Amnesia (Chapter 1)

Amnesia

Title: Amnesia

Scriptwriter: markgotcha

Main Cast:

Mark Tuan a.k.a Mark

Jung Rae Ra a.k.a Rae Ra (OC)

Genre: Romance

Duration: Chapter

Rating: PG

Summary : Apa yang akan kau perbuat, ketika kau mengalami sebuah kejadian, yang memungkinkan untukmu menderita amnesia? Atau.. Sakit hati? Apa maksud dari semua rangkain kata pada summary ini? Silahkan ikuti ceritanya J

 “I wish that I could wake up with amnesia, and forget all those stupid little things,

because I’m not fine at all.”

 

Rae Ra menundukkan kepalanya. Bulir-bulir air mata terus mendesak untuk keluar dari kedua maniknya. Entah hal apa yang diperbuatnya sehingga kekasihnya, Mark, tega melakukan hal sekeji itu padanya.

“Rae Ra, maafkan aku,tadi itu;”

“Tadi itu apa? Kau mencoba untuk mendua? Mark, aku tidak buta. Aku melihatnya dengan jelas. Sudah cukup, Mark. Aku tak bisa bertahan lagi.”

Rae Ra membalikkan badannya, pergi menyusuri lorong sekolah. Mark hanya terpaku melihat Rae Ra berjalan menuju pintu keluar. Keheningan meliputi rasa kesedihan Mark yang mendalam, begitu juga dengan Rae Ra.

Mark tidak mengerti, mengapa dirinya bisa sebodoh itu? Bagaiman bisa dia membiarkan seorang yang begitu mencintainya pergi begitu saja?

Mark akhirnya memutuskan untuk berlari, menghentikan keheningan yang terjadi. Namun sebelum Mark menghentikan keheningan itu, sesuatu terjadi. Ya, sesuatu yang besar terjadi.

Rae Ra yang baru saja keluar gedung sekolah, sambil mengusap-usap wajahnya yang basah karena airmata, tertabrak sebuah truk besar yang kebetulan sedang berjalan kencang. Rae Ra tidak memperhatikan rambu lalu lintas. Airmatanya yang terus menerus mengalir membuatnya tidak fokus pada semua hal disekitarnya, sehingga peristiwa naas itu terjadi begitu saja.

Rae Ra sedikit terpental dan terjatuh diatas aspal. Perlahan, cairan merah segar keluar dari bagian belakang kepala Rae Ra. Rae Ra tak sadarkan diri.

Mark sangat terkejut melihat kejadian itu. Kakinya telah berhenti berlari saat Rae Ra tertabrak truk. Mark terlalu merasa bersalah untuk mendekatinya dan menolongnya. Hatinya terlalu sakit untuk melihat kekasihnya berlumuran darah. Mark tak tega, Mark terlalu sedih untuk melangkah menuju kesedihan yang lebih mendalam dari sebelumnya. Akhirnya, Mark hanya bisa menelpon ambulance, mengatakan bahwa ada seorang wanita tertabrak didepan sekolahnya dan tak sadarkan diri.

Tak berapa lama, ambulance datang. 2 petugas keluar dari bagian belakang ambulance, membawa sebuah tandu, memindahkan Rae Ra keatas tandu, memasukkannya ke bagian belakang ambulance, lalu melaju dengan cepat menuju rumah sakit.

Meskipun Mark terlalu sedih, Ia tak tinggal diam. Mark segera mengendarai motornya, mengikuti ambulance yang membawa Rae Ra. Mark mengendarai motornya dengan menangis. Ia tak kuat menahan kesedihan yang berangsur-angsur terjadi. Semua kesedihan itu terjadi kurang dari 10 menit. Ia menangis sejadi-jadinya sembari mengikuti ambulance itu.

“Saat tiba di rumah sakit nanti, aku harus berhenti menangis. Aku akan tampak kuat didepan Rae Ra, aku tidak akan terlihat lemah, agar dia tau bahwa aku adalah kekasihnya yang kuat dan mencintainya sepenuh hati”.

{ ### }

Rae Ra telah diobati dan dirawat oleh pihak rumah sakit. Kini Ia tengah tertidur diatas kasur putih di sebuah ruangan rumah sakit. Kepalannya dibalut oleh perban putih.

Kedua orangtua Rae Ra sudah datang sejak Rae Ra masuk kedalam rumah sakit ini. Mark yang memberitahu mereka. Mark pun menunggu didalam ruangan itu. Kedua orang tua Rae Ra tengah menangisi putrinya yang terbaring lemah diatas kasur putih itu. Mark hanya bisa melihat kedua orang tua Rae Ra dan Rae Ra secara bergantian dengan diam. Mark ingin menangis, Ia ingin mengeluarkna semua isi hatinya. Tapi Mark telah bertekad, bahwa Ia akan bertahan demi kekasihnya.

“Uhh..”

Tiba-tiba, Rae Ra terbangun. Kedua orang tuanya sontak kaget, begitu juga Mark. Kedua orang tuanya segera berlari mendekati putrinya, begitu juga Mark.

“Aku.. Aku dimana? Dan.. Kalian siapa?”

Kedua orang tua Rae Ra dan Mark membisu. Mereka tak dapat berkata-kata. Lidah mereka kelu untuk bertanya berbagai hal. “Bagaimana bisa kau melupakan kami?” “Kau tidak mengingat kami?” “Kau baik-baik saja?” “Apa yang sebenarnya terjadi?” “Apa, kau amnesia?”. Semua hal itu, tak dapat keluar dari mulut siapapun. Baik kedua orang tua Rae Ra, maupun Mark.

“Rae Ra sayang, aku ibumu, dan ini ayahmu. Dan yang disebelah sana, Ia kekasihmu. Kau.. Tidak ingat?”

Rae Ra menatap ibunya, ayahnya, dan Mark secara bergantian. Rae Ra menatap mereke semua dengan tatapan hampa.

“Siapa namamu tadi.. Mark? Apa ada bukti bahwa kau adalah kekasihku?”

Sekilas Mark tampak sedikit bingung. Perlahan, Mark mengeluarkan ponselnya, membuka gallery, lalu memperlihatkan sebuah foto kepada Rae Ra. Dalam foto itu, Mark terlihat sedang merangkul Rae Ra. Mereka berdua sedang tersenyum dengan sangat bahagia.

Rae Ra melihat wajahnya pada cermin yang terlihat dari kasur putihnya, memastikan bahwa wanita yang ada di foto itu adalah dirinya.

“Oh, jadi kau kekasihku? Aku rasa aku beruntung memiliki kekasih sepertimu, kau tampan”.

Rae Ra tersenyum dengan sangat manis, membuat Mark memaksakan sebuah senyuman di bibirnya. Ya, Mark terpaksa membuat senyuman itu. Sangat terpaksa. Ia tak dapat menolak senyuman Rae Ra.

“Rae Ra, sebaiknya kau berbincang dengan kedua orang tuamu. Mereka adalah orang yang sangat penting dan lebih penting dariku dalam hidupmu. Cobalah untuk mengingat mereka, mungkin kau akan segera mengingat mereka. Aku permisi dulu.”

“Kau mau kemana, Mark?”

“Aku ingin ke kamar kecil, aku akan segera kembali”.

Mark pun membalikkan badannya, berjalan keluar dari ruangan Rae Ra, lalu bergegas menuju kamar kecil. Setelah Mark keluar, Rae Ra memulai perbincangannya dengan kedua orang tuanya.

Saat itu, Rae Ra mengatakan sebuah rahasia, yang baru saja dia buat, kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya sangat terkejut, airmata kedua orangtuanya mengalir deras. Mereka langsung memeluk putri semata wayangnya. Mereka ingin tersenyum dengan bahagia, tapi mereka juga terluka karena keputusan yang dibuat Rae Ra. Mereka terluka bukan untuk diri mereka, tetapi untuk seseorang diluar sana.

{ To be continue }

Halooo, maaf kalau fanfic ini kurang panjang, tenang.. Masih ada chapter 2 hahaha😄 oh iya, dan maaf kalau setting feelnya kurang, aku masih pemula :”)

Ditunggu ya chapter 2 nyaa, and if you don’t mind, please leave a comment on the comment box❤

One thought on “Amnesia (Chapter 1)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s