[Vignette] Coffee

Coffee

“Coffee”

Scriptwriter: innochanuw || Casts: Goo Junhoe [June iKON] and Kim Minhwan [OC] || Genre: Romance, OOC?!, low-Comedy?! || Duration: Vignette || Rating: G

Inspired: Filosofi Kopi –lebih tepatnya expresso dari buku Tango karya Goo Hye Sun, mengambil pesan tersembunyi/? dari ff ‘Chocolate In Aur’ (poster dapet digoogle, tumblr:v)

.

.

.

“Cappuccino, expresso atau hal-hal berbau itu kenyataan. Dan dengan kau yang menambahkan gula saat menikmatinya, kau berusaha mengubah kenyataan yang sesungguhnya dengan mimpi-mimpi manis yang tak dapat digapai.”

.

.

.

Seorang gadis dengan wajah teduh tengah menyeruput cappuccino yang aku antar tadi. Ah tidak….Wajahnya memang teduh tapi aku tak merasa keteduhan dari dirinya karena setelah menyeruputnya sebentar, ia kembali membiarkan serbuk-serbuk kecil keluar dari bungkus berlabel ‘Sugar’ memasuki cangkir cappuccino nya.

Seperti biasa, ia sengaja melakukannya karena sendok –yang tadi ia biarkan menganggur sekarang ia gunakan untuk mengaduk cairan coklat muda itu agar serbuk-serbuknya bercampur dan menghasilkan rasa ‘aneh’ yang sepertinya akan sangat ia nikmati.

Sampai sekarang aku berpikir, buat apa menambahkan gula kedalam cappuccino andalan cafe ini? Itu sama saja kau tidak merasakan ‘rasa istimewa’ yang membuat cappuccino tersebut menjadi andalan cafe ini. Kalau tak suka, kan bisa memesan hot chocolate yang juga bisa ditambahkan serbuk coklat berukir hati yang ia perhatikan terus dengan senyum ma-

Aku memicingkan mataku lalu mengikuti arah pandangan –selain cangkirnya– gadis tersebut.

Aish….Pantas saja…Dibalik meja marmer tempat kami bekerja, Donghyun –barista baru di cafe ini– tengah tersenyum ramah –kebiasaannya sejak ia masuk ke sini– ke arah gadis itu. Entah arti dari senyumannya hanya ‘selamat menikmati’ atau ada maksud lain.

.

.

.

Keesokkan harinya, ia kembali lagi mengunjungi cafe ini dan menempati meja dekat pintu cafe yang secara tak langsung menjadi ‘miliknya’.

Namun bedanya dengan hari ini dan kemarin –bahkan juga sebulan lalu semenjak ia jadi ‘pelanggan’ kami– sudah hampir satu jam dia disana –bersama dengan 3 cangkir kosong yang hanya menyisakan ampas kecoklatan yang menggumpal pada dasar cangkir– yang terus saja ia tatapi dengan tatapan cemas seperti menunggu hasil u-

TING…

Ah, sudah waktunya tutup.

Tapi aku sama sekali tidak beranjak dari balik meja marmer karena sedang menunggu apa yang akan gadis tersebut lakukan saat mendengar suara penanda cafe sudah tutup. Apa ia akan keluar dengan ekspresi kecewa –pengganti tatapan cemasnya itu–? Atau menunggu sampai semua karyawan di cafe ini keluar dan menemui salah satu dari karyawan disini baru pulang? Atau menunggu aku meng-

Gadis itu berdiri secara spontan dengan suara berisik. Aku menatapnya dengan tatapan ‘ya ampun’ dan setelah itu ia tersenyum malu –entah karena tatapanku atau karena satu persatu karyawan disini mulai keluar dari balik meja marmer.

Namun senyum malunya hanya bertahan tak sampai satu menit karena secara berangsur-angsur, lengkungan sempurna bibirnya turun sampai membentuk lengkungan ke bawah yang sangat tipis –aku sampai tak melihatnya kalau tak memperhatikan dengan baik.

Memang ada a-

Donghyun keluar dengan sikunya yang terkait tangan halus seorang perem –ah itu kan Nari, gadis cantik yang terkenal dengan senyum manis dan keramahannya di balik kasir. Sejak kapan mereka bersama?

Tidak, bukan itu pertanyaannya. Pertanyaannya sekarang apa pemandangan tersebut yang membuat lengkungan gadis yang bukan penikmat kopi dengan baik –secara tidak harfiah– berubah? Tapi kenapa?

Apa karena gadis ini menyukai senyum Donghyun yang selalu ditebar ke semua orang? Atau karena cappuccino buatan Donghyun –anak itu….dari pertama kali masuk ia hanya mau membuat cappuccino saja tanpa mau menjadi pelayan juga ck– yang buih putih –kecuali untuk seorang lelaki tentunya– selalu berukiran hati?

Semua karyawan sudah keluar, manajer melempar kunci pintu cafe ke arahku dengan penuh gaya di umurnya yang hampir kepala 4 ini. Hah, dasar jiwa-jiwa yang merindukan masa muda ha-ha.

Aku melirik ke arah meja di dekat jendela dan dia masih ada disini tanpa berubah posisi sesenti pun. Masih bergeming seperti patung namun matanya yang berkaca-kaca membuktikan kalau dia adalah manusia.

Aku hampiri dia dengan tampang yang sudah garang seperti ‘heh, aku manager sendiri. Kau pulang sana!’ berharap dia akan langsung pergi. Tapi, tak disangka, bukannya pergi, ia malah masih berada disitu meskipun aku –si pemegang kunci– sudah berdiri di pintu kaca luar cafe, bersiap menguncinya sendirian disana.

Aish, jinjja.

Setelah berdecak keras, aku menarik lengan tangannya yang dingin –sedingin cuaca hari ini– seraya membisikkan sebaris kalimat panjang yang sudah aku tunggu-tunggu tanggal mainnya saat melihatnya pertama kali menegak cappucino bergula.

Cappuccino, expresso atau hal-hal berbau itu kenyataan. Dan dengan kau yang menambahkan gula saat menikmatinya, kau berusaha mengubah kenyataan yang sesungguhnya dengan mimpi-mimpi manis yang tak dapat digapai.”

Setelah memastikan tubuhnya sudah keluar dari cafe, aku mengunci pintu cafe secepat kilat lalu melengos pergi begitu saja.

Aku baru melirik ke arahnya saat tubuhnya merosot ke trotoar yang licin dengan air mata mengalir di kedua pipinya. Hatiku sedikit mencelos melihatnya –dari dulu aku memang tidak kuat kalau melihat wanita menangis–, rasanya ingin berbalik namun itu akan terlihat seperti ‘kabur dari kenyataan’ sama halnya dengan tak suka kopi padahal belum pernah merasakannya.

Aku tak tau bagaimana kelanjutan dari kisah ‘cappuccino bergula’ versi gadis itu karena hari itu ternyata hari terakhir ia mengunjungi cafe ini. Mungkin ia perlu waktu untuk bisa terbiasa menikmati cappuccino tanpa gula.

****

Musim dingin yang membekukkan digantikan oleh musim dimana semua tumbuhan –termasuk bunga bermekaran secara serempak dengan indahnya.

Suhu udara mulai meninggi tapi tidak dengan citra cappuccino yang dulu menjadi andalan cafe ini. Citranya semakin menurun karena kalah saing dengan menu-menu ceria kesukaan muda-muda zaman sekarang –seperti bubble tea misalnya.

Begitu pula dengan penghuni disini, orang-orang hilir mudik masuk dan keluar dari cafe ini. Pelanggan lama kami di musim membekukkan berganti dengan pelanggan baru yang masih muda dan terlalu berisik sementara aku disini tak terlalu suka dengan kebisingan.

Karyawan-karyawan disini pun juga mulai hilir mudik. Beberapa karena alasan logis –libur dari kuliah sudah habis– atau alasan non logis –barista yang ternyata kekasihnya keluar jadi ikut keluar juga, kuharap kalian tidak tau aku menyindir siapa.

Sedangkan aku? Bukannya menyombongkan diri tapi cafe ini milik keluargaku jadi aku bebas mau bekerja menjadi apapun, sesukaku saja. Kalau sekarang sih, aku hanya barista dan pelayan di meja kasir saja.

KRING….

“Selamat da….Oh, ternyata kau kembali juga,” Aku berkata tanpa bisa mengendalikan nada penuh kemenangan karena pengunjung kali ini adalah gadis yang sudah berbulan-bulan lebih tak datang kesini sampai tak kukenali karena tubuhnya terbalut dengan seragam sekolah rapih bername tag Kim Minhwan dan kacamata membingkai sepasang mata besarnya.

“Ah, apa ini cara….Junhoe-ssi melayani pengunjungnya ya?” tanyanya dengan nada kecewa. Aku tertawa sok akrab karenanya.

Di satu sisi karena nada suaranya seperti sudah akrab denganku –padahal matanya tadi bergerak-gerak mencari nametagku– dan disisi lain karena dia berdiri di depanku, hanya terhalangi meja marmer bukan menunggu seorang pelayan datang ke meja yang –sebentar lagi akan menjadi miliknya lagi– akan ia tempati.

“Bukan, ini khusus untukmu,” ujarku dengan nada sebecanda mungkin meskipun telingaku hanya menangkap nada datar dari sana.

“Ah sudah lupakan. Jadi Minhwan-ssi mau pesan apa?”

Gadis itu tertawa kecil seperti bentuk formalitas atas ucapanku yang terdengar seperti ingin melucu tapi gagal hah…

Ice Chocolate satu dengan Strawberry Cheese Cake satu potong. Tolong ya.”

“Masih tak bisa menikmati semua teman kopi eh?” tanyaku diselingi menyajikan pesanannya dengan kedua tanganku yang sudah cekatan.

“Bukannya tak bisa menikmati tapi….”

Ekspresi wajahnya yang tadi seperti remaja menanti musim semi mulai agak meredup mendengar pertanyaan ringanku tapi aku yang tak peka ini malah terus menerus mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan lain.

“Apa karena menu lama kami tidak sesuai dengan seleramu? Atau kau sudah bosan dengan menu kami?”

“Ti-tidak….” jawabnya gugup karena dicerca pertanyaan-pertanyaan olehku, si orang asing yang lebih tua darinya.

“Menu kalian selalu enak kok dan sesuai dengan seleraku hanya saja…..cappuccino itu…..”

“Woohyun?” tembakku langsung tanpa perasaan seraya melipat kedua tanganku dengan santai karena ice chocolate yang ia pesan sedang diproses oleh barista yang lain.

Bahunya yang terlihat tegak itu spontan menurun dengan lemas dan aku merasa bersalah karena menghancurkan jiwa semangat remaja menunggu musim semi yang sepertinya sudah ia bangun dengan susah payah tersebut.

“Maafkan aku,” kataku dengan nada semenyesal mungkin tapi ia hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah dan itu malah membuatku sedikit panik.

“Tak perlu,” katanya sedikit menenangkanku. Namun kedua bahunya yang bergerak naik turun itu membuatku merasa kesal. Ia menahan tawanya. Sial.

“Memang pada dasarnya aku bukanlah cappucino­­-nya, dan ukiran hati itu tak ada makna apapun,” lalu pergerakkan kedua bahunya makin cepat. Kedua matanya sudah membentuk bulan sabit karena tak kuasa menahan tawa.

“Aku saja sih yang terlalu ke-geer-an seperti gadis muda yang baru jatuh cinta. Terlalu banyak bermimpi memiliki kekasih yang sudah menjadi mahasiswa mapan hehe~”

Aku mengerutkan dahiku, tak suka dengan nada dan penggunaan kata yang ia pakai saat berbicara diselingi tawanya tadi. Terdengar begitu menyedihkan untuk anak SMA yang harusnya penuh semangat.

“Kau masih tidak mengerti maksudku rupanya,” Aku berkata dengan nada datar kembali seraya meletakkan sepiring strawberry cheese cake di depannya.

“Hah?”

Aku menggantikan pesanan coklat dinginnya yang tak ada seninya itu dengan cangkir keramik yang berisi cairan hitam pekat.

“Ini expresso kesukaanku. Minumlah.”

“Tapi kan aku ti-”

“Aku belum menikmatinya sedikitpun dan ini juga baru jadi.”

“Junhoe-ssi, aku kan ti-”

GLUK!

“Ju-Junhoe-ssi!”

“Tuan Goo! A-Anda kan tidak harus melakukan hal itu!”

“Minum lagi. Aku tidak akan berhenti sampai kau bisa menikmatinya.”

“Ti-”

GLUK!

“Kalau kau mengeluh, aku akan menjejalkannya terus sampai tetesannya mengalir ke dagumu.”

Minhwan terdiam saat mendengar ancamanku. Cairan expresso yang masih ia simpan sampai pipinya bergembung langsung ia teguk dan aku tersenyum jahat puas melihatnya.

Alisnya terangkat tinggi-tinggi ketika rasa pahit –yang tentunya masih terasa kuat– saat cairan tersebut sudah melewati tenggorokannya.

Dia berani mau protes?

Alisnya langsung turun saat melihat ekspresiku.

Aku mengulurkan cangkir keramiknya yang isinya masih ada setengah lebih lalu Minhwan menerima cangkir tersebut menggunakan jari-jari kecilnya dengan ringan.

GLUK! Satu tegukkan. Rasanya mungkin masih terasa pahit namun ia mengabaikannya dengan menelan salivanya berkali-kali –rasanya aku ingin tertawa melihat ekspresi tak terimanya itu– tapi tentu saja rasa pahitnya tak akan hilang kalau hanya begitu sa-

GLUK GLUK GLUK GLUK!

Nah ini yang aku maksudkan. Aku tersenyum lebar lalu melipat kedua tanganku di depan dada.

Memang seperti itu, kalau aku meneguknya terus menerus tanpa mempedulikan rasa pahitnya, lama kelamaan rasa pahitnya akan berkurang –atau dengan kata lain, kau sudah kebal dengan rasa itu.

Minhwan masih terus meneguknya terus sampai cangkir yang ia pegang kosong tak bersisa. Alih-alih dirinya yang terlihat begitu membenci rasa pahit memuntahkan cairan tersebut, ia malah tersenyum takjub seperti melihat Alice dengan kelinci-kelincinya muncul dihadapannya.

“Masih pahit?” Aku bertanya dan dijawab oleh gadis itu dengan gelengan kepala yang terlihat antusias seperti anak kecil.

“Itu sama dengan kenyataan, kau akan terbiasa dengannya kalau membiarnya lewat begitu saja. Tapi beda ceritanya kalau kau terus-terus menghindarinya dengan memberi gula. Ia akan terus mengejarmu.”

Bagi anak SMA sepertinya, menjelaskan sesuatu yang sudah rumit –kenyataan maksudku– dengan menggunakan sesuatu yang rumit –seperti filosofi dan kopi yang tak pernah ia pahami– mungkin membuatnya makin tidak mengerti tapi seperti ia sudah merasakan maksud dariku yang hanya mendorong pesanannya tanpa ekspresi apa-apa.

.

.

.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Sudah sepi.

“Jadi…..sudah mulai bisa memahami kopi?” tanyaku setelah duduk di kursi sebelahnya. Ia yang tengah meniup-niup pesanan barunya, white coffee dari bibir cangkir hanya melirik ke arahku lalu mengerucutkan bibirnya.

“Belum bisa,” Ia menyesap white coffeenya dengan suara ‘sruppp’ yang terdengar seperti melodi di telingaku. “Aku sedang berusaha menjadi kopi.”

Menjadi kopi? Maksudnya menjadi kenyataan? Anak ini sedang bermain filosofi-filosofi denganku yang dulu jurusan sains apa?

Mungkin karena ia sedang baik hati jadi dengan segera ia menjawab. “Aku sedang berusaha mengetahui peran dan perasaan si kopi yang disebut-sebut kenyataan agar bisa mengetahui dan juga merasakan perasaan si pengantar yang melimpahkan kehangatan yang dimilikinya ke dalam si kopi.”

“……Coba ulangi lagi ucapan sok-sokan filosofimu itu.”

Ia mendengus keras lalu membuang wajahnya dariku seraya meneguk white coffee-nya banyak-banyak.

Ck, aku memang dari dulu sama sekali tak berbakat untuk menipu orang. Meskipun bibirku tidak membentuk lengkungan ke atas, tapi sepasang mataku yang berbinar-binar seperti anak kecil yang mendapatkan mainan tak bisa menipu sama sekali.

.

.

.

-kkeut

.

.

NB: yah gak mau banyak cincong lagi, cuma mau ngasih tau ini ff fav aku banget sampe dikirimnya lama banget –dibuat sejak 31 Maret tahun lalu NYEHE– karena masih bingung mau nentuin siapa castnya –udah ganti cast 4 kali lebih di btw, capek daku menyesuaikan sikap-percakapan yang ada di ff ini sama artisnya:(((

Dan akhirnya jatuh dipilihan June –muahahaha– karena ke-sassy-annya itu– plus lagi demen dia, maapkeun satanwoo hanbabo kuberpaling dulu:< dan btw, adakah disini yang ngerasa kalau sikap Junwhore ini gak sesuai sama aslinya? Mueheheheehehe, daku sih ngerasa gitu –padahal udah dibuat se-sassy mungkin tapi tetep aja agak gimana gitu /efekudahketemploksamacastyangdibuatpertamakali:(( tapi udah gatel banget buat ngesend ff ini, kasian jamuran –sekalian kambek gitu libur uas kan HAHA ((padahal covernya gila-gilaan gak niatnya, buru-buru, dll meh))

Hih, bersyukur daku kali ini nulis NB terbilang pendek /hehe. Makasih ya yang udah mau baca –karena daku ndak tau bisa bikin ff lagi atau gak:v dan maaf banget atas kekurangan disana sini. Paipai!! *bush!* ((if u miss me, find me on ffn!search with same author’s name lolz))

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s