta, semata-mata karena ia butuh mencecap bahagia di tengah kejamnya dunia. Ia melanggar banyak aturan, lantaran hanya cara itulah yang membuat ia merasa punya kontrol atas hidupnya. Ia juga punya banyak teman, tetapi apa gunanya teman yang hanya datang demi status dan kepopuleran?

Iya, Jeon Wonwoo yang itu memang terlihat sempurna.

Tetapi, orang sempurna macam mana yang akan berakhir menyayat nadi sendiri dan membuat bak mandinya dinodai bunga-bunga kemerahan?

.

.

.

Wonwoo terbangun dengan jantung berdegup tak keruan.

Keringat membasahi dahi dan kemeja seragamnya, selagi ia lekas-lekas berderap keluar dari ruang kesehatan. Untunglah jam sekolah telah usai, sehingga ia bisa mengambil tasnya di kelas dan buru-buru berlari pulang. Isi otaknya kacau balau, berebutan menyodorkan realita dunia paralel hingga Wonwoo tak bisa pura-pura abai.

Yah, bagaimana ia mau bersikap tak acuh, kalau seluruh tubuhnya masih gemetaran akibat kejadian itu?

Ini mungkin klise, tetapi sembari menyusuri jalan menuju rumahnya, Wonwoo tak henti-henti menyesali permohonan yang telah ia buat. Untuk bertukar dunia, untuk menjalani hidup seperti Wonwoo-dunia-paralel. Oh, tidak, tidak. Wonwoo tak lagi ingin hidup yang seperti itu. Ia tidak mau mati, ia masih ingin mengubah jalan hidupnya sendiri, dan—

“Wonwoo-ya? Kenapa berlarian begitu?”

Mengangkat kepala, Wonwoo melihat ibunya yang tengah membuka pintu rumah. Tas berisi belanjaan di satu tangan, sedikit kebingungan kala ia melihat putranya terengah-engah. Kuriositas itu bertambah ketika Wonwoo tahu-tahu menatapnya lekat, menggumamkan satu pertanyaan yang tak pernah disangka sebelumnya.

“K-kenapa… kenapa ibu dan ayah berpisah?”

Mungkin ini aneh, tetapi Wonwoo merasa perlu untuk membicarakannya. Ia ingin tahu semua alasan; ia butuh pembuktian bahwa hidupnya tidak akan sehancur Wonwoo-dunia-paralel. Ia harus tahu apakah ayahnya di dunia ini….

“Kamu yakin, Nak?”

“Beritahu saja aku alasannya, Bu. Apakah Ayah….”

“Ayahmu berselingkuh,” ucap sang ibu perlahan, tegas tapi tanpa keraguan. Wanita itu kini mendorong pintu rumah sempit mereka hingga terbuka, mengajak Wonwoo untuk masuk sebelum menambahkan, “dan ia sempat memukulku sekali. Kupikir, akan lebih baik jika aku bercerai saja. Demi kebaikanmu.”

“Kebaikanku?”

Jeda sejenak, selagi ibu Wonwoo meletakkan belanjaannya ke atas meja. Beranjak ke sebuah lemari, lantas mengeluarkan sebuah amplop dari sana.

“Aku tidak ingin kamu tumbuh besar di bawah pengawasan lelaki seperti itu,” lanjut ibunya, menyodorkan amplop tersebut ke hadapan Wonwoo. “Dan alasan mengapa Ibu berjuang keras mendapatkan pembagian harta yang adil adalah kamu. Uang ini untukmu, Wonwoo. Agar kamu bisa lulus sekolah dan punya hidup yang lebih baik.”

Bohong kalau Wonwoo tidak merasa dadanya makin sesak, matanya memanas, dan kedua lututnya melemas. Hanya rutukan ‘bodoh’ dan ‘payah’ yang bisa ia berikan pada diri sendiri, juga ucapan ‘terima kasih’ singkat tatkala sang ibu menepuk-nepuk punggungnya. Setelah itu, lidahnya kelu. Terlalu malu untuk mendebat atau berargumen, lantaran sebuah kesadaran baru saja menyelusup masuk ke dalam benaknya.

Hidupnya mungkin tidak sempurna, dan tidak akan pernah sempurna sampai kapan pun juga.

Tetapi, ini hidupnya.

Hidup milik Jeon Wonwoo.

Dan sampai kapan pun juga….

.

.

.

ia tak akan mau menukarnya dengan hidup Jeon Wonwoo yang lain.

.

fin.

Ditulis untuk open-prompt seperti yang sudah dicantumkan di atas, jadi bagi yang berminat atau butuh bahan menulis, silakan berkunjung, ya!

And reviews are expected! Thank you!❤

4 thoughts on “[Vignette] Yours, Mine.”

  1. AMEEER AKU MERINDING SUMPAH BEEEUUHHHH ><
    Mendadak jadi inget pernah cerita sama Amer mau bikin fic serupa beginian /ditampol berjamaah/
    Tapi yang namanya hidup di dunia pararel (?) kan yha semuanya mesti kebalik /sama kayak otak lu Rin/ /ditendang/

    Tapi serius aku bacanya merinding aaaaaakkkkkkkk keceeeeeeeeee 👍👍👍
    Jadi pengen punya kekuatan kayak Wonwu /GA/
    Keep writing tsukiyamarisa-nim ❤

    Suka

  2. Hai kak Author fav aku dari dulu(?) Aku baca ini awalnya sih karena udah lama gak baca fanfic, sama tertarik juga sama judulnya. Tapi pas baca… eh sumpah merinding, keren banget. Jadi Wonwoo-pararel tuh bisa jadi masa depannya Wonwoo asli kalo orang tua nya gak cerai atau kalo dia tinggal sama ayahnya ya? Pokoknya satu kata deh “k e r e n”

    Suka

  3. kak, aku mau buat pernyataan. pernyataan kalau kakak adalah author favoritku ><

    aku suka banget ff jenis beginian, apalagi tentang dunia paralel.
    duh, bingung mau bilang apalagi, pokoknya semangat terus buat kakak

    Elisa, 00L🙂

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s