[Vignette] Last Confession

last confession copy

Last Confession

by tanomioo (http://jungkxox.wordpress.com)

Main casts: Park Bo Young & Song Joong Ki

Vignette (±2700w) | Sad Romance, Life, Hurt/Comfort | Teen

.

.

“Karena ini adalah yang terakhir kalinya aku menemuimu, maka aku akan mengakui semuanya.”

.

.

Kau tahu apa yang paling sulit bagi Boyoung? Tentu kau tidak akan tahu. Gadis berambut kecoklatan itu adalah tipikal orang yang pemilih. Maksudku bukan pemilih dalam hal semacam fashion masa kini, atau hal-hal berbau glamour lainnya. Ia hanya sedikit memilih-memilih teman. Dia sendiri pun tahu bahwa ia tidak seharusnya seperti itu—ia hanya berhati-hati saja.

Gadis itu sulit berbagi.

Berbagi bekal makan siang atau berbagi jawaban saat ujian—bukan itu. Gadis itu sulit berbagi dengan orang-orang sekitarnya—tanpa terkecuali. Baginya menjadi penyendiri itu lebih baik daripada harus pergi menonton film setiap minggu dan menghabiskan banyak uang untuk membeli baju-baju keluaran ternama.

Ia lebih suka mematung seperti saat ini.

Mantelnya kini basah. Ujung sepatunya mulai mengkerut karena titik-titik air terus membasahi. Rambutnya lepek namun tak menghilangkan kesan anggunnya. Menghela nafas berkali-kali hanya untuk berharap langit akan memancarkan kecerahannya lagi. Sungguh, dia memang begitu.

“Aku harus memulai darimana?”

Suara berat seorang pria sedikit menginterupsi lamunan Boyoung. Pria berpostur tubuh tinggi itu adalah seorang Song Joong Ki. Usianya bisa kusebut 17 bulan lebih tua dari Boyoung. Rambutnya yang kecoklatan dan rahangnya yang terukir tegas membuat kesan dingin pada pria itu. Mereka bilang Joong ki adalah tipe orang yang sangat kaku—Boyoung juga menganggapnya begitu.

Dia juga penyendiri dan sangat naif.

Letak perbedaannya hanya soal pintar dan mungkin bisa kusebut adalah sedikit bodoh. Boyoung adalah gadis yang tekun pada buku-buku tebal karangan para profesor hebat. Begitu sebaliknya pada Joong Ki. Pria itu merasa ia terlahir dengan sejuta kreatifitas yang ada di kepalanya. Menuangkannya pada kanvas dan melukis benda-benda yang ia sukai. Namun, jika pria ini disuruh mengerjakan paling tidak hanya lima soal matematika, pria itu pasti hanya terdiam sambil mengamati soal-soal tersebut—tanpa mengerjakannya. Setidaknya begitu saat mereka masih di SMA, empat setengah tahun yang lalu.

“Kau tidak perlu memulainya, bahkan kau tidak perlu repot-repot mengakhirinya.” Boyoung mengangkat bahunya kemudian tersenyum datar.

“Apa kau selalu berbicara ketus seperti ini, Huh?”

“Oh, terserah saja.”

Dua ratus persen BoYoung yakin untuk segera memukul kepala Joong Ki. Atau mungkin bisa saja gadis seperti Boyoung tidak segan-segan untuk menendang bokong milik pria bodoh itu. Untunglah kali ini, Joongki masih mendapat kesempatan untuk paling tidak tertawa sesuka hatinya.

Booyoung memang pemaaf.

Dan ini adalah bagian yang paling pentingnya, petugas perpustakaan yang berdiri di sudut ruangan bahkan masih sudi untuk memberi mereka berdua ijin berteduh di bawah kanopi miliknya. Tuan Kang, namanya. Pria tua berpostur gempal itu tidak sungkan-sungkan untuk memarahi siapa saja yang tanpa izin membasahi lantai teras perpustakaannya. Namun, kali ini ia sedang berbaik hati karena tepat pada hari ini, kiriman buku dari para penulis Jepang telah datang dan siap mengisi rak-rak yang kosong.

Ngomong-ngomong soal Jepang, pria yang tepat berdiri di sebelah Boyoung—adalah yang paling menyukainya. Pria itu adalah maniak akan semua hal-hal yang berbau dengan Jepang. Komik? Action figure? Atau melihat-lihat gadis cantik berkostum nan identik dengan fantasi dan berjalan bagaikan kartun sungguhan, adalah kegemarannya.

Boyoung kira dirinya sudah melupakan pria itu.

Toh, masih jelas terukir di rekaman memori gadis itu, bahwa pria itu pernah mengabaikan tumpukan tugas-tugas fisika di meja belajarnya, hanya demi menonton film-film yang menurut Boyoung tidak realistis. Boyoung pasti masih mengingatnya dengan sangat jelas.

Sejenak hujan yang tadinya deras, melunak kemudian. Kini, Boyoung dapat menghirup aroma tanah yang harum akibat tersapu oleh rintik-rintik air yang jatuh. Kemudian, ia sejenak menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu, gadis itu segera mengakhiri suasana antara ia dan pria itu dengan mengeluarkan kata per kata, yang setidaknya mengurangi kecanggungan yang mendominasi.

“Selamat ya, Joongki.”

“Untuk apa?”

“Karena kau telah meraih cita-cita mu.”

Seketika alis-alis pria itu terangkat dan kecanggungan mulai mendominasi kembali. Tak ada yang namanya kata maaf di dalam kamus seorang Song Joongki. Kenyataan malah berlaku sebaliknya. Pria itu meninggalkan Boyoung sendirian di antara musim dingin yang sedang berlalu di Korea. Ketika kepergiannya yang tanpa senyuman, tanpa lelucon, bahkan tanpa salam perpisahan, berlalu begitu saja.

Mereka kehilangan komunikasi satu sama lain.

“Terimakasih, Boyoung.”

Pernyataan terimakasih yang begitu saja terlontar dari bibir pria itu bahkan mampu membuat jantung Boyoung berdebar tidak karuan. Ini pasti sebuah mimpi, rutuknya.

Bahwa hujan yang turun seketika dapat mempertemukan gadis itu dengan Joongki kembali. Paling tidak, Boyoung dapat dengan mudah menebak bahwa baru beberapa jam yang lalu pria itu menginjakkan kakinya di Seoul. Pun kemeja serta jaket yang biasa ia pakai saat di bandara, adalah Boyoung sangat mengenalinya. Tidak ada yang bisa menyalahkan keputusan Joongki untuk melanjutkan kuliahnya yang panjang di negeri Jepang, namun dengan sejuta impiannya yang egois mampu membuat Boyoung dilingkupi oleh ribuan kesendirian. Dan sungguh, pria itu benar-benar egois.

Joongki pun melanjutkan kata-katanya. “Dan bagaimana kabarmu?”

“Aku baik seperti yang kau lihat.”

Pria itu tersenyum menyunggingkan deretan giginya yang rapi. “Setidaknya, kau masih seorang mahasiswi, bukan?”

Boyoung mengangguk—mengiyakan.

Pria itu tidak banyak berubah. Rambutnya yang acak-acakan selalu saja terlihat seperti itu. Bahkan menjadi animator hebat pun tidak cukup untuk membuatnya sedikit lebih rapi—tapi sialnya Boyoung gila karenanya.

Sungguh, Boyoung merindukan pria itu.

Menurut Boyoung, menyatakan cinta kepada Joongki adalah hal yang paling memalukan. Pun Ia hanya seorang gadis lugu yang saat itu masih berumur lima belas tahun—dan pasti ia hanya bisa menunggu pria konyol tersebut untuk menyatakan cintanya duluan. Namun, persoalan rumit ini masih belum terselesaikan bahkan sampai detik ini. Mereka berdua bahkan tidak tahu bagaimana mengawali suatu hubungan. Apalagi, ditambah masa lalu yang mengikat mereka menjadi teman baik—dan hal itu menjadi penghalang yang cukup sulit.

Sialnya, mereka berdua begitu munafik.

Menit demi menit telah berlalu. Mereka hanya berdiam diri dan saling berpaut dalam kegelisahan. Seolah bahan percakapan basa-basi mereka telah habis dimakan waktu—yang mereka lakukan hanya mencari topik pembicaraan yang setidaknya dapat mengurangi ketidaknyamanan yang mereka lalui.

“Pakai ini, ya.” Suara berat Joongki yang kala itu tengah mengalungkan jaket cokelat miliknya ke leher Boyoung, sedikit membangunkan lamunan gadis itu. Tak heran lagi, gadis itu pasti tengah membiarkan otaknya untuk memikirkan hal-hal rumit seperti akumulasi dari nilai-nilai semester kemarin, salah satunya. “Setidaknya, aku tidak akan membiarkan lelaki lain untuk memberi jaket padamu seperti waktu itu.” Kemudian pria itu tersenyum hangat.

Perkiraan Joongki memang tidak pernah meleset. Kaki-kaki Boyoung terlihat sedikit bergetar karena hawa dingin telah merasuk ke dalam tubuhnya. Untunglah jaket cokelat yang kini tersampir di bahu gadis itu pun dapat meminimalisir rasa dingin tersebut.

Boyoung bukannya tidak mau melunakkan hatinya untuk menerima kebaikan dari seorang pria dingin seperti Joongki. Boyoung juga tahu bahwa bagi pria itu, saat-saat seperti ini adalah momen yang sangat jarang untuk ditemui. Bahkan Boyoung yakin bahwa ia sendiri bahkan bisa menghitung dengan jarinya mengenai berapa kali pria itu telah melakukan kencan. Namun, untuk gadis seperti Boyoung yang memang sulit sekali untuk melupakan orang-orang yang pernah singgah dalam hidupnya, adalah tentu tidak mudah.

Tapi, kau datang dan pergi sesuka hatimu.

 “Terimakasih, tapi—

“hm?”

“Jangan mengungkit masa lalu itu lagi…. Kumohon.”

Joongki tersenyum datar kemudian mengangguk. “I’m sorry.”

“Untuk apa?”

“Karena aku membuat hubungan kita semakin sulit. Karena aku yang membuat semuanya ini menjadi rumit. Karena aku pergi tanpa memberi kabar untukmu, dan itu sangat menyiksaku.” Joongki menarik nafasnya dalam kemudian melanjutkan kata-katanya. “Aku merindukanmu, Boyoung.”

“Aku dan dirimu bukan siapa-siapa, Joongki. Bahkan aku sudah menyadarinya sejak umurku masih lima belas tahun, kau tahu itu kan?”

“Aku tidak perduli lagi, Boyoung. I’m just missing you.”

Kata-kata yang tergabung dalam kumpulan awan-awan hitam yang masih berkumpul membentuk langit yang gelap—membuat barikade hati Boyoung runtuh. Gadis itu tak sanggup mengangkat kepalanya. Ia hanya menunduk seraya memalingkan wajahnya dari hadapan pria itu. Gadis itu hanya berusaha menenangkan pikiran dan tentu juga hatinya. Sedangkan, Joongki masih terus melanjutkan kata-katanya—seperti menginterogasi.

“Apa kau marah padaku?

“Apa kau membenciku?”

Boyoung terlihat diam dan tidak berkutik. Pertanyaan-pertanyaan bodoh yang selalu Joongki lontarkan selalu melayang begitu saja di benak Boyoung. Setiap detil kata-kata yang pria itu ucapkan, pasti Boyoung mengingatnya dengan baik. Namun, ia hanyalah seorang gadis yang tidak tahu harus berbuat apa lagi, ketika pria yang dicintainya meninggalkannya sendiri di tengah keramaian yang lalu. Kini yang ada hanyalah air matanya yang selalu jatuh terlebih dahulu daripada kata-kata amarah yang berasal dari hatinya. “Aku marah? Menurutmu bagaimana?”

Kini keduanya pun saling berdiam diri memendam banyak rasa yang sepertinya sudah bereaksi menjadi satu, yaitu rasa rindu satu sama lain.

Beberapa detik kemudian, Boyoung memberanikan dirinya untuk mengungkapkan semuanya. Segala kalimat yang dirinya pendam sejak dahulu. Masa bodoh dengan rasa malu atau semacamnya. Gadis itu hanya ingin pria di hadapannya tahu yang sebenarnya.

“Ketika aku berumur lima belas tahun, aku menyadari bahwa rasa suka yang kumiliki untukmu hanyalah sia-sia belaka. Aku tersenyum untukmu, Joongki. Aku juga gembira karenamu. Namun, kau melihatku sebagai anak kecil yang menyukai orang dewasa sepertimu dan kau mengacuhkan begitu saja. Aku menangis di setiap malam karena kau menyukai seseorang gadis yang lain, dan bukannya aku. Aku selalu mengingatnya dengan jelas bagaimana kau menatap gadis yang terlihat begitu cantik bagimu. Kau tersenyum ke arahnya dan kau selalu menceritakan mengenai gadis itu kepada teman-temanmu. Kau selalu bilang dia itu begitu cantik, sangat sesuai dengan tipe idamanmu. Namun, aku disini tetap menunggumu, kau tahu itu? Sejak hari itu aku berusaha untuk menghentikan rasa yang selalu mengisi hariku sekaligus menyiksa hari-hari yang kumiliki. Aku juga tidak mengerti mengapa hanya kau yang selalu ada di dalam pikiranku di saat aku mulai memejamkan mataku sampai aku terbangun di pagi hari. Itu kau, Joongki.

Namun, kau bahkan tidak pernah menyadarinya. Dan hari itu pun menjadi saksi, bahwa aku akan berusaha semampuku untuk melupakanmu, menghapus semua memori yang kupunya, bahwa aku dan dirimu hanya sekedar teman dekat, dan itu saja. Kau benar, Joongki. Waktu itu, aku hanyalah seorang anak berumur lima belas tahun yang menyukai seseorang yang tidak akan pernah bisa kudapatkan. Aku memang naif, Joongki. Aku begitu naif. Namun, kini mengapa kau datang kembali bersama kepedulianmu terhadapku? Itu semua membuatku bingung sekaligus merasakan sakit. Ada apa denganmu, Joongki? Kenapa kau baru menyadarinya sekarang? Kenapa kau datang dan mengatakan bahwa kau rindu kepadaku? Kenapa baru sekarang, Joongki? Kenapa kau tidak melakukannya sejak saat dulu, saat aku begitu menyukaimu? Kumohon Jawab aku, Joongki.”

“Seketika kau menjauhiku, karena kau menyadari bahwa aku menyukaimu. Kau menganggapku tidak pernah ada lagi. Kau seperti hanya memainkan perasaanku. Kau selalu membuatku melayang seperti aku berada di tingkat langit paling atas, namun tiba-tiba kau menjatuhkanku ke tanah dengan penuh rasa sakit. Kau menyebutku bahwa aku telah berubah. Namun, kau juga tidak tahu alasannya mengapa aku berubah seperti ini. Mengapa aku selalu tersenyum tiba-tiba saat kau lewat di hadapanku, itu semua karenamu, Joongki. Aku hanya sangat menyukaimu, itu saja. Apa kau tidak pernah mencoba mengerti perasaanku? Atau kau memang seperti ini?”

Boyoung menghela nafasnya berulang kali. Nafasnya tersengal karena kata-kata yang dilontarkannya begitu banyak. Ditambah rasa kecanggungannya yang begitu besar kini gadis itu kembali terdiam membungkam mulutnya.

Mungkin semua itu merupakan salah Boyoung juga. Ketika musim semi itu datang dan tiba-tiba pria itu membuatnya seperti berada di ladang bunga yang sangat luas. Seketika pria itu menanyakan tentang perasaan Boyoung yang sebenarnya. Namun, gadis itu terlalu penakut—dan sebegitu munafiknya. Entahlah, namun Boyoung bisa menyimpulkan bahwa sejak hari itu hubungan mereka pun merenggang begitu saja. Sebuah akhir yang tidak akan pernah ia duga.

Toh, seharusnya gadis itu berkata jujur—setidaknya sejak pria itu menyatakan bahwa ia mulai menyukai dirinya, walaupun terbilang terlambat. Dan seharusnya gadis itu tidak memikirkan keegoisan dan kemunafikan dirinya untuk tidak menerima cinta sang pria. Namun, semua itupun sudah terlanjur terlambat. Pun, saat itu Boyoung masih berusia lima belas tahun, yang pastinya ia masih tergolong sebagai gadis kecil yang tidak mengerti apa itu sebuah cinta.

Gadis kecil itu hanya sangat menyukainya. Gadis kecil itu hanya mengagumi lelaki itu dengan sepenuh hatinya. Gadis itu hanya terlalu lugu untuk memulai semuanya. Boyoung hanya ingin menjadi teman dekatnya, hanya itu—dan bahkan jika ia bisa, pun gadis itu berharap bahwa ia tidak pernah mengenal pria tersebut.

“Kau terlalu jahat, Song Joong Ki.”

 

Kata-katanya tertahan begitu saja seiring dengan tertahannya rintik hujan yang mulai habis. Boyoung masih tidak bisa melupakan semua masa lalunya. Pun bagaimana bisa ia berhenti mencintai pria konyol itu. Dan bagaimana bisa Boyoung mengacuhkan pria yang membuat hatinya terus tertutup untuk menerima cinta dari pria lain. Hanya pria itu, Song Joongki.

Aku lebih merindukanmu, bodoh.” Jawab Boyoung singkat.

“Aku merindukanmu, Joongki.” Boyoung menyela di tengah isakannya. “Aku sangat merindukanmu, sungguh.” Gadis itu bersumpah untuk mengutuk dirinya sendiri. Yang ia sadar saat ini, otaknya telah memerintahkan hati kecilnya untuk berkata tanpa komando. Ia mengeluarkan kata-kata yang ia telah pendam selama ini. Kata-kata yang menurutnya sangat sakral untuk diucapkan. Kata-kata yang berusaha ia sembunyikan semenjak ia masih berada di SMA.

Gadis itu semakin terisak keras. Ia menangis dan menumpahkan semuanya di depan Joongki. Namun yang diingat oleh Boyoung adalah pria bodoh itu pasti  hanya akan berdiri dan tidak melakukan apapun—yang seharusnya kini ia menenangkan Boyoung, pasti tidak akan dilakukannya. Sungguh kelewatan memang. Namun, kali ini semua itu berbalik 360°.

Seketika Joongki meraih pergelangan tangan Boyoung, membuat tubuh mereka menempel dan pria itu bisa melihat sedikit semburat merah muda di kedua pipi gadis itu. Joongki memposisikan tangannya di rambut Boyoung—mengelusnya lembut dan kini gadis itu bahkan telah menghentikan tangisannya. Pun pria itu sekarang dapat mendengar tertawa khas milik gadisnya yang terasa begitu familiar. Kemudian entah mengapa Boyoung melepaskan pelukan hangat dari pria itu. Gadis itu bergegas menyapu air matanya yang mulai mengering kemudian ia memejamkan matanya sejenak, sembari menghela nafasnya dalam kemudian berkata “A—ku… Aku mencintaimu, Joongki.”

“Apa?”

“Aku mencintaimu.”

“Apa?”

“Aku mencintaimu, bodoh. Harus kuulang berapa kali.”

Sungguh ekspresi yang tidak pernah terbayangkan oleh Boyoung bahwa kini pria yang tengah menatapnya sangat terlihat begitu dingin. Kini pria itu hanya berdiri sambil berdiam diri. Yang terpenting adalah kata-kata sakral itu telah terucap oleh bibirnya dan Boyoung pun hanya pasrah jikalau Joongki menolak dirinya atau bahkan lebih buruk dari itu. “Joongki?” Boyoung menghentikan kata-katanya sejenak lalu ia menunduk sambil melihat sepatunya yang sudah mengkerut karena terlalu berlama-lama terkena air hujan. Kemudian ia fokus kembali kepada pria itu dan melanjutkan kata-katanya yang sempat tertahan. “But… I didn’t know that you love me.

Jika disana ada pertemuan, pasti ada perpisahan yang mengakhiri. Namun diantara mereka, pada saat ini terjadi sebaliknya. Hujan yang jatuh dibawah kanopi mempertemukan mereka berdua begitu saja. Memutarbalikkan kenangan yang sudah lama terkubur bersama waktu yang berlalu. Benih-benih itu tumbuh kembali dan mengukir keindahannya lagi.

You won me over.” Lengan Joongki menarik pergelangan tangan milik Boyoung untuk kedua kalinya. Kini yang pria itu ingin lakukan hanyalah memeluk gadisnya dan berharap tidak akan pernah ada lagi kata perpisahan diantara mereka. Ia memang selalu berharap begitu. “I do love you, Boyoung.”

Boyoung setengah pingsan. Rengkuhan dan pelukan Joongki begitu hangat bagai harum bunga cherry yang bermekaran. Gadis itu menikmatinya tanpa terkecuali. Beberapa detik kemudian ia tersadar bahwa ada kata-kata lainnya yang harus ia ucapkan.

“Joongki, sebentar….”

“hm?”

Boyoung melepaskan lengan milik pria itu yang tadinya menempel erat di tubuhnya. Ia terlihat gugup dan air matanya seperti ingin turun lagi. Namun begitu saja ia langsung meraih handbag miliknya dan terlihat seperti mencari sesuatu. Gadis itu merogoh seonggok benda berupa selembar kertas yang bermotif rubrik dan berwarna pastel keemasan. “Ini untukmu.”

“Apa ini? Ini seperti…”

Boyoung menyela pembicaraan pria itu. “Kau benar, Joongki… itu adalah undangan pernikahanku.”

“Boyoung. Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

“Tadinya itu akan kuberikan kepada temanku. Namun kau tiba-tiba datang menemuiku, Jadi aku harus memberitahumu juga, kan?” Bulir-bulir air mata gadis itu turun begitu saja. Ia tidak bisa menahan rasa bersalahnya lagi. Kemudian ia terisak melanjutkan kata-katanya. “Maafkan aku, Joongki.”

“Boyoung… A—ku….”

“Kau pasti datang, kan?”

“Boyoung… Kumohon.” Seketika kedua lengan Joongki terus-menerus mengguncangkan bahu milik Boyoung. Ia terus memanggil-manggil nama gadis itu padahal Boyoung kini ada tepat di hadapannya. Pria itu hanya ingin Boyoung tersadar bahwa apa yang ia katakan barusan adalah sebuah lelucon belaka. “Boyoung kenapa kau melakukan ini….”

“Namanya Lee Jongsuk. Orangtuaku memaksa untuk menikah dengannnya, maafkan aku…”

Air mata itu jatuh. Kali ini bukan milik Boyoung—melainkan milik pria yang tak disangka ternyata begitu rapuh. Kini hanya ada penyesalan dibalik semuanya. Dan ini adalah akhir yang sebenarnya.

“Joongki, hujannya sudah reda. Aku pulang dulu, ya. Sampai jumpa lagi.”

Karena antara aku dan dia tidak akan pernah menjadi satu.

/fin/

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s