[Ficlet] 17 – It’s Dangerous So Walk on the Inside

It's Dangerous So Walk on the Inside

Title:

17-It’s dangerous so walk on the inside

Scriptwriter:  Alice |Main Cast: Kim Mingyu as Mingyu, OC as Ahra | Support Cast: Jeon Wonwoo as Wonwoo | Genre: Romance, school life |Duration: Ficlet |Rating: Teen | Disclaimer: inspirasi berasal dari part Mingyu dalam lagu Mansae [Seventeen]

“It’s dangerous so walk on the inside.”

.

.

.

              Mingyu memainkan bola basket yang ia pegang. Permainan lembar bola antara tangan kanan-kiri, seolah bersiap untuk melempar bola pada anggota tim yang lain. Ah, itu dulu. Mingyu menghembuskan napas panjang saat mengingat ketika ia masih bergabung dengan tim basket sekolah.  Sudah cukup lama ia tidak bermain basket, tapi sahabatnya—Wonwoo—tahu betul jika basket adalah pelipur lara yang ampuh bagi Mingyu. Bagi Mingyu, bermain basket basket bisa membuatnya lebih ceria, tapi bermain basket juga bisa menyesakkannya di sisi lain. Namun, saat ini Mingyu memang membutuhkan hiburan dengan bermain basket. Hah, serba salah.

              “Sudah enam bulan, ya,” kata Wonwoo, duduk di tepi lapang, hanya memperhatikan Mingyu yang sibuk men-dribble bola dan memasukkannya ke dalam ring basket. “Kuat juga dietmu.”

              “Ini bukan masalah diet,” balas Mingyu menimpali, berhasil mencetak three point.

              “Ha,” Wonwoo merebahkan dirinya di lantai lapangan. “Basket itu menurutku hanya hobi. Olahraga favorit peringkat enam.” Mingyu menghembuskan napas lagi. “Sebenarnya aku hanya pemain basket amatiran yang lebih nyaman duduk di bangku, memperhatikan jalannya pertandingan. Itu saja sudah cukup.”

              Berbeda dengan Minyu yang sangat memprioritaskan basket—Mingyu ingin menjadi atlet basket—Wonwoo dengan rendah hati menjadi anggota tambahan yang membantu tim basket saat pertandingan penting karena Wonwoo bukan anggota tetap tim basket. Ia memiliki akses bermain basket bersama tim sekolah karena memiliki bakat, meski ia lebih tertarik untuk mengembangkan kemampuannya pada olahraga favorit peringkat satu—sepak bola. Wonwoo itu semacam berlian yang tak akan dilepas begitu saja oleh pelatih basket.

              “Tapi,” kata Wonwoo menatap pergerakan awan stratocumulus di langit sore. “Ini pasti bukan karena rindu basket atau apa pun itu.” Mingyu tetap meneruskan kegiatan men-dribble bola. “Pasti ada sesuatu yang lain, kan, Mingyu?”

              “Huh?” Mingyu melakukan lay up shoot kemudian bola tepat masuk ke dalam ring. “Sesuatu apa?”

              Wonwoo kembali mendudukan tubuhnya. “Cinta misalnya.” Tepat setelah Wonwoo menyebut kata ‘cinta’, Mingyu gagal melakukan lemparan three point. “Kamu lagi jatuh cinta, kan?” Damn. Insting Wonwoo memang tajam, setajam tatapan matanya. “I smell something fishy.

              Namun, Mingyu masih tidak mengerti dengan perasaan aneh yang baru kali ini melanda dirinya. Sore ini ia meminta Wonwoo menemaninya bermain basket bukan karena sudah enam bulan ia tidak bermain basket, tapi—dugaan Wonwoo tepat— ada sesuatu yang lain. Tepatnya, Mingyu ingin menata perasaannya agar kembali normal. Terhitung sejak minggu pertama di semester kedua kelas dua SMA—dua bulan lalu—ada satu titik yang tak bisa lepas dari pikirannya. Setiap hari tanpa Mingyu sadari, ia selalu mengamati titik itu hingga perasaan aneh itu muncul. Mingyu memang bukan Prince yang menjadi julukannya. He’s actually just a plain Mingyu. Childish Mingyu.  Mingyu menghentikan permainan lempar bola tangannya ketika pupil matanya menangkap sosok titik yang selalu muncul dalam pikirannya. Radar miliknya memang cepat tanggap jika menyangkut soal titik itu.

              Baiklah, Mingyu menyerah. Titik itu adalah seorang gadis berambut hitam sepunggung—tampak agak berantakan karena rambutnya agak ikal. Tas punggung yang selalu ia bawa merupakan model tas gunung yang membuatnya tampak mencolok—karena tasnya terlihat lebih besar dari punggungnya—karena tak ada gadis lain yang mau memakai tas model seperti itu di sekolah mereka. Tapi, gadis itu berbeda. Ia juga lebih memilih berjalan di atas pembatas jalan yang memiliki lebar sekitar 50 cm yang berbatasan dengan kanal air di sisi jalan sebelah kanan (sekolah kami berada di tengah kompleks yang dilewati kanal air dari sungai). Mingyu selalu khawatir saat gadis itu berlari kecil di atas pembatas, takut jika gadis itu jatuh ke dalam kanal air.

              “He—”

              Untunglah Mingyu memiliki gerak refleks dengan kecepatan tinggi sehingga kurang dari sedetik, Minyu berhasil menahan lengan kiri gadis itu dengan tangan kanannya.

              Ahra.

              Nama yang tertulis pada papan nama di blazer gadis itu.

              “It’s dangerous so walk on the inside,” kata Mingyu sebelum berjalan mendahului gadis itu.

              Namanya Ahra.

              Mingyu tersenyum. Tak salah ia mengajak Wonwoo untuk bermain basket sore ini.

              Namanya Ahra.

              Mingyu kembali tersenyum.

              Di belakang Mingyu, Ahra menatap punggung anak lelaki yang tak dikenalnya dan mengucapkan “kamsahamnida” berulang kali sambil berikrar tak akan lagi berlari di pembatas jalan karena cukup berbahaya.

Fin.

 

Hello~

Alice here.

Thank you for reading (^__^)

One thought on “[Ficlet] 17 – It’s Dangerous So Walk on the Inside”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s