Danger [1/4]

DANGER [1/4]

Scriptwriter: Elisomnia

Title: Danger

Cast: Jeon Jungkook (BTS), Alexa Choi (OC), Min Yoon Gi (BTS), other…

Genre: Crime, psychology, thriller, angst

Duration: Chaptered

Cover by Bbon

––JUNGKOOK sudah mati! Perkenalkan… aku JASON––

|..|

Langit hitam diikuti rintik-rintik air mengiringi langkahku ke tempat ini. Bunyi sirine dari ambulance dan mobil polisi saling bersahut-sahutan. Suara-suara kerusuhan terdengar di sana sini. Kondisinya benar-benar kacau.

“Tuan Park, bagaimana hasil penyelidikannya?” pria tambun berkumis itu menoleh, “Oh, Ale, kau sudah datang.” Dia melempar senyum sebelum melanjutkan, “Anak buahku belum selesai memeriksa bagian dalam. Tapi mereka menemukan bocah itu meringkuk di dalam lemari dapur.” Tuan Park menunjuk seorang bocah lelaki kira-kira berumur 17  tahunan yang sedang duduk di dalam ambulance.

“Kami belum bisa memintai kesaksiannya karena dia tak mau bicara. Mungkin dia masih trauma.” Aku masih memandang bocah malang itu sambil mendengarkan penjelasan Tuan Park. “Orang tuanya terbunuh malam ini dalam sebuah pembantaian. Mungkin itu yang membuatnya diam seperti itu.”

“Jadi anda memintaku kesini untuk menangani bocah itu?” tanyaku spontan.

Tuan Park terkekeh, “Alexa Choi, menurutmu apa lagi selain itu? Kau psikiater terhebat di negeri ini. Kau sudah bekerja sama dengan pihak kami––kepolisian Seoul, selama bertahun-tahun. Maka dari itu aku sangat percaya padamu.” Jelas Tuan Park panjang lebar.

“Tuan, jangan memujiku secara berlebihan. Baiklah, aku akan berusaha bicara padanya.” Ucapku.

Aku menghampiri bocah lelaki itu. Kulihat, dia menyeruput minuman hangatnya pelan. Tatapan matanya kosong. Berbagai perasaan kulihat bercampur aduk disana.

“Hai….” sapaku tepat setelah dia meletakan cangkirnya di samping tempat duduknya. Dia merapatkan kain yang menyelimuti tubuhnya setelah sebelumnya melirikku sekilas. Tatapannya kembali kosong.

Dari lirikannya yang sekilas tadi dapat kulihat keterkejutan dan ketakutan di matanya. Tapi hanya sesaat. Dia sangat pandai menyembunyikan dan mengatur perasaan.

Aku duduk disampingnya. Dia menggeser duduknya perlahan. Waspada.

“Siapa namamu?” bocah itu diam. “Kau tinggal disini?” aku masih memancingnya namun ia kembali bungkam. Hening cukup lama,“Eng, kudengar kau satu-satunya korban selamat,” Aku menggantungkan kalimatku, agak ragu, “Setelah kedua orangtuamu… tewas dalam pembantaian tadi.”

Bocah lelaki yang aku tak tau namanya itu memainkan jari-jari tangannya. Memperhatikannya lamat-lamat. Masih dalam diam.

Aku mulai tak enak padanya. Aku juga sudah kehabisan kata-kata. “Hm, mungkin kau tak ingin membahasnya. Aku mengerti.” Aku hendak pergi dari situ dan kembali ke kerumunan dimana Tuan Park berada. Tapi mulutnya bergerak membuatku urung,

“Tolong aku….”

~~~

Author POV

Sebuah lampu gantung penuh dengan sarang laba-laba bergoyang pelan tertiup angin yang menembus fentilasi kecil berlapis jeruji besi dekat langit-langit. Bau rumput-rumput basah bekas hujan semalam menusuk hidung kedua lelaki yang sedang duduk berhadapan.

Lim, pemuda keturunan China itu memperhatikan seseorang dihadapannya lamat-lamat. Pakaian seadanya, rambut yang acak-acakan, wajah pucat, pandangannya pun tidak fokus. Matanya terus merangkak ke sana ke mari. Bibirnya tak tinggal diam. Komat-kamit seperti mengucapkan mantra.

Disamping kiri ruangan itu, terdapat cermin dua arah. Dimana dibalik sana sudah berdiri Tuan Park beserta rekan-rekannya tak terkecuali Alexa. Mereka ingin melihat reaksi bocah korban selamat dalam pembantaian semalam itu.

“Jadi… Jeon Jungkook.”

“Hah?!”

Seru bocah lelaki bernama Jungkook itu kaget. Matanya yang semula terfokus pada Lim, kini kembali liar. Jemarinya ikut bermain-main diatas meja.

Lim memandangnya prihatin. “Jungkook, lihat aku!” perintah Lim tegas. Jungkook menatap Lim takut-takut. Tersirat ketegangan dalam matanya.

“Bisakah kau menjawab beberapa pertanyaanku ini? Bisa ya?” suara Lim melunak. Sebagai petugas kepolisian yang ditugaskan menangani orang-orang semacam Jungkook––kau taukan maksudku, sepertinya ia harus lebih bersabar sekarang.

Melihat Jungkook hanya diam, Lim tersenyum tipis. “Bisa kau ceritakan awal mula kejadian semalam?” Jungkook tertunduk sedikit, berpikir.

“Aku tak tahu.”

Lim mengerutkan keningnya, “Bagaimana bisa kau tak tahu?” Jungkook tak kunjung menjawab. Dia diam cukup lama. Membuat Lim penasaran. Menanti-nanti apa yang akan bocah itu katakan.

Sesekali Jungkook menggigit bibir bawahnya dengan pandangan terfokus pada tangannya yang bertumpu diatas meja. Lim semakin memperhatikannya dengan rasa penasaran yang semakin membuncah.

1 menit… 3 menit… 5 menit…

Lim menyadari bahwa bocah itu tak akan menjawab. Baiklah, pemuda China itu akan mencoba dengan pertanyaan kedua. “Baiklah, kita beralih––”

“Aku baru pulang dari berlatih sepak bola…”

Lim langsung menatap Jungkook saat bocah itu memotong perkataannya. Seluruh perhatiannya ia tujukan pada Jungkook.

“Aku yang kelelahan langsung menuju ke kamar dan tidur. Keributan apapun tak dapat membangunkanku karena aku sangat lelah.” Jungkook memberi jeda sejenak. “Aku terbangun karena aku merasa haus. Saat aku pergi ke dapur sesuatu membuat sekujur tubuhku menegang.” Mata Jungkook berkaca-kaca dengan pandangan menerawang.

“Ya? Lalu?” pancing Lim.

“M-mereka… orangtuaku… kulihat sudah tersungkur bersimbah darah di lantai dapur. Pisau tajam tergeletak di samping jasad mereka. Aku segera menelpon polisi saat kulihat sekelebat bayangan melintas di jendela dapur. Kuyakin pasti dia pembunuhnya. setelah menelpon kalian aku langsung lari dan bersembunyi di lemari dapur.” Suara Jungkook bergetar.

“Apa kau tahu siapa pembunuhnya?” Jungkook lagi-lagi mengulur waktu untuk menjawab. Lidahnya terjulur untuk menjilat bibirnya. Dia terlihat seperti anak keterbelakangan mental saat ini.

Salah satu tangannya terangkat, jari-jarinya menelusup kedalam mulutnya. Menggigiti kukunya, terlihat seperti orang depresi. Gumaman-gumanan tak jelas keluar dari mulutnya.

Alexa yang memperhatikan dari balik cermin itu berpikir, ‘Dia terlihat sangat ketakutan dan tertekan. Kenapa baru sekarang? Bukannya tadi malam?’

“Jungkook!”

“Hah! Apa?!”

Jungkook membalas bentakan tegas Lim dengan bentakan keterkejutan. “Fokuskan dirimu, Nak. Jangan sampai pikiranmu kosong. Mengerti?” Jungkook hanya mengangguk menurut. “Sekarang jawab pertanyaanku.” Jungkook memiringkan kepalanya, “Pertanyaan yang mana?” mata Lim membulat, namun sedetik kemudian ia memutar bola matanya.

“Apa kau tahu siapa pembunuhnya?”

Jungkook menunduk. Mengedip-ngedipkan matanya untuk beberapa saat. Lalu kembali menggigiti kukunya.

“Jungkook!”

“Iya! Tunggu, aku sedang berpikir.”

Jungkook balas membentak acuh tak acuh. Ia mulai kesal. Lim yang melihatnya terkejut.

“Aku tak tahu,” rasa kecewa muncul dalam diri Lim, “Tapi aku merasa kenal dengan perawakannya.” Sambung Jungkook membuat sedikit percikan semangat terlihat di mata Lim.

“Oh ya?”

Err… entahlah.” Jungkook menggeleng, merasa ragu. Kekecewaan kembali menghampiri. Lim menghela nafas panjang.

Jungkook menengadahkan kepalanya, memperhatikan sarang laba-laba dan kecoa yang sesekali muncul di langit-langit.

“Jungkook,” panggil Lim lembut. Namun bocah tadi masih asyik memandangi kecoa dan cicak yang berkejar-kejaran di dinding. Entah ia tidak mendengar atau memang tak peduli.

Bocah itu bersenandung kecil sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Mengikuti irama. Matanya tak pernah fokus kalau Lim tak mengajaknya bicara.

“Jeon Jungkook, tolong….”

Jungkook yang mendengar itu menghentikan kegiatannya. Pandangannya terfokus penuh pada Lim. Lim sedikit terkejut, karena ini kali pertama Jungkook benar-benar menatapnya setelah 22 menit interogasi berjalan.

“Apa?”

Jungkook bertanya dingin. Lim sedikit dibuat bingung. Bocah ini labil emosi. Tadi saat dia menceritakan bagaimana orangtuanya terbunuh dia terlihat berkaca-kaca. Tapi tak beberapa lama kemudian dia membentak marah Lim karena Lim juga membentaknya. Sekarang dia bersikap acuh tak acuh.

“Apa kau selalu begini?”

“Begini bagaimana?”

“Sikapmu.”

“Sikap yang mana?”

Lim menghembuskan nafasnya panjang, menyandarkan punggungnya, membuat tubuhnya sedikit merosot.

Jungkook masih menatap Lim menunggu jawaban. Dengan cepat ekspresinya berubah seolah baru mengerti maksud Lim. Ia segera menghentikan aktivitas gilanya, membenarkan posisi duduknya, bersikap tenang, dan menatap Lim lurus,

“Maaf.”

Lim mengangguk-angguk seraya menegakan tubuhnya kembali. “Terimakasih.” Ucap Lim, “Kita buat ini cepat selesai, oke? Jadi tolong pertahankan itu untuk beberapa menit kedepan.” Lanjutnya tegas.

~~~

Alexa POV

Dua hari kemudian, aku kembali berkunjung ke kepolisian. Anak bernama Jungkook itu masih membuatku penasaran.

Di lorong kantor polisi aku berpapasan dengan Tuan Park, kepala kepolisian.

“Selamat pagi Tuan Park. Apa kabar?” sapaku ramah. “Aku baik Ale, kau sendiri?” aku mengangguk sambil tersenyum manis, “Aku sangat baik.”

“Mencari siapa?” aku tersenyum, “Sebenarnya aku ingin tahu perkembangan dari Jeon Jungkook.” Kulihat Tuan Park tampak berpikir sejenak, “Oh, Jungkook yang itu ya? Kau bisa tanyakan langsung pada orang di laboratorium.” Aku mengangguk mengerti.

“Kau masih ingat laboratoriumnya kan?” aku menoleh, lalu terkekeh. “Anda bercanda, Tuan? Tentu saja aku masih ingat.” Kami saling melempar senyum.

Aku berjalan santai menyusuri lorong-lorong yang cukup panjang. Banyak orang berlalu lalang disini. Kanan dan kirinya berhiaskan piagam-piagam yang terpajang di tembok.

Belok kiri, naik tangga, lalu belok kanan. Dan sampailah aku di laboratorium.

Setelah membuka pintu laboratorium, aku langsung berjalan menghampiri Yoon Gi, sahabatku yang bekerja di sini.

Ya! Min Yoon Gi!” dia menoleh lalu tersenyum. Meletakan segala peralatan dan melepas kacamata minusnya.

“Ada yang bisa kubantu, Nona?” ucapnya saat aku sampai dihadapannya. “Apa ada perkembangan dari Jeon Jungkook?” tanyaku to the point. Yoon Gi terdiam. Mengetukan jari telunjuknya diatas meja sehingga menimbulkan irama yang teratur.

“Lim tak lupa memberikan laporannya kan?” Yoon Gi menggeleng sambil berjalan ke arah lemari berkas. “Tidak,” Ucapnya, “Hanya saja ini sedikit sulit.” Lanjutnya sambil mengeluarkan sebuah map biru dari dalam lemari berkas.

“Sulit? Maksudmu?” aku mengikutinya duduk di kursi. “Lihatlah.” Dia menunjukan isi map biru itu. “Ini hasil penilitianku tentang kasus pembantaian orangtua Jeon Jungkook.” Dia mulai menjelaskan. “Aku tak menemukan sidik jari atau apapun itu yang dapat menunjukan siapa pembunuhnya.” Yoon Gi menggaruk kepalanya, “Ini aneh.” Desisnya kemudian.

“Apa sudah kau teliti semuanya?” Yoon Gi beralih menatapku. “Kurasa sudah. Tapi entahlah jika ada yang kulewatkan.” Lelaki itu berucap ragu dan gusar. Aku tersenyum sambil mengusap bahunya. “Mungkin memang ada yang kau lewatkan. Tidak mungkin jika tidak ada bukti apapun. Berusahalah lebih keras.” Hiburku yang berhasil membuatnya lebih tenang dari sebelumnya.

Tak lama kemudian Yoon Gi menegakan duduknya sambil meregangkan otot-ototnya. Dia menghela nafas panjang dan keras. “Kau memang sahabatku yang paling baik, Ale.” Aku tersenyum saja mendengar ucapannya itu.

“Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan?” bagai dipecut dengan pertanyaannya aku jadi teringat sesuatu.

“Oh, aku juga ingin menjenguk Jungkook. Bisa kau menunjukanku dimana tempatnya?” Yoon Gi menggeleng, “Coba kau tanyakan pada Hyo Shin. Dia yang berada di bagian sel.” Aku sedikit kecewa. “Mengapa tidak kau saja?” dia tersenyum membuat perasaan kecewa ini menguap entah kemana. “Aku bekerja di laboratorium ini. Jadi, aku tidak bisa jauh-jauh dari sini.” Aku balas tersenyum. Sahabatku ini entah bagaimana selalu bisa membuatku lebih tenang dan nyaman dari sebelumnya. “Baiklah, aku mengerti.”

Aku pergi meinggalkan laboratorium dan berusaha menemui Hyo Shin. Sudah 15 menit aku mencari tapi tak kunjung kutemukan pria itu. Apa dia tidak masuk hari ini? Aku hampir putus asa. Aku mengerang sebal. Kenapa sih pria itu selalu menghilang disaat aku membutuhkannya?

Aku, Hyo Shin, dan Yoon Gi adalah sahabat. Kami sudah bersahabat sejak sekolah menengah pertama. Tapi tetap saja aku merasakan perbedaan yang amat jauh antara Yoon Gi dan Hyo Shin.

Yoon Gi selalu ada saat aku butuh sandaran, saat aku ingin bercerita, saat aku kesulitan dia selalu membantuku, pokoknya dia selalu ada saat aku membutuhkannya.

Dia orang yang sangat ramah, peduli, perhatian, dan sabar. Jarang sekali kudapati dia marah.

Aku masih ingat saat dia berusaha menenangkanku yang menangis dikarenakan putus cinta. Dia tiba-tiba muncul saat aku hendak kembali ke kelas dalam keadaan mata yang bengkak karena kebanyakan menangis––tepat sesudah pacarku memutuskanku tentunya. Raut wajahnya begitu cemas saat itu. Dia bahkan terus-menerus menanyaiku apa sebabnya aku menangis, walau dia tahu aku tak akan menjawab dan memilih diam. Tapi bukan Yoon Gi namanya kalau tidak selalu ingin tahu. Karena lelah oleh pertanyaannya yang tak henti-henti itu aku menceritakan kejadian sebenarnya. Dia terdiam sejenak, dapat kulihat percikan api kemarahan di matanya. Kurasa baru sekali itu aku melihatnya marah. Aku tahu, pasti setelah ini dia akan memarahi pacar, eh ralat, mantan pacarku itu habis-habisan. Aku tahu sifatnya. Namun sebelum itu terjadi, aku mencegahnya. Membuatnya berjanji untuk tidak berbuat konyol didepan umum dengan memarahi orang itu. Dan, akhirnya dia berjanji. Dia menepati janjinya sampai saat ini. Yah… kenangan SMA yang tidak terlupakan.

Sedangkan Hyo Shin, dia sering menghilang entah kemana sehingga jarang berkumpul bersama kami. Kerjaannya adalah bermain wanita. Kuakui dia memang tampan dan juga kaya. Sepertinya dia mengandalkan dua kelebihannya itu untuk meluluhkan hati wanita. Wanita manapun akan luluh padanya karena ketampanan dan gombalan mautnya. Aku bahkan pernah tertarik padanya. Tapi itu tak bertahan lama setelah aku mengetahui sifat aslinya, playboy.

Walaupun Hyo Shin adalah playboy sejati yang memiliki segala hal menarik dalam dirinya, namun dia benar-benar rapuh. Sungguh, aku tak bohong. Orang tuanya bercerai. Walaupun dia pewaris tunggal Kim’s Group yang perusahaannya amat kaya raya itu, namun jika kurang perhatian sama saja. Ayahnya sangat sibuk sehingga jarang berkomunikasi dengannya. Biar bagaimanapun Hyo Shin hanyalah manusia biasa. Dia sama seperti yang lainnya, yang lebih membutuhkan kasih sayang daripada harta.

Aku sering merasa kasihan padanya. Aku pernah melihat dia menangis sendirian di lorong kamar mandi sekolah saat mengetahui ibunya meninggal 5 tahun lalu. Dia bagaikan sayap kupu-kupu yang sangat indah, memiliki banyak daya tarik, namun akan sangat rapuh jika sembarang disentuh. Maksudku, diungkit-ungkit luka lamanya. Kurasa, bermain wanita adalah pelariannya. Mencari perhatian dari wanita-wanita itu. Pelarian yang lama-kelamaan malah menjadi hobi.

“Ah, Oppa.”

“Aku bersungguh-sungguh, kau memang cantik. Maksudku, hari ini kau lebih cantik.”

Apa itu? Aku mencari asal suara cekikikan itu yang sepertinya berasal dari ujung lorong. Aku berjalan mengendap-endap agar tak menimbulkan suara sekecil apapun yang mungkin dapat membuat mereka––entah siapa, terkejut lalu pergi.

1, 2, 3, Hap!

“Hyo Shin?!”

Kedua orang  itu––Hyo Shin dan gadisnya, sama-sama terkejut.

“A-Ale? Kenapa kau disini?” tanya Hyo Shin gemetar. Dia selalu begitu. Gemetar jika aksi sembunyi-sembunyinya dipergoki seseorang.

“Maaf, aku harus pergi.” Gadis tadi berlalu dengan langkah lebar-lebar. Panggilan dari Hyo Shin tidak ia pedulikan. Apa mungkin dia mengira aku pacarnya? Sehingga dia merasa dibohongi lalu pergi dengan perasaan marah? Haha… lucu sekali.

Hyo Shin yang telah lelah memanggil akhirnya membalikan tubuhnya padaku dengan wajah agak murung. “Tidak kau kejar?” dia menggeleng dan menatapku. Manik kami bertemu. “Bermain lagi?” dia hanya mengedikan bahunya acuh. Masih diam. Tangannya lalu terangkat dan mengacak rambutnya. Setelah itu dia mengusap wajahnya dengan kasar.

“Kau tampak sedih. Maafkan aku.” Ucapku penuh penyesalan. Yah, walaupun tidak sepenuhnya juga sih. Kulihat kepalanya terangkat, kembali menatapku. Senyum tipis terukir disana berdampingan dengan tatap lembutnya. “Tidak apa, aku tidak menyalahkanmu. Lagipula dia juga bukan gadis yang baik.” Aku terperanjat. Apa maksudnya bukan gadis baik? “Dia sudah punya kekasih. Aku tak akan tertipu olehnya.” Sambungnya yang membuat pertanyaan dalam hatiku terjawabkan.

“Aku duluan ya.” Aku baru tersadar saat ia melenggang melewatiku. “Tunggu, aku mencarimu daritadi.” Aku menahan tangannya. Ia menoleh, tatapannya yang semula tertuju padaku kini turun ke arah tanganku. Aku kembali tersadar dan buru-buru melepas peganganku. Dia tersenyum.

“Wow, seorang Alexa Choi mencariku. Aku sangat tersanjung. Ada apa gerangan sehingga Anda mencariku, Nona?” aku menatapnya datar. Mulailah dia mengeluarkan rayuan dengan suara seksi yang dapat membuat para gadis jatuh hati. Tapi entah mengapa rayuan dan suara seksinya itu malah membuatku ingin muntah.

“Sebenarnya aku…”

 

TBC

pernah dipost diblog pribadi : https://elisomundo.wordpress.com/
mampir ya😀

8 thoughts on “Danger [1/4]”

  1. Annyeong🙂 aku kim mamyu salam kenl author🙂
    bru kali ini aku baca ff yg main castnya bkan myungzy,, yah aku memang pencinta myungzy… Tpi kayaknya aku mau coba dulu yg main castnya beda🙂
    oke kembali ke ceritanya, emosi jungkook sedang labil yah? Kadang dia seperti orng yg tertekan, ketakutan dan kadang jga memasang wajah dingin

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s