[Ficlet] Cash Me Out

cash me out

cash me out 

shintarous’ storyline

starring [SEVENTEEN] Mingyu and YOU duration ficlet genre  Fluff rating Teen

.

“DAN pada akhirnya, kau masuk ke dalam jebakan milik Mingyu.”

 

Pagi hari ini, kamu termenung di atas sofa yang tengah engkau duduki, meratapi selembar kertas yang kau anggap sebagai ‘ancaman kematian’. Ya, tagihan penginapan bulan ini telah datang disaat sakumu masih belum mengantongi sepeser pun uang. Gajimu sebagai seorang pelayan kafe setelah jam kuliah selesai belum keluar, heran pastinya melanda seluruh staf yang bekerja di sana, bingung dengan jalan pikiran sang pemilik yang sampai saat ini masih nihil dimana beliau sekarang. Di situ kau mulai menghela napas dan memijat-mijat keningmu yang mengerut sejak tadi.

Secangkir kopi yang tadi menemani pagimu telah habis tak tersisa, hanya meninggalkan wadahnya saja. Kamu memutuskan untuk menyingkirkan kertas tagihan itu dari pandanganmu, menaruhnya di meja lalu kembali bersandar. Tanganmu meraih telepon yang berada tak jauh dari posisimu, menyalakannya lalu mulai mencari nama seseorang di kontak teleponmu.

Ya. Siapa lagi kalau bukan Jeon Wonwoo, tempat pendaratan akhirmu.

“Halo, kenapa kau meneleponku pagi-pagi—”

“Tagihan penginapanku sudah datang, kak, sedangkan aku belum mendapatkan gaji,” kau mulai berdialog, menyahuti suara yang berasal dari seberang telepon tersebut.

“Lalu aku harus apa?”

“Dasar tidak peka. Bantu aku, kak!”

“Hei, kau dengan mudah berkata ‘bantu aku, kak’ sedangkan kau sendiri tidak tahu apa yang baru saja aku alami, dasar bodoh!” Wonwoo mulai memekik, membuatmu reflek menjauhkan teleponmu dari telingamu.

“Memang kau kenapa?”

“Dasar adik tidak pengertian, perusahaan hampir saja bangkrut dan aku baru mendapatkan izin kerja sama dengan sebuah perusahaan baru. Jadi kumohon dengan sangat, jangan menambahkan masalah baru lagi kepadaku, kepalaku pusing—”

“Tapi, kak

“Sudah, kan? Kamu bilang saja kepada bibi tukang tagih itu kalau gajimu belum keluar. Dah, adikku sayang.”

Setelah kalimat itu sudah pada tanda titik, sambungan telepon itu diputus, membuatmu ingin sekali membanting telepon yang engkau genggam saat initapi untungnya kau masih sayang kepada benda itu—. Kakaknya, Jeon Wonwoo sama sekali tidak membantumu, malah membuat pikiranmu bertambah kacau. Dirimu bersumpah bahwa saat engkau bertemu dengan Wonwoo nanti, kau tidak akan segan-segan melabraknya, kalau perlu memangkas rambutnya sampai habis.

Di saat kau tengah menyibukkan diri, bel di depan pintu masuk penginapanmu berbunyi. Bel itu sempat berbunyi agak lama, mengingat responmu saat ini terbilang sangat lambat. Akan tetapi, otakmu segera merangsangnya dan mulai memerintah tubuhmu untuk bergerak menuju pintu depan, berniat untuk mengecek siapa gerangan yang membunyikan bel tadi.

Sampai kemudian, saat kau telah membuka pintu penginapanmu, kedua irismu mendapati seorang wanita paruh baya dengan sebuah kipas tangan berada dalam genggamannya. Engkau mulai bergidik, ada sebuah getaran tersendiri yang mendadak menghampirimu, membuat seluruh bulu kudukmu berdiri senada. Wanita itu adalah sang pemilik penginapan, namanya Bibi Kwon, dan anaknyaKwon Soonyoungadalah teman karibmu, kebetulan seperti itu.

“Selamat pagi, Joo

“Kumohon maafkan aku, Bi! Aku belum bisa membayar uang penginapan hari ini, gajiku belum keluar dan kakakku sedang sibuk, tolong maafkan aku, Bi! Aku bisa melakukan apapun yang Bibi mau, asalkan aku masih bisa tinggal disini!” kau mulai menjerit sembari berlutut di depan Bibi Kwon dengan muka memelas—dan yah, air mata juga turut mendukung jeritanmu saat ini—. Kau tahu bahwa tindakanmu saat ini sangat memalukan, namun apa daya jika taruhannya dengan tempat tinggal.

Bibi Kwon nampak sangat kebingungan atas sikapmu pagi ini. Beliau kemudian menepuk pundakmu beberapa kali, berusaha untuk menyadarkanmu dari segala sikap ketidak warasanmu ini, “Kenapa kau mendadak menjerit seakan-akan aku sedang menagih uang penginapanmu, Joo?”

Mendengar kalimat itu, kau diam sejenak, masih belum paham dengan ucapan ibu Soonyoung tadi. Seraya menghapus jejak air mata yang tercetak jelas di sepanjang pipi, dirimu memasang muka tak mengerti. Bibi Kwon pun tergelak melihat responmu yang konyol tersebut.

“Aku hanya memberitahumu kalau uang penginapanmu telah lunas, Joo,” tukas Bibi Kwon sedemikian rupa.

Engkau terkejut bukan main. Di dalam kepalamu, telah banyak sekali tanda tanya yang menempel di pikiranmu. Siapa yang dengan baik hati membayar uang penginapanmu, mengapa orang tersebut merelakan hartanya pergi hanya untuk membayar lunas uang penginapanmu, dan masih banyak jenis lain pertanyaan yang termuat di kepalamu.

Ha? Siapa yang membayarnya, Bibi?” jelas dirimu reflek melontarkan pertanyaan itu.

“Bibi hanya mengetahui kalau uang itu beratas namakan Kim Mingyu. Apakah orang itu keluargamu?”

Oh, tidak. Mingyu mulai berulah.

.

.

“Hai, Joo! Ada apa meneleponku? Apa kau rindu kepadaku?”

“Jangan berkata apa yang tidak akan terjadi, Mingyu!” mendengar suara tertawa dari seberang telepon, kau mulai mengumpat dalam hati. Persetan dengan itu, kau hanya terpaksa menelepon Mingyu, bukan karena kau inginkarena sesungguhnya kau sangat sangat benci dengan lelaki itu—.

“Oh, jadi untuk apa meneleponku?”

“Jangan berpura-pura tidak tahu, dasar alien! Jelaskan apa maksudmu tiba-tiba membayar uang penginapanku seenaknya!”

“Bukankah sesungguhnya kau harus berterima kasih kepadaku?”

“Bukan begitu, aku hanya tidak paham dengan rencanamu kali ini. Kau ‘kan tipe ada udang di balik batu,” Mingyu kembali tertawa, membuatmu geram tak hentinya. Ingin sekali kau menyumpal mulutnya saat ini dengan tisu lalu memaksanya untuk segera memberi alasan.

“Aku hanya sedang ingin baik, Joo. Maklumi saja—”

“Aku serius, Kim.”

“Oh, Joo ingin serius? Aku ingin tahu bagaimana raut wajahmu saat ini, haha.”

Kau hanya terdiam, berusaha untuk meredam kemarahanmu agar tidak sampai meledak dan berakhir dengan memutuskan panggilan tesebut. Kepalan tanganmu telah siap untuk memukul apapun, tidak lupa dengan napas memburu yang cukup mengerikan untuk didengarkan.

“Oke, aku serius. Kau memang benar, aku ini tipe ada udang di balik batu. Aku sengaja membayar uang penginapanmu karena aku tahu gajimu belum keluar. Untuk itu, maafkan ayahku yang telat membayarmu, haha,” Mingyu menghentikan kalimatnya sejenak, takut-takut ada respon darimu yang bisa membuat kalimatnya berakhir setengah. Setelah merasa aman, ia pun kembali berdialog.

“Selain itu, asal kau tahu, hanya kau saja yang kuberi uang seperti ini,”

“Kau membuatku berhutang banyak, Kim Mingyu. Segera ambil kembali uang yang kau bayarkan tadi untuk uang penginapanku agar aku bisa tenang menjalani hidup,”

“Dasar Joo tidak peka.”

“Apa maksudmu berkata seperti itu?!”

“Aku membayar uang penginapanmu karena aku sayang padamu, Joo!”

“Hah, jangan mencoba untuk merayuku, Mingyu. Aku akan segera kembalikan uangmu itu—”

“—oh, baiklah. Kau boleh mengembalikan uang penginapan itu kembali kepadaku, tapi sebagai gantinya, kau tidak kuperbolehkan untuk menolak cintaku, bagaimana?”

Dan pada akhirnya, kau masuk ke dalam jebakan milik Mingyu.

.

.

  • fin•

 

first fanfic setelah lama minggat di dunia korea X’D salahkan saja oppa-oppa ganteng dari cebengtin yang sudah menghasut diri ini/ceilah.

ini sebenernya cuman coretan asal yang enggak bermutu dan enggak lazim/? buat dipost, tapi gimana lagi, tangan gatel, postingan baru pun jadi. Okelah sip, ditunggu komentarnya, yaa

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s