[Playlist-Fic] #4: Wrong Wish

wrong wish

a playlist-fic by Jung Sangneul

// Wrong Wish //

Starring: [Lovelyz] Mijoo & [BTS] Seokjin || Genre: Family, Fantasy, Life, AU || Length: Ficlet || Rating: PG-15

Track #4: 5 Seconds of Summer – Broken Home

 

Yang ingin kutanyakan hanya: kapan semua ini berakhir.

***

                Usiaku masih dua belas ketika aku harus mendengar teriakan-teriakan itu. Tanpa diminta, tanganku segera bergerak untuk menutup telingaku sendiri. Saking takutnya ketika mendengarnya, aku bersembunyi di bawah meja belajarku. Meski debu membuatku bersin satu-dua kali, aku tidak peduli.

Suara-suara kegaduhan akibat barang-barang yang dilempar sampai pecah masih dapat tertangkap telingaku. Terpaksa kurapatkan tanganku ke telinga, sementara tetes air mataku berjatuhan. Tak bisa kupungkiri, ketakutan meyelubungiku.

Please stop it,” bisikku pelan.

Saat itulah, pertama kalinya aku melihat sosok itu.

Dia merangkak di dekat jendela, kemudian mendekat. Alih-alih takut, aku malah penasaran siapa lelaki itu. Ya, dia lelaki. Rambutnya hitam, memakai sweater abu-abu putih, namun sekujur tubuhnya dikelilingi cahaya. Aku mengernyit melihatnya, tapi dia justru tersenyum.

Hello, Princess,” sapanya ramah. Tangannya terulur padaku, membantuku berdiri dengan baik.

“Siapa kamu?” tanyaku skeptis setelah berhasil berdiri. Telingaku secara tiba-tiba tidak respons dengan suara dari luar kamar yang makin bising.

“Aku? Mmm …, sebut saja aku Jin. Aku bisa datang untuk menghilangkan ketakutanmu,” katanya.

“Kau peri? Kata guruku, peri itu tidak ada. Lalu, kau apa?”

“Aku manusia.”

“Manusia tidak punya cahaya,” bantahku.”

“Aku manusia, Princess.”

And I’m not a Princess, Jin.”

Oh God, percayalah padaku.” Dia merogoh kantung celananya, mengeluarkan serbuk kebiruan dan menaburkannya pada tubuhku. Seketika, aku tercengang saat melihat tubuhku bersinar sendiri. “Lihat, kau manusia. Tapi bisa ‘kan, jadi sepertiku?”

***

Di hari-hari selanjutnya, setiap Mom dan Dad bertengkar, aku selalu menginginkan Jin cepat-cepat datang dan menemaniku melalui waktu. Aku tidak akan konsentrasi belajar ketika mendengar suara teriakan, bentakan, dan bantingan barang.

“Jin, kau ‘kan dari luar, dan bisa datang ke jendelaku. Kau terbang?” tanyaku suatu hari.

“Belajarlah dulu, nanti kujawab.”

Aku menggeleng keras-keras, menggelayut manja di lengan Jin. Dia tertawa, mengerti kalau aku sudah nyaman dengannya dan ingin semua permintaanku dia turuti.

“Kalau tidak belajar, kau tidak akan jadi pintar.”

Aku tertawa. “So mainstream, Jin. Mom dan Dad tidak peduli padaku, remember that.”

Jin mengusap kepalaku. Sembari mengelus lembut punggungku, dia berujar, “This is America, Mijoo. You can’t live here if you dont have brain. So, study now.”

For who? Mom dan Dad hanya bertengkar setiap hari! Mereka tidak peduli!” protesku.

Dia tersenyum tipis. “For your future, Sweetie.”

***

Mom dan Dad tidak pernah mendeklarasikan diri mereka bercerai. Mereka hanya sering tidak sekamar dan bahkan kadang tidak serumah. Melalui bau dan cara bicaranya, aku tahu mereka sering mabuk karena alkohol, bahkan sempat melakukan one night stand juga. Aku tahu, dan aku muak.

Yang bisa menguatkanku di usia yang menginjak kedewasaan ini hanyalah Jin. Lelaki itu tidak berubah, masih sama seperti ketika aku dua belas tahun. Rahangnya tajam, senyumnya manis, dan cara bicaranya selalu tegas dan lembut secara bersamaan.

Suatu hari, dia datang masih dengan sinarnya. Meski sedikit redup, tapi senyumnya tidak luntur sama sekali. Seperti biasa.

How are you, Dear?”

Aku beranjak dari mejaku, kemudian datangi dia dan memeluknya.

“Jin, can you grant my wish?”

Dia mengernyitkan kening ketika melepas pelukanku perlahan. “Apa itu?”

Kuhela napas perlahan, sebelum menjawab, “Bawa aku pergi ke tempatmu. Aku lelah dengan keluarga dan rumah ini, Jin.”

“Rumahmu bagus.”

“Rumahmu pasti lebih bagus, Jin.”

Ia tersenyum, mengecup keningku. “Mintalah yang lain, pasti akan kukabulkan.”

Aku terdiam lama. Sadar keegoisanku selalu menang. Jika aku tidak bisa dapatkan yang tadi, aku akan meminta yang jauh lebih susah.

“Jangan pergi ke mana-mana, Jin,” pintaku, “tetaplah datang setiap kali aku panggil.”

Jin tersenyum. “Permintaanmu tidak dapat dicabut, Mijoo.”

 

 

Beberapa tahun kemudian, aku menyesalkan permintaanku sendiri. Seharusnya, aku minta agar Jin terus mengabulkan permintaanku. Jadi, ketika Mom dan Dad semakin tidak menghargai keberadaanku, aku bisa minta hal lain pada Jin. Tapi, semuanya sudah telanjur. Nasi telah menjadi bubur.

Mom sedang mendesah-desah di kamar sebelah ketika aku berlindung di balik bahu Jin yang tegap. Aku geli mendengar suaranya, meski aku sudah dewasa.

Sementara, dapat kucium bau alkohol menguar dari ruang tamu. Aku yakin, Dad sedang bersama wanita lainnya di sana.

Benar kata Jin, ini Amerika.

“Jin,” bisikku pelan, “Boleh aku minta yang lain?”

“Jatah permintaanmu hanya sekali, Honey.”

 

Maka, aku hanya dapat memohon dalam hati, jika saja Tuhan mendengar meski tanpa perantara Jin. Aku ingin Jin tetap di sini, tetapi dengan kondisi rumahku yang lebih baik. Agar aku tidak perlu menjadikannya seakan sekadar “pelarian”.

Karena diam-diam …, aku mencintainya.

 

hey Mom, hey Dad, when did this end? Where did you loose your happiness?

fin.

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s