T(w)o Day-s (Part 3)

twoday-s

T(W)ODAY-S

By:  C.AK (GK)

wp:  wordyworldgiana.wordpress.com

MC:  Suho (EXO), Jimin (AOA) | SC:  Changmin (TVXQ) | Genre:  AU, Crime |

Duration:  Series/Chaptered | Rating:  T

Previous part: 1. 2

Hari itu masih seperti hari-hari sebelumnya. Mereka belajar seperti biasa, Suho juga masih sering melirik ke arah Jimin seperti biasa dan Jimin juga masih tidak mempedulikannya seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Banyak hal dari Jimin yang membuatnya tertarik sekaligus penasaran. Meskipun begitu Jimin termasuk murid pindahan yang sangat pintar untuk murid-murid di kelasnya. Dia tidak pernah benar-benar terlihat serius memperhatikan apa yang diterangkan guru di depan kelas tapi saat guru menyuruhnya untuk mengerjakan soal ke depan dia bisa menyelesaikan dalam waktu singkat.

Suho memperhatikan Jimin sambil bertopang dagu. Sejak pagi gadis itu terlihat mengerutkan dahi seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Hanya tinggal satu jam sebelum bel pulang berbunyi, Suho melirik kearah Jimin.

“Jimin-ah.” Panggilnya. “Shin Jimin. Shin Jimin. Shin Jimin.” Dia terus memanggil nama Jimin seperti anak kecil sampai gadis itu menoleh kearahnya.

“berhenti memanggil namaku seperti itu.” Jimin mengatakannya dengan nada sinis. “aku tidak suka.”

Suho memamerkan senyumnya seperti biasa. “tapi aku suka padamu. Lagi pula itu karena aku sudah memanggilmu sejak tadi tapi kau sama sekali tidak mau melihat kemari.”

Kemudian hal yang sama sekali tidak diduganya terjadi Jimin menopang dagu melihat kearahnya dengan serius. Suho menghindari tatapan mata Jimin hanya beberapa detik setelah gadis itu melihat kearahnya dan sesekali mencuri pandang kearah Jimin yang masih menatapnya. Dia berdeham karena salah tingkah. Lalu mendengar Jimin tertawa samar.

“oh,” Suho terpana melihat Jimin yang mengalihkan pandangannya setelah itu. “ini pertama kalinya aku melihatmu tertawa.”

Jimin sontak berhenti tertawa dan kembali memasang wajah tanpa ekspresi. “itu karena tidak pernah ada hal yang lucu yang perlu di tertawakan.” Ujarnya.

Suho mengangguk dan tersenyum memandang Jimin, “kau tau, kau terlihat sangat cantik saat tertawa. Sepertinya wajah ceria lebih cocok untukmu.”

Kali ini Jimin yang berdeham karena menyembunyikan rasa malunya. Sementara Suho melakukan apa yang dilakukan Jimin sebelumnya memandangnya sambil bertopang dagu.

Setelah melihat Jimin tertawa di kelas, Suho mengikutinya saat mereka pulang sekolah. Meskipun Jimin tidak mengatakan apapun dan hanya berjalan tanpa suara Suho sudah merasa itu adalah kemajuan. Dia tidak pernah melihat Jimin menaiki bus dan hanya berjalan kaki sampai kerumahnya. Sekarang dia mengikuti gadis itu.

“kamu benar-benar suka jalan kaki? Tidak capek?”

“karena aku perlu waktu untuk berpikir.” Jawab Jimin.

Suho mengerutkan kening tidak mengerti apa maksud ucapan Jimin. Berpikir? Memangnya apa yang dia pikirkan? Hutang negara? Keuntungan perusahaan entertainment? Berapa jumlah penggemar idol-idol di Korea?. Saat dia sedang mengajukan banyak pertanyaan di kepalanya Jimin tiba-tiba berhenti.

“ada apa?”

Beberapa saat mereka hanya berdiri seperti itu di tengah jembatan penyebrangan. “Suho.”

Suho tertegun mendengar Jimin menyebutkan namanya untuk pertama kalinya. “ya?”

“kau ingat apa yang aku bilang dihari pertama aku pindah ke sekolahmu?”

Dia mengangguk, “jangan percaya apapun yang aku katakan, jangan ikut campur apapun yang aku lakukan…dan jangan berusaha dekat denganku. Aku ingat dengan baik. Kenapa?”

“apa kalau aku bilang aku menyukaimu kau akan percaya? Kalau aku terlibat masalah apa kau akan membantuku? Kalau kau tau aku bukan dari keluarga baik-baik apa kau akan tetap dekat denganku?”

Tidak menyangka apa yang ditanyakan Jimin, Suho tidak bisa menjawab apa-apa. “aku tidak pernah punya teman dan aku tidak berniat untuk memulainya sekarang. Jadi jangan bersikap seperti ini terus.”

Setelah mengatakan itu, Jimin melangkah pergi meninggalkannya. Suho sendiri tidak berniat menyusul dan hanya memandangnya menjauh dan menghilang di tikungan jalan.

***

Apapun yang dipikirkan Jimin dia tetap tidak akan menyerah sampai disitu. Hanya karena Jimin mengatakan dia tidak berniat untuk berteman dengannya bukan berarti dia tidak akan berusaha untuk membuat gadis itu berubah pikiran. Seperti biasa, setiap jam istirahat atau saat jam kosong Jimin akan membaca bukunya. Suho yang duduk disebalahnya memperhatikannya dengan kepalanya yang bersandar di atas meja.

“Jimin…Shin Jimin…Shin Jimin. Jimin…Shi…n Jimin.”

Setelah beberapa lama akhirnya Jimin menyerah untuk bersikap tidak peduli dan melihat kearahnya. “apa?”

Suho hanya merengut memasang wajah cemberut seperti anak kecil. “Shin Jimin.”

“berhentilah memanggil namaku seperti itu.” ujarnya. “aku benar-benar tidak suka mendengarnya.” Jimin bicara dengan penekanan di setiap katanya.

“tapi aku suka menyebutnya seperti itu.” bantah Suho. “Shin Jimin. Aku. Suka. Pada. Mu.”

Kali ini Jimin benar-benar menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa dia gambarkan. Dia baru akan bicara lagi saat melihat Jimin tiba-tiba mengeluarkan ponselnya dan berdiri bersamaan saat dia menjawab siapapun yang menghubunginya.

“ini belum sampai seminggu…”hanya itu yang bisa di dengar Suho saat Jimin keluar dari dalam kelas.

Memperhatikannya dengan bingung dan penasaran dengan siapa yang menghubunginya sampai harus kelaur seperti itu. Dan apa maksudnya dengan ‘ini belum sampai seminggu’ memang apanya yang belum sampai seminggu. Sibuk dengan pikirannya yang penasaran tentang Jimin dia merasakan sesuatu bergetar dari dalam saku celananya. Dia langsung mengeluarkan ponselnya dan menjawab panggilan pada ponsel tersebut.

yeoboseyo.”

apa benar ini, Kim Joon Myeon?”

Sesaat Suho tertegun mendengar seseorang menyebut nama kecilnya yang tidak pernah dia dengar lagi sejak kedua orang tuanya meninggal  sepuluh tahun yang lalu dan kakeknya mengganti namanya menjadi Kim Suho.

***

Jimin berjalan cepat menuju tangga yang mengarah keatas dan jarang dilewati oleh siapapun.  Awalnya dia kira Changmin akan menanyakan tentang ‘tugas’ yang diberikan Park Byeong Su padanya. Tapi mendengar nada panik kakak laki-lakinya dia langsung mencari tempat sepi untuk mendengarkan apapun yang akan disampaikan oleh Changmin.

orang yang laki-laki itu ingin temui ternyata adalah cucu dari direktur perusahaan besar. Orang tuanya terbunuh saat Park Byeong Su menjalankan bisnis ilegalnya sepuluh tahun yang lalu tapi anak itu menjadi satu-satunya korban selamat dan mengalami trauma berat setelah itu. Karena ingin melindungi anak itu, keluarganya mengubah namanya.”

Jimin mendengarkan dengan serius, itu artinya orang bernama Kim Joon Myeon seorang murid di sekolah ini. Setidaknya aku bisa mempersempit pencarian, “lalu siapa nama barunya?”

“ini bukan lagi siapa nama barunya. Tapi kenapa Byeong Su selalu ingin mendapatkan anak itu.”

“memangnya apa yang diinginkan laki-laki itu?”

sebelum kecelakaan itu terjadi, kedua orang tuanya menyembunyikan bukti penting tentang bisnis itu. Dan kamu tahu, itu bukan sekedar bisnis biasa tapi bisnis besar yang menyangkut banyak hal. Obat-obatan terlarang, perdagangan manusia, pelacur semuanya. tidak-tidak, kamu tidak perlu tahu semua itu. Byeong Su menginginkan anak itu untuk mengingat dimana orang tuanya menyembunyikan bukti-bukti itu dan kalau dia tidak bisa mengingatnya maka…

“mereka akan membunuhnya.” Jimin menebaknya dengan tepat.

Dia mendengar suara-suara di balik suara Changmin, “oppa sedang ada dimana? Eomma?”

“saat aku pulang laki-laki itu sedang memukul eomma sampai babak belur dan aku langsung menghubungi polisi. Aku tahu semua ini dari salah satu polisi. Jimin, oppa mohon hentikan sebelum terlambat…”

“oppa…” panggilnya agar Changmin berhenti bicara. “siapa nama anak itu? Kim Joon Myeon?”

Changmin terdiam sesaat, “Jimin-ah, cukup. Polisi sudah membawa Shin Young Kyeong dan mereka bilang dia tidak akan bisa mendekati kita lagi. Jadi tidak usah memikirkan apa yang diminta Byeong Su.

“siapa namanya, oppa?”

Dia mendengar kakaknya menghembuskan nafas pasrah karena dia masih mengajukan pertanyaan yang sama, “Kim Suho.

Matanya terbelalak saat mendengar nama Kim Suho dari mulut kakaknya. Dia segera berlari kembali ke kelas namun dia tidak bisa melihat Suho dimanapun. Dia memeriksa baik-baik mejanya, tidak ada tasnya tidak ada tanda-tanda dia masih ada di dalam kelas. Lalu dia melihat teman sekelasnya berjalan melewatinya.

“dimana Suho?”

Sesaat murid laki-laki itu tertegun karena diajak bicara oleh Jimin yang tidak pernah terlihat bicara dengan siapapun. Dia dan Suho memang selalu bicara saat tidak ada orang di sekitar mereka.

“dimana Kim Suho?!” bentaknya.

“ta…tadi, aku…lihat dia menerima telefon dari seseorang dan keluar membawa tasnya.”

Wajahnya seketika berubah tegang, rasa takut yang hilang dari dalam dirinya sejak Byeong Su muncul mendadak kembali merayapi tubuhnya.

Jimin! Jimin!” dia mendengar suara Changmin yang terdengar panik. Lalu saat dia melihat ponselnya ada tanda amplop kecil di sudut atas layar ponselnya. Ketakutannya menjadi luar biasa saat membawa pesan tersebut.

“oppa…” katanya. “mereka membawanya. Mereka…”

Tanpa mempedulikan tatapan heran teman-teman di kelasnya Jimin berlari keluar kelas dan menabrak gurunya yang baru saja akan masuk. Dia berlari sekuat tenaga menuju tempat mereka membawa Suho. Changmin masih berteriak memanggil namanya saat dia masuk kedalam sebuah taksi.

“mereka membawanya ke pabrik lama di tepi pelabuhan di pinggir kota.”

Jimin, jangan bertindak bodoh. Aku akan menghubungi polisi aku akan minta mereka menanganinya. Jadi kamu jangan pergi kesana. Oppa mohon, pulanglah. Oppa mohon.”

Tapi Jimin malah meminta supir taksi tersebut untuk mempercepat laju mobil dan memutuskan sambungan teleponnya dengan Changmin. Dia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Pikirannya kalut dan dadanya berdebar kencang karena ketakutan. Bahkan dia sampai berkeringat dingin membayangkan apa yang akan terjadi pada pemuda itu. Tangannya bergetar memegang ponsel yang ada dalam genggamannya.

“aku mohon. Aku mohon jangan sakiti dia.” dia terus mengatakan hal yang sama sampai dia melihat tempat yang ditujunya.

***

3 thoughts on “T(w)o Day-s (Part 3)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s