[Ficlet] On the Way Back Home

onthewaybackhome copy

On The Way Back Home

.

.

.

“Setelah kupikir-pikir, kamu manis juga.”

a story by byunjihyun27

Casts: Lee Jaekyung (OC) and Yook Sungjae (BTOB) | Genre: romance, friendship | Rating: Teen | Duration: 900+ words

Akhirnya yang ditunggu-tunggu Jaekyung tiba juga, tak ada hal lain yang lebih menggembirakan baginya selain pulang sekolah. Ia paham kalau apa yang ia lakukan ini salah, harusnya ia tidak boleh membenci sekolah. Tapi mau bagaimana lagi, sejak kepindahan teman les-nya yang paling menyebalkan—Yook Seungjae, awal semester lalu ke sekolahnya, bahkan orang itu satu kelas dengannya, hidup Jaekyung jadi tak karuan. Ia selalu tertimpa sial jika berada di dekat orang itu.

Ah. Jaekyung menggeleng pelan lalu mengibaskan tangannya di atas kepala, mengusir pikiranya tentang Sungjae dengan senyuman bodohnya itu.

“Tak usah hiraukan orang itu Jaekyung,” Perintahnya pada dirinya sendiri, “Nikmati saja akhir pekanmu ini dengan bahagia. Ya, dengan bahagia tanpa gangguan dari Si Konyol itu.”

Jaekyung tersenyum lebar—senyuman yang bahkan lebih bodoh dibanding senyum milik Sungjae—, dengan cekatan ia berjalan menyusuri koridor menuju hall sekolah. Sesampainya di hall, ia berhenti dan mengeluarkan headset dari dalam tas orange miliknya. Beberapa detik setelah itu headset berwarna putih telah menggantung pada kedua telinganya, lalu ia berjalan dengan santai meninggalkan sekolah.

Dari kejauhan Sungjae mengikuti Jaekyung, langkah demi langkah sampai mereka sampai di halte bus. Sungjae mendekat dan duduk di samping Jaekyung yang tidak sadar akan kehadirannya.

Sungjae memejamkan kedua matanya lalu menarik napas panjang, ia mencoba menenagkan dirinya agar tidak terpancing emosi lagi seperti kemarin, kalau tidak, bukannya masalah antara dia dan Jaekyung cepat selesai tapi malah semakin panjang dan berlarut-larut. Yah mengingat watak gadis yang satu itu lumayan angkuh dan Sungjae juga tak ada bedanya dengan gadis itu.

 “Jaekyung, aku minta maaf. Atas kejadian kemarin,” ucap Sungjae terbata, tetapi ada angin sejuk yang menerpa dirinya—lega.

Tik.

Tok.

Tik.

Tok.

Lima puluh tujuh detik telah berlalu sejak Sungjae mengucap maafnya pada Jaekyung, tapi gadis itu tak menghiraukan dirinya sama sekali—karena Jaekyung sedang mendengarkan musik, entah sebesar apa volumenya hingga ia tak dapat mendengar orang lain disampingnya.

“Jaekyung maafkan aku.” Ulang Sungjae. Tapi masih seperti tadi, ia tak mendapat jawaban. Tak tahan lagi Sungjae pun menarik lengan kiri Jaekyung, sampai gadis itu berteriak kesakitan.

“Aduh, apa-apaan sih?!” teriak Jaekyung emosi pada orang yang menarik tangannya dengan kuat itu.

“Yook Sungjae, apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!!” Jaekyung terus berusaha melepskan tangannya dari genggaman Sungjae. Tanpa pikir panjang lagi, ia mengayunkan kaki kanannya dan menghantam perut Sungjae dengan lututnya.

“Hei, jangan main-main denganku. Kau dengar.” Tegas Jaekyung pada Sungjae yang kini terduduk di lantai halte bus.

“Kau tahu, selama ini aku diam saat kau ganggu hanya karena malas meladenimu, juga ku kira sikapmu itu akan berubah seiring berjalannya waktu. Tapi perkiraanku salah.” Lanjut gadis itu dengan bersungut-sungut penuh kemarahan.

“Jae… Jaekyung, aku hanya ingin mengucap maaf padamu. Kau tahu, betapa sulit kata-kata itu keluar dari mulutku ini.” Sungjae menjelaskan maksudnya pada Jaekyung sambil berusaha berdiri, tak peduli dengan rasa sakit di perutnya—bukan hanya disebabkan hantaman Jaekyung, tapi juga asam lambungnya yang kambuh.

“Apa caramu mengucapkan maaf seperti itu? Dengan menarik tangan seseorang sebegitu kuatnya. Kalau memang itu caramu, siapa yang mau memaafkanmu?” Jaekyung bersungut-sungut, tak menyadari perubahan pada wajah Sungjae yang mulai pucat.

“Tidak, maksudku bukan seperti itu. Aku tadi sudah mengucapkan kata-kata maaf padamu, tapi kau tidak kunjung menja…”

Brukk…

Belum selesai kata-kata itu terucap Sungjae terjatuh—pingsan. Jaekyung langsung panik melihat keadaan Sungjae yang begitu lemah dan pucat. Ia berusaha membangunkan Sungjae, tapi nihil. Dengan cekatan ia berlari ke tepi jalan dan menghentikan sebuah taksi.

Dengan bantuan sopir taksi ia mengangkat tubuh Sungjae masuk kedalam dan membawanya ke rumah sakit terdekat.

Entah apa yang kini ia rasakan, panik, gelisah, sedih, semuanya menjadi satu. Ia hanya bisa berputar-putar di depan pintu ruang pemeriksaan sambil terus menggigit bagian bawah bibirnya.

“Bagaimana kalau dia tidak sadar, bagaimana kalau lukanya serius, bagaimana?!” Pikirannya kacau saat ini, sangat kacau.

Tak seberapa lama, pintu ruang periksa terbuka dan seorang dokter keluar, “Permisi apa anda keluarga pasien?”

“Saya temannya dok, saya yang membawanya kemari. Apa dia baik-baik saja dokter? Bagaimana keadaan teman saya dok?” tanya Jaekyung khawatir.

“Tenang dulu, dia tidak apa-apa, ia pingsan karena asam lambungnya kambuh dan ada sedikit memar di perutnya. Tapi dia akan baik-baik saja dan akan segera sadar.” Dokter itu menjelaskan panjang lebar tentang keadaan Sungjae, setelah itu ia pergi.

“Akhirnya kamu bangun, syukurlah.” Jaekyung menghembuskan napas panjang, kini kekhawatiranya sedikit berkurang melihat Sungjae yang sudah sadar.

“Apa yang terjadi?” tanya Sungjae kebingungan, ia menengok kanan-kirinya yang tampak asing bagi dirinya, “Dimana ini?”

“Kita di rumah sakit, asam lambungmu kambuh. Dasar bodoh! Apa tidak punya waktu sedikitpun untuk makan, hah? Membuat orang khawatir saja.” Sentak Jaekyung mulai emosi, ia sebal karena Sungjae tidak bisa menjaga kesehatannya.

Sungjae membenarkan posisi duduknya dan menatap Jaekyung lekat-lekat, “Jaekyung, terimaksih dan maaf.”

Belum sempat Jaekyung menggapi kata-kata itu, Sungjae berkata lagi, “Terimakasih telah membawaku ke rumah sakit juga telah bersabar menghadapiku selama ini dan maafkan aku untuk semua tingkahku yang mengganggumu, terlebih kejadian kemarin, maaf aku telah membuatmu dihukum Guru Song dan juga maaf karena tadi aku melukai tanganmu.”

Jaekyung tersenyum lalu meraih tangan Sungjae, “Kau tahu, aku tidak apa-apa. Aku juga minta maaf, pasti sakit ya rasanya hantamanku tadi?”

“Dan satu yang membuat aku selalu bertanya-tanya, apa alsanmu selalu usil padaku?” lanjut gadis itu.

“Itu karena aku ingin kau bisa melihatku, kau tahu, orang sepertimu sulit untuk dimengerti.”

Jaekyung tersenyum kecil lalu memukul kepala Sungjae, “Dasar bodoh. Setelah kupikir-pikir, kamu manis juga.”

Jaekyung bangkit dari tempat duduknya dan beingsut pergi keluar ruangan, meninggalkan Sungjae yang kebingungan.

 “Jaekyung mau kemana?”

“Aku mau mengambil obatmu sebentar.”

“Yang tadi itu apa maksudnya?”

“Yang tadi apa? Memangnya aku berkata apa?”

.

.

.

“Setelah kupikir-pikir, kamu manis juga.”

–fin

 

A/N : Holla, kenalkan aku Aini 00 line dengan nama pena byunjihyun27. Ini postingan pertamaku di IFK, jadi salam kenal buat kalian semuaa… Oiya, mian mian kalau ceritaku ini kurang menarik atau gimana. Ini mungkin juga tulisanku yang pertama yang ku publish setelah kira-kira satu tahun haitus dari dunia tulis-menulis, karena baru fokus sama UN. Mohon review-nya buat karyaku ini, supaya kedepannya bisa diperbaiki. Oke, sekian dari aku, dadah J

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s