Rumpled, Hole, Bamboo [3: Bamboo] END

Rumpled, Hole, Bamboo

Rumpled, hole, bamboo.

Bamboo

Crystbellzinski’s plot

Cast: Oh Sehun (EXO) OOC, Park Seul (ulzzang) | Genre: Romance, Slice of life | Type: Vignette | Rating: G

Prologue | Rumpled | Hole

“Ini hubungan kita, Jalinan Bambu.”

Rumah tua, berisi nenek, kakek dan seorang gadis belia mendengar kegaduhan yang ada disekitar lingkungan rumahnya. Ada pembantaian besar-besaran. Marga Oh dituduh telah melakukan sebuah pembuatan senjata dan beberapa teknologi canggih yang dirahasiakan. Kabarnya semua itu disebut-sebut alat yang luarbiasa kemampuannya. Marga Oh hanya marga yang menurun kebeberapa kepala saja. Marga yang kecil. Marga yang hanya menjadi alat bantu pembangunan teknologi kota. Semula itu pekerjaan mereka, namun semakin lama mereka dipandang sebelah mata dan selalu ditempatkan dijabatan terendah. Kini seseorang dari marga Oh mulai berontak, menegakkan keadilan. Belakangan terdengar bahwa seorang pria yang mempunyai satu orang anak lelaki itu adalah pelakunya. Pria yang baru saja kehilangan istrinya karena sakit parah. Sudah dibawa ke rumah sakit terdekat. Namun, tetap sama, perlakuan orang-orang yang tidak bermarga Oh. Mereka menelantarkan sang istri begitu saja. Pria itu mengais-ngais pertolongan. Pria itu bawa uang yang cukup besar di kantongnya. Tetapi semuanya sia-sia saat salah seorang dokter datang menolongnya, sang istri sudah tinggal didetik-detik terakhir. Salah satu dokter yang terselip, dia dokter yang bermarga Oh.

Semenjak saat itu, si bocah tidak terlalu diurusi keperluannya. Pria itu hanya memikirkan hal yang harus diperjuangkan marga Oh tetapi, selama ini belum pernah diperjuangkan. Dia membuat banyak sekali peralatan bertekhnologi tinggi dan ada pula senjata diantaranya. Perjuangan yang tidak sempat diperjuangkan. Perjuangan yang hanya sebuah rencana.

Disaat beberapa alat lagi ingin diselesaikan, polisi setempat sudah mengetahuinya. Seluruh marga Oh menutupi pria itu. Dan terjadilah pembantaian hebat-hebatan. Semua marga Oh yang tidak mau bicara dan juga yang mau di bunuh. Sampai pada malam itu, malam hari dimana pria itu di eksekusi.

Seorang bocah kecil masih senang duduk diatas kondominium tua. Usianya baru sepuluh tahun. Ini hobi terbarunya sejak sang ibu wafat dan sang ayah sibuk membuat beberapa alat berteknologi. Mentari cerah dan tiupan angin yang sepoy-sepoy sambil bersiul, lengkap. Si bocah tambah betah, sehabis pulang dari sekolahnya dia selalu menghabiskan waktu siang harinya ditempat tua itu. Waktu pulang kerumahnya saat dimana langit sudah kemerahan.

Si bocah mengikuti jalan setapak menuju rumahnya. Semakin mendekati rumah, semakin ia melihat banyak sekali orang dengan suara-suara bising mereka. Ia coba menembus kerumunan itu. Ia ingin pulang. Perutnya sudah keroncongan, dan kalau kelewat malam pulangnya dia juga bisa mendengar musik keroncong dari sang ayah yang terlalu mencemaskan dirinya. Ia terus menembus kerumunan itu.

Ada seseorang yang tergeletak. Berambut perak, putih mulus kulitnya. Orang itu dikelilingi oleh beberapa orang, empat sampai lima orang. Mereka semua memakai sarung tangan plastik. Si bocah mencoba mengintip orang yang tergeletak itu. Namun mendadak tubuhnya diangkat dengan sangat ringan oleh seseorang.

“Nak, kau ti..” seorang pria hendak melarangnya kesana. Namun tertahan saat dia melihat rambut si bocah yang keperakan. Si bocah dibawa pergi kesuatu tempat. Tertutup dan sepi dari kerumunan.

“Margamu Oh?”

Si bocah mengangguk.

“Sama dengan paman kalau begitu.”

“Tapi, sekarang rambut paman berwarna coklat.”

Si pria terkekeh. “Ini untuk mengelabui, marga Oh harus tetap hidup, bukan?”

Kini si bocah yang terkekeh.

“Siapa namamu bocah pintar?”

Si bocah diam. Ia sedang berpikir keras untuk memberitahunya atau tidak.

“Kita satu marga, aku akan menjagamu. Kita saling menjaga. Marga Oh harus tetap hidup, bukan?”

Tanpa perlu menimbang lagi, ia membuka suaranya, “namaku Oh Sehun.”

Setelah perkenalan singkat itu keduanya pergi ketempat lain. Sehun tidak pernah pulang kerumah lagi. Pria itu membawanya ke panti asuhan. Panti asuhan yang di bangun oleh wanita cantik baik hati yang ternyata masih punya garis keturunan dari marga Oh. Sehun di biarkan hidup disana. Bibit marga Oh yang tersembunyi.

“Namaku Oh Sehun!”

Bocah-bocah lain yang berdiri melingkarinya tertawa heboh.

“Dia bilang nama marganya ‘Oh’?” Tawa kembali pecah. “Marga Oh sudah tidak ada di planet ini! Kalau kau mengotot bermarga ‘Oh’ berarti kau tidak lain hanya masyarakat bawahan! Dimana orang tuamu! Ibumu! Ayahmu!”

Sehun menggigit bibir bawahnya, ia mundur. Namun bocah yang berada dibelakangnya mendorong tubuhnya dengan kencang hingga ia terperosok.

“Aku Oh Sehun!” ucapnya dengan lantang meski wajahnya terangkat hanya beberapa senti dari aspal.

Semua bocah kembali mengejeknya. Menggunjing Sehun. Kesabarannya telah habis, Sehun berdiri tegap memandang kesemua bocah.

“Margaku Oh! Aku Oh Sehun. Aku sama dengan kalian yang tidak tahu dimana ibuku dan ayahku!”

Beberapa bocah diam. Sisanya masih ada yang sesekali mengolok. Satu orang bocah keluar dari lingkaran. Akhirnya yang lain mengikuti kelakuan bocah yang tadi. Sehun ditinggal sendirian. Berdiri diatas aspal lembab. Sehun mengumpat begitu banyak didalam hatinya. Setelah semuanya menjauh. Sehun mengambil batu kerikil dan meleparkan kearah mereka. Sayang, tidak ada yang mengenai salah satu diantara mereka, bocah-bocah itu sudah cukup jauh. Sehun berbalik meninggalkan lapangan yang tidak jauh dari panti asuhannya. Dia msih dirundung kesal dengan bocah-bocah itu. Kesal yang begitu sangat. Sehun terus berjalan. Ada apa dengan namanya, pikirnya ulang. Tadi dia ingin menimbrung dalam permainan. Ia hanya ingin bermain layaknya anak semuran dia. Permainan yang semula hanya dia tonton dari kejauhan namun semakin menarik, hingga ingin rasanya mencoba memainkannya. Sehun memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, itu kesopanan kata mendiang sang ibu. Sehun juga ingin dapat teman selain dari panti, punya banyak teman lebih seru. Tapi, sebaliknya dia tidak merasakan keseruan seperti harapannya. Malahan kejengkelan yang kini terasa sangat di dadanya. Sehun terus berjalan.

Sehun lupa, dia lupa tentang ayahnya, dia lupa bertanya pada paman si rambut coklat. Paman yang masih suka mengunjunginya di setiap akhir pekan. Nanti kalau akhir minggu ini mereka bertemu, Sehun punya bekal pertanyaan untuk paman berambut coklat. Sehun berhenti berjalan. Dia celingukkan. Melihat jalan yang jauh lebih ramai dari jalan yang biasa dia lewati untuk menuju panti. Jalan yang agak asing. Sehun coba terus berjalan. Mentari siang hari mulai berbeda posisinya. Sehun terus berjalan sambil celingukan. Bagaimana bisa dia jadi salah jalan begini? Hanya dari lapangan ke tempat panti asuhan seharusnya ‘kan tidak jauh, dan dia sudah hafal. Sehun berhenti disimpangan jalan. Tidak jauh dari simpangan Sehun melihat ada kondominium tua yang begitu tinggi menjulang. Sudah lama Sehun tidak nangkring di atap. Sehun bergegas mencari jalan pintas agar bisa sampai disana. Saat sudah diatas. Sehun memilih duduk di lantainya saja, tidak jadi nangkring. Ia menyandarkan badannya ke dinding dan dia tertidur pulas seketika. Perjalanan jauhnya menguras semua energi yang tersisa. Sehun tidak pernah kembali ke panti asuhan lagi setelahnya. Tidur di atap kondominium tua untuk yang pertama kali dan untuk waktu yang panjang juga.

Sinar keemasan memasuki celah-celah tirai, seorang remaja membuka tirai itu, mempersilahkan sang sinar memasuki rumah tuanya secara bebas, tanpa halangan. Setelah itu, gadis belia itu berlarian kecil memasuki kebun dibelakang rumahnya. Kebun bambu, dia suka sekali. Sinar yang menyelusup masuk menembus daun-daun bambu terlihat begitu indah. Pemandangannya mempunyai kecantikan tersendiri. Dia begitu senang. Dua bulan sudah permasalahan dengan warga bermarga Oh itu mereda. Dan kemudian menghilang.

“Hah!”

Si gadis menajamkan telinganya. Dia terkejut dengan suara gerasak-gerusuk barusan dari semak-semak di dekat dinding pembatas. Ia mencoba mendekatinya perlahan. Ada warna keperakan yang menyembul sedikit diatas semak. Si gadis terus mendekati. Kalau dia dapatkan binatang itu akan ia berikan pada sang kakek. Dia terus mendekati.

Kreek!

Si gadis menginterupsi perjalanan. Ia tidak sengaja menginjak pecahan kaca. Ada rasa sakit di telapak kirinya yang sehabis menginjak beling. Namun, ia hiraukan. Dia lanjutkan pencariannya pada semak-semak. Si gadis sangat ingin mencari tahu keadaan dibalik semak-semak. Gadis itu terjatuh seketika saat kembali melihat semak-semak yang sudah tidak jauh lagi. Ada sepasang mata manusia yang menatapnya dibalik ranting dedaunan dari semak-semak.

“Seul!” Suara pria baya berseru dari dalam rumah tua.

Si gadis menatap ke dalam rumahnya, lalu dia kembali memandang ke semak-semak. Ia semakin terkejut, ada bocah yang berdiri menatapnya dihadapannya. Si bocah sedikit sulit ditangkap rupanya, dia membelakangi sinaran matahari. Seolah tubuhnya berkilauan cahaya. Itu seorang bocah bukan binatang.

“Kau terluka nona?”

Si gadis menggeleng.

“Tadi kau menginjak pecahan kaca itu ‘kan?”

Si gadis hendak bangun. Sambil tetap memusatkan pandangannya pada si bocah. Ia menggeleng lagi. Tapi rasa sakit yang terus berdenyut itu tidak bisa bohong. Si bocah memandang kaki kiri si gadis. Ada darah!

“Kau gimana sih nona! Itu kakimu berdarah! Jangan menggeleng lagi!”

Si bocah hendak menyentuh tangan si gadis namun, si gadis yang masih terkejut dengan kemunculan seorang bocah dikebun bambunya yang tertutup, membuatnya siaga dari jenis interaksi apapun. Si gadis menangkis tangan si bocah yang hendak ingin menolongnya.

“Seul dimana kamu!”

Si gadis kembali menatap ke dalam rumah tua.

“Sana cepatlah pergi, sebelum kakek dan nenekku menemukanmu,” bisiknya pada si bocah.

Si bocah termenung mendengarnya.

“Sana cepat!”

Si gadis mendorong tubuh bocah berambut perak tersebut. Akhirnya si bocah berlari, lalu memoloskan diri ke lubang yang lumayan besar didinding pembatas. Si gadis tidak memilih masuk dan tidak menjemput sautan sang kakek, ia lebih tertarik untuk mendekati semak-semak yang sudah kosong itu. Rerumputan yang ada disana tidak tegap seperti yang ada disekitarnya. Rumput yang ada disana sudah merebah walau masih segar lembarannya. Sepertinya sudah tertindih cukup lama. Si gadis mengintip lubang dibelakang rerumputan itu. Ada jalan kecil yang terhimpit dua dinding. Luka yang ada di kaki kiri si gadis kembali berdenyut. Tidak tertahankan lagi, ia kembali ke dalam rumah tua. Kala hendak ingin melangkah ia menemukan sebuah gelang kecil yang terbuat dari anyaman bambu. Anyaman gelang itu walaupun kecil tetapi setiap bagiannya begitu rapi. Gelang yang sederhana, manarik untuknya, ia memungut gelang ancaman bambu tersebut. Bambunya cukup tebal, pasti si bocah kesulitan saat menipiskan bilah bambunya. Ia memutar-mutar melihat keseluruhan rupa dari gelang tersebut. Gelang itu ternyata punya nama. SEHUN. Terpahat sederhana di gelang tersebut. Si gadis memandang lubang itu kembali. Mungkinkah itu nama si bocah. Ia mencobanya. Memasukannya ke lengan mungilnya. Masih sedikit kelonggaran. Gelang anyaman itu terkesan indah di lengannya, mungkin karena dibuat dengan sangat rapi dan bambunya tidak terlalu tipis. Ia tidak ingin membuangnya. Gelang anyaman bambu itu akan ia simpan kalau-kalau si bocah datang kembali untuk mengambil gelang yang terjatuh itu.

“Seul, kakek memanggilmu daritadi, kenapa tidak menjawab?”

Dia memutar tubuhnya sambil mengumpatkan gelang anyaman bambu yang digengam di belakang badannya. Senyum dikembangkan olehnya. Mengelabui.

“Cucu kakek yang sudah berumur tujuh belas tahun ini sedang apa?”

“Ini hari libur ‘kek, aku ingin bermain saja di kebun bambu. Lihat ‘kek cahaya mentarinya memancar begitu indah.”

Kakek memandang sang cucu yang belakangan ini mengalami perubahan pada tubuhnya. Sampai pada kaki kiri sang cucu.

“Seul! Kakimu berdarah!”

Sang kakek langsung menggendongnya. Seul mendapatkan perawatan untuk lukanya, nenek tampak begitu khawatir. Seul masih menggengam gelang anyaman bambu itu, ketika hampir terlepas ia buru-buru memakaikan ke lengan mungilnya. Gelang anyaman bambu itu harus dijaga, kalau-kalau si pemiliknya datang lagi untuk menjemputnya.

.

.

.

Gelang anyaman bambu masih melingkar di lengan wanita muda yang berkarir gemilang. Wanita yang berumur dua puluh empat tahun. Sungguh mengesankan dirinya. Perusahaan milik kakeknya ia lanjutkan dengan cermat, hingga menaikan kedudukan perusahaan di mata pelanggannya. Ia menekan tombol pada lift. Pagi yang cerah, ia datang lebih awal.

“Nona, tahan pintunya!” Pemuda itu segera masuk kedalam lift, selagi pintunya terbuka. Dia ucapkan terima kasih kepada wanita itu, yang tak lain Seul. Keduanya mengulas senyum.

“Nona, gelangmu bagus.”

Seul hanya tersenyum. Jatungnya berdegub setiap ada orang yang meyungging soal gelang anyaman bambu itu. Ia menyentuh gelangnya.

“Selamat pagi Sehun,”

Pemuda itu tersenyum, ucapan selamat pagi pertama yang ia dapatkan hari ini. Ia membalasnya juga. Seul tidak terlihat seperti biasanya, dia terkesan ada yang ditutupi atau malu-malu?

Setelah sampai di lantai tujuannya Seul bergegas keluar dari lift. Sehun yang ditinggal sendirian termenung dengan sikap Seul yang tidak seperti biasanya itu. Apa dia punya bau badan amis yang buruk atau kemejanya lebih kumal dari kemarin atau mungkin ikat pinggang bambunya yang kelewat norak. Hari ini dia tidak memakai jas, karena udara diluar terlalu panas.

Seul mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk, sedangkan Sehun punya agenda kerja yang lumayan banyak, dia punya banyak tempat yang harus dikunjungi untuk pengecekan.

“Sehun, kamu tolong antarkan berkas-berkas yang ada diatas meja itu ke ruangan nona Seul, ya,”

Sehun yang ingin keluar dari ruangan terpaksa mundur beberapa langkah.

“Aku?”

Si kepala bagian mengangguk.

Sehun mendekatinya, ia berbisik, “maaf pak, boleh saya minta parfum punya bapak? Sedikit saja.”

Ia tersenyum, memelas untuk mendapatkannya.

“Hei! Sehun, bocah! Sudah berani mendekati seorang wanita rupanya, hah?” Si kepala bagian menunjuk-nunjuk kearahnya. Ia tersenyum, sesekali tawanya juga terdengar membuat Sehun mundur lagi. Si kepala bagian mengambil tasnya, merogoh kedalam tas untuk mengambil sebuah parfum miliknya.

“Ini, pakailah. Tumben sekali kau Sehun.”

Sehun menyemprotkan beberapa ketubuhnya. “Terima kasih pak. Saya hanya lagi ingin memakainya saja,” ia tersenyum, sambil mengembalikan parfum.

“Kalau begitu, belilah beberapa, saat nanti upahmu sudah turun,”

Gleek!

Sehun mengambil berkas. Ia keluar dari ruangan pusat kontrol menuju ruangan Park Seul.

“Silahkan masuk!”

Seul tertimbun banyak berkas diruangannya.

“Nona, ini berkasnya boleh saya letakan disebelah mana?”

Seul mendongak setelah mendengar suara Sehun “Oh! Sebelah kananku, tolong.” Tidak biasanya, dia merasa gugup mendapatkan kunjungan dari pemuda yang usianya tujuh tahun lebih muda darinya itu.

“Terima kasih, Sehun,”

Sehun mengukir senyum sebelum ia hendak mengarah kepintu.

“Kamu pakai parfum?” Tawa Seul membuncah.

Sehun berbalik kembali ke meja Seul. Ikut tertawa seperkian detik.

“Kenapa?” Seul menyapu air mata tawanya.

Pemuda berambut perak itu mendesah, ia mengambil kursi yang berada didepan meja, menariknya ke dekat Seul.

“Sewaktu pagi tadi di lift, nona bergegas keluar. Jadi kupikir apa karena bau amisku terlalu buruk, ya? Nona sendiri kenapa?”

Ini bukan soal bau amis yang buruk, bahkan bau anyir itu tidak sama sekali buruk baginya. Seul membungkam. Cukup lama. Lama. Berkali-kali ia membiarkan matanya berkeliaran, sementara Sehun selalu mengundang mata Seul berhadapan dengan miliknya. Seul lebih memilih membungkam.

Kenapa? Apa yang dipikirkannya? Ini gelang anyaman bambu yang memberikannya kenyamanan. Gelang anyaman bambu sederhana yang terbuat mungkin dari kebun bambu yang ada di rumah tua kakeknya. Kebun bambu yang memberikan ketenangan, kebun yang begitu ia senangi dan sayangi. Baginya gelang anyaman bambu ini lebih mahal dari perhiasan termahal didunia. Tapi, apa orang lain akan mengerti. Apa sikap orang lain terhadap kesukaannya ini. Orang lain bisa saja mengatai dirinya orang aneh. Orang yang tidak punya pikiran luas. Seul menggengam lagi gelangnya yang ada disebelah kiri lengannya.

“Oh iya! Gelangnya bagus nona!”

Seul terkejap, ia menatap Sehun.

“Itu dari bambu bukan? Sama dengan ikat pinggang milikku. Aku yang membuat ikat pinggang ini. Lihatlah, bagaimana?”

Seul melirik ikat pinggang bambu Sehun.

“Bagus tidak?”

SEHUN

Terukir di kepala ikat pinggang bambu tersebut. Seul mengangguk, menyunggingkan sebuah senyuman.

“Kita punya barang dari merek yang sama rupanya!” Seul untuk pertama kalinya selain pada nenek dan kakeknya ia menunjukan gelang anyaman bambunya pada Sehun. Sehun mengambilnya. Ia terpana melihat anyaman pada gelang terlebih pada goresan nama yang ada disana.

Butuh waktu yang lama untuk Sehun mengamati gelang anyaman bambu itu. Dia membuat banyak anyaman sejak kecil, ilmu yang dituruni dari sang ibu bermarga Park. Sudah banyak sekali ia menggunakan keahliannya ini untuk membuat perabotan di rumah kecilnya. Anyamannya selalu diberi nama agar tidak tertukar. Dan gelang ini berarti juga miliknya.

Seul menitikan air mata selama Sehun mengamati gelang bambu anyamannya. Sehun terbangun dari pengamatan panjangnya saat satu tetesan air mata Seul jatuh didekat tangannya. Ia menatap Seul.

“Hai, kita ketemu lagi,”

Sehun merasakan lubang itu dalam hatinya. Sehun seketika memeluk Seul, menariknya. Lubang kerinduan yang membesar yang kemarin belum ia temukan obatnya. Saat memeluk Seul lubang itu seolah menutup, tidak terasa perih seperti sebelumnya, mungkin obatnya manjur. Seul-lah obatnya Ingatan itu baru kembali di pikiran Sehun. Ia melepas pelukannya, mencari kaki kiri Seul.

“Kakimu yang berdarah? Mana?”

Seul mengusap wajah Sehun. “Itu sudah lama, aku baik-baik saja.”

Mereka berdua merapikan duduk ditempatnya masing-masing. Seperti teman lama yang baru dipertemukan kembali, Sehun dan Seul menceritakan segala hal yang terlewatkan. Mereka bukan teman bukan juga sepasang kekasih, tetapi entah bagaimana ada rasa sangat amat senang ketika mereka saling memandang, saat mendengar suara sehat masing-masing. Tidak harus memulai dengan perkenalan bahkan pendekatan dalam waktu panjang, satu sama lain sepertinya tahu jalan mana yang harus dituju untuk mengiringi sampai pada tujuan yang sama. Seul dan Sehun menemukan dan memperat hubungan. Hubungan yang dimulai dari sebuah anyaman bambu. Anyaman bambu ciri khas marga Park yang menurun pada marga Oh.

The end, for now.

Thank you for reading, guys. Terima kasih yang sebanyak-banyaknya buat yang ngikutin cerita rumpled, hole, bambu dari prologue sampai bamboo ini. Kalau ada unek-unek jangan ragu sampaikan pada kotak komentar ^^

Have a nice day all

*bow

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s